Mark Up Proyek Simulator, KPK Geledah Korp Lalulintas Polri

HMINEWS.Com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah kantor Korps Lalulintas Mabes Polri di Jl MT Haryono Jakarta Selatan. Penggeledahan dalam rangka pengusutan dugaan korupsi proyek pengadaan simulator alat uji test SIM (surat izin mengemudi) kendaraan roda dua dan roda empat.

Puluhan penyidik KPK berusaha mencari dokumen terkait proses tender sejak Senin (30/7) sore hingga Selasa dinihari.  Berhasil mengumpulkan sekitar 20 dus dokumen tender yang diduga terjadi mark up.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Simulator SIM motor dibeli dari PT Citra Mandiri Metalindo seharga Rp 77,79 Juta per unit. Padahal, simulator sim motor itu dibeli Budi dari PT Inovasi Teknologi Indonesia (perusahaan milik Bambang) dengan harga Rp 42,8 Juta per unit. Kemudian Budi menjualnya ke Direktorat Lalu Lintas dengan harga Rp256.142.000 per unit.

Penggeledahan terkait kasus yang diduga merugikan negara puluhan miliar Rupiah tersebut sempat terjadi ketegangan dengan petugas kepolisian yang berusaha menghalangi. Kemudian penyidik mengadu KPK yang segera ditindaklanjuti dengan datangnya  tiga pimpinan KPK. Yaitu Ketua KPK Abraham Samad, Wakil Ketua Bambang Widjojanto dan Busyro Muqoddas. Ditambah sejumlah petinggi lain KPK.

Tersangka kasus adalah Djoko Susilo, Kepala Korp Lalu Lintas waktu pengadaan tahun 2011 lalu. Ia dituduh menyalahkan wewenang sehingga merugikan negara dalam proyek senilai Rp180-an miliar tersebut, dan telah ditetapkan sebagai tersangka pada 27 Juli lalu.

Pasal yang dikenakan kepada Djoko adalah Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. []

Kekerasan Myanmar, Pemerintah RI Harus Segera Bertindak

HMINEWS.C0m – Pembantaian Muslim Rohingya menyulut kemarahan umat Islam di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, Dewan Pimpinan Nasional Laskar Perjuangan Masyarakat Spritual (DPN LAPMAS) mengecam kejadian tersebut.

Panglima Tinggi DPN LAPMAS, Abdul Rachman Sappara, mengatakan umat Islam Indonesia harus membelanya saudara muslim di Myanmar sebagaimana pembelaan terhadap muslim Palestina.

“Kita tetap punya tanggung jawab karena di sana adalah saudara kita. Melihat saduara kita tersiksa jangan kita tinggal diam. Kita perlu bergerak cepat. Kita bisa bantu muslim Palestina, membantu muslim Rohinya tentu juga bisa,” ujar Abul Rachman Sappara, saat dihubungi, Ahad (29/07/2012).

Ia mengatakan, peduli tidaknya tergantung pada kepentingan di balik bantuan itu. Seolah-olah umat Islam di Rohingya tidak terlalu berpengaruh bagi kehidupan umat Islam di Indonesia. Padahal, jika dilihat dengan baik, konteksnya sama saja dengan membantu Palestina yaitu muslim. Apalagi mereka dianiaya.

”Karena itu kita perlu memperlihatkan kepedulian atas penderitaan umat Islam di sana. Apalagi, bulan ini bulan puasa. Setidak-tidaknya kita terus bergerak. Karena jika tidak ada langkah pencegahan dan pendiaman dari pemerintah Myammar, itu sama sama saja mereka mendukung aksi penyerang itu,” lanjutnya.

Sappara menyarankan Pemerintah RI untuk segera terlibat aktif membela dan menyelamatkan masyarakat muslim di sana. Dan seharusnya ada tokoh besar di Indonesia yang memulai, kemudaian diikuti oleh masyarakat luas.

