Memenangkan Masa Depan Indonesia (Transkrip Pidato Anies Baswedan)

Pidato Anies Baswedan pada Seminar Kebangsaan “Memenangkan Masa Depan Indonesia” dalam rangka Pelantikan KAHMI di Jakarta Convention Center (JCC), Selasa (5/2/2013). Transkrip ke teks oleh: LAPMI PB HMI – MPO.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Yang saya hormati, senior-senior semua di sini, Bang Akbar, Pak Nazar, Pak Darmansyah, Bang Laode dan seluruhnya. Izinkan saya meneruskan apa yang sudah dimulai Prof Erani tadi.

Kuncinya kalau kita mau memenangkan masa depan adalah kualitas manusia Indonesia, dan saya cenderung menggunakan istilah manusia Indonesia, bukan sumber daya manusia Indonesia, karena kita harus sudah melihat pengembangan manusia Indonesia itu lebih dari sekedar resources or economic activity. Tapi dalam analisa ekonomi saya setuju, bahwa manusia salahsatu komponen dari faktor produksi, misalnya. Tetapi dalam membicarakan manusia, kita harus melampaui sekedar sumber daya manusia.

Mengapa ini fundamental karena kita mendidik bukan untuk persiapan kerja, kita mendidik manusia itu untuk menghasilkan orang-orang yang memiliki karakter seperti kita cita-citakan; ada dalam undang-undang kita, tetapi strateginya harus tepat. Dan saya menggarisbawahi strategi yang dipakai oleh Asia timur, tadi Prof Erani menyebutkan Asia Timur itu fantastis, seperti China, Korea Selatan dan lain-lain.

Ada yang saya garisbawahi tentang manusia Indonesia, tetapi sebelum ke sana, ada mindset yang harus diubah di bangsa ini. Kita masih menganggap kekayaan terbesar bangsa Indonesia adalah sumber daya alam, itu masih menempel di kita, dan kita marah kalau bagi hasil tidak dilakukan dengan adil. Kita tahu berapa jumlah lifting, berapa jumlah batubara, ekspor-impor minyak kita tahu, tapi ditanya berapa jumlah SD (sekolah dasar) kita tidak tahu. Jumlah SMP dengan jumlah guru kita tidak tahu. Dan kalau anak kita tidak sekolah kita tidak marah, tetapi kalau pembagian sumberdaya alam tidak adil, kita ini atas nama nasionalisme, pidatonya luar biasa dahsyat. Padahal cara berpikir itu cara berpikir kaum kolonial.

Ya, kaum kolonial itu hanya memikirkan sumber daya alam dan tak memikirkan sumber daya manusia. Tidak dipikirkan. Buktinya kita merdeka, 95 persen penduduk kita buta huruf. Jadi kalau ada orang yang masih terus berpidato soal pembagian yang tidak adil tetapi tidak peduli pada manusianya, ini retorika nasionalisme tapi spiritnya kolonialisme, dan itu sekarang kita saksikan banyak sekali. Harus diubah ini. Kita harus mengubah mindset kita, bahwa kekayaannya adalah pada manusia.

Mari kita potretkan, tadi Bung Erani sudah menunjukkan mind-nya, 5,6 tahun adalah usia anak-anak kita sekolah. Jumlah SD di Indonesia kalau tidak salah angkanya 165.000 SD seluruh Indonesia, SMP 39.000, SMA 26.000. Dari angka itu kita tahu, kita tak berniat menyekolahkan setiap anak Indonesia sampai SMA. Tidak berniat, karena angkanya saja dari jumlah kita sudah tahu: 165-39-26.

Saya pernah tanyakan ini kepada para perencana pembangunan Indonesia mengapa kok ada investasi besar-besaran di SD tapi dilepas SMP dan SMA-nya. Tidak ada aktivitas terus di sini. Jawabannya agak abu-abu, tapi saya ingat diskusi –catatan diskusi- Soedjatmoko tahun 70-an yang mengutip Korea Selatan sebagai contoh, bahwa mendidik seluruhnya sampai atas sebelum lapangan kerja siap, dikhawatirkan menciptakan highly educated unemployment.  Dan highly educated unemployment di tengah rezim yang otoriter itu destabilizing factor yg besar. Itu penjelasan economic factor yang tidak pernah ada penjelasan tertulisnya, tetapi dalam lisan disampaikan.

