Patroli Laut Kerjasama Indonesia-Australia Usai

HMINEWS.Com – Kerjasama Patroli Koordinasi Indonesia-Australia berakhir yang dimulai sejak 16 April berakhir Jumat (27/4/2012).  Tidak ditemukan adanya bajak laut maupun pencuri ikan secara ilegal operasi gabungan tersebut.

Kapal-kapal yang mengakut Angkatan Laut Indonesia dan Australia itu berpatroli di zona ekonomi ekslusif di perbatasan maritim Indonesia-Australia. AL Indonesia menggunakan dua buah kapal perang jenis ‘Fast Patrol Boat’ (FPB) buatan PT PAL Indonesia, yaitu KRI Kakap-811 dan KRI Tongkol-813. Sementaran AL Australia menggunakan kapal patroli HMAS Pirie-p87 dan pesawat intai maritim P3-C Orion.

Patroli berakhir dengan merapatnya kapal-kapal di pangkalan kapal patroli di Darwin Jumat pagi. Sedangkan pembukaan 8 hari yang lalu dilaksanakan di Mako Lantamal VII Kupang, Nusa Tenggara Timur. []

Usulan Pengaturan Azan Menuai Kontroversi

HMINEWS.Com – Pernyataan Wapres Boedioano soal pengaturan azan yang diperdengarkan melalui pengeras suara menuai kontroversi.

“Kota semua sangat memahami bahwa azan adalah panggilan suci bagi umat Islam untuk melaksanakan kewajiban sholatnya,” kata Boediono di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Jumat (27/4/2012).

Menurutnya suara azan yang terdengar sayup-sayup terasa jauh lebih merasuk sanubari daripada yang terlalu keras, menyentak dan terlalu dekat ke telinga.

Seperti diketahui, kualitas speaker masjid di Indonesia saat ini masih perlu diperbaiki agar nyaman bagi lingkungan, tidak hanya terhadap masyarakat non-muslim, tapi juga terhadap masyarakat muslim sendiri. Karena dalam suatu lingkungan selalu ada yang mempunyai bayi, dan tak jarang terdapat orang yang sakit.

Belum lagi jika memasuki bulan Ramadhan, penggunaan speaker masjid kadang tidak mengenal waktu, yang umumnya diperdengarkan oleh anak-anak dan remaja dalam tadarus hingga larut malam maupun membangunkan orang untuk sahur yang terlalu dini.

Usulan yang disampaikan pada Pembukaan Mukatamar VI Dewan Masjid Indonesia (DMI) tersebut dikomentari secara beragam oleh berbagai kalangan.  Seperti dikatakan Ketua PWNU Jawa Timur Mutawakkil Alallah, sebagaimana dikutip Republikaonline, bisa memancing konflik horisontal. []

Norak Dan Hamburkan Uang Negara, Kunjungan DPR RI Ke Jerman Ditolak

HMINEWS.Com – Kunjungan sejumlah anggota DPR RI ke Jerman diprotes Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Jerman bersama PPI Berlin dan Nahdatul Ulama (NU) Cabang Istimewa Jerman. Protes dikarenakan wakil rakyat tersebut membawa serta keluarga dan menghamburkan uang negara Rp3,1 miliar.

Mahasiswa menuntut  tiga hal:

1. Transparansi dari setiap anggota DPR RI mengenai agenda kunjungan ke luar negeri beserta biaya yang akan dikeluarkan. Informasi tersebut harus dipublikasikan paling lambat 1 bulan sebelum keberangkatan.
2. Melaporkan hasil kunjungan tersebut kepada rakyat melalui website DPR RI dan media massa.
3. Pengertian Ibu Bapak wakil rakyat untuk tidak menghamburkan uang rakyat dengan terbang ribuan kilometer untuk Rapat Dengar Pendapat dengan KBRI dan KJRI. Hal ini bisa dilakukan lewat tele-konferens, atau ketika pejabat-pejabat KBRI dan KJRI berada di Jakarta.

“Berkaca dari pengalaman yang dahulu, setiap kunjungan anggota dewan ke sini selalu disertai keluarga, padahal setahu kami ini kunjungan untuk dinas, bukan wisata”  kata juru bicara PPI Jerman.

Protes yang diunggah ke youtube pada 25 April 2012 dan telah ditonton sebanyak 124.00-an kali. PPI menilai sikap anggota DPR dengan keluarga mereka norak dan memalukan. Setelah membacakan pernyataan sikap dalam pertemuan di KBRI Berlin, para pemrotes walk out meninggalkan ruangan.

