Mental Damai

Syafinuddin Al Mandari*

Mental damai perlu dimiliki oleh setiap warga negara, terutama di Indonesia yang majemuk. Kemajemukan dapat menjadi salah satu sumber perbedaan pandangan yang dapat berkembang menjadi perselisihan pendapat, lalu konflik sosial. Satu hal yang sangat tidak menguntungkan bagi perkembangan masyarakat menuju suatu proses pematangan yang lebih sempurna. Apalagi jika potensi-potensi konflik itu rawan dimanfaatkan oleh berbagai pihak yang memiliki kepentingan, baik bermotif politik maupun finansial.

Menurut A.C. Zubair (2012), perbedaan dalam masyarakat seyogianya dapat dilihat dalam perspektif kekuatan dan peluang, bukan sebaliknya. Itulah sebabnya, yang jauh lebih penting adalah mengelola dinamika sosial tersebut menjadi suatu kekuatan yang dapat membangkitkan kepercayaan diri bahwa warga sedang berada dalam lingkungan sosial yang sedang bergerak ke arah sempurna. Masyarakat yang matang dalam mewadahi proses pencerdasan, perlindungan, pemberian jaminan hidup layak, hak-hak politik, religius, kultural, dan sebagainya.

Meski Rubin dan Fruitt (1986) menawarkan beberapa strategi untuk mengelola konflik, demikian juga oleh Kreitner dan Kinicki (1995) sebagaimana keduanya dikuatkan oleh G. Hendrastomo (2012), namun mengelola potensi konflik sosial menjadi suatu kekuatan sangat tidak mudah karena mensyaratkan mental damai. Tanpa mental damai, siapapun akan sangat mudah menjadi biang keladi kerusuhan sosial sebab pengelolaan potensi konflik menjadi suatu kekuatan tersebut bersifat multi-stakeholders. Ia tidak dapat dipasrahkan kepada satu pihak saja sebagai penanggung jawabnya, meski harus dipandu oleh unsur-unsur sosial yang berpengaruh.

Mekanis-Refleks

Pedal rem tiba-tiba diinjak ketika mobil melaju kencang tetapi di hadapannya ada orang melintas. Gerak itu tidak membutuhkan waktu lama untuk berpikir dan menimbang. Jemari gitaris seolah bergerak tanpa kontrol menekan dawai untuk menghasilkan bunyi sesuai nada yang dikehendaki, demikian juga jemari para pianis di atas keyboard.  Anak-anak pra-sekolah yang sudah mahir berhitung sempoa tidak lagi harus sibuk mengurusi biji-biji sempoanya melainkan butuh beberapa detik sahaja untuk menyebut hasil operasi hitung bilangan. Contoh yang ini sering disebut mental aritmatika. Contoh-contoh ini merupakan gambaran terbentuknya suatu mental gerak yang berpengaruh pada suatu tindakan.

Alam pikiran pengemudi, gitaris, pianis, dan anak yang memiliki mental aritmatika tersebut telah memeragakan keselarasan bahkan kemenyatuannya dengan tindakan. Alam pikiran yang menyatu dengan tindakan dalam konteks kemasyarakatan, dapat disebut budaya. Ia akan lahir dengan suatu karakteristik tersendiri, berbeda dengan yang lain. Pengemudi mahir beda dengan orang yang sedang latihan di sekolah mengemudi. Masih membutuhkan jeda waktu untuk berpikir bagi orang yang baru berlatih mengemudi untuk menginjak pedal, seberapa kuat tekanannya, dan sebagainya. Demikian juga untuk orang-orang yang baru berlatih memetik dawai gitar, menekan keyboard, dan mengoperasikan bilangan.

Segala pertimbangan yang masih berjarak dengan tindakan sama melelahkannya dengan orang yang sedang berlatih tadi. Dalam konteks kemasyarakatan, kebaikan yang belum membudaya amat sulit diterapkan sebagai perilaku warga yang mencerminkan karakteristik sosialnya. Jepang pernah memulai pembangunannya nyaris dari titik nol, usai tragedi Hiroshima dan Nagasaki, Agustus 1945. Menakjubkan, dalam kurun yang tidak sampai setengah abad, sudah tampil sebagai negara yang patut diperhitungkan. Kinerja pemerintahan dan progresivitas warganya demikian produktif dalam waktu yang sangat cepat. Bandingkan dengan Indonesia, yang anggaplah berangkat dari titik yang sama! Mental membangun berjalan mekanistik-reflektif sebagai sebuah budaya yang mencirikan Jepang. Kalau ada orang yang disiplin dan rajin, berkinerja tinggi, dan produktif maka boleh diperkirakan dia adalah orang Jepang. Tergambar mental membangun dalam kedisiplinan tinggi pada budayanya.

