Peringati Harkitnas, Ketua HMI Kendari Ditangkap

HMINEWS.Com – Puluhan kader HMI-MPO Cabang Kendari memperingati Hari Kebangkitan Nasional dengan menggelar aksi demonstrasi. Demonstrasi berlangsung di Bundaran Eks MTQ Mandonga, Kendari (20/5/2013). Dalam aksi tersebut,mereka melakukan protes untuk menolak rencana kenaikan harga BBM. Sebagaimana diketahui, pasca penetapan APBN Perubahan dengan DPR , harga BBM akan kembali dinaikkan akhir Mei 2013.

Menurut Korlap, Susi Ar-Runduma, kebijakan kenaikan harga BBM akan membuka lebar penderitaan terhadap rakyat. “Rencana kenaikan harga BBM bukti bahwa rezim SBY-Boediono melakukan penindasan terhadap rakyat. Secara langsung, apabila BBM naik pasti berimbas pada naiknya harga-harga produk pangan. Ini membuat laju inflasi pesat. Lihat saja data rilisan BPS, inflasi sejak Maret 2013 sudah sebesar 2,43 persen yang disebabkan tingginya harga-harga produk pangan. Ini bukti rezim SBY-Boediono telah gagal,” teriak Susi.

Massa terus menggelar mimbar bebas dengan mengajak masyarakat untuk bergabung dalam aksi protes.

Dianiaya dan Ditangkap

Sekitar pukul 13.00, massa mulai membakar ban bekas dan menghalangi beberapa mobil plat merah yang melintas. Hal ini memancing amarah sejumlah aparat kepolisian. Ketua Umum HMI-MPO Cabang Kendari, Laode Arman M, menegaskan bahwa aksi pembakaran ban dan penahanan mobil plat merah bukan untuk menghalangi aktivitas masyarakat.

“Kami melakukan gerakan seperti ini dengan maksud melakukan komunikasi dengan masyarakat agar tergabung dalam gerakan kami. Karena BBM sangat subtansial bagi kebutuhan rakyat banyak,” jelas Arman.

Namun nahas bagi para demonstran. Pada saat aksi berlangsung, tiba-tiba sejumlah anggota kepolisian mencoba menghentikan aksi demonstrasi dengan membuang sejumlah ban bekas milik demonstran. Tak hanya sampai disitu, ada oknum polisi yang mematikan genset. Walhasil, aksi ini terhenti beberapa saat.

Atas tindakan tersebut,puluhan demonstran tidak menerima perlakuan pihak polisi. Dorong-dorongan pun tak terhindarkan. Akan tetapi, massa demonstran di bawah arahan langsung Laode Arman M tetap menyikapi tekanan kepolisian dengan kepala dingin. Massa HMI-MPO Cabang Kendari mencoba untuk berdialog dengan aparat keamanan.

Pada saat komunikasi berlangsung, tiba-tiba keluar serombongan Kepolisian melakukan penyerangan.Polisi memukuli massa aksi dan berusaha menangkap Ketua Umum HMI-MPO Kendari, Laode Arman M. Sejumlah kader dipukuli dan disemprot gas air mata. Alhasil, Ketua Cabang ditangkap dan aksi demonstrasi dibubarkan paksa.

Dalam waktu dekat Pengurus HMI-MPO Cabang Kendari berencana untuk berkonsolidasi dengan elemen mahasiswa lainnya terkait solidaritas mahasiswa menyikapi kasus kekerasan dan rencana kenaikan harga BBM.

LAPMI Cab Kendari

Kongres ke-29, Saatnya Merevitalisasi Himpunan

HMINEWS.Com – Kongres ke-29 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) diharapkan melahirkan gagasan-gagasan segara. Tidak hanya fokus pada ranah politis, yaitu pemilihan ketua umum yang baru, kongres sudah seharusnya pertarungan wacana juga menguat, sebagai salahsatu ciri kematangan intelektualitas kader yang berhimpun.

Harapan itu tidak berlebih, sebagaimana tema yang digagas, “Rekayasa Kreatif Organisasi dan Perkaderan HMI: Ikhtiar Memperkuat Gerakan Ideologis dan Epistemik HMI.” Sebab  HMI memiliki tiga komitmen utama dalam aktivitasnya, yaitu komitmen ideologis, komitmen epistemologis, dan komitmen organisatoris.