Hal lain yang disorot adalah sikap anggota keluarga dewan yang norak atau kampungan. Terbukti dari kelakuan mereka terhadap berbagai produk baru yang ada, seperti kelakuan anak kecil memamerkan barang-barang baru yang dipunyai.

Kunjungan tersebut diikuti anggota Fraksi PKS: Luthfi Hasan Ishaq, Fraksi PDI Perjuangan; Tri Tamtomo (F PDIP).  Dari Fraksi Demokrat: Nurhayati Ali Assegaf, Hayono Isman, Vena Melinda. Fraksi Golkar: Ahmed Zaki Iskandar Z, Muchamad Ruslan, Neil Iskandar Daulay, Tantowi Yahya dan YOrrys Raweyai. []

Polri Lamban Tangani Kasus Penembakan TKI

HMINEWS.Com – Polisi Indonesia lamban tangani kasus ditembaknya tiga Tenaga Kerja Indonesia (TKI) oleh Polisi Diraja Malaysia. Hal itu mengakibatkan berkembangnya dugaan dan kecurigaan di media massa pada penembakan yang terjadi pada 24 Maret 2012 lalu.

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana menyayangkan hal tersebut, apalagi dorongan otopsi ulang merupakan desakan pihak keluarga.

“Seandainya Polri cepat dan tanggap melakukan otopsi di awal terkuaknya isu ini maka pemberitaan di media dan apa yang ditangkap oleh publik tidak terlalu sesat dan cenderung liar,” Hikmahanto Juwana, Jumat (27/4/2012).

Karena itu kedepannya polisi diminta cepat bertindak agar tidak ada gangguan hubungan Indonesia-Malaysia. Sebelumnya ia telah mengingatkan agar polisi bertindak cepat.

“Sejak awal sudah saya ingatkan agar Polisi segera melakukan otopsi sehingga tidak menyulitkan posisi Menlu dan Presiden yang terus mendapat tekanan dari publik,” lanjutnya.

Selain itu, Juwana menyayangkan penembakan ketiga TKI asal Nusa Tenggara Barat tersebut oleh Polisi Diraja Malaysia. Polisi negeri jiran diminta tidak menggeneralisir bahwa semua TKI berperilaku buruk. Mereka pun harus mengklarifikasi alasan penembakan dan tidak berlaku kasar pada semua TKI. []

Kemenlu-Mabes Polri: Hasil Otopsi Ulang Tak Ada Pencurian Organ Tubuh TKI

HMINEWS.Com – Kementerian Luar Negeri mengumumkan hasil otopsi membuktikan tidak ada organ tubuh tiga TKI yang dijual di Malaysia. Jumpa pers itu menepis dugaan penjualan organ tubuh ketiga TKI asal Lombok Timur yang terlanjur marak di media massa.

Kata Kapusdokkes Mabes Polri Brigjen Pol Musaddeq Ishaq, hasil otopsi menemukan jahitan di dada kiri untuk menutupi luka tembak Polisi Diraja Malaysia. Sedangkan organ tubuh seperti jantung, jantung, mata dan otak masih ada pada masing-masing jenazah.

Otopsi Herman, Abdul Kadir dan Mad Nur adalah atas desakan keluarga mereka yang curiga terjadi pencurian organ tubuh ketiganya. Proses otopsi ulang disaksikan pihak keluarga.

Tiga orang TKI tersebut ditembak mati Polisi Diraja Malaysia dalam razia di kawasan Port Dickson Negeri Sembilan, Malaysia 24 Maret 2012 dini hari.

Menlu Marty Natalegawa yang hadir dalam konferensi pers berharap hasil otopsi ulang tersebut dapat menepis dugaan pencurian organ tubuh TKI. Namun mengenai penembakan itu, pihaknya akan tetap menyelidikinya sampai tuntas. []

Ambil Beasiswa Ke Jerman: Kuliah Sekaligus Hapuskan Hutang Negara

HMINEWS.Com – Kebijakan Pemerintahan Jerman untuk memberikan Bea Siswa 5.000 Doktor melalui Program Debt Swap adalah peluang besar yang patut disyukuri sekaligus harus dimanfaatkan oleh seluruh intelektual muda Indonesia. Program ini prinsipnya adalah penghapusan hutang luar negeri Indonesia terhadap Jerman melalui mekanisme bea siswa.

