Penggulingan Mursy, Konstitusional atau inqilâb?

Silang pendapat menyusul penurunan Presiden Mesir Muhammad Mursy secara sepihak masih terjadi di Mesir sampai hari ini. Penurunan itu diumumkan Dewan Militer yang disampaikan oleh Jenderal Abdul Fattah al-Sisi. Sebelumnya, militer telah memberikan ultimatum kepada Presiden Mursy untuk dapat mencari jalan keluar dari krisis Mesir dalam waktu 48 jam. Waktu yang memang sangat sempit sekali untuk berpikir mencari jalan keluar dari krisis yang berat seperti itu.

Dari kasus penggulingan Presiden Mursy ini, salah satu topik yang hangat dibicarakan adalah tentang kudeta. Soal penamaan kudeta ini menjadi perdebatan di banyak pihak. Apakah yang terjadi terhadap Presiden Mursy tersebut merupakan kudeta atau tidak? Jika kudeta, lantas kudeta apa namanya? Kudeta militer atau kudeta rakyat?

Sebagian pendapat menilai ini merupakan kudeta. Karena Presiden Mursy telah terpilih secara demokratis dan sah secara konstitusi, lalu diturunkan secara  in-konstitusi-onal dan sepihak. Sementara pendapat lainnya menilai ini bukanlah kudeta. Pasalnya, di belakang keputusan militer untuk menurunkan Presiden Mursy diadakan musyawarah sebelumnya dari beberapa pihak, dan juga berdasarkan tuntutan demonstran anti Mursy ketika itu yang jumlahnya ratusan ribu orang.

Istilah kudeta berasal dari bahasa Prancis, yaitu coup d’etat. Artinya adalah perebutan kekuasaan negara secara tiba-tiba oleh sekelompok orang. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kudeta berarti perebutan kekuasaan atau pemerintahan secara paksa. Namun turunan katanya, yaitu mengkudeta, berarti merebut kekuasaan dengan paksa dan tidak secara sah. Adapun dalam bahasa Arab, istilah kudeta biasanya disebut dengan inqilâb.

Dalam catatan sejarah, kebanyakan kudeta dilakukan oleh militer. Mengingat karena militer lah yang memiliki kekuatan terhadap rakyat. Paling tidak mereka memiliki senjata. Meski tidak selamanya yang melakukan kudeta adalah dari pihak militer. Salah satu contohnya, upaya kudeta yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) terhadap pemerintahan Presiden Soekarno. PKI bukanlah golongan militer, melainkan rakyat sipil yang berpartai. Namun mereka memiliki senjata dan pasukan tentara sendiri.

Pada umumnya, kudeta dilakukan terhadap pemerintahan yang dianggap diktator dan otoriter. Kudeta bisa saja berdasarkan atas tuntutan rakyat banyak, atau tidak berdasarkan tuntutan rakyat banyak, ataupun hanya berdasarkan pada tuntutan suatu kelompok. Karena yang menjadi titik berat istilah kudeta adalah perebutan kekuasaan secara paksa dan sepihak.

Jika definisi ini kita lekatkan pada kasus penggulingan Mursy, maka jelas kata kudeta tidak salah dipakai. Karena yang terjadi memang penurunan Mursy secara paksa dan sepihak dari kursi presiden. Padahal Mursy mendapatkan kursi presiden itu secara demokratis melalui pemilihan umum. Dan negara Mesir adalah negara yang memakai sistem demokrasi.

Dalam sistem demokrasi, seharusnya, militer ataupun oposisi tetap bisa menuntut Presiden Mursy untuk segera melakukan pemilihan umum presiden dini, tanpa harus menurunkannya dari kursi presiden terlebih dahulu. Caranya adalah melalui Parlemen dengan dalih mosi tidak percaya lagi terhadap presiden.

Yang terjadi memang, Parlemen sudah tidak ada alias dibubarkan. Dan ketika itu, Presiden Mursy tengah mengupayakan pelaksanaan pemilihan umum legislatif. Tapi sayangnya, militer dan oposisi mengindahkan hal tersebut. Maka wajar jika secara demokratis, penggulingan Mursy adalah suatu kudeta.

Sekarang jika kita sudah sampai pada titik bahwa ini merupakan kudeta, lantas kudeta apa namanya? Kudeta militer, kudeta rakyat, atau kudeta apa?

Beberapa ahli politik memang ada membagi jenis-jenis kudeta. Seperti dalam bukunya Political Order in Changing Societies, Samuel P. Huntington mengklasifikasikan jenis kudeta menjadi tiga macam. Pertama adalah breakthough coup d’etat, yaitu kudeta yang dilakukan oleh militer terhadap pemerintahan tradisionalis. Kedua adalah guardian coup d’etat, yaitu kudeta yang dilakukan oleh sekelompok orang yang menyebut diri mereka sebagai perwakilan dengan alas an keteriban umum dan lainnya. Ketiga adalah veto coup d’etat, yaitu kudeta yang dilakukan melalui partisipasi dan mobilisasi publik dan melakukan tekanan berskala besar.

Jika tiga jenis kudeta ini kita tempelkan pada kasus yang terjadi di Mesir, akan terlihat bahwa kudeta terhadap Mursy itu bukanlah merupakan kudeta militer murni. Karena di belakang keputusan militer menurunkan Mursy dari kekuasaan presiden, terdapat tuntutan rakyat dan juga merupakan hasil musyawarah dari beberapa elemen rakyat, seperti Syaikh Al-Azhar, Koptik, Gerakan Tamarud, Organisasi Penyelamatan Negara yaitu kubu oposisi, dan beberapa elemen lainnya.

