Terbelah, Unjukrasa Di Bima Rusuh

HMINEWS.Com, Bima – Unjukrasa ribuan masa Front Rakyat Anti Tambang berujung ricuh. Massa menuntut pihak kepolisian bertanggungjawab terhadap terbunuhnya warga Bima dan mendesak Bupati Bima, Feri Zulkarnain mencabut SK 188 dan kemudian mundur dari jabatannya.

“Hal itu mengingat pembantaian dan pelanggaran HAM yang dilakukan aparat kepolisian. Pemerintah daerah  tidak serius menyelesaikan persoalan dan tidak tegas soal penambangan di Bima,” kata koordinator lapangan, Erik Fajrin.

Aksi berlangsung di depan kantor Pemda Kabupaten Bima, Selasa (27/12). Kericuhan terjadi saat unjukrasa berlangsung dan terjadi perbedaan sikap dua kelompok pendemo, sekitar pukul 13.45 WIT.

Kelompok pertama Front Rakyat Anti Tambang yang merupakan gabungan dari seluruh OKP di Kota Bima. Kedua adalah BEM Taman Siswa (Tamsis) dari Kabupaten Bima.

Kubu Tamsis menginginkan aksi yang lebih radikal, sementara massa Front Rakyat Anti Tambang menginginkan  unjukrasa tetap berjalan dengan tenang. Massa Tamsis kemudian terlibat bentrok dan kejar-kejaran dengan aparat kepolisian, sementara Front Rakyat Anti Tambang tetap bersikap tenang. (Nadir)