Mengembangkan Mental Wirausahawan

entrepreneur (ilustrasi)

Di zaman ini golongan kaya adalah para pengusaha atau entrepreneur. Bukan saja mandiri secara keuangan dengan usaha yang mengalirkan uang, golongan pengusaha juga bisa lebih bermanfaat bagi lebih banyak orang. Betapa banyak orang yang bekerja pada mereka, yang dengan itu mereka mencukupi kebutuhan pribadi, berumah tangga dan menghidupi keluarga.

Kelangsungan ekonomi orang-orang kecil, yaitu para karyawan atau buruh sangat bergantung pada kestabilan iklim kerja. Jika terjadi goncangan yang menimpa dunia usaha seperti kebangkrutan, yang terkena dampaknya adalah orang-orang kecil yang segera menjadi pengangguran dan menimbulkan kerawanan. Orang-orang gajian, yang mengandalkan penghasilan dari bekerja kepada orang lain, pemasukannya ‘terbatas.’ Ditentukan atau dijatah sekian-sekian setiap bulannya. Beda dengan pengusaha yang bisa mendapatkan keuntungan berlipat, meski peluang kerugian juga sama.

Memulai Usaha

“Sebaik-baik usaha adalah pekerjaan seseorang dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur.” (hadits)

Usaha dipahami tidak hanya dalam bentuk dan skala kecil, tapi juga skala besar, nasional bahkan multinasional. Tentu banyak bisnis atau usaha halal yang dapat dikembangkan hingga level tersebut tanpa mengubah status kehalalannya dengan keuntungan yang besar.

Membuka usaha berarti tidak hanya mencari penghasilan, tetapi juga merintis kemandirian. Kemandirian ekonomi merupakan salahsatu sumber harga diri seseorang. Kebanyakan usahawan yang berhasil mengembangkannya dari hal-hal yang paling menarik dan mereka kuasai, karena di situlah passion dan energi yang membuat mereka bertahan. Apapun itu, yang penting halal, tidak merugikan orang lain dan bukan riba.

Berbisnis atau berwirausaha merupakan manifestasi kejujuran dan kerjakeras manusia untuk meningkatkan kualitas kehidupan setahap demi setahap, mengumpulkan rezeki sedikit demi sedikit. Usaha seperti inilah yang terpuji dan diridhai Allah, sebagaimana telah Dia halalkan jual beli.

Mental Wirausahawan

Nilai-nilai positif yang dapat diambil dari semangat berwirausaha tidak hanya kejujuran dan kerjakeras. Masih ada semangat kesabaran. Dengan kesabaran inilah wirausahawan mampu melewati fase-fase sulit, menghadapi banyak penolakan, bahkan cibiran dan cemoohan. Sabar mengumpulkan modal dan keuntungan sedikit demi sedikit, sabar menghadapi keluh kesah, komplain, protes dan pengaduan pelanggan, pembeli barang dan jasa yang ditawarkannya.

Wirausahawan diharuskan menjalin hubungan dan komunikasi dengan sebanyak mungkin orang. Jatuh bangun dalam menjalani bisnis atau segala jenis usaha itu wajar, bahkan ‘wajib’, tidak dapat dielakkan. Karena dari proses itulah, mental wirausahawan ditempa, daya tahannya diuji, semangat, daya juang dan keyakinannya dibuktikan. Dari modal yang kecil, keuntungan terus ditabung, dikumpulkan sedikit demi sedikit dan makin lama bisnis makin berkembang. Meski jatuh berkali-kali, usaha untuk bangun pun harus berkali-kali pula, bahkan lebih dari jumlah kejatuhan.

Rangkaian pengalaman itulah yang pada akhirnya turut membentuk diri sang wirausahawan. Ia menjadi jeli, teliti, sabar, tidak tergesa-gesa mengambil jalan pintas untuk mendapatkan keuntungan. Enjoy dengan keuntungan-keuntungan kecil, telaten terhadap setiap orang dan  memperlakukan mereka itu dengan perlakuan paling baik.

Kesan-kesan mendalam, kepercayaan dan simpati yang diberikan kepada tiap-tiap orang yang pernah berhubungan nantinya akan menjadi ‘penolong’. Merekalah yang akan menjadi mitra bisnis yang solid, rekan atau partner serta menjadi pelanggan setia bagi jasa dan produk yang kita tawarkan.

