Dubes Iran: Dunia Harus Mencontoh Indonesia

HMINEWS.Com – Sekali lagi, pola keberagamaan di Indonesia yang damai mendapat pengakuan dunia. Model tersebut layak menjadi contoh umat muslim sedunia dalam menyikapi berbagai perbedaan yang ada.

“Negara-negara yang mayoritas berpenduduk Muslim hendaknya mencontoh Indonesia yang menerapkan demokrasi tanpa melupakan nilai-nilai Ketuhanan,”  kata Duta Besar Iran, Mahmoud Farazandeh dalam konferensi pers Pekan Budaya Iran di Jakarta, Selasa (28/2/2012) malam.

Menurut Mahmoud, sekarang bukan waktunya lagi untuk saling mempertentangkan madzhab yang ada. Karena yang lebih penting, dunia Islam sekarang mempunyai kesamaan yaitu menjadi target kepentingan pihak lain.

Sebagaimana diketahui, Indonesia merupakan negara muslim terbesar di dunia, dan di dalamnya terdapat berbagai pemeluk agama lain. Meski begitu, dibanding negara-negara lainnya seperti di kawasan Timur Tengah, Indonesia jauh lebih aman. Tidak seperti negara-negara lain yang tengah berkonflik tersebut, yang juga tidak luput dari campur tangan dan dimanfaatkan pihak asing. (Rds)

Amalan-Amalan Bernilai Jihad

Banyak amalan bernilai jihad dan dapat berbuah surga. Meski sepintas tidak tampak ‘heroik’ karena bukan dengan mengangkat senjata melawan musuh dalam wujudnya yang nyata. Allah menjamin para pelakunya dengan ampunan, dan Rasulullah pun menjanjikan untuk menjadikannya sebagai orang terdekat beliau di surga kelak. Insya Allah. Amal apa sajakah itu?

Berbakti kepada orangtua

Tidak diragukan lagi, sebagaimana banyak hadits telah meriwayatkan keutamaan birrul walidain (berbakti kepada kedua orangtua), terutama ibu. Bahwasannya pernah seorang sahabat menyatakan keinginan untuk bergabung dalam barisan jihad, untuk berperang di jalan Allah. Kemudian ia ditanya:

“Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” tanya Rasulullah. “Iya,” jawa orang tersebut. “Berjihadlah dengan mengurus keduanya” tegas Rasulullah.

Sebagaimana diperkuat juga dalam banyak hadits lain, di antaranya bahwa surga ada di bawah telapak kaki ibu. Juga kecaman Rasulullah terhadap seseorang yang terhalang masuk surga, padahal kesempatan itu terbuka lebar kepada orang tersebut, yaitu dengan masih hidupnya kedua orang tuanya.

Mengurus anak yatim dan telantar

“Aku dan pengurus anak yatim seperti dua ini (sambil memperagakan kedua jarinya) di surga” kata Rasulullah.

Sekarang ini begitu banyak bertebaran anak-anak telantar, yang sebagiannya yatim, di jalan-jalan sebagai pengemis, pengamen dan sebagainya. Terabaikan hak-hak mereka, tidak tercukupi gizinya, tidak bisa mengenyam pendidikan dan diperlakukan secara tidak semestinya. Malangnya, kondisi seperti itu seolah ‘diperkuat’ secara sistem oleh negara.

Pemimpin adil

Masih bersumber pada hadits Rasulullah, karena memang selain Alqur’an sumber Islam adalah hadits, yaitu hadits yang menyatakan bahwa pemimpin adil akan mendapat naungan Allah pada hari kiatam. Di saat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Pemimpin adil ditempatkan pada urutan pertama, salah satu hikmahnya, adalah karena pempimpin sangat besar pengaruhnya, baik maupun buruk, terhadap masyarakat yang dipimpinnya.

“Pemimpin adil, anak muda yang giat beribadah kepada Allah, orang yang hatinya selalu tertaut pada masjid, orang-orang yang saling mencintai karena Allah –berhimpun dan berpisah karena Allah, seorang yang menolak ajakan zina lawan jenisnya karena khauf (takut) kepada Allah, orang yang bersedekah secara rahasia sampai ‘tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan tangan kanannya’, serta orang yang selalu mengingat Allah dan menangis karena-Nya,”.

Mempelajari, Mengamalkan dan Menyebarkan Ilmu

Kedudukan ilmu mendahului amal, bahkan iman. Dengan ilmu pula, seseorang tahu hak dan kewajiban dirinya terhadap Allah, tahu hak Allah atas dirinya. Ilmu menjaga dirinya dari berbagai ketergelinciran karena ketidaktahuan.

Mempelajari, mengamalkan dan mengajarkan ilmu itu tinggi kedudukannya. Ilmu lebih tinggi daripada ibadah, bahkan perumpamaannya seperti bulan dengan bintang. “Perumpamaan seorang ‘abid (ahli ibadah) dengan seorang ‘alim (ahli ilmu, ulama, ilmuwan) seperti purnama dengan sebuah bintang.”

