Penegakan Hukum dalam Perspektif dan Perlindungan HAM di Indonesia

HMINEWS.Com – Perspektif masyarakat terhadap Hak Asasi Manusia yang masih minim menjadi alasan utama bagi HMI Komisariat Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia berinisiatif untuk menggagas pelaksanaan Diskusi Publik dengan tema “Penegakan Hukum dalam Perspektif dan Perlindungan HAM di Indonesia” Sabtu, 22 Juni 2013, bertempatkan di ruang Audiovisual lt.3 Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia.

Acara diskui publik yang dilaksanakan kali ini terselenggara atas kerjasama HMI Komisariat Fakltas Hukum Universitas Islam Indonesia dengan PUSHAM UII, The Asia Foundation dan Denida.

Ingin mendapatkan hasil yang maksimal dari diskusi publik tersebut, HMI Komisariat Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia mengundang Imran, S.H., M.H (Staff Ahli Komisi Yudisial), St. Guntur Narwawi,.M.Si (PUSHAM UII), dan Tri Wahyu KH (Indonesian Court Monitoring) sebagai pembicara dalam diskusi publik kali ini.

Dalam sambutannya, Dolly Setiawan selaku Ketua Umum HMI Komisariat Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia menyatakan bahwa harapannya acara diskusi publik ini dapat menjadi kunci untuk membuka gembok yang selama ini memasung hukum di Indonesia. Artinya setelah acara ini, masyarakat atau mahasiswa khususnya dapat membuka mata bahwasanya seperti inilah penegakan hukum di Indonesia, Indonesia butuh penerus-penerus muda yang mampu menegakkan hukum di Indonesia khususnya dalam bidang keamanan yang dibarengi dengan HAM, sehingga dalam penegakan hukum, bukan HAM korban saja yang dapat dilindungi tetapi juga HAM para tersangka pelaku tindak pidana.

Dalam inti bahasannya, Imran, S.H., M.H menyatakan bahwa selaku mahasiswa, jangan hanya melihat apa yang tampak, tetapi juga harus melihat apa yang tak tampak. Hukum seharusnya tidak dipahami dalam pengertian yang semata-mata bersifat positivis karena ia akan menyempitkan makna itu sendiri karena di dalam hukum terdapat dimensi-dimensi sosial, moral dan nilai. Melihat kenyataan yang ada tersebut, maka perubahan dalam penegakan hukum di Indonesia haruslah dilakukan secara menyeluruh atau biasa dinamakan  sebagai revolusi yang sistemik.

Sementara itu, St Tri Guntur Narwaya, M.Si yang berbicara dalam konteks sosiologi HAM, menyatakan bahwa hukum dewasa ini hanya digunakan sebagai dialog yang menemui kebuntuan atau biasa dikatakan diversinovikasi.

Sebagai pembicara terakhir, Tri Wahyu KH memaparkan beberapa survei terkait kepuasan masyarakat Indonesia terhadap penegakan hukum yang ada. salah satu survei yang ia kemukakan adalah survei yang dilakukan Lembaga Survei (LSI) 1-4 April 2013 di 33 Provinsi yang menunjukkan bahwa 56 persen responden menyatakan tak puas dengan penegakan hukum di Indonesia. Hanya 29,8 persen responden yang menyatakan puas terhadap penegakan hukum di Indonesia.

Harry Setya Nugraha
Kader HMI FH UII

Mahasiswa Purworejo Tolak Kenaikan Harga BBM

HMINEWS.Com – Aliansi Mahasiswa Purworejo (AMP) menolak kenaikan bahan bakar minyak (BBM) dan menolak kompensasi BLSM (Balsem). Terdiri dari 4 elemen mahasiswa, aliansi tersebut berdemonstrasi di depan Gedung DPRD Kabupaten Purworejo dimulai pukul 09.30 WIB, Sabtu (22/6/2013).

Empat elemen mahasiswa yang tergabung adalah HMI MPO Cabang Purworejo, PMII Cabang Purworejo, IMM Cabang Purworejo, dan KAMMI Komisariat Purworejo. Aksi dimulai dari Taman Bermain Anak (TBA), melintasi Alun-Alun Purworejo dan depan Kantor Bupati, menuju perempatan Bank Rakyat Indonesia (BRI), dengan tujuan akhir kantor DPRD Kabupaten Purworejo dengan kawalan ketat aparat kepolisian.

“Kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM merupakan kebijakan yang tidak berorientasi pada kesejahteraan rakyat karena melihat situasi yang saat ini menyongsong bulan puasa dan lebaran. Pemerintah meliberalisasi harga BBM dan Migas untuk kepentingan korporasi asing yang akan terus menjerat rakyat dalam kemiskinan,” kata koordinator aksi, Much Deiniatur.

AMP juga menilai, BLSM yang diberikan kepada 15,5 juta kepala keluarga miskin hanya menjadi obat penenang sementara. BLSM, kata MD, hanya tipuan dari elite politik yang mengaku pro-rakyat untuk mendapatkan dukungan politik menjelang Pemilu 2014 mendatang.

Setelah berorasi bergantian sepanjang jalan menuju kantor  DPRD Purworejo, Massa aksi disambut oleh blockade aparat kepolisian yang melarang aliansi mahasiswa untuk masuk mengadakan audiensi dengan wakil ketua DPRD Purworejo yaitu R.M. Abdullah  dan Imam Abu Yusuf, serta menyatakan sikap secara kelembagaan bahwa DPRD Purworejo Menolak kenaikan harga BBM dan merasakan keprihatinan atas diketoknya palu oleh Menteri ESDM Jero Wacik kemarin malam. Penolakan DPRD Purworejo tersebut ditandai dengan pernyataan menolak dalam audiensi di ruang rapat paripurna.

Dan setelah itu ratusan Mahasiswa dalam aliansi melanjutkan aksinya menuju bundaran kabupaten Purworejo dan berjalan melawan arah arus semua kendaraan, dan melanjutkan orasinya dengan berbagai macam nyanyian dan pembacaan puisi oleh masing-masing aliansi.

Sekum HMI MPO Cabang Purworejo

Tuntaskan Kasus Sampang, SBY Harus Buktikan Dirinya Negarawan

Pengungsi Sampang (net)

HMINEWS.Com – Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI-MPO) mempertanyakan bukti kenegarawanan Presiden SBY yang telah menerima World Statesmanship Award dari ACF. Presiden SBY dinilai kurang tanggap terhadap sejumlah persoalan kebangsaan, terutama kekerasan yang terjadi di atas komunitas Syiah di Sampang-Madura.

“Presiden SBY harus buktikan kenegarawanannya, selesaikan konflik yang terjadi di Sampang-Madura. Berikan jaminan keamanan dan jaminan kebebasan beragama kepada setiap warga,” ujar Ketua Komisi Eskternal PB HMI MPO, Fathurrahman di Jakarta, Jum’at (21/6/2013).

Fathur menambahkan, seharusnya sebagaimana kebebasan beragama dijamin Undang-undang, tidak boleh ada penyerangan atas kelompok lain hanya karena berbeda pandangan. “Konflik tersebut karena tak kunjung diselesaikan akhirnya makin melebar dan masalah makin rumit. Warga tidak hanya kehilangan kebebasan, tetapi juga terancam kehilangan hak milik mereka berupa rumah, tanah dan penghidupan layak,”

Sebagaimana diketahui, warga mayoritas muslim Sunni di Sampang kini menolak warga Syiah yang sebelumnya mengungsi di GOR Sampang kembali ke rumah mereka masing-masing. Warga Syiah kemudian direlokasi secara paksa ke Sidoarjo –Jawa Timur.

“Selama ini kita tidak melihat upaya serius Presiden SBY menyelesaikan konflik tersebut, juga konflik-konflik lain yang serupa. Seharusnya setelah menerima penghargaan sebagai negarawan, SBY buktikan dengan menyelesaikan permasalahan tersebut, atau jika tidak mampu juga, sebaiknya penghargaan dikembalikan,” tegasnya.

Polri Harus Usut Penyerangan terhadap HMI MPO Kendari

Jakarta – Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI-MPO) mendesak agar Polri mengusut penyerangan yang dilakukan aparat Polres Kendari terhadap HMI MPO Cabang Kendari. Sebagaimana diketahui, Rabu (19/6) malam, polisi menyerang dan menganiaya kader-kader HMI MPO Kendari sebagai buntut demonstrasi yang dilakukan mahasiswa Fakultas Teknik Unhalu, padaal HMI MPO tidak terlibat di dalamnya.

“Kapolri harus mengusut tuntas penyerangan terhadap HMI MPO Kendari. Aparat mereka telah bertindak di luar batas menganiaya mahasiswa secara semena-mena dengan semangat balas dendam,” kata Ketua Komisi Eksternal PB HMI MPO, Fathurrahman di Jakarta, Jum’at (21/6).

