Muslim Latin Merajut Identitas Baru di Amerika

Erika L. Sánchez

HMINEWS.Com – Washington DC. Marta Khadija, warga keturunan Meksiko yang menjadi presiden LALMA, La Asociación Latino Musulmana de América (Perhimpunan Muslim Latin di Amerika), masuk Islam pada 1983. Waktu itu ia tak bahagia dengan kehidupan kerohaniannya dan ketika ia hijrah ke Amerika Serikat, teman-teman Muslimnya memberinya buku-buku Islam dan ia pun sempat mengunjungi sebuah masjid. Pengalaman ini, yang sangat menyentuh dan berbekas baginya, memberinya kedamaian.

Seorang warga Latin di Amerika lainnya, yang juga penulis, inovator dan Muslim pribumi, Mark Gonzales, banyak bergelut dengan isu identitas. Gonzales, yang seorang keturunan Meksiko dan Prancis-Kanada, dan dibesarkan sebagai orang Katolik, mulai mempelajari Islam setelah mengamalkan ajaran Kristen secara mendalam. Ia mengatakan, “Dalam proses itu, saya menyadari kalau saya tidak suka dengan ide tentang seorang penjaga pintu gembala.” Pada saat itu ia juga bekerja di bidang keadilan restoratif dengan para keluarga yang dideportasi setelah peristiwa 11 September. Ia mulai menjalin hubungan dengan orang-orang yang mengamalkan Islam dan kemudian pindah agama.

Amerika selalu dikenal lantaran keragamannya, dan dipandang sebagai negara yang terdiri atas berbagai kaum minoritas yang saling berjalin kelindan setiap saat.

Akibatnya, meningkatnya jumlah Muslim Latin di Amerika Serikat tak terhindarkan. Menurut Reuters, 2,6 juta orang mengamalkan Islam, salah satu agama yang paling cepat berkembang di Amerika Serikat, dan orang Hispanik, yang juga tumbuh pesat, kini mencapai 17 persen dari total penduduk AS. Tentu kedua populasi ini akhirnya mulai berjalin, dan apa yang mungkin tadinya terasa seperti hubungan yang tak biasa, sekarang menjadi tampak alamiah.

Ketika ditanya tentang reaksi keluarganya atas kepindahannya ke Islam, Khadija mengatakan, “Ibu saya tadinya mengira saya bergabung dengan semacam aliran sekte.” Namun, ia segera setuju setelah bicara ke pendetanya yang meyakinkannya bahwa putrinya di jalan yang benar.

Khadija mengatakan ia secara umum tidak merasa terhakimi oleh orang-orang Latin lainnya dan bahwa ia bisa hidup dengan kedua identitas tanpa kendala. Ia menduga bahwa sebagiannya adalah karena ia masih terhubung dengan akar Meksikonya dan tidak menutup rambutnya. “Saya menjaga budaya saya,” katanya. “Saya tidak mengenakan busana dari Timur Tengah.” Organisasinya, LALMA, juga membina hubungan baik dengan Gereja Katolik di Los Angeles.

Pengalaman Gonzales juga serupa. “Kerja-kerja saya utamanya adalah seputar membentuk kembali pikiran orang mengenai identitas,” katanya. Dan selaku penyair dan sarjana, ia berkeliling dunia untuk menyebarkan pesannya. Ketika ditanya tentang bagaimana rasanya mengemban identitas selaku Muslim Latin, ia mengatakan bahwa identitas hanya menjadi masalah ketika tradisi dan spiritualitasnya tidak sesuai dengan harapan orang-orang.

Tidak ada statistik yang pasti tentang jumlah orang Muslim Latin di Amerika Serikat, namun beberapa perkiraan berkisar antara seratus ribu hingga dua ratus ribu, tergantung organisasinya. Pengacara dan ustaz, Wilfredo Amr Ruiz mengatakan bahwa organisasinya, American Muslim Association of North America, telah ‘direpotkan’ oleh lonjakan besar permintaan Qur’an dalam bahasa Spanyol dalam 10 tahun terakhir. Mereka juga menerima ratusan permintaan buku-buku Islam dari penjara setiap pekannya, yang menunjukkan bahwa sebagian yang masuk Islam adalah penghuni penjara.