Karena dengan ilmulah dimungkinkannya gerakan kebangkitan Islam, sebagaimana telah terjadi berulang kali, termasuk dengan kemunculan seorang mujaddid setiap abadnya, tidak lain selalu dimulai dengan membereskan keilmuan. Sebagaimana gelar Hujjatul Islam (pembela Islam), Muhyiddin (orang yang menghidupkan agama), syaikhul Islam dan sebagainya yang identik dengan gerakan keilmuan sebagai basisnya.

Dari gerakan keilmuan inilah yang kemudian lahir generasi rabbani yang mampu mengembalikan izzah (harga diri) umat Islam, sebagaimana generasi Shalahuddin Al Ayyubi yang dibidani oleh Al Ghazali mampu mengusir tentara salib, ulama-ulama yang melahirkan generasi Muhamamd Al Fatih penakluk Konstantinopel dan sebagainya.

Ilmu adalah jawaban dari banyak persolaan, menjawab semua tuduhan dan imej buruk yang disematkan kepada Islam, yang tidak jarang pemburukan tersebut justru datangnya dari umat Islam sendiri karena kebodohannya.

Karena pentingnya ilmu itulah, menuntut ilmu bernilai jihad. Para pencari ilmu akan senantiasa dinaungi malaikat, dari pergi hingga kembalinya. Apabila karena suatu sebab atau musibah, seorang penuntut ilmu meninggal, ia memperoleh kedudukan mati syahid.

Di tengah kondisi keummatan yang seperti sekarang ini, pintu jihad terbuka lebar, kita tinggal pilih dari pintu mana memasukinya sesuai kapasitas masing-masing, tidak sebatas yang disebutkan di atas, agar menjadi solusi atas permasalahan yang tengah mendera.

Sebagai penutup, baik kita renungkan ayat yang menyindir orang-orang yang sangat bernafsu berperang sewaktu keadaan masih damai, karena ketidaksabaran, merasa geregetan terhadap musuh dan didorong keinginan menunjukkan ‘harga diri.’

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu [dari berperang], dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat!” Begitu diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka [golongan munafik] takut kepada manusia [musuh], seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih dari itu takutnya. Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan [kewajiban berperang] kepada kami beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun. (QS Annisa: 77)

(Redaksi)

Dunia Islam Kehilangan Ahmad Sumargono

HMINEWS.Com – Ahmad Sumargono, Ketua Umum Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI) wafat, Jum’at (24/2/2012) dinihari di Sukabumi, Jawa Barat. Kepergian aktivis senior tersebut menyisakan duka mendalam bagi banyak kalangan muslim Indonesia dan dunia.

Seperti diketahui, Ahmad Sumargono yang dikenal dengan sebutan “Gogon” tersebut, merupakan aktivis sejak masa mudanya. Sedari masih pelajar aktif di gerakan dakwah. Kemudian saat menjadi mahasiswa, ia aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), mulai dari HMI Rayon PTG (Petojo, Tomang dan Grogol) hingga ke tingkat pengurus besar periode Ketua Umum Sulastomo. Saat itu, tahun 60-an, ia kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Kiprahnya sebagai aktivis tidak terhenti di organisasi mahasiswa, namun dilanjutkannya dengan dakwah dan berani mengkritisi pemerintah Orde Baru. Dan karena itulah ia pernah ditahan Komando Pelaksana Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) pada 1980 selama  6 bulan tanpa pengadilan.

Pada era 80-an tersebut, suami dari Yoon Sumargono itu menjadi salah satu tokoh yang banyak membantu aktivis HMI ketika menghadapi tekanan Orde Baru yang memaksakan asas tunggal (astung). Seperti diakui Awalil Rizky, alumni HMI (MPO).

“Beliau memiliki jasa besar kepada HMI yang mempertahankan asas Islam pada era sulit dahulu. Rumahnya selalu terbuka untuk berbagai kegiatan HMI, beliau pun biasa mendengar keluh kesah anak-anak HMI, memberi advis dan bantuan material,” tulis Awalil Rizky.

Gogon, putra Purworejo kelahiran Jakarta 1 Februari 1943 tersebut juga terlibat langsung dalam sejumlah organisasi seperti KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam) yang banyak berkiprah menangani urusan kemanusiaan. Pendukung gerakan Intifadhah di Palestina, pembelaan terhadap umat Islam di Bosnia-Herzegovina, Kashmir, Chechnya dan lainnya.

Bagi yang  berkeinginan bertakziah, dapat datang ke kediamannya di Komplek Dokter Jalan H. Baping, Ciracas, Jakarta Timur. Semoga almarhum memperoleh tempat yang mulia di sisi Allah.

