Ide Menakar Kandidat Capres, Peserta Syawalan Menurun

Suasana Syawalan Nasional Alumni HMI MPO (foto: Abdul Haris)

HMINEWS.Com – Ide ‘menakar calon presiden’ versi alumni HMI MPO dalam acara Syawalan Alumni HMI MPO di Hotel Grand Sahid Jaya menyebabkan peserta syawalan berkurang dari biasanya. Hal itu disinyalir akibat gagasan tersebut dinilai politis atau pengarahan dukungan.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Panitia Syawalan Nasional Alumi HMI MPO 2013, Awalil Rizky. Dalam sambutannya, ia mengatakan tidak bermaksud mengarahkan dukungan, meski diakui dirinya ada kecenderungan kepada salah satu kandidat calon presiden yang telah ikut konvensi partai politik, Syawalan utamanya diniatkan sebagai ajang silaturrahim antar alumni, termasuk dengan kader yang masih aktif.

Seperti telah digagas melalui jejaring facebook, ada 4 kandidat calon presiden yang sedianya dihadirkan dalam Syawalan; Mahfud MD, Anies Baswedan, Yusril Ihza Mahendra dan Abraham Samad. Keempat tokoh tersebut, kata Awalil, diundang dalam kapasitas mereka sebagai alumni HMI yang oleh publik disebut-sebut sebagai kandidat presiden 2014.

“Keempatnya pun diundang dengan undangan dan TOR yang sama,” lanjutnya.

Namun, dari keempat kandidat tersebut, yang datang hanya Anies Baswedan, yang diberi waktu untuk orasi mengenai keikutsertaannya dalam konvensi di Partai Demokrat.

Meski pada awalnya terlihat tidak begitu banyak alumni yang hadir, semakin siang yang datang semakin banyak. Acara yang dimulai pukul 10.30 di ruang ‘Candi Singosari’ tersebut pun hampir penuh dengan alumni, anggota aktif HMI dan awak media.

Alumni lintas generasi yang hadir, seperti mantan-mantan Ketua Umum PB HMI MPO, yaitu: Agus Pri, Lukman Hakim Hassan, Syafinuddin Almandari, Syahrul Effendi Dasopang, M Chozin. Serta mantan Sekjen PB HMI Hidayat Tri Sutardjo, Ridwan Saleh, Suharsono, Iwan mantan Ketua Komisi HI, Aji Dedi Mulawarman, Edi Darmoyo mantan Kornas LAPMI, Farid Alhabsy, serta tokoh sepuh seperti Suparman Parikesit yang di akhir acara berkisah tentang terbentuknya ‘MPO’ sebelum ia memimpin doa penutup.Sedangkan Ketua Umum PB HMI MPO, Puji Hartoyo berpidato mewakili kader aktif.

Acara Syawalan Nasional yang rutin digelar tiap tahun cukup bagus dan harus terus ditingkatkan, salah satunya dengan kepanitiaan yang mewakili semua unsur dalam (alumni) HMI.

Wisuda UI, 60 Persen Cumlaud Perempuan

wisuda uiHMINEWS.Com – Sebanyak 8.104 mahasiswa program vokasi/ diploma, sarjana, pascasarjana-doktoral Universitas Indonesia (UI) diwisuda. Wisuda berlangsung di Balairung Kampus UI Depok, Jum’at (30/8/2013).

Dari jumlah tersebut, 673 mahasiswa memperoleh predikat cumlaude (458 perempuan dan 215 laki-laki). Mahasiswa peraih predikat cumlaude, dari Fakultas Hukum sebanyak 14 wisudawan, FE 71, FIB 117, F Pskologi 22, FISIP 81, FKM 118, FIKOM 49, F Keperawatan 52, Fakultas Farmasi 14 dan dari fakultas lainnya.

Rektor UI, Prof Dr Ir Muhammad Anis berpesan, lulusan UI yang telah dibekali hard skill maupun soft skill harus berperan nyata dalam masyarakat dan pembangunan negara. Ia juga berpesan agar menjunjung tinggi nilai kejujuran.