Komitmen ideologis diaplikasikan melalui karakteristik gerakan HMI yang berbasis pada ajaran Islam (al-Qur’an dan sunnah). Islam bagi HMI, tidak hanya sebagai sebuah ritus formal belaka, namun lebih  daripada itu, merupakan landasan perjuangan serta petunjuk dalam berpikir. Komitmen epistemologis diwujudkan HMI melalui penguatan dan pengembangan gerakan intelektual. HMI dan intelektualisme adalah sesuatu yang identik. Sementara itu, komitmen organisatoris diejawantahkan dalam penguatan aspek kepemimpinan dan manajerial, serta keterampilan dalam mengelola persoalan. Demikian penjelasan tema kongres kali ini.

Kecenderungan yang memprihatinkan tersebut, sebagaimana dikhawatirkan Ketua Umum PB HMI MPO, Alto Makmuralto dalam pleno III yang lalu di Depok, adalah kurang diapresiasinya sesi-sesi intelektualitas untuk seluruh cabang se-Indonesia. Sejumlah cabang mendesak forum dialog antar cabang, forum pemaparan ide dan gagasan, untuk dilewatkan dan ingin segera masuk pada forum cabang dengan PB.

HMI MPO: Sebulan Menuju Kongres ke-29

HMINEWS.Com – Sebulan lagi akan diadakan Kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) ke-29 di Bogor-Jawa Barat. Majelis Pekerja Kongres (MPK), Steering Committee (SC) dan Organizing Committee (OC) masih dan terus memantapkan persiapan untuk perhelatan dua tahunan tersebut.

Ahad kemarin (19/5/2013) tim MPK mengadakan rapat di Sekretariat PB HMI-MPO di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Membahas sejumlah hal penting, mulai dari hal-hal yang teknis seperti fiksasi tempat, pembicara, tata tertib dan lainnya. Di antara yang hadir ada Ketua MPK, Herdiana Abdussalam (Badko Jabagbar), Burhanuddin Arifin (mantas anggota KPN), Agus Thohir, Puji Hartoyo, Imam Fahruri (Bogor), Eva Muzdalifah (Jakarta, mantan Ketua Kornas KOHATI), serta anggota tim lainnya.

MPK berharap Kongres ke-29 yang akan digelar pada 26-30 Juni 2013 tersebut berjalan lancar. Semua cabang dapat hadir dengan utusan dan peninjau masing-masing untuk memastikan kongres menghasilkan perbaikan dan kemajuan bagi himpunan dan bangsa Indonesia.

Presiden dan Freeport Digugat atas Longsor Tambang Emas

HMINEWS.Com – Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dan PT Freeport digugat terkait tragedi terowongan longsor yang terjadi di tambang emas Freeport di Papua. Kedua pihak digugat oleh dua WNI atas perbuatan melawan hukum.

Gugatan didaftarkan dengan mekanisme gugatan warga negara (Citizen Lawsuit) oleh FX Arief Poyuono dan Satya Wijayantara, dengan kuasa hukum Habiburrokhman dari Serikat Pengacara Rakyat di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (20/5/2013).

Tragedi terowongan longsor tersebut dinilai sebagai salah satu insiden kecelakan kerja terburuk yang pernah terjadi di Indonesia.

“Yang lebih memprihatinkan lagi adalah sikap pemerintah dan PT Freeport sendiri yang terkesan tertutup, lamban dan tidak melakukan upaya maksimal untuk menyelamatkan para korban yang hingga saat ini masih terperangkap di terowongan longsor tersebut,” tulis dalam rilis.

Menurut mereka,  satu hal yang patut digarisbawahi adalah fakta bahwa tragedi tersebut terjadi di area pelatihan tambang bawah tanah yang seharusnya menjadi area yang paling aman dibanding area kerja PT Freeport lainnya. Jika di area pelatihan saja bisa terjadi tragedi longsor , sangat mungkin peristiwa serupa dapat terjadi di area kerja lain.

“Kami mendapat informasi bahwa sebenarnya peristiwa terowongan longsor dalam skala yang lebih kecil sering terjadi di area kerja PT Freeport, namun selama ini tidak terekspose ke media massa karena lokasinya yang terpencil dan sulit untuk dijangkau,” lanjut Habiburrokhman.

Baik PT Freeport Indonesia maupun pemerintah sama-sama layak digugat ke pengadilan karena telah lalai menjalankan kewajibannya hingga terjadilah tragedi terowongan longsor ini. PT Freeport Indonesia patut diduga tidak memberlakukan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang baik sehingga tidak mampu melindungi seluruh karyawan secara maksimal.