Rahbar: Kecanggihan Nuklir Dapat Dikalahkan

HMINEWS.Com – Bagi Iran, kepemilikan senjata nuklir bukanlah segalanya dan bukan jaminan kemenangan. Kekuatan negara-negara adikuasa yang mengandalkan nuklir pun tidak mustahil untuk dikalahkan. Dengan apa?

“Sebuah bangsa yang mengandalkan pada kemampuan dan kapasitas tinggi sumber daya manusia dan alamnya, dapat mengalahkan kekuatan yang mengandalkan senjata nuklir.” kata Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Rahbar, seperti dikutip Mehrnews.com, Rabu (22/2/2012).

Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan ketua dan pejabat Badan Energi Atom serta ahli-ahli nuklir Iran.

Rahbar menilai puncak keberhasilan para ahli Iran di bidang ilmu pengetahuan nuklir adalah menciptakan kemuliaan dan kepercayaan diri bangsa, serta teladan bagi bangsa-bangsa regional dan dunia bahwa setiap bangsa mampu melawan tekanan dan menggapai independensi serta mematahkan semua monopoli ilmiah kekuatan imperialis.

Begitu juga dalam acara pertemuan pemuda muslim sedunia “Kebangkitan Islam dan Pemuda” beberapa waktu lalu, Rahbar menegaskan kekuatan bangsa-bangsa muslim tidak terletak pada kecanggihan nuklir. Akan tetapi pada kekuatan semangat pemudanya yang militan-revolusioner. (Irib/Ftr)

Kemenkominfo Jangan Hanya Tarik Setoran Bisnis Pornografi

HMINEWS.Com – Menindaklanjuti telusuran di internet atas maraknya muatan pornografi, Komisi Pendidikan PB HMI (MPO) mendatangi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Selasa (21/2/2012). Menyampaikan keluhan dan desakan agar Kemenkominfo menjalankan fungsinya dengan maksimal terkait masalah tersebut.

Kepada Kemenkominfo, Ketua Komisi Pendidikan, Abdul Malik Raharusun menyampaikan data data ke Bagian Pengaduan Konten Kemenkominfo. Sedangkan kepada Komisi Pendidikan PB HMI, Sony di bagian pengaduan Kemenkominfo mengaku baru tahu atas banyaknya konten porno yang bisa diakses dengan begitu mudahnya.

“Saya juga baru tahu masih banyak seperti ini. Biasanya memang Kemenkominfo bertindak atas dasar data base dari laporan ISP-ISP (Internet Service Provider) ke Kemenkominfo setiap beberapa bulan sekali,” kata Sony.

Ketidaktahuan Bagian Pengaduan sepertinya mencerminkan kondisi Kemenkominfo secara keseluruhan. Yaitu tidak adanya upaya untuk mendata dan kemudian memberangus muatan-muatan pornografi di dunia maya. Patut dipertanyakan, apa saja kerjaan Kemenkominfo selama ini? apakah hanya menerbitkan regulasi?

“Kemenkominfo sendiri tidak punya wewenang untuk memblokir situs-situs yang bermuatan pornografi. Tapi yang bisa dilakukan hanyalah mengimbau kepada ISP-ISP (internet service provider) yang jumlahnya ratusan agar mematuhi regulasi yang telah dikeluarkan,” lanjut pria berkacamata tersebut kepada Komisi Pendidikan PB HMI di Gedung Kemenkominfo lantai 3.

Hal lain yang sangat disayangkan adalah tidak berdayanya Kemenkominfo dalam upaya memberantas pornografi, kecuali hanya imbauan kepada ISP-ISP agar patuh peraturan. Sementara solusi yang dijalankan selama ini terhadap masyarakat pun hanya nasehat-nasehat agar tidak membuka situs bermuatan pornografi.

“Apalah gunanya kementerian bertausiah melulu, sedangkan di luar siapa yang menjamin anak-anak tidak tergiur melihat konten pornografi. Seharusnya jika pemerintah serius, blokir saja semuanya, jangan hanya menunggu-nunggu laporan database dari ISP,” ujar Abdul Malik Raharusun menanggapi Kemenkominfo.

Ketidak-berdayaan pemerintah di hadapan pemodal tampaknya memang masih akan berlangsung lama, atau bisa jadi pemerintah memang tidak serius, kecuali hanya mengeruk keuntungan.

Abdul Malik Raharusun menilai pemerintah hanya berdiam terhadap kenyataan yang terjadi, sedangkan ISP-ISP yang ada terus bersaing mendapatkan pelanggan, salah satunya dengan membebaskannya akses pornografi.

Informasi tambahan, Kemenkominfo akan memanggil sekitar 169 Internet Service Provider (ISP) pada 28 Februari mendatang.

