Temu Mahasiswa Patani di Jakarta

HMINEWS.Com – Mahasiswa yang tergabung dalam Mahasiswa Patani ( Thailand Selatan ) mengadakan students gathering yang bertempat di Danau Situ Gintung, Ciputat, Tangerang Selatan (4/5/2013). Mengangkat tema Human Rights Session for Patani Students in Indonesia.”

Pertemuan tersebut lebih banyak dimanfaatkan dengan berdiskusi secara lepas tentang pemperjuangkan hak asasi  untuk menyelamatkan hak hidup Muslim Patani hingga membahas tentang  masa depan gerakan mahasiswa Islam di thailand dalam konteks hubungan internasional.  Peserta merupakann mahasiswa Patani yag tengah menuntut ilmu di sejumlah universitas di Indonesia seperti UIN Jakarta, UIN Bandung, UHAMKA , UMM dan lainnya.

Sejarah panjang mencatat konflik pertama yang terjadi di Patani pada tahun 1921, saat pemerintah Thailand menggantikan seluruh hukum syariah dan adat masyarakat Patani dengan hukum Siam ( Thailand). Salah satu bentuk nyata peraturan tersebut adalah memaksa anak-anak usia sekolah untuk masuk ke dalam sekolah-sekolah berbahasa Thai. Pesantren sebagai basis pembelajaran agama Islam ditutup paksa oleh Pemerintah. Hal inilah yang kemudian menimbulkan reaksi dari para ulama yang merasa disingkirkan oleh pemerintahan Thailand, karena aktivitas dakwah mereka dihalangi.

Corak pemikiran mahasiswa Patani  di Indonesia ternyata cukup heterogen seperti adanya Muhammadiyah, Salafi, Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh dan lainnya. Percampuran beberapa aliran tersebut membentuk sebuah paradigma baru tentang bagaimana Islam seharusnya dipraktikan di dunia sebagai acuan semangat mahasiswa muslim Patani unttk berjuang untuk menyelamatkan hak hidup muslim patani.

Salah satu pembicara yang hadir mantan ketua umum PB HMI, Muhamad chozin Amirullah. Dalam kesempatan tersebut Chozin menegaskan pentingnya peranan mahasiswa muslim dalam perjuangan dan dakwah Islam dalam tingkat regional maupun internasional.

Widi Rulianto

Lomba Karya Tulis ‘Generasi Muda Memaknai Pancasila’

Sub Tema

1. Membangun Nasionalisme Kaum Muda Berbasis Toleransi Beragama;

Perbedaan adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat dihindari, baik itu perbedaan suku, ras, adat istiadat dan kebudayaan, bahkan perbedaan keyakinan. Namun, ketika hal ini dapat dimaknai secara positif tentu akan menjadi kekuatan tersendiri dalam rangka turut serta menciptakan perdamaian dunia. Kesadaran tentang “Unity in Diversity” dalam kehidupan beragama bukan hanya harus digaungkan oleh para elite agama dan politik, tapi juga oleh para kaum muda di seluruh dunia. Kaum muda harus mampu menjadi aktor strategis sebagai change makers dalam mewujudkan dunia yang damai dan sejahtera.

2. Media Sosial dan Solidaritas Terhadap Bencana;

Berbagai perbedaan dan keragaman di berbagai aspek tidak menafikan adanya persamaan dan keseragaman di berbagai ruang lainnya. Dunia maya dan media sosial saat ini telah menjadi forum yang mempersatukan generasi muda dari beragam budaya, agama, ras, dan berbagai perbedaan lainnya. Namun, di sisi lain, media sosial juga dapat disalahgunakan sebagai forum dimana kelompok-kelompok yang masih menggunakan perbedaan dan keragaman sebagai dasar bagi konflik dan diskriminasi terhadap kelompok lain dapat bersatu, menyuarakan dan menyebarkan pandangannya sembari bersembunyi di balik perlindungan anonimitas.

3. Patriotisme Baru Melalui Olah Raga;

Selain berperang membela nasib bangsa, makna patriotisme diartikan sebagai suatu cara mengharumkan nama bangsa melalui lagu kebangsaan, pakaian daerah, dan peluncuran seni yang semua itu berkaitan dengan identitas bangsa Indonesia. Di zaman yang modern ini, tak jarang pula adanya anggapan bahwa seseorang yang berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar maupun bahasa daerah merupakan orang yang mempunyai jiwa patriotisme.

4. Pancasila dan Demokrasi dalam Organisasi Mahasiswa;

Demokrasi yang kita kenal adalah demokrasi yang dilakukan dalam pemerintah kepada masyarakat, bahwa kekuasaan tertinggi dalam negara yang berdemokrasi berada di tangan rakyat. Rakyat yang menyuarakan kepentingan dan kebutuhan hidup kepada para wakil rakyat agar hak-hak mereka diperjuangkan.

5. Akses terhadap pendidikan tinggi bagi kaum miskin;

Salah satu masalah terbesar yang dihadapi oleh semua negara, khususnya negara berkembang, adalah kesenjangan ekonomi. Pemerataan kesejahteraan hanya dapat dilakukan bilamana warga negara memiliki kesempatan yang relatif merata untuk mengakses berbagai kesempatan yang ada untuk memperbaiki standar hidupnya. Seiring berkembangnya globalisasi dan persaingan yang semakin ketat, akses terhadap pendidikan tinggi menjadi syarat mutlak untuk dapat bersaing dan memperbaiki taraf hidup. Dalam pembukaan konstitusi Indonesia, salah satu misi yang dijunjung adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”, dan selama ini Indonesia telah berusaha menjalankan misi tersebut dengan mewajibkan dan membangun akses pendidikan dasar bagi seluruh warga negaranya, termasuk kaum miskin.