Jadi, sebenarnya lebih tetapnya kudeta yang dilakukan terhadap Mursy ini adalah kudeta rakyat, karena fungsi militer ketika menurunkan kekuasaan Mursy ketika itu adalah sebagai penyalur suara demonstran rakyat yang berskala besar.

Lantas pertanyaan selanjutnya adalah, sah kah kudeta?

Jika kita melihat dari kaca mata demokrasi, tentu kudeta seperti itu tidak sah karena diluar prosuder demokrasi. Presiden yang terpilih secara demokrasi melalui pemilihan umum memiliki legitimasi yang kuat di mata konstitusi demokrasi. Tapi bukan berarti tidak bisa diturunkan sama sekali. Caranya berdasarkan demokrasi yaitu melalui Parlemen. Kasus inilah yang terjadi pada presiden kita dulu Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Presiden Gus Dur diturunkan melalui jalur Parlemen. Jika diluar jalur itu, maka tidak kudeta berarti tidak sah.

Bagaimana kudeta dalam kaca mata fikih Islam?

Di dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaithiyah di jilid 6, ensiklopedia fikih Islam yang terlengkap saat ini, terdapat pembahasan yang ada kaitannya dengan kudeta. Tepatnya di dalam bab al-Imamah al-Kubra atau khilafah Islamiyah. Di sini dijelaskan tiga cara pencapaian kursi khilafah. Pertama dengan baiat; kedua dengan wilayah ahdi(putra mahkota); dan ketiga dengan al-istila bi al-quwah, yaitu dengan kekerasan atau paksaan. Perkara kudeta dekat dengan cara yang ketiga ini.

Mengenai cara yang ketiga ini, Imam al-Mawardhi dalam kibatnya al-Ahkam al-Sulthaniyah menjelaskan perbedaan pendapat dalam menghukumi cara ketiga ini. Pendapat pertama dari para fukaha Irak mengatakan bahwa cara ketiga ini sah secara mutlak, meski tidak melalui keputusan musyawarah ahlu al-halli wa al-akdi. Sedangkan pendapat kedua, yaitu jumhur fukara mengatakan bahwa cara ketiga ini sah apabila dengan ridha dan ikhtiyar, serta melalui keputusan musyawarahahlu al-halli wa al-akdi.

Jadi, sebenarnya para fukaha sependapat bahwa cara ketiga ini sah-sah saja. Mereka hanya berbeda pendapat apakah cara ketiga ini harus dengan ridha dan musyawarah ahlu al-halli wa al-akdi atau tidak. Salah satu dalil yang digunakan adalah riwayat dari Ibnu Umar RA yang ketika shalat bersama penduduk Madinah pada zaman Hurrah, beliau mengatakan, “Kita bersama siapa yang menang (banyak).”

Kemudian timbul pertanyaan, apakah ada ketentuan atau kriteria pemimpin yang bisa dikudeta? Berdasarkan literature fikih yang penulis temukan, yang menjadi patokan diperbolehkannya kudeta itu bukan pada kriteria pemimpinnya, melainkan patokannya adalah kemaslahatan rakyat ketika itu.

Memang ada kaitan antara pembahasan kudeta dengan keluar dari pemimpin yang fasik. Dalam pembicaraan keluar dari pemimpin yang fasik pun ulama berbeda pendapat. Perbedaan pendapatnya ada pada perbedaan dalam memandang maslahat ketika keluar itu. Apakah ketika keluar dari pemimpin yang fasik itu kita pasti mendapatkan kemenangan dan menggulingkannya dengan mudah atau tidak. Jika yang terjadi adalah justru pertumpahan darah, maka ulama berpendapat keluar dari pemimpin fasik adalah tidak boleh. Hal ini juga yang mungkin terjadi dalam kasus fatwa Syaikh Ramadhan Buthy dalam konflik di Suriah ketika beliau mengharamkan melawan rezim Bashar al-Assad.

Makanya dalam perbedaan pendapat ulama tadi, yang ditekankan adalah ridha dan ikhtiyarnya, dan apakah melalui musyawarah ahlu al-halli wa al-akdi, bukan pada kriteria pemimpin mana yang bisa dikudeta atau tidak. Riwayat Ibnu Umar tadi juga sudah jelas penekanannya padaghalabah-nya, siapa yang menang atau yang paling kuat dan banyak. Karena ketika yang minoritas keluar dari yang mayoritas atau yang lemah keluar dari yang kuat, yang akan terjadi adalah pertumpahan darah. Inilah letak perhitungan kemaslahatannya.

Adapun soal kriteria pemimpin, ini merupakan pembahasan yang panjang lebar dibahas dalam kajian fikih Islam. Banyak syarat-syarat pemimpin yang telah digariskan dan dikaji oleh para fukaha. Pemimpin yang seperti apa dulu yang kita kasih kriteria? Pemimpin dalam artian khalifah dalam al-Imamah al-Kubra kah, atau pemimpin biasa selain itu?