“Jangan jadikan pemanggilan tersebut hanya menjadi ajang pengumpulan upeti, di mana Kemenkominfo bersekongkol dengan provider-provider, yaitu hanya menarik setoran dengan membiarkan pornografi semakin merajalela,” pungkasnya.

Gerakan Mahasiswa Gerakan Yang Berpihak

Oleh: Muhammad Yusuf*

Bulan Februari ini Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berulang tahun ke-65 dalam hitungan tahun masehi. Tepat ketika Pemuda bernama Lafran Pane mendeklarasikan gerakan alternatif  untuk mengubah mindset mahasiswa yang ada di kampus-kampus agar Islam tetap menjadi way of life mereka untuk komitmen akan keIslaman sekaligus untuk penyadaran gerakan bahwa penjajahan di bumi Indonesia harus dihapuskan dengan metode yang dipakai HMI.

Dengan azas Islam, HMI bersatu-padu mengumpulkan pemuda (baca: Mahasiswa) untuk mendudukkan kembali visi amar ma’ruf nahi munkar atau sebagai agen perubahan. Atas simpul-simpul keummatan dan kebangsaan yang semakin terancam eksistensinya. Bagaimana tidak, umat Islam sudah mulai hilang jati dirinya. Sebagai panutan untuk melakukan “Vision of Islam” atau cita-cita Islam sebagai pemimpin, pendidik dan teladan semakin tergerus dengan mazhab materialisme  dan split of personality (kepribadian yang terbelah) berupa penyakit internal yaitu kedengkian terhadap sesama yang berakibat pada penghancuran diri, sehingga menyebabkan gerakan mandek.

Jika HMI ingin terus berjaya sebagai gerakan mahasiswa, maka faktor evaluasi diri sebagai gerakan Islam dengan terus mempelajari dasar-dasar Islam, sejarah keIslaman, dan akhlaq harus ditanamkan seja dini. Hal itu sebagai pondasi untuk menghadapi faktor eksternal ummat Islam yang terus mengekspansi dari kekuatan ekonomi, politik, dan kebudayaan mengobrak-abrik tata-sistem kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan aktivis, pasca aktifis, hingga alumni HMI semakin lupa akan ke-HMI-annnya dan semakin larut akan kerusakan hari ini.

Awal berdirinya HMI sebagai gerakan untuk membebaskan bangsa dari keterjajahan Belanda yang masih menancapkan kekuasaan di bumi Indonesia. Dengan semangat ini memulai. HMI seharusnya menjadi garda terdepan untuk menyuarakan penentangan pada ketidakadilan yang menyangkut sistem bangsa yang semakin hari semakin akut. Bukan diam tanpa sikap akibat kerja-kerja teknis organisatoris kepengurusan dengan alasan lagi fokus di internal. Sehingga organisasi mandek.

Atau sebaliknya. aktivis HMI terjebak dalam aksi-aksi politis praktis yang ujung-ujungnya kepentingan pribadi sehingga visi organisasi ditarik dalam kepentingan pribadi, yaitu uang dan kedekatan dengan penguasa.

Jika tidak ingin kehilangan visi seperti di atas, maka gerakan harus segera putar kompas 180 derajat yaitu menjadi gerakan  protes atas fenomena yang terjadi di dunia gerakan, atas telikung kepentingan dan politik negeri kita yang terus menjadi boneka dari negara lain. Kita selalu dijajah dan terus belum merdeka hingga hari ini. Gerakan protes hendaknya menjadi visi. Bagaimanapun hari ini aksi yang dilakukan oleh HMI harus menjadi representasi kebutuhan rakyat akan bersatunya mahasiswa dengan gerakan buruh, petani dan masyarakat kota yang terpinggirkan oleh sistem penjajahan model baru bernama kolonialisasi, imperealisme, korupsi, gaya hidup hedonis kaum elit dan kondisi negara yang tidak lagi berpihak pada masyarakatnya.

Pernyataan sikap untuk membela yang tertindas dan melawan ketidakadilan harus tetap disuarakan dalam setiap level tingkat ke-HMI-an. Serta bangunan-bangunan strategis untuk melakukan advokasi-advokasi masyarakat terus diciptakan agar apa yang dicita-citakan pada akhirnya akan tercapai dengan gerakan rakyat, bukan gerakan wacana yang mengatasnamakan gerakan intelekual ataupun gerakan peradaban.

Aksi rakyat adalah imbas dari kebijakan yang tidak memihak pada yang terpinggirkan sehingga dalam jangka panjang, proyeksi ini segera tidak diantasipasi oleh negara maka yang terjadi adalah pemiskinan dan pembodohan yang tidak terelakkan oleh rakyat, terutama komunitas yang semakin tidak peka terhadap penyakit sosial yang menimpa kehidupan.