Bea siswa ini diperuntukkan buat lulusan S-1 (Sarjana) maupun S-2 (Master) untuk dapat study S-3 (Doktoral) di Jerman. Bagi lulusan S-1 akan mendapatkan bea siswa S-2 di universitas dalam negeri (Indonesia) terlebih dahulu, kemudian melanjutkan S-3 ke Jerman. Sementara buat lulusan S-2 akan langsung mendapatkan bea siswa S-3 ke Jerman. Para penerima bea siswa lulusan S-1 atau S-2 tidak dibebankan biaya apapun sampai lulus study S-3-nya. Semuanya ditanggung dalam program bea siswa.

Setiap biaya aktual yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia untuk menyekolahkan (melalui bea siswa) mahasiswanya di Jerman, maka pemerintah Jerman akan menghapus hutang luar negeri Indonesia sebesar 3 kali lipat dari biaya aktual tersebut. Misalkan, jika untuk menyekolahkan 1 mahasiswa Indonesia sampai lulus Doktor pemerintah Indonesia mengeluarkan biaya Rp1 miliar, maka Jerman akan menghapus neraca hutang Indonesia Rp3 miliar.

Artinya, jika Anda ikut dalam program ini maka Anda akan melakukan 3 tindakan bermanfaat:
1. Bisa melanjutkan study sampai S-3 di World Class University dengan tradisi almamater hampir 1.000 tahun lamanya.
2. Ikut serta menghapus beban hutang luar negeri Indonesia terhadap Jerman.
3. Ilmu anda akan bisa dimanfaatkan untuk membangun masyarakat Indonesia sejahtera yang adil kelak.

Kewajiban bagi para penerima bea siswa ini setelah lulus terkena “Ikatan Kerja 2 kali masa study + 1 tahun” untuk mengajar di Perguruan Tinggi bisa di PTN atau pun PTS. Setelah itu bisa bebas berkarir di mana pun. Untuk dicatat, para pendaftar bea siswa ini tidak harus berstatus dosen. Kalangan umum berhak mendaftar dengan memenuhi prosedur tertentu.

Berangkat dari ini maka pihak “Kontak Person Bea Siswa Debt Swap Dikti Bandung” bersedia mensosialisasikan program ini kepada para peminat KAGAMA (Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada) dan para peminat dari Yogyakarta serta kota sekitarnya.

Adapun agenda acara sosialisasi tersebut berisi 3 tema utama:
1. Presentasi tentang kuliah di Jerman, Universitas Jerman dan Penjelasan secara rinci Bea Siswa Debt Swap baik secara akademis maupun administratif
2. Pelatihan tata cara untuk mengajukan lamaran bea siswa Debt Swap.
3. Pelatihan menghadapi test interview

Acara menurut rencana akan diadakan di awal bulan September di Yogyakarta. Waktu dan tempat akan menyusul kemudian. (Ferizal Ramli)

Konferensi Ke-52 HMI Cabang Semarang

HMINEWS.Com – Penggabungan unsur intelektual dan spiritual merupakan  ruh pergerakan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Karena itulah, tradisi itu harus tetap dipertahankan, meski tantangannya tidaklah ringan. Seperti dilakukan HMI  (MPO) Cabang Semarang yang memilih tema tersebut sebagai rekomendasi Konferensi Cabang yang selesai Senin (23/4/2012) pagi.

“Temanya Rekonstruksi Epistemologi Gerakan HMI, menggabungkan antara spiritual dan intelektual sebagai landasan gerak HMI. Kenapa dipilih tema itu, sebenarnya HMI Cabang Semarang dari dulu ada penggabungan ini, terbukti Pengurus Cabang dahulu mempunyai guru-guru spiritual,” kata Ketua HMI MPO Cabang Semarang yang baru demisioner, Mustofa kepada HMINEWS.Com.

Namun, lanjut Mustofa, beberapa tahun belakangan tradisi tersebut agak memudar, dan karenanya  harus dibangun kembali, karena ruh perkaderan ada pada ranah itu; spiritual dan intelektual.

Menurutnya dengan pola tersebutlah terjalin saling pengertian antar penguruc cabang, pengurus cabang dengan kader, serta pengurus cabang dengan lingkungan sosialnya yang berdampak pada perubahan yang lebih baik.

