Ilham-Aziz Galang Dukungan Tokoh Nasional di Jakarta

Ilham & Aziz

HMINEWS.Com – Pasangan Cagub-Cawagub Sulawesi Selatan, Ilham Arief Sirajudin dan Aziz Qahhar Mudzakkar (IA) semakin optimis akan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat Sulsel pada pemilihan gubernur Januari 2013 mendatang.

Selain sudah menerima dukungan dari 20 partai politik di Sulsel, IA juga menggalang dukungan dan restu dari sejumlah tokoh nasional dan tokoh masyarakat Sulsel di Jakarta dan sekitarnya.

Terbaru, acara “Halal Bi Halal Tokoh Nasional dan Masyarakat Sulsel se-Jakarta bersama Ilham-Aziz ” di Grand Ballroom Hotel Sultan, Jakarta (Kamis, 20/9/2012), sejumlah tokoh nasional tampak hadir.

Terlihat di antaranya Anas Urbaningrum, Syarif Hasan, Anis Matta, AM. Fatwa, Andi Nurpati, Effendi Ghazali, Nurhayati Ali Assegaf, Laode Ida, dan banyak lagi para pengusaha, akademisi, politisi yang asli dari Sulsel.

“Kami memang sengaja bersilaturahmi dengan para tokoh Nasional dan orang Sulawesi di Jakarta, sekaligus mohon doa restu bahwa di Sulsel sebentar lagi ada pesta demokrasi. Kami juga berharap tokoh-tokoh ini dapat menjadi inspirasi dan memberikan dukungan untuk Sulsel yang lebih baik,” jelas Ilham.

Yang menarik dari acara yang dimeriahkan aksi artis Ello ini, IA bersama tim suksesnya berhasil meyakinkan para tamu undangan untuk berkontribusi secara finansial bagi pemenangannya.

Menurut Harun al Rasyid, Direktur Fundraising Tim Pemenangan Ilham-Aziz, kegiatan penggalangan dana ini merupakan terobosan politik untuk membangun kebersamaan dan kepercayaan untuk perubahan Sulsel.

“Ini juga wujud dari transparansi dan akuntabilitas fundraising publik secara elegan sehingga dana-dana publik dapat digunakan secara bertanggung jawab dan sesuai undang-undang,” papar Harun.

Harun menjelaskan, kegiatan fundraising publik ini juga akan diperluas sampai ke level grassroot. “Kenapa? Dengan begitu, rakyat akan merasa dilibatkan dan merasa memiliki kandidat Ilham-Aziz yang diharapkan mampu menciptakan perubahan Sulsel yang lebih baik,” tambahnya.

Pasangan Cagub-Cawagub IA telah dideklarasikan di Makassar, 7 September lalu, dan telah didaftarkan di KPUD seminggu kemudian. Saat ini Ilham dikenal sebagai Walikota Makassar yang sukses, sedang Aziz dikenal sebagai anggota DPD-RI yang sangat gigih menyuarakan aspirasi daerahnya, mengusung jargon ‘Semangat Baru Peduli Rakyat.’

Sigit Akbar

Penderita Tumor Ganas 15 Tahun Diabaikan Pemda

HMINEWS.Com – Melihat kondisi seorang warga penderita kanker kulit stadium lanjut yang diabaikan pemerintah, mahasiswa Tanjungbalai dan Asahan tergerak. Mereka turun ke jalan menggalang dana untuk pengobatan kanker yang telah memakan sebagian wajah seorang ibu tersebut.

Adalah Jumiati (49) isti Sofyan, warga Pematang Pasir, Gang Pancing Kecamatan Teluk Nibung, Tanjung Balai. Ia telah menderita kanker (tumor ganas) selama 15 tahun dan telah berulangkali minta bantuan pemerintah daerah setempat, namun tidak mendapat tanggapan. Bahkan dalam usahanya yang terakhir, ia hanya mendapat ‘uang kasihan’ Rp100.000 (seratus ribu) dari anggota DPRD.

