Memilih Sekolah Tak Seperti Memilih Kucing dalam Karung

Pada masa peralihan tahun ajaran baru seperti saat ini, orang tua mengalami dua perasaan sekaligus. Di satu sisi mereka merasa bahagia karena buah hati tercinta berhasil lulus TK/SD/SMP/SMA atau sekolah lain yang sederajat, di sisi lain mereka pun merasa was-was. Terutama terkait penentuan kelanjutan studi anak dan memilih sekolah yang baru.

Buku ini memuat beberapa penelitian mengenai efektifitas sebuah sekolah. Edmons (1979) menyebutkan bahwa ada lima karakteristik sekolah efektif, yakni: (1) kepemimpinan dan perhatian kepala sekolah terhadap kualitas pengajaran; (2) pemahaman yang mendalam terhadap pengajaran; (3) iklim yang nyaman dan tertib bagi berlangsungnya pengajaran dan pembelajaran; (4) harapan bahwa semua siswa minimal akan menguasai ilmu pengetahuan tertentu; dan (5) peniliaian siswa yang didasarkan pada hasil pengukuran nilai belajar siswa (halaman 119).

Setali tiga uang dengan pendapat Edward Henveld (1992). Ia pun mengungkapkan 16 indikator sebuah sekolah dapat disebut efektif, yakni: (1) dukungan orang tua siswa dan lingkungan; (2) dukungan yang efektif dari sistem pendidikan; (3) dukungan materi yang cukup; (4) kepemimpinan yang efektif; (5) pengajaran yang baik; (6) fleksibilitas dan otonomi; (7) waktu yang cukup di sekolah; (8) harapan yang tinggi dari siswa; (9) sikap yang positif dari guru; (10) peraturan yang disiplin; (11) kurikulum yang terorganisasi; (12) adanya penghargaan dan insentif; (13) waktu pembelajaran yang cukup; (14) variasi strategi pengajaran; (15) frekuensi pekerjaan rumah; dan (16) adanya penilaian dan umpan balik sesering mungkin.

Menurut penulis buku ini, orangtua jangan mudah tergiur oleh promosi heboh yang dilakukan oleh pihak sekolah jelang peralihan tahun ajaran baru. Selain itu, jangan pula silau dengan label standar nasional, label bertaraf internasional, dan label-label luaran lainnya. Pastikan terlebih dahulu sekolah tersebut memenuhi kriteria sekolah efektif dari Edmons (1979) dan Edward Henveld (1992) di atas. Sehingga saat memilih sekolah anak tidak seperti memilih kucing dalam karung.

Sistematika buku bersampul kuning ini terdiri atas 6 bab. Antara lain “Sebuah Cermin untuk Berbenah”, “Terus Mencintai dan Membenahi Sekolah”, dan “Penerang Ilmu Bernama Pendidik Berliterasi”. Tesis dasarnya sederhana tapi mendalam, menurut aktivis Sekolah Guru Indonesia tersebut, pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia. Setiap manusia toh memiliki impian, oleh sebab itu sekolah harus menjadi tempat terbaik untuk mewujudkan impian murid-murid di masa depan. Dalam konteks ini, guru merupakan sosok yang mesti mampu mengembangkan keberanian murid-murid untuk bermimpi. Mimpi untuk menjadi manusia seutuhnya, unik, otentik, dan paham kenapa mereka memang harus memiliki mimpi (halaman 4).

Selanjutnya, pembicara di berbagai pertemuan ilmiah tentang pendidikan di dalam dan luar negeri (Hong Kong, Brunei Darussalam, Jepang, dll) tersebut mengajak pembaca belajar dari negeri Sakura. Dalam acara Conference of Lesson Study 2010, sebuah SMP di Lembang kedatangan tamu dari negeri manca. Salah satunya bernama Kubochi Ikuya. Dia adalah guru sains dari Ohzu High School, Ehime-Pre, Jepang. Uniknya, saat dipanggil untuk menjadi guru tamu dalam pembelajaran sains, semua orang terheran-heran. Kenapa? Karena tampilannya lebih mirip pemain musiak daripada seorang guru. Fotonya dapat dilihat di halaman 12. Tapi saat mulai mengajar semua orang pun berdecak kagum.