Isi gugatan:

1. Menghukum Pemerintah RI c.q Presiden RI untuk membatalkan Kontrak Karya PT Freeport Indonesia.
2. Menghukum PT Freeport Indonesia untuk menghentikan operasi penambangan di wilayah hukum negara Republik Indonesia.
3. Menghukum PT Freeport Indonesia untuk memberikan santunan masing-masing RP 25.000.000.000,00 (dua puluh lima milyar rupiah) untuk korban selamat dan masing-masing Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah) untuk keluarga korban yang meninggal dunia .
4. Menghukum Para Tergugat untuk meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia dengan memasang iklan permintan maaf di 6 stasiun Televisi Nasional , 6 Surat Kabar Nasional, 6 portal berita nasional dan 6 stasiun radio.

Memaksimalkan Proses Berpikir

Judul buku: MindWeb: Konsep Berpikir Tanpa Mikir
Penulis : Eka Wartana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : Pertama, 2012
Tebal : 221 halaman
Harga : Rp 60.000

Setiap hari manusia memproses rata-rata 50.000-60.000 pikiran. Setiap informasi yang didengar, dirasakan, dilihat, dipikirkan, dialami akan terekam di otak. Misalnya, kita sedang mendengarkan seminar dari seorang pakar. Setiap kata yang disebutkan akan direkam di otak. Secara sadar mungkin hanya sebagian saja yang bisa kita ingat. Semakin lama semakin sedikit yang bisa kita ingat. Sementara itu, semua informasi itu masih tersimpan dengan baik dibawah otak bawah sadar.

Di bawah pengaruh hipnotis, kita akan bisa menjawab dengan lancar tentang materi seminar, yang dalam keadaan sadar sudah tidak bisa diingat lagi. Hal ini bisa menjadi salah satu bukti bahwa otak manusia mempunyai kapasitas yang sangat luar biasa, yang mampu menyimpan begitu banyak informasi. Hebatnya lagi otak kita tak pernah mengeluh dengan banjir informasi yang kita masukkan ke otak.

Sebenarnya rangkaian informasi yang tersimpan di alam bawah sadar itu bisa kita manfaatkan dengan maksimal. Meski demikian, untuk menggali informasi dari bawah sadar, tidaklah semudah kita mengatakannya. Diperlukan latihan yang kontinyu untuk menggabungkan berbagai hal dan informasi dalam pikiran sadar dengan apa yang kita ketahui, yang tersimpan di dalam memori jangka panjang “bawah sadar”.

Buku MindWeb ini sebagai acuan berpikir holistik yang memanfaatkan nilai keterkaitan rangkaian informasi untuk melipat-gandakan dan memaksimalkan kemampuan otak dalam olah pikir. Konsep ini digambarkan dalam diagram yang prosesnya terkait dengan menerima, menyimpan dan mengingat kembali informasi yang kita butuhkan secara utuh, cepat, cermat, tepat, teliti dan efisien.

Dengan sering melakukan latihan membuat diagram MindWeb, pengulangan ini akan menggerakkan subconscious mind untuk membentuk pola pikir yang diinginkan dan dibutuhkan. Diagram MindWeb menggambarkan keterkaitan satu informasi dengan sebuah informasi lainnya, atau dengan beberapa informasi lain. (Hal. 25) Ada dua hal yang sangat penting dan bermanfaat dari buku ini: Pertama, secara umum, hal yang bermanfaat bagi masyarakat adalah kemampuan otak untuk mengingat kembali segala informasi yang kita butuhkan secara utuh, dengan memilah-milah dan memilih kembali informasi tersebut dari kumpulan informasi yang tersimpan di memori bawah sadar kita. (hal. 102). Kedua, hal yang bermanfaat bagi masyarakat ilmiah adalah memanfaatkan mindweb diagram dalam dunia penelitian, terutama untuk menyusun kerangka berpikir ilmiah secara holistik dalam mendeskripsikan hubungan nilai keterkaitan proposisi, konsep, teori, ilmu dan paradigma, serta hopotesis sehingga alur berpikir dapat terlihat dengan jelas, tepat benar, baik dan teliti.

