Ketika Mahasiswa Meng-Kritik tanpa Solusi?

 

Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota

Bersatu padu rebut demokrasi

Genggap gempita dalam satu suara

Demi tugas suci yang mulia

Hari-hari esok adalah milik kita

Terciptanya masyarakat sejahtera

Terbentuknya tatanan masyarakat

Indonesia baru tanpa orba

…………………………………….

HIDUP MAHASISWA !!! 

HIDUP MAHASISWA !!!

ALLAHU AKBAR !!!

 

Bagi teman-teman mahasiswa penggerak, mahasiswa yang memiliki hobi aksi atau berdemonstrasi, tentu saja akan terasa tidak asing dengan lirik lagu yang Penulistuliskan diatas. Yaa…”Buruh Tani”. Lagu yang biasa terdengar saat teman-teman mahasiswa menyatukan suara, bersuara untuk rakyat, bersuara untuk kepentingan rakyat dan bersuara untuk merebut hak-hak rakyat yang seharusnya berada di tangan rakyat. Entah siapa yang pertama kali bersuara menggunakan lagu buruh tani tersebut, tetapi sekiranya itulah salah satu syair yang dapat menyatukan kita para mahasiswa yang rindu akan kesejahteraan di negeri kita ini.

Mungkin benar dikatakan bahwa dengan kata-kata yang yang terdapat di dalam lirik lagu “Buruh Tani” tersebut dapat menyatukan para mahasiswa yang rindu akan kesejahteraan di negeri ini, tetapi perlu di ingat! kesejahteraan dinegeri ini tidak akan terlaksana manakala kita para mahasiswa hanya mengkritik pemerintah tanpa ada memberikan solusi yang berarti demi terciptanya good govermence di negeri kita ini. Itulah sekitranya yang kita alami saat ini, kebanyakan mahasiswa dalam tanda kutip “mengkritik” tampa adanya perilaku atau sifat yang solutif.

Kritik tanpa adanya perilaku yang solutif “ibarat sholat tanpa memahami  makna yang terdapat di dalam setiap bacaan sholat”. Saat kita mengkritik pemerintahan yang tujuannya mulia tentu saja hal tersebut merupakan perbuatan ibadah menurut agama, dan bukankah sholat juga merupakan suatu perbuatan ibadah? Saat kita sholat tetapi tidak memahami setiap bacaan sholat kita, apalah gunanya sholat itu? Sama halnya saat kita mengkritik tanpa adanya perilaku yang solutif.

Penulis bukan berbicara tentang mereka, Anda ataupun dia, tetapi KITA! Kita selaku mahasiswa yang rindu akan kesejahteraan rakyat miskin kota dan kita selaku mahasiswa yang bisa dipersepsikan sebagai agent of change di negeri kita tercinta ini. Jika bukan kita yang memulai, lantas siapa lagi ?

Think before complaining or you argument would be nothing but joke and forgettable. Think before complaning or you act opposing something would make you look no-one but a fool who demand something with no reasonable words. Think before complaning or the critical side of you would be nothing but meaningless since it’s not accompanited by any acceptable solution. There’s no any other way, but be solutive

Harry Setya Nugraha

Kader HMI FH UII

 

Muslim berjuang lebih keras demi Boston

Kiran Ansari

Chicago – Saat 30.000 orang ikut serta dalam acara jalan bersama Project Bread untuk membasmi kelaparan di Boston 5 Mei lalu, sebagian dari mereka berpartisipasi dengan penuh semangat namun juga dengan kewaspadaan. Karena hanya berselang tiga pekan setelah tragedi Maraton Boston, para anggota Muslims Against Hunger yang hendak berpartisipasi ditelepon oleh keluarga mereka yang merasa khawatir dan mendesak mereka agar tidak jadi ikut lantaran takut akan adanya aksi balasan.

Project Bread mengadakan berbagai program bantuan makanan berbasis komunitas dan prakarsa nutrisi sekolah yang menolong orang-orang kelaparan di Massachusetts. Di acara Walk for Hunger yang ke-45 yang diadakan tahun ini, organisasi ini bisa menghimpun dana sekitar 3 juta dollar. Ini benar-benar sejalan dengan tujuan Muslims Against Hunger, sebuah organisasi akar rumput yang memiliki relawan di 20 kota yang bertujuan untuk memobilisasi masyarakat untuk mengatasi kelaparan, kemiskinan dan gelandangan. Sekitar 150 peserta Muslim menghimpun dana lebih dari 5.000 dollar untuk Project Bread.

