Kongres HMI MPO Ke-29 Akan Gunakan Model Pemilihan Baru

HMINEWS.Com – Pada Kongres HMI (MPO) ke-29 mendatang akan digunakan model pemilihan yang berbeda. Pemilihan formatur, mide formatur dan anggota Majelis Syuro Organisasi (MSO) akan disatukan, sehingga menjadi lebih efektif. Demikian model yang diusulkan  Majelis Pekerja Kongres (MPK) dalam rapat  di Sekretariat PB HMI (MPO) di Jagakarsa, Jakarta Selatan, Ahad (9/6/2013).

Menurut salah seorang anggota MPK Kongres, Abdul Gofar (mantan Ketua Umum HMI Cabang Jakarta), pemilihan nanti akan menggunakan surat suara untuk tiga calon sekaligus yang diusulkan oleh masing-masing utusan cabang.

“Surat suara dibuat berisi tiga kolom; untuk formatur, mide formatur dan MSO, sehingga prosesnya menjadi lebih cepat,” ujar Abdul Gofar.

Anggota MPK yang lain, Agus Thohir dan Burhanuddin Arifin, sebelumnya telah membahas perihal pemilihan formatur, mide formatur dan MSO yang terpisah-pisah dan prosesnya memakan waktu lama. Apalagi dengan urutan pemilihan formatur-mide formatur dan MSO, biasanya para peserta kurang terkonsentrasikan setelah formatur dipilih, sehingga dua hal lainnya dianggap kurang menarik dan dikesampingkan.

Dalam rapat yang berlangsung hingga dini hari tersebut juga dibahas sejumlah syarat dan kriteria calon formatur yang akan dipilih seperti loyalitasnya terhadap HMI, kesediaan tinggal di ibukota negara, terjaga moralitasnya, kefasihan dan lainnya. MPK juga berdiskusi dengan Sekjen PB HMI MPO, Muhammad Akbar mengenai indikator dari kriteria yang dipersyaratkan tersebut.

LIGALATAMA HMI FH UII: Sportivitas dan Silaturahmi

HMINEWS.Com –  Untuk kali pertama HMI MPO Komisariat Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia  mengadakan acara liga futsal antar kader. Di bawah pimpinan Ketua Umum Dolly Setiawan, acara yang dinamakan “LIGALATAMA” ini merupakan salah satu program kerja unit Pengembangan Sumber Daya Kader HMI Komisariat FH UII yang diketuai Redho Teguh.

Saat ditemui di sela-sela pertandingan, Redho Teguh mengatakan bahwa dimasukkannya LIGALATAMA ini bertujuan agar lebih terjalinnya silaturrahmi antar kader sekaligus penghilang penat di akhir pekan.

“Esensi acara ini adalah guna mempererat tali silaturrahmi antar kader HMI, membangun jiwa sportifitas serta guna membangun kesolidan dan kekeluargaan, yang harapannya saat berlangsungnya maupun setelah selesainya acara ini tertanamkan jiwa sportifitas dan rasa memiliki HMI setiap kader,” kata Redha di sela acara, Ahad (9/6/2013).

Ia menambahkan, bahwasanya kegiatan-kegiatan HMI adalah kegiatan yang positif. LIGALATAMA adalah salah satu kegiatan positif yang dapat  lakukan di saat teman-teman lain menghabiskan waktu akhir pekannya dengan kegiatan yang belum tentu positif.

“Kita mencoba melakukan kegiatan yang positif yaitu berolahraga bersama dengan LIGALATAMA menjadi wadah ataupun medianya,” lanjutnya.

Acara dibuka oleh Dr. Abdul Jamil, SH.,M.H, alumni HMI Komisariat Fakultas Hukum UII yang juga merupakan dosen tetap di Fakultas Hukum UII. Ia berharap kompetisi ini menjadi suatu wadah yang dapat digunakan bagi seluruh kader untuk membentuk jiwa sportifitas. Karna kader-kader HMI adalah orang yang sportif.