Buku mindweb yang disusun oleh Eka Wartana ini sangat bermanfaat untuk kegiatan sehari-hari di segala bidang dan profesi. Konsep berpikir MindWeb ini bisa diapilikasikan pada bidang mana saja, bisnis, sains, kesehatan, psikologi, kajian politik, hukum, entertainment, NLP, spritual dan lain sebagainya.

Saifullah, kader HMI Kom. Syariah IAIN Walisongo Semarang

Miskin yang Sabar atau Kaya yang Bersyukur?

Manakah yang lebih mulia antara orang miskin yang bersabar atau orang kaya yang bersyukur? Orang miskin yang beriman dapat masuk surga sekian ratus tahun lebih cepat daripada orang kaya. Tapi itu jika mengabaikan faktor lain seperti apakah orang miskin sudah pasti tidak punya dosa? Belum lagi, orang miskin juga belum tentu bebas dari berbagai sifat hasad (iri dan dengki) misalnya, sombong, dan berbagai sifat ‘manusiawi’ lainnya.

Selain itu, ketidak-ikhlasan dan riya terhadap orang lain bisa saja dimiliki oleh orang yang tidak beramal. Artinya, sangat sering orang miskin dipenuhi kecurigaan dalam melihat amal orang kaya. Bahkan dalam diri orang miskin pun bisa bercokol kesombongan, dan itulah kesombongan yang paling dibenci Allah.

Tidak sedikit pula manusia yang jebol pertahanannya karena kemiskinan, mengambil milik orang lain, mencuri, terjerumus pada dunia hitam, menjual diri (melacur), maupun kehinaan lainnya, sebagaimana sajak WS Rendra:

Seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan

Meski begitu, pintu-pintu kebaikan tidak tertutup sama sekali bagi orang-orang miskin. Karena dzikir, tasbih, tahmid, takbir dan dzikir lainnya dapat menjadi sedekah bagi orang-orang yang tidak mampu bersedekah dengan harta. Kesabaran menjalani hidup dalam kekurangan juga merupakan keutamaan. Dikisahkan, segolongan sahabat yang miskin datang kepada Rasulullah. Mereka mengeluh karena keadaan yang membelit tidak memungkinkan mereka untuk beramal sebagaimana orang-orang kaya beramal dengan harta mereka.

Oleh Rasulullah, kepada golongan papa tersebut diajarkan agar setiap selesai shalat membaca tasbih, tahmid dan takbir 100 kali, yang keutamaannya menyamai infaq dan shadaqah yang dikeluarkan orang-orang kaya. Pulanglah para fuqara tersebut dan mengamalkan dzikir itu setiap selesai shalat mereka.

Seiring berjalannya waktu, orang-orang kaya dari para sahabat pun mengetahui keutamaan dzikir atau wirid yang Rasulullah ajarkan untuk diamalkan selesai shalat. Mereka pun berdzikir sama seperti dzikir orang-orang miskin tersebut. Kembalilah para fuqara kepada Rasulullah dan mengadu, bahwa orang-orang kaya telah berdzikir dengan wirid yang sama. Dengan demikian artinya lagi-lagi golongan miskin kalah daripada golongan kaya dalam hal amal kebaikan.

Sabda Rasulullah mengenai hal tersebut: “Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Hadits Muttafaqun ‘Alaih).

Mengapa Kita Harus Kaya?

Banyak sekali jawaban untuk satu pertanyaan tersebut. Dengan uang, banyak hal menjadi mudah. Dengan uang, ibadah-ibadah seperti haji, umrah, qurban, aqiqah dan sebagainya kita tunaikan. Demikian juga halnya dengan pembayaran zakat, fidyah, kafarah, membebaskan budak, menyantuni faqir miskin dan menafkahi anak yatim.

Hingga zaman ini masih banyak masyarakat yang terjerat hutang pada lintah darat (rentenir). Hal itu terpaksa mereka tempuh karena melihat bahwa itu adalah satu-satunya solusi –karena ketidaktahuan atau karena terlanjur terjebak. Alangkah baiknya jika kita mampu memberi solusi untuk mereka melepaskan diri dari jeratan hutang bunga berbunga tersebut. Tentunya untuk itu diperlukan modal yang cukup. Artinya, lagi-lagi itu adalah masalah uang.

