Mahasiswa dan Kenaikan Harga BBM

ilustrasi (net)

Telah menjadi rahasia umum bahwasanya pemerintah yang diwakili Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral akan mengumumkan kenaikan harga BBM yang belum jelas akan dimumkan kapan. Hal itu sebagaimana dijelaskan Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Firmanzah (wawancara dengan Tempo). Hal ini tentu saja membuat masyarakat gundah, dan mahasiswa pun akan ada di barisan paling depan untuk menentang kebijakan yang dirasa tidak berpihak kepada rakyat.

Beberapa kelompok menyikapi rencana pemerintah tersebut dengan turun ke jalan mendukung rakyat menentang kenaikan harga BBM. HMI Makasar, contohnya. Bukan hanya itu, bahkan rekan-rekan  mahasiswapun akan melakukan pertemuan yang mengatasnamakan “Konsolidasi Mahasiswa Indonesia Menolak Kenaikan Harga BBM” dalam waktu dekat ini di salah satu kampus ternama di Indonesia.

Seperti Apa Dampak Kenaikan BBM Sebenarnya?

Mahasiswa, tentu saja, tidak boleh melihat sesuatu hanya dengan ‘apa adanya’. Kebijakan yang diambil oleh pemerintah tentu saja berdasarkan hasil pertimbangan yang telah difikirkan sebelumnya, tetapi mahasiswa harus melihat secara cermat apakah kebijakan itu benar-benar berdampak positif untuk rakyat ataukah hanya sebagai alat yang digunakan oleh golongan tertentu untuk mengambil keuntungan. Lihat dampak positif dan negatif naiknya harga BBM.

Merujuk pada ketentuan Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang menyatakan bahwa “Bumi, air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat,”  maka tidak dapat begitu saja mempersalahkan negara mengambil kebijakan untuk menaikkan harga BBM  dengan pertimbangan jika tidak dinaikkan maka subsidi tidak tepat sasaran, dalam artiaan tidak untuk masyarakat miskin tapi justru untuk  masyarakat menengah keatas. Jika hal tersebut terjadi, tentu saja apa yang diamanatkan di dalam ketentuan pasal 33 ayat 3 tersebut tidak akan terlaksana sebagaimana mestinya.

Selain itu, kenaikan harga BBM juga dapat menutup kerugian negara, serta mengurangi hutang negara yang hingga april 2013 ini diperkirakan telah mencapai Rp 2.023,72 triliun. Hal ini didasari pertimbangan bahwa besaran kira-kira kenaikan harga BBM ada di bawah angka Rp6.500 per liter. Menurut kalkulasi pemerintah, dengan tingkat kenaikan sebesar itu akan dihemat subsidi Rp21 triliun hingga Rp30 triliun. Pemerintah tidak ingin subsidi BBM tahun ini jebol jadi 53 juta kiloliter dari pagu 46 juta kiloliter seperti tahun (melonjak dari 40 juta kiloliter menjadi 45 juta kiloliter). Oleh karna itulah pemerintah menaikkan harga BBM kemudian memberikan BLT yang merupakan bentuk pengganti dari subsidi yang lebih efektif dan tepat sasaran.

Apa yang dicita-citakan oleh pemerintah tersebut tentu saja juga tidak terlepas dari dampak negatif untuk kepentingan rakyat banyak.

Jika harga BBM naik, tentu saja kebutuhan pokok dan sebagainya menjadi naik pula. Sedangkan kita tahu bahwasa pendapatan rakyat hanya segitu-segitu saja. Tentu saja ini akan memberatkan rakyat ekomomi bawah. Selain itu jika tujuan dinaikkannya BBM agar masyarakat lebih menghemat BBM, sejauh inipun pemerintah belum memberi solusi berarti terkait hal tesebut. BBM digunakan oleh rakyat untuk alat transportasi, sedangkan jikalau BBM naik maka rakyatpun akan menjadi susah pula menggunakan transportasi pribadi, sedangkan transportasi umum yang ada saat ini tidak memenuhi kebutuhan masyarakat.

Atas dasar itulah sekiranya penulis mengajak para pembaca untuk lebih cermat dalam melihat sesuatu hal yang sangat penting dan berpengaruh untuk perkembangan bangsa tercintai ini. Mari kita kawal apa yang menjadi kebijakan pemerintah ini dengan baik. Jika itu dirasa lebih banyak mendatangkan kebaikan, maka dukunglah. Tapi jika itu dirasa lebih banyak mendatangkan keburukan, maka kita selaku mahasiswa sudah seharusnya ada di barisan paling depan untuk membela hak-hak rakyat banyak.

Harry Setya Nugraha
HMI FH UII