Harry Setya Nugraha
Kader HMI FH UII

Belajar dari Pemimpin Komisariat FE UII

 

Pada pertengahan bulan Mei, Komisariat HMI Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia mengadakan prosesi transisi kepengurusan dari tahun 2010 ke 2011. Banyak problematika yang mereka alami, baik internal maupun eksternal. Tetapi, terlontar kata-kata “YAKUSA” atau Yakin Usaha Sampai dari mulut seorang pengurus 2010 yang bernama Agung Pradana. Beliau berkata “Kata-kata YAKUSA bukanlah kata-kata biasa atau sekedar jargon penyemangat bagi sebuah kelompok alakadarnya, tetapi tersimpan banyak makna bagi yang dapat memahaminya Sebagai kader harus dapat memahami itu”. Menurut beliau apapun problematika yang terjadi, selama kita masih berusaha mengejar kebaikan, pasti akan selalu ada jalan terbaik untuk keluar.

Akan tetapi, menilik kader HMI pada hari ini seperti melihat data statistik deflasi. Mengalami penurunan Kuantitas apalagi Kualitas. Bukan hanya itu, sebagian Komisariat di lingkungan Yogyakarta mulai melepaskan dirinya dari HMI. Mengapa ini dapat terjadi? Lagi-lagi seorang Agung Pradana menjawab “Ini semua karena bagi sebagian kader, HMI hanyalah organisasi bukan sebagai keluarga sendiri. Dan mereka hanya ingin meraih gelar sebagai anggota HMI bukan ber-HMI. Habislah mereka tergerus oleh regulasi kampus yang semakin tidak berpihak kepada kaum aktivis”. Beliau melanjutkan “Kader-kader militan sudah semakin tergerus oleh hegemoni kampus yang semakin eksklusif. Dan itu berdampak kepada pribadi kader-kader kita.” Dengan segala problematika yang terjadi, dalam tubuh HMI sendiri perlu ada semacam “Breakthrough” atau Terobosan yang konkret untuk mengatasi problematika yang ada. Kemarin malam tepatnya 4 Mei 2013, tim pers HMI News mewawancarai Ketua Komisariat FE UII periode 2013/2014 yang bernama Ervin Sapto Nugroho atau biasa disapa “Pak Imam Ervin” panggilan ini ia dapat setelah ia menjabat sebagai Ketua Komisariat bulan Mei lalu. Menurut beliau, kuantitas maupun kualitas para kader yang menurun disebabkan karena budaya komisariat yang hilang atau sudah tidak pada jalurnya lagi. Hal ini dikarenakan kurang cukupnya kader dipersiapkan untuk menghadapi pertempuran zaman yang tengah terjadi. Dan akhirnya kaderpun menjadi kalangan elit kampus saja daripada susah payah mengkritisi pihak dekanat ataupun membongkar kasus korupsi yang ada di kampus. Selanjutnya beliau menegaskan, dalam kepengurusan FE UII yang baru ini lebih menekankan kepada penyaluran minat bakat kader HMI yang hobi menulis ataupun diskusi serta tertarik dengan dunia jurnalistik melalui unit yang baru dibentuk yaitu UKP (Unit Kajian dan Penelitian). “Sebenarnya tujuan pembentukan unit ini sebagai ujung tombak untuk menanamkan budaya intelektual HMI kepada para kader yang terkenal eksistensinya di tingkatan internasional.” Tuturnya dengan penuh keyakinan. Beliau, berharap dengan memfasilitasi minat serta bakat para kader HMI yang terkenal sangat kritis dan juga dekat dengan budaya intelektual dapat menarik lebih banyak lagi kader-kader untuk ber-HMI bukan hanya sebagai anggota HMI. “Minimal kader-kader kita jadi tau bagaimana cara membuat penelitian dan juga melakukan observasi.