“Ironisnya ketika ibu tersebut meminta bantuan pemerintah Kota Tanjung Balai dan wakil rakyat sama sekali tidak ada perhatian. Pada suatu ketika ibu itu datang dalam rapat wakil rakyat Kota Tanjung Balai, beliau hanya menerima uang Rp100.000 dari semua fraksi yang sedang rapat. Ini yang membuat kami tergerak membantunya,” kata salah seorang peserta pengumpulan dana, Indra, Jum’at (21/9/2012).

Pengumpulan dana yang berlangsung sejak Senin (17/9) lalu tersebut telah uang Rp.5.400.000 dari para pengguna jalan. Aksi yang dikoordinatori oleh Andrian Sulin tersebut diikuti kader HMI dari Cabang Asahan dan Tanjung Balai dari Kampus Universitas Asahan, STMIK-AMIK Royal Kisaran, serta Politeknik Tanjung Balai.

Kini Bu Jumiati telah dibawa ke Kota Medan untuk mendapat pengobatan di Rumah Sakit H Adam Malik, Medan setelah pihak Pemda Tanjung Balai bersedia menanggung biayanya.

Dinamika HMI Bersama UII (Kampus Perjuangan tempat lahirnya HMI)

Oleh: Nur Rachmansyah*

Pada tanggal 5 Februari 1947 bertepatan dengan 14 Rabiul awal 1366 H telah di deklarasikan berdirinya sebuah organisasi mahasiswa Islam yang bernama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Lahirnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) diprakarsai oleh  sekelompok mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI) yang kini berubah menjadi Universitas Islam Indonesia (UII).

Pada saat itu HMI merupakan satu-satunya organisasi mahasiswa Islam yang independen karena HMI lahir tanpa campur tangan pihak luar manapun, dicetus oleh mahasiswa sendiri. Menurut catatan sejarah sejarah, HMI lahir di ruang kuliah  di tengah semangat kebangsaan yang tinggi. Konfigurasi politik, ekonomi, sosial, pendidikan, agama dan kebudayaan yang memang pada masa itu turut mematangkan kelahiran dan keberadaan HMI di tengah-tengah masyarakat.

Menurut Agussalim Sitompul, salah seorang alumni HMI yang selama ini aktif menulis sejarah HMI telah mencatat, faktor mendasar berdirinya HMI sekurang-kurangnya ada tiga hal Yaitu (1) Adanya kebutuhan penghayatan keagamaan di kalangan mahasiswa Islam yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi, yang selama itu belum mereka nikmati sebagaimana mestinya. Karena pada umumnya mahasiwa Islam belum memahami dan kurang mengamalkan ajaran agamanya, sebagai akibat dan kondisi pendidikan dan kondisi masyarakat kala itu; (2) Tuntutan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, yang ingin melepaskan diri, bebas sebebas-bebasnya dari belenggu penjajahan; (3) Adanya Sekolah Tinggi Islam (STI) yang kini menjadi Universitas Islam Indonesia (UII), sebagai ajang dan basis mahasiswa Islam saat itu. Apalagi secara sosiologis bangsa Indonesia mayoritas berpenduduk muslim.

STI yang kini menjadi UII turut menjadi saksi sejarah lahirnya HMI, merupakan Perguruan Tinggi yang penuh dengan dinamika sejarah perjuangan bangsa Indonesia. STI sendiri lahir pada tanggal 8 Juli 1945 bertepatan dengan 27 Rajab 1364 H juga didirikan oleh para pendiri bangsa antara lain Moh Yamin, KH. Kahar Muzakir, Mas Mansur, Moh. Hatta, M. Natsir, KH. Wahid Hasyim beserta tokoh-tokoh kemerdekaan lainnya.

Dari sejarah kelahiran dan tujuannya, HMI dan UII mempunyai Visi dan tujuan yang pada subtansinya sama. Tujuan HMI sendiri Terbinanya Mahasiswa Islam menjadi Insan Ulil albab yang turut bertanggung jawab atas terwujudnya tatanan masyarakat yang di ridoi Allah SWT. Sedangkan VISI dari UII sendiri adalah terwujudnya Universitas Islam Indonesia sebagai Rahmatan lil’alamin. Penegasan dari tujuan HMI dan Visi UII menunjukkan bila HMI dan UII sama-sama ingin menciptakan masyarakat “Baldayatun Thayibatun warabbun Ghafur”.