Kemudian bagaimana jika syarat-syarat pemimpin yang sudah dipatok tadi tidak ada satu orang pun yang memenuhinya? Jika hal ini yang terjadi, ada yang namanya syarat prioritas. Soal ini, Ibnu Taimiyah dalam kitabnya al-Siyasah al-Syar’iyah menjelaskan riwayat dari Imam Ahmad. Imam Ahmad ditanya tentang dua orang pemimpin dalam sebuah peperangan. Yang pertama pemimpin yang kuat tapi jahat, dan yang kedua adalah pemimpin yang shaleh tapi lemah. Lantas siapakah dari kedua pemimpin itu yang pantas untuk memimpin peperangan? Maka Imam Ahmad menjawab: “Pemimpin yang kuat tapi jahat tadi, kekuatannya itu untuk umat Islam dan kejahatannya itu kembali pada dirinya sendiri. Sedangkan pemimpin yang shaleh tapi lemah tadi, keshalehannya itu untuk dirinya sendiri, dan kelemahannya itu berdampak pada umat Islam. Maka yang memimpin perang adalah pemimpin yang kuat meski tidak shaleh.”

Oleh: Ahmad Sadzali

Penulis adalah mahasiswa Universitas Al-Azhar, Kairo, asal Banjarmasin

 

*Gambar diambil dari nytimes.com: Pictures of the Day: Egypt and Elsewhere

Loyalitas, Solidaritas dan Soliditas

Ada sejumlah faktor yang membuat orang loyal terhadap kesatuan, kelompok, organisasi atau perusahaannya. Faktornya tidak hanya nilai materi, terbukti banyak orang yang bertahan meski ditawari gaji yang lebih tinggi di tempat lain, jika dalam kelompoknya itu merasa dapat lebih memperjuangkan tujuan-tujuan yang lebih besar, tanpa harus mengubur impian pribadi.

Sebaliknya, jika organisasi atau perusahaan sudah dianggap tidak lagi akomodatif terhadap tujuan tersebut, maka kemungkinan untuk bertahan amat kecil dan hengkangnya orang-orang yang kecewa tersebut tinggal menunggu waktu saja.

Solidaritas tumbuh dari kebersamaan. Kebersamaan dijalin tidak hanya saat berada dalam lingkungan pekerjaan atau organisasi, tetapi banyak hal dan kesempatan lain yang dapat memperkuat solidaritas. Mulai dari yang paling sederhana dan  tidak mesti yang berkaitan dengan pekerjaan, namun bisa dari hal-hal pribadi dan keluarga. Yaitu dengan memahami persoalan apa saja yang dihadapi orang lain dan kemudian menawarkan bantuan, langsung membantu atau mencarikan solusi tanpa harus diminta.

Urusan pribadi misalnya rekan kita si “A” sedang mempersiapkan pernikahan. Dari satu hal ini saja terbuka kesempatan lebar untuk membantunya mulai dari mengurus undangan, tempat resepsi, baju pengantin, hingga persoalan mahar. Proses menjelang pernikahan biasanya amat menguras energi dan pikiran, apalagi waktunya yang semakin dekat, sedangkan persiapan belum sempurna. Bisa jadi karena biaya yang masih kurang, konflik keluarga atau entah apa lagi. Dari kejadian yang sudah-sudah, ada saja sahabat dekat yang terlewatkan dan tidak diundang. Bukan kesengajaan, tapi karena berbagai persoalan yang karenanya harus dibantu oleh sahabat-sahabat lain untuk mengurusnya.

Selain itu, jangan sepelekan pemberian penghargaan meskipun terkesan remeh dan jangan sungkan-sungkan berterimakasih kepada sesama anggota, bawahan serta semua yang terlibat. Jangan pelit pujian. Perlakuan yang ‘meng-orang-kan’ tersebutlah yang kerap dapat membuat musuh berbalik menjadi kawan, kompetitor berubah jadi mitra, serta mengubah kesinisan orang menjadi simpati. Apalagi orang-orang yang telah menjadi bagian dari tim dan kesatuan.

Mempelajari Hal-hal Baru

Manusia secara umum adalah makhluk yang terus-menerus belajar. Setua apa pun pasti tertarik pada hal-hal baru, ingin mencoba berbagai hal yang tidak biasa, tergoda menguasai berbagai kemampuan baru. Selain bermanfaat bagi organisasi atau perusahaan, pola semacam itu pun menguntungkan karyawan atau anggota organisasi secara pribadi, sebab kapasitas diri mereka bertambah. Kemampuan mereka pun tidak itu-itu saja, tapi terus berkembang. Dengan dasar yang demikian itulah setiap pemimpin perlu memberi tugas atau pekerjaan yang menantang bagi karyawan, bawahan atau anggota organisasi – perusahaan yang dipimpinnya. Pekerjaan yang menantang tersebut sekaligus menjadi ajang pembelajaran hal-hal baru agar iklim kerja lebih bergairah dan tidak monoton.

Kegairahan semacam itu perlu dijaga dan terus ditumbuhkan agar produktivitas tidak merosot. Karena kehilangan kegairahan bisa berarti pula sebagai kehilangan orientasi. Meski tujuan yang dirumuskan sejak semula untuk dicapai begitu muluk, tapi jika kegairahan bekerja telah hilang, mustahil semua dapat tercapai. Semua aktivitas bisa tanpa makna dan tidak berarti apa-apa, tidak berdampak pada kemajuan, tidak menambah keuntungan, tidak menghasilkan karya dan prestasi. Itu artinya sia-sia sajalah waktu yang telah dilewatkan, padahal waktu amat berharganya. Demikian juga dengan cost atau biaya atas semua yang dikeluarkan seperti biaya perjalanan, listrik, sewa rumah, makan-minum, serta biaya-biaya lain yang semestinya tidak hilang begitu saja, tetapi harus mendatangkan hasil.