Dapat dibayangkan andaikata pikiran, sikap, dan perilaku damai sudah masuk dalam budaya kita laksana mental aritmatika tadi. Tentu kita akan memiliki imunitas sosial yang sangat tangguh. Suatu kekebalan dari penyakit gesekan dan konflik sosial yang meminta banyak korban. Masyarakat akan kebal dari “fitnah”, yaitu gerakan sistematis yang dapat meluluhlantakkan bangunan kemasyarakatan dan budayanya sekaligus.

Fenomena “fitnah” ini gampang merebak pada masyarakat yang tak bermental damai, tetapi mental perang. Setiap kesalahpahaman bahkan perbedaan persepsi dapat diperbesar menjadi suatu konflik besar. Kasus mutakhir adalah Peristiwa Sumbawa yang bermula dari soal satu dua orang. Seyogianya diselesaikan terbatas pada satu atau dua orang itu tetapi justru melahirkan penjarahan yang melibatkan massa besar.

Andaikata mental damai telah menjadi karakteristik budaya kita, menahan diri bukan sesuatu yang sulit. Demikian juga akan sangat mudah setiap pihak menempuh proses-proses yang wajar. Sayangnya, hal ini tidak sama dengan mental politik kita. Alam pikiran sebagian pihak lebih melekat ciri politik, ditandai dengan mudahnya menilik suatu fenomena dalam perspektif politik. Ketika muncul gambar Jusuf Kalla dan Din Syamsuddin di internet, warung-warung kopi di seantero Jakarta (tentu tidak seluruhnya) beriak. Pembicaraan segera mencuatkan isu manuver politik dua tokoh untuk persiapan bergandengan maju pilpres. Apa urusannya? Inilah mental politik, mekanistik-reflektif.

Kehadiran Negara

Banyak opini yang selalu menggugah kehadiran negara untuk persoalan stabilitas sosial ini. Negara, yang direpresentasi oleh pemerintah, memiliki otoritas untuk meregulasi tata sosial dalam upaya mencegah munculnya konflik itu. Namun faktanya, negara selalu dianggap gagal hadir sepenuhnya adalam kasus-kasus tertentu. Negara hadir di hilir tapi tak hadir secara segera di hulunya.

Mental damai dalam masyarakat negara (pemerintah) tampak masih seperti berlatih. Kalau pemerintah memiliki mental damai, tentulah sensitivitas atas konflik sosial akan gampang muncul laksana refleksnya kaki menginjak pedal rem mobil ketika di depannya ada orang yang tiba-tiba melintas. Artinya, di hulu kejadian, pemerintah selalu akan hadir dengan upaya-upaya antisipatif dengan kesanggupan membaca indikasi-indikasi dan fenomena berpotensi konflik.

Contoh yang paling tepat untuk hal ini adalah konflik SARA berbau agama dan madzhab. Konflik itu dapat dimulai dari tertanamnya suatu anggapan negatif suatu penganut keyakinan atas penganut keyakinan yang lain. Pabriknya adalah ujaran-ujaran kebencian. Pengujarnya tampak dan gampang ditemui karena rekaman-rekamannya tidak disembunyikan tetapi diekspos melalui berbagai media gratis, seperti Youtube. Ujaran yang mengandung potensi amuk massa dan bentrokan ini dibiarkan menjadi informasi yang membelah diri secara sangat cepat. Terus-menerus, hingga munculnya suatu insiden kecil yang memicu kekerasan. Konflik tak terhindarkan dan saat itulah pemerintah baru turun tangan.

Ironisnya lebih lanjut adalah upaya mencari akar masalah justru dilihat secara tidak berimbang antara pengujar kebencian dengan pihak yang dituding. Faktanya, seolah-olah pihak yang dituding harus menanggung beban tanpa pembelaan negara yang memadai, sungguhpun sebenarnya pihak tersebut telah menjadi korban. Fatwa-fatwa sesat atas dasar perbedaan penafsiran teks agama, misalnya, tetap saja dibiarkan sungguhpun dapat menjadi pemicu munculnya kekerasan atas dasar fatwa tersebut. Demikian juga eduksi terhadap pihak yang dituding tidak ditempuh dengan baik. Sangat banyak waktu yang dibiarkan sia-sia tanpa berusaha mengurai dan mempertemukan pihak-pihak tersebut melalui otoritas yang dimiliki pemerintah.

