Mentradisikan Filsafat

HMINEWS.Com, Semarang – Tradisi berfikir filosofis sebenarnya ada dan dimiliki bangsa manapun, bahkan oleh mereka yang tidak mengenal apa itu filsafat. Karena ketika seseorang sudah mulai berfikir kritis tentang persoalan kehidupan, itu artinya seseorang tersebut mempraktekkan filsafat.

Banyak memang yang belum mengenal filsafat dengan beragam pembagiannya, termasuk kalangan mahasiswa. Untuk itu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Semarang menyelenggarakan diskusi sehari tentang filsafat dengan tema “Mewujudkan Gerakan Epistemik Melalui Penguatan Tradisi Berfilsafat,” (Ahad, 29/01/2012).

Hadir sebagai pemandu diskusi dalam acara yang diselenggarakan di sekretariat HMI Cabang Semarang tersebut antara lain Sindi Setiadi, Supardi, Lukni Maulana dan Arif Pramudya. Masing-masing membawakan Pengantar Filsafat, Metafisika, Epistemolodi serta Filsafat Etika.

“Banyak orang sangat meremehkan ilmu filsafat, hal ini dikarenakan belajar filsafat sangat mengganggu pemikiran. Ditandai dengan menanyakan hal-hal yang sudah mapan, semisal pembahasan shalat, itu sudah menjadi kewajiban umat Islam. Namun mengapa dengan kewajiban tersebut selalu dipertanyakan. Di sini diskusi bukan untuk menjadikan akidah semakin luntur, akan tetapi justru untuk memantapkannya,” kata Tian Purwoyuwono selaku Ketua Bidang Wacana HMI Cabang Semarang.

Dengan diskusi yang berlangsung pagi hingga malam hari tersebut diharapkan kader-kader makin memahami metode berfikir kritis dan  sistematis, serta mampu menjadi pemikir yang luar biasa. (LAPMI Cab Semarang)

Daurah Nasional Pendidikan Islam: Dari Pendidikan Menuju Kebangkitan

HMINEWS.Com – Banyak kalangan menganggap persoalan terbesar saat ini ialah kekalahan politik. Pun di kalangan kaum muslimin. Kemunduran Ummat saat ini seringkali ditengarai disebabkan oleh kekalahan politik. Maka penyelesaian yang ditawarkan pun tak jauh dari perkara merebut atau mengurusi politik.

Lain halnya dengan seorang pemikir Islam abad ini, Syed Muhammad Naquib Al-Attas, ia menyatakan kemunduran ummat ini, utamanya, bukanlah persoalan kekalahan di gelanggang kekuasaan. Melainkan disebabkan ‘menyelempangnya’ ilmu yang dengan demikian menyebabkan ketiadaan adab. Pandangan Syed Naquib tentang ketiadaan adab dan kerusakan ilmu itu sebagai berikut:

1. Kebingungan dan kekeliruan persepsi mengenai ilmu pengetahuan, yang selanjutnya menciptakan:
2. Ketiadaan adab dalam masyarakat. Akibat yang timbul dari butir pertama dan kedua adalah:
3. Munculnya pemimpin yang bukan saja tidak layak memimpin ummat, melainkan juga tidak memiliki akhlak yang luhur dan kapasitas intelektual dan spiritual mecukupi, yang sangat diperlukan dalam kepemimpinan Islam.

Mereka akan mempertahankan kondisi yang disebut dalam butir pertama di atas dan akan terus mengontrol permasalahan-permasalahan sosial-kemasyarakatan melalui tangan para pemimpin lain yang berwatak sama dengan mereka dan mendominasi berbagai sektor kehidupan.

Gambaran kemunduran Ummat di atas sesungguhnya mencakup seluruh persoalan. Termasuk kemunduran atau kekalahan Ummat Islam di ranah politik. Inti dari kekalahan politik kita ialah ketiadaan adab para politisi dan masyarakat. Dan ketidakberadaban dalam berpolitik itu disebabkan oleh ketiadaan, kekurangan, atau kerusakan ilmu politik yang ada sekarang ini. Hal yang sama terjadi pula dalam bidang lainnya. Ekonomi yang rusak, hukum yang tak tegak, kebudayaan yang acak-acakan, dan berbagai persoalan lain berakar pangkal dari ketiadaan adab dan kerusakan ilmu.