Fathur menyatakan, berdasar laporan dari HMI MPO Kendari, penyerangan terjadi pukul 10.00 WITA. Saat itu, kata dia, para Pengurus Cabang tengah mengadakan rapat persiapan untuk mengikuti Kongres HMI MPO yang akan diadakan di Bogor-Jawa Barat. Serombongan polisi yang datang ke kampus Unhalu malam itu bermaksud balas dendam kepada mahasiswa Unhalu atas bentrok yang terjadi sehari sebelumnya dalam unjukrasa menolak kenaikan harga BBM. Karena lokasi yang berdekatan dengan kampus, HMI MPO menjadi sasaran.

“Mereka melihat papan nama sekretariat HMI MPO, kemudian mendobrak pintu dan menyeret ke luar sejumlah pengurus dan menghajar beramai-ramai. Tiga orang dipukuli dan diinjak-injak,” lanjutnya.

Setelah dianiaya, para pengurus HMI MPO Kendari terus dibawa ke Polres Kendari. HMI MPO Kendari bekerjasama dengan elemen lain dan akhirnya rekan-rekan mereka yang ditahan sore harinya dibebaskan.

“Meski rekan kami telah dibebaskan, kami minta penyerangan itu diusut. Apalagi tindakan brutal polisi Kendari tidak hanya itu, belasan mahasiswa Unhalu juga dianiaya dan masih ditahan, bahkan salah seorang di antaranya meninggal di rumah sakit setelah tertembak,” pungkas Fathur.

Upaya Rekonsiliasi Buntu, Pengungsi Sampang Direlokasi ke Sidoarjo

HMINEWS.Com –  Harapan pengungsi warga Syiah Sampang untuk kembali ke rumah masing-masing kandas. Kelompok warga mayoritas tidak mau menerima mereka dan pemerintah tidak bisa memberikan perlindungan menjamin keamanan maupun mendamaikan dua kelompok yang bertikai tersebut. Pengungsi akhirnya dipindahkan ke rumah susun di Sidoarjo, Jawa Timur.

Pemindahan tersebut, menurut Wakil Bupati Sampang, setelah melihat kondisi GOR Sampang sebagai tempat pengungsian sejak sembilan bulan lalu tidak manusiawi. Warga kemudian dipindahkan secara paksa oleh Satpol PP, diangkut dengan bus-bus ke lokasi baru yang dituju.

Menurut wartawan RRI di Sampang, Purnama Iswantoro, pemindahan para pengungsi Syiah ini didahului perundingan yang melibatkan Wakil Bupati Sampang, aparat kepolisian, perwakilan MUI dan NU Sampang, serta kelompok Syiah dan wakil pengunjukrasa. Perundingan diadakan setelah ribuan massa yang mengatasnamakan santri dan ulama anti Syiah berunjukrasa di depan GOR menyerukan pengusiran warga Syiah ke luar dari Sampang.

Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi setuju dengan relokasi tersebut, yang dinilainya lebih memberikan jaminan keamanan terhadap warga.

“Kemarin Dirjen Kesbangpol sudah ke situ. Kita minta ini diselesaikan di daerah. Tapi persoalannya siapa yang menjamin keamanan di situ. Tiap hari 24 jam kalau ditarik ke situ. Pemda Jawa Timur menyediakan lokasi. Ada 70 rumah yang disediakan. Kalau masyarakat setuju relokasi, kita taruh di perumahan itu. Gubernur Jawa Timur sudah siapkan,” kata Gamawan di Kantor Presiden Jakarta, Kamis (20/6).

Gamawan mengatakan polisi tidak bisa menjamin keamanan warga Syiah jika berusaha kembali ke rumah mereka di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam- Kecamatan Omben, dan di Desa Blu’uran, Kecamatan Karang Penang.

Panpel: Kongres HMI MPO Sudah Siap

HMINEWS.Com – Panitia Pelaksana Kongres ke-29 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) menyatakan persiapan sudah maksimal. Tempat pelaksanaan acara kongres, penginapan, serta pembicara pada acara pembukaan sudah fiks.

“Sudah maksimal. Tempat sudah fiks, pembicara juga sudah dihubungi dan dikonfirmasi,” kata Sekretaris Panitia Kongres, Heru Jauharudin, Kamis (20/6/2013).

Akan tetapi, kata Heru, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD secara yang diminta membuka Kongres secara mendadak ada acara di luar. Ketua Presidium KAHMI tersebut, lanjutnya, bisa jadi batal datang.