Tidak sedikit di antara kita yang suatu kali dimintai tolong oleh teman; pinjam uang. Bagaimana perasaan kita ketika pada waktu kawan dekat, tetangga atau saudara kita itu begitu butuh bantuan, tetapi pada saat yang sama kita tidak bisa membantu? Misalnya ketika tetangga atau teman dekat terkena musibah, persiapan nikah, persalinan di rumah sakit, membayar hutang yang jatuh tempo dan sebagainya. Kita pasti merasa trenyuh, malu dan sekaligus merasa bersalah jika tidak bisa membantu mereka. Lain halnya jika kita ada uang untuk membantu mereka, sebagai manusia normal pastilah batin kita merasa senang bisa membantu teman, membantu meringankan beban mereka meski sedikit.

Harus kita akui bahwa begitu banyak persoalan yang berpangkal pada kemiskinan. Di antaranya kebodohan, tindak kriminal, pelacuran dan sebagainya. Karena orangtua miskin, anak-anak tidak bisa bersekolah, dan karenanya mereka tetap dalam keadaan bodoh, karena kebodohan itu maka mereka tidak dapat meraih pekerjaan yang baik, akhirnya mereka terus-menerus berkubang dalam kemiskinan. Itulah lingkaran setan antara kemiskinan dan kebodohan. Begitu juga dengan besarnya angka kriminalitas karena faktor ekonomi, seperti pencurian, penodongan, perampokan dan sebagainya. Bahkan karena alasan miskin, tidak sedikit yang terjerumus ke dalam pelacuran. Na’udzubillah. Hal itu sepertinya sudah menjadi kesimpulan umum mengenai dampak negatif akibat kemiskinan.

Keutamaan Muslim Kaya

Dalam hadits yang agak panjang di atas telah jelas kiranya keutamaan orang-orang mukmin yang kaya, yang dengan hartanya tersebut dapat mengerjakan amal ibadah yang lebih dibanding dari orang-orang mukmin dari golongan miskin.

Itulah kekayaan yang mendatangkan kebaikan. Kekayaan yang tidak ditahan-tahan dengan kepelitan, takut miskin atau kekufuran terhadap Allah Sang Maha Pemberi. Orang-orang seperti itulah yang harus membuat orang-orang miskin terpacu. Bahkan ‘iri’ dalam konteks yang demikian diperbolehkan. Tidak boleh ada rasa iri kecuali dalam dua hal, yaitu:

  • Seseorang yang Allah karuniai kekayaan kemudian dibelanjakan pada jalan yang haq
  • Seseorang yang Allah karuniai hikmah (ilmu), dia amalkan dan mengajarkannya. (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Dalam koridor itulah kekayaan menjadi keutamaan dan menambah kedekatan di sisi Allah. Kekayaan yang mampu menyelamatkan manusia dari api neraka. Kekayaan yang bermanfaat bagi kehidupan dan sesama, menyelamatkan orang-orang miskin dari jurang kehinaan dan lembah hitam. Mencegah mereka yang karena amat miskinnya sehingga terpaksa atau tergoda untuk menjual kehormatan, menempuh jalan yang haram, menyakiti sesama, mengambil hak milik orang lain dan berbagai pelanggaran lain.

Jika orang-orang kaya bersikap sebagaimana seharusnya, mendatangkan banyak kemaslahatan dan meminimalkan atau menetralisir berbagai potensi kejahatan, maka mereka insya Allah menjadi golongan yang lebih dicintai Allah.

Fathur

Sejarawan HMI Agus Salim Sitompul Tutup Usia

Agus Salim Sitompul

HMINEWS.Com – Sejarawan Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI), Agus Salim Sitompul meninggal dunia di RSUP Dr Sardjito – Yogyakarta, Sabtu (18/5/2013). Ia wafat dalam usia 68 tahun setelah menderita komplikasi penyakit yang cukup lama.

Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut disemayamkan di rumah duka di Jalan Pangajapsih No 5, Sukoharjo, Caturtunggal Depok-Sleman. Banyak tokoh HMI, khususnya yang berada di lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta yang melayat ke rumah duka, antara lain mantan Ketua Umum PB HMI Chumaidi Syarif Romas.

Menurut putra almarhum, Salman Drajat Sitompul, sang ayah dirawat di RS Sardjito sejak 3 Mei 2013 lalu. “Sudah cukup lama dirawat,” ungkap Salman.