Tetapi dalam mempelajari dan beradaptasi dengan hal baru itu sangat mungkin terjadi kesalahan, entah kecil atau besar. Pemimpin harus memaklumi dan memaafkan kekeliruan itu dan menumbuhkan sikap percaya diri bawahannya, memastikan tidak terjadi apa-apa, mereka tidak akan dihukum kecuali karena kesalahan yang disengaja. Kesalahan-kesalahan itu akan menjadai guru yang mengajarkan bagaimana semestinya, bagaimana benarnya dan apa saja yang tidak benar dan tidak perlu diulang.

Pelibatan Termasuk dalam Pengambilan Keputusan

Sebagaimana umum pahami, pengambilan keputusan merupakan tugas pimpinan. Sedangkan anggota yang lain atau bawahan menjalankan keputusan yang telah dibuat itu. Akan tetapi secara psikologis perlu diingat kembali bahwa ‘mengambil hati’ orang meskipun bawahan tidaklah mudah. Pemimpin yang tidak berhasil mengambil hati orang yang dipimpinnya bisa saja dipatuhi atau ditakuti, tetapi tidak mempunyai wibawa. Ketakutan bawahan hanya bersifat karena pimpinan itu bisa memutuskan perkara yang menyangkut ‘nasib’ atau posisi dan jabatannya dalam suatu lingkaran pekerjaan organisasi-perusahaan.

Meski pengambilan keputusan adalah kewenangan pimpinan, ‘nasib’ suatu keputusan tersebut apakah dapat dijalankan dengan baik atau tidak, bisa mencapai tujuan ataukah gagal, bergantung dari orang-orang yang akan terlibat langsung dalam usaha itu, yaitu seluruh anggota, karyawan atau pekerja. Bisa saja keputusan-keputusan itu bersesuaian atau tidak sesuai dengan keinginan banyak orang. Jika demikian halnya, hampir bisa dipastikan maka mereka akan setengah hati menjalankannya, sehingga hasilnya pun tidak akan maksimal.

Meski pengambilan keputusan adalah kewenangan pimpinan, ‘nasib’ suatu keputusan tersebut apakah dapat dijalankan dengan baik atau tidak, bisa mencapai tujuan ataukah gagal, bergantung dari orang-orang yang akan terlibat langsung dalam usaha itu, yaitu seluruh anggota, karyawan atau pekerja

Seperti ketika Walikota Solo -Jokowi- yang terlebih dahulu berdialog dengan pedagang-pedagang pasar sebelum mereka dipindahkan (direlokasi) ke tempat lain. Sebelum mengatakan bahwa mereka harus pindah, Jokowi telah berdialog dengan mereka sebanyak 53 kali. Dalam dialog tersebut sambil mempererat silaturahmi, ia memahamkan dan meyakinkan para pedagang. Kemudian pada pertemuan ke 54 barulah dinyatakan keinginannya, tepatnya tawaran kepada para pedagang kakilima tersebut untuk pindah ke lokasi baru.

Belajar dari Peristiwa Pemindahan Hajar Aswad

Pemindahan Hajar Aswad (batu hitam) yang merupakan bagian dari bangunan Ka’bah atau Baitullah nyaris memicu perpecahan Kaum Quraisy di zaman jahiliyah. Sebagai bagian penting dan simbol utama bangunan utama tersebut, semua golongan merasa paling berhak atasnya, tidak rela jika kelompok lain yang mendapat kehormatan mengangkat dan menempatkannya pada posisi semula seusai pemugaran Ka’bah.

Ketegangan makin memuncak sebab tidak ada yang mau mengalah. Bahkan untuk mempertahankan kehormatan kelompok masing-masing, jalan kekerasan pun bisa ditempuh untuk itu. Karena tidak kunjung didapatkan jalan keluar, akhirnya semua sepakat untuk mengangkat penengah dari orang yang pertama kali datang ke Baitullah, dan ternyata Muhammad adalah orangnya.

Muhammad mengemukakan usul agar dibentangkan kain dan para pemimpin kabilah memegang tiap tepinya, kemudian Muhammad yang mengangkat Hajar Aswad ke atas sorban panjang, dan mereka menggotongnya. Pelibatan itu tidak hanya menenteramkan, tapi juga mengangkat harga diri semua kelompok. Dan Muhammad pun makin dipercaya dalam menyelesaikan berbagai persoalan maupun mengemban amanah kemasyarakatan.

Satu contoh ini menunjukkan bahwa penting meletakkan dasar kesatuan kelompok dengan mengangkat harga diri dan membuat masing-masing kelompok tersebut berperan dalam mewujudkan cita-cita bersama. Tidak ada yang merasa dikorbankan sebagai objek pelengkap bagi kelompok lain dalam satu kesatuan masyarakat.