Syarat dan Ketentuan Lomba

· Mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi jenjang Diploma atau Strata-1 di perguruan tinggi dalam maupun di luar negeri;
· Berstatus sebagai mahasiswa aktif dibuktikan dengan Kartu Mahasiswa dan Keterangan dari Program Studi/Fakultas;
· Memilih salah satu sub-tema dalam tulisan;
· Tulisan harus mencerminkan ide orisinil, bukan hasil plagiasi dan belum pernah diterbitkan;
· Empat peserta terbaik diundang sebagai pembicara pada Seminar Nasional tentang Pancasila dan Generasi Muda di Jakarta pada tanggal 4 Juli 2013;
· Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat;
· Melampirkan scan-an Kartu Tanda Mahasiswa
· Karya tulis dikirim melalui email: lokatnas.lawpresuniv@gmail.com
· Peserta yang telah mendaftarkan diri, dipersilahkan untuk memilih salah satu judul sub-tema yang telah ditentukan

Tahapan Pelaksanaan Lomba
· Registrasi : 02 Mei – 31 Mei 2013
· Penerimaan karya terakhir : 10 Juni 2013 (23.50 WIB)
· Penjurian Naskah : 11 Juni -26 Juni 2013
· Pengumuman Empat Besar : 1 Juli 2013 (Via Website, Twitter, dan E-mail)
· Technical meeting : 3 Juli 2013
· Grand Final/Presentasi Karya Tulis : 4 Juli 2013
· Seminar Nasional (Bagi Finalis) : 4 Juli 2013

KAHMI Business Awards akan Digelar

HMINEWS.Com – Sebagai bentuk apresiasi dalam menumbuhkan minat di bidang bisnis, Korps Alumni HMI (KAHMI) akan memberikan penghargaan bagi pengusaha dan CEO berprestasi alumni HMI. Pendaftaran nominasi dibuka dari Maret sampai pertengahan Mei mendatang, sementara penghargaan diberikan di pertengahan Mei 2013 bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional.

Program penghargaan untuk pengusaha ini digagas oleh Ismed Hasan Putro Ketua Dept Bisnis Majelis Nasional KAHMI, Sudah ada lebih dari 70 orang nominasi yang mendaftar dari Nasional maupun  wilyah di Indonesia, baik pengusaha pria ataupun wanita.

“Prosesnya terbuka untuk wirausaha pria maupun wanita, asal memenuhi syarat, salah satunya dia alumni HMI berprestasi,” ujar Ilham M. Wijaya Kordinator Acara, saat peluncuran program di Gedung RNI, Jakarta, Rabu (1/5/2013).

Untuk mengikuti ajang penghargaan ini, calon peserta bisa menominasikan dirinya sendiri dan atau dinominasikan oleh pengurus Majelis Wilayah/Daerah Kahmi. Selain itu, memenuhi sejumlah kriteria, seperti memiliki usaha sendiri yang sudah berjalan minimal dua tahun dan memiliki prestasi dibisnisnya.

“Saat ini kami sedang melakukan banyak persiapan, supaya nanti pelaksanaan awards bisa sukses,” ujar Ismed Hasan Putro yang juga menjabat sebagai Dirut PT RNI menambahkan.

Sepanjang pelaksanaanya, seperti disampaikan Ismed, kategori yang akan diberikan di antaranya ada KAHMI Bisnis Besar, Kahmi CEO Perusahaan Besar, Kahmi UKM, Kahmi Young Entrepreneurship, dan Kahmi Mr. Clean.

Dengan menjadi bagian dari program ini, para pemenang akan bergabung dengan jejaring alumni HMI yang memiliki minat bisnis dan menjalin pertemanan dengan pengusaha sukses lainnya. (IMW)

Dept. Bisnis dan Kewirausahaan
Majelis Nasional Korps Alumni HMI

Hari Buruh, HMI Cabang Purworejo adakan Mimbar Bebas

HMINEWS.Com – Peringatan hari buruh sedunia (May Day) dikenal sebagai tonggak perjuangan buruh di seluruh dunia. Hari besar buruh yang diperingati setiap tanggal 1 Mei tersebut, tidak terkecuali di Indonesia selalu dirayakan secara meriah dengan berbagai bentuk kegiatan oleh serikat buruh khususnya dan aktivis pada umumnya guna memperjuangkan aspirasi dan tuntutan dari buruh dan rakyat secara umum. Oleh karena itu, materi propaganda ini disusun untuk menyatukan pemahaman, pandangan dan sikap atas bentuk-bentuk ketertindasan rakyat dan akar persoalannya yang mengharuskan adanya persatuan yang kuat dalam gerakan pembebasan, termasuk pembebasan buruh dari penindasan pemilik modal.

Sebagai bentuk aksi solidaritas terhadap penderitaan buruh HMI Cabang Purworejo mengadakan “Mimbar Bebas” dengan tema May Day dan Tolak Kenaikan BBM. Acara ini dilaksanakan di Alun-alun Purworejo pada hari Rabu, pada 1 Mei 2013.

Zainal Abidin selaku Ketua HMI Cabang Purworejo menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk terus menolak dan melawan sekuat tenaga kebijakan Pemerintah SBY yang ingin menaikkan harga BBM, serta menyerukan kepada Pemerintah untuk menurunkan harga-harga kebutuhan pokok. Solusi jangka panjang bagi kemandirian dan kedaulatan ekonomi nasional hanya bisa dilakukan dengan melawan terus-menerus dan sungguh-sungguh seluruh skema imperialis pimpinan Amerika Serikat di Indonesia. Solusi jangka panjang bagi kemandirian energi dan ekonomi nasional, tidak ada jalan lain kecuali mewujudkan Reformasi Agraria sejati dan membangun Industri Nasional di seluruh Indonesia bagi kepentingan rakyat Indonesia serta mengambil seluruh asset-aset negara yang dikuasai oleh asing. Berbagai bentuk perlawanan saat ini harus dikobarkan oleh rakyat dan menuntut:

1.      Naikkan upah buruh dan Tolak seluruh skema politik upah murah

2.      Hentikan perampasan dan penggusuran tanah rakyat

3.      Sediakan Lapangan pekerjaan bagi Pemuda dan seluruh rakyat Indonesia

4.      Tolak Kenaikan Harga BBM dan Turunkan harga-harga kebutuhan pokok

5.      Berikan Perlindungan Sejati bagi Buruh Migran dan keluarganya

6.       Hentikan Komersialisasi pendidikan

Pidato Ayatullah Ali Khamenei

 

 

Pidato Pemimpin Tertinggi Iran pada Pembukaan Konferensi Ulama dan Kebangkitan Islam 

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

 

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan solawat serta salam kami sampaikan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad al-Mustafa [SAW], dan kepada  keluarga beliau yang suci, sahabat-sahabat pilihan dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, sampai Hari Akhir nanti.