Sebagaimana undangan yang telah disebar, acara pembukaan Kongres akan dilangsungkan di Balai Binarum, Jalan Pajajaran 25 Bogor, Kamis 27 Juni 2013 mulai pukul 19.00WIB. Acara akan diisi dengan Seminar Nasional yang akan menghadirkan Menteri Koperasi dan UKM (Syarifuddin Hasan), Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi (Firmanzah), Deputi Gubernur BI (Halim Alamsyah) dan pengamat ekonomi, Kusfiardi.

Menurut Heru, untuk tempat menginap peserta Kongres telah disiapkan: Gedung Training Pemuda Islam di Parung, Rusunawa Universitas Juanda Bogor dan Rusunawa Universitas Ubnu Khaldun Bogor.

Saat ini sejumlah utusan cabang dari luar Jawa telah mulai berdatangan di Jakarta, seperti peserta dari HMI MPO Cabang Tual yang menginap di Asrama Sunan Gunung Jati, Jalan Bunga-Matraman Jakarta, serta peserta dari cabang lain yang masih dalam perjalanan.

Kronologis Penyerangan Sekretariat HMI Kendari oleh Polisi

HMINEWS.Com – Polisi menggeruduk sekretariat HMI MPO Cabang Kendari, menganiaya dan menahan sejumlah mahasiswa yang tengah rapat persiapan keberangkatan Kongres HMI MPO di Bogor. Sangat disayangkan tindakan polisi tersebut membabi-buta, bermotif balas dendam terhadap mahaiswa Universitas Haluoleo (Unhalu) yang sebelumnya terlibat bentrok dengan polisi.

Aparat dari kepolisian Resot Kendari tersebut datang jam 10 malam, 6 orang berpakiaan seragam. Menggedor pintu sekretariat dan menyeret Ketua HMI Cabang Kendari dan 2 orang lainnya ke luar, menginjak-injak dan memukuli hingga memar-memar.

Berikut kronologisnya penyerangan tersebut berdasar penuturan mantan Ketua Umum HMI MPO Cabang Kendari, La Asri, yang mengadvokasi penganiayaan tersebut.

“Awalnya Rabu (19/6/2013) ada aksi mahasiswa Fakultas Teknik Unhalu dan chaos berkepanjangan sampai sore, terjadi saling serang dengan polisi. Kedatangan polisi malam tadi untuk menyerang balik ke kampus. Karena kita punya sekretariat dekat kampus, kita jadi sasran amuk polisi,” kata La Asri kepada hminews, Kamis (20/6/2013).

Kader-kader HMI MPO Kendari yang berada di dalam sekretariat sebenarnya telah mengunci pintu, kata La Asri, tetapi kemudian polisi menyorotkan lampu mobil mereka ke sekretariat. Hal itu berlangsung hingga sekitar 30 menit, dan setelah itu..

“Kelihatan papan nama sekretariat, mereka teriak-teriak “HMI Ke Luar!”.  Mereka masuk menerobos, menendang-nendang pintu dan terus berteriak “buka, buka, buka!” lanjutnya.

Ketua HMI MPO Kendari, La Ode Arman membuka pintu dan polisi langsung menyeretnya ke luar, menginjak-injaknya dan memukulinya beramai-ramai. Dua kader HMI lainnya, Vino dan Abdul Syukur mengalami nasib yang sama. “Setelah itu mereka dibawa ke Polres.”

Upaya Pembebasan

Menyikapi penganiayaan dan penahanan tersebut, La Asri dan rekan-rekan lain, Kamis siang mendatangi Polda Sulawesi Tenggara. Di sana bertemu Kapolda Sultra dan Kapolres Kendari.

“Kita sampaikan aksi kemarin kita tidak ada keterlibatan dan aksi sebelumnya tidak ada chaos. Mereka menanggapi dan meminta maaf atas kesalahan yang mereka lakukan,” kata dia. Akhirnya setelah pemeriksaan, La Ode Arman dan rekannya dibebaskan sore harinya.

“Memang sudah dikeluarkan, tetapi kita menuntut polisi atas kasus penganiayaan yang mereka lakukan. Rekan-rekan kami menderita luka memar di badan, leher, muka dan kepala. Kemudian Kapolda mengatakan hal itu sedang didalami penyidik Polda dan Polres, jika ditemukan indikasi (pelanggaran) akan ditindaklanjuti,” paparnya.

Seorang Mahasiswa Unhalu Meninggal

Mulanya yang berunjukrasa hingga terjadi bentrok dengan aparat adalah mahasiswa Fakultas Teknik Unhalu. Kedua pihak saling serang, mahasiswa ada yang membawa panah, sedangkan polisi menggunakan peluru tajam. Sejumlah mahasiswa Fatek Unhalu hingga sekarang masih ada yang ditahan.