Hati HMS

Pendukung Terus Pantau Popularitas dan Elektabilitas JK

HMINEWS.Com – Para pendukung Jusuf Kalla terus memantau perkembangan popularitas dan elektabilitas tokoh Partai Golkar tersebut. Hal itu dilakukan untuk menentukan sikap selanjutnya menghadapi Pemilu Presiden 2014 mendatang.

”Akhir-akhir ini tren popularitas dan elektabilitas Pak Jusuf Kalla cenderung membaik. Cukup positif,” ujar Zainal Bintang di sela-sela buka puasa bersama di kediamanan Wakil Menteri Pertahanan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin, bersama keluarga besar KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan), Kamis lalu (26/07/2012).

Zainal Bintang mengatakan, Jusuf Kalla bukan hanya milik daerah Sulsel semata tapi sudah menjadi milik bangsa Indonesia. Kontribusi besar JK pada bangsa ini saat menjabat sebagai wakil presiden, partai besar dan jaza lainnya  yang terus melekat pada dirinya.

Ia mengharapkan pada seluruh warga Sulsel di seluruh daerah mendukung tokoh yang dikenal dengan slogan “Lebih Cepat, Lebih Baik”, ini setidaknya mendoakan supaya semua berjalan baik.

”Di bangsa ini, kita butuh figur seperti Pak Jusuf Kalla. Ia pekerja keras dan berani mengambil resiko untuk sebuah keberhasilan,” terang Zainal Bintang.

“Kita tak mau mendahului Allah Sang Penguasa, jika tingkat kepercayaan publik pada Pak JK kita akan mengusungnya. Kita doakan bersama-sama. Karena di bangsa ini, Pak JK salah satu tokoh yang memiliki kredibilitas baik,” tutupnya.

Hati HMS

Dilema Gerakan Mahasiswa

Merenungkan perkembangan gerakan di Nusantara, pola perilaku aktivis, desain visi misi dan skill, ada beberapa catatan penting yang bisa dilihat; aktivis gagal membangun karakter. Gagal merumuskan visi misi, mengkonsolidasi gerakan, dan mundur cara berfikirnya.

Corak berfikir aktivis masih corak berfikir 1998, padahal telah terjadi perubahan besar-besaran saat ini. Aktivis juga gagal membangun kepemimpinan yang sehat, dan gagal mengcounter kuasa hegemoni yang menerpanya.

Kekuatan karakter amat menentukan sukses tidaknya rekayasa gerakan bersama. Karakter pergerakan dari periode ke periode sejak berdirinya Sarekat Islam, Boedi Oetomo, revolusi 1945, penggulingan Soekarno tahun 1966 dan reformasi 1998 semua memperlihatkan kekuatan karakter pergerakan aktivis. Namun saat ini karakter itu nyaris tidak dimiliki mahasiswa sehingga mengakibatkan pusaran pergerakan mahasiswa tidak memiliki efek besar bahkan buruh dan FPI bisa lebih baik dari gerakan mahasiswa.

Aktivis mahasiswa saat ini sebagian besar masuk ke dalam pusaran kuasa dan kepentingan politik, menandakan lemahnya karakter karena terwarnai oleh kekuatan sosial lain, sementara dirinya sebagai kekuatan utama gagal membentuk warna.

Justru pergerakan mahasiswa lebih banyak terlihat dengan pola sama, pola anarkis, kritis tapi tidak konstruktif. Hal itu terlihat dengan aksi di Bima 2012, aksi Makassar 2010-2012, aksi Pekanbaru dan Palu semuanya memperlihatkan model pergerakan yang sama, model anarkis namun miskin gagasan progresif. Walaupun ada yang konstruktif namun seakan tidak muncul ke permukaan selain pola konflik dan kritis yang lebih dominan anarkismenya.