Jika ada anak yang mengangkat tangan tanda bersedia menjawab pertanyaan dari Kubochi, luar biasa! Ia bergegas menyalami murid yang satu itu, lantas meminta semua siswa lainnya memberikan tepuk tangan sebagai apresiasi atas kesediaan anak tersebut. Bahkan jika jawaban anak tersebut salah sekalipun, ia tetap melakukan hal serupa. Intinya, setiap ucapan dan sikap Kubochi selalu menunjukkan rasa hormat dan percaya kepada kemampuan siswa. Hal kecil tapi berdampak besar inilah yang sering dilupakan oleh dunia pendidikan nasional kita dewasa ini.

Kebetulan penulis sempat mewawancarai Kubochi pasca sesi open class. “Apakah Anda mencintai profesi guru? Mengapa Anda mencintai profesi guru?” tanya Asep Sapa’at untuk menggali sisi unik pribadi sosok guru muda nan inspiratif tersebut. Dengan santai, Kubochi menjelaskan bahwa dirinya sangat mencintai anak-anak dan pelajaran sains. “Ketika siswa berhasil dalam belajar mereka, hal itu menjadi sesuatu yang teramat sangat berharga dalam hidup saya,” tuturnya dengan mata berbinar. Senada dengan petuah dari sensei Kodama, “Sensei (guru) yang baik itu tahu potensi anak-anaknya. Dan dia bersungguh-sungguh menjadi jalan kesuksesan bagi anak-anaknya.” (halaman 18).

Buku setebal 288 halaman ini menandaskan bahwa menjadi guru bukan profesi main-main. Guru ialah sebuah panggilan jiwa (inner calling). Kendati pemerintah belum menjadikan profesi guru sebagai profesi mulia saat ini, teruslah mendidik dan menginspirasi siswa-siswi kita di kelas. Sehingga kelak mereka menjadi pemimpin bangsa yang kebijakannya sungguh memberi kemaslahatan bagi profesi guru di tanah air tercinta.

Judul: Stop Menjadi Guru!
Penulis: Asep Sapa’at
Penerbit: Tangga Pustaka
Cetakan: I/2012
Tebal: xxii + 288 halaman
ISBN: 979-083-069-6

Selamat membaca dan salam pendidikan! 

T. Nugroho Angkasa S.Pd
Kontributor Tetap Majalah Pendidikan Online Indonesia, Tinggal di Yogyakarta

FAM Indonesia Wilayah Jawa Barat Terbentuk

HMINEWS.Com – Pengurus Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia Wilayah Jawa Barat, Ahad (30/6/2013), resmi terbentuk. Secara aklamasi, Dedi Saeful Anwar (Cianjur) terpilih menjadi ketua harian FAM Wilayah Jawa Barat.

Pemilihan pengurus FAM Wilayah Jawa Barat tersebut, berlangsung di Alun-Alun (Pelataran Masjid Raya Kota Bandung), dihadiri sejumlah FAMili—istilah sapaan untuk anggota FAM Indonesia. Dalam kegiatan itu disusun pula program kerja untuk kegiatan selama satu tahun ke depan.

Selain Ketua Harian, dipilih juga Wakil Ketua, yaitu Joy/Wiro (Bandung), Sekretaris Rr. Nina Kirana (Bandung), Bendahara De Minnie (Cianjur), Humas Ade Ubaidil (Cilegon, Banten), dan Litbang Nuryaman Emil Hamzah (Banten).

“Terhitung Juli 2013 hingga Juni 2014, kami akan melakukan sejumlah kegiatan yang telah disusun dalam program kerja pengurus,” ujar Dedi Saeful Anwar, Ketua Harian Terpilih FAM Wilayah Jawa Barat, Senin (1/7).