Orang Latin, yang tidak homogen, menemukan Islam dalam berbagai cara. Sebagian masuk Islam karena jalinan cinta. Yang lain ingin tersambung kembali dengan agama atau tertarik untuk mengkaji secara akademis. Bagi Wilfredo Amr Ruiz, keingintahuanlah yang mengantarnya ke Islam. Ia dulu merasa ingin tersambung kembali ke agama ketika melihat sebuah pusat kajian Islam didirikan di San Juan, Porto Riko dan memutuskan untuk menyelidiki lebih lanjut.

Ruiz mengatakan bahwa sebagian orang Latin awalnya menolak Islam karena citra kurang sedap yang terbentuk oleh media, namun sebagian mendapati bahwa mereka memiliki banyak nilai moral yang sama seperti umat Muslim. Ia juga menunjukkan bahwa sebagian orang Latin yang memiliki kaitan dengan Spanyol tertarik pada agama ini karena sejarah panjang Islam di Spanyol.

Orang-orang Muslim Latin seperti Gonzales, Ruiz dan Khadija tengah menciptakan sebuah identitas Amerika yang unik. “Islam adalah sebuah agama yang, pada intinya, harus relevan secara kultural dengan orang-orang yang mengamalkannya,” kata Gonzalez. “Orang-orang Latin tengah membentuk suatu Islam yang secara kultural relevan.” Selaku orang Amerika, kita perlu memberi ruang dalam pikiran kita bagi komunitas-komunitas baru ini.

*Erika L. Sánchez

Seorang penyair dan penulis lepas di Chicago. Ia sekarang menjadi kolumnis rubrik konsultasi cinta dan seks untuk Cosmopolitan for Latinas dan kontributor Huffington Post, NBC Latino, dan lainnya.

Artikel ini ditulis untuk Common Ground

LAZ Cilacap Luluskan 13 Peserta Kursus Jahit

HMINEWS.Com – Lembaga Amil Zakat (LAZ) Cilacap mengadakan program pemberdayaan masyarakat berupa Kursus Menjahit Gratis. Program tersebut dimulai pada 5 November 2012 dan meluluskan 13 peserta terampil bersertifikat yang siap bekerja.

Menurut Kadiv Pemberdayaan LAZ Cilacap, Bagus MS, program tersebut awalnya diikuti 15 peserta, namun dalam perjalanannya ada 2 orang yang mengundurkan diri. Peserta yang bertahan hingga akhir 13 orang, terdiri dari 12 perempuan dan seorang laki-laki.

Pelatihan diadakan di Rumah Pemberdayaan Yatim – Dhuafa Mandiri LAZ Cilacap, Jl Radjiman No 35 Gunung Simping, Cilacap. Dengan bekal keterampilan tersebut, peserta yang dikursuskan dengan dana zakat itu diharapkan mampu mandiri.

“Kami berharap alumnus BKM Kursus Menjahit Gratis LAZ Cilacap ini dapat mandiri, dapat mempraktekkan ilmunya, sehingga kemandirian mustahik dapat tercapai,” kata Bagus MZ, Senin (17/12/2012).

Pascapelatihan, peserta diharapkan juga membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB), sehingga dapat lebih mudah mengakses bantuan pemerintah (dinas terkait). LAZ Cilacap pun masih akan mengadvokasi mereka guna kemudahan bantuan tersebut.

Kasyono

Rakyat Papua Bisa Berikan Bagian Emas Lebih Dari yang Amerika Bisa

HMINEWS.Com – Sekjen Presidium Dewan Papua, Thaha Alhamid tidak bosan mengulang-ulang seruan agar penyelesaian masalah Papua ditempuh dengan dialog. Dengan dialog-lah, semua hal bisa dibicarakan baik-baik, termasuk jika pemerintah pusat berkeinginan mendapatkan bagian yang lebih besar dari tambang Freeport, misalnya.