Pola seperti ini sama seperti yang dialami ormas-ormas di Indonesia yang selalu mengedepankan otot dari ide konsolidatif. Kemiskinan ide ini membuat hampir seluruh pergerakan gagal menyatukan diri dalam visi bersama. Kegagagalan membangin visi bersama sungguh sangat kentara, dari berbagai varian pergerakan tidak satupun yang berhasil membangun kekuatan yang utuh untuk mengkonsolidasi ide dalam bentuk metodologi gerakan bersama.

Kegagalan membangun visi pergerakan mahasiswa banyak dipengaruhi oleh tidak adanya kapasitas, tidak adanya inisiatif, dan lemahnya konsistensi. Kapasitas mahasiswa akan menentukan kualitas ide yang disodorkan untuk mempengaruhi kesadaran massif masyarakat secara umum, pemerintah dan elemen stakeholder lainnya.

Sementara di sisi lain mahasiswa yang menyadari keadaan ini tidak memiliki inisiatif yang konsisten untuk memperbaikinya, jikapun ada yang mau namun setengah hati sehingga posisinya menjadi galau sama dengan pemerintahan yang selalu menampakkan muka galau di hadapan rakyat.

Tanpa ide dan karakter, penyatuan gerakan mahasiswa tidak mungkin terjadi, karena setiap elemen kepemudaan masing-masing memiliki konsentrasi ideologi dan warna gerakan yang dianut. Akibatnya konsolidasi jadi mentah.

Kerapuhan Internal

Saat ini telah terjadi romantisme historis di antara mahasiswa, sebagaian mahasiswa masih terjebak dalam rona pesona masa lalu namun gagal melihat hari ini dan masa depan. Terlihat dari pola fikir mahasiswa yang semrawut, terlalu umum dan sukar mengukurnya. Padahal untuk bicara yang umum-umum itu, everybody knows, siapapun tahu, padahal the devil is on the detil. Kekuatannya itu ada pada penguasaan hal yang mendetil.

Pergulatan aktivis masih sebatas epistemologi politik, epistemologi gerakan, dan terlalu banyak menguasai konsep namun tidak satupun yang berhasil dijiwai dalam spesifikasi keilmuan. Padahal kita ketahui arah baru zaman ini adalah profesionalitas dan enterpreneurship.

Bagaimana bisa nyambung jika mahasiswa masih berfikir terlalu dominan politik tanpa kapasitas spesifik, sama seperti era 1998. Bedanya hanya konteks namun kontennya serupa. Hari ini, berfikiran politik memang baik namun akan kerepotan sebab orang-orang yang akan mengisi ruang publik hari ini ke depan sampai tahun 2015 adalah kaum profesional dan enterpreneur. Kalau mahasiswa 1998 berfikiran umum dan politik maka itu masih kontekstual pada zamannya karena dengan mudah akan masuk dewan, karena pengusaha akan mem-back up-nya, namun saat ini para pengusaha dan profesional justru mau tampil di depan.

Lihatlah siapa-siapa yang meguasa partai politik, Ical ketua Golkar pengusaha, Hatta Rajasa ketua PAN pengusaha, Nasdem ada Surya Paloh dan group pengusaha MNC. Partai Gerindra ada adiknya Prabowo termasuk Prabowo semuanya menggambarkan pengusaha. Memang ada yang aktivis jadi ketua Partai yakni PKB Muhaemin Iskandar dan Demokrat Anas Urbaningrum namun justru partai yang dipimpinnya seakan mulai rontok dan berantakan. Ini merupakan isyarat zaman, tanda yang harus dijiwai, dimaknai agar mampu menangkap perubahan yang terjadi di negeri ini sebagai sebuah takdir sejarah.

Pada aspek lain, mahasiswa atau aktivis gagal membangun kepemimpinan yang sehat, terlihat saat ada demonstrasi 2012 untuk merespon kebijakan kenaikan BBM namun sebagian besar mahasiswa lewat KNPI diisukan ke China, kemudian mahasiswa secara internal terjadi konflik yang gagal diterapi secara bijak sehingga membuat lembaga koropos dengan sendirinya.