Setidaknya, jikapun bukan mereka yang langsung akan berhubungan dengan bisnis kita, orang-orang yang demikian itu akan dengan sukarela mem-promote produk kita atau merekomendasikan teman-teman mereka. Atau saat kita jatuh, kepercayaan orang-orang lainlah yang akan datang menawarkan solusi. Meski bangkrut hingga minus, kepercayaanlah jalan untuk kembali bangkit. Sebab orang-orang itu tahu kita berkualitas, dapat dipercaya dan dapat diandalkan. Semua orang besar mengakui hal itu.

Fathur

Memperkuat Gerakan Ideologis dan Epistemik HMI

Sebagai organisasi kemahasiswaan tertua di Indonesia saat ini, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) telah merasakan sejarah panjang, pasang-surut, pahit-manis, dan serentetan peristiwa demi peristiwa yang menentukan nasib bangsa. HMI merupakan anak kandung dari revolusi kemerdekaan yang ikut berjuang bersama elemen bangsa yang lain dalam mempertahankan dan membangun negeri ini. Peranan HMI pasca-kemerdekaan RI diwujudkan dalam bentuk pembinaan sumber daya manusia (mahasiswa/kaum muda), pembinaan masyarakat, serta partisipasi dalam gerakan sosial untuk memperbaiki keadaan.

HMI memiliki tiga komitmen utama dalam aktivitasnya, yaitu komitmen ideologis, komitmen epistemologis, dan komitmen organisatoris. Komitmen ideologis diaplikasikan melalui karakteristik gerakan HMI yang berbasis pada ajaran Islam (al-Qur’an dan sunnah). Islam bagi HMI, tidak hanya sebagai sebuah ritus formal belaka, namun lebih daripada itu, merupakan landasan perjuangan serta petunjuk dalam berpikir. Komitmen epistemologis diwujudkan HMI melalui penguatan dan pengembangan gerakan intelektual. HMI dan intelektualisme adalah sesuatu yang identik. Sementara itu, komitmen organisatoris diejawantahkan dalam penguatan aspek kepemimpinan dan manajerial, serta keterampilan dalam mengelola persoalan.

Revitalisasi Keorganisasian HMI

Usia sebuah organisasi yang kian bertambah matang, tidak dengan serta-merta membuat organisasi tersebut mengalami kematangan pula. Sejumlah organisasi malah makin rapuh justru ketika usianya kian bertambah. HMI tentunya menyadari hal itu, sehingga di setiap kesempatan, HMI selalu menilai, mengkritisi, dan mengevaluasi dirinya sendiri. Namun demikian, tindakan-tindakan semacam itu mulai kurang mendapat perhatian belakangan ini. Hal ini terjadi karena euforia reformasi—yang juga diperjuangkan oleh HMI—yang membuat keadaan menjadi sangat hingar-bingar dan penuh pragmatisme. Situasi saat ini menjebak manusia dan elemen-elemen masyarakat untuk terlalu berpikir dan bertindak jangka pendek tanpa memikirkan efek jangka panjangnya.

Para penggiat demokrasi (termasuk HMI) benar-benar masih dibuai oleh kebahagiaan karena perjuangannya selama era otoritarian, berhasil menumbangkan Orde Baru, lalu mengantarkan bangsa ini kepada alam yang demokratis. Para pejuang reformasi kemudian banyak disibukkan oleh hiruk-pikuk kejadian yang sesungguhnya masih merupakan pertarungan antara kekuatan reformasi dan kekuatan neo-Orde Baru. Sayangnya, hiruk-pikuk ini membuat elemen-elemen pro-reformasi menjadi terlena, dan benar-benar lupa untuk kembali memperkuat dirinya. Karena itu di sana-sini kita bisa menemukan kaum reformis yang makin lemah secara internal. Celakanya, sebagian di antara mereka malah berbelok arah dan menjadi pendukung neo- Orde Baru.

Di sinilah HMI mesti kembali memikirkan bangunan organisasinya. HMI harus bekerja ekstra keras untuk mengokohkan pilar-pilar kelembagaannya. Hal tersebut dilakukan melalui suatu Rekayasa Kreatif, melalui rencana jangka pendek dan jangka panjang, yang saling menopang dan berkesinambungan. Rekayasa Kreatif itu berupa pernyempurnaan regulasi organisasi, penataan manajemen organisasi, peningkatan kinerja struktural, pengaktifan sel-sel kultural (utamanya di kampus-kampus), ekspansi struktur cabang (baik di dalam maupun di luar negeri), penguatan fund rising, penguatan jaringan internasional, pengelolaan bakat dan minat anggota, dan usaha-usaha lainnya.