Ya Allah himpunkanlah hati kami dan perbaikilah keadaan kami, berilah kami petunjuk jalan keselamatan dan selamatkanlah kami dari kegelapan kepada cahaya. Jauhkanlah kami dari segala keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi. Berkahilah kami dalam pendengaran kami, penghilatan kami, hati kami dan pasanga-pasangan kami serta keturunan kami. Terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat Maha Penyayang

Fathur

Jusuf Kalla: Fastabiqul Khairat Dua HMI

Puji Hartoyo (kiri, Ketua Umum PB HMI 'MPO') dan Arif Rosyid (kanan, Ketua Umum PB HMI)

HMINEWS.Com – Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyatakan adanya dua HMI harus disikapi secara positif. Selama belum menyatu, dua HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) harus tetap akur, berkarya dan berlomba-lomba dalam kebaikan, serta tidak saling bertikai.

“Tidak apa-apa asal jangan bertikai. Silaturrahmi harus tetap dibangun dan fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan,” kata Jusuf Kalla dalam acara buka puasa Korps Alumni HMI (KAHMI) di kediamannya di Pondok Indah, Sabtu (21/7/2013).

Dalam acara tersebut, JK merasa surprise dengan kehadiran dua Ketua Umum masing-masing Pengurus Besar HMI; Arif Rosyid (yang terpilih dalam Kongres HMI ke-28 di Jakarta) dan Puji Hartoyo (yang terpilih dalam Kongres ke-29 HMI ‘MPO’ di Bogor). Ia juga menegaskan, HMI sebagai bagian dari kaum intelektual harus menjunjung intelektualitas.

“Forum-forum HMI jangan kembali ke zaman purbakala. Di zaman purbakala manusia mengandalkan batu dan kayu, kalau intelektual itu pakai pulpen dan buku, sekarang malah sudah ada ipad,” lanjutnya berkelakar disambut tawa hadirin.

Dalam acara buka puasa KAHMI di rumah JK tersebut, sejumlah alumni yang hadir di antaranya Fahmi Idris, Musni Umar, Mahfud MD, Sekjen KAHMI Subandrio, dan lainnya serta para pengurus PB HMI dan cabang. Sebagaimana lazimnya, buka puasa dilrangkai dengan shalat maghrib, isya dan tarawih berjama’ah.

Fathur

 

Baksos Ramadhan HMI FH UII

HMINEWS.Com – Yogyakarta, Sabtu (20/7/2013) Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (HMI FH UII) mengadakan kegiatan bhakti sosial dan buka puasa bersama santri Pondok Yatim Daar Aytam Baitussalam, Dusun Miri Pendowo Harjo, Sewon, Bantul.

Kegiatan tersebut merupakan inisiasi dari unit Dakwah dan Unit PTKJ yang diikuti oleh semua kader dan pengurus. Acara yang berlangsung dari pukul 16.00-19.00 WIB ini dihadiri oleh para santri Pondok Yatim Daar Aytam Baitussalam dan tentunya dari kader HMI FH UII. Diawali dengan para santri dan pengurus Pondok, buka bersama, shalat maghrib berjamaah, Buka bersama, ceramah islami dan pemberian sumbangan (pakaian, alat tulis, buku tulis dan buku bacaan) yang diberikan secara simbolik oleh Sekretaris Umum HMI FH UII yaitu Irsya Bakhtiar Kepada Ketua Pondok Yatim Bapak Komari.

Dalam kegiatan tersebut Ketua Umum yaitu Dolly Setiawan mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan refleksi diri dibulan Ramadhan bahwa dalam kehidupan ini harus saling membantu dan mengistropeksi diri bahwa masih banyak sodara-sodara kita yang mempunyai semangat mengejar cita-cita dengan kekurangan yang ada.

Kegiatan ini HMI FH UII dipersiapkan satu minggu.dimana membuka stand di kampus FH UII untuk mahasiwa/i untuk menyisikan rezekinya dalam bentuk materi atau barang.

Kegiatan ini juga disambut baik oleh Pondok Pantai.Bapak Komari selaku Ketua Pondok Panti mengucapkan terima kasih serta memberikan semangat kepada para Santri pondok untuk tetap semangat dalam mengejar cita-cita karena masih banyak saudara-saudara kita yang peduli yaitu HMI FH UII.

Diharapakan kegiatan serupa lebih sering dilakukan karena banyak memperoleh manfaat yang baik, salah satunya adalah memberikan rasa syukur atas rahmat dan rezeki yang Allah berikan untuk kita serta dapat menjadikan kegiatan untuk saling berbagi.

Adam Hervanda, kader HMI komisariat FH UII

HMI Semarang Peduli Gempa Aceh dan Malang

HMINEWS.Com – Puluhan mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Semarang dan siswa SMK Swadaya Semarang memadati lampu merah di bundaran Tugu Muda Semarang untuk menggalang dana peduli gempa Aceh dan Malang, Selasa (16/7/2013).

Aksi penggalangan dana ini sebagai bentuk kepedulian atas nasib bumi pertiwi yang selalu diguncang dengan berbagai bencana alam dan penggalangan dana sepenuhnya untuk korban bencana di Aceh dengan kekuatan bencana 6,2 Sr dan Malang yang terguncang dengan kekuatan 5,9 Sr.

Menurut Ketua Umum HMI Cabang Semarang Hasan, aksi ini sebagai bentuk rasa kemanusiaan. “Jika ada saudara yang sakit kita juga merasakan sakitnya,” ujarnya.

Diharapkan dengan aksi solidaritas ini dapat meningkatkan kepedulian kepada saudara-saudara di bumi pertiwi dan di bulan Ramadhan ini dan menambah rasa sabar dan syukur. “Semoga sumbangan yang diberikan untuk aksi peduli ini menjadi amal yang shalihah” pungkasnya.