Seorang ibu muda dengan tiga anak, Shazia Tariq dari Westborough, Massachusetts, adalah salah satu Muslim yang ikut acara jalan bersama tersebut. Ia sudah tahu tentang Muslims Against Hunger melalui berbagai dapur umum yang secara rutin mereka adakan. Sebagai seorang atlet yang penuh semangat, ia sudah mendaftar untuk acara jalan bersama Project Bread ini pada bulan Maret dan telah berlatih agar kuat menempuh rute sejauh 20 mil. Namun, selepas serangan bom mengerikan pada 15 April lalu, keluarganya, seperti juga banyak keluarga lainnya, merasa khawatir karena ia akan mudah dikenali sebagai Muslim lantaran mengenakan jilbab, dan mereka memperingatkannya agar membatalkan keikutsertaannya.

“Acara ini sangat dekat dengan hati saya,” kata Tariq. “Pertama-tama, sebagai Muslim, kami meyakini bahwa memberi makan sesama dan memberi makan orang kelaparan merupakan bagian penting dari Islam. Kedua, sebagai seorang ibu, saya selalu mengatakan kepada anak-anak saya betapa beruntungnya mereka memiliki dapur yang penuh dengan makanan, dan ini adalah kesempatan saya untuk mewujudkan perkataan saya dalam sebuah tindakan.” Ia pun bersikukuh untuk ikut serta dan mendapat restu keluarganya meskipun mereka awalnya merasa cemas.

Setelah tragedi Boston, seorang perwakilan dari Council on American-Islamic Relations (CAIR) berbicara kepada komunitas Muslim di Worcester Islamic Center, di mana Tariq secara rutin menjadi relawan. Setelah mempresentasikan hak-hak sipil dan cara-cara mudah untuk mencegah dan melaporkan aksi balasan, ia pun mendekati perwakilan CAIR tersebut, Todd Gallinger, dan meminta pendapatnya. Ia meneguhkan keputusan Tariq untuk tetap ikut, dan menyebutnya sebagai kesempatan yang tepat untuk menghilangkan stereotip tentang Muslim Amerika.

“Saya sudah membuat keputusan,” kata Tariq. “Namun, ketika Pak Gallinger mengatakan bahwa ini adalah saat yang paling tepat untuk terlibat dalam kegiatan lintas iman dan memperlihatkan pada semua orang kontribusi positif Muslim Amerika, hal itu menguatkan niat saya. Saya tidak akan tenang kalau tidak jadi ikut, terutama karena saya tidak takut, orang-orang terkasih sayalah yang mengkhawatirkan saya.”

Saat ia berjalan dan berlari sepanjang 20 mil dengan teman-teman dari masjid tersebut, Tariq berhati-hati untuk tidak menarik perhatian sama sekali. Ketika ia melihat seorang gadis berumur delapan tahun yang keletihan duduk di tepi jalan, ia ingin membantunya mencapai garis finis. Namun, instingnya mengatakan bahwa ini bukan saat dan tempat yang tepat untuk bersikap terlalu ramah sebagai orang tak dikenal kepada gadis cilik ini. Tariq pun akhirnya membawakan gadis kecil itu jeruk dan menyampaikan beberapa kata penyemangat. Ia senang melihat gadis ini menyelesaikan jalan bersama ini beberapa langkah di depannya.

Tariq awalnya ingin ikut Maraton Boston, namun harus bergelut melawan asmanya selama latihan. Ia telah berencana untuk setidaknya menonton lomba maraton ini, namun pada hari itu ia terbaring sakit. Sebagai seorang atlet dan warga Boston, ia merasa akan mendapatkan yang terbaik dari kedua dunianya ini dengan menjadikan Maraton Boston yang legendaris itu sebagai maraton penuh pertamanya.

Pengalaman jalan bersama Project Bread ini telah memotivasinya untuk berlatih demi Maraton Boston tahun depan. Ia yakin bahwa demi tujuan-tujuan pribadinya, ataupun untuk mendorong anak-anaknya dalam bidang olahraga maupun akademik, penting baginya untuk mendorong mereka dan dirinya sendiri untuk mencapai lebih banyak lagi. Ia merasa ada kebutuhan untuk menanamkan antusiasme ini dalam pengabdian masyarakat juga. Ketika anak-anaknya masih kecil, ia merasa mereka menghalanginya dari kegiatan kerelawanan di masyarakat. Namun, sekarang ia merasa harus melakukannya untuk anak-anaknya. Karena dengan melihat perjuangannya, dampaknya akan jauh lebih besar pada kehidupan mereka daripada hanya dengan mendengar ceramahnya tentang hal itu.