Ada cara berlindung yang sepintas lalu nampak elegan selalu disuarakan oleh pihak berkuasa saat ini, yakni; mengembalikan perkara konflik sosial tersebut ke ranah hukum. Saat itulah seolah hukum dan perangkatnya harus bekerja sendirian tanpa arahan nakhoda kekuasaan. Kejadian seperti ini disesalkan Farchan Bulkin (1984), dengan mengingatkan bahwa dalam berbagai teori kelompok, negara sering diposisikan sebagai suatu kelompok politik di antara kelompok-kelompok lain sehingga tidak memiliki keistimewaan dan sejarah tertentu yang harus diperhatikan. Ini berarti, baik anggapan eksternal maupun dari dalam pemerintahan sendiri seolah sudah menempatkan pemerintah sebagai hanya satu kelompok politik yang setara dan memiliki keistimewaan terutama dalam menggunakan kekuasaan serta otoritasnya dan mengerahkan segala perangkat negara dalam mengatur keharmonisan sosial.

Kelumpuhan negara di hadapan pihak-pihak pemicu instabilitas sangat disayangkan. Pernyataan ini tidak dimaksudkan untuk mengembalikan ekstrimitas kekuasaan yang secara membabibuta memberangus demokrasi, tetapi menghendaki efektifnya jangkauan pemerintah pada ranah pembinaan kebudayaan untuk menghasilkan perilaku yang pro-kedamaian. Program-program pemerintah dalam bidang kebudayaan seyogianya dikerahkan untuk menghasilkan suatu proses yabng terencana dalam membentuk mental damai itu. Sebutlah, misalnya, regulasi siaran televisi baik materi maupun waktu tayang yang tepat, pendidikan dan pelatihan non-formal, pendidikan karakter dengan keteladanan, konsistensi penegakan hukum yang dapat menghindari ambivalensi seperti kriminalisasi korban, pengistimewaan “penjahat” dan sebagainya.

Kesiapan Warga

Jalin berkelindan dengan pendeknya jangkauan negara dalam edukasi sosial, lemahnya mental damai juga diperparah oleh rendahnya kesiapan warga. Dalam lima belas tahun terakhir, masyarakat menunjukkan titik rawan tertinggi dalam konflik sosial. Warga sangat gampang tersulut oleh suatu ujaran kebencian. Pada level atas, tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh juga kerap kali memperparah kelemahan tersebut dengan seringnya tampil sebagai penghembus sikap permusuhan, bahkan selalu disertai dengan sentimen ayat suci.

Sikap intoleransi mencuat sebagai suatu konsekuensi logis atas kondisi tersebut. VOA Indonesia (Januari 2013) merilis peningkatan yang sangat signifikan dalam hal intoleransi beragama di Indonesia setiap tahunnya. Rapuhnya trust (kepercayaan atau rasa saling percaya) antar elemen sosial menyebabkan ambruknya pertahanan masyarakat dari bangunan stabilitas yang sudah terbina sekian lama. Goncangan besar (Fukuyama: 2002) menjadi hal yang tak terhindarkan setelah itu. Hilangnya trust menjadi hambatan besar bagi munculnya mental damai dalam masyarakat. Akibatnya, sebagaimana masyarakat negara di atas, masyarakat di ranah sipil juga mengalami kegagapan laksana pengemudi yang baru berlatih. Pedal gas dikira rem, alih-alih menenangkan suasana, justru memperkeruhnya. Alih-alih melindungi umat, justru menciptakan rasa tidak aman.