Sekretaris Jenderal PB HMI (MPO), Herman Haerudin sebelumnya dalam pembukaan konferensi menegaskan hal  yang sama.

“Kecerdasan intelektual dan spiritual sangat penting dalam peningkatan kualitas kader sebagaimana tertuang dalam konstitusi HMI, yaitu menjadi insan ulul albab. Dalam menciptakan kader dengan kriteria itu, maka proses dan sistem perkaderan harus baik , karena dari situlah akan lahirnya kader-kader militan yang nantinya akan mewarnai Semarang dan Indonesia,” kata Herman.

Konferensi ke-52 tersebut berlangsung di Wisma Lansia, Ungaran-Semarang dan telah memilih  Firman Wahono sebagai Formateur Cabang dengan satu rekomendasi, yaitu mengaktifkan HMI di kampus UNNES (Universitas Negeri Semarang) dan AKPWB (Akademi Keuangan Perbankan Widya Buana) Semarang.

Firman merupakan mahasiswa IKIP PGRI Semarang, Ketua Bidang (Kabid) Jangkar (Jaringan dan Kajian Isu Strategis) HMI Cabang Semarang periode sebelumnya (2011-2012).

Lagi, HMI Komisariat FKIP Unhalu Laksanakan Basic Training

HMINEWS.Com – Terreduksinya nilai-nilai keislaman hari ini disebabkan minimnya pemahaman akan cita kader ulul albab. Hal itu berdampak tidak hanya pada spiritualitas pribadi, namun juga pada gerak langkah organisasi.

 “Tereduksinya nilai-nilai keislaman hari ini disebabkan minimnya pemahaman  akan cita kader yang amat ideal tersebut. Semoga tema dalam kegiatan perkaderan ini mampu mewujudkan cita tersebut,” kata Ketua Umum HMI (MPO) Komisariat FKIP Unhalu, Jufra Udo dalam pembukaan Latihan Kader (LK) 1, Jum’at (13/4/2012) lalu.

Itulah yang melatarbelakangi diadakannya LK 1 (basic training) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) Cabang Kendari. Mengambil tema “Penguatan Spirit Perkaderan dan Perjuangan HMI: Upaya Mengaktualisasikan Terbentuknya Insan Ulul Albab.”

“Ini merupakan sebuah upaya untuk mengaktualisasikan spirit kader yang terkonsepsikan dalam karakter insan ulul albab. Karakteristik insan cita HMI inilah yang diharapkan mengintegrasi dalam kedirian setiap kader,” kata Ketua Panitia LK1 Angkatan III, Kurayshihab.

Kegiatan yang berlangsung 13-16 April 2012 tersebut bertempat di Gedung PPID Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara. Diikuti 37 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

HMI Cabang Kendari, selain meningkatkan efektivitas kepengurusan cabang, juga mendorong komisariat-komisariat yang ada untuk terus menyelenggarakan perkaderan. Setiap kader harus mengoptimalkan fungsi intelektualnya sebagai mahasiswa dalam menghadapi tantangan zaman.

“Saya mewakili pengurus Cabang sangat mengapresiasi semangat kawan-kawan Komisariat FKIP Unhalu yang telah mengadakan kegiatan ini dan kami akan terus mendorong komisariat-komisariat yang ada untuk terus melakukan perkaderan sebagai kelanjutan hidupnya organisasi HMI (MPO) ini,” kata Ketua Umum HMI Cabang Kendari, Syarifuddin Reeno.

Disamping itu, pihak Komisariat pun harus senantiasa mendampingi kader-kader lepasan Basic Training semisal dalam bentuk kajian follow up, yang sekarang banyak ditinggalkan begitu saja pascapelaksanaan basic training. (LAPMI Kendari)

Komunitas Kreatif untuk Apa?

Oleh: Bhima Yudhistira*

“HMI sebagai organisasi mahasiswa harus mengarah pada komunitas kreatif!” sela salah seorang kader saat berdiskusi dalam forum Latihan Kader II beberapa waktu lalu. Spontan, kader lainnya hanya diam, berpikir apa artinya komunitas kreatif dan mengapa perlu untuk didiskusikan.