“Bila sepasang kakek-nenek berusia 70-an saja bisa berjalan bergandengan tangan dan bocah delapan tahun bisa menyentuh garis finis, maka saya pun bisa,” kata Tariq. “Harusnya ada lebih banyak lagi warga Muslim yang keluar dari kotaknya dan turun secara langsung untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Dan saya berencana untuk terus berbuat lebih demi tujuan itu.”

*Kiran Ansari adalah penulis untuk berbagai media termasuk Chicago Tribune, Daily Herald, Halal Consumer dan Azizah Magazine. Ia tinggal di daerah pinggiran Chicago bersama suaminya dan kedua anaknya. (CGNews)

Insan Kamil dan Martabat Tujuh

HMINEWS.Com – Diskusi rutin di ICAS Paramadina di Pejaten, Pasar Minggu-Jakarta Selatan, Jum’at (24/5/2013) menghadirkan guru besar akhlaq Universitas Iran, Prof Dr Ali Akbari. Ia berbicara mengenai konsep insan kamil atau manusia paripurna menurut Al Qur’an.

Prof Ali Akbari menjelaskan, insan kamil adalah Muhammad SAW, yang adalah manusia biasa dan karenanya jejaknya bisa diikuti oleh manusia lain. Hanya saja bedanya, Muhammad Rasulullah telah sampai, sedangkan manusia pada umumnya berada pada level memulai atau masih dan terus-menerus dalam upaya menuju cita ideal tersebut.

Dijelaskan dalam Al Qur’an, bahwasannya Allah menegaskan bahwasannya Rasulullah merupakan manusia (basyar) sebagaimana manusia umumnya. “Qul innama ana basyarun mitslukum, yuuha ilayya...” Katakanlah, sesungguhnya aku ini adalah manusia seperti kalian, hanya saja aku diberi wahyu.

Dengan penegasan tersebut jelaslah, bahwa menempuh jalan Muhammad bukan merupakan hal yang mustahil. Muhammad berlaku sebagaimana manusia lumrahnya; makan, minum, tidur, pergi ke pasar, dan sebagainya. Pada ayat yang lain pun terdapat petunjuk bahwasannya ‘Sungguh telah ada dalam diri Rasulullah teladan yang baik bagi orang yang berharap perjumpaan dengan Allah dan hari akhir.’

Insan kamil itu wujud dalam kehidupan nyata membersamai dan membimbing manusia menuju kesempurnaan, menempuh jalan yang telah ditempuh Rasul. Manusia-manusia seperti itu dapat dikenali dari sifat-sifatnya yang sejati, bukan merupakan hal yang manipulatif.

Di antara sifat insan kamil itu, disebut dengan istilah ‘Martabat Tujuh,’ adalah sebagaimana masyhur dalam permulaan Surah Al Mu’minun, yaitu: khusyu’ dalam shalatnya, menjauhkan diri dari perbuatan sia-sia, menunaikan zakat, menjaga kemaluan kecuali terhadap yang halal, menunaikan amanat serta menepati janji, dan senantiasa menjaga shalatnya.

Itulah manusia yang akan mewarisi firdaus dan kekal di dalamnya.

Kontras dan NAPAS Serukan Penghentian Kekerasan di Papua

HMINEWS.Com – Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dan National Papua Solidarity (NAPAS) mengecam keras sejumlah tindakan kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia yang terus terjadidi Papua. Keduanya mencatat, sejak 30 April-22 Mei 2013 telah terjadi serangkaian kekerasan massif berupa penembakan, penghilangan paksa, pembunuhan dan kekerasan lainnya di Papua.

Sejumlah daerah tempat terjadinya kekerasan yang mereka sebutkan antara lain: Biak, Sorong, Timika dan Puncak Jaya. Kekerasan yang dilakukan aparat telah mengakibatkan 3 orang tewas tertembak, 2 luka-luka, 26 ditangkap (6 telah dibebaskan pada 22 Mei).

“Mereka yang menjadi korban adalah warga sipil biasa yang dituduh anggota OPM, mahasiswa yang melakukan demonstrasi menyikapi tindakan represif aparat keamanan,” tulir rilis bersama tersebut, Kamis (23/5/2013).