Menurut Awalil Rizky, salah seorang Alumni HMI, sejarah awal HMI dilatari oleh pemikiran modern. Pemikiran ini pula mewarnai ide-ide HMI selama puluhan tahun. Namun sejak pertengahan tahun 1970an dan puncaknya pada tahun 1980an. Terdapat banyak buku berisikan pandangan kelompok “Neo fundamentalis” seperti Ikhwanul Muslimin dan sebagainya. Dan juga tidak kalah penting sumber pemikiran kader HMI juga terinspirasi pada keberhasilan Revolusi Iran. Misalnya pemikiran Ali Syari’ati, Murtadha Mutahari, Imam Khomeini yang berkontribusi terhadap kebangkitan Islam di Iran. Pemikiran-pemikiran tersebutlah yang menjadi dasar dan motivasi pemikiran kader HMI di UII.

Di UII, para kader HMI banyak berperan dalam dinamika kampus baik dari segi keagamaan maupun dari segi lembaga intra. Bahkan dalam sejarah dunia kelembagaan UII HMI pernah menjadi salah satu organisasi intra kampus selain Senat Mahasiswa (SM). Hal itu tidak lain karena pengaruh Lafran Pane, yang saat itu juga menjabat sebagai ketua III Senat STI. Sampai perkembangannya saat ini HMI juga telah mempunyai banyak peran dan pengaruh dalam pengembangan lembaga intra  kampus di UII baik di Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), maupun lembaga-lembaga lainnya yang telah masuk dalam struktur Keluarga Mahasiswa (KM) UII.

Kini juga telah banyak Alumni HMI serta UII yang menjadi tokoh bangsa, antara lain, Mahfud MD (Ketua MK), Artidjo Alkostar (Hakim Agung), Salman Luthan (Hakim Agung), Suparman Marzuki (Komisioner KY), Mahdir Ismail (Advokat), Rusli Muhammad (Dekan FH UII). Tentunya keberhasilan para Alumni HMI dan UII menjadi para tokoh bangsa bukan merupakan sesuatu yang instan, tetapi melalui suatu proses yang sangat panjang dan penuh dengan dinamika perjuangan, baik pada saat mereka menjadi mahasiswa maupun pada saat paska mahasiswa.

Diakui, mahasiswa yang mengenyam pendidikan di UII merupakan mahasiswa yang memiliki kecerdasan dan kemampuan akademis yang relatif tinggi. Karena itu, tradisi UII yang banyak melahirkan tokoh, dipastikan akan terus berlanjut karena sejak masih mengenyam pendidikan, banyak mahasiswa yang sudah menorehkan prestasi baik di bidang akademik maupun non akademik. Dengan  demikian mahasiswa UII sangat besar potensinya untuk menjadi agen perubahan bangsa. Namun potensi itu tidak akan berbuah apa-apa bila tidak di munculkan. Oleh sebab itu, berbagai macam kegiatan yang sifatnya meningkatkan potensi kedirian maupun keorganisasian harus diikuti mahasiswa agar memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan bagi diri sendiri, lingkungan, bangsa dan negara ke arah yang lebih baik.

HMI sebagai pergerakan mahasiswa yang senantiasa kritis dan melakukan perlawanan terhadap pihak-pihak yang bermaksud memunculkan ketidakadilan dalam kehidupan kampus, masyarakat, dan berbangsa dan bernegara. Tentunya yang ingin dituju adalah terciptanya masyarakat yang islami dan dilandasi peradaban tauhid. Sebagaimana tujuan HMI serta Visi UII yaitu tercapainya masyarakat “Baldayatun Thayibatun warabbun Ghafur” maka dibutuhkan sumber daya manusia yang berjuang untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Karena itu, Perkaderan dan Perjuangan dalam HMI merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Diperlukan kader-kader yang progresif yang bisa menjadi agen perubahan dan mampu memberikan kontribusi besar terhadap kontruksi Indonesia baru yang lebih adil. Dalam hal ini cara berpikir kritis dan sikap independensi yang selalu berpihak terhadap kebenaran menjadi elemen vital yang harus dimiliki oleh kader HMI.