“Gunung emas ada di Amungme, jangankan Indonesia, Amerika pun tidak bisa memindahkan itu gunung. Kalau mau dialog, kita bisa bagi dua itu gunung, caranya bagaimana, ya kembali kita dialogkan. Selama ini kan untuk dapat (bagian) 5 persen saja susah. Kalau mau bahkan pemerintah pusat bisa mendapatkan 30 persen. Caranya bagaimana, ya dialoglah dengan kami rakyat Papua,” ujar Thaha Alhamid dalam seminar akhir tahun, ‘Dinamika Politik dan Pembangunan Papua, Senin (17/12/2012).

Thaha menegaskan demikian karena, menurutnya, terbukti banyak yang berkepentingan di Bumi Cenderawasih tersebut. Ia mengakui interest paling utama yang membelit adalah persoalan uang. Semua demi uang, bahkan dengan mudahnya banyak kepala daerah menjual bumi Papua ke pihak manapun untuk mendapatkan uang guna tampil sebagai kepala daerah. Setelah terpilih sebagai kepala daerah mereka malah menghabiskan waktunya untuk tinggal di Jakarta, dan jika uang habis baru mereka kembali ke daerah, atau membuat ‘deal-deal’ baru lagi menggadaikan tanah air Papua.

Thaha banyak bercerita secara satire mengenai masalah Papua. Namun bagaimanapun permasalah yang mendera, sambil diusahakan penyelesaiannya, ia sangat berharap agar rakyat Papua bisa sekolah, semuanya, termasuk yang tinggal di daerah paling terpencil yang belum terjangkau karena ketiadaan sarana yang  hanya bisa dicapai dengan pesawat.

“Bagaimana caranya agar masyarakat Papua bisa sekolah, itu saja.” ucap Thaha sambil menyeka air matanya.

Upaya penyelesaian masalah secara damai dan dialog juga diserukan Mahfudz Siddiq (anggota Fraksi PKS) dan Latifah Anum Siregar (Jaringan Damai Papua/ JDP) yang menjadi pembicara seminar tersebut. Akan tetapi Mahfudz pesimis akan ada dialog, karena ia melihat, pemerintah pusat belum ada niat tersebut.

“Sampai 2014 jangan dulu berbesar hati bahwa akan ada dialog, selama kita belum punya presiden yang mencintai rakyat Papua,” kata Mahfudz.

Menurutnya pendekatan yang digunakan pemerintah masih selalu dari soal kedaulatan dan keamanan (sovoreignty and security) dan selalu menganggap semuanya merupakan potensi separatisme, padahal tidak selamanya keinginan masyarakat adalah itu. Karenanya tidak ada cara lain kecuali mewujudkan dialog.

“Namun jika dialog tetap belum bisa ditempuh, kita harus terus mendekatkan perspektif-kesepahaman. Dalam pandangan masyarakat luar Papua, ada PR besar bagi masyarakat Papua sendiri, mereka harus punya kesiapan dan kapabilitas membangun Papua. Masyarakat harus kasih tau, sinyal dan dukungan masyarakat Indonesia untuk turut membangun Papua.

Fathur

Masalah Papua, Banyak Aktor Banyak Tuan

HMINEWS.Com – Persoalan Papua kini sangat rumit. Tidak hanya masalah ekonomi (kesejahteraan atau bagi-bagi duit), politik (kekuasaan), keamanan, dan pendidikan. Aktornya pun melibatkan begitu banyak kepentingan yang bervariasi, tidak hanya Jakarta-Papua, tetapi juga unsur lain bahkan tak ditampik adanya kepentingan asing yang ikut bermain dan mengambil keuntungan dari situasi yang ada.