Sebagai contoh, demonstrasi masyarakat yang tergabung dalam Solidaritas Penegakan HAM (SPP HAM) pada 13 Mei di Jayapura dihadapi aparat dengan kekerasan. Sebelumnya, 30 April juga terjadi hal yang sama, menewaskan 3 orang di Aimas Kabupaten Sorong.

Masih menurut rilis tersebut, aparat kepolisian juga berlaku represif terhadap mahasiswa yang memperingati 15 tahun Reformasi di Bundaran Abepura, 23 Mei. Sejumlah mahasiswa diinterogasi akibat aksi tersebut.

Menyikapi hal tersebut, KontraS dan Napas mendesak Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) untuk memeriksa Kapolda Papua dan Kapolres yang terkait pelarangan dan represi terhadap aksi damai 1 dan 13 Mei. Mendesak Kapolri menghentikan pelarangan aksi damai, pembubaran paksa dan penangkapan yang sewenang-wenang.

Kedua Kalinya, Koalisi Kampar Laporkan Bupati Ke-KPK

HMINEWS.Com – Koalisi Rakyat Kampar mengadu ke Indonesia Corruption Watch (ICW) untuk pengusutan kasus dugaan korupsi yang dilakukan Bupati Kampar, Jefri Noor. Untuk kedua kalinya mereka juga kembali mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk melengkapi berkas laporan.

“Kami ke ICW untuk minta advokasi dan bersama mendesak KPK agar mengusut dugaan korupsi Bupati Kampar,” ujar koordinator Koalisi Rakyat Kampar, Muhammad Rafi, Senin (20/5/2013).

Adapun dugaan korupsi yang dilaporkan tersebut, yaitu mark-up harga sapi di P4S Kubang Raya Kampar senilai Rp2,8 miliar, dan perjalanan dinas fiktif bupati bersama keluarganya ke Eropa senilai Rp207 juta. Dana didapat dari dana bergulir BPR Sarimadu-Kampar.

Sebelumnya Rafi bersama rekan-rekannya telah melaporkan dugaan korupsi Bupati Kampar Jefri Noer ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tetapi belum ada tindaklanjut dari KPK. Untuk itu, sebagai upaya kedua, Selasa (14/5) lalu mereka kembali ke KPK.

Undangan Senior Course HMI MPO Wonosobo

Meneladani Misi Profetik Rosulullah Sebagai Paradigma Sikap Pengader

Dalam Mewujudkan Karakter Ulil Albab

“Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu bagi orang yang mengharap Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q. S. 33 ayat 21).

Dalam pembentukan pola perilaku seorang individu, lingkungan memiliki peran yang cukup berpengaruh, terlebih lingkungan keluarga. Karena keluarga merupakan pendidikan pertama bagi seseorang. Sebagai pendidikan yang pertama atau awal, ini akan menjadi pondasi bagi seseorang individu dalam melanjutkan pendidikan selanjutnya di luar lingkungan keluarga. Kecendrungan-kecenderungan dapat tertangkap dari perdidikan awal ini, mulai dari perilaku, cara bersikap, dan juga cara berkomunikasi.

Proses pendidikan keluarga yang terbentuk dengan baik dan kehadiran figur yang baik, maka akan terbentuk pula individu yang baik. Namun pengaruh lingkungan luar sebagai konsekuensi dari interaksi individu di luar lingkungan keluarga yang dijalani, ternyata memiliki daya tarik yang cukup kuat, bahkan mampu membelokkan haluan dari apa yang telah ditanamkan di dalam keluarga. Sehingga pendidikan keluarga harus berlangsung secara berkesinambungan, sebagai internal kontrol dari seorang individu tersebut.

Berbicara tentang figur, pada lingkungan manapun tentunya akan memunculkan figur-figur yang akan menjadi kiblat atau panutan bagi setiap individu dalam interaksi sosialnya. Figur ini dapat dikatakan merupakan alat cetak bagi pengikutnya. Pada proses atau tahap imitasi seorang individu, ia akan cenderung meniru semua tingkah polah si figur yang dianggap jadi idolanya. Dan menjadi sangat penting manakala setiap individu menyadari akan sosok figur yang ada pada tiap-tiap diri. Karena proses contoh mencontoh akan terjadi terus menerus dalam kehidupan ini. Sehingga pembentukan generasi berikutnya menjadi tanggung jawab figur-figur yang telah ada yang sekaligus memiliki peran yang cukup besar dalam membentuk generasi di bawahnya yang pada akhirnya akan menjadi figur baru bagi generasi berikutnya. Figur unggul dan kokoh akan menghasilkan figur-figur yang unggul dan berkualitas, untuk figur lemah tetunya akan melahirkan figur-figur yang lemah dan rentan mudah lapuk dan mudah terombang ambing.