*Kader HMI Komisariat Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Ketua Umum HMI Komisariat Fakultas Hukum Universtas Islam Indonesia.

HMI Dan Manusianya

Tidak Ada Manusia Suci di HMI

Ini bukan hanya masalah kekuasaan yang harus diraih, diambil alih. Ini juga bukan hanya masalah kecerdasan intelektual yang selama ini menjadi kebangaan dan diagung-agungkan. Bahkan, ini pun bukan hanya masalah siapa yang telah menjadi apa dan akan memberi apa untuk kita. Ini adalah masalah perkaderan untuk membentuk manusia-manusia pejuang keadilan. Ini adalah masalah masa depan umat dan bangsa. Bukan siapa bisa dan berani bicara selantang dan sekritis apa!

HMI adalah organisasi perkaderan, yang bertugas membentuk manusia-manusia unggul, berakhlak mulia dan bertanggung jawab atas masalah umat dan bangsa. Organisasi yang merangsang lahir dan tumbuhnya manusia-manusia visioner, militan, pejuang-intelektual, bertanggung jawab dan tidak hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya. Perkaderan yang dimaknai sebagai upaya untuk membentuk tulang punggung umat, bangsa dan negara, mutlak tugas HMI. Itu sudah tidak bisa ditawar dan diganggu gugat.

HMI adalah organisasi perjuangan. Perjuangannya bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk seluruh umat manusia di muka bumi. Sebagai pejuang, dalam setiap gerak langkah dan nafas kehidupannya, bahkan keberadaannya sendiri akan terlupakan. Karena yang ada hanyalah bagaimana orang kelaparan bisa makan, bagaimana gelandangan bisa memiliki tempat berteduh, bagaimana rakyat tak bertanah kembali memiliki tanahnya, bagaimana pemimpin yang dholim wajib diperangi, bagaimana kekuasaan adalah sarana dan bukan tujuan, bagaimana orang yang tidak sekolah bisa sekolah (bahkan gratis), bagaimana pedagang kecil dan penjual bubur di pasar bisa menang melawan mall-mall dan toko-toko besar makanan cepat saji (KFC, CFC, McDonald, dll) dan bagaimana antara sesama rakyat miskin tidak lagi saling bertengkar berebut tulang belulang sisa-sisa kapitalisme.

Tidak ada manusia suci di HMI. Karena HMI memang bukan sekte, aliran keagamaan, bahkan agama itu sendiri. HMI itu bergerak, berkembang dan selalu mengalami perubahan. Begitu juga manusia-manusia di dalamnya. Entah itu anggota baru, kader (bahkan yang dianggap sangat luar biasa), sampai para alumninya. Setiap kalimat yang keluar dari bibir seksi setiap kader HMI tidak sama dengan sabda para nabi. Setiap kalimat yang keluar dari “lisan-tutuk” alumni HMI bukanlah firman sebagaimana Tuhan memberi arahan kepada segenap makhluk-Nya.

Di HMI, jamak, dan sering terjadi, apa yang salah jadi benar (hanya karena suara mayoritas), dan yang benar jadi salah (karena kalah, salah ucap, keliru strategi, bahkan karena fitnah). HMI bukan agama, manusia di dalamnya pun tidaklah suci. HMI dan manusia-manusia di dalamnya tetap tidak bisa luput dari keliru. Maka ia, mereka, harus tetap dikritik, diberi arahan. Dan diluruskan. Oleh siapa saja, yang berkepentingan terhadap kemajuan dan keadilan peradaban. HMI dan manusianya, harusnya senang dan bersyukur jika dikritik. Bukan malah menghindar dan menyalahkan kritik. Selama kritik itu bernalar dan benar.