Nah, kalau kita ingin memenangkan ke depan, infrastruktur harus dibereskan, kalau tidak ada infrastruktur, sulit. Dalam konteks infrastruktur saya mau menggarisbawahi, bukan saja kerena aktivitas ekonomi menarik para penduduk Indonesia berpindah ke urban, tetapi konteks sekolah kita sangat urban sentris. Seorang anak petani, kirimkan sekolah sampai SMP maka dia tak punya lagi pengetahuan untuk meneruskan tradisi pertanian orangtuanya. Sekolahnya, materinya, mencabut anak idonesia dari rural culture. Sekolah kita konsennya membuat menjadi orang kota. Nah di sini harus ada strategi baru.

Republik Indonesia bukan saja Jawa dan Jakarta. Begitu masuk ke luar jawa, di pegunungan-pegunungan bagaimana cara kita mentransfer pengetahuan dasar tanpa mencabut mereka dari akar wilayah tempat mereka selama ini hidup. kalau tidak maka pendidikan yang kita dorong adalah pendidikan yang menjadikan semua orang adalah orang kota. Dan itu sudah terbukti di banyak negara, kita menyaksikan negara-negara industri, di mana urbanisasi bukan hanya untuk pasar pekerjaan, tetapi karena tools yang diberikan kepada anak-anaknya membuat mereka harus menjadi orang kota. Ini tantangan konten yang harus dibereskan. Mengapa demikian? Disparitas yang terjadi di Indonesia, antara yang berpengatahuan dan tak berpengetahuan, antara yang bekerja dan tak bekerja, antara yang makmur dan miskin, antara yang di kota dan di desa, itu hanya bisa dibereskan jika kita punya individu-individu terdidik yang mau menjadi engine of change di banyak titik. Di situ beratnya jika pendidikan hanya berorientasi mensuplai urban, mendorong mereka kembali (ke daerah), itu amat sulit.

Kita semua sudah sering menyaksikan beasiswa dari daerah dikirim untuk sekolah tinggi, habis itu mengabdi. Mau ijazahnya ditahan mau tidak, tidak mau pulang kampung, dan ini bukan fenomena baru. Perlu ada strategi khusus dalam konteks ini.

Lalu yang ketiga, kita ingin share di sini adalah tentang pentingnya menghindari otak-atik kurikulum – kebetulan hari-hari ini sedang otak-atik kurikulum. Kita seringkali merasa kalau sudah ngotak-atik kurikulum rasanya insya Allah di ujung sana beres. Menurut saya solusinya ada pada guru. Bila gurunya baik, maka kelasnya baik, sekolahnya bisa baik. Di HMI juga jelas, jika instrukturnya baik, kadernya juga begitu, bukan?

Yang dilihat itu instrukturnya, gurunya, mentornya. Indonesia tidak memberikan perhatian cukup pada guru. Kalau kita ingin memenangkan masa depan, maka perhatikan pendidikan. Tapi apanya diperhatikan dari pendidikan? Nomor satu gurunya. Dan kita juga tetap tak memperhatikan guru. Buktinya apa? Guru-guru kita “yang mendidik kita” saja tak pernah kita sapa kok. Jangankan negara, kita saja sering menganggap guru-guru kita sebagai instrumental. Mari kita kembalikan lagi apresiasi pada guru. Fundamental betul. Bila kita mengapresiasi guru, maka kita menyiapkan masa depan. Itu yang terjadi di Asia Timur sebetulnya.

Apresiasi di kita apa? Kesejahteraannya bermasalah, kualitasnya bermasalah, distribusinya tidak merata, komplit sudah. Ini fundamental sekali dibereskan jika kita ingin memenangkan masa depan Indonesia.

Yang keempat, ini sering saya sampaikan di dalam diskusi halal bihalal KAHMI, tapi izinkan saya mengulang, bahwa kita akan memasuki era di mana batas-batas wilayah negara itu ada, tetapi mobilitas manusia melampaui batas negara. ASEAN mulai tahun 2015 itu akan menjadi satu wilayah ekonomi. Manusianya akan bergerak dengan leluasa, seperti dahulu kita menjadi Indonesia. Dan ketika menjadi Indonesia, ada suku-suku yang mulai pascakemerdekaan dominan, ada suku-suku bangsa yang prakemerdekaan dominan, pascakemerdekaan bergeser, kita menyaksikan dinamika ini.