Semua telah tersandera dengan pemiskinan, korupsi dan pembodohan. Gerakan HMI harus menjadi pioneer atas permasalahan-permasalahan yang terjadi di negeri ini. Bukan lari mencari titik aman. Mencari visi elitis yang gundah akan diri tetapi lupa akan kondisi sosialnya. Sehingga gerakannya adanya seperti tidak ada. Semua mencari pembenaran untuk lari dalam pertapaan dan mencari pembenaran agar HMI tidak gusar melihat realitas sosial yang galau.

HMI Sebagai agen kontrol sosial hendaknya menjadi pemicu pemahaman atas kondisi kemahsiswaan yang semakin hari semakin instan dan glamour dalam gaya hidup. Tentu permasalahan utamanya dapat dijadikan pedoman bahwa ekspansi budaya konsumerisme melalui iklan ataupun jenis media yang lain mengakibatkan perubahan cara pikir dengan cara instan. Sehingga melahirkan generasi-generasi lemah dalam menangkap moment dalam usaha pembahasan terhadap bangsa semakin tidak dapat berpihak.

Dalam jangka panjang generasi anak bangsa akan menjadi anak bangsa yang mengekor atas model ekspansi bangsa lain. Dalam konteks diskusi ini adalah apa yang hadir pada bangsa ini tidak menjadi pilihan atau jalan hidup yang perlu diperjuangkan sekaligus dilestarikan sehingga dampak politik dan ekonomi akan menjadi bangsa pengekor atas bangsa lain. Bahkan pelestarian budaya melalui gerakan visi inteletualisme organisasi akan terjadi jika, apa yang menjadi gerakannya tertuju pada upaya pembelaan bukan  visi yang mengambang bukan tanpa ruh. Seperti visi hari ini berupa peradaban. Yang tidak bisa ditangkap elan vitalnya, ber-hmi.

Titik pointnya adalah kontinuitas, dalam melaksanakan visi perkaderan yang dimiliki oleh HMI secara independent. Yaitu berupa penataan nilai keislaman yang terus menjadi ilham dari kader HMI dalam memperjuangkan apa yang menjadi gerak untuk menata kehidupan sosial di manapun mereka berada, serta daya kreatifitas untuk menegakkan visi amar ma’ruf nahi munkar adalah jalan alternatif untuk memperbaiki tatanan sosial yang semakin terpuruk. Siapapun statusnya kader, pengader, pasca kader, hingga alumni sekalipun. Semua bersatu untuk menjunjung visi pembebasan yang berpihak pada yang terlemahkan.

Sumber embrio tertinggi bagi lahirnya gerakan sosial yang bervisi pada perubahan adalah langkah awal untuk menyatukan visi intelektualisme, spiritualisme, dan berpihak pada yang terlemahkan adalah suara hati HMI untuk menata kembali kondisi yang sakit hari ini. Dapat bangun kembali menata sejarah keummatan dan kebangsaan menuju “Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghofur” negeri yang sejahtera, makmur  dan mendapat ampunan dari tuhan seru sekalian alam.

Tentu dalam setiap visi, misi dan program, dibangun agar capaian-capaian yang ditargetkan dapat memberikan andil atas evaluasi diri, himpunan, dan kebangsaan dapat terukur dengan sembari menyusun kekuatan membangun jaringan kemahasiswaan, kemasyarakatan, kenegaraan, untuk tetap mengemban amanah sebagai manusia yang memiliki visi sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.

*Kornas Korps Pengader Nasional HMI

Katakan TIDAK Pada Kebijakan Privatisasi Dahlan Iskan

Oleh: Ferizal Ramli*

Benarkah Go Public BUMN Membuat Masyarakat Bisa Mengontrol Kinerja BUMN?

Go Public berarti publik bisa mengontrol? Mungkinkah? Secara ilmu Ekonomi impossible. Apa kemampuan publik bisa kontrol BUMN atau perusahaan? Dengan modal laporan keuangan belaka?

Pahami saja fakta secara tenang. Skandal besar-besaran Enron tahun 2002 yang melibatkan Akuntan Publik “The Big Five” mendiang Arthur Andersen dan puluhan lainnya adalah kesemuannya perusahaan publik. Mengapa kok publik tidak mampu mengawasi sehingga terjadi skandal besar-besaran?

Skandal derivatif yang menyerang perbankan Amerika tahun 2008 semuanya melibatkan Bank dan Lembaga Keuangan milik publik. Mengapa jika publik mengawasi terjadi skandal amat massif dan dahsyat?

Publik mampu mengawasi perusahaan itu tidak ada dalam logika akuntan atau manajemen. Itu cuma jargon para neo kapitalis agar privatisasi dilakukan. Publik tidak mungkin mampu mengawasi perusahaan hanya berdasarkan Laporan Keuangan. Data laporan keuangan itu terlalu minim dan terlalu mini untuk dapat mendiagnosa performance nyata perusahaan.