Dengan adanya diskusi ataupun kajian yang bersinergi dengan penelitian tentang ke-HMIan maupun kajian kontemporer mampu menambah wawasan kader terkait struktural yang ada di HMI maupun pengetahuan diluar HMI dengan data yang konkret. Karena, selama ini para kader hanya bisa belajar secara informal saja untuk mengetahui seluk beluk HMI, jadi kurang merata dan tidak memahami secara baik dikarenakan tidak adanya data. Dan yang lebih pentingnya kader-kader tidak usah bingung-bingung mencari arsip-arsip HMI ataupun ingin menanyakan tugas kuliah maupun ujian-ujian yang akan mereka hadapi. Karena UKP juga menyediakan arsip-arsip baik tentang HMI maupun perkuliahan. Tinggal kontak saja UKP langsung difasilitasi” Tutur beliau dengan senyuman khas Cilacapnya. Dengan gerakan barunya, tentu saja mampu menarik minat kader dalam dunia penelitian dan juga dalam dunia jurnalistik. Beliau sangat optimis untuk segera memasifkan UKP ini. Juga sebagai harapan baru bagi kader-kader HMI untuk menjawab tantangan zaman yang akan selalu bertolak belakang dengan HMI.

Muhammad Bakhrul Fikri

Kader HMI FE UII

IIFSO: Keluarga Fondasi Utama Masyarakat Sepanjang Zaman

HMINEWS.Com – Di zaman ini institusi keluarga telah memasuki era pos-modern. Angka pernikahan menyusut, usia pernikahan makin lama dan tingkat perceraian makin tinggi. Hal itu tidak lepas dari pengaruh modernisme, paham kebebasan, individualisme, hedonisme, pandangan hidup sekuler, serta berbagai indikator lain.

Praktek yang terjadi di dunia muslim pun demikian, belum sepenuhnya sesuai dengan nilai-nilai Islam. Demikian rilis dari International Islamic Federation of Student Organisation (IIFSO), dimana HMI -MPO menjadi anggotanya, menyikapi Hari Keluarga Internasional, yang telah mengadakan pertemuan akhir Mei lalu.

“Kita menyadari bahwa mendesakkan perubahan dengan menekankan pada kearifan lokal berdasar adat -kebiasaan dan kecerdasan manusia sebagai bagian dari tradisi adalah pembangunan yang sebenarnya. Kita juga bisa membangun model yang dinamis berbasis keluarga dalam kerangka nilai kemanusiaan dan kebutuhan zaman. Dengan cara ini kita bisa menyelamatkan keluarga dari dampak negatif budaya modern, dengan menguatkan basis keluarga,” tulis Sekjen IFFSO, Ali Kurt.

Lembaga yang berkantor pusat di Turki tersebut juga mencontohkan, lingkaran intelektual di Turki menemui jalan buntu ketika mendiskusikan karakter keluarga yang religius dengan pendekatan yang materialistis dan positivis. “Memaksakan pemecahan model Barat terhadap masyarakat kita menyebabkan kebuntuan dan konflik, karena ketidakcocokan nilai-nilai barat terhadap masyarakat kita.”

Keluarga merupakan elemen paling mendasar dan penting dari hidup manusia sepanjang sejarah, yang di dalamnyalah kepribadian, kepercayaan, identitas dan karakter dasar dibangun. Pada saat yang sama, keluarga terus memainkan perannya ketika individu telah bersosialisasi dan bertransformasi menjadi bagian dari masyarakat. Hal ini akan berlangsung terus.

Tulis IIFSO, ketiadaan disiplin keluarga merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku negatif masyarakat pada umumnya. Padahal, keluarga dengan nilai-nilai yang ada di dalamnya merupakan bagian inti dari bangunan sebuah negara. Di Eropa, keluarga menghadapi krisis serius, karena industrialisasi secara bertahap telah merenggangkan ikatan tersebut, dan model keluarga Eropa dan Amerika itulah yang kini coba diperkenalkan kepada seluruh dunia.

Dunia muslim yang belakangan menerima industrialisasi juga mengalami pengaruh yang demikian, efek negatif globalisasi, penjajahan dunia muslim, konflik internal dan kemiskinan turut memperparah keadaan. Tugas semua muslimlah memperbaiki keadaan, mewujudkan kesejahteraan dan melindungi keluarga dari dampak buruk proses globalisasi.