“Dalam kesempatan ini saya berpesan kepada civitas akademika universitas Indonesia untuk selalu menjunjung tinggi dan mengamalkan nilai-nilai kebenaran, kejujuran dan keadilan. segala permasalahan yang dialami bangsa ini berpangkal pada pengabaian nilai-nilai kebenaran dan keadilan,” ujarnya di hadapan wisudawan dan keluarga wisudawan yang hadir.

Wisuda UI tersebut dibarengkan dengan penyambutan mahasiswa baru program sarjana dari semua fakultas yang baru selesai Ospek.

Kuatkan Pemain Lokal untuk Ekonomi Kuat Berkelanjutan

HMINEWS.Com – Menyusul gejolak ekonomi yang melanda Indonesia, ekonom CISFED (Center for Islamic Islamic Studies in Finance, Economics, and Development), Farouk Alwyni menyarankan penguatan ekonomi dengan menguatkan pemain-pemain lokal.

Real investment; direct investment, pasar modal, harus lebih diarahkan ke pemain-pemain lokal. Pemain asing saat ini masih dominan 60-70 persen di saham obligasi kita, jadinya mereka punya pengaruh besar terhadap ekonomi kita,” ungkap Farouk kepada hminews, Kamis (29/8/2013).

Menurutnya, akibat pengaruh ekonomi global, pemain-pemain asing yang sebagian besarnya berasal dari Amerika Serikat tersebut melarikan uang ke negara mereka dan akibatnya nilai tukar Rupiah makin merosot.

Kondisi saat ini menurutnya, tidak seburuk yang terjadi pada tahun 98 yang konglomerasinya begitu parah. Sekarang usaha kecil mikro lebih baik, meski masih harus terus ditingkatkan. Farouk setuju dengan langkah yang ditempuh pemerintah menaikkan BI rate 7 persen seperti sekarang.

Beberapa Kesalahan Pemerintah

Farouk mengungkapkan, inflasi yang terjadi sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah beberapa waktu lalu seperti pencabutan subsidi BBM pada waktu yang tidak tepat; menjelang bulan puasa, lebaran dan musim masuk sekolah.

“Pencabutan subsidi ikut berkontribusi: watunya tidak tepat; bulan puasa, lebaran dan masuk sekolah. Sekarang berdampak inflasi, harga-harga naik Rupiah jadi lemah.”

Seharusnya, saran Farouk, pemerintah tidak usah terlalu fokus pada pencabutan subsidi, tapi reformasi sektor Migas, mempermudah investasi, dan pihak-pihak ketiga dalam pembelian migas harus diinvestigasi karena telah mengakibatkan BBM mahal.

“Jangan main subsidinya, tapi reformasi yang komprehensif,” tegasnya.

Farouk yang semasa kuliah pernah tergabung sebagai pendiri FKMIJ (Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Jakarta) tersebut menegaskan civil society harus terus dikuatkan karena hal itu pula yang menguatkan bangsa dan negara sehingga tidak mudah terkena gonjang-ganjing seperti saat ini. Selain tentu saja penegakan hukum, reformasi birorasi, akuntabilitas penggunaan pajak dan pemberantasan korupsi harus berjalan seiring.

Mengenai kemungkinan dampaknya terhadap situasi politik yang disebutkan bisa berpengaruh terhadap kepemimpinan Presiden SBY yang diprediksi tidak bakal sampai 2014, Farouk mengatakan tradisi semacam itu tidak sehat bagi dalam iklim demokrasi. “Sebaiknya tidak sampai sejauh itu karena bisa menimbulkan instabilitas.”

Di Indonesia, kata dia, sudah harus berbicara sistem, bukan melulu tentang figur. “Dahulu kita turunkan Suharto, tapi Suharto jatuh, orang-orang yang menggantikannya itu-itu juga, sama saja,” ungkapnya.

Pelantikan PB HMI MPO Akan Digelar Di UIN Syahid

HMINEWS.Com – Pelantikan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO), insya Allah jadinya akan dilangsungkan di Studium Center Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah-Ciputat (kampus 1), Ahad (1/9/2013), mundur dua hari dari jadwal semula.