Kader HMI, juga alumni HMI, ada yang baik dan ada yang tidak baik. Ada yang benar dan banyak yang keblinger. Tapi tanpa mereka, HMI akan kecil, karena tidak ada yang menjaga dan mengawalnya. Jika harus dijaga dan dikawal, bahkan diurus oleh manusia-manusia keblinger, HMI akan lebih keblinger. Namun demikian, keyakinan bahwa masih ada manusia baik di HMI, harus menjadi semangat dan kekuatan untuk melahirkan, memperbaiki dan mengembangkan kembali HMI. Yang baik di HMI pun tidak suci, tidak bisa terlepas dari luput, keliru, iri, dengki dan sikap nakal. Maka, otokritik itu perlu. Di HMI, harus tetap ada saling kritik, saling meluruskan dan saling membangun-membesarkan. Bukan saling menyalahkan bahkan menjatuhkan.

Tidak perlu takut kepada senior. Tidak perlu sungkan dan kaku di hadapan alumni. Hormat bukan berarti tunduk “rubuh-rubuh gedhang”)1, apalagi menjilat. Ukuran kebenaran itu bukan pada manusia, tapi pada nurani manusia. Untuk mengukurnya, kita bisa lihat kesesuaian antara ucapan dan tindakannya. Bukan karena dia pejabat, bukan karena dia pemimpin partai, atau bahkan, karena kita berhutang budi kepadanya. HMI dan KAHMI itu sejajar, sederajat, dan tidak timpang dalam hal hak dan kewajiban sebagai makhluk Tuhan (sebagai abdi sekaligus khalifah).

HMI harus mampu berdiri sendiri, boleh bergantung tapi jangan bergantung. Boleh hormat tapi jangan kultus. Apanya yang mandiri? Yang mandiri itu gagasan-gagasannya, otonominya, kebebasannya, visi-visinya, misi-misinya, dan program kerja-program kerjanya.

Marak sekarang di HMI, perkaderan berubah menjadi ruang penggemblengan politik yang salah kaprah. Kerja intelektual diganti dengan kerja pesanan dari lembaga-lembaga survey, kerja diseminasi ide berubah menjadi pengadaan seminar-seminar proyek. Proyek pragmatis, sementara, cepat basi dan hanya karena uang. HMI yang begitu adalah HMI yang bobrok, pola yang begitu tidak seharusnya ada di HMI, harus secepatnya ditinggalkan dan dilupakan dari kamus kehidupan setiap diri kadernya.

Ingat! Harus selalu ada yang baru, yang terlahir dari pikiran dan tindakan dalam setiap harinya pada diri setiap kader dan alumni HMI. Hidup yang monoton adalah hidup yang tidak berkembang. Itu berarti juga kehidupan semu, atau kematian yang sesungguhnya. Itu juga berarti kufur nikmat! Monoton tidak akan pernah sampai pada kesempurnaan.

Masalah-masalah umat, dan masalah-masalah bangsa, bahkan masalah-masalah dunia internasional, adalah ladang kerja bagi HMI. Tapi jangan itu dikapitalkan! Karena HMI bukan tempat cari uang. Di HMI itu mengabdi sekaligus memimpin, bukan berdagang! Jika hendak berdagang, di pasar! HMI memang tidak harus menyelesaikan setiap masalah, tapi HMI berkewajiban memikirkan dan membantu mencarikan jalan keluar. HMI jangan menjadi beban sosial, hanya menambah masalah. HMI dilahirkan untuk solusi, bukan somasi basi.

Banyak yang harus dibenahi di HMI. Aqidahnya, paradigmanya, cara berfikirnya, sampai keberpihakannya. Semua harus kembali diluruskan. Dulu ada manusia-manusia seperti Ahmad Wahib, Djohan Effendi, Dawam Rahadjo, Nurcholis Madjid, Solichin, Tawang Alun, dan masih banyak lagi dari mereka-mereka yang secara intelektual, moral dan kinerja memang top markotop. Tapi mereka tetap bukan orang suci. Setidaknya, mereka telah berbuat banyak, memberikan sebagiah hak dan jatah hidup mereka untuk HMI, untuk umat dan bangsa.

HMI sekarang tidak harus seperti mereka, sebab tidak mungkin menjadi mereka. Mereka adalah mereka, masa lalu HMI adalah masa lalu. HMI sekarang punya masa depan. Yang harus diisi dengan visi dan mimpi yang akan membayar janji kemerdekaan yang masih belum terlunasi.