Organisasi LSM Islam Sedunia (UNIW), dengan 225 anggota dari 53 negara terus mengkampanyekan penyelamatan keluarga, sejak Konferensi Keluarga Internasioal yang diadakan di Indonesia pada 2011 lalu. Terus mempromosikan saling berbagi pengalaman antar institusi yang berbeda.

“Kami berharap bahwa keaslian lingkungan keluarga yang asli sebagai lembaga paling penting yang juga telah diterima oleh budaya dan agama manapun, dapat dimengerti para pemerintah, NGO dan masyarakat pada umumnya mendukung kesatuan keluarga. Unutk mengenyahkan dampak negatif budaya modern, kami menyarankan penerapan kebijakan sosial yang berdasar Qur’an dan Sunnah, yang tidak memelencengkan semangat keberislaman,” demikian rilis yang diteruskan anggota Majlis Syuro IIFSO asal Indonesia, M Chozin yang juga mantan Ketua Umum PB HMI MPO tersebut.

Perlombaan dan Pengajian Warnai Peringatan Isra’ Mi’raj HMI FH UII

HMINEWS.Com – HMI Komisariat Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia mengadakan lomba-lomba untuk anak-anak Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA). Perlombaan diadakan di Masjid Bani Ismail, Jalan Nitikan Baru, Gang Yudistira, Yogyakarta, Kamis (6/6/2013).

Acara yang diadakan ini merupakan salah satu rangkaian acara peringatan  Isra’ Mi’raj yang di selenggarkan oleh HMI Komisariat FH UII bekerja sama dengan remaja Masjid Bani Ismail yang kemudian dilanjutkan dengan acara inti yaitu pengajian yang dilangsungkan pada pukul 20.00 WIB dengan pembicara Ustadz Nasir  Harits, mengusung tema “Memaknai Isra’ Mi’raj Guna Terwujudnya Karakter Mujaddid.”

Lomba-lomba yang diadakan kali ini diantaranya adalah lomba hafalan surat pendek, lomba adzan dan lomba doa sehari-hari. Total peserta yang mengikuti seluruh rangkaian perlombaan sebanyak 30 anak yang terdiri dari siswa-siswi TPA Bani Ismail dan anak-anak sekitar.

Saat ditemui di sela-sela perlombaan, ketua panitia, Fadil Muhammad, mengatakan bahwa tujuan dimasukkannya perlombaan-perlombaan ini di dalam rangkaian acara selain untuk mengembangkan potensi dan bakat anak juga agar anak-anak dapat memaknai peristiwa Isra’ Mi’raj itu sendiri.

“Kita tahu bawasanya dewasa telah terjadi distorsi terhadap sejarah Islam, sehingga tumbuhlah sikap enggan dalam melaksanakan ibahah sholat dan sebagainya. Oleh karena itu kami bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai keislaman itu lagi yang dimulai dari anak-anak dengan harapan mereka ini dapat menjadi pembaharu sebagaimana tema yang kita angkat yaitu Memaknai Isra’ Mi’raj Guna Terwujudnya Karakter Mujadid,” ujar Fadil.

Dolly Setiawan, formatur HMI Komisariat FH UII, menyatakan bahwa dengan adanya kerjasama HMI Komisariat FH UII dengan remaja Masjid Bani Ismail, harapannya kontribusi HMI di masykarakat semakin jelas dirasakan, membangkitkan kecintaan kepada Rasullullah agar meningkatkan ketaqwaan serta memberi pemahaman, khususnya kepada anak-anak kecil tentang pentingnya  sholat.

Ditambahkannya juga, “Sebelum acara ini berlangsung, terjadi perdebatan diantara pengurus HMI Komisariat FH UII ketika adanya pandangan bahwa ini adalah bid’ah. Namun saya meyakinkan kepada pengurus agar tetap menjalankan niatnya karna acara ini sangat bermanfaat. Suatu perbuatan yang tidak dilakukan oleh Rasulullah bukan berarti haram dilakukan, selama hal tersebut ada dasar hukum yang mendukung dan bernilai positif, maka tidaklah dapat dikatakan sesat. Untuk itu kita tetap bertekat melaksanakan acara ini dan alhamdulillah acara berjalan dengan lancar,” kata Dolly Setiawan.