Peradaban manusia yang terbangun hingga saat ini, tidak terlepas dari figur-figur pemimpin, pendobrak peradaban yang gigih dan tangguh. Sejarah mencatat risalah kenabian memiliki andil yang besar yang memberikan bimbingan bagi manusia untuk mencapai tujuan terciptanya manusia di muka bumi. Karena sosok seorang nabi atau penyampai risalah tentunya memiliki
kharisma yang kuat dengan karakter yang sempurna, dan juga menjadi figur percontohan bagi umatnya.

Muhammad Rasulullah SAW. merupakan nabi terakhir, utusan yang dihadirkan oleh Allah SWT bagi umat manusia dunia, keberadaannya menjadi contoh atau dapat dikatakan sebagai prototipe manusia sempurna sebagai khalifah di muka bumi ini. Sosok figur kharismatik yang memiliki karakter sempurna, tabligh, siddiq, amanah dan juga fathonah. Sikap pemimpin, negarawan, saudagar, pengayom, orang tua yang penyayang, tegas, adil dan bijaksana, yang menjadikan Islam sebagai jalan hidup (way of life). Hanya beliaulah satu-satunya tokoh yang mampu mengubah peradaban suatu bangsa dengan degradasi moral yang parah, menjadi bangsa yang berperadaban mulia. Dan dunia pun mengakui kekokohan perjuangan beliau dengan sosok kharismatik yang tiada tandingannya.

Keberislaman kita dengan bersyahadat meniscayakan pengakuan kita akan kerasulan beliau maka sudah sepantasnya kita meneladani sikap, perilaku, pola pikir termasuk didalamnya karakterkarakter beliau sebagai guide dalam mengarungi kehidupan ini.

Misi Profetik sebagai Paradigma Sikap Pengader

Profetik, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari serapan kata dalam bahasa Inggris “prophetic” yang berarti kenabian. Kata dalam bahasa Inggris ini berasal dari bahasa Yunani “prophetes”, sebuah kata benda untuk menyebut orang yang berbicara awal, atau berarti juga orang yang berbicara masa depan. Profetik atau kenabian di sini merujuk pada pemikiran yang dikembangkan oleh Kuntowijoyo tentang Ilmu Sosial Profetik, bahwa ada tiga unsur landasan nilai Profetik yang dalam Al-Quran disebutkan meliputi amar ma’ruf (humanisasi), nahi munkar (liberasi), dan iman billah (transendensi).

Dalam konteks perkaderan, tiga nilai tadi juga merupakan landasan penting dalam proses pembentukan dan pematangan kedirian seorang pengader, yang memiliki peran penting sebagai pendidik, pemimpin dan pejuang. Seorang pengader perlu memahami bahwa misi-misi profetik yang dibawa oleh para nabi juga ada pula di pundaknya, yaitu bagaimana keberadaannya mampu
menebarkan semangat humanisasi, liberasi, dan transendensi.

Humanisasi sering diartikan sebagai memanusiakan manusia, menjunjung dan menghormati nilai kemanusiaan, sehingga meniscayakan sikap-sikap menolak ketergantungan, kekerasan, dan kebencian dari manusia. Pada konteks perkaderan hal ini perlu menginternalisasi pada diri pengader sebagai bekal dalam menjalankan tugas mendidik kader dalam semangat kebersamaan, egaliter, dan sikap non-diskriminatif. Ini berarti proses perkaderan nantinya diharapkan mampu memunculkan
pula sosok-sosok pendidik, pemimpin dan pejuang yang dalam konteks keberpihakan punya kecenderungan untuk melayani dan mengayomi semua kader tanpa membeda-bedakan latar belakang, tingkat pemahaman, tingkat keaktifan, ataupun tingkatan jenjang perkaderan formal serta amanah struktural.