Apa itu kapitalisme, bagaimana cara kerjanya, apa dampak-dampaknya dan bagaimana bertarung dengannya pun, masih sedikit kader HMI yang mengetahuinya (memahaminya). Sementara itu adalah dominan dan berkuasa, bagaimana kehidupan dan masa depan peradaban akan didapatkan.

Hari ini kita sedang bertarung, bertarung melawan kapitalisme dan segala unsur-unsur pembentuk dan pendukungnya. HMI harus bisa dan berani bertarung. Dan harus memenangkan pertarungan untuk merebut masa depan. Apa itu masa depan? Masa depan itu tidak lain adalah keadilan.

Memang mudah jika hanya bicara. Semua orang, tanpa harus masuk HMI sudah pasti akan bisa berbicara keadilan. Konsisten dan jujur dalam ucapan dan tindakan, itu yang sulit. Maka HMI harus membiasakan itu. Kritik yang ngawur harus diganti dengan pandangan yang menggunakan pendekatan, perspektif sekaligus keberpihakan. Hidup itu harus memilih, HMI juga harus memilih, menjadi pemenang atau pecundang?!

Perkaderan jangan lagi dijungkirbalikkan. Perjuangan jangan lagi disalahjalurkan. Perkaderan ya perkaderan. Perjuangan ya perjuangan. Kata kuncinya adalah keadilan.

Sekali lagi, ini masalah perkaderan, masalah perjuangan, masalah keadilan yang harus diwujudkan. Titik!

Kotagede, 15 September 2012.
Wahyu Minarno

1) Rubuh-rubuh gedhang, istilah Jawa ‘rubuh pohon pisang’, terjemah bebasnya ikut-ikutan atau karena terbawa arus.

Abraham: Jika Dikebiri, Lebih Baik Bubarkan KPK

HMINEWS.Com – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad mengatakan lebih baik KPK dibubarkan jika kewenangan lembaga dalam penyadapan dan penuntutan ditiadakan.

“Jika soal penuntutan dan penyadapan sampai dipreteli, maka mending KPK sekalian dibubarkan saja,” kata Abraham Samad di Gedung DPR, Rabu (19/9/2012).

Penyataan tersebut menyusul wacana perubahan UU KPK yang tengah dibahas di Badan Legislasi DPR tentang kewenangan penuntutan dan penyadapan. Jika dua kewenangan tersebut benar-benar dihilangkan dari KPK, maka KPK tidak lagi bergigi dalam memberantas korupsi.

Dalam draf usulan, Komisi III meminta KPK untuk meminta izin Ketua Pengadilan Negeri (PN) sebelum menyadap seseorang dan birokrasi perizinan yang diusulkan cukup panjang, dan hak penuntutan diusulkan tidak lagi ada di KPK.

Selain kedua kewenangan itu, draf usulan itu juga memuat kemungkinan SP3 kasus korupsi dan pembentukan lembaga pengawas KPK. []

Rangkaian Acara HUT KAHMI Ke-46

HMINEWS.Com – Hari ulang tahun Korps Alumni HMI (KAHMI) diisi rangkaian kegiatan, mulai dari konferensi pers, jalan santai dan puncaknya resepsi yang diadakan di Hotel Bidakara.

Gerak jalan berlangsung pada Ahad pagi (16/9/2012) yang diikuti alumni maupun kader aktif Himpunan Mahasiswa Islam. Start dari Bundaran HI menuju Monas.

Keesokan harinya, Senin (17/9) malam, resepsi dihadiri sejumlah tokoh alumni HMI seperti Akbar Tanjung, Yusril Ihza Mahendra, Anas Urbaningrum, serta kader dan alumni cabang seluruh Indonesia, baik HMI (Dipo) maupun HMI MPO.

Acara dibuka oleh ketua panitia, Muzakkir Jabir sekaligus menyampaikan sambutannya. Dilanjut dengan pidato politik oleh Tamsil Linrung, sedangkan orasi kebangsaan oleh Anies Baswedan dan tausiyah dibawakan Akbar Tanjung.