Harry Setya Nugraha

Kader HMI FH UII

Terhadap Jokowi, Umat Islam Maju Kena Mundur Kena

Pilpres 2014 masih setahun lagi. Tapi wacana pencapresan sudah gaduh. Di antara capres (calon presiden) yang sudah disebut-sebut namanya antara lain Jokowi, di samping Prabowo, Wiranto, Jusuf Kalla, Harry Tanoe, Anies Baswedan, dan Rizal Ramli. Tidak bisa disangkal, nama Jokowi memiliki tempat istimewa di antara nama-nama capres 2014 tersebut. Selain dikenal bersih, profilnya juga terkenal sederhana dan jauh dari kesan birokratis.

Sebetulnya semua pihak tidak akan keberatan jika Jokowi pada akhirnya mencalonkan diri sebagai Presiden untuk periode 2014-2019. Namun akan muncul perdebatan mengenai implikasi dari pencapresan Jokowi. Implikasinya adalah terjadinya pergeseran kekuasaan di DKI. Dalam hal ini, Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok sebagai wakil Gubernur akan dengan mulus menggantikan Jokowi sebagai Gubernur. Bila melihat hal ini, kasusnya akan sama ketika Fransiskus Xaverius Hadi Rudyatmo, Wakil Walikota Solo, kemudian bergeser menjadi Walikota Solo mengisi kursi kosong yang ditinggalkan oleh Jokowi yang sudah sukses meraih kursi Gubernur DKI. Ketika Hadi Rudyatmo resmi menjadi Walikota Solo, maka hal itu bagaikan memecahkan mitos tentang imposibilitas Non Muslim dapat menjadi kepala pemerintahan terhadap warga yang dominan Muslim. Uniknya sampai hari ini di Solo tidak ada penolakan signifikan yang muncul atas hal itu mengingat suksesi tersebut berjalan secara konstitusional dan tak bisa dielakkan. Di samping memang komunitas Muslim pimpinan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di Solo sedang lemah-lemahnya karena tekanan yang mereka hadapi akibat penahanan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Dalam kata lain terlihat berjalan serentak antara suksesi di tubuh pemerintahan lokal di Solo tersebut dengan rentetan pelemahan terhadap komunitas politik pimpinan ustadz yang dianggap yang paling mengancam terhalangnya suksesi pemerintahan tersebut.

Sekarang pola yang sama kemungkinan akan terulang di Jakarta sebagai pusat dan kiblat pemerintahan lokal di Indonesia. Bila nantinya Jokowi memutuskan diri untuk capres 2014, kemungkinan besar dia akan mencari pasangan dengan pola di Solo maupun di Jakarta pada pilwalkot atau pilgub yang lalu. Lagi-lagi nantinya Jokowi kembali memecahkan mitos dua sekaligus: mitos Jakarta dipimpin oleh Muslim dan Capres dan Cawapres itu harus Muslim. Mitos yang pertama akan pecah dengan suksesi yang tak terelakkan dengan naiknya Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) sebagai Gubernur yang menggantikan Jokowi. Naiknya Ahok, tidak saja memecahkan mitos Non Muslim impossible jadi Gubernur di tanah Betawi yang kental keislamannya, tapi juga etinik Cina ternyata dapat duduk sebagai Gubernur di Indonesia. Dalam kata lain, mitos pribumi dan non pribumi pecah secara otomatis.