Benar jika Laporan Keuangannya buruk maka perusahaan pasti BURUK. Tapi klo laporan keuangannya amat cemerlang sekalipun, hampir pasti performance perusahaan belum tentu cemerlang juga.
Jadi, laporan keuangan Buruk sudah pasti perusahaan buruk.
Tapi laporan keuangan baik, belum tentu perusahaannya baik. Percayalah…

Inilah alasan kita harus TIDAK percaya bahwa BUMN di-go public agar bisa bersaing:

Harus kita pahami, jika BUMN itu TIDAK bisa bersaing atau merugi maka dia tidak akan laku go public! Tidak akan laku. Siapa yang mau beli perusahaan yang tidak mampu bersaing? Mari pahami logika ini secara perlahan dan tenang. Kita tidak boleh mengabaikan fakta-fakta penting serta track record buruk penjualan BUMN.

Ada track record yang perlu dipahami dalam penjualan BUMN:
1. TIDAK ADA BUMN yang laku dijual jika dia membebani dan berkatagori rugi. Logika akal sehat saja, mana ada yang mau beli sesuatu yang pasti rugi? Makanya jangan kaget yang dijual pasti BUMN yang baik dan untung.

Jika struktur keuangannya tidak baik maka sebelum laku dijual biasanya oleh pemerintah disuntikkan dana dulu (biasanya dananya dari hutang LN) baru sesudah segar dijual. Ini terjadi di BCA, Garuda, Danamon dan banyak lagi.

Atau yang dijual memang yang punya prospek bagus seperti industri semen, Indosat atau BTN. Saat ini juga pemerintah menjual industri semen, BTN dan lainnya itu.

2. TIDAK ADA JAMINAN bahwa di tangan swasta itu lebih baik dari pada pemerintah! Kepemilikan itu bukan manajemen. Untuk membuat perusahaan maju yang penting itu performance manajemen. Meskipun dimiliki swasta jika performance jelek ya jelek saja.

Jadi, kuncinya bukan berganti kepemilikan untuk membuat sebuah perusahaan bagus. Kuncinya adalah perbaikan performance manajemen.

3. Inilah alasan sulitnya menerima mengapa alasan permodalan untuk ekspansi merupakan dasar privatisasi.

Kita itu punya lembaga pembiayaan yang harus dioptimalkan dulu. Berbagai asuransi seperti Jamsostek atau Askes itu punya dana untuk diinvestasikan. Mestinya dana mereka digunakan untuk investasi ke BUMN. Pernahkah hal ini dilakukan?

Kalau perlu Pemerintah bisa membuat UU untuk kumpulkan dana masyarakat dalam bentuk usaha asuransi yang bisa digunakan untuk mendukung ekspansi BUMN. Pernahkah hal ini dilakukan?

Metode-metode jauh lebih baik masih banyak yang bisa ditempuh, mengapa malah yang penting dijual (bahkan kebanyakan obral habis harga murah)? Revelankan dengan alasan menjual BUMN untuk permodalan?

Kenapa juga harus menjual saham yang notabene akhirnya jatuh pada pengusaha kaya atau malah asing? Penjualan saham itu harus langkah paling terakhir dilakukan. Apalagi jika privatisasinya dengan menjual kepemilikan melalui direct selling seperti banyak dilakukan selama ini. Ini benar-benar merusak keadilan kita.

4. Bagaimana jika BUMN dijual 30% saja kepemilikannya sehingga tidak berpindah ke swasta atau asing?

Dari sejarah privatisasi BUMN, tidak pernah ada jaminan bahwa akan berhenti di 30%. Semua selalu dimulai dengan dijual 30%. Beberapa waktu lagi 20%. Jadi yang ter-publish memang TIDAK pernah BUMN langsung dijual 50%.

Tidak pernah sama sekali pemerintah langsung jual 50%. Tapi fakta yang terjadi lihat saja PT Semen Gresik dan berbagai BUMN Industri semen berpindah tangan mayoritas kepemilikannya ke swasta. Lihat BCA dan Danamon. Rp1.000Triliun kita hutang (BPPN) karena untuk menalangi perbankan itu, lalu setelah sehat dijual BCA dan Danamon jadi milik pengusaha hitam kembali. Memangnya dijualnya langsung 50% kepemilikan sahamnya?

Itu dijual selalu 20-30%. Lalu akan diulang lagi 20-30%. Yang pasti sudah begitu banyak kepemilikan BUMN berpindah, kan? Kalau cuma dijual 30% tidak akan berpindah.

BUMN itu ada untuk mensejahterakan rakyat bukan pemilik. Jadi keuntungan BUMN itu tidak serta merta hanya dibagi kepada pemilik tetapi juga harus dilibatkan dalam pembiayaan-pembiayaan investasi bangsa seperti penyertaan pembangunan industri mobil misalkan. Atau dulu sekali keutungan Pertamina untuk membangun industri Baja Krakatau Steel.