Liberasi diartikan sebagai pembebasan, melepaskan diri dari belenggu, keterkungkungan, dan hegemoni. Term tersebut selama ini mungkin hanya familiar di pembahasan-pembahasan konsepsi gerakan penentangan terhadap dominasi struktur yang menindas secara ekonomi, politik, budaya, maupun akses sosial. Namun dalam konteks perkaderan, seorang pengader sebagai seorang ideolog diharapkan juga mampu mengambil peranan itu terutama jika berbicara dalam wilayah proses kaderisasi gerakan epistemologis, maka pengader memiliki tugas pembebasan. utamanya membebaskan keterkungkungan kader dari belenggu-belenggu pemikiran yang tidak maju, hegemoni kesadaran-kesadaran palsu, atau bahkan dari teori sosial ataupun opini publik yang menyesatkan seperti apa yang disebutkan oleh kriteria ulil albab.

Hal ini tentunya sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Kuntowijoyo bahwa paling tidak ada empat sasaran liberasi yaitu yang pertama adalah liberasi sistem pengetahuan, baru kemudian liberasi sistem sosial, sistem ekonomi, dan sistem politik yang membelenggu manusia sehingga tidak dapat mengaktualisasikan diri sebagai makhluk yang merdeka dan mulia.

Transendensi dalam teologi Islam berarti percaya kepada Allah, kitab Allah, dan yang Ghoib seperti yang tertuang dalam surat Al-Baqoroh ayat 3-4. Dengan kata lain transendensi berarti keimanan, kepercayaan kepada nilai-nilai tauhid sebagai ruh dari seluruh gerak semesta baik makrokosmos maupun mikrokosmos. Ini berarti bahwa nilai-nilai transendental merupakan bagian
penting dalam pembangunan sebuah peradaban, karena dari proses transendensi inilah manusia memiliki sebuah tujuan yang jelas tentang kemana arah hidupnya.

Dalam konteks perkaderan, pemahaman pengader terhadap hal ini pun menjadi sebuah kebutuhan bersama yang amat penting karena dari pemahaman inilah seluruh gerak organisasi mampu dimaknai sebagai wujud kebertuhanan seluruh kader. Bahwa ibadah dan “sujud”nya seluruh kader bukanlah terbatas pada hal-hal yang dilakukan di rumah-rumah ibadah maupun di forum-forum pengajian dan tadarus semata, tetapi lebih dari itu, aktifitas-aktifitas organisatoris seperti rapat, kajian dan diskusi, serta kegiatan-kegiatan kepanitiaan dan kepemanduan pun itu merupakan salah satu bentuk kebertuhanan yang nyata. Inilah yang diharapkan nantinya mampu menjadi pengingat dan pemberi motivasi sehingga potensi “mangkir” dari penugasan bisa dieliminasi oleh himpunan.”

 

SYARAT MENGIKUTI SC :
1. Lulus LK II (Dibuktikan dengan sertifikat/ Rekomendasi dari cabang)
2. Membuat makalah minimal 5 halaman sesuai tema : A4, Margins 3, Times New Roman 12 pt, spasi 1,5*.
3. Membuat resume Khittah Perjuangan dan Pedoman perkaderan (Tulis Tangan)
4. Hafalan surat An-nas – ad-duha + Yasin
5. Mengikuti semua tes seleksi

*Makalah dikumpulkan maksimal tanggal 24 Mei 2013 pukul 00.00 WIB. Referensi wajib Khittah Perjuangan kirim ke email hmi_sobo@ yahoo.com

MEKANISME PENDAFTARAN DAN TES SELEKSI SC:

1. Pendaftaran maksimal tanggal 24 Mei 2013 pukul 00.00 WIB, Melalui SMS : ketik REG (spasi) NAMA (spasi) CABANG (spasi ) NO HP. Kirim ke 085 743 889 538.
2. Tes seleksi SC ditentukan sebagai berikut :
a. 26-27 Mei 2013 pukul 19.30-24.00 : Tes Pos I (Keislmanan, Pos II (Ke-HMI an), Pos III (Makalah) untuk peserta luar cabang Wonosobo.
b. 28 Mei 2013 pengumuman tes seleksi dan pembekalan (semua peserta)
3. Membayar uang pendaftaran Rp 5.000 dan biaya registrasi Rp 65.000
4. Kuota peserta untuk 20 orang.

Tolak Kenaikan BBM, 7 Aktivis HMI Mataram Dikeroyok Aparat

HMINEWS.Com – Rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak oleh pemerintah menuai protes aktifis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) Mataram. Sekitar 15 Mahasiswa yang tergabung dalam HMI MPO Mataram melakukan aksi demonstrasi dalam menolak kenaikan harga BBM yang rencananya akan disahkan oleh DPR pada juni mendatang.

