Perlakuan Terhadap Konsumen ‘Sekali Lewat’

Nasi Padang (ilustrai, net)

Pepatah yang sangat populer, dan sama-sama kita tahu, mengatakan: “Konsumen adalah raja,” “Pembeli adalah raja.” Maksudnya pun sama-sama kita ketahui bahwa konsumen harus diperlakukan dengan baik, karena merekalah yang diharap membeli, baik berupa barang ataupun jasa dijual.

Saya begitu terharu terhadap perlakuan seorang ibu pemilik sebuah Rumah Makan Padang di Medan. Ibu tersebut begitu ramah dalam melayani penjual. Tapi bukan hanya itu, ia menenteramkan dan menenangkan kami agar tetap tenang saat pegawai di loket karcis bus tujuan Medan-Tanjung Balai menyuruh kami cepat-cepat menuju bus, saat kami makan di warung tersebut yang letaknya di sebelah pangkalan. Waktu itu kami dalam perjalanan menuju HMI Cabang Asahan dalam rangka mengisi training.

Si ibu mengatakan, “Nggakpapa, dik, biasa.. Duduk aja, makan dulu. Tenang aja, itu sopirnya masih main catur, yang pakai baju hijau,” sambil mengarahkan pandangannya pada seorang lelaki yang tengah bermain catur dengan lelaki lainnya. Menurutnya hal itu sudah biasa, karena memang begitulah kurang lebihnya kebiasaan pegawai loket tersebut. Kami pun meneruskan makan, meski tentu saja kami percepat. Begitu juga teh manis panas yang kami pesan akhirnya kami minum dengan es agar lebih cepat.

Tidak berapa lama, pegawai loket datang lagi menyuruh kami cepat-cepat. Ibu pemilik warung makan kembali menetralisir suasana. Sedangkan sang sopir pun masih belum beranjak dari tempat duduknya bermain catur. Setelah itu, pegawai berseragam tersebut menghampiri sopir dan memperlihatkan kertas berisi daftar penumpang yang telah membeli tiket serta bus siap diberangkatkan. Kami pun membayar makanan dan menyelesaikan minum teh, namun karena tidak habis, si ibu kembali dengan keramahannya yang kami rasakan begitu tulus, menawarkan untuk membungkus teh kami dengan kantong plastik, kami iyakan. Tak hanya itu, dia pun akan mengambilkan sedotan, namun kami katakan tidak perlu, cukup diplastik saja.

Perjalanan berlanjut dan saya terus terfikir pada perlakuan si ibu tadi. Padahal, apalah pentingnya dua pembeli di warungnya pada tengah malam itu, yang dia tahu pula kami berdua tidak tinggal di dekat situ dan yang akan jadi pelanggannya. Meskipun ia tetap pada hukum jual-beli, yang artinya dengan keramahan tersebut toh saya tetap membayar dengan harga yang sama, akan tetapi saya tidak bisa mungkir bahwa saya sangat terkesan dan sekaligus terharu.

Banyak kita temui acapkali para pedagang dari kalangan kita sendiri menjual kepada kita dengan harga tinggi hanya karena mereka tahu kita hanya sekali membeli di tempatnya tersebut saat sedang kebetulan lewat, berwisata atau karena kunjungan lainnya. Yang terfikir dan menjadi orientasi mereka adalah bagaimana mendapatkan keuntungan setinggi mungkin. Tidak jadi pelanggan tidak masalah, toh kita hanya sekali itu membeli. Selanjutnya tidak. Begitu kira-kira dari pengalaman transaksi di berbagai tempat. Sudah demikian, perlakuannya pun kerap kurang ramah.

Tapi si ibu pemilik warung Padang di Medan itu berbeda. Dia perlakukan kami yang baru satu kali mampir, dan belum pasti entah kapan lagi bisa mampir ke warungnya tersebut,  dengan pelayanan yang ‘sempurna.’ Pelayanannya pada pembeli itu sudah seperti orang-orang dari suatu perusahaan yang tengah berusaha mendapatkan tender besar yang menjamu konsumen atau bahkan calon konsumen dengan service memuaskan karena berharap keuntungan yang lebih besar, bahkan keuntungan yang berlipat-lipat.

Si ibu tadi demikian dalam pelayanannya, meski dia, saya kira, sadar tidak sedang berharap keuntungan berlipat bahwa saya kemudian akan memborong dagangannya atau menjadi pelangganya. Karena saya pas lewat saja. Dia ikhlas meski terhadap satu dua musafir yang tengah mampir dan satu dua kali pula membeli di tempatnya tersebut.

Begitulah memang idealnya perilaku standar para pelaku usaha, entrepreneur, wiraswasta, pedagang atau siapapun yang berhubungan dengan bisnis. Memperlakukan semua konsumen dengan baik. Memperlakukan konsumen secara ‘kacamata kuda,’ karena tidak diketahui yang mana satu-dua dari ribuan orang yang singgah, melihat-lihat dan syukur-syukur membeli itu, yang akan jadi pelanggan besar.

Memperlakukan dengan tidak meremehkan satu dua konsumen, meski penampilannya tidak ‘wah,’ karena kadang penampilan seseorang bisa menipu. Apalagi banyak orang kaya yang berpenampilan sederhana dan tidak menampakkan diri secara berlebihan bahwa mereka orang-orang sukses.

Semua orang dianggap berpotensi sama dan satu dua pembeli yang dikira datang hanya untuk satu kali itu saja tetap tidak dikecewakan, karena bisa jadi justru mereka calon pembeli potensial. Di lain sisi, sudah menjadi sunnatullah bahwa kebaikan akan selalu dibalas dengan kebaikan. Tidak selalu oleh orang yang menerima kebaikan itu secara langsung, akan tetapi teramat sering ‘balasan kontan’ (di dunia) tersebut datang melalui pihak-pihak yang tidak terduga sama sekali. Belum lagi doa-doa tulus orang untuk kita. Itulah cara Allah membalas.

Fathur