Tidak hanya itu, ribuan hadirin dibuat terpukau oleh puisi yang dibawakan Suparman Parikesit, yang mengaku terinspirasi banyak tokoh seniornya di HMI seperti Nurcholis Majid, Akbar, Kuntowijoyo dan lainnya.

Kepengurusan Pimpinan Kolektif Majelis Nasional KAHMI periode ini akan segera berakhir. KAHMI merencanakan akan menggelar Munas akhir tahun ini dan telah menyepakati Pekanbaru sebagai tuan rumah penyelenggara Munas tersebut.

Anies: Konstelasi Berubah, Politik Umat Harus Berbenah

HMINEWS.Com – Dunia politik Indonesia dalam masa transisi. Bila sebelumnya ketakutan (fear) dijadikan pilar kekuatan otoriter, sekarang yang menjadi pilar adalah kepercayaan (trust). Menyikapi hal itu, maka politik umat Islam harus pula berubah.

“Dan saya melihat politik umat Islam harus mengalami pergeseran, dari politik yang amat sarat dengan identitas – di mana komponen representasi menjadi amat penting- bergeser menjadi politik meritokrasi,” ujar Anies Baswedan pada orasi Kebangsaa HUT KAHMI di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (17/9/2012).

Sebab yang dinilai kini bukan lagi ideologinya semata, akan tetapi kualitas ide dan gagasan, termasuk kualitas pemimpinnya. Dalam politik meritokrasi yang dinilai bukan siapanya, akan tetapi dari gagasannya.

Dari itu menjadi tanggungjawab partai politik untuk menyediakan pemimpin-pemimpin yang baik untuk ditawarkan. “Tanggungjawab partai menawarkan yang terbaik, tanggungjawab pemilih memilih yang terbaik,” tegas alumni HMI Cabang Yogya tersebut.

Hal itu mengingat tidak mungkin rakyat meneliti secara detail para pemimpin yang akan mereka pilih. Parpol yang harus menggodoknya, sehingga yang ditawarkan kepada rakyat adalah yang terbaik.

Anies mengatakan masih ada pemimpin-pemimpin berkualitas saat ini, akan tetapi karena tingginya self interest  (kepentingan pribadi atau kelompoknya saja), kualitas tersebut jadi tidak terlihat.

“Biasanya di Indonesia, kompetensinya baik, integritasnya baik, intimacy-nya juga masih oke, tapi self interestnya amat besar. Efeknya, trust menurun,” lanjutnya.

Apalagi yang marak sekarang politisi hanya mengedepankan pencitraan untuk membangun reputasi, bukan membangun karakter. Padahal yang seharusnya dalah karakter yang dibangun, reputasi akan mengikuti.

Peraih penghargaan 100 tokoh berpengaruh dunia tersebut tidak memungkiri bahwa tidak mungkin menghilangkan sama sekali self interest.

“Tidak mungkin self interet nol, tapi bagimana mengelolanya sejalan dengan kepentingan bangsa,” ujarnya.

KAHMI Harus Atasi Defisit Pemimpin Berintegritas

HMINEWS.Com – KAHMI (Korps Alumni HMI) harus menyiapkan pemimpin-pemimpin Indonesia masa depan dalam menyikapi pergeseran politik di Indonesia.

“KAHMI harus memulai. KAHMI secara serius memikirkan suplai-suplai pemimpin-pemimpin yang bisa dipercaya untuk republik ini. Secara serius memberikan jalur pemimpin-pemimpin untuk Indonesia masa depan,” kata Anies Baswedan dalam Orasi Kebangsaan HUT Ke-46 KAHMI di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (17/9/2012).

Anies menandaskan berdasar survei yang telah dilakukannya, suplai pemimpin dari KAHMI merupakan yang terbanyak di Indonesia hari ini. Mereka telah tersebar di berbagai partai maupun lapangan kehidupan lain, dan itulah yang harus dimanfaakan, dikonsolidasikan untuk meraih cita-cita kemerdekaan.

Rektor Universitas Paramadina itu juga mengatakan, hari ini Indonesia defisit integritas. Pemimpin menonjol lebih karena pencitraan. Mereka tegas hanya dalam pidato, tapi tidak dalam tindakannya.