Demikian poin penting dalam Seminar Refleksi Akhir Tahun 2012, ‘Dinamika Politik dan Pembangunan Papua’ yang diselenggarakan Jaringan Damai Papua (JDP) dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Hotel Harris, Tebet – Jakarta, Senin (17/12/2012).

“Sekarang banyak aktor, mentor dari aktor juga banyak, tuannya banyak, bos-bosnya di Jakarta juga banyak,” kata Sekjen Presidium Dewan Papua, Thaha Alhamid yang menjadi salah satu dari empat pembicara tersebut.

Berbagai upaya penyelesaian masalah Papua hingga kini pun belum ada yang terbukti manjur. Kucuran dana Otonomi Khusus (Otsus) yang demikian besar tidak terbukti membawa perubahan banyak ke arah yang lebih baik.

“Kasus kekerasan sipil, politik, dan pelanggaran HAM justru banyak terjadi di era Otsus,” kata Latifah Anum Siregar dari Aliansi Demokrasi untuk Papua.

Menurut Thaha, masalah Papua pun kian tidak jelas, dan karena ketidakjelasan tersebutlah upaya memperbaiki keadaan selalu tidak relevan. Semua program yang dijalankan tidak relevan karena tidak didahului dengan dialog untuk mencari masalah yang sebenarnya.

Mengomentari situasi tersebut, Mahfudz Siddiq menyatakan bahwa Papua harus dibuka dan terbuka. Dibuka secara transparan oleh pusat sehingga tidak terus menimbulkan pertanyaan di Indonesia sendiri maupun di dunia internasional yang akan terus menjadi beban diplomasi. Masyarakat Papua juga harus terbuka agar semua elemen bangsa turut membantu menyelesaikan masalah dan menjadikan Papua lebih baik.

Fathur

Faktor Rendahnya Partisipasi Warga dalam Pilkada Kota Bekasi

HMINEWS.Com – Pengamat politik dari Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi, Yayan Rudiyanto mengatakan berbagai penyebab rendahnya tingkat partisipasi pemilih pada Pilkada Kota Bekasi 2012. Masyarakat disinyalir sudah apatis terhadap kepemimpinan kota penyangga ibukota tersebut.

“Kemungkinannya, masyarakat apatis terhadap kepemimpinan politik yang selama ini selalu mempertontonkan perilaku yang tidak baik. Sehingga masyarakat enggan untuk terlibat dalam proses politik seperti Pilkada,” kata Yayan sebagaimana ditulis bekasiraya, Senin (17/12/2012).

Sebagaimana diketahui, calon walikota incumbent, Rahmat Effendi atau Pepen, didera sejumlah kasus seperti kasus poligami, serta dikenal tidak akur dengan walikota sebelumnya ketika dia menjadi wakil walikota. SM2 merupakan istri walikota sebelumnya yang kini dipidana karena kasus korupsi, sedangkan kandidat lain kurang dikenal sepak terjangnya oleh masyarakat.

Selain hal itu, KPU Kota Bekasi juga dinilai tidak bekerja maksimal. Banyak masyarakat yang tidak mendapat undangan, serta pelayanan lain yang kurang seperti layanan terhadap pemilih yang menyandang cacat. Ditambah dengan kultur masyarakat Bekasi yang metropolis dan banyak bekerja di kota sekitar seperti Jakarta.

Golput Menangkan Pilkada Kota Bekasi

HMINEWS.Com – Pemilu Kepala Daerah Kota Bekasi dimenangkan oleh golput (golongan putih) alias warga yang tidak memberikan hak suara mereka. Tidak tanggung-tanggung, angka golput tembus sampai 51,19 persen dari 1,617 juta pemilih terdaftar di KPU, menurut hitungan cepat Lembaga Survey Indonesia (LSI).

