HMI MPO Jakarta – Bogor Tak Berhasil Dekati Istana

HMINEWS.Com – ‘Tenggelam’  di antara ribuan  massa dari Forum Umat Islam (FUI) yang berunjukrasa di depan Istana Negara, puluhan demonstran Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) tetap menyuarakan aspirasi rakyat.

Mahasiswa yang berasal dari Jakarta dan Bogor tersebut tetap merangsek mendekati istana sambil tetap terus berorasi, namun kalah jumlah dan dikepung polisi.

Massa HMI MPO tidak berhasil mendekati pintu istana,  aksi mereka menarik perhatian media. Tuntutan masih sama, menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

“Batalkan kenaikan harga BBM karena hanya akan menyengsarakan rakyat,” kata koordinator aksi, Fandi Ahmad, Jumat (30/3/2012) sore.

Di Jakarta, HMI MPO beraksi sejak hari Selasa (27/3) lalu mulai dari Bundaran Hotel Indonesia menuju Istana Negara. Hari Kamis demo dimotori Badan Koordinasi (Badko) HMI Jawa Bagian Barat di depan Gedung DPR. (Fathur)

Mahasiswa Yogya Duduki DPRD, Kondisi Masih Terkendali

HMINEWS.Com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) Yogyakarta dan GMNI berhasil menduduki Gedung DPRD Provinsi. Mahasiswa mendesak agar kenaikan BBM dibatalkan karena akan menyengsarakan rakyat, dan menuntut lengsernya Presiden SBY.

Aksi yang dimulai dengan longmarch dari Jalan Malioboro tersebut berlangsung hingga malam.

“Kawan-kawan dari GMNI Yogyakarta dan HMI-MPO malam ini masih menduduki DPRD Provinsi DIY sambil mengamati langsung rapat paripurna di Jakarta,” kata salah seorang aktivis, Yusron Halim, Jumat (30/3/2012) malam.

 Meski mahasiswa berhasil menduduki DPRD Provinsi, Yogyakarta masih relatif kondusif. Mahasiswa masih  memperhitungkan kemungkinan batalnya kenaikan harga BBM.

Dihalau Dari DPR, Massa Tetap Beraksi Sepanjang Jalan

HMINEWS.Com – Meski ribuan massa pengunjukrasa di luar gedung DPR/MPR begitu geram, anggota DPR yang berada di dalam gedung terlihat santai, seolah tidak terjadi apa-apa. Para politisi tersebut tetap melaksanakan agenda politik mereka, kasak-kusuk saling lobi dan sebagainnya pulas tertidur.

Pemandangan itu amat kontras, seolah-olah yang berada di dalam tidak mewakili siapa-siapa kecuali hanya mengusung kepentingan elit partai masing-masing.

Suasana di luar semakin mencekam, setelah polisi berhasil menghalau massa dari jalan raya depan Gedung DPR. Massa tidak bubar sepenuhnya, mereka tetap melawan di sepanjang jalan hingga ke kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (30/3/2012) petang.

Massa yang geram kemudian membekali diri dengan batu dan pentungan, saling lempar dengan polisi dan memblokir sejumlah ruas jalan. Sambil tetap menunggu DPR menolak kenaikan harga BBM.

FUI Siap Melawan Untuk Bela Mahasiswa

HMINEWS.Com – Forum Umat Islam (FUI) mengancam akan melawan jika Presiden SBY represif terhadap demonstran, khususnya mahasiswa yang berdemo di DPR/MPR. Dalam unjukrasa mendesak pemerintah membatalkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

“Jika melalui aparatnya represif, menembaki pengunjukrasa, kami umat Islam akan melawan,” kata Habib Rizieq Syihab dalam unjukrasa FUI di depan Istana Merdeka, Jumat (30/3/2012).

FUI yang terdiri dari sejumlah ormas Islam seperti FPI (Front Pembela Islam), Garis (Garda Umat Islam), Dewan Dakwah, Al Washliyah, Jama’ah Ansharut Tauhid (JAT), Majelis Mujahidin dan lainnya.

Dalam unjukrasa tersebut, Jum’at sore massa sudah bersiap menerobos istana atas instruksi Habib, dengan teriakan “Ganyang SBY, ganyang DPR. Buka, buka, bukas istana,” berulang-ulang. Massa sudah bersiap-siap saling dorong dengan polisi.