 

Dengan senang hati saya menyambut  Anda sekalian, para tamu yang terhormat dan saya memohon kepada Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Penyayang agar memberkati upaya kolektif ini dan agar menjadikannya sebuah langkah efektif menuju kebahagiaan umat Islam. “Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan semoga Mengabulkannya.”

 

Hari ini popok bahasan tentang Kebangkitan Islam, yang akan Anda sekalian bahas di dalam konferensi ini, merupakan daftar terpenting isu-isu dunia Islam dan umat Islam. Ini merupakan sebuah fenomena luar biasa yang akan mengakibatkan munculnya kembali peradaban Islam –untuk umat Islam dan kemudian untuk seluruh dunia– dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi untuk merealisasikannya, dengan izin Allah, hal itu tetap dalam kondisi baik dan berkelanjutan.

 

Hari ini apa yang ada di depan mata kita dan tidak bisa dipungkiri oleh setiap individu yang cerdas dan tercerahkan adalah bahwa dunia Islam kini telah muncul dari sela-sela persamaan sosial dan politik dunia, telah menemukan posisi yang unggul dan terkemuka di tengah peristiwa global yang menentukan, dan menawarkan pandangan yang segar bagi perkembangan kehidupan, politik, pemerintahan dan sosial.

 

Hal ini dianggap sebagai fenomena yang penting dan signifikan di dunia saat ini, yang sedang mengalami penderitaan karena kekosongan intelektual dan teori yang mendalam setelah kegagalan komunisme dan liberalisme. Hal ini merupakan  sinyal pertama dari peristiwa-peristiwa politik dan revolusioner di Afrika Utara dan dunia Arab pada skala global, yang sinyal itu sendiri merupakan pertanda kebenaran yang lebih besar yang akan terjadi di masa yang akan datang.

 

Kebangkitan Islam, yang para pembicaranya berada di kubu kesombongan dan reaksioner tidak berani menyebutkan bahkan hanya kata-kata itu sekalipun, adalah kebenaran yang tanda-tandanya bisa disaksikan di hampir seantero dunia Islam. Tanda yang paling jelas dari hal tersebut adalah antusiasme opini publik, terutama di kalangan kaum muda, untuk menghidupkan kembali kemuliaan dan keagungan Islam, untuk menyadari sifat dominasi tatanan internasional dan membuka kedok wajah pemerintahan-pemerintahan yang tak tahu malu, menindas dan arogan; serta pusat-pusat yang telah menekan masyarakat Islam di Timur dan juga masyarakat non-Islam dalam cengkeraman mereka selama lebih dari dua ratus tahun dan selama ini mereka telah mengekspos bangsa-bangsa dengan cara brutal dan agresif, haus kekuasaan dengan menyamar berkedok peradaban dan kebudayaan.

 

Dimensi kebangkitan yang menguntungkan ini tersebar luas dan misterius, tapi apa yang bisa disaksikan dari hasil langsung di beberapa negara Afrika Utara bisa membuat hati menjadi yakin tentang hasil yang besar dan menakjubkan yang akan dicapai di masa depan. Pemenuhan yang ajaib dari janji ilahi selalu merupakan pertanda harapan yg memberikan inspirasi yang menjanjikan akan pemenuhan janji-janji yang lebih besar.

 

Al-Quran menjelaskan tentang dua janji yang Allah Ta’ala berikan kepada ibu Nabi Musa dalam sebuah contoh dari rencana ilahi. Pada saat yang sulit, ketika beliau diperintahkan untuk melarungkan bayinya di sungai di dalam keranjang,  Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya salah seorang rasul.” [Al-Quran, Al-Qashas 28: 7]

 

 

Pemenuhan janji pertama, yang merupakan janji yang lebih kecil dan penyebab kebahagiaan bagi sang ibu, menjadi tanda bagi pemenuhan janji akan misi kenabian selanjutnya, yang jauh lebih besar dan tentu saja, hal ini memerlukan penderitaan jangka panjang, perjuangan dan kesabaran:

“Maka Kami kembalikan dia [Musa] kepada ibunya, agar senang hatinya dan tidak bersedih hati, dan tahu bahwa janji Allah adalah benar … “ [Al-Quran, Al-Qashas 28: 13]Janji yang benar ini merupakan misi yang besar yang dipenuhi setelah bertahun-tahun dan mengubah jalannya sejarah.

 

Contoh lain adalah pengingat tentang kekuatan yang dahsyat dari Allah untuk menggagalkan para penyerang Bait-Allah untuk mendorong orang-orang yang menyaksikannya melalui Nabi Muhammad saw untuk tunduk pada perintah-Nya, dimana Allah Ta’ala menggunakan contoh berikut ini: “Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan [pemilik] Rumah ini” [Al-Quran, Quraisy 106: 3] dan Dia berfirman,” Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia? “[Al-Quran, Al-Fil 105: 2]

 

Demikian pula, untuk membangkitkan semangat Nabi kekasih-Nya dan meyakinkan beliau tentang kebenaran janji Allah, Dia berfirman:  “Tuhanmu tidak meninggalkan engkau [Muhammad dan tidak [pula] membencimu” [Al-Quran, ad-Duha 93: 3] Allah Ta’ala memberikan pengingat tentang berkat yang ajaib: “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Diamelindungi[mu]. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang lalu dia memberikan petunjuk.” [Al-Quran, ad-Duha 93:6-7] Dan masih banyak contoh semacam itu di ayat-ayat lainnya di dalam Al-Quran.

 

Di saat Islam mencapai kemenangan di Iran dan berhasil menaklukkan benteng Amerika dan Zionisme di salah satu negara yang paling penting di wilayah yang sangat sensitif, orang-orang yang bijak dan cerdas menyadari bahwa jika mereka memiliki kesabaran dan wawasan, kemenangan semacam itu akan datang susul-menyusul.

