RSUD Ajapange Soppeng Tidak Memadai

HMINEWS.Com – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ajapange Soppeng tidak mampu menampung jumlah pasien. Karena persoalan tersebut, ada pasien yang menjalani rawat inap di lorong rumah sakit, tidak di dalam kamar.

“Ada tempat tidur di lorong ruangan Keperawatan Bahagia (Kebidanan dan Kandungan), tiga-tiganya pengguna Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) dan Jampersal (Jaminan Persalinan),” kata Sumarlin, Anggota HMI Cabang Makassar yang berkunjung ke rumah sakit tersebut, Kamis (9/5/2013).

Ia melanjutkan, dari penuturan perawat yang tidak mau disebut namanya, dirawatnya pasien di lorong karena kapasitas ruangan yang tidak mencukupi akibat banyak pasien yang melahirkan.

Para pasien berharap pelayanan kesehatan gratis terus ditingkatkan, dan meskipun gratis harus tetap memperhatikan kualitasnya, sehingga kesehatan masyarakat semakin baik.

Perlakuan Terhadap Konsumen ‘Sekali Lewat’

Nasi Padang (ilustrai, net)

Pepatah yang sangat populer, dan sama-sama kita tahu, mengatakan: “Konsumen adalah raja,” “Pembeli adalah raja.” Maksudnya pun sama-sama kita ketahui bahwa konsumen harus diperlakukan dengan baik, karena merekalah yang diharap membeli, baik berupa barang ataupun jasa dijual.

Saya begitu terharu terhadap perlakuan seorang ibu pemilik sebuah Rumah Makan Padang di Medan. Ibu tersebut begitu ramah dalam melayani penjual. Tapi bukan hanya itu, ia menenteramkan dan menenangkan kami agar tetap tenang saat pegawai di loket karcis bus tujuan Medan-Tanjung Balai menyuruh kami cepat-cepat menuju bus, saat kami makan di warung tersebut yang letaknya di sebelah pangkalan. Waktu itu kami dalam perjalanan menuju HMI Cabang Asahan dalam rangka mengisi training.

Si ibu mengatakan, “Nggakpapa, dik, biasa.. Duduk aja, makan dulu. Tenang aja, itu sopirnya masih main catur, yang pakai baju hijau,” sambil mengarahkan pandangannya pada seorang lelaki yang tengah bermain catur dengan lelaki lainnya. Menurutnya hal itu sudah biasa, karena memang begitulah kurang lebihnya kebiasaan pegawai loket tersebut. Kami pun meneruskan makan, meski tentu saja kami percepat. Begitu juga teh manis panas yang kami pesan akhirnya kami minum dengan es agar lebih cepat.

Tidak berapa lama, pegawai loket datang lagi menyuruh kami cepat-cepat. Ibu pemilik warung makan kembali menetralisir suasana. Sedangkan sang sopir pun masih belum beranjak dari tempat duduknya bermain catur. Setelah itu, pegawai berseragam tersebut menghampiri sopir dan memperlihatkan kertas berisi daftar penumpang yang telah membeli tiket serta bus siap diberangkatkan. Kami pun membayar makanan dan menyelesaikan minum teh, namun karena tidak habis, si ibu kembali dengan keramahannya yang kami rasakan begitu tulus, menawarkan untuk membungkus teh kami dengan kantong plastik, kami iyakan. Tak hanya itu, dia pun akan mengambilkan sedotan, namun kami katakan tidak perlu, cukup diplastik saja.

Perjalanan berlanjut dan saya terus terfikir pada perlakuan si ibu tadi. Padahal, apalah pentingnya dua pembeli di warungnya pada tengah malam itu, yang dia tahu pula kami berdua tidak tinggal di dekat situ dan yang akan jadi pelanggannya. Meskipun ia tetap pada hukum jual-beli, yang artinya dengan keramahan tersebut toh saya tetap membayar dengan harga yang sama, akan tetapi saya tidak bisa mungkir bahwa saya sangat terkesan dan sekaligus terharu.