Beberapa program kerja pengurus FAM Wilayah Jawa Barat, jelas Dedi, di antaranya penerbitan Antologi Cerpen Parijs van Java (telah berakhir tanggal 30 Juni 2013), penerbitan Antologi Prosa Liris Ramadhan (dimulai  awal Juli 2013-September 2013), Penerbitan Antologi Flash True Story (FTS) tentang Muhasabah Diri dalam hari-hari Ramadhan, penerbitan Antologi Puisi dalam Bahasa Daerah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (dua bahasa), penerbitan Antologi Cerita Anak yang ditujukan sebagai bacaan sehat anak-anak Indonesia (khusus ditulis anak-anak), dan penerbitan Antologi Cerita Anak yang ditulis peserta usia SMA dan Umum.

“Di samping itu, secara rutin kami akan mengadakan pertemuan untuk menggerakkan kegiatan literasi di Bandung dan sekitarnya,” ujar Dedi didampingi Sekretaris Rr. Nina Kirana.

Sementara itu, FAM Wilayah Cabang Surabaya telah resmi mengantongi SK kepengurusan. Dalam SK yang dikeluarkan FAM Pusat tersebut, tertera Koordinator Cabang (Satria Nova), Ketua Harian (Yudha Prima), Sekretaris/Bendahara (Fitria Ayu Lintasari), Divisi Penelitian dan Pengembangan (Ken Hanggara, Reffi Dhinar Seftianti, Hanum Anggraini Azkawati), dan Divisi Divisi Publikasi (Vivid Habib S, Rizka Andarosita).

Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia adalah komunitas kepenulisan nasional, berdiri pada tanggal 2 Maret 2012. FAM Indonesia berkantor pusat di Pare, Kediri, Propinsi Jawa Timur yang tujuannya menyebarkan semangat cinta (aishiteru) menulis di kalangan generasi muda, khususnya siswa sekolah dasar, SLTP, SLTA, mahasiswa, dan kalangan umum lainnya.

FAM Indonesia bertekad membina anak-anak bangsa untuk cinta menulis dan gemar membaca buku. Sebab, dua hal ini melatarbelakangi maju dan berkembangnya negara-negara di dunia lantaran rakyatnya suka membaca buku dan menulis karangan. (REL)

Muhammad di Mata Orientalis

Sebenarnya telah banyak karangan para orientalis yang mengisahkan tentang kepribadian Muhammad, Sang Nabi ummat Muslim. Karya tersebut beragam bentuk sesuai kapasitas kepandaian penulisnya. Mulai dari abad pertengahan, Dante menulis Divine Comedy yang melukiskan Nabi Muhammad menanggung siksaan abadi di jurang neraka yang terdalam. Dante menulis itu karena merasa aneh dengan datangnya ‘agama baru’ dan kemudian secara politis berhasil menguasai wilayah Laut Tengah, yang awalnya termasuk wilayah Kristen.

Umat Islam tidak tinggal diam setelah muncul penggambaran Nabi mereka yang tidak patut. Syed Ameer Ali menulis buku berjudul Life and Teaching of Muhammad, or The Spirit of Islam yang diterbitkan pada 1897 M. Setelah itu muncullah biografi Sang Nabi yang dirujuk dari sumber-sumber Arab klasik dengan penelitian mendalam, Le Prophete d’Islam karya Muhammad Hamidullah. Ada lagi biografi Muhammad yang ditulis Martin Lings. Bahkan biografi Nabi terbaru ditulis bernuansa sastra, novel biografi Muhammad yang ditulis Tasaro GK. Sebuah gerakan baru dan menyegarkan.

Dalam pandangan umum, karya orientalis lebih objektif dalam menilai karena mereka terbebas dari kewajiban menghormati. Referensi buku yang menuliskan tentang kehidupan Sang Nabi begitu banyak, tetapi belum ada yang menuliskan tentang seberapa besar rasa cinta dan penghormatan seorang muslim pada Nabinya. Annemarie Schimmel memberikan perspektif baru tentang Nabi Muhammad saw. Buku bertajuk dan Muhammad Adalah Utusan Allah, Cahaya Purnama Kekasih Tuhan ini mengeksplorasi perwujudan rasa cinta dan penghormatan umat Muslim yang mendalam pada Nabinya.