 

Kebenaran gemilang di Republik Islam ini, yang juga diakui oleh musuh-musuh kami, semuanya telah dicapai di bawah naungan keyakinan akan janji ilahi, kesabaran, ketabahan dan selalu memohon bantuan kepada Allah. Dalam menghadapi musibah, orang-orang yang lemah yang pada saat genting mereka berteriak “kita benar-benar akan tersusul,” [Al-Quran, Asy-Syu’ara 26: 61], namun bangsa kami selalu berteriak “Sekali-kali tidak akan [ tersusul]; sesunggguhnya Tuhanku bersamaku. Dia akan memberi memberi petunjuk kepadaku ” [Al-Quran, Asy-Syu’ara 26:62]

 

Hari ini adalah pengalaman berharga yang tersedia untuk  orang-orang yang telah berdiri tegak melawan arogansi dan tirani dan telah berhasil mengguncang dan menggulingkan pemerintahan yang korup yang tunduk dan bergantung pada Amerika. Perlawanan, kesabaran, wawasan dan yakin akan janji ilahi “sesungguhnya Allah akan membantu dia yang membantu rencana-Nya” akan membuka jalan kemuliaan bagi ummat Islam hingga mencapai puncak peradaban Islam.

 

Pada pertemuan penting ini, yang dihadiri oleh para ulama dari ummat Islam dari berbagai negara dan mazhab Islam, saya yakin saat ini adalah tepat untuk membahas beberapa pokok pembahasan penting tentang masalah Kebangkitan Islam.

 

Pokok Pembahasan Pertama adalah bahwa gelombang awal kebangkitan di negara-negara di kawasan ini, yang dimulai bersamaan dengan masuknya pelopor kolonialisme, terutama disebabkan oleh agama dan reformis keagamaan. Nama-nama pemimpin dan pribadi yang termasyhur – seperti Sayyid Jamal ad-Din, Muhammad Abduh, Mirza-e Shirazi, Akhund-e Khorasani, Mahmoud al-Hassan, Muhammad Ali, Sheikh Fazlollah, Haji Agha Noorullah, Abul A’la Maududi dan puluhan mujahid serta ulama terkenal nan agung  dan berpengaruh dari Iran, Mesir, India dan Irak – telah dicatat dalam catatan abadi sejarah. Demikian pula, di era kontemporer, nama masyhur nana gung Imam Khomeini bersinar seperti bintang yang terang di garis depan Revolusi Islam. Sementara itu, hari ini dan di masa lalu, ratusan ulama termasyhur dan juga ribuan ulama yang mungkin kurang dikenal telah memainkan peran besar maupun kecil dalam gerakan reformasi di berbagai negara. Daftar reformis leligius dari kalangan intelektual, seperti Hassan al-Banna dan Iqbal Lahori, juga demikian panjang dan menakjubkan.

 

 

Hampir di mana-mana, ulama dan teolog telah menjadi otoritas intelektual dan pendukung spiritual bagi masyarakat dan dimanapun mereka tampil dan berperan sebagai pemandu dan pelopor pada saat perkembangan penting dan telah bergerak maju di baris depan gerakan rakyat dalam menentang bahaya, ikatan intelektual antara mereka dan rakyat telah diperkuat dan mereka telah memainkan peran penting dalam membimbing ummatnya.

 

Hal ini menguntungkan bagi gelombang Kebangkitan Islam dan ini tidak menyenangkan dan justru menyedihkan bagi musuh-musuh umat Islam, mereka yang menyimpan dendam terhadap Islam dan mereka yang menentang aturan nilai-nilai Islam, dan mereka mencoba untuk mengambil alih otoritas intelektual tersebut dari benteng-benteng religi dan menciptakan pusat-pusat baru sebagai gantinya. Mereka telah belajar lewat pengalaman bahwa mereka dapat dengan mudah mencapai kompromi dengan pusat-pusat atas prinsip-prinsip dan nilai-nilai bangsa, tetapi hal ini adalah sesuatu yang tidak akan pernah terjadi pada ulama-ulama saleh dan pribadi-pribadi religius yang setia.

 

Hal yang demikian itu membuat tanggung jawab ulama lebih berat. Dengan kewaspadaan dan kehati-hatian dan dengan mengidentifikasi metode muslihat musuh dan intriknya, mereka benar-benar harus menutup pintu rapat-rapat untuk infiltrasi dan menggagalkan semua makar musuh. Salah satu bencana terbesar adalah ketertarikan terhadap iming-iming kekayaan duniawi. Pemaparan kenikmatan kepada orang-orang kaya dan berkuasa sehingga menjadi berhutang kepada nafsu dan kekuasaan taghut merupakan penyebab paling berbahaya dalam pemisahan mereka dari masyarakat dan hilangnya kepercayaan dan keramahan mereka.

 

Egosentris dan haus kekuasaan, yang memikat pribadi-pribadi yang lemah kearah mengembangkan kecenderungan kepada kutub-kutub kekuasaan, menyiapkan sarana untuk keterlibatan dalam korupsi dan penyimpangan. Perlu kiranya kita selalu menjaga ayat suci Al-Quran ini dalam pikiran kita: “Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan [yang baik] itu bagi orang-orang yang takwa” [Al-Quran, Al-Qashas 28:83]

 

Hari ini, di era gerakan harapan yang penuh inspirasi Kebangkitan Islam, hal-hal tertentu kadang-kadang bisa kita saksikan di satu sisi, menunjukkan upaya oleh agen Amerika dan Zionis untuk menciptakan otoritas intelektual yang tidak bisa diandalkan, dan di sisi lain menunjukkan upaya Qarun bejat menyeret para agamawan dan orang-orang saleh kepada aktivitas mereka yang tercemar penuh racun berbisa. Ulama dan orang-orang saleh harus sangat waspada dan hati-hati.