Banyak kita temui acapkali para pedagang dari kalangan kita sendiri menjual kepada kita dengan harga tinggi hanya karena mereka tahu kita hanya sekali membeli di tempatnya tersebut saat sedang kebetulan lewat, berwisata atau karena kunjungan lainnya. Yang terfikir dan menjadi orientasi mereka adalah bagaimana mendapatkan keuntungan setinggi mungkin. Tidak jadi pelanggan tidak masalah, toh kita hanya sekali itu membeli. Selanjutnya tidak. Begitu kira-kira dari pengalaman transaksi di berbagai tempat. Sudah demikian, perlakuannya pun kerap kurang ramah.

Tapi si ibu pemilik warung Padang di Medan itu berbeda. Dia perlakukan kami yang baru satu kali mampir, dan belum pasti entah kapan lagi bisa mampir ke warungnya tersebut,  dengan pelayanan yang ‘sempurna.’ Pelayanannya pada pembeli itu sudah seperti orang-orang dari suatu perusahaan yang tengah berusaha mendapatkan tender besar yang menjamu konsumen atau bahkan calon konsumen dengan service memuaskan karena berharap keuntungan yang lebih besar, bahkan keuntungan yang berlipat-lipat.

Si ibu tadi demikian dalam pelayanannya, meski dia, saya kira, sadar tidak sedang berharap keuntungan berlipat bahwa saya kemudian akan memborong dagangannya atau menjadi pelangganya. Karena saya pas lewat saja. Dia ikhlas meski terhadap satu dua musafir yang tengah mampir dan satu dua kali pula membeli di tempatnya tersebut.

Begitulah memang idealnya perilaku standar para pelaku usaha, entrepreneur, wiraswasta, pedagang atau siapapun yang berhubungan dengan bisnis. Memperlakukan semua konsumen dengan baik. Memperlakukan konsumen secara ‘kacamata kuda,’ karena tidak diketahui yang mana satu-dua dari ribuan orang yang singgah, melihat-lihat dan syukur-syukur membeli itu, yang akan jadi pelanggan besar.

Memperlakukan dengan tidak meremehkan satu dua konsumen, meski penampilannya tidak ‘wah,’ karena kadang penampilan seseorang bisa menipu. Apalagi banyak orang kaya yang berpenampilan sederhana dan tidak menampakkan diri secara berlebihan bahwa mereka orang-orang sukses.

Semua orang dianggap berpotensi sama dan satu dua pembeli yang dikira datang hanya untuk satu kali itu saja tetap tidak dikecewakan, karena bisa jadi justru mereka calon pembeli potensial. Di lain sisi, sudah menjadi sunnatullah bahwa kebaikan akan selalu dibalas dengan kebaikan. Tidak selalu oleh orang yang menerima kebaikan itu secara langsung, akan tetapi teramat sering ‘balasan kontan’ (di dunia) tersebut datang melalui pihak-pihak yang tidak terduga sama sekali. Belum lagi doa-doa tulus orang untuk kita. Itulah cara Allah membalas.

Fathur

Meraih Mimpi di Tengah Keterbatasan

Judul : Tidur Berbantal Koran, Kisah Inspiratif Seorang Penjual Koran Menjadi Wartawan
Penulis : N. Mursidi
Penerbit : Elex Media Komputindo
Cetakan : 1/Februari 2013
Tebal : xiv + 243 halaman
ISBN : 978-602-020-594-6
Harga : Rp44.800

“Di jalanan aku mengenal kehidupan. Dari halaman koran, aku bisa belajar menulis.” – Nur Mursidi

Tatkala masih kuliah di Kampus IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, penulis pernah mengontrak rumah di dekat rel kereta api Sapen. Agar lebih murah, mereka urunan (membayar) beramai-ramai. Total penghuninya ada genap 8 orang. Uniknya, hampir setiap lima belas menit lantai rumah tersebut berguncang dan menimbulkan gempa lokal.

Alhasil, selama tiga bulan pertama, ia tak bisa tidur nyenyak di malam hari. Tapi ibarat blessings in disguise alias berkah terselubung, ia malah jadi lebih produktif menulis. Suara mesin ketiknya bertalu memecah kesunyian malam. Saat kereta api melintas, otomatis kantuknya sirna akibat guncangan kecil yang tercipta. Tahun 2003 merupakan puncak kreativitas Nur Mursidi. Ada total lima puluh enam tulisan dalam aneka genre seperti – resensi buku, cerpen, esai sastra, esai film, opini, dan puisi – bertebaran di berbagai media lokal dan nasional.