Agus Salim Sitompul merupakan sejarawan HMI (banyak menulis buku tentang HMI). Di antaranya:

  1. Citra Diri HMI
  2. Sejarah Perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam (1947-1975)
  3. Historiografi Himpunan Mahasiswa Islam tahun 1947-1993
  4. Menyatu dengan umat, menyatu dengan bangsa: Pemikiran keislaman keindonesiaan HMI, 1947-1997
  5. Korps HMI-Wati dalam Sejarah 1966-1994
  6. 44 Indikator Kemunduran HMI
  7. Pemikiran HMI dan Relevansinya dengan Sejarah Perjuangan Bangsa
  8. HMI dalam Pandangan Seorang Pendeta

Mengharmoniskan Ketegangan Gerakan

Dalam lanskap gerakan sosial terdapat beragam metodologi dan teknik gerakan. Semua gerakan tersebut memiliki  cara tersendiri dalam mengekspresikan dirinya di tengah masyarakat, ada yang selalu vis a vis dengan sistem ada yang mampu menerima kebenaran sistem dalam bagian tertentu dan hanya menolak bagian yang lain. Ada pula yang menganggap sistem telah tepat (dalam konsep teoritis) hanya  pelaku dari sistem tersebut yang melakukan tindakan berbanding terbalik dengan aturan sistem.

 Dari segi kecenderungan pada wilayah sifat maka varian gerakan juga memiliki sifat dinamis, terdapat varian gerakan yang radikal, moderat, bahkan ada pula yang cenderung “kompromistis.” Disadari bahwa deskripsi model gerakan sebagaimana yang penulis coba gambarkan sama sekali tidak bermakud mengkotak-kotakkan apalagi membuat sekat di antara varian gerakan yang ada, hal ini lebih dimaksudkan untuk menganalisis ragam kecenderungan gerakan dalam ranah sosial kemasyarakatan.

Pada wilayah yang lebih luas, model gerakan biasanya hanya dipetakan ke dalam dua mainstream utama yakni gerakan struktur dan gerakan kultur. Gerakan struktur lebih menitikberatkan perubahan melalui langkah struktur formal, varian gerakan struktur tidak selamanya masuk ke dalam struktur demi mencapai cita ideal gerakannya, hal tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi sistem struktur yang tengah berlangsung. Adapun gerakan kultur lebih banyak bermain di luar area struktur formal, gerakannya memang tidak bombastis karena dilakukan secara bertahap, geraka kultur lebih banyak diarahkan untuk melakukan proses pencerahan kepada masyarakat, keyakinan yang dianut adalah jika masyarakat tercerahkan dan sadar akan kondisi riil di sekitarnya maka mereka akan bergerak dengan sendirinya walaupun tanpa digerakkan, kerja – kerjanya biasanya lebih berorientasi jangka panjang. Baik gerakan struktur maupun gerakan kultur sama-sama memiliki kontribusi terhadap dinamika perubahan.

 Terkait dengan keragaman varian gerakan, maka masalah yang sering muncul adalah masih adanya kecenderungan oknum tertentu untuk melakukan proses pendikotomian terhadap varian gerakan yang ada; radikal dengan moderat, struktur dengan kultur. Dalam persepsi penulis, cara pandang dikotomis seperti itu cenderung kontra produktif, efek negatifnya lebih banyak dari efek positif. Ragam kecenderungan gerakan yang ada tidak seharusnya dipersepsi secara dikotomis karena, diakui atau tidak, semua model gerakan tersebut bermuara pada satu tujuan yakni melahirkan perubahan. Perbedaan metodologi dan teknis hendaknya lebih dilihat sebagai perbedaan sudut pandang dalam membaca realitas, mustahil untuk menyeragamkan sudut pandang dalam mempersepsi realitas sosial kemasyarakatan, keragaman model gerakan semestinya lebih dilihat sebagai sebuah potensi dalam mewujudkan perubahan dalam skala makro dengan perhitungan bahwa jika ruang gerakan diapresiasi maka hal itu berarti proses menuju perubahan berlangsung dalam setiap aspek kehidupan masyarakat.