Fiksasi tersebut disampaikan kepada hminews, Kamis (29/8) sore oleh Ketua Umum PB HMI MPO, Puji Hartoyo dan panitia, Puspita. Tempat yang direncanakan sebelumnya tidak memungkinkan untuk terselenggaranya pelantikan, seperti Universitas Indonesia (UI) yang sedang melaksanakan widuda, dan UNJ yang khawatir karena dalam rencana pelantikan itu sebelumnya dijadwalkan akan menghadirkan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi.

“Pelantikan jam 13.30 Wib di UIN Syarif Hidayatullah. Pelantikan ini sekaligus syawalan atau halal bihalal keluarga HMI MPO. Dimohon kepada segenap kader untuk hadir,” ujar Ketua Umum PB HMI MPO, Puji Hartoyo.

Puji juga membeberkan, acara akan diisi juga dengan Orasi Kebangsaan oleh Mahfud MD yang akan berbicara mengenai penegakan hukum, Marzuki Alie yang direncanakan untuk berbicara tentang dinamikan politik Indonesia dan Fadel Muhammad yang diminta untuk membahasa kemandirian ekonomi.

Temu Sastrawan Dua Negara Serumpun di Jakarta

HMINEWS.Com – Sejumlah sastrawan/ budayawan dari Indonesia-Malaysia bertemu dalam diskusi sastra yang mempertemukan dua budaya dan dua negara serumpun di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Kamis (29/8/2013). Sehari sebelumnya mereka berkunjung ke Fadlizon Library dan Komunitas Salihara.

Tampil dalam diskusi sastra di PDS HB Jassin, SN Dato’ Dr. Ahmad Khamal Abdullah (Materi: Penyair Numera Bertemu dalam Antologia de Poeticas: Antara Sensitiviti dan Wawasan Unik), Haji Abdul Rahim Abdullah (Intertekstualiti Melayu dalam Novel Indonesia), dan Fadli Zon (Politik Sastra Indonesia-Malaysia).

Selain itu, Prof. Madya Dr. Abdul Halim Ali (Konsep Estetika Bersepadu: Satu Kaedah Baharu-Kaedah Kritik Estetik dalam Kesusastraan Melayu), Prof. Madya Arbak Othman (Seribu Pantun Puitis: Sosok Tradisi, Minda Terkini), Drs. Yulizal Yunus (Sastra Melayu dalam Perspektif Islam), Prof. Madya Dr. Adi Yasran Abdul Aziz (Kearifan Tempatan dalam Manuskrip), dan Umar Uzair (Rupawangi dalam Lagu Ziana Zain dan Dato’ Siti Nurhaliza).  Diskusi dimoderatori Sastri Bakry, Syarifuddin Arifin, dan Sastri Sweeney.

Ketua Panitia Temu Sastrawan Indonesia-Malaysia Sastri Bakry menyebutkan, rombongan sastrawan/budayawan Malaysia telah tiba di Jakarta sejak Selasa (27/8). Rombongan Malaysia dipimpin SN ke-11 Dato’ Dr. Ahmad Khamal Abdullah, Presiden NUMERA didampingi Umar Uzair, Adi Yasran, Prof. Arbak Othman, Dora binti Mahdi, Teratai Abadi, Abdul Halim Ali, A Rahim Abdullah dan lainnya.

Acara diawali dengan kunjungan ke Salihara dan rombongan disambut Ayu Utami serta pegiat Salihara lainnya. Di tengah acara tampak penyair Eka Budianta, L.K. Ara (Aceh), Agus Susanto dari Komunitas Sirup Kopi Mesir, Moh. Ghufron Cholid dari Madura. Di Salihara, tamu diperkenalkan gedung teater, gedung tari serta diputarkan video kegiatan Salihara dari tahun ke tahun.