Begitulah sekilas perjuangan hidup penulis buku ini. Kini pria kelahiran Lasem, Jawa Tengah tersebut hijrah ke Jakarta. Ia bekerja sebagai wartawan di sebuah majalah Islam bernama Hidayah. Pada saat seleksi wawancara calon jurnalis, pimpinan redaksi kagum dengan karya tulisnya yang dilampirkan dalam surat lamaran. Ternyata ijazah sarjananya lebih sebagai formalitas belaka. “Rupanya banyak tulisanmu yang sudah dimuat di lembaran koran. Bahkan kau mampu menulis dalam banyak genre,” puji sang redaktur saat itu.

Tulisan-tulisan N. Mursidi ialah – meminjam istilah Tukul Arwana – hasil kristalisasi keringat. Dulu ia harus naik-turun bus antarkota untuk menjajakan koran di jalanan kota Gudeg. Lewat buku “Tidur Berbantal Koran” ini ia berbagi pengalaman tersebut. Setiap hari bertemu dengan tukang becak, penjual rokok, sopir bus, anak jalanan, pengamen, bahkan pencopet. Bahkan pada suatu siang perutnya pun nyaris ditikam preman yang mabuk. Uang Rp2.000 hasil menjual koran ludes seketika.

Kendati demikian, sederet pelajaran berharga dapat ia peroleh di jalanan. Dari kernet bus, ia belajar bagaimana naik dan turun bus agar tak jatuh terjerembab. Dari penjual rokok, ia belajar kesabaran kalau koran-korannya tak laku. Ia kerap kali menjumpai si penjual rokok menunggui kios sampai larut malam. Dari sopir bis, ia belajar mengendalikan emosi karena setiap sopir bus diburu waktu ngetem yang terbatas dan harus bersaing mencari penumpang. Dari tukang becak, ia sadar untuk rutin membaca koran di pagi hari. Dari gerombolan pencopet, ia belajar cara mencari uang dengan halal. Sebab ia jadi tahu kalau cara yang mereka tempuh tidak barokah itu justru merugikan orang lain (halaman 55).

“Tidur Berbantal Koran” merupakan potret perjuangan seorang anak manusia yang tak kenal lelah. Hingga ia mampu meraih mimpi di tengah keterbatasan. Sepakat dengan pendapat Effendi Bepe, “Buku ini perlu dibaca orang muda atau siapa saja yang sedang “galau” merajut masa depan. Sukses memang harus diperjuangkan, sebab tidak akan pernah jatuh dari langit.”

Selamat membaca!

T. Nugroho Angkasa S.Pd
Guru Bahasa Inggris di PKBM Angon (Sekolah Alam) Yogyakarta

Resolusi HMI untuk Konflik Sampang

Pengungsi di GOR Wijaya Kusuma Sampang (net)

HMINEWS.Com – Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI-MPO) menyerukan penyelesaian kasus kekerasan sesama muslim di Sampang-Madura. Kekerasan tersebut harus diakhiri dengan penyelesaian yang adil dan tidak melanggar hak warga negara.

Berikut pernyataan sikap Komisi Eksternal PB HMI MPO mengenai kasus tersebut:

Pertama. Perbedaan keyakinan harus diselesaikan dengan jalan damai; dialog dan da’wah. Jika memang dianggap menyalahi kebenaran maka harus dengan penyadaran, bukan pemaksaan. Memaksakan keyakinan dengan kekerasan adalah menyalahi prinsip Islam: Laa ikraha fid diin (tidak ada paksaan dalam agama).

Kedua. Perampasan hak milik, dalam hal ini menghalangi kelompok muslim Syiah kembali dan menempati rumah masing-masing, adalah tidak dapat dibenarkan. Perbedaan madzhab ataupun kepercayaan tidak bisa menjadi dasar perampasan hak, pengusiran maupun tindakan kekerasan lain. Bahkan Nabi saja bisa bertetangga dengan non-muslim.