Disimpulkan LSI, tingginya angka golput adalah karena kurangnya ketokohan 5 pasang kandidat yang maju dalam pilkada. “Tidak ada tokoh yang cukup menonjol untuk menarik minat pemilih datang ke Tempat Pemilihan Suara (TPS),” kata Direktur Eksekutif Citra Publik Indonesia LSI, Anggoro, Ahad (16/12/2012).

Dari sisi ketokohan yang membuat angka golput tinggi adalah karena tingginya tingkat konsumsi berita warga Kota Bekasi, sehingga mereka cukup tahu rekam jejak semua kandidat. Ditambah lagi Pilkada digelar di hari libur, sebagian warga memilih berlibur daripada menggunakanhak pilih.

Menurut hitungan cepat tersebut, dari 48,81 persen warga yang menggunakan hak pilih, maka pasangan PAS (Pepen/ Rahmat Effendi – Ahmad Syaikhu unggul dari keempat pasang calon lain. PAS memperoleh 43,87 persen, Dadang Mulyadi-Lucky Hakim (DALU) 25,56 persen, Sumiyati Mochtar-Anim Imanudin (SM2-Anim) 19,81 persen, Shalih Mangara Sitompul-Anwar Anshori (SALAM) 5,49 persen dan terakhir Awing Asmawi-Andi Zabidi (AZIB) 5,27 persen suara.

PAS diusung Golkar, PKS, Hanura dan PKB. DALU diusung PAN, SM2-Anim diusung PDI Perjuangan, SALAM merupakan kandidat independen, sedangkan AZIB diusung partai Demokrat. Hal yang tak kalah  menarik, kandidat independen dapat mengungguli kandidat dari Partai Demokrat.

Aksi Bisu HMI Jaksel Protes Bisunya Pemerintah Tangani Korupsi

HMINEWS.Com – Aksi damai memperingati Hari Anti Korupsi dan Hak Asasi Manusia sedunia digelar oleh HMI MPO Cabang Jakarta Selatan di Bundaran Hotel Indonesia, Senin (10/12/2012) malam. Aksi dimulaipukul 19.00 sampaidengan pukul 20.15 dan diikuti 24 kader.

Peserta aksi membawa lilin sebagai simbol eksistensi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Di antara isu yang dibawa dalam Aksi Damai tersebut, mereka menuntut upaya penyelamatan serta perpanjangan masa kerja para penyidik KPK seperti Kompol Novel Baswedan dkk.

Selain itu, mereka menuntut pengusutan tuntas Century Gate dan Hambalang, termasuk perpanjangan kinerja Tim Pengawas (Timwas) Century yang dipimpin oleh Anis Matta. Hal lainnya yang turut diusung dalam Aksi Damai ini adalah hukuman bagi koruptor haruslah berat dan menimbulkan efek jera.

“Kalau perlu hukuman seumur hidup dan mengembalikan semua hasil korupsi kepada rakyat karena korupsi melanggar hak rakyat Indonesia. Nah, dengan begitu tidak ada lagi yang berani bermain-main dengan kasus korupsi ini,” ujar Dede selaku koordinator aksi.

Saat ditanya mengapa mengadakan Aksi di malam hari dan tanpa orasi dan hanya bersenandung dengan lagu-lagu perjuangan, Dede menjawab “Kami bisu karena pemerintah juga membisu terhadap kebenaran di balik kasus-kasus ini,” tambahnya.

Aksi damai yang diakhiri dengan mengelilingi Bundaran HI berjalan dengan tertib serta dikawal polisi hingga Aksi berakhir.

Fya Naqya

Aksi Jahit Mulut Warnai Peringatan Hari Anti Korupsi

HMINEWS.Com  – Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) Cabang Asahan melakukan aksi jahit mulut sebagai protes maraknya kejahatan korupsi di Indonesia. Aksi ditujukan kepada dunia, pemerintah Indonesia dan khususnya Pemkot Tanjungbalai dan Asahan agar tidak main-main memberantas kejahatan korupsi yang luar biasa.