“Salah satu tantangan terbesar Indonesia saat ini adalah kita mengalami defisit integritas. Yang hari ini muncul lebih merupakan pencitraan daripada karakter yang menjadi cermin reputasi diri,” lanjutnya.

Akibatnya hampir tidak ada pemimpin yang diidolakan oleh rakyat, tidak sebagaimana dahulu para pemimpin selalu menjadi bahan cerita untuk diteladani oleh anak-anak.

16 Kader Ikuti Batra HMI Pekanbaru

HMINEWS.Com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) Cabang Pekanbaru menggelar basic training (batra atau Latihan Kader/ LK I). Kegiatan berlangsung di Aula IMPMRS (Ikatan Mahasiswa Pelajar Rengat Sekitarnya) di Jalan Guru I Arifin Ahmad, Pekanbaru-Riau, (14-16/9/2012).

Selaku penyelenggara adalah Komisariat Pisipol Universitas Islam Riau (UIR) dan dibuka secara langsung oleh Ketua Umum HMI Cabang Pekanbaru, Hafid Fahdani. Sedangkan bertindak sebagai Master of  Training (MOT) adalah Muhammad Rafi, Ketua Badko Sumatera Raya.

Hafid berharap, kader-kader baru bisa menjadi kader yang berkualitas dan militan, berani mensyiarkan kebenaran demi terwujudnya tatanan masyarakat yang diridhai Allah. Dan secara khusus terhadap kader komisariat, ia mengimbau semua komisariat di lingkungan Cabang Pekanbaru mempersiapkan kepanitiaan basic training selanjutnya, sehingga proses perkaderan terus berjalan dan berkesinambungan.

Di akhir acara, 16 peserta yang telah lulus training dibaiat oleh Muhammad Rafi dan disahkan menjadi anggota HMI (MPO) Cabang Pekanbaru.

Faishal

Karawang Menggelar HUT Ke-379

HMINEWS.com – Berbagai kegiatan diselenggarakan untuk memeriahkan hari ulangtahun Kabupaten Karawang ke-379. Diselenggarakan di Lapangan Karang Pawitan (14-16/9/2012) menampilkan kesenian tradisional khas daerah ‘Pangkal Perjuangan’ tersebut.

Seperti tari Jaipong, Topeng Banjet, Bajidor, wayang golek Sunda dan lainnya yang dipentaskan para seniman setempat. Selain itu, masih ada acara jalan santai, penampilan kreasi anak muda 33 kecamatan se-Karawang, tausiyah keagamaan, serta acara potong tumpeng oleh Bupati Karawang, Ade Swara.

Tidak hanya itu, beberapa kabupaten di sekitarnya juga diundang untuk ikut memeriahkan. Tercatat ada 35 perwakilan kabupaten yang hadir dalam perayaan tersebut. 20 kabupten dari Provinsi Jawa Barat, termasuk Karawang sendiri, dan 15 Kabupaten dari luar Jawa Barat, yang menampilkan has budaya tradisionalnya masing-masing.

“Perayaan ini merupakan bentuk rasa syukur, mari kita niatkan sebagai amal ibadah kita kepada Allah. Dengan berbagai aktifitas sosial dan keshalihan social,” kata Bupati.

Ia menegaskan, kemajuan Karawang di berbagai bidang menjadi tanggungjawab bersama, dengan tidak melupakan kewaspadaan.

“Insya Allah Karawang ke depan akan semakin membaik jika kita saling bersinergi dan berkontribusi.” Tambah Ade Swara,” lanjutnya.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Karawang sejak abad ke-7 sudah multi etnik, dan setidaknya terdapat 3 bahasa yang digunakan waktu itu: Sunda Pariangan, Sunda Pesisir dan Sunda Melayu.

“Apalagi nanti ada bandara dan pelabuhan, mungkin akan terkumpul berbagai bahasa dan budaya di Karawang,” ungkapnya.

Tausiyah keagamaan disampaikan oleh H. Muhammad Nurdin, M.Pd.I yang mengulas 5 musuh manusia, berupa: kebodohan, kemiskinan, perpecahan, komunisme dan keterbelakangan.

Asep Riyadi