Perkaderan dan Pembinaan SDM

Hal yang tidak boleh dilupakan HMI adalah agenda memperkokoh perkaderan dan pembinaan anggotanya (SDM). Perkaderan HMI harus konsisten melaksanakan ketentuan dalam pedoman perkaderan HMI, yang telah dirancang sedemikian rupa untuk memajukan organisasi. Perkaderan HMI tentunya tidak sekadar training atau kajian wacana belaka, tetapi juga menyangkut skill berorganisasi, skill kepemimpinan, skill berjaringan, dan skill kebutuhan kehidupan (life skill). Namun yang harus terus diingat adalah, bahwa penguatan perkaderan HMI harus komit pada tujuan dasar HMI sebagaimana yang tercantum dalam anggaran dasarnya.

Pembinaan sumber daya kader menjadi hal yang urgen karena hal ini menjadi ruang kosong yang tidak diseriusi dengan baik oleh negara maupun komunitas masyarakat sipil. Pendidikan yang diselenggarakan oleh negara, relatif hanya berorientasi pada penciptaan kaum pekerja, bukan penciptaan manusia seutuhnya. Adapun pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat sipil, masih cukup lemah, dan sebagian di antaranya justru karena dorongan proyek, bukan demi kepentingan pemanusiaan manusia.

HMI sebagai organisasi yang telah menegaskan tujuannya untuk membina manusia menjadi manusia yang termanusiakan dan memiliki derajat yang mulia (ulul albab), merupakan salah-satu yang bisa diharapkan untuk mencetak manusia-manusia yang unggul sebagai kreator di lingkungan masyarakat maupun negara (kelak). Hal ini mengingat bahwa HMI merupakan suatu “komunitas kreatif” yang dapat melahirkan elemen-elemen yang menjadi creative minority yang bekerja untuk membangun dan mengawal peradaban. Kader (alumni) HMI harus menjadi pemimpin dan pelopor di lingkungan manapun ia berada, yang berperan sebagai penggerak yang mengarahkan lingkungan sekitarnya untuk tidak stagnan dan malangkah jauh lebih maju dari keadaan sebelumnya

Penguatan Masyarakat Berperadaban

Masyarakat berperadaban yang dicita-citakan HMI adalah suatu masyarakat yang tertib, adil, sejahtera, toleran, damai, dan tunduk pada ajaran-ajaran Ilahiyah (masyarakat tamaddun). Reformasi 1998 adalah langkah awal bagi bangsa ini untuk mewujudkan suatu masyarakat dan negara sebagaimana yang menjadi cita-cita pendiri bangsa, serta yang tercantum dalam Pancasila dan UUD 1945. Apa yang dicita-citakan oleh HMI, pada sasarnya sama dengan apa yang telah dirumuskan oleh para bapak bangsa.

HMI memandang, jika Pancasila dan UUD 1945 dilaksanakan secara konsekuan dan berkesadaran—tidak doktriner sebagaimana yang dijarkan rezim otoriter Orde Baru—maka bangsa Indonesia akan sampai pada terwujudnya impian menjadi negara paripurna. Peran HMI dalam mewujudkan hal itu adalah dengan menyiapkan sumber daya kader yang ideal, yang berpikiran sehat, yang berwawasan kemasadepanan, yang ulul albab. Peran HMI yang lain adalah senantiasa mengingatkan dan mengkritik kebijakan pemerintah/negara apabila terdapat kekeliruan dan penyelewengan kekuasaan.

HMI memang perlu selalu mengingatkan pemegang kuasa, sekaligus harus senantiasa komitmen pada amanah reformasi 1998, sebab dewasa ini nampak sekali terlihat adanya upaya pihak-pihak tertentu (yang merupakan kelompok neo-Orda Baru) yang berupaya mengganjal secara sistemik jalannya reformasi. Hal itu seperti terlihat pada upaya mematikan (membunuh) tokoh-tokoh pro-reformasi, seperti Munir, atau melemahkan lembaga-lembaga negara yang merupakan anak kandung reformasi, seperti MK, KPU, KY, Kompolnas, KPK, dan sebagainya. Juga ada upaya untuk menghianati reformasi melalui jalur legal-formal, baik dengan merevisi UU ataupun dengan membuat UU yang bertentangan dengan hakikat reformasi.