Aksi tersebut berlangsung di depan Kantor Walikota Tanjungbalai, Sumatera Utara dalam unjukrasa memperingati Hari Anti Korupsi Dunia. Sementara aktivis yang menjahit mulutnya adalah Emil Sanosa, mahasiswa Universitas Asahan.

“Kami menuntut Walikota Tanjungbalai mundur dari jabatannya karena tidak bisa mensejahterakan masyarakat, malahan kualitas pendidikan semakin menurun dan terkait kasus korupsi di Tanjungbalai yang selalu ditutup-tutupi,” kata Sekretaris Umum HMI MPO Cabang Asahan, Indra, Senin (10/12/2012).

Kekesalan khusus hingga berujung pada aksi jahit mulut adalah pelanggaran UU No 9 tahun 1998 tentang penyampaian aspirasi yang terjadi di Tanjungbalai, yaitu dilayangkannya surat kepada Kapolda Sumut oleh Pemkot Tanjungbalai terhadap pihak mahasiswa dan OKP yang kerap berunjukrasa.

Padahal, menurut Emil, mereka berunjukrasa karena berbagai ketidakberesan dan penyimpangan, bahkan indikasi korupsi yang dilakukan pemkot setempat.  “Bukannya memperbaiki kinerja agar bersih, tapi mereka malah mengadukan mahasiswa dan OKP ke Polda,” ujarnya.

Aduan ke Polda dinilai sebagai ancaman kebebasan menyampaikan aspirasi dan wujud dari tidak transparannya pengelola pemerintahan.

Istri Pendiri HMI Stroke dan Butuh Bantuan

HMINEWS.Com – Istri Prof Lafran Pane pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Bunda Bisromah Zaed menderita stroke. Kondisinya memprihatinkan dan dirawat di rumah karena ketidaan biaya berobat  ke rumah sakit.

“Ibu Bisromah istri Kanda Lafran Pane pendiri HMI sedang sakit stroke. Sekarang beliau ditampung di rumah adiknya. Keadaannya sangat memprihatinkan dengan kesulitan ekonomi untuk biaya pengobatannya. Mohon perhatian dari seluruh kader HMI dan alumni,” tulis AlinediJogja dalam facebooknya usai menjenguk Bu Bisqomah, Ahad (10/12/2012).

Rumah tempat dirawatnya Bu Bisromah adalah  ‘Warung Hizbul Wathan Kauman’ di gang seberang PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta.

Bantuan bisa diantarkan langsung. Nomor rekening menyusul dalam minggu ini atas nama FORHATI Yogyakarta, yang sekarang sedang diurus. []

Berharap Gagasan Baru Dari Trapolnas

Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 04 Desember 2012 jam 10.00 WIB di Student Convention Center (SCC) Kaliurang Yogyakarta, Training Politik Nasional (Trapolnas) yang diadakan HMI Cabang Yogyakarta resmi ditutup. Training yang dimulai dengan stadium general di gedung DPRD DIY pada 30 November 2012 yang lalu itu memberikan banyak kesan dan pelajaran bagi setiap pihak yang terlibat.

Nur Rismawati, salah satu SC (steering committee) dan sekaligus pemandu dalam acara Trapolnas kali ini mengatakan bahwa antusiasme para peserta cukup tinggi, terbukti peserta yang mengikuti acara ini melebihi target awal yang ditentukan yaitu maksimal 60 orang, tetapi ternyata yang hadir sebanyak 74 orang.

Antusiasme juga terlihat dari banyaknya peserta yang datang dari berbagai cabang HMI di Indonesia seperti Cabang Tual, Tulang Bawang, Jakarta Selatan, Serang, Semarang, Jakarta, Bogor, Wonosobo, Malang, Purworejo dan Yogyakarta sebagai tuan rumah. Kondisi ini pada dasarnya menggambarkan bagaimana kebutuhan kader-kader HMI akan ruang-ruang pertemuan dan diskusi yang bertaraf nasional untuk membicarakan langkah dan strategi HMI dalam menghadapi paradigma politik hari ini yang penuh pragmatisme dan politik pencitraan. Tidak dapat dipungkiri, forum-forum seperti ini sangat jarang diadakan kecuali saat rapat pleno PB ataupun Kongres saja.