Namun hal itu diurungkan setelah ganti komando unjukrasa, sedangkan polisi yang semula terlihat biasa saja sudah memakai alat-alat pelindung secara serempak dan merapikan barisan siap menyongsong pengunjukrasa. Aksi berlangsung hingga malam tanpa terjadi gejolak, menunggu sikap DPR terhadap rencana kenaikan harga BBM. (fathur)

Demonstran Berhasil Bujuk DPRD Tandatangani Penolakan Kenaikan BBM

HMINEWS.Com – Massa pengunjukrasa di Pekanbaru, Riau berhasil membuat DPR Provinsi Riau menandatangani pernyataan menolak kenaikan harga BBM. Pernyataan tersebut dibuat dengan kop DPR Provinsi dan akan disampaikan ke Presiden SBY.

“Masa aksi ditemui 5 anggota DPR Provinsi Riau dan sepakat menolak kenaikan BBM dengan menandatangani sikap penolakan menggunakan kop DPR dan difaks langsung ke SBY,” kata Ketua HMI-MPO Cabang Pekanbaru, Hafidz kepada HMINEWS.Com, Kamis (29/3/2012).

Kelima anggota DPR Riau tersebut 2 berasal dari PDI Perjuangan,  2 dari PKS dan 1 dari Golkar.

Di Riau, pengunjukrasa terdiri dari 4 front. Yaitu GEBRAK (Gerakan Barisan Rakyat Anti Kenaikan) BBM, ARAK (Aliansi Rakyat Anti Kenaikan ) BBM, AMR (Aliansi Rakyat Menolak kenaikan BBM) dan elemen buruh. Pengunjukrasa sempat mendobrak gerbang DPR Riau serta merusak pos polisi yang berada di tempat tersebut.

Sementara itu di belahan Sumatera lainnya, tepatnya di Gunung Sitoli, Nias Sumatera Utara, pengunjukrasa pun berhasil membuat 70 persen anggota dewan baik dari Kota Gunung Sitoli dan Kabupaten Nias menandatangani penolakan kenaikan harga BBM. Massa yang turun ke jalan sejak hari Selasa lalu tersebut terus-menerus berunjukrasa di DPRD.

 “Alhamdulillah, 70 % anggota dewan baik dari DPRD kota maupun Kabupaten menyatakan sikap menolak kenaikan harga BBM, dan akan mengirimkan surat kepada Presiden SBY atas nama masyarakat Pulau Nias, untuk membatalkan kebijakan menaikkan harga BBM tersebut,” kata Azhar dari HMI MPO Gunung Sitoli.

Sekjen HMI MPO: Bubarkan DPR Jika Setuju Kenaikan Harga BBM

HMINEWS.Com – Fungsi wakil rakyat adalah menyalurkan aspirasi rakyat. Akan tetapi jika wakil rakyat sudah tidak mau lagi mempedulikan suara rakyat yang menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), maka tidak perlu lagi ada wakil rakyat.

“Kita harapkan dalam paripurna besok anggota DPR dari partai manapun menolak kenaikan harga BBM. Jika tidak, maka tidak perlu lagi ada lembaga tersebut, karena tidak ada manfaatnya bagi rakyat,” kata Sekjen PB HMI MPO, Herman Haerudin kepada HMINEWS.Com, Kamis (29/3/2012).

Menurutnya, DPR harus memperlihatkan keberpihakannya kepada rakyat dengan menolak rencana pemerintah menaikkan harga BBM.

“Kenaikan harga BBM akan berdampak pada kehidupan rakyat, karena semua harga akan naik,” sambungnya usai berdemo di depan Gedung DPR MPR, Senayan Jakarta.

PB HMI MPO tergabung dalam Aliansi Rakyat Indonesia dengan  IMM, GMKI, LMND, GMNI, PMII, KMHDI, SPI dan SNI yang memulai aksi dari depan Stasiun TVRI, berjalan kaki melewati Semanggi dan berakhir di DPR RI. (Fathur)

Diskusi Pemikiran Islam, Dari Masyarakat Madani Hingga Toleransi dan Salafi

HMINEWS.Com – Konsep civil society ternyata berbeda dengan masyarakat madani. Perbedaan keduanya terletak pada nilai yang mendasarinya. Satu mendasarkan pada antroposentrisme, sedangkan satunya lagi pada wahyu ilahi.

Seperti halnya konsep demokrasi, civil society yang berasal dari Barat memang merupakan hasil pemikiran manusia yang digali melalui perenungan. Dan meski mealui proses yang lumayan panjang, tetap bisa salah dan bisa sesuai dengan kondisi zaman tertentu. Berbeda dengan Islam yang diturunkan segala zaman dan tempat.