 

Pokok Pembahasan Kedua adalah perlunya menggambarkan tujuan jangka panjang bagi Kebangkitan Islam di negara-negara Muslim, tujuan mulia yang memberikan orientasi kepada kebangkitan bangsa-bangsa dan membantu mereka mencapai titik tertentu. Hal ini dilakukan dengan mengidentifikasi titik tertentu yang kita dapat mempersiapkan roadmap dan menentukan tujuan dalam jangka menengah dan pendek. Tujuan akhir ini hanyalah semata demi menciptakan peradaban Islam yang gemilang. Seluruh bagian dari ummat Islam –dari berbagai bangsa dan negara – harus mencapai posisi peradaban yang telah ditentukan dalam Al-Qur’an.

 

Ciri utama dan umum dari peradaban ini adalah bahwa memberi kesempatan kepada ummat manusia untuk memanfaatkan semua kapasitas material dan spiritual yang Allah Ta’ala telah karuniakan kepada mereka dan dunia dalam rangka untuk mendatangkan kebahagiaan dan transendensi untuk kemanusiaan. Struktur permukaan peradaban ini dapat dan harus disaksikan dalam pemerintahan yang populer, dalam  undang-undang yang telah digali dari Al-Quran, dalam mengidentifikasi dan mengatasi kebutuhan ummat manusia yang berbeda-beda, dalam menghindari kekakuan dan sikap reaksioner serta inovasi yang tidak beralasan dan pemalsuan, dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat dan kekayaan, dalam menegakkan keadilan, dalam pembebasan dari ekonomi yang didasarkan pada hak-hak istimewa, riba dan mengambil kebanggaan dalam kekayaan, dalam mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, dalam membela orang-orang tertindas di dunia ini, dan dalam kerja keras dan menciptakan pembaharuan.

 

Mengadopsi ijtihadi dan pandangan ilmiah pada berbagai bidang – mulai dari humaniora ke sistem pendidikan formal, dari ekonomi dan perbankan hingga produksi teknis dan teknologi, dari media modern hingga seni dan perfileman dan hingga hubungan internasional dan bidang-bidang lainnya – semua ini adalah di antara sekian persyaratan untuk membangun peradaban.

 

Pengalaman telah menunjukkan bahwa semua ini memang memungkinkan dan dalam kapasitas masyarakat Muslim. Pandangan ini tidak boleh dilakukan dengan tergesa-gesa dan pesimisme. Menjadi pesimis tentang kemampuan seseorang adalah bentuk tidak bersyukur atas berkah Tuhan, dan mengabaikan bantuan Allah dan hukum-hukum penciptaan hingga tergelincir kepada kerancuan kearah “prasangka buruk terhadap Allah” [Al-Quran, Al-Fath 48:6]. Kita bisa memutus rantai monopoli ilmiah, ekonomi dan politik dari kekuatan dominan dan membantu ummat Islam menjadi pelopor mengembalikan hak-hak mayoritas bangsa-bangsa di dunia, yang telah didominasi oleh minoritas kekuatan arogan.

 

Dengan iman, ilmu pengetahuan, akhlak dan perjuangan terus-menerus, peradaban Islam dapat menyumbangkan pemikiran yang maju dan nilai-nilai perilaku mulia bagi umat Islam dan seluruh umat manusia, dan hal ini bisa menjadi poin pembebas dari pandangan materialistis dan menindas dan nilai-nilai perilaku korup yang membentuk pilar peradaban Barat saat ini.

 

Pokok Pembahasan Ketiga ialah bahwa dalam gerakan Kebangkitan Islam perlu kiranya memperhatikan secara konstan pada pengalaman pahit dan mengerikan dalam menelusuri peradaban Barat dalam bidang politik, perilaku dan gaya hidup.

 

Dalam lebih dari satu abad mengikuti perkembangan budaya dan politik dari kekuatan-kekuatan  arogan, negara-negara Muslim menderita dari bencana mematikan seperti ketergantungan politik dan penghinaan, buruknya keadaan ekonomi dan kemiskinan, turunnya nilai-nilai moral dan etika dan keterbelakangan keilmuan secara memalukan, sementara ummat Islam menikmati sejarah yang mulia dalam segala bidang.

 

Pernyataan ini tidak harus ditafsirkan sebagai permusuhan terhadap Barat. Kami tidak memusuhi kelompok manusia manapun hanya karena perbedaan geografis. Kami telah belajar banyak pelajaran dari Sayidina Ali (salam atasnya) yang menggambarkan manusia dengan cara sebagai berikut:

“Mereka yang beragama sama dengan Anda adalah saudara Anda, dan mereka yang beragama lain daripada agama Anda adalah makhluk manusia seperti Anda.” Keluhan kami melawan penindasan dan arogansi dan terhadap intimidasi dan pelanggaran adalah kemerosotan moral dan praktis yang telah dikenakan pada bangsa kita oleh kekuatan-kekuatan kolonial dan sombong.

 

Saat ini, kita bisa menyaksikan ancaman dan gangguan Amerika dan beberapa pengikutnya di wilayah di negara-negara di mana angin kebangkitan telah berubah menjadi badai pemberontakan dan revolusi. Janji-janji mereka tidak boleh mempengaruhi keputusan dan tindakan tokoh-tokoh politik yang luar biasa dan gerakan rakyat yang besar. Dalam kasus ini juga, kita perlu belajar dari pengalaman kita: mereka yang menggantungkan harapan pada janji-janji Amerika selama bertahun-tahun dan berdasarkan perilaku dan kebijakan mereka pada kecenderungan mereka terhadap penindas tidak berhasil untuk menyelesaikan masalah bangsa-bangsa atau menghilangkan ketidakadilan untuk diri mereka sendiri atau bangsa lain. Dengan menyerah kepada Amerika, mereka tidak berhasil mencegah penghancuran bahkan sebuah rumah Palestina sekalipun di dalam wilayah miliki bangsa Palestina.

 

Para politisi dan pribadi-pribadi yang luar biasa yang ditipu oleh suap atau terintimidasi oleh ancaman dari kubu kekuatan arogan dan kehilangan kesempatan besar akan Kebangkitan Islam harus waspada terhadap ancaman Tuhan berikut ini: “Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan ingkar kepada Allah dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka Jahannam; mereka masuk kedalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman” [Al-Quran, Ibrahim 14: 28-29]

 

Pokok Pembahasan Keempat adalah bahwa hari ini salah satu upayah yang paling berbahaya yang mengancam gerakan Kebangkitan Islam adalah usaha untuk memicu perselisihan dan mengubah gerakan ini menjadi konflik berdarah baik sektarian, etnis maupun nasional. Saat ini, kelompok-kelompok ini sedang dikejar secara serius oleh agen-agen intelijen Barat dan Zionisme dengan bantuan petrodolar dan menyuap politisi dari Asia Timur hinggga Afrika Utara dan khususnya di kawasan Arabia.