Kongres HMI ke-29 merupakan forum dimana HMI se-Indonesia akan membicarakan, mengevaluasi, dan merumuskan agenda jangka pendek dan jangka panjang, secara internal maupun eksternal, sebagai bagian dari upaya.

mengawal cita-cita pendiri bangsa, mengawal semangat perubahan, dan membangun sebuah Indonesia yang lebih berperadaban.

(dari TOR Kongres XXIX)

Bekal Menuju Kongres

HMINEWS.Com – Kurang dari satu bulan lagi insya Allah akan dilangsungkan Kongres ke-29 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) di Bogor (26-30 Juni 2013). Dalam waktu yang makin pendek ini, semua pihak mempersiapkan segalanya dengan maksimal, mulai dari panitia, SC, Majelis Pekerja Kongres (MPK), termasuk calon utusan cabang yang akan mewakili cabang masing-masing.

Berikut sejumlah hal penting yang harus dipersiapkan utusan cabang sebelum masuk forum kongres.

Kongres adalah forum kekuasaan tertinggi dalam HMI, keputusan apapun bisa dibuat dalam forum ini dengan kriteria yang telah digariskan dalam konstitusi.  Kongres juga bukan hanya menilai Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pengurus dan memilih Ketua baru.  Persiapkan ide-ide cemerlang untuk kemajuan Himpunan yang kita cintai ini.

Kongres bukan ajang untuk belajar ngomong. Bekali diri dengan pemahaman terhadap AD/ART, Khittah Perjuangan dan hal-hal penting lainnya agar nyambung. Berkonsultasilah terlebih dahulu dengan para pengurus cabang sebelumnya yang pernah mengikuti forum kongres agar tidak gagap.

Penting juga untuk menahan diri dari perdebatan yang tidak esensial atau debat kusir yang hanya membuang waktu dan menguras energi. Tidak perlu mengulang-ulang pertanyaaan, meminta penjelasan atau menjelaskan hal-hal yang sudah disepakati (dengan ketuk palu) setelah pembahasan sebelumnya, kecuali memang itu menyangkut masalah yang penting.

Persiapkan kesehatan, karena perjalanan dari cabang masing-masing menuju Bogor, apalagi dari cabang yang jauh (luar Jawa) yang tentu bisa melelahkan. Jangan sampai sakit di perjalanan dan selama kongres berlangsung.

Tak kalah penting, persiapan akomodasi masing-masing, transportasi pergi-pulang kongres. Masih ada lagi? Selamat mempersiapkan diri menuju Kongres XXIX. Mari kuatkan gerakan ideologi dan epistemik HMI.

 

Dunia Sudah Berubah, Tapi Jawaban untuk Konflik Muslim-Barat Masih Ada

ilustrasi

Riyadh – Pada awal abad ke-21, orang-orang di seantero dunia memiliki harapan besar akan adanya kemajuan dan perdamaian global. Namun, serangan 11 September 2001 oleh beberapa orang Muslim menghidupkan kembali sejarah ketegangan antara Barat dan dunia Muslim.

Sayangnya, peristiwa ini, dan perang yang dilancarkan AS setelahnya, mengukuhkan perpecahan ini sebagai Barat versus dunia Muslim.

Namun, tidak seperti pemisahan geopolitik lainnya, paradigma ini tidak sejajar. Hubungan antara Barat dan Islam tidak eksklusif hanya antara dua agama, seperti Islam dan Kristen, tidak pula antara dua kawasan, seperti Timur dan Barat. Hubungan ini bahkan tidak bisa disamakan dengan hubungan antara dua ideologi sosio-politik seperti kapitalisme dan komunisme. Benang merah dalam paradigm ini adalah budaya.

Namun, sama seperti tidak berdasarnya anggapan bahwa Amerika Serikat dan Prancis – dua negara Barat — memiliki budaya yang persis sama, demikian pula dengan dunia Muslim. Karenanya, cara pandang Muslim-Barat agak samar; hanya bisa digambarkan sebagai dua budaya beragam yang saling bersilang, berpadu atau sekadar berkaitan. Di dunia modern, negara, masyarakat, tokoh, aliansi dan paradigma terus bermunculan dan mempertimbangkan kesalingterkaitan antara dunia Barat dan dunia Muslim, khususnya di bidang-bidang seperti keamanan global, lingkungan, kesehatan publik dan ekonomi.

