HMI MPO Refleksi untuk Berbenah Diri

Menyongsong Kongres 2013

26 Juni 2013 mendatang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) akan mengadakan Kongres yang ke-29 di Bogor. Kongres kali ini sangat penting karena HMI kini telah mengalami “Lesu Darah.” Kongres yang nantinya akan diadakan di kota Bogor ini diharapkan mengedepankan kedewasaan sikap dan fokus melahirkan pemikiran-pemikiran yang cerdas sehingga bisa kembali menempatkan HMI sebagai pusat keunggulan di dunia kemahasiswaan dan sosial kenegaraan. Hal demikian patut dipersoalkan, sebab biasanya kongres lebih banyak debat kusir dan berpusat pada kompetisi untuk memperebutkan kursi Ketua Umum. Sedangkan pemikiran tentang intelektualisme sebagai klaimnya sebagai kelempok pembaharu belum direncanakan secara memadai, inilah yang melahirkan penilaian bahwa kondisi HMI sedang mengalami penurunan militansi dan idelisme kepemimpinan (?)

Dua Kubu

Dalam kongres HMI ke-15 di Medan masalah asas tunggal mendapat pembahasan sangat alot untuk penerapan asas tunggal, saking alotnya kengres ini disebut “kongres perjuangan.” Baru pada kongres ke-16 di Padang HMI resmi menerima asas tunggal. Namun keputusan ini harus dibayar mahal, karena HMI terpecah kedalam dua kubu ‘HMI MPO’ yang mempertahankan asas Islam dan ‘HMI Dipo’ yang mengubah asas Islam menjadi Pancasila. Perpecahan ini, terlepas apakah memang sudah menjadi kehendak sejarah yang tidak perlu disesali, tapi yang pasti meciptakan luka yang tak bisa hilang dari ingatan para kadernya dari generasi ke generasi. Perpecahan yang menguras fisik, otak dan harus mulai merangkak dari bawah lagi, dan tentunya terjadi kejumudan dalam gerakan.

Menurut pengamatan penulis, dalam perjalanan kepengurusan HMI MPO saat ini mulai terombang ambing arus sektarian. terbentuknya dua kubu yang selalu pro kontra (baca: antara Timur dan Barat) dalam berbagai hal, ini seakan mengigatkan kita tentang sejarah pahit silam dalam tubuh HMI di kongres ke-16 Himpunan Mahasiswa Islam.

Pro-Kontra antara dua kubu saat ini hadir dari pengambilan keputusan di tingkat PB, terlebih jika dalam momentum menentukan siapa yang layak menduduki kursi Ketua Umum PB HMI. Ini yang harus menjadi fokus diskursus untuk pengurus HMI (PB, Cabang) jangan sampai arus sektarian yang kini mulai menjangkit mencapai klimaksnya dan menggoreskan kembali tinta hitam di tubuh Himpunan yang kita cintai ini.

Kongres yang diadakan nantinya diahrapkan mengedepankan intelektualisme dan kedewasaan para kadernya tidak menimbulkan konflik antar kader seperti yang dialami HMI sebelah (Dipo) pada kongres Depok, [20 Maret 2013], kejadian tersebut tentunya mencoreng citra lembaga apalagi HMI dikenal dengan kumpulan kaum cerdas kini tak ubahnya bagaikan partai yang menghalalkan segala cara demi mengincar kursi kekuasaan. Selain itu yang harus dihindari pro-kontra yang berkepanjangan dimana mengambil sikap walk out karena kontra terhadap keputusan dan kemudian memberikan label negatif terhadap pimpinan yang terpilih bahkan sampai masa kepengurusannya. Sikap seperti ini muncul jika fanatisme kedaerahan masih kental dan mendara-daging, masing-masing memiliki calon yang akan diorbit dalam bursa Ketua Umum sehingga menunjukkan sikap memaksa. Sikap seperti ini jika dipertahankan akan berdampak negatif dan tentunya lembaga akan semakin mengalami kejumudan.

Seharusnya kongres merupakan cerminan ahklak aktivis HMI, sehingga kongres bukan merupakan adu kekuatan atau merebut pengaruh tetapi lebih merupakan forum untuk mewujudkan ukhuwah islamiyah dalam arti yang sebenarnya dan juga merupakan forum untuk meramu gagasan demi kepentingan lembaga dan kemajuan bangsa.

Memiliki kandidat calon dalam kongres merupakan hal yang wajar namun harus mengedepankan kedewasaan sikap kader. Idealnya dalam proses penentuan calon pimpinan baru harus memiliki kapasitas kelayakan untuk menjadi Ketua umum. Setidaknya calon yang akan dipilih minimal memiliki tiga syarat pokok; berakhlak baik, komunikatif, berpengetahuan agama luas dan mempunyai “sikap intelektual.”

Berbenah Diri

Eksistensi HMI yang mengalami “lesu darah,” kurang tanggap merespon isu-isu strategis dan popular yang sedang berkembang, HMI tidak bisa lagi memposisikan dirinya pada posisi “Middle Class” antara pemerintah dan masyarakat (mengawal pemerintah dan mendampingi masyarakat). Harusnya para kader sadar bahwa peran dan posisi kita “sama” dengan Rasullullah (baca: yang diperjuangkan). Dengan munculnya kesadaran tersebut bisa menjadi stimulus sehingga kelesuhan tidak menjangkit lagi di tubuh lembaga tercinta.

PB HMI untuk periode ke depan yang diperlukan langkah efisiensi dan efektifitas manajerial, pembagian dan pendelegasian program kerja secara lebih proporsional. Misalnya, PB HMI lebih berorientasi pada pengambilan kebijakan strategis mengenai isu-isu nasional maupun internasional (jika diperlukan). Pengerahan dana maksudnya membuka link ke cabang-cabang mengenai program-program pemberdayaan yang se-visi dari pemerintah yang dapat dijemput oleh cabang di daerah. Kemudian harus melakukan “Dekonstruksi Struktur” -meminjam istilah Muhammad nafis– yaitu bagian-bagian kerja yang memang sudah diambil oleh cabang-cabang tidak perlu lagi dimiliki di tingkat Pengurus Besar, cukup pada tingkat badko dan cabang sebagai pelaksana program kaderisasi dan kegiatan lainnya tidak lagi pengurus PB yang terjun langsung untuk mengurusi kaderisasi, dan kerja-kerja cabang yang lainnya. Dengan demikian, HMI diharapkan bisa cepat tanggap merespon persoalan-persoalan nasional yang sangat penting.

Kembali memperkuat riset dan pengembangan. Misalnya mengenai kebutuhan dasar mahasiswa sebagai basis kader HMI, minat mereka dalam berorganisasi, bagaimana dan apa yang bisa dilakukan HMI untuk pemenuhan kebutuhan kader dan para calon kader, karena realitas saat ini HMI kurang populer lagi dikalangan mahasiswa bahkan banyak mahasiswa yang “alergi” dengan HMI begitupun dimata masyarakat HMI sudah seperti “makhluk asing,” sehingga riset seperti ini sangat dibutuhkan untuk pengembangan HMI ke depan.

Oleh karnanya mari kita berbenah sehingga HMI MPO dapat mewujudkan “sesuatu”, setidaknya gambarannya seperti yang diungkapkan oleh Panglima Besar Jendral Soedirman pada kongres HMI di Yokyakarta bahwa HMI bukan saja “Himpunan Mahasiswa Islam,” melainkan juga “Harapan Masyarakat Indonesia.”

Wallahu a’lam. Selamat berkongres..

Nanang Mas’ud
Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Palopo