Sebagai kader yang update tentang perkembangan Pengurus Besar (PB HMI) tentu kita sering membaca atau mendengar konsep komunitas kreatif. Namun semakin menggali makna-nya dari berbagai literatur, “komunitas kreatif” merupakan istilah yang asing, bahkan terkesan dibuat-buat. Apa sebenarnya komunitas kreatif yang dimaksud oleh PB HMI? Semacam perkumpulan art-designer yang gemar corat-coret dan membuka distro? Atau berpikir untuk kemajuan pemikiran di HMI secara kreatif? Bingung, itu yang pertama kali terlintas. Dari kebingungan, maka timbulah rasa ingin tahu yang dalam untuk memperjelas definisi dan makna Komunitas Kreatif dengan mewawancarai beberapa kader HMI yang masih aktif.

Pierre Bourdieu seorang tokoh Intelektual Perancis lebih sering menggunakan Intelektual Kolektif (Collective Intellectuals) daripada menggunakan istilah Komunitas Kreatif (Creative Community) jika berbicara tentang peran intelektual dalam perubahan suatu sistem masyarakat. Kemungkinan besar, kedua istilah tersebut memiliki akar yang sama, yaitu transformasi fungsi intelektual menjadi agen perubahan dalam suatu tatanan masyarakat yang ter-hegemoni  oleh institusi negara maupun kekuasaan modal.

Jean-Paul Sartre memiliki definisi tersendiri tentang konsep intelektual kolektif, yang ia sebut dengan Total Intellectual, begitu juga Foucault dengan istilah Specific Intellectual. Pada hakikatnya konsepsi tersebut memiliki kesamaan. Perbedaan hanya terletak pada tahapan praksis dan varian-variannya. Sartre misalnya tidak sependapat dengan sindikasi-intelektual seperti model komunitas intelektual tertutup Blanquisme saat revolusi Perancis. Begitu juga Foucault yang memimpikan peran intelektual yang terbuka tanpa adanya rekayasa-sindikat.

Terdapat beberapa versi tentang definisi komunitas kreatif yang diusung oleh PB HMI, antara lain menurut pendapat Hafiz Rani, salah seorang kader HMI, “komunitas kreatif itu sebenarnya budaya epistemik yang sudah lama tumbuh di HMI pada era tahun 80-an, gagasan ini sebagai bentuk perlawanan terhadap distorsi pemikiran praksis ke ranah pemikiran paradigmatik.”

“Komunitas yang mengembangkan bakat dan pemikiran anggotanya” ucap Akka Akbar kader HMI cabang Yogyakarta.

Jika Intelektual Kolektif menurut Pierre Bourdieu diposisikan sebagai juru bicara (spokepersons) bagi kaum yang tertindas, sebaliknya konsep Komunitas Kreatif lebih menitikberatkan pada hegemoni kaum intelektual untuk merubah sistem. Dapat dikatakan, komunitas kreatif merujuk pada proyek rekayasa sosial yang direncanakan oleh suatu kumpulan intelektual yang membawa misi tertentu.

“Saya dengar langsung dari Ketua PB (Alto), HMI berusaha untuk membentuk komunitas kreatif (tidak hanya 1 komunitas) yang bertujuan untuk mempercepat rekayasa sosial” seperti yang ditekankan oleh Zamzami, kader HMI cabang Semarang.

Mafia Berkeley, Suatu Contoh

Melihat sejarah pergerakan intelektual di Indonesia, istilah Komunitas Kreatif dapat dipahami muncul sebagai bentuk model kelompok intelektual pada zaman Orde Baru. Munculnya istilah Mafia Berkeley yang menguasai sektor kebijakan ekonomi di Indonesia dianggap menjadi pioneer dari istilah Komunitas Kreatif. Mafia Berkeley dengan tokoh sentralnya, Widjojo Nitisastro, Emil Salim, Ali Wardhana, J.B. Soemarlin, dan Dorodjatun Koentjoro Jakti merupakan lulusan doktor atau master dari University of California, Berkeley di tahun 1960-an atas bantuan Ford Foundation.

Komunitas malam minggu ini dibentuk secara informal saat sebagian besar mahasiswa menghabiskan waktu malam untuk pesta dan mabuk-mabukan, komunitas kreatif (Mafia Berkeley) ini membuat sebuah konsep tentang perubahan lanskap ekonomi Indonesia 20-30 tahun mendatang. Oleh karena itu, sekembalinya ke Indonesia, posisi sentral di dalam pemerintahan dimanfaatkan untuk merumuskan kebijakan yang berpijak pada ide perubahan ekonomi tersebut. Hanya saja, perubahan tersebut lebih mengarah pada hal yang bersifat negatif, seperti menjalankan resep-resep dari lembaga donor asing untuk mengontrol regulasi penanaman modal di Indonesia, masuknya investor asing secara besar-besaran di zaman orde baru, dan berbagai kebijakan lainnya yang dinilai berpihak pada kepentingan modal asing.