Kini, kecepatan perubahan sosio-politik dan ekonomi akibat teknologi-teknologi baru sangatlah luar biasa. Kita menyaksikannya sendiri selama Revolusi Arab. Perubahan yang terjadi di satu negara atau kawasan bisa berdampak tak langsung pada negara-negara dan kawasan-kawasan lain. Yang terjadi di Timur Tengah secara langsung memengaruhi Barat di tingkat sosial, politik dan ekonomi. Misalnya, jika sumber daya alam mengalami krisis di satu negara, itu bisa mengubah perekonomian global. Secara politik, perubahan rezim bisa menyebabkan perubahan dalam perimbangan kekuasaan dan aliansi-aliansi secara global. Demikian juga halnya dengan setiap perubahan besar di Barat yang bisa secara langsung atau tidak langsung memengaruhi dunia Muslim karena meningkatnya keterhubungan antara berbagai rezim pemerintahan, perekonomian dan bahkan gaya hidup.

Sekali lagi, ini saatnya warga dunia bertemu dan saling mengungkapkan apa yang menjadi perhatian dan kepentingan mereka. Misalnya, kalau sebagian orang di Barat mudah sekali mengkritik Nabi Muhammad sebagai ekspresi kebebasan, apa tujuannya? Yang jelas, akibatnya adalah meningkatnya ketegangan dan reaksi berlebihan di dunia Muslim. Sebaliknya, akan lebih bermanfaat bagi kedua pihak untuk bicara terus terang tentang masalah-masalah mendasar yang menyebabkan insiden-insiden itu – entah itu hasrat akan kebutuhan universal terhadap kebebasan ataupun respek.

Ungkapkan Dengan Jelas, dan Orang akan Mendengarkan

Pengalaman saya dalam dialog antaragama menunjukkan bahwa dialog antarmasyarakat di tingkat akar rumput masih merupakan cara terbaik untuk mencapai pengertian. Kejujuran dan keterbukaan dalam dialog cenderung meruntuhkan berbagai sekat, miskonsepsi dan prasangka, dan membangun hubungan yang kuat. Orang-orang Barat dan Muslim yang tinggal di negara-negara mayoritas Muslim harus saling berbicara secara langsung dan terbuka. Bagaimanapun, Perjanjian Damai Mesir-Israel tidak akan terjadi tanpa komunikasi langsung antara dua presidennya.

Untuk memfasilitasi ini, pusat-pusat dialog yang menghubungkan warga dengan warga, organisasi dengan organisasi, seperti King Abdullah bin Abdul Aziz International Centre for Interreligious and Intercultural Dialogue di Wina—sebuah upaya kolaboratif antara Arab Saudi, Austria dan Spanyol —telah dibuka di berbagai penjuru dunia.

Meski demikian, masih dibutuhkan lebih banyak lagi kegiatan masyarakat sipil di dunia Muslim. Para tokoh agama, aktivis, sosialis dan nasionalis Muslim seharusnya terlibat dalam dialog di tingkat nasional dan internasional untuk berkomunikasi dengan pihak Barat.

Berbagai mosaik budaya telah berhasil hidup rukun bersama di bawah sistem negara modern – contohnya Amerika Serikat, di mana orang-orang dari latar belakang yang berbeda-beda bermigrasi dan kini hidup di kota-kota dan lingkungan yang sama seraya mempertahankan keindahan budaya mereka masing-masing.

Situasi yang relatif harmonis ini juga bisa kembali terwujud di antara berbagai masyarakat dan negara di tingkat global. Kepedulian terhadap orang lain seperti halnya kepedulian kita terhadap diri sendiri bisa sangat membantu memecahkan masalah-masalah kita.

*Dr Fahad Al-Homoudi
Guru Besar Imam Muhammad bin Saud Islamic University dan Ketua Umum Western Studies Institute Riyadh. Artikel kelima dari seri Muslim-Barat. (CGNews)

Bedah Buku HMI 1963-1966

HMINEWS.Com – Buku terbaru karya M Alfan Alfian ‘HMI 1963-1966; Menegakkan Pancasila di Tengah Prahara’ dibedah. Acara digelar di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK) dengan pembedah yang merupakan para pelaku sejarah kala itu, dari kalangan HMI maupun non-HMI.

Para pembedah adalah Sayidiman Suryohadiprojo (mantan Danyon Siliwangi di masa Orba), Harry Tjan Silalahi (mantan aktivis PMKRI),  Waluyo Martosugito (mantan aktivis GMNI) dan moderator sekaligus komentator Fachri Ali (mantan aktivis HMI). Hadir pula dan memebrikan sambutannya, mantan KEtua PB HMI 1963-1966 Sulastomo dan mantan Ketua MK, Mahfud MD, serta mantan aktivis HMI lintas generasi.