Puluhan aktifis tersebut menilai kenaikan harga BBM besubsidi akan berkontribusi pada melonjaknya angka inflasi sehingga mengoreksi pertumbuhan ekonomi yang pada gilirannya akan mempengaruhi pabrik, harga pasar dan segala kebutuhan pokok masyarakat. Sedangkan 87.6 % masyarakat Indonesia adalah pemakai BBM bersubsidi dan mayoritas berada dalam garis kemiskinan. Aksi tersebut dimulai sekitar pukul 9.00 WITA di Jalan Pendidikan menuju Perempatan BI dan Gedung DPRD Propinsi NTB, Selasa (21/5/2013).

“Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif tanpa harus menaikkan harga BBM karena kenaikan harga BBM hanya akan menambah kesengsaraan rakyat dalam rentang waktu yang panjang,” kata koordinator aksi, Randi.

Randi juga menambahkan bahwa pemberian Bantuan langsung Tunai (BLT), Dana kompensasi dan BLSM adalah merupakan cara yang diambil oleh pemerintahan SBY untuk mengekang sekaligus menahan amarah rakyat dalam menolak kenaikan harga BBM.

Setelah memaksa masuk halaman Gedung DPR massa aksi melakukan orasi bergantian. Aparat yang menjaga aksi digedung DPR sekitar 150 orang karena sebelumnya ada aksi demonstrasi dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Mahasiswa minta bertemu anggota DPR, akan tetapi sampai batas waktu yang ditentukan tidak ada wakil rakyat yang menemui mereka.

Kemudian terjadi saling dorong dengan aparat kepolisian. Mahasiswa kalah banyak, terkepung dan dipukuli hingga 7 di antaranya babak belur. Mereka adalah Randi, Sukisman, Firdaus, Radit, Naim, Putra Raden dan Ikbal. Beberapa di antaranya bahkan dibawa mobil aparat.

Dedi Ermansyah (koordinator umum) mengatakan, aparat kepolisian adalah lembaga yang bentuk oleh negara untuk menjaga instabilitas negara, dan tidak seharusnya berlaku represif terhadap mahasiswa yang menyuarakan hak.

“Aparat kepolisian hari ini tidak bertugas sebagaimana mestinya, mereka melanggar kode etik dan prosedur dalam mengawal massa aksi demonstran.”

HMI MPO Mataram akan menindak-lanjuti kasus ini dan meminta kepada KAPOLDA NTB untuk bertanggung jawab dan segera memecat anggotanya yang represif terhadap mahasiswa.

LAPMI Mataram

Mengurangi Dominasi Politik Aktivis dengan Bisnis

KAHMI Business Award (foto: @kolamkoki)

HMINEWS.Com – ‘Perselingkuhan’ antara politik dengan bisnis kerap terjadi di Indonesia dan hal itu merusak tatanan. Penyebabnya adalah tidak-mandirinya secara ekonomi orang-orang yang terjun di dunia politik yang tergiur dan menggadaikan idealisme. Hal itu juga tak luput menimpa para politisi yang berlatar belakang aktivis.

Menurut Ketua Departemen Bisnis Majelis Nasional KAHMI, Ismed Hasan Putro, Business Award digagas sebagai salahsatu usaha untuk mengurai karut-marut tersebut, selain tentu saja, untuk menyeimbangkan iklim dalam HMI yang cenderung didominasi orang-orang politik. Padahal, lanjutnya, ekonomi tidak kalah pengaruhnya terhadap politik, bahkan lebih besar.

Ia mencontohkan dengan yang terjadi di Amerika Serikat. “Yang berkuasa di Amerika bukan para politisi, bukan Presiden Obama (sekarang), tetapi dua ‘General’. Yaitu General Motor dan General Electric,” ujar Ismed.

Meski terlambat, ia mengakui, tetapi KAHMI Business Award akan menjadi langkah awal untuk mengembangkan kewirausahaan di kalangan alumni HMI. Koordinator Presidium Nasional KAHMI, Mahfud MD, setuju dengan ide KAHMI Business Award. Meski ‘menyimpang dari arus utama’ dalam HMI, tetapi bisnis perlu dikembangkan. Ia berharap dengan adanya gerakan yang dimotori KAHMI tersebut akan memperbaiki keadaan, bisnis tidak mengotori politik, politik tidak memperalat bisnis.