Sangat banyak tetarian sebagai alat budaya yang dapat dimanfaatkan untuk upaya ini. Negeri ini memiliki tarian Moriringgo, Mangkaliboe, Laemba, Pasitabe, dan sebagainya yang mengandung pengajaran damai. Sayangnya, budaya itu sudah jatuh ke dalam upacara dan ritual rakyat tanpa pewarisan spiritnya. Ia tak dikembangkan sebagai mata air untuk menghidupkan budaya yang lebih fungsional, mental damai. Presiden telah mengeluarkan Inpres No. 2 Tahun 2013 yang diharapkan dapat menciptakan sinergi seluruh komponen pemerintahan di daerah dalam rangka menjahga keamanan. Semoga melahirkan sikap tegas pemda secara tepat, bukan salah sasaran seperti yang terjadi di Sampang (2011-2012). Sikap tegas terhadap perilaku buruk, misalnya tindakan brutal, tidak bertentangan dengan mental damai. Justeru hal tersebut menguatkannya, sebab dapat melindungi dan menjamin rasa aman masyarakat dari dampak-dampak kebrutalan. Mental damai akan mendorong kewaspadaan dan progresivitas mencari jalan solusi. Jalan damai, mental damai.

*Syafinuddin Al Mandari adalah Pengurus Majelis Nasional KAHMI 2012-2017, Ketua Umum PB HMI-MPO 2001-2003

PB HMI MPO 2013-2015 Segera Dilantik

HMINEWS.Com – Jajaran pengurus baru PB HMI MPO akan segera dilantik. Pelantikan diagendakan dilangsungkan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rawamangun Jakarta Timur, Jumat (30 Agustus 2013) malam.

Hal itu telah dibahas dalam rapat pembentukan panitia di Sekretariat PB HMI MPO di Jagakarsa, Sabtu (17/8) lalu, dimana HMI MPO Cabang Jakarta sebagai tuan rumah dan ketua panitia, yang diwakili Ahmad Latupono, Andy Pratama dan Firas, dari Cabang Jaksel Puspita dan Cabang Depok Ruslan Arif  yang membantu Cabang Jakarta dalam kepanitiaan tersebut.

Acara yang direncanakan malam tersebut dengan harapan agar lebih banyak anggota atau kader HMI MPO yang bisa hadir, mengingat waktu di akhir bulan Agustus ini kegiatan masing-masing anggota cukup padat dan keesokan harinya alumni HMI MPO akan menyelenggarakan Syawalan di Hotel Sahid.

Sebagai info tambahan, menurut Ketua Umum PB HMI MPO Puji Hartoyo, dalam kepengurusan periode ini susunannya akan cukup ‘gemuk’ dibanding periode sebelumnya, sekitar 10 komisi dan 6 lembaga. Komisi-komisi tersebut yaitu Komisi Perkaderan, Komisi Pendidikan, Komisi Politik, Komisi Hukum dan HAM, Komisi PAO, Komisi Hubungan Internasional, Komisi Ekonomi, Komisi Lingkungan, Komisi Kajian Strategis dan Komisi PTK.

Sedangkan lembaga-lembaganya yaitu dua lembaga khusus: Korps Pengader Nasional dan Korps Nasional KOHATI, dan lembaga kekaryaan: Lembaga Da’wah Mahasiswa Islam (LDMI), Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI), Lembaga Riset, dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH).

Untuk mematangkan persiapan pelantikan, panitia akan rapat kembali Rabu (21/8). Nama-nama personel pengurus yang baru? Tunggu saja..

Masyarakat Sultra Kecam Pembantaian di Mesir

HMINEWS.Com – Krisis kemanusiaan dan demokrasi yang terjadi di Mesir menuai keprihatinan banyak kalangan. Sejumlah elemen yang tergabung dalam Komite Kemanusiaan  dan Demokrasi Untuk Rakyat Mesir menggelar aksi solidaritas di area Masjid Agung Kota Kendari, Ahad (18/8/2013).

Massa aksi terdiri dari 18 elemen yakni PW NU Sultra,IKADI SULTRA,PW Salimah Sultra, BKMT Kota Kendari, Fatayat NU, Nasyiatul Aisyiah Kota Kendari, PKPU Kendari, PD Salimah Kota Kendari, PD KAMMI Sultra,Yayasan Amal Saleh Kendari, PUSKOMDA FSLDK Sultra, PK KAMMI UHO, PK KAMMI STAIN Kendari, PMII Komisariat UHO, HMI-MPO Cabang Kendari, LDMI Cabang Kendari, UKKI UHO dan LSIP FKIP UHO.

Sebelumnya, aksi gabungan ini melaksanakan shalat ghaib atas rakyat Mesir yang terbunuh. Sholat tersebut digelar di Masjid Agung. Dalam aksi yang diselingi takbir tersebut, para orator mengutuk tindak kebrutalan yang membabi buta membantai masyarakat sipil tak bersenjata.