Orang Tionghoa Indonesia

Ponpes Pecinan (ANTARA Foto)

Kepada kolega yang Cina – Cina mainland, Cina Singapore, Malaysia, Cina Vietnam, Cina South Africa, Cina Jepang- yang mereka heran mengapa orang Cina Indonesia tidak berbicara Cina. Saya tidak tahu sebaiknya menjawab apa, tetapi;

Di Martapura saya mendengar orang Tionghoa berbicara dalam bahasa Komering, satu dari 14 bahasa yang digunakan suku-suku di Sumatera Selatan.

Di Makasar, mereka berbahasa bugis atau di Sumatera Barat dengan bahasa Minang.

Di Dusseldor, pada sekelompok ABG mahasiswa undergraduate yang orang tuanya cukup kaya mengirim mereka sekolah tanpa beasiswa, anak-anak Tionghoa ini berbicara dalam langgam Betawi.

Di pinggir danau Laman, kota Jenewa Swiss yang indah, pada satu keluarga Cina yang tengah mengambil foto pre-wedding, saya mendengar mereka berbicara dengan jawa Pekalongan.

Di dalam lift hotel Ramandha, kota Shanghai tiga pasangan paruh usia, yang awalnya saya kira orang dari Beijing, mereka tertawa-tawa dan berguyon dalam logat Jawa Timuran.

Dan kemarin, di Mustafa Center, satu keluarga tionghoa; berdebat dalam bahasa Sunda Kuningan, apakahkah belanjaan oleh-oleh mereka tidak terlalu berat, yang membuat saya senyum-senyum dan kangen bojo yang orang Sunda.

Saya tidak tahu mau menjawab apa pada kolega dari Cina, tetapi saya katakan bahwa tanah-air Indonesia is a magic land. Tanah pusaka, yang punya kekuatan melebur budaya-budaya menjadi satu bangsa. Saya katakan bahwa pernikahan beda suku adalah biasa, dan pergaulan hidup serta bahasa sudah terjadi perubahan dalam ratusan abad lampau.

Tiba-tiba saya menjadi bangga menjadi anak Indonesia.

Andi Hakim
Alumni HMI ITB

HMI Makassar Adakan Temu Kader-Alumni

HMINEWS.Com –  Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) Cabang Makassar akan menggelar ‘Temu Alumni-Kader dan Buka Puasa Bersama.’ Bertempat di Hotel Lamacca UNM Gunung Sari, Jalan AP Pettarani- Makassar, Senin 29 Juli 2013.

Ketua Panitia Pelaksana, Najamuddin Arfah yang juga ketua LAPMI Makassar, mengatakan bahwa kegiatan tersebut sebagai upaya untuk membangun silaturrahmi sesama kader HMI (MPO) Makassar. Menurutnya, bulan Ramadhan sebagai bulan refleksi diri tentunya menjadi momentum bagi kader-alumni untuk bertemu dan melakukan silaturrahmi serta berbagi pengalaman dan cerita selama di HMI.

Pertemuan tersebut juga diharapkan dapat melahirkan wacana baru bagi gerakan HMI, khususnya HMI MPO Cabang Makassar. “Kemungkinan di pertemuan tersebut akan ada agenda sharing dan pembahasan kerja strategis organisasi HMI MPO Cabang Makassar kedepannya, tapi nantilah kita kondisikan pada saat acara berlangsung,” jelasnya.

Ketua HMI MPO Cabang Makassar, Thakwir, menambahkan bahwa dalam kegiatan temu kader-alumni tersebut juga dirangkaian dengan kegiatan amal HMI yang diberi nama Gerakan Amal HMI (Gerami).

“Ada gerakan sosial yang kami bangun, kami menerima sumbangan materi dan non materi seperti pakaian untuk disalurkan kepada kaum dhuafa,” ujar Thakwir.

Acara akan dimulai pada pukul 16:30, seperti biasanya jelang buka puasa ada tausiah Ramadhan setelah itu dilanjutkan dengan forum diskusi terbuka bagi kader-alumni HMI MPO Makassar.

Minuman Sehat Pengganti Miras

Muhammad Iqbal*

Minuman keras (miras) merupakan minuman yang sampai hari ini begitu populer di masyarakat peminumnya. Miras bahkan sudah menjadi konsumsi harian di berbagai kalangan, mulai dari para pengangguran, terutamanya anak muda hingga orang-orang berada. ‘Virus’ Miras pun pada sudah menjangkit pada kaum berpendidikan seperti pelajar dan mahasiswa yang mengaku sebagai agent of change (agen perubahan). Pertanyaannya, bisakah tatanan negara ini berubah lebih baik lagi kalau sang agen perubahannya terlena dengan kesenangan yang jelas merusak moral?

 Miras jika dikonsumsi akan menimbulkan efek yang membuat peminumnya hilang kontrol/akal atau yang biasa disebut “mabuk”.   Kemudian pikiran akan sensitif terhadap hal-hal sepele, mulailah untuk mencari gara-gara hingga sering akhirnya terjadi perkelahian, bahkan sampai pembunuhan. Seperti yang terjadi di Kota Palu, konflik antarwarga yang bertetangga, kebanyakan terjadi disebabkan peran minuman keras. Tidak hanya itu, kasus lain seperti perkosaan, pencurian, KDRT, kurangnya penghormatan kepada orangtua, dan kerusakan moral lainnya.

