Habitus Pemimpin Didapat Melalui Pembiasaan

HMINEWS.Com – Romo Haryatmoko dalam diskusi di Bentara Budaya Jakarta menyampaikan, habitus terbentuk jika dilatih dalam waktu yang lama, tidak bisa hanya dengan dikhotbahkan. Demikian pula karakter pemimpin yang bertanggungjawab, hanya mungkin tumbuh melalui proses ikut mengalami dan merasakan berbagai kesusahan orang-orang yang kurang beruntung.

Pengalaman tersebut, lanjutnya, sebaiknya diberikan sejak dini dengan melibatkan anak-anak dalam berbagai kegiatan kemanusiaan, seperti dengan menjadi relawan kemanusiaan maupun kewajiban untuk live-in (tinggal) bersama keluarga-keluarga kurang mampu bagi para siswa sekolah, agar kepekaan mereka benar-benar terasah dan sekaligus mengefektifkan pembelajaran yang mereka terima di sekolah.

Untuk mendukung hal itu, sebaiknya pula perguruan tinggi-perguruan tinggi memberlakukan syarat bahwa untuk diterima menjadi mahasiswa baru, para pendaftar harus menyertakan sertifikat atau piagam bahwa yang bersangkutan pernah bekerja untuk kemanusiaan. Juga untuk para calon anggota legislatif, sebaiknya diberlakukan syarat tersebut, sehingga telah terbentuk sikap mental bekerja melayani.

Tiga Kompetensi Pempimpin

Menurutnya, kepekaan tersebut merupakan kompetensi etika yang akan sangat menunjang kepemimpinan, selain dua kompetensi lainnya, yaitu kompetensi teknis dan kompetensi leadership. Kompetensi Etika meliputi: manajemen nilai, kemampuan penalaran moral, moralitas pribadi, moralitas publik dan etika organisasional.

Kompetensi Leadership meliputi penilaian dan penetapan tujuan, keterampilan manajemen, gaya manajemen, keterampilan politik dan negosiasi, serta evaluasi. Sedangkan Kompetensi Teknis mencakup pengetahuan yang terspesialisasi, pengetahuan hukum, manajemen program, manajemen strategis dan manajemen sumberdaya. Ketiga jenis kompetensi tersebut saling melengkapi dan merupakan syarat mutlak untuk para pemimpin, tidak boleh ada yang kurang.

“Jika kompetensi teknis tidak ada, akan sering menghadapi dilema etis,” ujar Romo.

Sedangkan ketiadaan kompetensi etis, ia contohkan pada pemimpin yang pendendam. Pemimpin jenis ini sering mengabaikan orang-orang yang berpotensi hanya karena sakit hati atau dendam pribadi.