Dalam masyarakat Madani pada masa Rasulullah, hidup berdampingan antar pemeluk agama yang berbeda. Seperti diketahui, waktu itu hidup golongan Yahudi dan Nasrani bernaung di bawah perlindungan Islam. Umat yang disebut sebagai ahli kitab tersebut mendapatkan haknya masing-masing dan tidak diganggu.

Itulah kesimpulan dalam Diskusi Panel Pemikiran Islam di Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STID) Mohammad Natsir, Tambun Selatan Kabupaten Bekasi, Kamis (29/3/2012).

Berbicara mengenai konsep tersebut adalah Ahmad Furqon, mahasiswa S2 PKU ISID Gontor. Sementara pembicara lainnya yaitu Asep Awaludin (Hak Asasi Manusia: Konsep Islam Vs Barat), Riandi (Toleransi Islam Vs Barat) dan Imdad Rabbani yang berbicara masalah salafi dan salafiah.

Hak Asasi Manusia

Sedangkan mengenai konsep Hak Asasi Manusia (HAM), antara Islam dan Barat pun terdapat perbedaan mendasar. Jika Barat menganut kebebasan tanpa batas, dalam Islam kebebasan itu dibatasi dengan hak-hak orang lain dan aturan wahyu yang mengikat langsung masyarakat. Sebab manusia sebagai titah di bumi tidak hanya bertanggungjawab secara horisontal, tetapi juga punya tanggungjawab langsung kepada Penciptanya. Selain itu, ada kehidupan di masa depan yang abadi yang menjadi pertimbangan segala perbuatan anak cucu Adam.

Toleransi

Toleransi pun demikian, antara konsep liberal dan Islam berbeda. Islam mengajarkan toleransi,  terhadap pemeluk agama lain maupun terhadap sesama pemeluk Islam seperti ditunjukkan pada masalah khilafiah (atau perbedaan pada ranah furu’/ cabang).

Namun terhadap perbedaan yang telah secara tegas dilarang, dan penjelasannya telah gamblang dan final, seperti masalah keesaan Allah, masalah kenabian yang berakhir dengan diutusnya Muhammad (Shallallahu ‘Alaihi Wasallam), tidak diperkenankan ada pemahaman baru yang menyimpang.

Karenanya, lahirnya golongan yang menamakan diri Islam, seperti kelompok Ahmadiyah yang mengakui ada nabi yang diturunkan dan menerima wahyu dan kitab suci setelah Nabi Muhammad, tidak dapat dibiarkan.

Konsep Salafiah.

Istilah Salaf, Salafi dan Salafiah merupakan peristilahan baru di Indonesia. Aliran ini pertama kali diperkenalkan pertama kali oleh Ustaz Dahlan Bashri Atthahiri yang dikirim ke Timur Tengah pada masa Dr Mohammad Natsir memimpin Dewan Da’wah.

Secara bahasa, salaf artinya pendahulu. Orang yang hidup pada masa sekarang pun bisa disebut salaf oleh generasi yang akan datang nanti. Itu secara bahasa. Sedangkan secara peristilahan, yang disebut salaf adalah para generasi terdahulu umat Islam, yang merupakan generasi yang hidup pada masa terbaik.

“Era terbaik adalah zamanku. Kemudian setelahnya, kemudian setelahnya  dan setelahnya lagi.” Artinya mereka adalah para sahabat Nabi, para tabi’in (pengikut sahabat) dan tabi’ut tabi’in (orang yang mengikuti pengikutnya sahabat Nabi).

Namun belakangan setelah lulusan Timur Tengah makin marak kembali ke Indonesia, berbagai perbedaan pun muncul. Di kalangan kelompok yang menamakan diri Salafi pun berkelompok-kelompok, punya ustaz masing-masing, yang sayangnya tidak sedikit yang berfaham sempit, mengklaim bermanhaj salaf namun gemar mencaci maki ulama dan memecah belah umat. Bahkan ada kebiasaan yang saling mentahdzir, memblacklist ustaz-ustaz tertentu yang berbeda pemahaman dan diharamkan menuntut ilmu dari ulama yang diblacklist tersebut.

“Boleh mengaku salaf, tapi jangan serta merta menyalahkan praktek yang berbeda dengan yang kita pahami,” kata Imdad Rabbani di hadapan mahasiswa di lantai 4 Gedung STID Mohammad Natsir.