Schimmel mengawali dengan menyebutkan catatan biografis karya terdahulu para orientalis dan orang muslim sendiri. Dia menjelaskan perubahan-perubahan pandangan orientalis pada Nabi. Dari karya yang sekadar berupa rasa kesal, karya apologis, hingga karya yang dilakukan dengan riset yang mendalam. Ketidakpahaman orang non-muslim bahwa sebegitu mulianya Muhammad di mata muslim menjadi landasan ricuhnya sebuah karya.

Buku ini mencoba menengahi dua kubu tersebut. Selanjutnya Schimmel memaparkan kepribadian Nabi Muhammad. Mulai dari masa kecil, remaja, berkeluarga, bahkan sikap istri-istrinya. Teladan sikapnya begitu memukau. Nabi Muhammad merasa bahwa apapun yang terjadi atas dirinya adalah anugerah Allah swt yang tak dapat dijelaskan. Nabi tidak pernah menyangka bahwa wahyu akan diturunkan kepadanya. Semuanya bukanlah inisiatif Nabi Muhammad sendiri. (hlm. 43)

Kecintaan umat Islam sendiri pada Nabi Muhammad begitu tinggi. Begitu banyak syair yang menyanjung sang nabi dengan bahasa Arab dan Persia. Semua tahu bahwa sastra Arab dan Persia begitu indah dan syahdu. Segala bentuk pujian tersanjung pada Sang Nabi. Al-Khaqani mendiskripsikan dalam sajaknya “Dengan pakaian putih, dia tampak bagai mutiara. Dengan baju merah, dia bagaikan bunga mawar.” Muslim Indonesia mengenal burdah dan diba’an. Keduanya berisi sajak-sajak sanjungan dan shalawat pada Nabi Muhammad saw.

Selanjutnya Schimmel melhat posisi Muhammad sebagai pribadi yang unik. Sebagaimana Nabi lainnya, ia adalah lelaki ma’shum (terpelihara dari dosa). Nabi Muhammad juga memiliki predikat ulul azmi (memiliki keteguhan hati yang kuat). Ada lima Nabi yang mendapat gelar ulul azmi; Nabi Muhammad, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Nuh. (hlm. 89) Dengan istilah lain, ulul azmi diartikan sebagai orang yang memiliki kesabaran yang teguh. Tetapi, ini bukanlah dalil bahwa Nabi lain tidak sabar, karena semua Nabi adalah penyabar.

Sebagai seorang Nabi, tentulah memiliki mukjizat dan legenda. Mukjizat adalah sesuatu yang luar biasa dan berfungsi dapat melemahkan sesuatu yang lain. Biasanya mukjizat lebih diidentikkan dengan keistimewaan yang ada dalam diri Nabi dan Rasul. Artinya mukjizat ini mucul manakala ada seseorang yang meminta bukti kebenaran berita kenabian. Sedangkan legenda, maksudnya peristiwa-peristiwa istimewa dan biasanya tidak masuk akal. Seperti kisah masa kecil Nabi yang hatinya dicuci oleh malaikat atau pun kisah perjalanan malam (isra’ mi’raj) Sang Nabi.

Schimmel tidak hanya merekam jejak Nabi Muhammad saja. Dia juga mengeksplore pemikiran muslim pramodern yang mengulas tentang kepribadian Sang Nabi. Seperti adanya Thariqah Muhammadiyah di India. Kemudia, jika berbicara penghormatan pada Nabi, aspek ini tidak akan lepas dari karya Muhammad Iqbal, seorang filsuf India-muslim. Dalam karya Iqbal, Nabi tampil menjadi pusat spiritual muslim. Bahkan secara radikal Iqbal dalam Javidnama mengungkapkan “Tuhan dapat kau ingkari, namun Nabi tidak!”. (hlm. 344)

Dengan risetnya yang cukup komplit, dapat dikatakan karya Annemarie Schimmel ini sebagai karya monumental. Sebagai seorang orietalis, Schimmel menceritakan sosok Muhammad sebagai pribadi nomor wahid di dunia. Ia sepakat dengan riset yang dilakukan Michael H. Hart dalam karya terkenalnya 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia. Agar tidak terjadi kealpaan pemahaman, buku ini wajib dibaca siapapun yang ingin mengenal Sang Nabi secara personal, terutama umat muslim sendiri. Wallahua’lam bishhawab.