Bagaimana mungkin bisa mengkonsolidasi jika di internal saja karut marut. Apa yang dijelaskan Abraham Maslow bahwa kebutuhan manusia betingkat-tingkat, mulai kebutuhan pangan, sandang, papan, kebutuhan rasa aman, sampai kebutuhan akan rasa cinta, pengabdian dan kehormatan memberikan kita gambaran tahapan penting bahwa kebutuhan dasar jika gagal diraih maka tidak mungkin bisa melompat pada kebutuhan selanjutnya.

Tidak mungkin seorang yang kelaparan akan berbicara keamanan sebelum dia memperoleh makanan karena itu adalah hukum kebetuhan. Sama halnya aktivis mana mungkin membangun gerakan jika di internalnya gagal merekayasa sistem yang sehat untuk kemajuan bersama dan kesolidan gerakan.

Efeknya justru aktivis menjadi bulan-bulanan dan sandera kepentingan elit. Seperti saat ini, momen-momen strategis lembaga justru tidak berkualitas tanpa adanya kuasa elit berjalan di dalamnya. Momentum kongres sebaga sarana menyalurkan ide progresif justru ternodai kepentingan elit, sehingga pikiran-pikiran positif perubahan tidak lagi menjadi penjiwaan menyapa momentum strategis lembaga selain barter kuasa dominan elit.

Tersanderanya gerakan mungkin masih bisa diatasi namun jika semua momentum besar sudah kosong ide perubahan, sudah terkontaminasi maka mana mungkin gerakan mahasiswa akan memiliki harapan untuk menciptakan perubahan bangsa ke arah positif. Inilah titik nadir gerakan aktivis padahal harapan terbesar bangsa ini ada pada mahasiswa sebagaimana pernah disinggung oleh Pramoedya Ananta Toer “Hanya mahasiswa harapan perubahan karena posisinya tidak berada dalam gelongan elit.” Itulah yang penulis bisa tangkapn ungkapan Pram dalam sebuah wawancaranya.

Harapan

Meski demikian, tetap ada harapan dengan mendorong beberapa hal penting, membenahi internalnya. Jangan sampai gagal memetakan dan merumuskan visi kelembagaan secara internal karena akan mudah dimasuki kelompok kepentingan.

Kemudian, membangun visi yang cemerlang disertai metodologi pergerakan yang terukur. Visi yang baik akan bisa menyolidkan kembali mahasiswa, harapan penyatuan akan bisa dilakoni kembali.

Kebutuhan akan penataan pengetahuan ke arah spesifik dan profesional sangat penting dilakukan agar wacana mahasiswa tidak terjebat dalam rumusan epistemologi semata, yang akan menyebabkan masturbasi pemikiran. Gagasan yang umum akan sulit diaktualkan sehingga perlu adanya kesadaran individu dan kolektif untuk membangun profesionalitas agar ide-ide mahasiswa bisa semakin konstruktif tidak sekedar kritis saja.

Jika ini berhasil dilakukan maka selanjutnya perlu membangun forum bersama untuk menciptakan konsolidasi gerakan yang massif. Forum akan berfungsi menyatukan ide, gerakan dan membuat pergerakan terukur dan tidak buang-buang energi. Gerakan sendiri-sendiri oleh mahasiswa selama ini telah membuang banyak energi tanpa hasil maksimal sehingga adanya forum akan bisa mengatasi kelemahan tersebut.