Di Fadli Zon Liberry, rombongan diperkenalkan dengan sejumlah koleksi perpustakaan yang didirikan oleh Fadli Zon yang banyak terdapat benda-benda bersejarah, baik berupa keris, tongkat maupun buku. Di tempat ini diisi dengan ramah tamah yang disambut Fadli Zon selaku pemilik Fadli Zon Liberry. Beberapa sastrawan/budayawan lainnya tampak hadir di sini, di antaranya Taufiq Ismail, Rosmiaty Shaari, Bundo Free, Lily Siti Multatuliana Sutan Iskandar dan lainnya. Pada kesempatan itu, penyair asal Aceh L.K. Ara memberikan cendramata kepada Fadli Zon berupa poster-poster tentang kejadian tsunami di Aceh yang disertai puisi-puisi L.K.

Malam harinya para peserta menikmati Soto Kudus Blok M bersama Sastri Bakry dan Ir. Erwan selaku penggerak acara ini, setelah itu langsung menuju Wapres Bulungan untuk mengikuti acara Silaturrahmi Temu Sastra Indonesia-Malaysia yang diisi dengan pembacaan puisi. (REL)

SBY: Di Dalam Berkompetisi, Ke Luar Kita Satu

HMINEWS.Com – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan, ke dalam kita (bangsa Indonesia) berkompetisi, tetapi begitu ke luar kita satu. Demikian SBY menyinggung persaingan politik jelang Pilpres 2014.

SBY menyebut agenda kenegaraan dalam waktu dekat, dirinya akan mewakili Indonesia dalam forum G-20 di St Petersburg-Russia.

“Kalau kita sudah berada di forum dunia itu, yang ada adalah Merah Putih. Oleh karena itu, mari kita satukan jiwa kita, pikiran kita, hati kita, untuk ke dalam kita berkompetisi demi kebaikan, tetapi  keluar kita satu, untuk memajukan negeri ini, dan tampil terhormat di pentas dunia,” ujarnya dalam Silaturahmi Kebangsaan yang diadakan Partai Golkar di Hotel Shangri La, Jakarta, Senin (26/8/2013).

Silaturahmi Kebangsaan yang diselenggarakan DPP Partai Golkar dihadiri para petinggi partai politik di Indonesia.  Selain jajaran pengurus DPP Partai Golkar, mereka yang hadir di antaranya Presiden Partai Keadilan Sejahtara (PKS) Anis Matta, Ketua Umum Partai Gerindra Suhardi, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, Ketua Harian Partai Demokrat Syarif Hasan, dan Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) MS Kaban.

Dukung Siapapun Presiden Terpilih

SBY menyatakan siapapun presiden yang terpilih pada Pilpres 2014 mendatang harus didukung seluruh rakyat Indonesia.

“Saya mengajak saudara semua, dan seluruh rakyat Indonesia, marilah nanti kita dukung siapapun yang memimpin negeri ini, serta pemerintahan yang dibentuknya. Akan indah negeri kita manakala siapapun yang memimpin mendapatkan dukungan dari seluruh rakyat Indonesia,” kata Presiden SBY dalam sambutannya pada Silaturahmi Kebangsaan yang diadakan Partai Golkar di Hotel Shangri La, Jakarta, Senin (26/8/2013) malam.

SBY menjelaskan, jika Pilpres berlangsung satu putaran, maka Juli 2014 sudah akan ada presiden baru, sebaliknya jika berlangsung dua putaran, maka Indonesia akan punya presiden baru pada awal Oktober.

Menurut SBY, tugasnya sebagai pemimpin yang insya Allah akan mengakhiri tugas sebagai Presiden hanya 3 (tiga), yaitu: Pertama, ia akan menyambut kehadiran pemimpin kita yang baru, welcome.

Kedua, ia akan serah terimakan urusan pemerintahan dan negara ini kepada pemimpin baru. “Tentu saya sampaikan agenda prioritas kebijakan-kebijakan dasar yang dilaksanakan oleh kita semua hingga hari ini. Barangkali ada gunanya, paling tidak untuk perbandingan,” papar SBY.

Sedangkan yang ketiga, menurut Presiden SBY, ia akan berdoa semoga beliau (pemimpin baru) sukses memimpin kita semua nanti, lebih sukses dibanding sekarang ini.