Maka jalan keluar untuk mengatasi persoalan ketidakberadaban ini ialah dengan menanamkan adab kepada individu-individu Muslim.

Mendidik individu-individu Muslim menjadi manusia yang beradab ialah cara terbaik untuk mengatasi berbagai persoalan yang ada hari ini. Persoalan politik, ekonomi, hukum, kebudayan, tentu pula harus diselesaikan. Akan tetapi menyelesaikan persoalan di tingkat pucuk tidak lah akan berarti jika akar pohon itu telah busuk.

Menyikapi berbagai hal tersebut, Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan (PIMPIN) bekerjasama dengan para peneliti INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations) akan mengadakan Daurah Pendidikan Islam: “Dari Pendidikan Menuju Kebangkitan”. Dauroh ini sebagai pengantar bagi mahasiswa dari berbagai universitas yang ingin memahami lebih dalam tentang keilmuan Islam.

Gagasan-gagasan kunci dalam Pandangan Hidup Islam seperti konsep Tuhan, konsep agama, konsep wahyu dan kenabian, konsep manusia dan konsep ilmu akan dipaparkan secara komprehensif. Selain itu, studi komparatif antara pandangan hidup Islam dan pandangan hidup agama-agama/ peradaban lain juga akan dijelaskan dalam daurah yang akan berlangsung Jum’at – Sabtu (10-11 Februari 2012) di Wisma Unisba, Ciburial Bandung, Jawa Barat.

Materi daurah:

Materi I : Kebangkitan Ummat dan Masalah Kekacauan dan Kerusakan
Ilmu dan Pendidikan
Materi II : Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer
Materi III : Pendidikan Islam, Filosofi dan Praktiknya
Materi IV : Worldview Islam Sebagai Asas Pendidikan Islam
Materi V : Bedah Buku “Haakadza Jilu Shalahiddin wa haakadza ‘aadat
Al-Quds)

Calon peserta terdiri dari umum dan mahasiswa dengan pendaftaran masing-masing Rp200.000 dan Rp100.000 dengan fasilitas penginapan, konsumsi, makalah dan sertifikat.

Sarasehan Nasional Dan Lifetime Achievement Bang Imad

HMINEWS.Com – Siapa tak kenal tokoh legendaris dakwah Islam di Indonesia, Dr Ir M ‘Imaduddin Abdulrahim, M.Sc. Apalagi di kalangan aktivis dakwah kampus, tak terkecuail di lingkungan HMI. Bang Imad, begitu dia disapa, adalah tokoh revolusioner dengan segudang prestasi luar biasa.

Bang Imad adalah aktivis dakwah yang pernah memimpin Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDM), salah satu lembaga kekaryaan di HMI yang terkenal dengan program Latihan Mujahid Dakwah (LMD) di kampus-kampus. LMD ditujukan sebagai ‘kawah candradimuka’ penggodokan calon-calon mubaligh – dai muda dari kalangan mahasiswa.

Tidak hanya di Indonesia, kiprah Bang Imad tembus ke dunia internasional seperti IIFSO dan WAMY. Bahkan di Malaysia, tokoh kelahiran Langkat, Sumatera Utara, 21 April  1931 tersebut merancang kurikulum pelajaran agama Islam sebagai mata kuliah wajib, mengkader sejumlah tokoh penting negara tersebut seperti Anwar Ibrahim.

Kini Bang Imad telah tiada, namun jasanya tak akanlekang termakan zaman.

Dalam rangka mengenang cendekiawan Islam yang besar di kampus sekuler tersebut, Karisma ITB akan menyelenggarakan Sarasehan Nasional Memorial Lecture serta penghargaan Lifetime Achievement  Dr Ir M Imaduddin ‘Abdulrahim M.SC (Bang Imad).