Menurutnya tidak usah terlalu formalis dengan sebutan salaf, karena yang lebih utama adalah pada amaliah salaf. Yaitu mencontoh para generasi terdahulu. Juga hadir dalam Diskusi Panel tersebut, Dr Khalid Mushlih, salah satu Pembimbing PKU ISID Gontor. (Khairul)

3 Institusi Penegak Hukum Prioritaskan Penanganan Chevron

HMINEWS.Com – Kasus proyek fiktif bioremediasi PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) di Riau telah disepakati menjadi prioritas untuk ditangani. Yaitu oleh Jaksa Agung, Kapolri dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kesepakatan itu ditandatangani Jaksa Agung Basrief Arief, Kapolri Timur Pradopo dan Ketua KPK Abraham Samad di Jakarta, Kamis (29/3/2012).

Kesepuluh area tersebut adalah sektor pengadaan barang dan jasa, sektor keuangan dan perbankan, sektor perpajakan, sektor migas, sektor BUMN, sektor BUMD, sektor bea cukai, pendapatan dan penerimaan negara, penggunaan APBN atau APBD atau APBNP dan APBDP, sektor aset atau barang milik negara atau daerah dan sektor pelayanan umum.

“Kasus Chevron kan terkait salah satu area tadi, di sektor migas. Jadi salah satu fokus juga,” kata Jaksa Agung, Basrief Arief.

Tiga institusi penegak hukum tersebut melakukan koordinasi, supervisi, penyelidikan, penyidikan, penuntutan sampai dengan eksekusi serta pengamanan aset negara. Khusus kasus Chevron, penyidik satuan khusus (satsus) pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAM Pidsus) tengah memeriksa tujuh tersangka.

Lima orang dari Chevron yaitu Endah Rubiyanti, Widodo, Kukuh, Alexiat Tirtawidjaja, serta Bachtiar Abdul Fatah. Sementara du orang dari swasta yaitu Ricksy Prematuri (dir kontraktor PT GPI) dan Herlan (dir PT Sumigita Jaya) sebagai pihak ketiga aktivitas bioremediasi. (Fathur)

Diacuhkan, Mahasiswa Jebol Pagar DPRD Riau

HMINEWS.Com – Gelombang unjukrasa di Riau terus bertambah besar. Massa berdatangan tidak hanya dari kalangan mahasiswa, tapi juga dari kalangan pedangang dan masyarakat umum menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Unjukrasa dipusatkan di DPRD Provinsi Riau berlangsung sejak beberapa hari lalu, namun tidak ada tanggapan dari wakil rakyat tersebut. Sehingga memicu kemarahan massa yang akhirnya menjebol pagar serta gerbang DPRD Provinsi.

Massa yang dimotori mahasiswa dari HMI MPO, HMI, PMII, KAMMI dan BEM se-Provinsi Riau juga juga berhasil menyegel SPBU. Berkali-kali terjadi bentrok dengan aparat kepolisian yang menghalang-halangi massa memasuki halaman DPRD Provinsi yang tidak kunjung menemui para demonstran.

Aksi terus berlanjut hingga sore ini, Kamis (29/3/2012) massa masih berkonsolidasi dan telah diterima DPRD Provinsi Riau untuk audiensi. (Faishal)

Unjukrasa Di Asahan Aman, Toko Sepanjang Jalan Tutup

HMINEWS.Com – Unjukrasa ratusan mahasiswa IMM, HMI MPO, PMII, HMI Dipo serta elemen masyarakat dan pedagang berlangsung di Asahan, Sumatera utara. Dalam aksi tersebut Bupati Asahan juga setuju dengan mahasiswa yang menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Konsentrasi massa terpusat di kampus Universitas Asahan (UNA), bergerak menuju Kantor Bupati Asahan dengan konvoi sepeda motor. Sepanjang jalan massa meneriakkan penolakan kenaikan harga BBM. Mereka berorasi di tiap titik strategis dan berhasil membujuk Bupati menandatangai penolakan tersebut.

“Bapak Bupati Asahan, Taufan Gama Simatupang juga menolak kenaikan harga BBM. Dia setuju menandatangani pernyataan yang kami ajukan,” kata koordinator aksi aliansi mahasiswa di Asahan, Raja Imansyah kepada HMINEWS.Com, Kamis (29/3/2012).

Dari Kantor Bupati, massa bergerak menuju pusat kota. Meski unjukrasa berjalan relatif tertib, namun karena kekhawatiran terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, toko-toko sepanjang Jalan Raya Lintas Sumatera tutup. Keributan terjadi ketika polisi menghalangi mahasiswa yang membakar ban. (Aditia)