Sebagaimana diketahui, Periode 1963-1966, merupakan periode yang sangat kritis bagi Indonesia maupun HMI dengan musuh bersama yaitu pihak komunis yang tergabung dalam Partai Komunis Indonesia (PKI) dan organisasi yang berafiliasi dengannya seperti CGMI dan BTI (Barisan Tani Indonesia). Waktu itu PKI ingin mengganti Pancasila dengan ideologi komunis yang dipaksakan dengan berbagai cara.

PKI berhasil pula mempengaruhi Pemimpin Besar Revolusi, Bung Karno, sehingga menciptakan konsep ‘Nasakom’ (Nasionalis-Agama-Komunis). Menurut Sayidiman, bahkan Pancasila dari lima sila diperas sampai menjadi hanya satu sila yaitu gotong-royong, hal itu akibat pengaruh PKI. Eka Sila ‘Gotong royong’ di sinilah yang menjadi kemenangan komunis atas kelompok nasionalis dan Islam, yang masing-masing diwakili PNI dengan sejumlah partai lainnya serta Masyumi (dibubarkan 1960) dan NU.

HMI turut memainkan peran penting dalam perlawanan terhadap PKI. Bekerjasama dengan TNI Angkatan Darat dan elemen lainnya, setelah pemberontakan G30S/PKI, menggalang kekuatan secara nasional mengganyang PKI. Pemerintah yang baru (Orde Baru) akhirnya resmi membubarkan dan melarang PKI di Indonesia.

Biarkan Pancasila Menjadi Milik Semua Golongan

HMINEWS.Com – Sampai kini, Pancasila sebagai dasar negara belum dipahami secara merata, bahkan tidak sedikit yang merasa nyinyir ketika mendengar Pancasila disebut, karena banyaknya pemimpin yang mengaku merepresentasikan Pancasila justru mencontohkan perilaku yang menyimpang. Sering pula pemahaman mengenai Pancasila berusaha diseragamkan, dengan menutup potensi pemahaman lain yang relevan dan diterima tiap-tiap kelompok, sehingga bisa menjadikannya suatu nilai yang fleksibel dan harga hidup.

Mantan aktivis HMI, Fachri Ali, menyarankan agar Pancasila bisa ditafsirkan tiap-tiap kelompok agama. Hal itu agar para pemeluk agama yang berbeda bisa menjiwai Pancasila dengan pemahaman agama masing-masing, sebab kedudukan Pancasila yang tak mungkin ditempatkan sejajar dengan agama.

“Biarkan orang Islam menafsirkan Pancasila sesuai dengan Islam. Yang Kristen sesuai dengan Kristen, Hindu juga sesuai dengan Hindu, begitu juga dengan agama lainnya,” kata Fachri Ali dalam bedah buku ‘HMI 1963-1966; Menegakkan Pancasila di Tengah Prahara’ di Gedung Mahkamah Konstitusi, Kamis (30/5/2013).

Menurutnya itulah cara membuat Pancasila dibutuhkan masyarakatnya. Sebab pada prinsipnya masyarakat mencari apa yang paling mereka butuhkan, sebagaimana meningkatnya semangat keagamaan yang pesat di Indonesia, semua karena masyarakat membutuhkan itu.

Fakta juga bahwa nilai-nilai Pancasila digali dari nilai-nilai agama, seperti ketuhanan, toleransi, gotong-royong dan sebagainya. Apabila ditanya, masyarakat juga akan mengatakan: “Saya melaksanakan ajaran agama saya,” lanjut Fachri yang menegaskan berlang bahwa dirinya merupakan ‘anak Orde Baru’ tersebut.

Dengan demikian tidak terlalu penting apakah warga negara dalam kehidupannya hafal dan paham Pancasila ataukah tidak, yang penting adalah nilai-nilai Pancasila itu diaplikasikan. Sebab Pancasila itu digali dari masyarakat, dari kearifan yang mendarah-daging dalam masyarakat Indonesia, bukan Pancasila yang ada lebih dahulu.

Persoalan lainnya adalah kenyataan bahwa generasi muda masa kini jauh dari nilai-nilai Pancasila, hal itu juga karena mereka jauh dari nilai-nilai agama masing-masing.