Acara bertempat di Gedung Aula Barat ITB-Bandung dengan tema “Revitalisasi Gerakan Dakwah; Menuju Kebangkitan Islam dan Indonesia”. Dimulai pukul 08.00 Senin 30 Januari 2012 dengan keynote speaker Anwar Ibrahim (Malaysia), Hatta Rajasa, AM Fatwa, AM Lufhfi, KH Miftah Faridl serta Hermawan K Dipojono (sesi 1).

Sesi 2 Memorial Lecture ada “Refleksi Gerakan Kultural vs Gerakan Politik” oleh Muslimin Nasution, MS Ka’ban, Fuad Amsyari dan Akbar Tandjung dengan moderator Robby Nurhadi. Acara terbuka untuk umum. (Fathur)

Berfikir dan Bertindak Demi Kemajuan

Generasi muda, persiapkanlah diri dengan sebaik-baiknya. Pahamilah kondisi bangsamu dengan segala permasalahannya. Carilah solusi untuk memajukannya, mengeluarkannya dari keterpurukan.

Jadi aktivis jangan hanya rutinitas, ikut-ikutan apalagi pelarian. Jadi aktivis itu bukan sekedar memperluas koneksi untuk meraih jabatan.

Terlalu sesak sudah jagad keaktivisan dengan antrian panjang mereka yang berorientasi kekuasaan, sementara cara berfikir mereka sempit. Tidak mampu memahami penyakit bangsanya.

Meski kritis dan lantang bersuara, namun setelah dapat tempat, sama saja, hanya kerusakan yang ditimbulkan. Tidak mampu lepas dari sistem bobrok yang menggurita.

Bersiaplah dan relakan diri menempuh kepayahan memikul amanah. “Barang siapa sungguh menghendaki kemerdekaan buat umum, segenap waktu ia harus siap sedia dan ikhlas buat menderita. “kehilangan kemerdekaan diri sendiri”*

Kemuliaan dan harga diri itu bukan pada capaian uang dan kekayaan. Sebagaimana pepatah “Seekor singa mati kelaparan di tengah hutan, sedangkan anjing-anjing berpesta daging. Meski tidur di atas sutera, seorang budak tetaplah budak. Sebaliknya, seorang negarawan tetaplah negarawan, meski ia tidur beralaskan tanah.**

* Tan Malaka
** Imam Syafi’i

Bedah Buku “Mengapa Gerakan Islam Gagal?” di GPI

HMINEWS.Com, – Sejak Pemilu 2009, wibawa politik Islam di Indonesia telah sirna ditelan sistem demokrasi transaksional. Kemerosotan itu telah sampai pada titik terendah yang tiada presedennya dalam sejarah Indonesia modern. Sayangnya sangat sedikit yang mencoba membicarakan masalah besar ini.

Menyikapi hal, Lembaga Pers Gerakan Pemuda Islam (GPI) akan mengangkat wacana “Mengapa Gerakan Islam Gagal?” dalam bentuk diskusi dan bedah buku bersama teman-teman Gerakan Islam. Buku “Mengapa Gerakan Islam Gagal?” tersebut merupakan tulisan mantan Ketua Umum PB HMI (MPO) Syahrul Effendi Dasopang.

Acara bedah buku akan dilangsungkan hari Ahad, 29 Januari 2012 pukul 13.00-selesai di Aula PP GPI Jalan Menteng Raya 58 Jakarta Pusat.

Direncanakan hadir sebagai pembedah, penulis buku, Syahrul Effendi Dasopang, Dr Muhammad Nasi (pengamat politik) serta ketua-ketua OKP yang terdiri dari PP GPI, PB PII, PB HMI, PP IMM, PB PMII, PP Hima Persis, PP KAMMI dan Masika ICMI.

Dalam buku tersebut diulas berbagai ironi politik umat Islam di Indonesia, partai politik, peran ulama dan kaum cendekiawan serta kemunduran generasi muda Islam.

HMI Cabang Semarang Akan Selenggarakan LK2

HMINEWS.Com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Semarang akan menggelar Latihan Kader 2 (LK2) atau Intermediate Training ke-18. Acara tersebut diagendakan akan berlangsung selama 10 hari, terhitung mulai 03-13 Februari 2012.