Nah, kalau BUMN sebagian sahamnya dimiliki swasta maka tentu saja swasta akan keberatan jika keuntungannya digunakan untuk penyertaan modal yang lain. Mereka akan menuntut di pengadilan Abitrase untuk hal ini. Kecuali jika dari awal ada klausul jelas BUMN itu keuntungannya bukan untuk pemilik tapi untuk rakyat dan pihak swasta yang ingin membeli BUMN harus setuju klausul itu.

Nah, klausul itu tidak pernah ada, kan? Jadi, jika BUMN dijual sahamnya meskipun sebagian ini akan membuat fungsinya berubah dari mensejahterakan rakyat menjadi mensejahterakan pemilik.

5. Bagaimana jika BUMN rugi?

Nah, ini harus dianalisa ruginya karena apa? Kalau BUMN seperti BNI atau Garuda dia harus untung. Study kelayakan apapun dia harus untung. Tidak untung, manajemennya dipecat.

Tapi kalau Damri atau Perumka rugi maka ini harus dianalisa. Dikarenakan ada “Misi Sosial” di sana. Ada misi pelayanan masyarakat. Ini juga fungsi penting mengapa BUMN harus milik negara. Ada fungsi pelayanan masyarakat yang harus dipenuhi. Jika KA itu milik swasta bisa dibayangkan mereka mengeluarkan tarif harga secara semena-mena bahkan kalau sistemnya oligapoli maka masyarakat bisa diperas.

Sebagai contoh nyata, sejak privatisasi hampir semua industri semen, maka sejak itu sering kali harga semen gonjang-ganjing dan kadang hilang di pasaran. mengapa ini terjadi? Dikarenakan pemegang oligopoli industri semen di Indonesia memainkan harga untuk dapat untung. Jadilah kita korban spekulasi harga. Padahal semen itu industri amat strategis, tulang punggung pembangunan dan berbagai proyek infrastruktur. Bayangkan setiap kita beli Semen maka yang untung asing pemilik industri semen kita. Belum lagi kita juga korban spekulan harga. Coba jika industri semen (PT Semen Gresik dkk) masih BUMN. Kita (negara) bisa kontrol pasokan semen dan fluktuasi harga semen.

*Ferizal Ramli saat ini berdomisili di München, Jerman. Berprofesi sebagai Unternehmensberater/Corporate Consultant for Management, System Integration and SAP Standard Software pada Cirquent GmbH. Ferizal bertugas di SBU (Strategic Business Unit) FTU-Financial Transformation Unit, Department of FCS-Finance Competence Service.

Prestasi Kemenkominfo Hanya Terbitkan Regulasi

HMINEWS.Com – Prestasi Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) adalah memproduksi segudang regulasi. Tercatat dalam rilis prestasi kinerjanya bulan lalu, Kemenkominfo mencantumkan ada 23 (duapuluh tiga) Peraturan Menteri (Permen). Selebihnya ada 5 Permen dan UU yang masih dalam pembahasan.

Tidak sebagaimana pemberitaan tahun lalu yang gegap gempita soal sengketa dengan produsen Blackberry, RIM. Yang salah satu ketentuannya adalah dihapuskannya konten pornografi, Kemenkominfo hampir tidak bekerja sama sekali untuk menertibkan konten-konten porno secara menyeluruh. Kembali lagi, Tifatul hanya menerbitkan peraturan-peraturan.

Sementara persoalan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat diabaikan. Masyarakat bahkan yang masih anak-anak masih dengan bebasnya mengkonsumsi konten pornografi melalui jaringan internet tanpa filter. Entah itu di warnet-warnet, melalui hp, atau sarana lainnya. Berupa gambar, tulisan, video adegan sungguhan, animasi, komik dan sebagainya. Dari dalam maupun luar negeri. Semuanya tersedia gratis, tidak berbayar dan tanpa susah-susah harus verifikasi umur dan alamat email.

Kemenkominfo tutup mata terhadap hal tersebut karena dianggap tidak menguntungkan, masih dalam rilis prestasinya, yaitu tidak dapat mendatangkan rupiah yang dapat dimasukkan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Menyikapi hal tersebut, Abdul Malik Raharusun Ketua Komisi Pendidikan PB HMI-MPO, dalam waktu dekat akan mendatangi Kemenkominfo. Pihaknya akan mendesak agar kementerian yang berada di bawah menteri PKS tersebut bekerja sungguh-sungguh dan tidak hanya mencari tenar dengan menangani kasus-kasus yang bisa ‘dijual’ saja.

“Tifatul harus bekerja dengan benar dan jangan hanya menangani hal-hal yang bisa dijadikan duit saja,” ungkapnya kepada HMINEWS.Com, Senin (20/2/2012).