Merunut pada fenomena mafia berkeley sebagai komunitas intelektual yang justru membawa malapetaka bagi sebuah sistem, Pierre Bourdieu (1996), dalam bukunya An Innovation to Reflexice Sociology mengungkapkan bahwa “kebutaan intelektual terhadap kekuatan-kekuatan sosial yang mengatur arena intelektual, dan karena itu praktik mereka, adalah apa yang menjelaskan bahwa, secara kolektif dan seringkali di bawah suasana radikal, para intelejensia hampir selalu menyokong kekuasaan kelompok dominan.”

Disatu sisi, kemunculan Mafia Berkeley di Indonesia dapat dijadikan sebagai contoh tentang kerangka komunitas kreatif dengan skema intelektual tertutup dan bersifat informal. Jika HMI ingin membentuk komunitas kreatif, maka hal yang pertama dilakukan adalah membentuk sindikat-sindikat antar kader, bersifat rahasia, melakukan pertemuan-pertemuan rutin dan membahas konsep tentang perubahan 20-30 tahun ke depan. Jumlahnya mungkin terbatas, 5-10 orang. Namun dipastikan intelektual yang bergabung dalam satu sub-komunitas kreatif tersebut memiliki posisi strategis, atau berpotensi menjadi tokoh intelektual di Indonesia. Tanpa adanya ikatan komitmen dan tujuan yang jelas, Komunitas Kreatif hanyalah angan-angan Pengurus Besar HMI untuk mengubah sistem di Indonesia.

“Praktik Revolusioner takkan berhasil tanpa Teori Revolusioner” kata Lenin.

Dalam konteks HMI, jika definisi Komunitas Kreatif sudah jelas, maka selanjutnya HMI perlu merumuskan praktik dari Komunitas Kreatif tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh Hafiz Rani kader HMI cabang Semarang, “…tapi, komunitas kreatif yang diusung PB HMI, saat ini belum tepat karena seharusnya tema itu memposisikan HMI berbasis keilmuan dengan mekanisme budaya diskursus. Sampai detik ini, saya rasa PB belum melakukannya”

 

 *Kader HMI Komisariat Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada
Mahasiswa Program Internasional, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada

Kemenpora Berikan Beasiswa Program Ketahanan Nasional Untuk Aktivis

HMINEWS.Com – Bekerjasama dengan Universitas Gajah Mada (UGM), Kementerian Pemuda dan Olahraga kembali memberikan beasiswa pascasarjana (S2) untuk aktivis. Beasiswa yang diberikan adalah program studi Ketahanan Nasional dengan Konsentrasi Pengembangan Kepemimpinan.

Kriteria Peserta dari Organisasi Kepemudaan/Lembaga Masyarakat Berbasis Pemuda :
1. Lulus ujian Masuk Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.
2. Pendidikan terakhir Sarjana (S1) semua jurusan/program studi, atau yang disetarakan oleh Kemendiknas dengan IPK minimal 2,75, TOEFL minimal 450 dan TPA minimal 500 dari lembaga yang diakui UGM.
3. Persyaratan pada butir 2 tentang TOEFL dan TPA dapat menggunakan SK Rektor No. 130 /P/SK/HT/2011, tentang Mahasiswa jalur kerjasama dapat memenuhi syarat tersebut dalam 1 (satu) tahun.
4. Usia maksimal 30 tahun.
5. Anggota atau Pengurus Aktif Organisasi/Lembaga Kepemudaan tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota.
6. Tidak sedang terikat dalam Program Beasiswa lain di Perguruan Tinggi Negeri ataupun Perguruan Tinggi Swasta di dalam negeri maupun di luar negeri.
7. Tidak tercatat dan terikat kerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).
8. Mendapat rekomendasi/izin dari pimpinan organisasi.

Batas waktu pendaftaran hingga 31 Mei 2012. Perkuliahan akan dilaksanakan di kampus UGM Yogyakarta. Info lebih lanjut klik tautan berikut: http://www.ugm.ac.id/