“Mahasiswa Fatek lain masih ditahan, bahkan ada yang meninggal kena peluru di leher.”

Mahasiswa tersebut meninggal di rumah sakit. Lainnya, belasan mahasiswa juga menderita luka-luka kena pentungan polisi dan tembakan peluru karet. Karena kematian tersebut, unjukrasa akhirnya meluas, tidak hanya mahasiswa Fatek, bahkan dari fakultas-fakultas lain turun ke jalan menentang polisi.

“Demo berlanjut sampai hari ini: semua mahasiswa Unhalu. Di area kampus, dari sore sampai malam dan subuh.”

Saat ini, kata La Asri, tengah diupayakan penyelesaian unjukrasa yang mengarah pada anarkisme tersebut, dengan ajakan berunding bersama pihak rektorat dan perwakilan gerakan-gerakan mahasiswa yang ada.

“Waktu audiensi di Polda tadi, mereka sedang rapat internal untuk penanganan untuk lebih cepat diselesaikan. Tapi baru unsur internal, belum ada perwakilan kampus, tapi didalamnya sudah memabhas upaya penyelesaian.”

Aksi mahasisw tersebut dilakukan sebagai respon terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan penolakan terhadap rencana kedatangan Presiden SBY tanggal 29 Juni mendatang di Sulawesi Tenggara.

Kembali Pada Kearifan Jawa Melalui Puisi

Judul buku    : Ziarah Tanah Jawa, Kumpulan Puisi 2006-2012
Pengarang      : Iman Budhi Santosa
Penerbit           : Penerbit Intan Cendekia
Terbitan           : cetakan pertama maret 2013
Tebal                  :  x + 128 halaman

Dalam bentangan sejarah, Iman Budi Santosa mengekspresikan karya sastranya dalam bentuk puisi. Ekspresi jiwa dalam perjalanan spiritual selama ini. Hiruk pikuk dan kebisingan dunia modern di tengah kehidupan manusia yang sedang mengalami krisis identitas dan krisis eksistensialnya, dan cendrung materialistis Iman Budi Santosa dengan kearifan lokalnya, melalui puisi yang telah diterbitkan dalam buku yang berjudul Ziarah Tanah Jawa hendak mencari jawaban, bahwa tidak ada jalan lain kecuali kembali. Yaitu kehendak terus mencari jati diri yang dalam istilah Jawa adalah Sangkan Paraning Dumadi, dari mana dia berasal, dengan apa ia mengada dan kemana akan berakhir.

Tidak bisa dipungkiri bahwasanya, Wong Jawa anggone semu, sinamun samudana, sesadone ing adu manis. Artinya orang Jawa cendrung semu atau terselubung, menutup kata-katanya apik dan tersamar, masalah apapun dihadapi dengan muka manis. Makna yang lebih luas yang dimaksud adalah seperti halnya isbat  yang sering didendangkan ki dalang, yaitu pergulatan mencari jati diri dibalik simbol atau pertamsilan. Karena dunia pasemon (nalar simbolis) orang Jawa adalah lelakon, untuk menemukan hakikat kedirian, dengan berpikir bijak dan olah batin (spiritual) yang cendrung bersifat simbolik, penuh sanepa, kiasan dan perlambangan. Semuanya itu berkecimpung dengan olah batin, dalam terminologi Abdul Karim al-Jilli disebut potensi ruhani (ruhiyah robbaniyah). Sehingga terminal terakhir yang didatangi manusia adalah berupa perjumpaan dengan Tuhan (Manunggaling kawulo Gusti). Drajat ini bisa diraih oleh manusia sempurna (insan kamil).

Ajakan ziarah kembali ke tanah (kearifan) Jawa oleh IBS ini menjadi obat penawar bagi kesadaran manusia modern (untuk orang Jawa sendiri), tentang bahasa dan kata-kata yang kian hari kian berhamburan di media massa, hiruk pikuk politik dan kekuasaan, yang kerap dipandang menentukan besar kecil perbuatan yang dilakukannya. Sehingga siapapun yang gagal melewati nalar simbolis, maka ia akan tenggelam dalam pemahaman Wong Jawa ora nJawani (Jawa yang tidak melakoni ke-Jawa-annya).