Akibat ditolak untuk kembali dari pengungsian setelah terusir, warga Muslim Syiah Sampang bertahan di GOR Wijaya Kusuma Sampang kehilangan mata pencaharian, bergantung pada bantuan dari luar dan kehilangan hak untuk menempati rumah sebagai hak milik mereka yang sah.

Ketiga. Menyerukan para pemimpin umat agar mengedepankan dialog dan da’wah, menjaga persatuan, mencegah dari tindakan provokasi dan kekerasan yang akan menimbulkan kerusakan, mencemarkan nama Islam.

Keempat. Mendesak pemerintah sebagai ulil amri segera bertindak tegas menghentikan kekerasan, dan wajib melindungi semua hak warga negara yang telah dijamin oleh konstitusi negara tanpa kecuali.

Demikian pernyataan sikap PB HMI MPO.

Jakarta, 8 Mei 2013.
Fathurrahman (Ketua),  Muhammad Akbar (Sekretaris Jenderal)

Wayang, Antara Kreativitas Dalang dan Kebutuhan Penonton

Berfoto bersama usai diskusi (foto: Yanusa Nugroho)

HMINEWS.Com – Wayang kulit ‘Purwa’ bukan sekedar seni pertunjukan yang karenanya bisa diubah sekenanya. Modifikasi dalam seni pertunjukannya diperbolehkan, namun tetap harus ada patokan yang jadi pegangan, tidak serta merta keluar sepenuhnya dari pakem yang ada.

Wayang Kulit Purwa ‘Jawa’, yang biasa disebut sebagai ‘wayang kulit’ saja, memang terbukti bisa bertahan dari terpaan zaman. Tetapi itu melalui proses adaptasi dan penyesuaian yang luar biasa pula, mampu tetap memikat penontonnya dengan kreativitas sang dalang, maupun kesediaan insan wayang untuk ‘menuruti’ selera penontonnya. Bertemunya dua kutub tersebut, kreativitas dalang dan selera penonton, yang memungkinkan wayang tetap digemari dari generasi ke generasi, terlihat pada setiap pertunjukan wayang, jumlah penonton dari kalangan muda selalu lebih banyak.

Memang ada pakem-pakem atau aturan baku dari wayang yang harus dipatuhi. Tetapi ketaatan pada standar baku tidak boleh kaku, tetap harus ada ‘jembatan’ agar pentonton mengerti apa yang dimaksudkan dalam pakeliran tersebut, misalnya, caturan dalam bahasa Kawi atau Jawa Kuno yang makin jarang orang mengetahui maknanya. Demikian diungkapkan Ki Purbo Asmoro, dalang wayang kulit ‘Gagrak Surakarta’ hadir sebagai pembicara pada diskusi “Wayang, Antara Kreativitas Dalang dan Kebutuhan Penonton’ di rumah penyinden asal Amerika Serikat, Kitsie Emerson di Kemang Utara VII -9, Jum’at (3/5/2013).

“Kalau terlalu baku, yang mengerti hanya dalangnya, menyenangkan hati si dalang saja dan tidak mengerti bahwa dia itu ditonton orang,” ujarnya.

Sebagai dalang yang sudah dua puluhan tahun berkecimpung dalam dunia pewayangan, adaptasi berbagai kreasi baru memang semakin marak. Selera penonton pun berbeda-beda, ada yang menyukai, misalnya, tambahan lawak dan campursari dalam pertunjukan wayang, namun ada juga penonton yang fanatik pada gaya klasik.

Daerah seperti Purworejo, ujarnya, welcome terhadap gaya pakeliran yang berbeda, yang meski dekat dan sangat familiar dengan gaya Yogyakarta, tetap antusias dengan pementasan wayang gaya Solo, saat dalang asal Pacitan tersebut pentas di alun-alun Purworejo. Sedangkan daerah seperti Tuban dan Nganjuk merupakan daerah dengan penonton wayang yang sangat menyukai tambahan lawak dan campursari.

“Sedangkan Sragen, itu daerah yang seneng nanggap wayang tapi nggak ditonton. Kalau di Pati, para penontonnya tidak pernah bertepuk tangan tidak pernah tertawa, tetapi tidak juga mau beranjak pergi,” kata Ki Purbo tertawa.