Menurut Dr. Yusuf Al-Qardhawy dalam bukunya Halal dan Haram dalam Islam, khamar atau arak terbukti banyak menimbulkan keburukan. “Sungguh benar apa yang dikatakan oleh salah seorang penyelidik, bahwa tidak ada bahaya yang lebih parah yang diderita manusia, selain bahaya khamar/arak. Kalau diadakan penyelidikan secara teliti di rumah-rumah sakit, bahwa kebanyakan orang yang gila dan mendapat gangguan saraf adalah disebabkan khamar/arak. Dan kebanyakan orang yang bunuh diri ataupun yang membunuh kawannya adalah disebabkan khamar/arak. Termasuk juga kebanyakan orang yang mengadukan dirinya karena diliputi oleh suasana kegelisahan, orang yang membawa dirinya kepada lembah kebangkrutan dan menghabiskan hak miliknya, adalah disebabkan oleh khamar/arak. Begitulah, kalau terus diadakan suatu penelitian yang cermat, niscaya akan mencapai batas klimaks yang sangat mengerikan yang kita jumpai, bahwa nasehat-nasehat, kecil sekali artinya.”

Allah menyatakan dalam Al Qur’an (artinya):

“Hai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya arak, judi, berhala, dan undian adalah kotor dari perbuatan syaitan. (90). Oleh karena itu jauhilah dia supaya kamu bahagia. Syaitan hanya bermaksud untuk mendatangkan permusuhan dan kebencian di antara kamu disebabkan khamar dan judi, serta menghalangi kamu ingat kepada Allah dan sembahyang. Apakah kamu tidak mau berhenti?” (91)

Ayat tersebut sudah sangat jelas menetapkan bahwa khamr hukumnya haram dikarenakan merupakan perbuatan setan. Yang semuanya untuk mendatangkan permusuhan dan kebencian bagi kita semua bahkan mengahalangi kita untuk ingat kepada Allah SWT, seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Khamar sendiri banyak macamnya tergantung dari berbagai daerah dari kultur masyarakat yang mengkonsumsinya. Sebut saja, Cap Tikus, Sagero (Saguer) dan Tule, yang diminum akan menjadi Neule, eva topeule yang semuanya berdampak sama. (Drs H. Narjun Bahmid, Wasiat Bersajak Buat Anak Cucuku, Bahasa Kaili).

Di daerah Palu, ‘tuntutan’ mengkonsumsi khamr pada masyarakat yang menggantungkan mata pencariannya sebagai nelayan, peminumnya beralasan bahwa pekerjaan untuk mencari ikan berlangsung di malam hari hingga subuh, penuh tantangan seperti ombak dan angin yang membuat badan menggigil karena dingin. Ane ledo manginu Tule, maranindi mpu nirasaita. Ya aga nompahanga karo. “ Kalau tidak minum Tule/Cap Tikus maka akan kedinginan betul dirasa. Ya hanya sekedar menghangatkan tubuh.” Begitu alasan mereka.

Apologi seperti itu sangat sering kita jumpai, padahal ada alternatif lain untuk persoalan tersebut tanpa harus terjatuh pada perbuatan haram. Contohnya ‘kopi jahe’ yang dapat menghangatkan badan, didukung dengan khasiat jahe yang terkandung didalamnya, membuat minuman ini terasa hangat masuk kedalam badan ketika dikonsumsi.

Selain itu jahe juga kaya akan manfaat, di antaranya sebagai berikut:

1. Sebagai anti-oksidan yang sangat berguna bagi kesehatan tubuh menetralkan radikal bebas dan menurunkan tekanan darah tinggi karena jahe memiliki kemampuan untuk memperlebar pembuluh darah dan merangsang pelepasan hormon adrenalin. Karena hal tersebut, darah dapat mengalir lebih cepat dan lebih lancar.

 2. Sebagai antikoagulan yang mengandung Gingerol bermanfaat untuk mencegah penggumpalan darah. Penyebab utama dari stroke dan serangan jantung.

3. Membangkitkan nafsu makan, memperkuat lambung dan usus, serta melancarkan pencernaan. Mengobati perut mual, selesma, batuk, diare, dan radang sendi tulang seperti artritis. kandungan minyak gingerol yang dapat memblok serotonin dan menjadi bau harum khas jahe. Membantu memperlancar proses pencernaan. Hal ini dikarenakan jahe memiliki beberapa kandungan enzim protease dan lipase yang dapat mencerna protein serta lemak dalam tubuh. Dan masih banyak lagi khasiat yang lainnya.

Saraba (minuman yang populer di Palu), merupakan minuman  yang terbuat dari perasan Jahe, Gula Merah dan Susu yang kandungannya sama pula seperti yang terdapat dalam Kopi Jahe, serta perannya dalam menghangatkan badan. Itulah satu di antara banyak jenis minuman halal pengganti khamr, halal dan nikmat.

* Muhammad Iqbal
HMI -MPO Cabang Palu

Ta’jil HMI Komisariat FH UII

HMINEWS.Com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) Komisariat FH UII mengadak kegiatan buka puasa bersama. Acara dihadiri lebih dari 50 kader, dengan menu yang dimasak sendiri oleh kader-kader Komisariat FH UII, terutama kader akhwat.