 

Dan uang yang bisa digunakan untuk membawa kebahagiaan bagi umat manusia justru digunakan untuk membuat ancaman, pengucilan, pembunuhan, pemboman, untuk menumpahkan darah Muslimin dan menyalakan api dendam dalam waktu cukup lama. Mereka yang menganggap kekuatan terpadu Islam sebagai hambatan di tengah jalan tujuan jahat mereka telah sampai pada kesimpulan bahwa mengipasi api konflik di dalam umat Islam adalah cara termudah untuk mencapai tujuan setan mereka dan mereka telah menggunakan perbedaan pendapat di bidang hukum Islam, Kalaam, sejarah dan hadits – yang alami dan tak terelakkan -sebagai alasan untuk mengucilkan, menumpahkan darah dan menyebabkan fitnah dan korupsi.

 

Pandangan penuh waspada terhadap konflik domestik secara jelas mengungkap tangan musuh di balik tragedi ini. Tangan penipu ini pasti mengambil keuntungan dari ketidaktahuan, prasangka dan kedangkalan pengetahuan yang ada pada masyarakat kita dan mereka meyiramkan bensin ke dalam api. Tanggung jawab reformis agama dan politisi serta pribadi yang luar biasa sangat berat dalam hal ini.

 

Saat ini, Libya, Mesir, Tunisia, Suriah, Pakistan, Irak dan juga Libanon dengan satu atau lain cara terlibat atau terkena api yang berbahaya. Hal ini memerlukan sikap sangat berhati-hati dan segera mencari solusinya. Naif jika kita berpikir bahwa semua ini hanya karena faktor ideologis, etnis dan motif-motif tertentu. Kampanye dan propaganda dari media Barat dan kaki-tangannya, serta tentara bayaran di wilayah tersebut berpura-pura menyatakan bahwa perang yang menghancurkan di Suriah adalah konflik Syiah-Sunni dan mereka membuat margin keamanan bagi Zionis dan musuh-musuh perlawanan di Suriah dan Lebanon.

 

Sebenarnya kedua belah pihak yang berkonflik di Suriah adalah bukan Syiah dan Sunni, namun mereka adalah antara para pendukung dan penentang perlawanan anti-Zionis. Pemerintah Suriah bukanlah pemerintahan Syiah, demikian pula oposisi sekuler dan anti-Islam bukanlah kelompok Sunni. Satu-satunya pencapaian dari komplotan skenario berbahaya ini adalah bahwa mereka telah berhasil memanfaatkan sentimen keagamaan mereka yang berpikiran sederhana untuk menyulut api yang mematikan ini. Melihat apa yang ada di lapangan dan mereka yang terlibat di dalamnya pada tingkat yang berbeda dapat memperjelas masalah bagi setiap individu yang adil.

 

Juga, dalam kasus Bahrain, gelombang propaganda menyebarkan kebohongan dan penipuan dengan cara lain. Di Bahrain, mayoritas tertindas – yang telah kehilangan hak untuk memilih serta hak-hak dasar lainnya yang seharusnya dinikmati sebuah bangsa- telah bangkit untuk menuntut hak-hak mereka. Haruskah kita menganggap konflik ini sebagai konflik Syiah-Sunni hanya karena mayoritas yang tertindas adalah Syiah dan pemerintah sekuler yang menindas berpura-pura sebagai Sunni? Tentu saja, para penjajah Eropa dan Amerika dan teman-teman mereka di wilayah tersebut ingin membuat hal-hal seperti itu muncul, tapi apakah kebenaran itu?

 

Inilah hal yang mengundang para ulama dan reformis bijak untuk berpikir hati-hati dengan rasa tanggung jawab dan mereka membuat identifikasi akan tujuan musuh di balik sorotan sektarian, etnis dan perbedaan pendukung  merupakan kewajiban bagi semua orang.

 

Pokok Pembahasan Kelima adalah bahwa salah satu standar untuk menilai apakah gerakan Kebangkitan Islam berada di jalan yang benar adalah bagaimana posisi mereka dalam mengadopsi masalah Palestina. Sejak enam puluh tahun yang lalu sampai hari ini, pendudukan Palestina telah menciptakan tragedi terbesar yang pernah dialami oleh umat Islam.

 

Sejak hari pertama sampai hari ini, tragedi Palestina telah menjadi kombinasi pembunuhan, pembantaian, penghancuran, perampasan dan pelanggaran terhadap apa yang dianggap suci dalam Islam. Kebutuhan untuk menyiapkan perlawanan dalam berperang dan menyerang musuh dan melawan mereka telah disepakati oleh semua mazhab Islam dan arus nasional yang jujur ​​dan sehat. Saat ini negara-negara Islam yang mengabaikan tanggung jawab keagamaan dan nasional dari pertimbangan untuk tuntutan dominan dari Amerika atau dengan dalih pembenaran tidak masuk akal seharusnya tidak mengharapkan dipandang sebagai setia kepada Islam dan tulus dalam klaim nasionalistik mereka.

 

Ini adalah ujian. Siapa saja yang tidak menerima slogan membebaskan Al-Quds yang Suci dan menyelamatkan bangsa Palestina dan wilayah Palestina atau siapa saja yang memelesetkan slogan ini dan berpaling dari kubu perlawanan, akan dikecam. Umat ​​Islam harus menjaga standar yang jelas dan mendasar ini dalam pikiran mereka di manapun dan kapanpun.

 

 

 

Para tamu, saudara dan saudari yang saya hormati, jangan pernah melupakan makar musuh. Kurangnya kewaspadaan kita akan menciptakan peluang bagi musuh-musuh kita.