Penambahan unsur dari luar dunia pakeliran seperti lawak dan campursari tersebut, diakui memang bisa ditolerir untuk dalang-dalang tertentu, tetapi ada juga yang tidak bisa ditolerir oleh pentontonnya sendiri, yaitu untuk dalang yang memang disukai karena ke-baku-an atau keklasikannya. Sejumlah peserta diskusi mewakili penonton pun mengungkapkan hal serupa.

Budaya Pengisi Jatidiri dan Karakter Manusia

Yanusa Nugroho, sastrawan, mengungkapkan wayang sebagai salahsatu khazanah milik Indonesia, seyogianya tidak diubah-ubah yang terlalu keluar dari pakem untuk menuruti selera penonton. Sebaliknya, dalanglah yang harus mendidik penonton dengan nilai baku dan kreativitasnya, menampilkan nilai-nilai yang terkandung dalam wayang agar dapat diinternalisasikan.

Wayang, ujarnya, merupakan mitologi Jawa sebagai sumber paling dalam dan murni, sebagaimana peradaban Yunani menjadikan mitologi mereka untuk membangun karakter, budaya dan peradabannya sendiri. Penulis yang mengaku kesengsem dengan Ki Purbo setelah menonton pementasan “Bargawa” tersebut, sangat mengagumi wayang tidak hanya pada seni pakelirannya, tetapi betapa dengan wayang tersebut dapat dengan apik digambarkan sifat-sifat manusia dengan seluk-beluknya, yang dapat dijadikan unsur pembangun kemanusiaan.

Dari sisi pertunjukannya, Yanusa melontarkan uneg-uneg, bisakah wayang dikenakan tiket sebagaimana pertunjukan teater atau konser musik, yang meski tiketnya mahal tetap diserbu penontonnya. Hal itu ia dasarkan pada pemikiran bahwa penonton yang menyadari manfaat atau merasa butuh akan dengan sukarela mengeluarkan uang sejumlah, misalnya Rp 50.000, untuk menonton pertunjukan wayang.

“Contohnya teater asing dari Inggris yang mementaskan ‘Hamlet’ pada tahun 1980-an, waktu itu kami harus membayar Rp50.000,” ujarnya. Uang sejumlah itu pada waktu itu, bagi golongan mahasiswa, tergolong besar, tetapi toh peonton Hamlet tetap membludak.

Akan tetapi, ide tersebut diakuinya memang belum tentu relevan untuk saat ini, walau di masa yang akan datang bisa saja diterapkan, bergantun pada perkembangannya.

Diskusi yang dihadiri sekitar 50-an penggemar wayang tersebut berlangsung hingga pukul 01 dinihari. Dilengkapi pula dengan pementasan singkat oleh Ki Purbo Asmoro lakon “Arjuna Wiwaha” dengan berbagai trik dan penjelasan sejumlah tatanan baku pakeliran yang menjadi bahan diskusi malam itu.

Di akhir acara, nyonya rumah, Kitsie Emerson yang telah merampungkan penulisan buku tentang wayang Gagrak Solo dalam tiga gaya pakeliran (pakeliran klasik, pakeliran padat dan pakeliran semalam suntuk) dari lakon yang dibawakan Ki Purbo Asmoro, menghadiahkan satu set buku kepada rombongan PSMS Oye (Penggemar Sejati Manteb Sudharsono). Buku yang dikerjakan dengan sangat teliti tersebut diterbitkan dalam tiga bahasa: Jawa, Indonesia dan Inggris.

Fathurrahman Tekad. Penikmat Wayang

Eulogi Rasa Berbangsa (?)

Bangsa ini begitu sumpek. Tiap-tiap sudut penuh polusi. Dari asap rokok, asap kendaraan, sampai orang-orang yang mencoba bermain “asap-asapan.”

Kenyamanan dalam bernafas sebagai warga negara tidak mendapatkan ketenangan. Sebab tiap-tiap jengkal dalam ber-Indonesia adalah menghirup semprotan asap.