Kedua, pusi pembuka ziarah tanah jawa ini sebuah manifesto yang mengejutkan di tengah-tengah nasib selintir perpuisian kita yang paling mutakhir yang cendrung mengalienasi diri kita dari menjadi manusia seutuhnya, lahir dan batin. Betapa banyaknya puisi kini yang hanya seperti puisi, puisi yang terjebak hanya dalam permainan bunyi dan diksi semata, sekedar menonjolkan sensualisme bahasa yang akrobatik yang sepi dengan makna.

Karenanya puisi-puisi yang IBS yang telah dibukukan dalam bentuk buku yang berjudul ziarah tanah jawa dalam bentuk perlawanan zaman. Seperti dalam kutipan puisi berikut ini: 

Maka, aku tak akan memainkan gelap terang
Dalam puisi dan membuat tercengang
Aku hanya mendendangkan tembang
Ketika lebah kumbang datang dan pergi
Menghisap madu dan terang

Terlebih dari semua itu, seni hanya untuk seni sendiri. Puisi yang hanya berlaku kepada mereka yang hidup di dalamnya, yang entah untuk siapa ia tulis puisi itu, karena hening makna batin, baik dalam konteks spiritual individual maupun sosialnya, ia mungkin semacam pameo “Yang bukan penyair ambil bagian”. Sebuah ironi yang tampak mirip dengan gambaran karya Yunani, Tuhan yang tak dikenal. Kita tahu bahwa Dia ada, tetapi karena ia jauh dan sukar dipahami, maka pengetahuan atas-Nya pun menjadi kuasa yang sok saja.

Selanjutnya puisi-puisi yang tercatat dalam tinta emas sejarah, tidaklah  lahir dari kekosongan budaya, dan canggihnya akrobatik bahasa. Namun puisi-puisi itu langsung berhubungan dengan proses membangun makna hidup dalam konteks pribadi maupun sosial, baik dalam ruang temporal maupun prennial. Puisi yang berjudul Ziarah Tembuni bait pertama: berkaca pada lantai pendapa, malam wangi wijayakusuma// keriput uban serentak melawan, karena di sudut// dekat pot bunga berlumut, saudaraku// tembuni yang ikut serta dari gua garba bunda// masih tersimpan aman dan patut.

Selanjutnya pada bait ke 3 yang berbunyi: tetapi engkau merasa jadi tamu..// padahal, di sana masih ada makam leluhur// ada nisan kayu ditatah dengan goresan paku//mereka tak penah lupa siapa anak cucu// yang dulu nakal, suka mencuri ketela// dan membakarnya malam-malam saat bulan puasa// maka seperti terbangun dari mimpi, kucabuti  rumput teki// yang berakar pada dahi mereka, yang menjalar// menatap nama yang pernah mendongengkan kisah nabi// ramayana hingga mahabarata.

Buku Ziarah Tanah Jawa ini mengajak kita untuk bangkit dan mengingat kembali pada tanah kelahiran. Kembali menjadi orang Jawa beneran bukan Jawa sing ora njawani. Laku spiritual yang dituangkan dalam bentuk puisi oleh Iman Budi Santosa sangat menggugah ke dalam rohani sebagaimana semestinya orang Jawa, selain itu juga  mampu mengangkat kembali pemikiran-pemikiran orang jawa tempo dulu. Kemasan kata yang menghiasi pusi dalam buku tersebut, membuat kita tercengang, bahasanya amat lugas dan bersahaja.

Peresensi : Moh. Fuad Hasan

HMI Komfak Dakwah UIN Sunan Kalijaga
No hp. 085725816448//email:cahbagus8763@yahoo.com/

ARP NTB Tolak Kenaikan Harga BBM

HMINEWS.Com – Aliansi Rakyat untuk Pembebasan (ARP) menolak kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Terdiri dari 8 elemen mahasiswa, aliansi tersebut berdemonstrasi di depan Gedung DPRD Provinsi NTB dimulai pukul 10.00 WITA, Senin (17/6/2013).

Delapan elemen mahasiswa yang tergabung adalah HMI MPO Mataram, SMI, PMKRI, HMP2K, WMPM, HMP3IP, HIMATEKTA dan PII. Aksi dimulai dari Arena Budaya Universitas Mataram, melintasi Jalan Pemuda dan Jalan Airlangga, menuju perempatan Bank Indonesia, dengan tujuan akhir kantor DPRD NTB dengan kawalan ketat aparat kepolisian.

“Kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM merupakan kebijakan yang tidak berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Pemerintah meliberalisasi harga BBM dan Migas untuk kepentingan korporasi asing yang akan terus menjerat rakyat dalam kemiskinan,” kata koordinator aksi, Dedi Ermansyah.