Mahfud MD juga menjelaskan ayat mengenai bisnis yang baik akan menyelamatkan manusia dari neraka. Yaitu bisnis yang dilandasi iman, yang dengan demikian sudah pasti pelakunya tidak akan berbuat curang. Kemudian juga dengan harta yang diperoleh dari bisnis tersebut digunakan untuk berjihad di jalan Allah.

Salahsatu penerima penghargaan, Fajar Zulkarnaen, mengaku lebih senang berbisnis daripada terjun ke politik karena alasan idealisme, dan bahwa perpolitikan Indonesia kini yang terlalu ‘kotor.’  Namun, ia menegaskan bukan berarti politik tidak baik, tetapi ada saatnya terjun ke politik jika telah siap segala-galanya.

5 Peraih KAHMI Business Award

KAHMI Business Award (foto: Musa SEO)

HMINEWS.Com – KAHMI Business Award 2013 memberikan penghargaan kepada 5 pemenang dari 5 kategori yang ditentukan. Penghargaan diberikan pada malam penganugerahan di Gedung RNI, Mega Kuningan Jakarta, Selasa (21/5/2013).

Kelima pemenang tersebut adalah:

Aksa Mahmud (Bosowa Group, kategori usaha besar),
Dr Roedjito (BPR Harta Insan Karimah, CEO)
Ir. Ace (Bimbel Salemba Group, UKM)
Fajar Zulkarnaen (Young Entrepreneur, pengusaha properti)
Mar’ie Mohammad (KAHMI Mr. Clean).

Semua nominator adalah mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang kemudian berkiprah dan sukses dalam dunia usaha.

Aksa Mahmud, pebisnis yang cukup berhasil juga berbagi kiat kepada kader dan alumni HMI. Bahwa untuk berusaha tidak mesti ada modal terlebih dahulu, tetapi ada keinginan dan memanfaatkan peluang yang ada. Ia juga bercerita, dorongan untuk terjun ke dunia usaha muncul setelah dirinya ditahan KODIM setelah melakukan demonstrasi ketika masih mahasiswa dan tergabung dalam HMI.

Dr Roedjito, mantan Dirut BRI yang kemudian membentuk BPR HIK, juga mengaku bisnis jasa keuangan syariah dirintisnya sejak mahasiswa. Wakti itu dirinya masih menjadi pengurus Komisariat FE UGM. Bersama rekan-rekan satu angkatannya, ia juga membentuk YA HMI. Sedangkan BPR ia bentuk pada tahun 1992 bersama 95 rekannya, dan kini omsetnya terus naik dan telah membuka cabang di lima kota.

Fajar Zulkarnaen, mantan Ketua Umum PB HMI ‘Dipo’ meraih penghargaan karena usahanya yang dinilai berhasil. Ia merintis usaha properti, dalam waktu 3 tahun telah mencapai omset Rp 16-an miliar. Sementara Ir Ace, telah mampu mengembangkan bisnis Bimbel sejak lulus dari UI pada 2002 silam dan mempunyai banyak cabang dengan jumlah siswa 4.500 orang.

Peraih penghargaan terakhir, Mar’ie Mohammad yang tidak hadir, adalah ekonom yang terjun dalam dunia politik dan tidak hanyut dalam pusarat korupsi. Oleh sebab itu, ia pantas dijuluki Mr. Clean atas keteguhan memegang prinsipnya tersebut.

Undangan Penganugerahan KAHMI Business Award

HMINEWS.Com – Sebagai bentuk apresiasi terhadap alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang berhasil di jalur bisnis, Majelis Nasional KAHMI Departemen Bisnis akan mengadakan malam penganugerahan. Acara terbuka untuk alumni dan kader aktif HMI, dan akan digelar pada:

Hari / Tanggal : Selasa, 21 Mei 2013
Waktu : 18.30 -21.00 Wib
Agenda : Malam Penganugerahan Kahmi Business Award 2013
Tempat : Gedung. RNI Lt.6 Jl Denpasar Mega Kuningan Jakarta.

Sebagaimana diketahui, semua kader maupun alumni yang berkecimpung dalam bidang kewirausahaan dapat menominasikan diri dalam penghargaan ini. Juga dapat dinominasikan oleh Pengurus KAHMI Wilayah/ Daerah, dengan kriteria memiliki usaha sendiri yang sudah berjalan minimal dua tahun dan memiliki prestasi dibisnisnya.

Kategori yang akan diberikan di antaranya ada KAHMI Bisnis Besar, KAHMI CEO Perusahaan Besar, KAHMI UKM, KAHMI Young Entrepreneurship, dan KAHMI Mr. Clean.