Penulis tidak hendak memvonis bahwa gerakan sruktur tidak memiliki dimensi kultur, dan begitu pun sebaliknya, gerakan struktur tidak memiliki dimensi sruktur. Varian gerakan yang lebih menitikberatkan pada aspek struktur dalam kondisi tertentu juga melakukan aktifitas pada wilayah kultur, demikian pula sebaliknya, hanya saja kita tidak bisa menafikan bahwa setiap varian gerakan memiliki kecenderungan pada salah satu aspek tadi, kultur atau struktur. Penting pula dipertegas bahwa  mempersepsi ragam gerakan dalam konteks non-dikotomis bukan bermaksud melebur semua model gerakan ke dalam satu arus kecenderungan, akan tetapi ia lebih dimaksudkan untuk menghindari rasa superioritas berlebihan dalam mainstream gerakan tertentu. Jika rasa superioritas berlebihan muncul dalam mainstream gerakan tertentu maka hal tersebut akan menyebabkan rasa percaya diri berlebihan sehingga menganggap model gerakannyalah yang paling hebat dan paling berpengaruh dalam arus perubahan sosial, situasi seperti ini justru akan memunculkan sekat di antara varian gerakan yang ada, mesti dibangun pemahaman bahwa setiap varian gerakan “turut” serta dalam proses menuju perubahan sepanjang ia konsisten pada idealisme gerakan yang diyakininya.

*Zaenal Abidin Riam
Mantan Ketua HMI MPO Korkom Makassar Selatan

Komisariat FH UII Kembali Aktifkan Pengajian Anak

HMINEWS.Com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) Komisariat Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) kembali aktif dalam kegiatan mengajar bersama di Tempat Pengajian Anak (TPA) Bani Ismail yang beralamat di Jl. Nitikan Baru gang Yudistira Yogyakarta.  Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja dari salah satu unit yang ada di HMI Komisariat FH UII sendiri, tepatnya Unit Dakwah yang ada di bawah pimpinan Muhammad Fathurrohman.

“Pada dasarnya bukan hanya pada kepengurusan kali ini saja HMI Komisariat Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia mengadakan kegiatan belajar-mengajar di TPA yang bersangkutan, kegiatan ini sudah dimulai sejak masa kepengurusan yang sebelum-sebelumnya. Hanya saja tidak dapat dipungkiri bahwasanya dikarenakan adanya beberapa kendala pada kepengurusan sebelumnya, kegiatan belajar-mengajar tersebut  kurang berjalan secara maksimal sebagaimana yang diharapkan. Tetapi alhamdulillah semua itu dapat kita perbaiki bersama pada kepengurusan kali ini dan sejauh ini kegiatan belajar-mengajar tersebut berjalan sebagaimana mestinya” ujar Ketua Umum HMI Komisariat FH UII Saudara Dolly Setiawan saat di temui di sekretariat HMI FH UII (17/5/2013).

Dijelaskan juga saat ditemui setelah kegiatan belajar-mengajar di TPA yang bersangkutan, Fathurohman selaku Ketua Unit Dakwah HMI FH UII yang sekaligus merangkap sebagai penanggung jawab kegiatan belajar-mengajar di TPA tersebut mengatakan bahwa kegiatan belajar-mengajar ini merupakan kegiatan rutin yang diadakan setiap minggunya. Kegiatan ini sendiri sudah dimulai lebih kurang  dari dua bulan yang lalu. Kegiatan ini diselenggarakan sebanyak tiga kali dalam seminggu yaitu pada hari Senin,  Jum’at dan  Sabtu dengan  jumlah siswa TPA yang mencapai 40 anak yang merupakan warga sekitar TPA Bani Ismail.

Minat anak untuk memperoleh ilmu keislaman begitu terasa dengan melihat betapa antusiasnya anak-anak yang mengikuti kegiatan belajar-mengajar di TPA Bani Ismail tersebut. Hanya saja wadah mereka untuk menimba ilmu keislaman tersebut kurang begitu terasa ada. Bagaimana tidak, hal ini begitu terasa saat kita melihat kenyataan yang ada sekarang ini. Sangat sedikit adanya kesadaran remaja untuk melakukan hal-hal positif. Apa yang dilakukan kader HMI FH UII termasuk bagian dari kelompok yang sedikit itu.

Hal ini juga dirasakan Muhammad Haekal, Ketua Takmir HMI Komisariat FH UII. “Saya tidak begitu mengetahui apakah teman-teman pengurus di HMI komisariat maupun cabang lain juga mengadakan kegiatan serupa seperti yang kita adakan ini. Tetapi apapun itu, marilah kita bersama-sama membuat dobrakan baru dengan terus melakukan perbuatan positif yang tentu saja itu mengandung nilai-nilai keislaman. Harapan saya, karena kita tahu bahwasanya HMI merupakan suatu organisasi kemahasiswaan yang berbasiskan nilai-nilai keislaman, sudah semestinya kita menularkan nilai-nilai keislaman yang diajarkan oleh agama kita” ujarnya saat ditemui setelah selesainya kegiatan belajar-mengajar di TPA Bani Ismail.