ARP juga menilai, BLSM yang diberikan kepada 15,5 juta kepala keluarga miskin hanya menjadi obat penenang sementara. BLSM, kata Dedi, hanya tipuan dari elite politik yang mengaku pro-rakyat untuk mendapatkan dukungan politik menjelang Pemilu 2014 mendatang.

Setelah berorasi bergantian didepan gedung DPRD NTB Massa aksi ditemui oleh dua wakil ketua DPRD NTB yaitu Suryadi J. P dan Johan R, serta menyatakan sikap secara kelembagaan bahwa DPRD NTB Menolak kenaikan harga BBM. Penolakan DPRD NTB tersebut ditandai dengan penandatanganan surat kesepakatan ARP dan DPRD NTB.

Ratusan Mahasiswa dalam aliansi yang lainnya mencoba menurukan bendera merah putih setengah tiang dan aksi bakar diri sebagai bentuk perlawanan mereka terhadap rezim SBY-BD dan penolakanya terhadap kenaikan harga BBM.

LAPMI HMI Mataram

Dedikasi dan Integritas

Dedikasi semakna dengan pengabdian tulus. Seperti seorang guru yang mendedikasikan dirinya dengan segenap ilmu yang dimiliki untuk anak didiknya, mencerdaskan generasi muda yang bervisi agar mereka siap menghadapi masa depan. Banyak guru yang mendedikasikan diri seperti itu meski tak menerima imbalan atau gaji yang memadai.

Dedikasi juga artinya apabila karena pengabdiannya tersebut ia kemudian menerima keuntungan, baik yang disengaja atau tidak –seperti pepatah ‘menanam padi, rumput pun tumbuh’– hal itu tak mengubahnya menjadi ‘makhluk lain.’ Tak membelokkannya dari tujuan yang telah diniatkannya dari awal. Seorang sufi terkenal, Fudhail bin ‘Iyadh berkata: “Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah riya’.

Bekerja dengan dedikasi, adalah bekerja sepenuh hati, tak setengah-setengah. Mrantasi, kata pepatah Jawa. Di posisi manapun akan berusaha memberikan yang maksimal, yang terbaik, the ultimate. Mempersembahkan hal terbaik hingga batas tertinggi kemampuan yang dimiliki. Banyak contoh pekerja keras yang berfikir tiap waktu untuk kemajuan perusahaan-organisasi. Sedari bangun tidur sudah langsung buka laptop mencicil pekerjaannya atau memantau perkembangan. Bahkan dalam perjalanan mereka ke kantor sambil berfikir keras untuk pekerjaan atau perusahaannya. Jam kerja orang-orang seperti itu tak terbatas oleh daftar kehadiran, sehingga mengisi kartu absen kadang hanya rutinitas yang kurang menarik. Bukan karena merasa terbebani, akan tetapi level orang seperti itu sudah pada tahap diabsen atau pun tidak, mereka tetap persembahkan yang terbaik. Bahkan sejak bangun tidur hingga tidur lagi.

Mereka yang memberikan penuh akan mendapatkan yang penuh pula. Mereka yang memberikan setengah-setengah, akan mendapatkan yang setengah pula. Itu adalah hukum alami yang tak dapat diubah. Sesuai kadar pengorbananmu, sebesar itulah yang bakal kau peroleh. Namun ada hukum ‘anomali’ yang bisa dipegang, yaitu balasan kadang bisa berlipat ganda, entah yang bisa diduga, ataupun bonus dari arah yang tak disangka-sangka.

Seorang penulis mesti setia dan harus tahan berlama-lama berkutat menuliskan ide dan selalu mengasah ketajaman tulisan, memperkaya wacana dengan membaca dan bertukar pikiran, untuk mendapatkan hal-hal baru agar tulisannya tak kering dan hambar. Yang sulit itu bukan memulai, akan tetapi mempertahankan konsistensi. Banyak orang yang punya ide cemerlang untuk ditulis, akan tetapi tak sedikit yang mampet di tengah jalan. Tak mampu bertahan karena alasan jenuh atau tak mampu mempertahankan ritme. Kehabisan tenaga karena ternyata tak semudah yang dibayangkan di awal. Atau mati gaya karena hambar dan tidak meng-upgrade kapasitas dirinya.