“Tindakan brutal militer Mesir kami kecam keras. Pemerintah Indonesia harus tanggap dan tegas dengan persoalan Mesir. Umat juga harus peduli atas saudaranya,” tegas seorang orator diiringi takbir.

Selain itu, aksi yang dipimpin La Albaina Imadi ini juga menilai kudeta militer terhadap pemerintahan Mursi adalah illegal dan pelecehan terhadap demokrasi yang melanggar konstitusi nasional maupun internasional.

Aksi tersebut dirangkaikan dengan kegiatan penggalangan dana di perempatan lampu merah.

Jufra Udo

Tips Meraih Beasiswa LPDP

 

Berita yang cukup menggemparkan terdengar di awal tahun 2013, saat itu recruitment peserta beasiswa S2, S3 Luar dan Dalam Negeri di umumkan oleh LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) yang berada di bawah Departemen Keuangan RI. Beasiswa LPDP merupakan kerjasama antara tiga kementerian, Kementerian Keuangan, Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan Nasional RI. Dana yang digunakan untuk beasiswa ini merupakan endowment fund atau dana yang berasal dari hasil keuntungan investasi dana abadi Pemerintah. Selain digunakan untuk beasiswa S2 dan S3, LPDP juga membuka recruitment dana penelitian. Jumlah yang diberikan pun sangat besar, 40 Trilliun. Oleh karena itu redaksi HMInews.com yang memperoleh informasi dari salah satu peserta yang berhasil lolos program LPDP memberikan sedikit tips:

Pendaftaran

1.       Cara mendaftar program LPDP cukup mudah, namun ada beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan persiapan awal, yaitu:

a.      Pastikan nilai TOEFL ITP berada di atas 550 untuk program S2 dan S3 luar negeri, serta 500 untuk program dalam negeri. Bagi yang ingin melanjutkan studi ke Australia, Inggris dan beberapa negara di Eropa dapat melampirkan skor IELTS (biasanya minimal 6.5, dengan tidak ada nilai dibawah 5.5).

b.    Disarankan untuk memperoleh LOA (Letter of Acceptance) atau Letter of Offer (baik Unconditional maupun Conditional) dari Universitas yang dituju. Jika mengambil program Master atau Doctor by Research biasanya harus mendapatkan dua Letter of Acceptance (LOA) baik dari Professor (pemimbing) di Universitas yang dituju dan LOA dari Fakultas yang bersangkutan. Kasus seperti ini banyak ditemui jika ingin studi di Jepang. Tips lainnya, ketika mendaftar pada universitas yang dituju sebaiknya yang berjarak 5-12 bulan waktu masuk kuliahnya dari waktu mendaftar di program LPDP. Hal ini dikarenakan proses seleksi LPDP yang terdiri dari wawancara, program kepemimpinan memakan waktu yang cukup lama

c.   Persiapkan foto formal, karena menjadi salah satu trik agar dalam tahap seleksi administrasi, tim seleksi melihat pelamar serius dalam mengikuti beasiswa ini.

d.    Ijazah asli, bagi pelamar yang belum lulus disarankan untuk menyelesaikan studi S1 terlebih dahulu. Karena saat wawancara panitia akan bertanya tentang Ijazah sebagai syarat lulus program beasiswa ini.

e.    Transkrip IPK (nilai) bahasa Indonesia atau bahasa Inggris asli.

f.     Surat rekomendasi dari satu orang (bisa dosen, tokoh masyarakat, pejabat, atau dekan fakultas). Format surat rekomendasi bisa di unduh di website resmi LPDP.

g.      Penuhi seluruh administrasi yang dibutuhkan oleh panitia, semakin lengkap peluang untuk lulus beasiswa ini sangat besar.

2.     Tips saat wawancara:

a.     Persiapkan dokumen asli seperti Ijazah, Transkrip, LOA (bagi yang sudah mendapatkan) dll.

b.   Baca buku yang relevan dengan tujuan studi. Walaupun beasiswa LPDP ini tidak mengenal limit(batas maksimal) jumlah penerima namun wawancara sangat menentukan kelulusan peserta, persiapkan dengan maksimal bahan yang dibutuhkan saat wawancara.

c.    Siapkan bahan penunjang. Penerima beasiswa LPDP yang diwawancarai oleh Redaksi mengatakan bahwa “menunjukkan hasil karya berupa buku yang pernah ditulis, artikel di media massa, atau jurnal/proposal penelitian yang sedang dibuat merupakan nilai plus saat wawancara…”

d.     Cari informasi mengenai jurusan yang akan dituju, biaya hidup, negara tujuan, hingga sistem pendidikan di negara tersebut. Contohnya pendidikan di Prancis dengan Inggris cukup berbeda. Waktu masuk yang berbeda juga berpengaruh. Prancis (Februari), Inggris (September).

e.     Bersikap percaya diri. Saat berhadapan dengan pewawancara yang berjumlah 3 orang (dua orang akademisi/profesional, satu orang psikolog) siapkan diri untuk tenang, jawablah dengan lancar secara terstruktur.