Tema yang diusung adalah “Penguatan Gerakan Transformatif dalam Menjawab Problematika Kemanusiaan; Upaya Membangun Bangsa yang Berperadaban,” guna memenuhi jenjang pendidikan kader HMI supaya makin memiliki integritas dalam diri dan berorganisasi.

“Tema ini mengisyaratkan adanya kebutuhan pada diri manusia untuk memilih hidupnya. Selain memenuhi kebutuhan dasar, seseorang harus mampu memiliki nilai-nilai gerakan yang lebih maju,” kata panitia LK2, Lutfan.

LK2 tersebut selain diperuntukkan untuk kader HMI Cabang Semarang, juga terbuka untuk seluruh kader HMI, dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Adapun syarat dan ketentuan mengikuti LK2 dapat diklik pada tautan berikut http://www.ziddu.com/download/18283976/SyaratLK2danTOR.rar.html

Sedangkan kisi-kisi materinya dapat diunduh pada tautan http://www.ziddu.com/download/18283977/PamfletdanKisi-KisiMateriLK2.rar.html

Hal-hal yang belum jelas dapat ditanyakan kepada panitia, di nomor HP Lutfan (087837081541) dan Resty (085225437886).

Mantan Direktur Lembaga Seni Budaya HMI Ke Luar Negeri

HMINEWS.Com – Mantan Direktur Lembaga Seni Budaya (LSB) Himpunan Mahasiswa Islam periode 2009-2011, Qusthan Abqary ke luar negeri. Melanjutkan kuliah S2 filsafat sains di Melbourne University, Australia.

Kepergian Qusthan dilepas dengan acara sederhana di Sekretariat PB HMI di Pasar Minggu, Jakarta, Rabu (17/1) malam. Bersama Ketua Umum PB HMI, Alto Makmuralto dan Sekjen Agus Thohir, serta sejumlah penguru lain. Hadir juga M Chozin, mantan Ketua PB HMI periode 2009-2011.

Menurut Qusthan, ia mendapat beasiswa dari ADS (Australia Development Scholarship). Adapun prosesnya telah ia jalani sejak tahun lalu, mulai dari memasukkan lamaran, tes dan seleksi hingga dinyatakan siap berangkat ke negeri kanguru. Melbourne, “The most Liveable City” kota yang paling nyaman ditinggali di dunia.

“Saya mendorong teman-teman untuk kuliah di luar negeri, karena itu sebagai upaya menuntut ilmu. Juga sebagai cara mengukur diri, mengukur kesabaran (karena prosesnya yang sulit). Tapi kenali tipe-tipe beasiswanya,” kata Qusthan.

Qusthan, penulis buku “Melawan Fasisme Ilmu” dan novel “Artema” tersebut melanjutkan, persoalan bahasa bukanlah yang paling utama diterimanya seseorang melamar beasiswa pendidikan ke luar negeri.

“Akan tetapi bagaimana kita bisa meyakinkan mereka baha kita itu layak dibanding yang lain,” ujarnya mengenai pengalamannya selama mengurus beasiswa ke universitas peringkat 14 dunia dalam studi filsafat tersebut.

Tidak hanya beasiswa, Melbourne University, lanjutnya, juga mengurus sejumlah keperluan lain calon mahasiswanya. Memfasilitasi persiapan bahasa dengan membiayai kursus bahasa Inggris untuk persiapan IELTS, visa dan sebagainya.

M Chozin, mantan Ketua PB HMI alumni Universitas Ohio yang hadir membenarkan. Kuliah di luar negeri memberi sejumlah keuntungan dan kesempatan belajar lebih sebab berada dalam lingkungan yang beragam serta iklim akademis yang tinggi. (Fathur)

Nazaruddin Tuding Anas Terima Rp 80 M dari Proyek PLN

HMINEWS – Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, kembali menyebut mantan rekannya, Anas Urbaningrum, menerima uang terkait proyek di pemerintah. Kali ini, Nazaruddin mengatakan bahwa Ketua Umum DPP Partai Demokrat itu memperoleh keuntungan dari dua proyek di Perusahaan Listrik Negara (PLN).