Lalu Lintas Asap

Berharap asap berhenti dari semprotannya, mustahil. Tanpa asap, drama dalam dinamika kebangsaan sungguh bukan suatu seni yang membuat gairah. Penguasa, elit politik ,dan konco-konconya menganggap asap sebagai sebuah keabadian yang mesti disemprotkannya ke tiap sudut Indonesia.

Mereka terus menggelorakan asap sekalipun mengganggu lalu lintas dalam kehidupan berbangsa. Karena asap adalah indikator kemenangan dalam berkuasa, tentu bagi siapa yang rajin menyemprot asap.

Kehidupan pun berlangsung dalam lalu lintas asap yang padat. Sangat susah membuka mata dalam melihat realitas, sehingga apa yang dapat kita ketahui hanyalah jejak dari realitas, dan bukan realitas itu sendiri. (Derrida, 1989).

Tragedi Rasa

Sesungguhnya berbangsa yang ideal adalah menggunakan rasa memiliki yakni kepemilikan negeri dan harga diri.Tanpa rasa tidak ada yang menggugat proses kehidupan ini. Tanpa rasa, kekuasaan menjadi kendaraan tanpa kontrol dan pengawasan. Tanpa rasa, kesejahteraan adalah mimpi-mimpi semu di siang bolong.

Kematian rasa di sekeliling kita sudah begitu ramai. Bukan lagi dalam skala kewajaran psikologis melainkan terjadi pada skala massal. Hal ini lantaran tingkat pesimisme dan keputus-asaan yang begitu tinggi.

Harga diri sudah begitu mudah dicaplok. Politik transaksional, jalan ramai menuju kekuasaan, telah mengukur kualitas. Begitu murahnya kualitas manusia Indonesia ketika harus menjadi obyek komersil dalam politik transaksional. Selembar demi selembar telah menelanjangi harga diri. Semakin banyak pemilihan, sesungguhnya semakin manusia Indonesia berjalan telanjang tanpa harga diri.

Sama halnya, menyuarakan kepentingan. Hampir sama modelnya dengan bersuara ala tambal sulam. Bersuara bukan untuk keabadian melainkan atas nama perut dan demam tinggi konsumtif bagi si empunya suara. Suara-suara berani berucap ketika ditukar alat penelanjang harga diri. Sebaliknya suara-suara diam ketika dalam keadan kenyang dan tercukupi kebutuhannya.

Rasa telah berada pada ambang batas hidupnya. Dan sebentar lagi menemui ajalnya ketika tidak didorong untuk menentukan kualitas harga diri dan kepemilikan sebagai manusia sah bangsa Indonesia. Olehnya, rasa mesti terus dirawat dengan akal sehat. Hanya orang yang gila larut dalam sunyi senyap dan penjualan harga diri.

Jufra Udo
HMI MPO Kendari

Vakum 4 Tahun, HMI MPO Malang Kembali Aktif

HMINEWS.Com – Setelah 4 tahun mengalami kevakuman, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) Malang mengadakan Latihan Kader 1 (LK 1) sebagai wujud nyata perkaderan. Latihan diadakan di Gedung Bani Hasyim, Singosari – Malang, 3-5 Mei 2013.

Tidak banyak peserta pada LK1 tersebut, yaitu 10 mahasiswa. Namun begitu tetap berlangsung secara khidmat dan penuh semangat. “LK kali ini memang tidak banyak, hanya sekitar 10 orang, namun itu tidak menjadikan niat kita ciut untuk meneruskan tekad perjuangan HMI MPO,” tutur Agung W, salah satu kader HMIMalang.

Sebelumnya, sejak tahun 2009 terjadi kemandegan perkaderan HMI MPO Malang, dan hal ini diakui para kader. Berangkat dari kondisi tersebut, sejumlah kader berinisiatif mengadakan LK untuk menghidupkan perkaderansebagai ujung tombak regenerasi organisasi.

Sejumlah alumni juga sempat memberikan semangat kepada penerus estafeta perjuangan agar niat suci berproses di HMI tidak luntur pasca LK 1, karena disinilah diharapkan lahirnya para pemimpin berintegritas.