3.     Tips mengikuti Program Kepemimpinan

a.    Setelah dinyatakan lulus dalam seleksi wawancara, berikutnya adalah mengikuti program kepemimpinan. Program yang berdurasi 10-11 hari ini dilaksanakan di beberapa tempat yang terpisah.

b.      Materi program kepemimpinan mulai dari latihan fisik, menulis jurnal hingga cara berkomunikasi dengan panitia LPDP jika terpilih menjadi peserta beasiswa. Ikuti program ini hingga selesai, di akhir acara peserta yang lulus akan menandatangani kontrak dengan pihak LPDP.

c.       Peserta juga akan mendapatkan Letter of Guarantee yang digunakan untuk mendaftar ke universitas yang dituju.

Sekian tips dari redaksi HMInews.com semoga dapat membantu pemimpin muda meraih beasiswa S2 dan S3 di luar atau di dalam negeri.

Menentukan Target dan Strategi

Target atau tujuan merupakan penggerak dan acuan dalam semua aktivitas. Tanpa tujuan, gerak dan semua pekerjaan tidak akan terarah, hanya menjadi rutinitas menjemukan dan tidak menghasilkan apa-apa kecuali membuang waktu saja. Dengan tujuan yang jelas, maka pelaku usaha, pedagang, pegawai atau karyawan, guru, aktivis dan semua orang yang melakukan aktivitas apapun bentuknya akan lebih bergairah.

Mereka tahu ke mana mereka sedang melangkah, meski mungkin saja saat ini belum menjadi apa-apa, namun ada optimisme bahwa mereka itu akan mencapai suatu kondisi atau posisi tertentu di kemudian harinya.

Seorang wirausahawan yang tahu betul apa yang menjadi tujuannya, akan lebih getol, lebih bersemangat dan lebih tahan menjalani setiap proses yang harus dilalui. Tujuan itulah yang menjadi energinya yang melimpah dan seolah tidak ada habis-habisnya. Seperti mesin diesel yang semakin panas justru semakin bertenaga. Karena dari setiap proses yang dilalui pasti ada satu pelajaran yang bisa dipetik untuk lebih menguatkan keyakinan dan memantapkan semua usahanya. Pengalaman demi pengalaman, bahkan meski itu berupa kegagalan, akan membuatnya semakin yakin bahwa tujuan yang dicita-citakannya semakin mendekati kenyataan.

Berbeda halnya dengan orang, organisasi atau perkumpulan, perusahaan atau apapun yang tidak punya target yang jelas. Atau, ada target secara tertulis dalam AD/ART (Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga) organisasi dan perusahaannya, namun tidak pernah menjadi komitmen bersama yang terus diperbaharui oleh tiap anggotanya yang juga selalu berganti karena proses regenerasi.

Bila demikian keadaannya, arah organisasi-perusahaan tersebut tidak lagi jelas dan bisa dipastikan semua aktivitasnya tidak akan membawa pengaruh apa-apa kecuali sebatas seremonial, hanya menjadi pelanjut tanpa inovasi, penghias surat kabar atau kliping kegiatan. Sementara potensi sumberdaya manusia yang ada di dalamnya tidak akan mencapai kemajuan maksimal atau mendapatkan pencapaian tertinggi yang semestinya bisa diraih dengan mengoptimalkan semua daya dan upaya, tenaga, fikiran serta totalitas. Keuntungan yang didapat pun akan semakin menurun. Jika pun bertahan stabil, tetap hanya akan habis untuk membiayai seluruh pegawai, dan lama-lama akan semakin surut dengan makin berkurangnya pelanggan dan merosotnya daya jual produk yang dihasilkan.