“Soal pertemuan itu ada proyek pembangkit listrik, uangnya sudah dikasihkan ke Anas,” kata Nazaruddin seusai menjalani persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu (18/1/2012).

Nazaruddin menyatakan, dana itu diperoleh Anas dari dua proyek pembangkit listrik senilai Rp 2,2 triliun di Kalimantan dan di Riau. Proyek di Kalimantan dimenangkan oleh PT Adhi Karya, sementara yang di Riau akan dikerjakan PT Rekayasa Industri. “Di Kalimantan PT Adhi Karya, JO, sama China. Di Riau, Rekin (Rekayasa Industri) sama China,” ujar terdakwa kasus dugaan suap wisma atlet SEA Games itu.

Kedua proyek tersebut, kata Nazaruddin, sudah ada kontrak kerjassama dengan PLN. Mantan anggota DPR itu mengatakan, PT Adhi Karya telah memberikan uang kepada Anas melalui Wila. Nazaruddin mengenal Wila sebagai perempuan pengusaha yang sudah 10 tahun menjadi rekanan PLN.

Nazaruddin mengklaim memiliki bukti rekaman yang menunjukkan adanya penerimaan fee dari PT Adhi Karya kepada Anas melalui Wila itu. Bukti itu berupa rekaman percakapan antara Nazaruddin dan Wila melalui BlackBerry Messenger. “Saya tanya, ‘Bu (Wila), bagaimana soal fee-nya? (Dijawab) ‘Pak, fee-nya sudah langsung diserahkan ke Pak Anas,” ucap Nazar menirukan perbincangannya dengan Wila melalui BlackBerry.

Ia mengaku pernah membahas pembagian fee terkait dua proyek itu bersama Mindo Rosalina Manullang, pihak PT Adhi Karya, dan mantan rekannya di Partai Demokrat, Soetan Bathoegana, di Restoran Nippon Khan, Hotel Sultan Jakarta. Saat ditanya apakah Soetan turut menikmati uang, Nazaruddin menjawab, “Coba tanya Pak Soetan, sudah terima fee-nya atau belum,” kata Nazar.[kmps]

Pemerintahan SBY-Boed Antara Ada dan Tiada

HMINEWS – Pemerintahan pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dinilai tidak pernah hadir untuk melindungi dan membela warga negaranya. Padahal sejatinya negara wajib melindungi segenap warganya.Pemerintah  wajib dan harus hadir dalam membela warganya bila terjadi konflik di berbagai daerah.

Hal itu dikatakan pengacara senior, Adnan Buyung Nasution di gedung DPR, Rabu (18/1).

Dikatakan Adnan, tidak heran bila publik pun menilai pemerintahan SBY sudah tidak ada karena tidak berfungsi.

“Pemerintahan SBY antara ada dan tiada. Dibilang tiada, dia masih bercokol dan masih mendapat jabatan presiden, dapat gaji dan dapat fasilitas. Tapi dibilang ada, peranannya tidak kentara,” tegas Adnan Buyung Nasution.

Lanjutnya, “Sebagai kepala negara, seharusnya SBY sadar dan berpikir bahwa keadaan negara sudah dalam bahaya. Dan bila konflik sosial terus terjadi, tidak mungkin semua warga melanjutkan kehidupan berbangsa dan bernegara,” tandasnya.[ach/warta]

Nakhoda Kapal Republik Harus Segera Diganti, Turunkan SBY-Boed!

HMINEWS – Pergantian Presiden seharusnya terjadi setiap 5 tahun menurut ketentuan Konstitusi Negara/UUD 1945. Keharusan ini memang perlu dipelihara. Namun jika Presiden sendiri tidak mampu memelihara keharusan ini dengan membiarkan demoralisasi dan anomali di berbagai bidang kehidupan Bangsa dan Negara, maka keharusan ini secara Moral tidak berlaku. Demikian diungkapkan Kelompok Kerja (Pokja) Petisi 50, Chris Siner Key Timu, dalam pesan singkatnya kepada RIMA.