Data Buku

Judul: dan Muhammad Adalah Utusan Allah, Cahaya Purnama Kekasih Tuhan
Penulis: Annemarie Schimmel
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: I, Juni 2012
Tebal: 474 Halama

Peresensi: Achmad Marzuki
Kader HMI Komisariat Syariah IAIN Walisongo Semarang, Pegiat Farabi Institute Semarang

n

 

Kelompok Belajar Jurnalistik, Gebrakan Baru HMI FH UII

HMINEWS.Com – Gebrakan baru kembali dilakukan oleh HMI Komisariat Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. Melalui Unit Pers yang merupakan salah satu unit yang terdapat di dalamnya, HMI Komisariat Fakultas Hukum UII membentuk suatu Kelompok Belajar Jurnalistik yang dinamakan sebagai “KELAJUR”.

KELAJUR ini sendiri diperkenalkan kepada para kader HMI Komisariat Fakultas Hukum Universitas Isam Indonesia saat berlangsungnya acara Training Jurnalistik yang diadakan sebelumnya pada tanggal 28-30 Juni 2013.

“Kelompok belajar jurnalistik ini menjadi wadah bagi kader HMI Komisariat FH UII dalam mengapresiasikan minat dan bakat dalam bidang jurnalistik, selain itu juga diharapkan mampu menjadi salah satu media membangun silaturrahmi antar kader HMI Komisariat FH UII itu sendiri,” ujarnya Kepala Unit Pers HMI FH UII, Adam Hervanda.

Kegiatan ini rencananya akan diadakan  rutin setiap bulan dengan maksimal pertemuan dua kali. Dimaksudkan untuk menyiapkan generasi penerus Unit Pers yang cakap dalam mencerna dan mengelola jurnalisme.

“Pers adalah pilar keempat dari demokrasi, maka dari itu kami ingin menguatkan pilar tersebut. Perlawanan tidak hanya dengan tindakan, tapi juga dengan tulisan,” tambah salah seorang promotor terbentuknya KELAJUR, Harry Setya Nugraha.

Elroy Juan Junio
Kader HMI FH UII

Training Jurnalistik HMI FH UII

HMINEWS.Com –  HMI Komisariat Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan training jurnalistik. Bertempat di Villa Al Kindi, training berlangsung 3 hari, yaitu tanggal 28-30 Juni 2013.

Sejumlah 30 kader HMI dari berbagai komisariat di kampus UII mengikuti training tersebut. Sedangkan tema yang diusung “Mengembangkan Potensi Kader dalam Bidang Jurnalistik guna Meningkatkan Kemammpuan Mengelola serta Mengembangkan Informasi secara Obyektif dan Progresif.”

Menurut Ketua Umum HMI Kmisariat FH UII, Dolly Setiawan, training tersebut diharapkan menjadi wadah kader untuk meningkatkan kemampuan mengelola informasi. “Setelah acara Training Jurnalistik ini, dapat tertanamkan jiwa penulis di dalam diri kader dan seluruh pihak yang terlibat. Selain itu juga lahirnya jiwa merdeka, menulis sebagai wujud independensi,” kata Dolly.

Dolly mengatakan dewasa ini terlihat begitu banyak masyarakat Indonesia khususnya masyarakat yang terlibat di dalam dunia media yang tidak mampu mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam kode etik secara baik dan benar. Hal itu , lanjutnya, terlihat dari bergesernya fungsi media yang idealnya merupakan salah satu alat yang berperan menjalankan fungsi sebagai kontrol masyarakat, tetapi berubah menjadi alat politik bagi sebagian orang dan kelompok.