Lalu apabila nanti Jokowi menggandeng Cawapres bukan Muslim, maka ia menendang keluar mitos Indonesia sebagai Negara Muslim. Buktinya wakil pimpinan puncaknya adalah bukan Muslim. Dan apabila terjadi skenario terburuk, misalnya setelah Jokowi menjabat Presiden, kemudian berhenti karena alasan tertentu, jadilah wakil presiden naik menjadi Presiden. Lantas dapatlah dibayangkan seperti apa implikasinya. Salah satunya, Indonesia yang dominan Muslim tidak ada masalah dipimpin oleh seorang bukan Muslim sekalipun, karena Indonesia adalah Negara demokrasi yang menjunjung tinggi prinsip pemisahan agama dengan politik. Mungkin itu nantinya alasan resmi yang dapat diumumkan ke publik yang bingung bertanya-tanya. Masalahnya tentu tidak sesederhana itu. Akan banyak implikasi dari sebuah pergeseran kekuasaan.

Saya sendiri membaca, terlepas bahwa Jokowi memang efektif dijadikan tumpangan untuk sebuah proyek politik besar tertentu, secara jujur saya katakan, jika skenario pencapresan Jokowi berpasangan dengan cawapres non-Muslim di saat masa jabatan gubernurnya belum selesai, umat Islamlah yang paling merugi. Namun sebelumnya hendaklah umat Islam introspeksi diri. Hal itu karena kesalahan dan kebodohan mereka sendiri yang membiarkan mereka dipimpin oleh elit-elit politik mereka yang korup dan egois.

Saat ini, umat Islam ketika berhadapan dengan Jokowi, ibaratnya maju kena mundur kena. Maju mendukung Jokowi, maka akan dapat pemimpin yang bukan dari kalangan yang mengerti aspirasi umat Islam. Tetapi mundur dari mendukung Jokowi, lalu memilih pemimpin yang mana lagi?

Syahrul Efendi Dasopang

Ketua Umum PB HMI MPO 2007-2009

Kongres Makin Dekat, HMI MPO Harus Makin Solid

HMINEWS.Com – Menyikapi agenda Kongres XXIX Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) yang akan digelar di Bogor kurang dari satu bulan lagi, diharapkan persiapan makin matang. Baik itu menyangkut konsep hingga persoalan teknis, harus benar-benar matang sehingga tercapai hasil seperti yang diinginkan.

Panitia, MPK (Majelis Pekerja Kongres) dan Pengurus Besar juga diharapkan makin memantapkan konsolidasi dengan Badko dan cabang-cabang. “Komunikasikan dengan Badko yang ada di seluruh Nusantara. Berkonsolidasi untuk rembug nasional terkait dengan arahan organisasi kedepan,” kata salah satu pengurus Badko Jawa Bagian Tengah dan Timur (Jabagtengtim), Muhadz Ali kepada hminews, Ahad (2/6/2013).

Ia juga berharap, potensi konflik diantisipasi sedini mungkin, sehingga kongres berjalan lancar, tidak ada saling curiga antar kader yang tentu bisa berdampak pada eksistensi gerakan secara nasional. Muhadz juga mengingatkan agar sesama kader tetap menjaga uswah dan ukhuwah, termasuk saat kongres berlangsung.

Badko Jabagtengtim, lanjut Muhadz, telah mengkonsolidasikan dengan semua cabang yang bernaung di Badko-nya dan telah menghasilkan gagasan yang akan disampaikan pada kongres nanti. Oleh karena itu, ia mengimbau, dengan semakin dekatnya waktu kongres, segala sesuatu yang akan dibutuhkan di kongress harus diselesaikan.

“Badko Jabagtengtim akan selalu mensolidkan diri baik secara internal kepengurusan maupun me-masiv-kan komunikasi dengan cabang-cabang tengah,” pungkasnya.

KPK Segera Bahas Temuan Baru Kasus Century

HMINEWS.Com – Komisis Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Tim Pengawas Kasus Century akan segera bertemu untuk meneliti kemajuan kasus Century. Direncanakan akan digelar pertemuan pada 5 Juni mendatang.

“Kami akan bertemu dengan Timwas, karena mereka akan melaporkan kemajuan perkembangan kasus itu. Insya Allah, 5 Juni mendatang,” kata Jubir KPK, Johan Budi, di sela seminar tentang Independensi KPK di Auditorium Fisip Unair Surabaya, Senin (3/6/2013).