Bahtiar Ali Rambangeng

Tragedi Rohingya

Bagai disambar Petir
tiba-tiba Langit memerah
menyelami makna insaniyah,
insan kolektif dalam aliran merah pekat, memilukan hati

Ternyata, warna kabut memerah itu!
warna darah dan tetesan pilu, perih muslim Rohingya
yang dibantai bagai makanan
penghangat nafsu angkara murka Syaetaniyah

Inilah pembantaian, penistaan manusia
karena warna, aliran, ras
membuatakan manusia akan hakikatnya yang satu

tangis pedih, ratapan Rohingya
tiada berbekas pada jiwa hitam berkabut
bahkan suara PPB seakan lenyap
dalam getirnya petir pembantaian kemanusiaan

Katanya pro kemanusiaan
katanya pro keadilan
katanya pro kebebasan

Sungguh tragis
sungguh mengerikan
yang menyorot konten aktual
tragedi Rohingya

Rohingya, manusia legal kehadirannya
namun kuasa merapampas semua legalitas adanya
ma’lum begitulah kuasa
jika egosentrisme, kuasa negatif jadi penafsirannya

ini harus dihentikan
ini harus diadili
agar rasa kemanusiaan terobati
karena manusia tanpa rasa kemanusiaan sebenarnya
tidak memiliki keberadaan
alias tidak ada selain jasadnya saja

Jakarta, Sabtu 28 Juli 2012
Bahtiar Ali Rambangeng

Tamsil Bantah Terima Suap DPID

HMINEWS.Com – Wakil Ketua Badan Anggaran DPR, Tamsil Linrung membantah tudingan bahwa dirinya menerima suap Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah (DPID). Ia juga mengaku tidak kenal secara langsung Fahd Arafiq, tersangka penyuapan.

“Saya tidak kenal Fahd Arafiq. Ia itu siapa, saya tidak tahu. Kalau La Ode menyebut kalau ia mengenal saya, saya bisa katakan saya kenal karena sama-sama dari HMI,” kata Tamsil Linrung usai acara buka puasa bersama di PB HMI, Jalan Kenanga, Tanjung Barat, Jagakarsa Jakarta Selatan, Jumat (27/7/2012).

Tamsil hanya mengatakan mungkin orang tersebut (Fahd)  pernah menelepon dirinya, akan tetapi ia tegaskan tidak mengenal Fahd.

Sebagaimana diberitakan, Fahd El Fouz yang merupakan putra dari pedangdut A Rafiq merupakan Ketua Bidang Pemuda dan Olahraga DPP Ormas MKGR. Dia menjadi tersangka suap DPID dan telah ditahan KPK. Sebelumnya ia menyebut Mirwan Amir dan Tamsil sebagai penerima suap tersebut.

Hati HMS

Tamsil Linrung Hadiri Buka Puasa PB HMI

HMINEWS.Com – Buka puasa yang diselenggarakan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI- MPO) dihadiri sejumlah mantan Ketua Umum. Mulai dari Tamsil Linrung, Safinuddin Al Mandari dan Syahrul Effendi Dasopang. Acara digelar di Sekretariat PB HMI MPO di Tanjung Barat, Jagakarsa Jakarta Selatan, Jum’at (27/7/2012).

Menurut Ketua Umum PB HMI MPO, Alto Makmuralto, pertemuan dengan para alumni akan terus dilakukan, dalam acara buka puasa maupun dalam kesempatan lainnya. Selain sebagai wahana silaturahim, juga untuk menimba pengalaman.

Selain Alto, pengurus PB yang hadir di antaranya Sekjen Herman Haerudin, Ketua Komisi PAO&K, Muhammad Akbar dan Bendahara Umum Habibi Mahabbah,  alumni serta kader HMI Cabang Jakarta Selatan.

Pertemuan yang berlangsung dua jam tersebut dimulai setelah shalat isya, usai Tamsil Linrung rapt di DPP Partai Keadilan Sejahtera yang berlokasi tidak begitu jauh dari sekretariat PB HMI. Acara diisi dengan ramah tamah, diskusi dan makan malam.

Hati HMS

Lahan Sengketa Dipanen PT Raka, Warga Membakar Aset Perusahaan

HMINEWS.Com – Sengketa lahan antar warga dengan korporasi terus terjadi. Di Desa Danau Lancang, Kabupaten Kampar-Riau, warga desa membakar perumahan karyawan PT Raka. Massa kesal akibat PT Raka melanggar perjanjian dengan warga, bahwa PT tidak boleh memanen kelapa sawit dari lahan yang masih dipersengketakan.