Harry Setya Nugraha
Kader HMI Fakultas Hukum UII

Perlawanan Sosial Geng Motor

Miris, kekerasan selalu menjadi ikon pemberitaan media massa yang fenomenal. Namun sebenarnya, kekerasan mustahil muncul tanpa sebab. Ia lahir atas tekanan hasrat yang begitu tinggi. Melibas batas-batas kemanusiaan demi memuaskan hasrat adalah jalan biasa dalam dunia kekerasan.

Tampak sekelompok pemuda sekonyong-konyong menjadi monster yang sadis dan membabi-buta. Pemerkosaan, jambret dan pengrusakan menjadi bagian tindak kebrutalan. Kisah geng motor bukan cerita lama. Ia adalah fenomena yang selalu menyeruak, dengan kata lain, telah tampil berulang-ulang mementaskan kebrutalannya. Dalam analisa ringan tindakan yang selalu berulang memberi arti bahwa ada keinginan yang terselubung (gerakan). Apakah gerangan?

Menurut Sidney Tarrow (1998),pengamat politik,mengatakan bahwa,secara historis,aksi kolektif dengan kekerasan paling sering dipilih. Mengapa? Kekerasan paling cepat menarik perhatian petugas penjaga “tatanan sosial,” bahkan kekerasan paling mudah dibuat oleh sekelompok kecil orang. Padahal, dalam teori social movement-nya Gene Sharp, dari 190 model gerakan sosial, hanya satu model kekerasan. Berarti ada 189 gerakan bersifat “anti kekerasan.” Lalu mengapa kekerasan menjadi gerakan yang paling ngentrend?

Pada sisi ini kekerasan menjadi pilihan sosial yang tepat. Kekerasan memiliki dampak psikologis yang kuat karena mampu menyita perhatian publik dalam sekejap. Begitu pun media massa begitu “khusyuk”  menayangkan perilaku kekerasan. Kemungkinan besar media paham dengan pemangsaan pasar. Media  massa mengkonstruk realitas dengan memotret kekerasan sebagai hiburan alternatif atas ambruknya perpolitikan. Fenomena politik telah in-fatsun. Kekuasaan bukan lagi dalam praktik sosial yang memberikan pengetahuan tetapi terjelma dalam wujud yang binal. Menjadi medan pelacuran kepentingan.

Kondisi kebangsaan kita yang dihiasi dengan “borok”nya perilaku elit-elit politik membuat kita jijik. Friksi dalam masyarakat juga menguat. Dalam merespon kondisi ini, ada yang bungkam dan ada yang menggunakan format gerakan tertentu dalam perlawanannya.

Kelompok geng motor bisa dikategorikan telah mengkonsumsi kekerasan sebagai pilihan sosial untuk digerakkan.Dalam hal ini,geng motor menjadi komunitas perlawanan yang tidak disadari.Kelompok geng motor sekedar dipandang sebagai fenomena kenakalan anak muda.Akan lebih dari label ini,sebenarnya mereka tengah melakukan perlawanan sosial.

Dalam masalah ini, bisa jadi dipengaruhi dua alasan yang mendasari munculnya perlawanan geng motor. Pertama, terabaikannya pengembangan bakat. Dewasa ini, kelompok geng motor cuma identik sebagai sasaran empuk politisi. Politisi mendulang suara lewat kelompok yang dipandang tinggi soliditasnya. Kedua, sempitnya lapangan kerja dan minim pemberdayaan. Hal ini munculnya perasaan “keterdesakan’’ yang memaksa kehendak untuk melakukan apapun demi mempertahankan diri. Mereka harus mencukupi kehidupan mereka tanpa pekerjaan dan keterampilan yang menunjang.

Perlawanan sosial kelompok geng motor mesti diseriusi. Perlawanan ini tidak diperkuat kualitas moral dan intelektual yang memadai. Mereka menampilkan gerakan perlawanan dengan sadisme dan tak terencana. Jadi bisa muncul disaat ada peluang untuk menyalurkan hasrat perlawanannya. Oleh karena itu mesti disikapi lebih serius, jangan dipandang sebagai kenakalan semata sebelum banyak jatuh korban.

Jufra Udo
Pengurus HMI-MPO Cabang Kendari