“Hal itulah yang menjadi dasar HMI Komisariat Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia menyelenggarakan Training Jurnalistik,” lanjutnya.

Mewakili Pengurus HMI Cabang Yogyakarta, Eko Budi berharap rekan-rekan sesama kader HMI cerdas menyikapi media massa yang berpihak kepada kepentingan golongan. “Dengan acara ini dapat menjadi bekal teman-teman kader agar tidak tersekat-sekat dan terkekang pada kekuatan kapital yang menguasai media.” ujarnya.

Harry Setya Nugraha

 

 

Puji Hartoyo, Imam Baru HMI MPO Hasil Kongres 29

HMINEWS.Com – Kongres ke-29 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) yang digelar di Bogor, 26 Juni 01 Juli 2013 telah membuahkan sejumlah hasil. Salah satunya, terpilihnya formatur (Ketua Umum) HMI MPO yang baru, Puji Hartoyo.

Dalam Kongres yang dilangsungkan di Villa Bumi Cisarua-Bogor tersebut, 4 orang terpilih dalam seleksi awal sebagai bakal calon formatur. Keempatnya adalah Abdul Malik Raharusun (Cabang Tual, mantan Ketua Komisi HI PB HMI), Ashari Burhan (Cabang Makassar, mantan Ketua Badko Sulambanusa), Danang Tri Hartanto (Cabang Yogya, mantan Ketua Badko Jawa Bagian Tengah-Timur) dan Puji Hartoyo (Cabang Yogya).

Abdul Malik mendapat dukungan 5 Cabang, Ashari 5 Cabang, Danang 7 Cabang dan Puji 18 Cabang. Keempat bakal calon yang terpilih kemudian diseleksi berdasarkan kriteria yang telah diatur dalam konstitusi, namun Abdul Malik Raharusun tidak bersedia dipilih, lantas mengundurkan diri. Pemilihan selanjutnya berdasar suara utusan cabang. Puji unggul dengan 56 suara, sedangkan Ashari 24 suara dan Danang 25 suara.

Puji merupakan mantan Ketua Umum HMI (MPO) Cabang Yogyakarta (2008-2009), Sekretaris Umum Badko Inbagteng. Sebelumnya ia juga pernah menjabat Ketua Umum Komisariat Fakultas Ekonomi UII, Ketua Umum HMI Korkom UII. Ia merupakan lajang kelahiran Tegal 13 Maret 1986, dan telah menyelesaikan pendidikan sarjananya di Fakultas Ekonomi UII.

Tahun 2011-2012, Puji juga pernah menjabat Ketua Komisi Pemuda dan Kemahasiswaan PB HMI MPO. Visi-misinya dalam mengemban kepengurusan dua tahun kedepan: Konsolidasi Nasional Ikhtiar Menguatkan Basis Perkaderan dan Intelektualitas HMI.

Dua Tantangan Indonesia, Apa Sikap HMI Seharusnya?

Oleh : Gun Gun Ardiansah, Sos.*

Ada dua tantangan yang sangat penting dan perlu HMI sikapi. Pertama, terkait isu sistem politik di Indonesia yang melahirkan highcost politics. Kedua, tantangan Regional dimana 2015 nanti berlaku Pasar Bebas. Tulisan ini akan menjadi catatan kecil pasca Kongres HMI (MPO) ke – 29 di Bogor 27 – 1 Juli 2013.

Restrukturisasi Sistem Politik

Tahun 2002 almarhum Cak Nur pernah mewacanakan pembubaran HMI. Pasalnya, praktek korupsi di Indonesia yang banyak melibatkan alumni HMI. Tapi ada kritik dari wacana tersebut. Khususnya dalam konteks kekinian. Bahwa sistem politik diIndonesia juga memberi andil yang sangat besar dalam menyuburkan korupsi.

Dan para aktivis prodemokrasi, diantaranya HMI, terlibat didalam liberalisasi politik di Indonesia yang melahirkan demokrasi langsung di berbagai level eksekutif dan legislatif juga penerapan sistem proporsional terbuka yang saat ini digunakan. Sistem politik yang memberi andil terhadap highcost politics.