“Dan tentunya, disamping saya berdoa untuk beliau, saya juga ingin memberikan bantuan kalau bantuan itu diminta. Bantuan dalam arti semoga sukses di dalam memajukan bangsa kita, dan kemudian juga bisa menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya,” terang Presiden SBY.

 

Meredam Presidensialisasi Partai

Kisruh yang terjadi di Mesir, di balik mengusik nurani kemanusiaan dunia, sesungguhnya juga memberi contoh sebuah pembelajaran politik. Ialah tentang sebuah pergerakan masif yang salah satunya berangkat dari institusionalisasi partai, bagaimana kualitas sebuah partai berangkat dari kapasitas sistemnya yang lahir dari ide bersama para anggotanya. Hal inilah yang terjadi pada Ikhwanul Muslimin (IM) sebagai aktor utama pergerakan menentang kudeta militer di Mesir saat ini.

IM adalah salah satu contoh baik partai politik (parpol) yang menempatkan institusionalisasi partai dan presidensialisasi partai pada tempatnya. Presidensialisasi partai adalah dimana kendali parpol sangat bertumpu pada seorang figur. Presidensialisasi IM terhadap Mursi didukung oleh institusionalisasi yang telah berproses sejak lama mengakar di partainya.

Hal di atas memberi refleksi terhadap kondisi parpol di Indonesia. Mendekati Tahun 2014, kecamuk politik semakin kusut. Hampir semua tingkah parpol berlandaskan pada pragmatisme elektoral dan menjauh dari substansi berpolitik seharusnya. Fenomena presidensialisasi partai yang kurang proporsional saat ini tengah menggerogoti banyak parpol di Indonesia. Khittah parpol yang seharusnya menjadi instrumen utama dalam demokrasi semakin ditinggalkan.

Perilaku parpol cenderung tidak peduli dengan persepsi masyarakat tentang bagaimana mereka; mereka hanya peduli pada tingkat elektabilitas. Menjelang pemilu, tidak ada gagasan yang ditawarkan oleh parpol, bahasan mereka sungguh ringan yaitu menargetkan persentase suara yang ingin mereka dapat di Pemilu 2014.

Hal ini berbeda dengan kondisi di negara-negara maju, dimana parpol adalah bagian dari hidup mereka. Partai buruh menjadi roh bagi kaumnya. Dengan begitu ada sesuatu yang menjadi nyawa perjuangan partai. Di Indonesia, sangat jarang parpol yang secara eksplisit memperlihatkan ideologi spesifiknya. Hanya ada beberapa yang hampir jelas terlihat, itupun tidak keduanya secara eksplisit.. Terlebih lagi parpol di Indonesia masih berkutat antara Islamis dan Nasionalis yang tak kunjung selesai.

Dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi”, Bung Karno menyatakan bahwa partai itu berguna untuk melawan kolonialisme dan imprealisme dunia barat. Partai adalah sebuah wadah perjuangan, entitas untuk menyatukan segala macam ide dan gagasan. Partai Komunis Indonesia (PKI) misalnya, dengan semangat nasionalis sering melancarkan pemberontakan terhadap pemerintahan kolonial Belanda. Dampaknya, PKI berhasil merangsek masuk ke jajaran empat besar pemenang Pemilu 1955. Pemilu ini dianggap sebagai pemilu terbersih dan tersukses dalam sejarah perpolitikan Indonesia.

Jika ada yang bertanya seberapa penting keberadaan partai politik, kita bisa melihat apa yang terjadi di Jakarta pada Pilkada 2012. Adalah Faisal Basri,  seorang akademisi dengan konseptualitas sangat baik dan cerdas. Ia berani maju sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta secara idependen tanpa menunggangi parpol dan akhirnya gugur dalam tahap awal. Apa yang kurang dari Faisal Basri ?, jawabannya adalah parpol. Faisal Basri tak punya dukungan massa ideologis yang mampu memahami gagasannya.