Pembakaran terjadi pada Sabtu (28/7/2012) malam dan tidak kurang dari 30 kamp perumahan yang dibakar. Sementara puluhan preman bayaran yang menjaga perkebunan melarikan diri. Begitu juga dengan karyawan perkebunan di kamp 2, harus meninggalkan lokasi setelah menyelamatkan sedikit barang yang bisa dibawa.

Massa yang berjumlah sekitar 500 warga desa tersebut marah tidak hanya membakar perumahan, namun juga membakar sebuah escavator dan satu unit mobil milik perusahaan.

Masyarakat mengklaim lahan seluas 3.000 hektar tersebut sebagai milik mereka, yang pada tahun 2006 diserobot oleh pihak perusahaan seluas 1.400 hektar. Warga bertekad mempertahankan lahan mereka dari serobotan perusahaan. (OZ)

Masjid Agung Karawang Lebih Tua Dari Masjid Demak

Waktu menunjukkan pukul 12.000 WIB saat suara bedug bergema dari Masjid Agung Karawang. Pada saat yang bersamaan di pusat kota, tepatnya di alun-alun, suasana sangat ramai, kendaraan begitu padat dan pasar-pasar penuh orang berbelanja.

Usai suara bedug yang bertalu-talu, alunan adzan berkumandang. Terdengar begitu merdu hingga meluluhkan hati untuk mengingat dan mendekat kepada Allah Yang Maha Kuasa. Umat Islam kemudian berbondong-bondong ke Masjid Agung Karawang untuk menunaikan shalat zhuhur berjama’ah.

Teduh dan sejuknya suasana lingkungan masjid membuat jama’ah betah berlama-lama. Maka tak heran, usai shalat mereka tidak langsung berbegas ke tempat aktivitas masing-masing, akan tetapi bertahan di masjid tersebut.

Sejarah Masjid Agung Karawang

Seorang pengurus Masjid Agung Karawang, Abah Dodi Permana (59) sudah 8 tahun menjadi Mesjid Agung ini. Ia menceritakan tentang sejarah Mesjid yang tertua ini dari awal mulanya Mesjid Agung ini terbentuk.

Pada mulanya adanya Mesjid Agung ini olah Syeh Hasanudin putra Syeh Yusuf Sidik, ulama besar dari Campa mendarat di Cirebon. Diterima oleh Syahbandar Pelabuhan Muara Jati Cirebon, Ki Gendeng Tapa, untuk menyebarkan agama Islam. Karena tidak disukai oleh Raja Pajajaran Prabu Angga Larang, maka Syeh Hasanudin kembali ke Malaka.

Nyi Subang Larang, putri Ki Gendeng Tapa menyusuri Sungai Citarum, mendarat di Pelabuhan Karawang Bunut Kertayasa (Kampung Bunut sekarang). Atas izin penguasa setempat, maka didirikan bangunan tempat tinggal dan tempat untuk mengaji ,yang kemudian dikenal dengan nama pesantren Quro (Mesjid Agung sekarang) pada tahun 1418 M.

Prabu Angga Larang tetap tidak mengizinkan Syeh Hasanudin yang sudah dikenal dengan nama Syeh Quro. Maka diutusnya putra mahkota Prabu Pamanah Rasa untuk menutup Pesantren Quro. Setelah sampai di pesantren tersebut, Raden Pamanah Rasa tertarik oleh alunan ayat suci Al Quran yang dibacakan oleh Nyi Subang Larang. Niat untuk menutup Pesantren Quro diurungkan, kemudian Prabu Pamanah Rasa melamar Nyi Subang Larang.

Lamaran di Terima dengan Syarat, mas kawin harus Bintang sSaketi (Bintang kerti) simbol tasbeh, yang berarti Prabu Pamanah harus masuk Islam. Syarat yang kedua salah satu keturunan anak yang dilahirkan harus menjadi Raja Pajajaran. Kedua syarat diterima dan  pernikahan dilaksanakan di Pesantren Syeh Quro (Mesjid Agung sekarang) dengan Syeh Quro sebagai penghulunya.