Mari kita lihat biaya politik di Indonesia. Untuk menjadi Gubernur membutuhkan dana rata-rata Rp.25 Milyar. Sementara untuk seorang calon Bupati atau Walikotamengeluarkan dana minimal berkisar Rp.10 Milyar. Di Kota Bogor, yang dalam waktu dekat menyelenggarakan Pilkada, salah satu pasangan membutuhkan dana Rp.14 milyar ! Kaitkan dengan jumlah gaji saat menjabat. Apakah masuk akal ? Padahal kita belum berbicara biaya biaya Pilpres dan Pileg DPR/DPRD/DPD!

2014 nanti trend biaya politik diprediksi akan terus naik dan membengkak. Terlebih sistem pemilu legislatif kita menggunakan proporsional terbuka. Dimana popularitas menjadi jauh lebih penting ketimbang kualitas (caleg). Parpol-parpol yang malas dan tidak percaya diri cenderung memilih jalan pintas dengan mengorbitkan lebih banyak caleg-caleg artis dengan seleksi yang longgar. Lalu bagaimana caleg-caleg berkualitas dan miskin modal ? Masuk ke sistem dan perlahan atau cepat akhirnya larut atau terjebak dalam praktek korupsi yang salah satunya bersumber dari high cost politics.

Ironisnya belum ada upaya serius merestrukturisasi sistem politik di Indonesia agar low cost politics. Di sisi lain KPK dengan dukungan LSM-LSM antikorupsi dielu-elukan bak pahlawan ketika berhasil menangkap kader parpol korup. Masyarakat menikmati sebagai tontonan. Ironisnya peringkat korupsi Indonesia tidak banyak perubahan.

Mengutuk koruptor dan praktek korupsi di dunia politik tidak menyelesaikan persoalan. Dunia politik masih menjadi kiprah lanjutan bagi sejumlah kader HMI. Maka arena tersebut perlu diperbaiki jika rusak. Dan dibersihkan jika kotor. Sehingga tak lagi kita mendengar anak-anak muda Indonesia semakin apatis dan tidak tertarik di dunia politik.

HMI perlu mendorong elit politik dan para pakar untuk duduk bersama membenahi sistem politik di Indonesia. Pertama terkait sistem pemilu dan kedua menyangkut keuangan parpol. Sistem pemilu kita perlu dikaji ulang agar tidak high cost politics. Sistem proporsional tertutup hemat penulis jauh lebih baik untuk menekan biaya politik seraya mendorong parpol untuk memaksimalkan perkaderan di internal.

Sementara pendanaan parpol harus diatur dalam undang-undang yang komphrehensif. Undang-undang No. 2 tahun 2011 tidak masuk akal. Di satu sisi butuh dana besar untukmenghidupkan parpol, di sisi lain parpol dilarang untuk mendirikan Badan Usaha. Padahal biaya politik di Indonesia semakin besar. Disinilah pentingnya HMI untuk mendorong elit politik dan para pakar untuk mengkaji ulang undang-undang tersebut. Poinnya adalah mengatur sumber pendanaan halal parpol yang bisa daripajak rakyat misalnya dan mekanisme punishment ketika tetap korup.

Tantangan 2015

Di sisi lain praktek kebijakan ekonomi pemerintah di Indonesia cenderung semakin liberal dan berpihak pada kekuatan kapital (asing dan dalam negeri). Ini salahsatu akibat dari liberalisasi di bidang ekonomi sejak lama. Kenaikan BBM adalah salah satu bentuknya. Belum lagi Sumber Daya Alam Indonesia yangsebesar-besarnya masih dinikmati oleh asing. Bahkan Indonesia sejak lama hanya mendapat keuntungan 1% dari Freeport !