Pelatihan Pelajar Sehat KJR Sulsel Peringati Hardiknas

HMINEWS.Com –  Klub Jantung Remaja (KJR) Sulawesi Selatan melaksanakan pelatihan senam khusus remaja SMP-SMU & Sederajat se-kota Makassar. Kegiatan tersebut dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional dan diselenggarakan pada hari Ahad (5/5/2013).

Kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga sore tersebut mengangkat tema “Melalui olahraga kita ciptakan pelatih remaja yang memiliki integritas, kapasitas, dan kualitas demi remaja-remaja yang sehat bebas asap rokok.” Diharapkan dengan pelatihan tersebut peserta yang semuanya adalah pelajar dapat mengaplikasikannya di sekolah masing-masing.

“Kami berharap semoga peserta dapat sesegera mungkin mengaplikasikan hasil dari pelatihan ini ke sekolahnya masing-masing,” ujar Pembina KJR Sulsel, Delya Djafar.

Pelatihan gelombang pertama tersebut, menurutnya, diikuti 60 peserta dari 30 sekolah SMP, SMA se-Kota Makassar dan dibuka oleh Ketua Yayasan Jantung Indonesia Sulsel yang juga merupakan Rektor Universitas Islam Makassar, Hj Majdah. Ditargetkan seratus peserta untuk pelatihan yang akan dibuka dua gelombang lagi.

Kiki Resky selaku peserta yang juga merupakan ketua OSIS SMP 5 Makassar mengatakan jika kegiatan ini sangat memberi manfaat bagi pelajar, selain gerakannya yang menarik juga menyehatkan. “Semoga ini dapat dukungan dari pihak sekolah” ungkapnya saat di pilih sebagai salah satu peserta terbaik.

Ketua Panitia, Takwa, menyatakan pelatihan ini  merupakan kegiatan yang sangat baik terkhusus untuk remaja dalam rangka menciptakan pelopor gaya hidup sehat, di saat banyak remaja Indonesia sudah terpapar kebiasaan merokok sejak dini dan kebiasaan tidak sehat lainnya.

 “Tak ada kata yang paling indah yang ingin saya sampaikan kecuali kegiatan ini sungguh sangat membanggakan bagi saya pribadi dan KJR sulsel secara keseluruhan, semoga kedepannya makin baik lagi,” tandasnya.

(Ihsan/Nja)

Selamat Hari Bangkit PII Ke-66 Tahun

HMINEWS.Com – Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI-MPO) mengucapkan selamat atas milad atau hari bangkit (Harba) Pelajar Islam Indonesia (PII) yang ke-66 tahun. Ucapan selamat disampaikan melalui surat bernomor 151/B/SEK/06/1434 yang ditandatangani Ketua Umum PB HMI, Alto Makmuralto dan Sekjen Muhammad Akbar (5/5/2013).

“Sehubungan dengan Milad ke-66 PII maka dengan ini kami sampaikan ucapan SELAMAT HARI MILAD KE-66, semoga senantiasa lebih kreatif, inovatif dalam menjaga, melanjutkan perkaderan dan perjuangan bagi generasi muda sekalipun ditengah kondisi tantangan zaman ini yang begitu menggiurkan dan menggoda. Semoga Allah menyertai langkah-langkah PB PII dalam menempuh kebijakan yang bermanfaat bagi ummat Islam khususnya kalangan Pelajar Islam Indonesia. Amin”

Sebagaimana diketahui, PII didirikan pada 4 Mei 1947 M, bertepatan dengan tanggal 12 Jumadits Tsani 1366 H. Para pendiri PII sebagian juga merupakan pendiri HMI, seperti Anton Timur Jaelani dan Yusdi Ghazali.

2014: Rakyat Vs. Pemilu

 

            Pengertian dan pelaksanaan demokrasi di setiap negara berbeda, hal ini ditentukan oleh sejarah, budaya dan pandangan hidup, dan dasar negara serta tujuan negara tersebut, sesuai dengan pandangan hidup dan dasar negara. Pelaksanaan demokrasi di Indonesia mengacu pada landasan ideal dan landasankonstitusional UUD 1945. Dasar demokrasi Indonesia adalah kedaulatan rakyat seperti yang  tercantum dalam pokok pikiran ketiga pembukaan UUD 1945 :“Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat berdasar kerakyatan, permusyawarakatan atau perwakilan”. Pelaksanaannya didasarkan pada UUD 1945 Pasal 1 ayat (2) “Kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut UUD.