Momen buka puasa diisi dengan sarasehan dan dijadikan sebagai ajang berkumpul dan saling bersilaturrahim, memberikan masukan, kritik dan saran untuk HMI. Kegiatan tersebut diprakarsai Unit PSDK dan Unit PUT HMI, yang juga dimaksudkan untuk meningkatkan semangat kolektif semua kader dan pengurus.

“Tujuan serta harapan dari kegaitan ini, selain buka puasa, adalah untuk kerjasama kolektif serta mengajak kader-kader untuk lebih intens melakukan kegiatan di komisariat,” kata Hafiedz dari Unit PSDK saat acara berlangsung, Jum’at (19/7/2013).

Respon kader-kader atas acara tersebut pun positif, seperti dikatakan Mutia Khanandita, kader angkatan tahun 2012, dan Lauren, yang menilai kegiatan tersebut bermanfaat untuk mengakrabkan sesama kader, mempererat silaturrahim dan meningkatkan loyalitas terhadap komisariat.

Dalam kegiatan buka bersama ini, Dolly Setiawan selaku Ketua Umum HMI Komisariat FH UII pun menjelaskan esensi dan harapan dari kegiatan buka bersama.

“Komisariat dengan kuantitas kadernya yang sangat banyak tentu memerlukan wadah untuk mempererat tali kekeluargaan antar kader. Buka puasa bersama ini merupakan salah satu cara pengurus untuk mewujudkannya. Patut untuk diapresiasi, kontribusi kader sangat luar biasa ditambah rasa masakan karya kader tersebut sangat istimewa sedapnya serta suasana Ramadhan yang begitu menyejukan hati,” ucap dia.

Menurutnya, Ramadhan kali ini harus digunakan untuk merenungkan kondisi kekeluargaan dan mendukung kepengurusan periode ini. Setelah acara ini harapannya hubungan kekeluargaan sesama kader akan semakin baik.

Muhammad Adam Hervanda

HMI FH UII

4 Perawi Hadits Menurut Imam Ali

Sebagaimana diketahui, hadits merupakan wahyu dalam bentuk lain di samping Al Qur’an. Fungsinya sebagai penjelas segala hal yang dalam Al Qur’an tidak dirinci. Sehingga wajarlah jika Rasulullah mengatakan keduanya sebagai pedoman bagi umat Islam.

Namun, periwayatan hadits tidak sama dengan periwayatan ayat-ayat Al Qur’an, bahkan Nabi pernah melarang hadits dihafalkan. Penghafal hadits juga tidak sebanyak penghafal Al Qur’an, dan pencatatan hadits tidak seketat pencatatan wahyu Al Qur’an. Selain itu, seiring perjalanan waktu ada saja orang yang berkata mengatasnamakan Rasulullah.

Khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib menyebutkan ada empat (4) jenis rawi (orang yang meriwayatkan) hadits. Penjelasan itu ada dalam kitab Nahjul Balaghah yang berisi himpunan surat-surat, khutbah dan perkataan keponakan sekaligus menantu Rasulullah tersebut.

Tipe Pertama

Orang munafiq yang menampakkan diri beriman, beralam islami, enteng dan tidak segan-segan berbuat dosa, berdusta (memalsu hadits) secara sengaja atas nama Rasul. Mereka berkata “Sahabat Rasulullah melihat dan mendengar dari Rasulullah dan mencontoh (mengamalkan)-nya,” dan . celakanya, orang-orang pun menerima hadits palsu tersebut.

Tipe Kedua

Orang-orang yang mendengar dari Rasulullah, namun tidak mampu menjaganya (tidak kuat hafalannya). Karena kelemahan inilah, bisa saja mereka tidak sengaja berdusta atas nama Rasulullah, karena ingatan yang kurang baik menjadikan apa yang mereka ingat berbeda dengan apa yang disampaikan Rasulullah.

Andai saja orang-orang Muslim tahu kelemahan tersebut, hadits-hadits rawi seperti itu tidak akan diterima dan diamalkan. Juga jika saja si perawi itu sendiri yang menyadarinya, tentu akan ditinggalkannya pula ingatannya sendiri atas hadits Rasul.

Tipe Ketiga

Orang-orang yang mendengar Rasulullah bersabda kemudian meralatnya (sesuai petunjuk Allah), atau sebaliknya Rasulullah melarang sesuatu tetapi kemudian membolehkan atau memerintahkannya, tetapi orang tersebut tidak mengetahui ralat (nasikh) tersebut, sehingga tetap berpegang pada sabda pertama (ter-latat / mansukh).

Orang-orang tersebut berpegang pada yang pertama dan tidak tahu penggantinya. Andaikan mereka tahu, pasti ditolaknya. #Contohnya hadits mengenai nikah mut’ah, pernah dibolehkan, kemudian di-mansukh.

Tipe Keempat

Orang yang tidak berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya, mereka membenci kebohongan dan takut kepada Allah, memuliakan Rasulullah, juga mereka tidak tersalah dalam meriwayatkan hadits (kuat hafalan atau ingatannya).

“Dia menjaga (menghafal) apa yang mereka terima tanpa menambah-nambah atau menguranginya. Berpegang pada yang nasikh (aktual) dan mengamalkannya, mengetahui mana-mana yang telah mansukh dan menjauhinya. Tahu mana yang khas (khusus) dan mana yang ‘am (umum), serta menempatkan segala sesuatu sesuai tempatnya, tahu mana yang mutasyabih dan mana yang muhkamat.”

Redaksi