Kepemimpinan dua periode Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sukses dalam makro ekonomi tapi gagal dalam ekonomi mikro! Jelang penerapan Pasar Bebas ASEAN 2015 Indonesia hanya potensial menjadi pasar bagi negara-negara lain. Lihatlah jumlah entrepreneur kita hanya 0,8 persen. Masyarakat Indonesia semakin konsumtif. Banjir produk asing. Ditambah penyakit birokrasi kita yang high cost economy. Mampukah kita bersaing ?

Melahirkan 4% Entrepreneur

Fakta di atas sejatinya menjadi pemikiran bagi HMI untuk terus mendorong pemerintah melahirkan policy komplit dan efektif dalam menghadapi Pasar Bebas ASEAN 2015. HMI selayaknya memberikan dukungan serius bagi bertumbuhnya entrepreneur-entrepreneur di kalangan mahasiswa islam.

Langkah pertama HMI perlu memperkuat Lembaga Ekonomi Mahasiswa Islam (LEMI) untuk menyiapkan dan menumbuhkan mahasiswa-mahasiswa pengusaha. Sebagai lembaga kekaryaan LEMI harus aktif merangkul dan menjalin kerjasama dengan mitra-mitra strategis seperti HIPMI,Komunitas Tangan Diatas (TDA), Entrepreneur University dan lainnya.

Langkah kedua, dalam program menumbuhkan entrepreneurship di kalangan mahasiswa islam,HMI perlu mencoba mengakses dana zakat infak sedekah (ZIS) yang kini terusbertumbuh. Dompet Dhuafa dan BAZNAS misalnya.Keduanya adalah mitra strategis dengan dana ZIS milyaran. Banyak perusahaan yang menitipkan dana CSR-nya ke dua lembaga tersebut. Belum lagi mitrastrategis yang membawa dana ZIS jauh lebih besar dari timur tengah seperti Qatar Charity Indonesia (QCI).

Selanjutnya langkah ketiga HMI perlu belajar dari Pengurus KAHMI Anies Baswedan ketika menggagas “Indonesia Mengajar” kemudian di-follow banyak orang termasuk Dahlan Iskan (dengan Dirut BUMNMengajar) untuk mengadopsi gerakan sejenis. Gagasan social entrepreneurship yang cerdas tersebut sangat diminati lembaga-lembaga donor. HMI bisa memulai, misalnya, dengan memanfaatkan Sekretariat untuk kegiatan Bimbingan Belajar Gratis dengan tagline “HMI Mengajar” misalnya. Atau pelatihan-pelatihan skill gratis yang dibutuhkan mahasiswa islam untuk menjawab tantangan Pasar Bebas 2015, seperti Bahasa Inggris dan IT.

Kegiatansocial entrepreneurship yang dikembangkan HMI akan mengurangi ketergantuan HMI pada dana Bansos Pemerintah dan “Bansos Alumni” karena akan banyak lembaga-lembaga donor, termasuk lembaga zakat, untuk memberikan dukungan dana. Kondisi tersebut tentu saja efektif membangun iklim kondusif bagi lahirnya entrepreneur-entrepreneur di kalangan mahasiswa Islam dan memperkuat independensi HMI.

Jumlah mahasiswa di Indonesia ada 7,2 persen dari total penduduk. Dengan jaringan se-Indonesia, HMI memiliki potensi untuk menyumbangkan angka entrepreneur kita sebanyak dua persen,sebagaimana HMI selama ini menyumbangkan kader-kadernya dalam panggung politik nasional.

Tentu butuh waktu. Tapi jika terwujud dan menjadi isu nasional, akan menginspirasi kalangan aktivis mahasiswa lainnya untuk mengikuti jejak HMI. Dan bayangkan jika itumenambah lagi jumlah entrepreneur duakali lipat menjadi empat persen. Dengan angka tersebut insya Allah Indonesia sudah bisa bangkit secara ekonomi.

Wallahu’alam bisshowab. Selamat untuk Puji Hartoyo yang terpilih sebagai Formatur PB HMI MPO baru, Yakin Usaha Sampai !!! .

* Penulis adalah CEO Ilma EnglishLearning Center (IELC), alumni HMI Cabang Bogor