Ade Rahman, salah satu pemandu mengatakan bahwa peserta trapolnas aktif di sebagian besar materi yang disampaikan dalam kegiatan ini, walaupun ada juga materi-materi yang dianggap membosankan oleh peserta. Beliau menambahkan, di akhir malam setiap harinya selama Trapolnas ini diadakan sebuah Focus Group Discussion (FGD) yang ditemani oleh para pemandu dan terbagi ke dalam lima kelompok. Kegiatan ini (FGD) sebagai sarana mengkonsep ataupun sekedar menuangkan gagasan-gagasan hasil materi yang diterima selama seharian penuh. Metode ini sebagai upaya agar setiap kader mampu mempertajam analisisnya terkait permasalahan yang ada sekaligus diharapkan muncul gagasan-gagasan segar bagi peran HMI.

 Ade Rahman juga mengatakan ada yang sedikit kurang dalam acara Trapolnas kali ini yaitu pemateri yang dihadirkan kebanyakan dari kalangan praktisi hanya sedikit dari kalangan akademisi sehingga dalam acara Traponlas kali ini minim konsep yang ditawarkan oleh pemateri sehingga kader HMI dituntut berusaha untuk membuat konsepnya sendiri.

Di hari terakhir diadakan sebuah observasi. Semua peserta dibagi menjadi lima kelompok dan setiap kelompok melakukan observasi ke lembaga negara, organisasi masyarakat ataupun organisasi politik, dan masing-masing kelompok harus membuatkan laporan hasil observasi yang mereka lakukan, dan setiap laporan akan di persentasikan oleh masing-masing kelompok.

Ketua panita, Mahfud, mengatakan bahwa susuanan acara ini berusaha dikonsepkan secara maksimal oleh SC Trapolnas bersama Panitia OC agar kegiatan ini benar-benar mampu melahirkan gagasan-gagasan yang brilian untuk peran HMI kedepan. Walaupun Mahfud juga mengakui bahwa ada sebagian peserta yang merasa kecewa dikarenakan beberapa pemateri yang pada awalnya dijanjikan tidak bisa hadir dalam kegiatan kali ini, seperti alumni HMI Moh Mahfud MD dan Gubernur Jakarta Joko Widodo, kedua tokoh tersebut tidak bisa hadir dikarenakan agenda mereka yang padat dan tidak bisa ditinggalkan. Menurut Mahfud para pengganti merekapun tidak kalah bagusnya, salah satunya Walikota Yogyakarta, Heri Zulianto yang juga sudah dikenal secara nasional.

Ayin, salah satu peserta dari Cabang Wonosobo mengaku senang mengikuti acara ini, setidaknya dia merasa dengan berkumpul dan berdiskusi seperti ini. “Idealisme sebagai seorang mahasiswa sekaligus kader HMI dapat terjaga dikarenakan lingkungan mendukung untuk itu. Semoga ini juga dirasakan oleh teman-teman yang lain pesannya,” ujarnya.

Dalam sambutannya saat penutupan Trapolnas tahun ini, Zuhad Aji Firmantoro Ketua umum HMI Cab Yogyakarta berpesan bahwa HMI harus mulai kembali untuk menkonsolidasikan dan merancang gagasan baru terkait peran yang akan diambil kedepan, karena tantangan di masa depan pun akan semakin sulit.

 “Semoga kegiatan ini mampu menjadi awal terbentuknya masyarakat yang berkeadilan sebagai pengejawantahan masyarakat yang diridhoi Allah SWT. Harapan terakhir, semoga kegiatan-kegiatan serupa mampu dilaksanakan rutin minimal oleh setiap cabang HMI,” pungkasnya.

Rangga