Indonesi akan memasuki era di mana mobilitas manusia lintas bangsa dan kompetensi yang diuji menggunakan komptetensi standard baru yang tinggi dan di situ produk anak didik kita akan diuji akan survive atau tidak. Bahasa kerennya biasa disebut meritokrasi. Merit system. Satu sistem berdasarkan prestasi. Kalau Anda punya prestasi, Anda dapat tempat, Anda tak punya prestasi Anda tak punya tempat, siapapun abang-nya. Kalau sekarang kita masih bisa “Usahakanlah, Bang,” begitu. Besok-besok tak ada lagi “Usahakanlah, Bang.”

Kalau tidak bahasa Inggris, Anda lewaat saja sudah. Seperti tahun 45 tidak bisa bahasa Indonesia, lewat saja sudah, tidak ada kesempatan. Di sini tantangan kita menjadi besar, meritokrasi. Kenapa saya garis-bawahi ini karena di Indonesia suka ada spirit nasionalisme luar biasa, tapi kadang-kadang kita tidak mengantisipasi ke depan, sementara di depan kita membutuhkan anak-anak Indonesia yang bisa menjadi garda terdepan kita di era global.

Saya tidak terlalu bersemangat dengan RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional), tapi kita membutuhkan lebih banyak sekolah yang standard-nya memang standard internasional. Tak perlu pakai nama dan tak perlu biaya mahal. Ini yang dibutuhkan di Indonesia. Nah, ini tidak sederhana, tapi kesadaran bahwa kita akan hidup di era baru dengan standard yang tinggi mutlak diperlukan dari sekarang. Kalau tidak kita akan sangat sulit sekali.

Yang terakhir, yang kelima. Kalau ini adalah keputusan politik, ini adalah politik pendidikan untuk rekayasa masa depan:

Politik pendidikan rekayasa masa depan selama ini terlewatkan, kita melihat pendidikan semata-mata soal kecerdasan, semata-mata soal meningkatkan kualitas manusia. Kita lupa bahwa politik pendidikan itulah yang menentukan siapa dididik apa hari ini menentukan siapa duduk di mana hari esok. Begitu rumusnya pada ‘who gets what today.’ Kita harus melihat pendidikan lebih dari sekedar alat mencerdaskan, kita harus melihat pendidikan sebagai instrumen rekayasa masa depan.

Karena itu, perhatikan negara-negara maju, pasti mereka ada rekayasa di bidang pendidikan. Artinya apa? Mereka secara strategis melakukannya.

Kita berikan contoh China. Dari tahun ’83-2003 mengirimkan 87.000 orang untuk sekolah sains dan teknologi di Amerika serikat. 87.000..! Kita di Indonesia tiap tahun baru kira-kira baru 800 doktor yang lulus. China hari ini 33-34ribu doktor per tahun dihasilkan.

Memangnya China mengirimkan doktor untuk jadi orang liberal? Berpikir kapitalis? Tidak, mereka ambil ilmunya untuk melawan. Kita di sini melawan Amerika itu dengan pidato hari Jum’at. Setelah pidato kita puas. 20 tahun kemudian dunia tidak berubah. Mereka tak banyak pidato, rekayasanya lewat pendidikan, ambil anak muda, kirimkan, setelah 20 tahun semuanya takut pada mereka. Ini rekayasa lewat pendidikan, dahsyat.

Jepang melakukan hal yang sama. Pada saat mereka Restorasi Meiji, dikirimkan orang untuk belajar strategi-strategi pendidikan. Karena itu kalau kita ingin memenangkan masa depan Indonesia, kita harus memikirkan pada manusianya. Dan ketika bicara tentang manusianya; gurunya menjadi penting. Dan di situ kita sadar dengan sistem yang baru: meritokrasi. Dan ini semua dipandang sebagai instrumen rekayasa masa depan. Terima kasih.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.