“Secara Moral Bangsa dan Negara harus diselamatkan, dan keharusan normal/konstitusional pergantian Presiden setiap 5 tahun tidak berlaku, karena harus tunduk pada keharusan moral tersebut “ ungkap  Chris.

Menurut Chris, Jika Kapten atau Nakhoda Kapal Republik sudah mengalami disorientasi dan demoralisasi, maka yang harus diganti bukan pembantu awak awak kapal, tapi Nakhodanya. Reshuffle Kabinet ternyata tidak menyelamatkan , hanya menunda tenggelamnya dan karamnya Kapal Republik.

Lebih lanjut Chris mengatakan, bangsa dan negara harus diselamatkan. Untuk itu perubahan adalah “Conditio Sine Qua Non”. Menurut Chris, berharap  perubahan terjadi mulai dari “mind set”, sikap mental dan karakter  kepemimpinan Presiden SBY adalah naif.

“Kalau sudah 7 tahun sebagai presiden hal seperti itu tidak terjadi pada diri SBY, mustahillah bisa terjadi dlm 2-3 tahun  yang akan datang”

Reshuffle adalah sia-sia, hanya mengalihkan masalah dan menambah kepalsuan dan kebohongan . Kalau SBY mau berjasa, Nyatakan pengunduran diri dari jabatan Presiden karena tidak mampu secara kepemimpinan dan tidak patut secara moral dalam menyelenggarakan negara dan kekuasaan pemerintahan.

“ Jika SBY tidak mau mundur secara legowo, rakyatlah yang akan menurunkannya,” tuturnya.

Ditempat terpisah, hal yang sama juga diungkapkan Paranormal Ki Gendheng Pamungkas. Menurutnya, problem utama Indonesia sekarang ada pada SBY. Selama SBY masih menjadi presiden, jangan harap berbagai masalah bangsa bisa diselesaikan. Century misalnya, lanjut Ki Gendheng, tidak akan pernah bisa dituntaskan selama SBY masih menjadi presiden.

“Jadi, kalau mau memperbaiki negara, langkah pertama adalah menurunkan SBY. Dalam pandangan paranormal saya, Maret sampai September 2012 adalah masa-masa kritis SBY. Pada periode itulah akan ditentukan jatuh-tidaknya SBY. Tapi saya yakin, dia akan jatuh. Saya sendiri sudah sejak awal meletakkan foto SBY di kandang burung perkutut dan saya gantungkan di depan rumah,” katanya pada diskusi yang diselenggarakan Rumah Perubahan 2.0 bertema “Gerakan Rakyat Vs Merosotnya Kredibilitas Pemerintah”, di Jakarta, Selasa (17/01).

Sementara itu, pengamat politik Universitas Indonesia, Prof. Iberamsyah melihat sedikitnya ada lima amanat konstitusi yang telah dilanggar pemerintah saat ini. Pertama, pemerintahan SBY tidak mampu melindungi rakyatnya dari kekerasan, teror dan lainnya. Kedua, pemerintah tidak mampu mensejahterakan rakyat. Turunnya angka kemiskinan yang diklaim pemerintah tidak sesuai dengan kondisi objektif di lapangan. Ketiga, pemerintah tidak mampu mencerdaskan kehidupan bangsa. hal ini disebabkan biaya pendidikan sangat mahal sehingga rakyat tidak mampu menjangkau.

“Keempat, pemerintah tidak mampu mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Sekarang, yang kaya makin kaya. Yang kuat menindas yang lemah. Semua berangkat dari mengguritanya mafia hukum, mafia pajak, hukum, mafia tanah, mafia impor dan lainnya. Kelima, pemerintah tidak mampu menjaga martabat bangsa di mata dunia internasional,” kata Iberamsyah.

Profesor yang sudah mengajar 34 tahun di UI ini mendorong mahasiswa untuk terus bergerak menggulirkan perubahan. Namun Iberahmsyah mengingatkan supaya mereka berhati-hati, agar tidak menjadi “makanan’ polisi yang telah berubah menjadi horor dan teror.[ach]