Fenomena calon independen, memang sekarang semakin marak di sejumlah pilkada di berbagai daerah. Sebagian besar mereka bernasib sama seperti Faisal Basri dan sebagian kecil berhasil menang. Sebagian kecil ini seringkali dibesar-besarkan oleh sejumlah pihak, sehingga terlihat semakin menegaskan delegetimasi parpol. Fenomena ini lama kelamaan semakin ke tengah, ini juga kemudian menjadi salah satu pemicu presidensialisasi parpol, mengusung sosok figur dengan kemasan seolah independen dan menyamarkan identitas partai.

Maka kemudian, lahirlah persaingan semu ; ‘Figur Politik vs Partai Politik’. Parpol yang harusnya berpengaruh besar, namun kenyataannya justru figur-lah yang memegang peran kuat. Dalam istilah lain, ini bisa juga disebut ‘Presidensialisasi Partai vs Institusionalisasi Partai’.

Kecendrungan memilih publik masih pada karakter figur, belum pada karakter partai yang mencakup visi, misi, dan ideologinya. Figur menjadi magnet elektoral bagi partai. Contohnya adalah pada Pemilu 2004, raihan suara yang diperoleh SBY jauh di atas raihan Partai Demokrat. Pada tingkat Pilkada, hal ini terjadi di Pilkada DKI Jakarta dimana Jokowi yang hanya didukung oleh minim mesin partai mampu mengalahkan calon lainnya yang didukung oleh koalisi banyak partai.

Parpol terlihat semakin mencampurkan kekuatan figur dengan kepartai-annya, padahal seharusnya yang mesti dperkuat adalah kapasitas kolektif partai. Semua pemilihan unsur dalam trias politika, mulai dari eksekutif, legislatif, hingga yudikatif, terkait dengan parpol, maka dari itu hal ini mesti dibenahi. Parpol harus segera direvitalisasi.

Saat ini masa depan parpol sangat bergantung pada usia politik figur. Menurut Pengamat Politik Hanta Yuda, ada beberapa penyebab kenapa figur lebih dipercaya daripada parpol. Ada empat hal setidaknya yang menjadi penyebabnya. Pertama adalah relasi ideologi yang semakin jauh antara parpol dengan publik. Parpol hanya datang ke publik ketika menjelang pemilu, sehingga publik kesulitan mengenal kapasitas utuh dari parpol tersebut. Kedua, warna ideologi partai yang semakin kabur dikarenakan semua parpol hanya berfokus pada perebutan ceruk suara. Sebagian besar mereka banyak yang melawan ideologi awal mereka demi mengais suara maksimum.

Ketiga yaitu fenomena presidensialisasi partai yang dijelaskan di atas. Parpol terjebak pada figuritas dan tidak peduli pada pembenahan sistem. Terakhir, citra parpol yang semakin tergerus. Sebagai contoh, publik lebih bangga disebut sebagai Relawan Jokowi daripada sebagai Relawan PDI P. Budaya politik Indonesia masih menyukai kharisma dan hal ini baru bisa melekat pada figur, belum pada parpol.

Momentum Pilpres 2014

Pilpresi 2014, adalah faktor terbesar pendorong arus presidensialisasi parpol. Kontestasi ini akan masih sangat bergantung pada figur. Dengan indikator kapabilitas, integritas, dan akseptabilitas, diperkirakan capres hanya akan muncul dari 3 jalur. Pertama dari para pelaku presidensialisasi partai yakni para petinggi partai diantaranya seperti Aburizal Bakrie, Megawati, Hatta Rajasa, dan Prabowo. Kedua dari figur berelektabilitas tinggi seperti Jokowi dan terakhir dari para pemilik kapital tinggi.

Momentum pilpres ini bisa menjadi salah satu tolak ukur atas pencapaian parpol dalam menempatkan institusionalisasi dan presidensialisasi partai. Presidensialisasi mestinya lahir dari institusionalisasi optimal yang berlangsung dalam parpol. Memperkuat kapasitas parpol dan menciptakan mekanisme-mekanisme yang lebih pada demokratisasi sistem adalah tantangan masa depan demokrasi Indonesia.

