Mengatasi Polemik Kebudayaan Modern

Memahami Kebudayaan

Peradaban dibangun diatas fondasi kebudayaan. Kebudayaan merupakan hasil cita, karya dan rasa manusia. Kebudayaan bukanlah merupakan sesuatu yang mati dalam berbagai simbol melainkan ruang yang hidup dalam penghayatan. Kebudayaan bukan semata melekat pada seni, arsitektur, tarian, dan lainnya, sebaliknya kebudayaan hidup dalam segenap ruang hidup manusia mulai dari ilmu pengetahuan beserta teknologinya, ekonomi, uang dan sistem pasarnya, perilaku politik beserta segenap infrastruktur demokrasinya, hingga aspek sistem keluarga beserta seluruh relasi hubungan di dalamnya.

Kebudayaan modern yang berkembang pesat dengan segala kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengantarkan dunia pada situasi kemanusiaan yang baru. Modernisme yang didukung dengan lahirnya revolusi industri di abad ke 17, telah mengubah wajah dunia menjadi sebuah sistem mekanis. Alam dikelola oleh manusia hanya dengan menggunakan pendekatan-pendekatan mekanika. Pendekatan ini telah mengubah ruang kebudayaan yang sebelumnya memiliki privasi dalam berbagai komunitas, sekaligus plural dengan segala perbedaanya menjadi sebuah kebudayaan tunggal yang berporos pada industri. Relasi hidup manusia bergeser menjadi sebuah interaksi dalam sistem industri. Ekonomi, politik, pendidikan, bahkan hingga sistem keluarga serta agama telah bergeser untuk mendukung berjalannya industrialisasi. Industrialisasi membutuhkan kesesuaian, kesamaan dan keteraturan sehingga proses mobilisasi manusia bisa berjalan, dilain sisi pertukran maksimal apa yang dihasilkan mampu terwujud terus menerus.

Konsekuensi Modernitas dan Industri

Dalam dinamika yang demikian, manusia seringkai kehilangan kontrol atas kesadaranya dan sebatas menjadi bagian dari roda industri. Teknologi terus berkembang, namun manusia kehilangan “rasa” dari setiap karyanya. Orientasi dari segala ciptanya diidentikkan dengan rasionalitas bukan pada wilayah yang privasi melainkan pada wilayah missal. Industrialisasi telah diterima sebagai keniscayaan yang tak tergantikan dalam segenap sistem hidup manusia modern.

Di balik keberhasilannya untuk mengubah peradaban manusia menjadi sebuah kebudayaan masal, industrialisasi menghasilkan dampak serius pada situasi kemanusiaan. Manusia tidak dapat lepas dari cengkeraman komoditas, di luar itu manusia modern mudah terlepas dari ikatan-ikatan komunalnya dan berada pada sekat-sekat individualisme. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, maka bertumbuh pula komoditas yang dihasilkan untuk menunjang kehidupan manusia.

Konsekuensi dari watak industrialisasi telah mengubah cara pandang manusia terhadap alam.  Alam sebelumnya dianggap sebagai mother of earth atau bahkan di berbagaai komunitas dipersonifikasikan menjadi berbagai dewa yang patut dihormati dan hidup berdampingan. Kini manusia mengubahnya menjadi sebatas bahan baku yang mesti dikelola untuk kebutuhan ekonomi. Alhasil kerusakan alam tidak dapar dihentikan, walaupun berbagai modus-modus kapital berusaha melakukan konservasi alam. Dalam  kehutanan, misalnya  lahir kesepakatan tentang  perdagangan  karbon, melalui REDD (Reduction Emission from Deforestation and Forest Degradation).  Namun, berbagai kesepakatan ini tidak mengubah apapun dari peradaban dunia yang tetap dijalankan dengan segala ambisinya. Alam tetap menjadi korban yang paling utama dari era industrial.

Di wilayah sosial watak industrialisasi mengubah watak relasi antar manusia menjadi relasi-relasi kepentingan. Manusia kehilangan kultur komunalnya, bahkan reduksi dalam fungsi keluarga sebagai basis utama dalam membina sebuah kebudayaan hidup berubah menjadi hanya aktualisasi kepentingan seksual. Alhasil manusia gagal melangsungkan kehidupannya. Konsekuensi dari kegagalan keluarga dalam membina diri sangat serius dalam komunitas masyarakat akhirnya muncul demoralisasi dan anarki. Demoralisasi di level elit melahirkan budaya korupsi, foya-foya dan glamour, serta menindas. Sedangkan di level kelas bawah, diekspresikan dengan kriminalitas, dan yang kini semakin rentan adalah kekerasan atau pelecehan terhadap kaum wanita dan anak. Situasi ini menunjukan terjadi krisis mental dalam peradaban umat manusia.

Menikmati “Rasa” dalam Kehidupan

Krisis ini bisa terselesaikan ketika manusia dikembalikan pada akar kebudayaannya. Kebudayaan manusia yang sesungguhnya yang menempatkan kembali “rasa”, penghayatan atas segala unsur yang diproduksinya. Dalam  ruang yang lebih besar rasa akan melahirkan tanggung jawab, integritas dan kesetiakawanan. Ajaran moral tidak lagi hampa dikarenakan ia bisa kembali masuk dalam ruang kesadaran dalam setiap aktulisasi hidup manusia. Tanpa rasa manusia terjerembab ke dalam ikatan-ikatan komoditas semata, meminjam istilah Braudillad dengan terjerat symbolic value, yaitu meletakkan nilai-nilai pada kepemilikan komoditas. Rasa akan mampu melahirkan kembali ruh keadilan bukan sebagai sesuatu yang formalistik yang dibatasi oleh hukum, melainkan bagian dari konsekuensi penghayatan hidup.

Setiap masyarakat memiliki akar budaya. Soekarno mengatakan akar budaya Indonesia adalah “gotong royong”. Gotong royong memiliki makna keterikatan yang kuat dalam komunitas, pengorbanan yang bertimbal balik, keikhlasan, kebersamaan, dan saling mendahulukan. Rasulullah juga membudayakan ukhuwah sebagai landasan hidup manusia. Ukhuwah mengubah wajah manusia gurun menjadi penuh dengan kesantunan, kesopanan dan keharmonisan. Kesadaran untuk mereproduksi kembali  kebudayaan  manusia  menjadi  jawaban  atas  segala  krisis  dalam  ruang  modernitas.  Tanpa budaya manusia hanyalah bagian dari sistem industri dan menjadi serigala-serigala yang rakus.

Hafidz Arfandi
Mahasiswa Fisipol UGM, Penikmat Budaya