Menurut Johan, Ketua KPK Abraham Samad menyebut ada hal baru dalam kasus Century, yang akan diketahui dari hasil pertemuan nanti.

Sebelumnya, Jumat (31/5), anggota Timwas Kasus Century Bambang Soesatyo didampingi tiga orang inisiator Timwas mendatangi KPK untuk memberikan data baru dari kasus Century berupa dokumen rapat dan dokumen rekayasa pada saat perhitungan sistemik.

Dalam kasus baillout bank Century, KPK baru menetapkan mantan Deputi Bidang IV Pengelolaan Devisa Bank Indonesia Budi Mulya sebagai tersangka pada tanggal 7 Desember 2012, sedangkan mantan Deputi Bidang V Pengawasan BI Siti Chodijah Fajriah dianggap bisa dimintai pertanggungjawaban hukum.

Dipukul Aparat, Unjukrasa HMI Makassar Berujung Ricuh

HMINEWS.Com – Unjukrasa anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di kantor Pertamina Divre VII Makassar berujung ricuh. Kericuhan pecah setelah dipukulnya seorang anggota HMI oleh aparat kepolisian yang menghalangi mahasiswa memasuki perkantoran Pertamina, Senin (3/6/2013).

Kader yang terkena pukulan aparat tersebut, Awi, dan rekan-rekannya tidak terima dengan pemukulan tersebut. Mereka kemudian mensweeping anggota TNI Polri yang melintas di Jalan Botolempangan, di mana sekretariat HMI Cabang Makassar berada. Tidak hanya itu, mahasiswa juga menyandera sebuah sepeda motor milik Satlantas Poltabes Makassar.

Aksi solidaritas atas pemukulan tersebut kemudian digelar di kampus-kampus dengan mimbar bebas, yang berlanjut hingga malam harinya.

Menindaklanjuti pemukulan tersebut, Propam Polda Sulselbar memeriksa AKBP Singgih (Kabag Ops Polrestabes Makassar) dan Kompol Setyo (Kasat Sabhara Polrestabes Makassar), dua perwira yang diduga memukul anggota HMI.

Indonesia Masih Butuh 4,18 Juta Pengusaha Lagi

HMINEWS.Com – Saat ini jumlah wirausahawan di Indonesia 570.339 orang, atau hanya 0,24% dari 237,64 juta penduduk Indonesia. Jumlah tersebut masih jauh dari mencukupi sebagai prasyarat kemajuan dan kesejahteraan bangsa secara ekonomi dengan minimal 2% pengusaha dari total penduduknya.

“Wirausaha merupakan salah satu solusi untuk menekan tingkat pengangguran, terutama lulusan SD yang jumlahnya masih cukup besar di Indonesia. Selain bisa menciptakan pekerjaan bagi diri sendiri, wirausaha juga dapat membuka kesempatan kerja bagi orang lain,” kata Menteri Tenaga Kerja, Muhaimin Iskandar dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (1/6/2013).

Untuk memecahkan masalah tersebut Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) bertekad menciptakan 10 ribu orang wirausaha baru setiap tahunnya. Dengan program yang dilaksanakan di 33 Propinsi melalui bantuan pelatihan dan pembinaan dari lulusan SD hingga sarjana yang masih belum bekerja.

Cak Imin, demikian sapaan akrabnya, mengatakan Indonesia masih butuh sekitar 4,18 juta wirausahawan lagi, sehingga target 2% terpenuhi. Namun, lanjutnya, Indonesia menghadapi kendala, yaitu bahwa jumlah pekerja yang ada saat ini masih didominasi lulusan SD.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk bekerja dengan pendidikan SD ke bawah mencapai 54,6 juta orang (47,9%), lulusan SMP mencapai 20,3 juta orang, lulusan SMA 17,8 juta orang, dan SMK sebanyak 10, 2 juta orang. Penduduk yang bekerja dengan pendidikan diploma 3,2 juta orang (2,82%) dan berpendidikan universitas 7,9 juta orang (6,96%).