Ibnu Budiman, Anggota Forum Indonesia Muda

Menulis Pun Bisa Menghasilkan

HMINEWS.Com – Zaman sekarang, aktivitas menulis bukan lagi sekadar bakat dan hobi. Menulis, bila ditekuni secara bersungguh-sungguh, bisa menjadi alternatif pekerjaan ketika lapangan kerja sulit didapat setelah jenjang pendidikan selesai ditempuh.

“Ketika lapangan pekerjaan sulit, maka menulis bisa menjadi alternatif pekerjaan yang menjanjikan,” kata Muhammad Subhan, Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia ketika menyampaikan materi “The Power of Writing” di hadapan 50-an pelajar SMA/SMK/MAN se-Kota Padangpanjang dalam Pelatihan Jurnalistik Bagi Siswa/Siswi Tingkat SLTA yang digelar Humas Setdako Padangpanjang di aula Balaikota Padangpanjang, Senin (26/8/2013).

Dia membandingkan, jika bertekun-tekun menulis puisi, cerpen dan mampu menembus penerbit konvensional untuk naskah novel, honor dan royalti yang ditawarkan media massa dan penerbit sangat menggiurkan dan dapat digunakan untuk bertahan hidup.

“Banyak penulis sukses yang membuktikan mereka bisa hidup dari menulis,” ungkapnya.

Namun dia juga berpesan, menjadi penulis tidak harus instan, tetap berjuang keras dengan cara belajar bersungguh-sungguh, banyak membaca buku, terus melakukan latihan menulis dan tidak menyerah ketika terjadi penolakan dan mendapat kritik dari pembaca.

“Untuk sukses butuh proses, begitu juga menulis. Dalam hal proses, jatuh bangun lumrah. Yang sukses adalah yang mampu bertahan dan tetap berkomitmen dengan dunia yang digelutinya,” kata penulis novel “Rinai Kabut Singgalang” ini.

Kepada siswa-siswi peserta latihan dia mendorong agar tetap tekun belajar guna mengejar cita-cita, namun sebaiknya tidak meninggalkan aktivitas menulis. “Nanti, yang cita-citanya menjadi dokter, maka dokter yang menulis. Yang menjadi PNS, adalah PNS yang menulis. Yang menjadi pengusaha, juga pengusaha yang menulis. Jika tradisi menulis ini sudah menjadi tradisi di masyarakat, Indonesia akan sangat maju di mata dunia,” katanya.

Dalam kaitan menembus media massa, papar Muhammad Subhan, maraknya keberadaan media memberi peluang kepada para penulis lepas (freelance) untuk mempublikasikan karya mereka.

“Selain mengandalkan hasil liputan dari para wartawannya, media juga memerlukan tulisan-tulisan dari luar. Bentuknya bisa berupa surat pembaca, artikel, esai, puisi, cerpen, cerbung, resensi buku, dan lainnya,” kata dia.

Walau begitu, tambahnya, para penulis pemula harus mencermati kriteria layak muat tulisan yang dikirim ke sebuah media. Kritia itu, di antaranya tulisan harus sesuai visi dan misi media massa yang dituju sebab tiap-tiap media berbeda segmentasi dan bidang garapannya, topik tulisan yang dipilih aktual, sesuai momen, menjadi hajat orang banyak dan tulisan harus berbobot.

Selain menghadirkan narasumber dari FAM Indonesia, pelatihan yang berlangsung hingga Selasa (27/8) itu, juga mengundang pemateri lainnya, di antaranya Firdaus (pengasuh Koran Harian Rakyat Sumbar), Dalmenda Pamuntjak (Praktisi Pers) dan Ampera Salim (Kabab Humas Setdako Padangpanjang). (REL)

Undangan Syawalan Alumni HMI MPO

HMINEWS.Com – Alumni HMI MPO akan menggelar halal bihalal atau Syawalan Nasional 2013. Seperti biasa, acara ini adalah ajang silaturahmi keluarga besar. Yang berbeda, direncanakan ada sesi “menakar” calon Presiden RI 2014-2019.