 

Pelajaran yang disampaikan oleh Sayidina Ali (salam atasnya) kepada kita bahwa “siapa pun yang ceroboh terhadap tujuannya, musuh tidak akan pernah diam dalam mengambil keuntungan …” Dalam hal ini, pengalaman kami di Republik Islam juga merupakan sumber pelajaran. Setelah kemenangan Revolusi Islam di Iran, pemerintah Barat arogan dan Amerika – yang telah lama berdiri menguasai penuh atas para taghut Iran dan yang biasanya menentukan nasib politik, ekonomi dan budaya negara kita dan yang telah meremehkan kekuatan dahsyat agama Islam di dalam masyarakat dan tetap tidak menyadari kekuatan Islam dan Al-Quran sehingga terus mengerahkan kekuatan dan membimbing – tiba-tiba sadar bahwa mereka tidak menyadari dan organisasi pemerintah mereka, badan intelijen, dan ruang-ruang kontrol kembali bekerja untuk menebus kekalahan besar yang mereka derita.

 

Kami telah menyaksikan berbagai macam intrik dari mereka selama tiga puluhan tahun. Pada dasarnya, ada dua faktor yang telah menggagalkan makar mereka: yakni desakan atas prinsip-prinsip Islam dan kehadiran masyarakat di tempat kejadian. Kedua faktor tersebut adalah kunci untuk masalah yang ada dimanapun. Faktor pertama dijamin oleh keyakinan agama tulus akan janji Allah dan faktor kedua dijamin oleh upaya tulus dan klarifikasi yang jujur.

 

Sebuah bangsa yang memiliki iman dalam kejujuran serta ketulusan terhadap pemimpinnya akan membawa antusiasme dengan kehadiran mereka yang diberkati, dan dimanapun bangsa itu tetap di tempat kejadian dengan tekad yang kuat, tidak ada kekuatan yang mampu untuk mengalahkannya. Ini adalah pengalaman sukses untuk semua bangsa yang sanggup memunculkan Kebangkitan Islam melalui kehadiran mereka.

 

Saya berdoa kepada Allah Ta’ala untuk melimpahkan bimbingan-Nya, bantuan dan belas kasihan kepada Anda dan pada semua negara Muslim.

 

Salamu alaikum Wa Rahmatullah

Merayakan Hari Buruh

(Bagian 2)

Cuaca siang yang tak bersahabat tidak menyurutkan semangat para demonstran May Day atau Hari Buruh Internasional untuk berjalan santai di Malioboro pada Rabu, 1 Mei kemarin. Dengan berbagai spanduk, baliho dan bendera mereka menyusuri jalan Malioboro hingga ke Titik Nol Kilometer. Massa aksi yang tergabung dalam Komite Aksi May Day memadati jalan malioboro sekitar pukul 11.00 WIB, kemudian melanjutkan orasi di atas mobil bak terbuka ke depan gedung DPRD Yogyakarta.

Entah mengapa perwakilan massa aksi yang meminta audiensi kepada anggota DPRD tidak diperbolehkan memasuki halaman depan. Akhirnya salah satu anggota DPRD dari partai Demokrat naik ke atas mobil sambil berbicara dengan speaker, namun massa aksi langsung berteriak meminta anggota DPRD tersebut turun. Salah seorang massa  berteriak “Demokrat korup jangan bilang atas nama rakyat!” pidato yang belum dimulai itu terpaksa disudahi.

Dalam suasana aksi May Day tersebut tidak lupa penampilan teatrikal yang cukup menarik perhatian masyarakat, dua orang berbaju rapi dengan jas duduk di dalam becak, sementara beberapa orang jalanan yang menyerupai buruh dengan cat merah menarik becak secara beramai-ramai. Aksi tersebut merupakan sebuah bentuk sindiran bagi kondisi buruh di Indonesia yang masih di eksploitasi oleh para borjuasi pemilik modal.

Aksi kemudian berlanjut ke depan Gedung Agung, perwakilan organisasi mahasiswa dan serikat buruh seperti HMI MPO, MPBI (Majelis Pekerja Buruh Indonesia), JPPRT Yogyakarta, Pembebasan, FPPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia), Perempuan Mahardika menyampaikan aspirasi terkait tuntutan buruh yang selama ini belum dipenuhi Pemerintah. Ada beberapa tuntutan penting yang setiap May Day selalu diteriakkan dengan lantang: pencabutan Outsourcing.

Mengapa outsourcing harus dicabut? Pertama, outsourcing dirasa tidak manusiawi, karena buruh hanya diperlakukan sebagai faktor produksi yang digunakan sebagai sumber keuntungan perusahaan semata. Buruh outsourcing merupakan rantai terbawah dalam sistem penghisapan, karena mereka tidak mendapatkan jaminan kesehatan, bahkan seringkali tidak didaftarkan ke Jamsostek. Jelas ini merupakan bentuk pelanggaran terhadap hak pekerja. Pengusaha atau pemilik pabrik pun leluasa untuk memutus kontrak secara sepihak tanpa ada pesangon yang diberikan. Zaman memang berubah, tapi perbudakan akan selalu ada, dengan rantai yang samar tak terlihat.

Kedua, cuti hamil minimal 6 bulan bagi buruh perempuan. Dengan poster putih bertuliskan “Buruh perempuan butuh perhatian!” seorang ibu yang tidak dikenali asal organisasinya mengumpat pengusaha dan pemerintah yang sampai hari ini masih bias gender dalam merumuskan kebijakan. Fakta di lapangan memang menunjukkan bahwa cuti hamil jarang sekali diberikan oleh pemilik pabrik karena buruh yang cuti dianggap menurunkan tingkat proses produksi. Jika buruh yang sedang mengandung tersebut tetap menuntut agar diberikan masa cuti hamil, kemungkinan besar kontraknya akan diputus. Selama ini cuti hanya diberikan 2-3 bulan. Yang diperlukan seharusnya 6-7 bulan cuti. Dalam aksi yang dihadiri berbagai macam elemen termasuk gerakan perempuan tersebut membuktikan bahwa peran kesetaraan gender pun harus masuk ke pabrik-pabrik pengap yang terkadang melecehkan wanita.