Untuk itu, bekerjasama dengan Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) dan Kohati, Komisi Pendidikan akan membawa bukti nama-nama situs, blog, facebook dan twitter yang berisi muatan pornografi. Data yang diperoleh dari berbagai pihak tersebut memang tidak mencakup keseluruhan alamat web atau situs.

“Kemenkominfo-lah yang harus bekerja menemukan semua itu dan memberangusnya. Apalagi jika dikaitkan dengan visi pendidikan karakter yang saat ini tengah digencarkan, akan sia-sia saja itu semua jika faktor gangguan tersebut masih terus dibiarkan. (Fathur)

Pemilu Masih Jauh, Kaum Bedebah Sudah Bersekongkol

HMINEWS.Com – Meski  masih jauh, lembaga-lembaga negara kembali menggelar pertemua rutin membahas Pemilu 2014. Pertemuan diadakan di Gedung DPR/MPR secara tertutup dihadiri Presiden SBY, Wapres Boediono, Ketua MPR Taufik Kiemas, Ketua DPR Marzuki Alie, Ketua DPD Irman Gusman, Ketua MK Mahfud MD, Ketua BPK Hadi Purnomo, Ketua MA Harifin Tumpa dan Ketua KY Eman Suparman.

 “Untuk kali ini bicara tentang bagaimana demokrasi yang baik menuju Pemilu 2014, bagaimana melihat pengalaman masa lalu pada 2009 agar demokrasi bisa diimplementasikan lebih baik lagi,” kata Marzuki Alie seperti dikutip Antaranews.com, Senin (20/2/2012).

Selain orang-orang tersebut masih ada Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Kesra Agung Laksono, Menko Perekonomian Hatta Radjasa dan Mensesneg Sudi Silalahi.

Menurut Marzuki Alie, hal-hal yang dibahas adalah seputar persoalan yang terjadi pada Pemilu 2009 lalu, seperti daftar pemilih tetap dan adanya pemilih ganda yang diharapkan tidak terulang ke depan. Sebagai Ketua DPR Marzuki mengatakan lembaganya akan komitmen untuk mempercepat penyelesaian RUU Pemilu. Sementara BPK bertugas menyiapkan transparansi Pemilu 2014.

Begitulah politisi yang hampir tidak mengurusi persoalan dasar rakyat dan bangsa Indonesia. Soal kesejahteraan, kemajuan dan kemandirian ekonomi dan komitmen penegakan hukum hanya pemanis bibir. (Fathur)

Matinya Organ Hati Karena Makanan dan Minuman

HMINEWS.Com – Fungsi hati sebagai organ vital dalam tubuh bisa rusak, melemah bahkan mati. Kerusakannya bisa disebabkan oleh virus, racun atau bahan-bahan kimia lainnya yang terkandung dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi, termasuk rokok. Jika hati rusak, darah tidak lagi tersaring sehingga bisa ikut mematikan pemiliknya pada fase kronis.

Dalam dunia kedokteran, hati kerap disebut sebagai liver dan penyakit yang menyerangnya biasa diistilahkan sebagai hepatitis. Tingkatan hepatitis ada dari ringan, sedang dan berat, mulai dari hepatitis A hingga hepatitis E.

Penyakit hati atau liver yang kronis disebut dengan sirosis (chirrhosis), yaitu fase akhir menuju matinya hati. Perawatannya secara medis sangat mahal. Obat-obatan bisa diberikan untuk sirosis yang disebabkan oleh virus, akan tetapi untuk sirosis karena bahan kimia, belum diketahui penanggulangannya kecuali dengan cangkok hati dari orang lain.

Tipe hati dan golongan darah antara pendonor dengan penerima cangkok harus sesuai. Organ hati pendonor akan tumbuh lagi dan kembali seperti sediakala dalam jangka waktu tertentu.

Mengingat tidak ada obat untuk sirosis, yang harus dilakukan adalah tidak memasukkan racun ke dalam tubuh. Yaitu dengan lebih selektif memilih makanan dan minuman yang tidak mengandung bahan kimia yang merusak sebisa mungkin. Juga minuman keras (beralkohol), tidak merokok, dan hidup dalam lingkungan yang berudara bersih, sebab udara juga akan mengalir bersama darah.

Namun kendala yang dihadapi mayoritas penduduk bumi ini adalah bahwa hampir semua bahan makanan yang beredar di pasaran mengandung za-zat kimia, bahkan racun. Mulai dari buah, sayuran, ikan, daging, minuman, cemilan, permen dan hampir tidak ada yang bebas dari kontaminasi.

Hal itu tidak bisa lepas dari sistem produksi yang bersifat massal di berbagai negara maju, sehingga untuk kebutuhan tersebut hewan-hewan direproduksi, digemukkan dan diawetkan secara kimiawi. Sedangkan sistem yang alamiah atau organik ditinggalkan karena dianggap tidak mendatangkan keuntungan besar.

Mari sayangi hati.

(dari berbagai sumber)