          Melihat sejarah penerapan demokrasi di negara ini, baik dari zaman orde lama sampai saat ini ditemukan berbagai macam sistem yang diterapkan dari rezim ke rezim yang tujuannya berbeda tapi semuanya bertujuan merubah negara menjadi maju, masyarakatnya sejahtera, ekonominya lebih baik sesuai harapan masyarakat. Demokrasi adalah sistem yang diterapkan di mana kekuasaan berada di tangan rakyat hanya saja ada lembaga tertentu yang melihat mengawasi dan melaksanakan yaitu lembaga yang disebut pemerintah baik legeslatif, eksekutif,dan yudikatif, dari ketiga lembaga ini diikat dalam satu struktur yang disebut pemerintahan. Pemerintahan sendiri fungsinya adalah melihat dan kemudian berbuat untuk masyarakatnya,karena pemerintah sendiri di pilih oleh rakyat,biasa kita kenal dengan gaya bahasanya yakni “Pemerintahan dari Rakyat, oleh Rakyat, dan untuk Rakyat.

         Kemudian untuk melihat konteks saat ini dimana kita akan dihadapkan dengan sebuah pesta demokrasi, kita kembali melaksanakan pemilihan umum untuk memilih pemimpin dari rakyat dan sekarang menjadi sebuah wacana yang sangat hangat untuk di bahas dimana-mana orang berbicara tentang persiapan politik 2014 mendatang di warung kopi,rumah makan dimana topik yang di bahas akan mengarah pada persiapan pemilu 2014 mendatang. Proses pemilihan umum telah dilakukan  tahun 2004. Lewat pemilihan umum , bangsa ini telah melahirkan beberapa sosok yang di lihat mampu, sehingga diberi amanah dan kepercayaan oleh rakyat kepada mereka untuk menjadi perpanjangan tangan dari rakyat dalam mengurus negara, tapi sampai saat ini belum ada pembuktian yang jelas rakyat belum merasakan apa yang di lakukan oleh penguasa yang tadinya di pilih oleh rakyat lewat pemilu, rakyat tetap saja miskin, mereka para penguasa  hanya ingin memaanfaatkan momen ini sebagai instrumen atau alat kekuasaan mereka,mereka tidak lagi meng-identikkan pemimpin sebagai pemegang amanat, tapi mereka mengidentikkan dengan penguasaan tunggal,praktek praktek korupsi semakin marak, sementara hukum negara di abaikan, rakyat terlihat sangat memprihatinkan, uang dari rakyat di habiskan hanya untuk melakukan hal-hal yang bersifat pribadi. Saat ini berbagai kasus korupsi dilakukan oleh pemerintah maupun kaki tangannya. Di lihat dari kondisi saat ini kepemimpinan di negeri ini masih identik dengan penindasan dan pembohongan terhadap rakyat.

Kesimpulannya tahun 2014 mendatang pemilu akan tetap dilaksanakan dan kondisi bangsa tetap tidak akan berubah,semakin banyak politisi semakin banyak praktek  korupsi di lakukan,dan rakyat belum juga mersakan apa yang di sebut sebagai kesejahteraan. Kemenangan berada ditangan mereka,dan kemenangan ini kalau di disebut berupa angka  berarti mereka mengalahkan rakyat dengan skor 2-0, di mana angka 2 untuk mereka dan angka 0 untuk rakyat. Kemenangan yang pertama, pada saat pemilihan mereka di pilih oleh rakyat karena bahasa kebohongan yang di sampaikan lewat kampanye, dan kemenangan yang kedua setelah mereka terpilih rakyat tetap dibohongi dan hak rakyat tidak dianggap karena secara kelembagaan mereka berada di atasnya rakyat. Jadi pemilu di negeri ini merupakan  sebuah permainan,baik dari pertama kali dilaksanakan pada tahun 2004 maupun 2014 mendatang.

 

Oleh           

Fandi Umanahu

Kader HMI Cabang Manado