Terhadap Jokowi, Umat Islam Maju Kena Mundur Kena

Pilpres 2014 masih setahun lagi. Tapi wacana pencapresan sudah gaduh. Di antara capres (calon presiden) yang sudah disebut-sebut namanya antara lain Jokowi, di samping Prabowo, Wiranto, Jusuf Kalla, Harry Tanoe, Anies Baswedan, dan Rizal Ramli. Tidak bisa disangkal, nama Jokowi memiliki tempat istimewa di antara nama-nama capres 2014 tersebut. Selain dikenal bersih, profilnya juga terkenal sederhana dan jauh dari kesan birokratis.

Sebetulnya semua pihak tidak akan keberatan jika Jokowi pada akhirnya mencalonkan diri sebagai Presiden untuk periode 2014-2019. Namun akan muncul perdebatan mengenai implikasi dari pencapresan Jokowi. Implikasinya adalah terjadinya pergeseran kekuasaan di DKI. Dalam hal ini, Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok sebagai wakil Gubernur akan dengan mulus menggantikan Jokowi sebagai Gubernur. Bila melihat hal ini, kasusnya akan sama ketika Fransiskus Xaverius Hadi Rudyatmo, Wakil Walikota Solo, kemudian bergeser menjadi Walikota Solo mengisi kursi kosong yang ditinggalkan oleh Jokowi yang sudah sukses meraih kursi Gubernur DKI. Ketika Hadi Rudyatmo resmi menjadi Walikota Solo, maka hal itu bagaikan memecahkan mitos tentang imposibilitas Non Muslim dapat menjadi kepala pemerintahan terhadap warga yang dominan Muslim. Uniknya sampai hari ini di Solo tidak ada penolakan signifikan yang muncul atas hal itu mengingat suksesi tersebut berjalan secara konstitusional dan tak bisa dielakkan. Di samping memang komunitas Muslim pimpinan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di Solo sedang lemah-lemahnya karena tekanan yang mereka hadapi akibat penahanan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Dalam kata lain terlihat berjalan serentak antara suksesi di tubuh pemerintahan lokal di Solo tersebut dengan rentetan pelemahan terhadap komunitas politik pimpinan ustadz yang dianggap yang paling mengancam terhalangnya suksesi pemerintahan tersebut.

Sekarang pola yang sama kemungkinan akan terulang di Jakarta sebagai pusat dan kiblat pemerintahan lokal di Indonesia. Bila nantinya Jokowi memutuskan diri untuk capres 2014, kemungkinan besar dia akan mencari pasangan dengan pola di Solo maupun di Jakarta pada pilwalkot atau pilgub yang lalu. Lagi-lagi nantinya Jokowi kembali memecahkan mitos dua sekaligus: mitos Jakarta dipimpin oleh Muslim dan Capres dan Cawapres itu harus Muslim. Mitos yang pertama akan pecah dengan suksesi yang tak terelakkan dengan naiknya Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) sebagai Gubernur yang menggantikan Jokowi. Naiknya Ahok, tidak saja memecahkan mitos Non Muslim impossible jadi Gubernur di tanah Betawi yang kental keislamannya, tapi juga etinik Cina ternyata dapat duduk sebagai Gubernur di Indonesia. Dalam kata lain, mitos pribumi dan non pribumi pecah secara otomatis.

Lalu apabila nanti Jokowi menggandeng Cawapres bukan Muslim, maka ia menendang keluar mitos Indonesia sebagai Negara Muslim. Buktinya wakil pimpinan puncaknya adalah bukan Muslim. Dan apabila terjadi skenario terburuk, misalnya setelah Jokowi menjabat Presiden, kemudian berhenti karena alasan tertentu, jadilah wakil presiden naik menjadi Presiden. Lantas dapatlah dibayangkan seperti apa implikasinya. Salah satunya, Indonesia yang dominan Muslim tidak ada masalah dipimpin oleh seorang bukan Muslim sekalipun, karena Indonesia adalah Negara demokrasi yang menjunjung tinggi prinsip pemisahan agama dengan politik. Mungkin itu nantinya alasan resmi yang dapat diumumkan ke publik yang bingung bertanya-tanya. Masalahnya tentu tidak sesederhana itu. Akan banyak implikasi dari sebuah pergeseran kekuasaan.

Saya sendiri membaca, terlepas bahwa Jokowi memang efektif dijadikan tumpangan untuk sebuah proyek politik besar tertentu, secara jujur saya katakan, jika skenario pencapresan Jokowi berpasangan dengan cawapres non-Muslim di saat masa jabatan gubernurnya belum selesai, umat Islamlah yang paling merugi. Namun sebelumnya hendaklah umat Islam introspeksi diri. Hal itu karena kesalahan dan kebodohan mereka sendiri yang membiarkan mereka dipimpin oleh elit-elit politik mereka yang korup dan egois.

Saat ini, umat Islam ketika berhadapan dengan Jokowi, ibaratnya maju kena mundur kena. Maju mendukung Jokowi, maka akan dapat pemimpin yang bukan dari kalangan yang mengerti aspirasi umat Islam. Tetapi mundur dari mendukung Jokowi, lalu memilih pemimpin yang mana lagi?

Syahrul Efendi Dasopang

Ketua Umum PB HMI MPO 2007-2009