Ketiga, menolak upah rendah. Isu UMR merupakan isu yang terus diperjuangkan oleh aktivis maupun serikat buruh. UMR di Indonesia rendah karena tingkat produktifitas buruh juga rendah, tapi ini fakta yang salah. Terdapat silent resistance yang selama ini terjadi di dalam diri buruh pabrik. Teori ini mendasarkan pada prilaku buruh yang bekerja dengan upah rendah. Mereka beranggapan bahwa bekerja dengan giat tidak akan menguntungkan dirinya, target tercapai atau tidak tercapai sama saja, akan dimarahi bos atau mandor. Oleh karena itu lebih baik mereka bekerja seadanya, tidak perlu rajin, sembrono, dan bekerja dengan kualitas kerja minimum. Hal tersebut terjadi di Indonesia justru dengan penerapan upah rendah. Sementara itu dengan upah yang layak dan berbagai insentif buruh akan meningkatkan kinerja nya sehingga keuntungan perusahaan juga meningkat. Jika buruh senang, mana mungkin mereka akan mogok bekerja? Fallacy (kesalahan berpikir) yang terjadi pada pengusaha dan pemerintah ini yang kemudian membuat aksi mogok buruh menjadi tradisi di Indonesia. “kami tidak akan berhenti berdemonstrasi sebelum mereka paham kondisi kami” seru salah seorang pemimpin serikat buruh.

Aksi berakhir pukul 14.40 WIB di Titik Nol Kilometer. Sambil tersenyum lelah para demonstran meninggalkan jalanan Malioboro. Kembali ke titik nol perjuangan dan berharap masa depan buruh akan lebih baik. Tapi apa boleh buat, ketika suara buruh dianggap minor dan masuk keranjang sampah media. Tidak ada jalan untuk kembali. Seperti yel-yel aksi May Day yang akan abadi bergema di jalanan tiap awal Mei: “Buruh bersatu tak bisa dikalahkan, buruh berkuasa rakyat sejahtera!” Mari Merayakan Mei!

Wartawan HMINEWS.Com
Bhima Yudhistira

Merayakan Hari Buruh part 1

Buruh masih belum bebas. Upah minimum ditunda karena pengusaha berhasil melobi pemerintah. Di Indonesia, pemilik  pabrik yang berjaya karena punya uang. Sementara isu tripartit tidak memiliki dampak apapun terhadap negosiasi buruh-pengusaha. Apakah buruh masih memiliki masa depan?

Pertama, ketika berbicara upah minimum dan tuntutan buruh lainnya, dengan mudah pengusaha akan menunjukkan angka kebutuhan hidup minimum. Yang dimaksud tentu soal materi, makanan, biaya sewa rumah, pengeluaran rutin sabun mandi, dan lain-lain. Konsep kebutuhan hidup minimum sudah lama ditentang karena tidak relevan dalam meng-cover seluruh area kebutuhan hidup buruh. Bagaimana dengan kepuasan buruh dalam bekerja dan fasilitas pabrik yang membuat buruh nyaman dalam melakukan kegiatan produksi nya. Jika standar upah minimum masih menggunakan kuantifikasi barang yang terlihat, sementara aspek lainnya belum dimasukkan, ini berarti menganggap buruh sekedar menjadi mesin hidup dan faktor produksi semata. Perlu dilakukan valuasi terkait aspek diluar materi yang digambarkan oleh Ibu Poppy Ismalina (perwakilan Indonesia dalam konferensi ILO ) sebagai substantive minimum life cost atau kebutuhan hidup substantif pengganti konsep lama, physical minimum life cost.

Kedua, benarkah jika UMR dinaikkan maka akan terjadi pengangguran? Data ADB menunjukkan bahwa kenaikan UMR yang terjadi selama 5 tahun terakhir di Indonesia tidak menunjukkan grafik yang linear dengan pemangkasan tenaga kerja di sektor formal. Artinya jika UMR dinaikkan misalnya hingga 40% dari nilai sebelumnya, kelebihan tersebut dianggap sebagai insentif bagi buruh sehingga produksi dapat naik lebih tinggi. Pengusaha tidak akan rugi, jika buruh dimanjakan dengan insentif dan fasilitas yang baik.

Kaum neo-klasik berpikir bahwa kenaikan UMR merupakan hal yang irasional di Indonesia, karena tingkat produktifitas buruh sangat minim dibandingkan negara lain. Justru sebaliknya, naikkan UMR maka buruh akan semangat bekerja. Teori ini sesuai dengan pandangan Robert Owen, seorang pemilik pabrik di Inggris yang kemudian membuat gebrakan baru dengan memotong jam kerja buruh menjadi 10 jam sehari dan memberikan penerangan lampu yang baik. Hasilnya tingkat produktifitas buruh naik, buruh bukan malah bermalas-malasan tapi buruh justru loyal terhadap perusahaan yang dimiliki Owen. Robert Owen bukan berasal dari kalangan buruh, ia seorang borjuasi kapital pemilik pabrik tapi keberpihakannya jelas untuk kesejahteraan buruh. Inti dari studi kasus tersebut menunjukkan bahwa pandangan pengusaha hari ini dapat dikatakan sesat-pikir, terkungkung dalam kalkulator industri yang kaku, dan hanya mendengar ceramah dari ekonom klasik-liberal.

Sementara perjuangan di ranah ekonomi terus dilakukan oleh kaum intelektual dan serikat buruh, tidak lupa bahwa perjuangan yang hakiki dari kaum buruh adalah menumbuhkan kesadaran diri. Menumbuhkan ide kritis, sehingga rutinitas mereka sehari-hari di depan mesin dan mandor tidak mematikan nilai kemanusiaan mereka. Jika saja hari ini mahasiswa dan buruh dapat bersatu seperti peristiwa Paris 1968 mungkin gerakan buruh bukan sekedar permainan wacana, ia membutuhkan aksi kongkrit, turun ke jalan, parade, dan menuntut hak-hak nya diberikan.

Buruh dan mahasiswa itu satu kesatuan

Jika terpisah maka perjuangan menjadi semu

Karena tembok granik lebih kuat dari tembok batu

Tembok granit rakyat bersatu!

Oleh

Bhima Yudhistira A.

Kader HMI UGM