Pilihlah sikap seperti Khalid bin Walid yang ditempatkan sebagai apa pun dalam sebuah kesatuan, ia tetap tunjukkan yang terbaik. Meski di tengah berkecamuknya perang Umar bin Khathab menggeser posisinya, menggantikannya dengan Sa’ad bin Abi Waqqash, Khalid tak berubah semangat. Loyalitasnya adalah loyalitas untuk Islam, untuk kebenaran dan cita-cita bersama yang diusung, bukan pada sebagai apa dirinya diposisikan dalam kesatuan tersebut. Begitu pula dengan Sa’ad bin Abi Waqqash, siapa kira dirinya bisa memiliki kaliber tak jauh berbeda dengan Khalid ‘Si Pedang Allah.’ Ya, orang-orang baru tahu pada hari itu, sebab sebelumnya ia selalu merendah dan tak ingin muncul ke permukaan. Dan tepatlah Sa’ad dijuluki sebagai ‘Singa yang menyembunyikan kukunya.’

Tapi dalam kehidupan, banyak orang yang sok pamer, ingin segala sesuatu yang diperbuatnya dilihat orang lain agar terpandang. Banyak yang ingin menonjol dengan cara-cara tak terpuji, mengesampingkan kejujuran. Padahal, sesuai hukumnya, sebaik apa pun suatu keburukan dikemas, lambat laun pasti tersingkap. Begitu pula, sebaik apa pun promosi, publikasi dan upaya menonjolkan diri, orang pasti akan mengetahui seperti apa kualitas dirinya yang sesungguhnya dan kemudian memperlakukannya sebagaimana kualitas diri tersebut. Kearifan Jawa mengatakan, kebenaran itu tidak usah ditunjuk-tunjukkan, kesalahan tidak usah ditutup-tutupi, karena Becik ketitik, olo ketoro. Yang baik pasti akan tercirikan, yang buruk pasti akan kelihatan.

Orang yang mempunyai kapasitas, namun berdiam diri, menunggu, dan hanya mau berbuat jika diberi kesempatan menempati posisi puncak, sebenarnya malah membuang kesempatan. Disadari atau tidak, selain kehilangan kesempatan baik, sikap berdiam diri tersebut akan menyulitkannya di kemudian hari. Bagaimana jika takdir berkata, ia menempati posisi tersebut di kemudian hari, maka yang seharusnya ia dapat menyelesaikan pekerjaan besar, ia masih harus menyelesaikan pekerjaan yang dahulu ditunda-tundanya. Bisa jadi hal-hal yang sebenarnya kecil yang seharusnya dahulu bisa diselesaikan tersebut, karena dibiarkan tertunda, kemudian menjadi masalah besar dan sulit terselesaikan. Banyak kesempatan emas yang kemudian terlewatkan, tak dapat diraihnya disebabkan ia masih disibukkan hal-hal remeh.

Perilaku demikian banyak terlihat dominan dalam politik. Biasanya aktor-aktor politik yang mencalonkan diri selalu berkampanye ini-itu, dengan program muluk-muluk, ideal sekali. Namun jika mereka kalah bersaing dari lawan politiknya, mereka kemudian berdiam diri dan menjadi penonton. Bahkan tak jarang malah merecoki, jika pun kemudian bergabung, mereka bekerja setengah-setengah. Bahkan, orang-orang seperti itu selalu menunggu-nunggu kesalahan orang lain agar kemudian bisa menjerumuskannya. Jika dilihatnya orang-orang yang bekerja tersebut berbuat kesalahan kecil didiamkan saja hingga terakumulasi sampai tingkat yang parah, baru kemudian jika sudah fatal dijatuhkan. Ada juga yang selalu kritis terhadap kesalahan sekecil apa pun, namun bukan dengan semangat konstruktif, akan tetapi semangat permusuhan, iri dan dengki.

Tak mudah memang mengatur manusia, apalagi menyatukannya. Sebab tiap kepala mempunyai isi berbeda. Keinginan berbeda. Tak semua orang mampu mengesampingkan ego pribadi untuk kepentingan bersama yang lebih besar. Sebaliknya, kepentingan umat, kepentingan masyarakat atau rakyat dikorbankan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Banyak yang karena idenya tak dipakai, masukannya tak diterima, kerja jadi ogah-ogahan. Sikap setengah-setengah dalam kerja kelompok sangat merugikan. Menutup kesempatan bagi orang lain yang seharusnya mampu tampil dan mempersembahkan yang terbaik dengan pengabdian sepenuh hati dan hasil dari  tindakan yang selalu tuntas. Dampaknya  tentu saja akan menimpa komunitas, kelompok atau kesatuan tanpa kecuali.

“Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (Al Hajj: 11)

Fathur