Pada waktu itu Nyi Subang Larang usianya 14 tahun. Setelah menjadi Raja Pajajaran, Pamanah Rasa bergelar Prabu Siliwangi, dari perkawinan ini dikaruniai 3 anak, yang pertama Raden Walang Sungsang, kedua Nyi Mas Rasa Santang dan yang ketiga Raden Kean Santang.

Raden Walang Sungsang Raja Pajajaran yang menguasai Cirebon bergelar Cakra Ningrat. Pada waktu Raden Walang Sungsang dan Nyi Mas Rara Santang menuntut Ilmu ke Mekah, Nyi Mas Rara Santang dipersunting Bangsawan Mekah Syeh Syarif Abdika.

Nyi Mas Rara Santang setelah menikah namanya diganti Syarifah Mudaim. Dari perkawinan tersebut dikauniai 2 orang anak, yaitu Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Pada tahun 1475 Syarifah Mudaim dan Putranya Syarif Hidayatullah kembali ke Pulau Jawa (Cirebon). Karena Pangeran Cakra Buana telah sepuh Pemerintahan diserahkan kepada Syarif Hidayatullah dengan Gelar Sunan Gunung Jati.

Mesjid Agung Karawang didirikan sekitar tahun 1418 Masehi oleh Syeh Quro, Mesjid Agung Cirebon di dirikan sekitar tahun 1475 Masehi oleh Sunan Gunung Jati sedangkan mesjid Agung Demak di dirikan sekitar 1479 Masehi oleh Walisongo. Dari ketiga Mesjid tersebut mempunyai 3 ciri: bentuk bangunan Joglo bertiang utama (soko guru) Empat, bentuk atap Limas bersusun Tiga melambangkan Iman, Islam dan Ihsan.

Begitulah tuanya usia Mesjid Agung Karawang yang selalu ramai dengan jama’ah, terutama saat bulan Ramadhan. Berbagai kegiatan di antaranya Pesantren Ramadhan untuk pelajar, buka puasa, tarawih dan tadarus Al Qur’an setiap malamnya.

Rosman
HMI Cabang Karawang

Priyo: Protap Baru Polri Jangan Hanya Pajangan

HMINEWS.Com – Kapolri didesak harus bisa melaksanakan protap penangangan anarki yang baru yang lebih persuasif. Selain itu juga harus melakukan sosialisasi ke semua Kapolda hingga Kapolres ke seluruh Indonesia agar protap baru benar-benar dipahami anggotanya.

Demikian disampaikan Wakil Ketua DPR, Priyo Budi Santoso usai buka puasa bersama di DPP Golkar, Slipi Jakarta Barat, Sabtu (28/7/2012).

“Protap yang baru jauh lebih persuasif, lebih memberikan tempat kepada nilai-nilai kemanusiaan. Mendesak Kapolri agar protap riilnya dilaksanakan, itu saja,” kata Priyo kepada wartawan.

Dengan penerapan protap yang baru tersebut, Priyo berharap tidak ada lagi jatuh korban akibat tindakan brutal aparat kepolisian terhadap warga.

Sebagaimana diberitakan, aparat kepolisian bentrok dengan warga Desa Limbangan Jaya, Ogan Komering Ilir-Sumatera Selatan beberapa hari lalu menewaskan seorang remaja berusia 12 tahun. Bentrok terjadi saat polisi menurunkan ratusan aparat untuk olah TKP terjadinya pencurian 127 ton pupuk milik PTPN.

Priyo mengatakan sangat menyesalkan kejadian tersebut dan minta harus diinvestigasi. “Sebagai pimpinan DPR saya sangat sedih dan menyesalkan itu terjadi. Mengapa harus ada peluru tajam. Harus ada investigasi,” ujarnya.

Fathur