Syawalan Nasional akan diadakan di Hotel Grand Sahid Jaya, Jl. Jenderal Sudirman Kav 86, Jakarta, Sabtu (31/8/2013) mulai pukul 09.00-14.00 Wib. Acara terbuka bagi segenap alumni HMI MPO dari masa ke masa, dan anggota HMI MPO yang masih aktif pun, menurut penggagas syawalan, Awalil Rizky, turut diundang.

Mengenai ‘menakar’ calon Presiden RI, di forum ini diharapkan ada 3 orang calon yang masing-masing akan diberi waktu orasi 15 menit, kemudian ada 5 panelis memberi komentar masing-masing 10 menit. Setelah itu ada kesempatan lagi untuk menanggapi selama 10 menit bagi tiap calon.

Calon Presiden yang diberi kesempatan orasi adalah yang dipilih secara terbuka melalui event fesbuk (https://www.facebook.com/events/1378116319077250/). Calon bebas, boleh dari kalangan HMI maupun bukan. Sedang Panelis penguji yang juga dipilih melalui event fesbuk ini, harus alumni HMI MPO, BUKAN KADER AKTIF.

Jika ada yang memberi suara minimal berjumlah 100 orang kepada sang ‘calonn Presiden RI,’ sesi acara “menakar calon Presiden” akan diadakan. Jika tidak mencukupi jumlah itu, sesi acara diubah. Batas pilihan sampai dengan hari Senin, 26 Agustus 2013.

DISKLAIMER: Calon Presiden adalah versi syawalan nasional, tidak mengatasnamakan alumni HMI (MPO) secara keseluruhan, serta tidak bersifat mengikat

AIFIS Tawarkan Dana Riset untuk Peneliti Indonesia

HMINEWS.Com – Jika Anda adalah Ilmuwan Indonesia yang ingin melakukan riset kolaborasi namun tidak memiliki cukup dana, kini Anda tidak perlu khawatir lagi. Sebuah lembaga kerja sama Indonesia-Amerika bernama the American Institute for Indonesian Studies (AIFIS) atau  Institut Studi Indonesia Amerika memberikan bantuan dana kepada peneliti Indonesia yang bersedia bekerja sama dengan peneliti Amerika untuk melakukan penelitian terkait dengan berbagai bidang keilmuan seperti humaniora, sains, kelautan, pertanian, kehutanan dan sebagainya.

Menurut Presiden AIFIS Prof. Thomas Pepinsky, bantuan pembiayaan penelitian yang akan diberikan untuk setiap peneliti adalahsenilai $5.000 (atau sekitar Rp50 juta). Bantuan tersebut diprioritaskan untuk keperluan biaya perjalanan dan akomodasi peneliti. Diharapkan, dengan adanya bantuan tersebut dapat menstimulasi kerja sama lebih lanjut antara peneliti Indonesia dengan peneliti Amerika mengkaji soal ke-Indonesiaan.

“Saat ini AIFIS sudah membuka kantor di Indonesia, ke depan kita berharap bisa lebih banyak membantu kolaborasi riset antara peneliti Indonesia dengan peneliti Amerika”, demikian disampaikan oleh Deputi Direktur AIFIS Dr. Johan Purnama, di Jakarta (26/8/2013).

“AIFIS merupakan konsorsium kampus-kampus Amerika yang memiliki program studi kajian Indonesia, sebelumnya hanya memiliki kantor di Amerika saja, tepatnya di Cornell University, New York. Namun demikian, terhitung sejak Januari 2012 lalu, AIFIS sudah membuka perwakilannya di Jakarta dan baru-baru ini di Yogyakarta”, ungkap Johan yang juga aktif di program-program pemberdayaan masyarakat.

Para peminat diharapkan mengirimkan aplikasinya langsung kantor AIFIS Pusat di Kahin Center for Advanced Studies on Southeast Asia, 640 Stewart Avenue, Ithaca, New York atau via email aifisfellowships@gmail.com. Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kantor AIFIS Jakarta, di Mulia Business Park, Gedung A Lantai 2, Jl. MT. Haryono Pancoran, Jakarta email:aifisjakarta@gmail.com atau website: www.aifis.org