Cara Menentukan Target

Untuk menentukan target harus mencari dulu apa yang menjadi kebutuhan terbesar. Memikirkan apa yang akan dipilih, diraih dan dihasilkan, baik secara individu, kelompok atau secara kelembagaan. Target haruslah merupakan hal besar yang apabila dapat diraih akan mengangkat nama atau menjadi kemenangan individu dan kelompok, menjadi solusi atas kebutuhan paling mendesak yang tengah melanda zamannya. Membalikkan keadaan yang mandek menjadi bergairah, bangkit dari keterpurukan atau kondisi stagnan menjadi dinamis dan penuh capaian prestasi yang membanggakan.

Menentukan target harus  membaca kebutuhan, sehingga produk yang dihasilkan diminati dan ‘laku’ di pasaran. Sebaliknya, ketidakmampuan membaca kebutuhan zaman akan menghasilkan kegamangan dalam penentuan tujuan serta kehilangan langkah besar. Dari itu mengidentifikasi kebutuhan paling mendesak sama pentingnya dengan kebutuhan terhadap prestasi itu sendiri.

Tujuan dapat ditentukan dengan mengumpulkan pendapat, ide atau gagasan dalam suatu brain storming. Dalam suatu rapat atau musyawarah besar, baik di dalam maupun di luar ruangan, dipilih sesuai kesepakatan dan terjamin dari kebocoran informasi ke pihak lain. Seperti di tempat-tempat yang jauh dari hiruk-pikuk atau keramaian, di tempat yang relatif jauh, sekaligus dalam rangka rekreasi.

Demikian biasanya tempat dan waktu yang dipilih, sehingga semua individu berfikir tidak dalam tekanan atau dalam suasana jenuh yang membatasi kemampuan berfikir maksimalnya. Sejenak meninggalkan rutinitas sehingga otot dan fikiran lebih rileks dan diharapkan mampu berfikir yang ‘keluar dari kotak.’ Semua ditampung untuk kemudian dipilah-pilih mana yang paling bagus dan diurutkan sesuai skala prioritas. Kemudian dengan suara bulat diputuskan untuk menjadikannya sebagai tujuan bersama. Setelah itu adalah proses penentuan strategi untuk mewujudkan tujuan. Dipilih yang paling jitu, paling mudah dan paling ringan secara biaya serta paling cepat untuk mewujudkannya.

Merumuskan Strategi Pencapaian.

Dari semua cara serta kemungkinan yang telah diusulkan harus disaring mana yang paling efektif (jitu) dan efisien (praktis, murah dan cepat). Jangan hanya satu cara yang diandalkan, akan tetapi harus ada cara 1, cara 2 dan seterusnya. Rencana 1, rencana 2 atau plan A, plan B dan seterusnya sebagai langkah antisipatif apabila strategi pertama tidak berhasil atau berhenti di tengah jalan karena berbagai kendala yang muncul. Kendala yang muncul selama proses berjalan bisa diprediksi bentuk dan jenisnya sebelumnya, atau yang tidak terprediksi jenisnya namun terprediksi secara garis besar dan telah disiapkan antisipasinya dengan plan B, rencana 2 dan sebagainya sehingga gerakan atau pekerjaan tidak gagal total.

Dengan kewaspadaan tinggi, semua gangguan dan ancaman dapat terdeteksi. Jangan sampai terlambat mengambil langkah penyelamatan dengan berganti taktik. Dari plan A ke plan B, dari rencana 1 ke rencana 2 dan seterusnya. Boleh jadi tidak semua mendukung dan sepakat pada awalnya, dan karena itu perlu proses memahamkan, membuat mereka yakin dan berbalik mendukungnya. Pastikan semua sepakat dan mendukung rencana yang dijadikan sebagai rencana atau strategi bersama, meskipun mereka yang pada awalnya menolak dengan keras. Di sinilah mekanisme organisasi-perusahaan berlaku, dan semua harus mematuhinya dalam semangat kesatuan, esprit de corps. Buatlah komitmen agar tidak ada yang saling menjatuhkan karena perbedaan pandangan mengenai strategi dan taktik atau cara yang ditempuh dalam mencapai tujuan bersama ini.

Kesalahan salah satu bagian akan berpengaruh dan mengganggu proses secara keseluruhan. Kesalahan kecil yang fatal bisa menggagalkan keseluruhan rencana besar dan strategi pencapaiannya. Karenanya mekanisme reward and punishment harus tetap diberlakukan sebagai kontrol bersama.

Pembagian Peran

Jika strategi sudah ditentukan, langkah berikutnya adalah pembagian fungsi dan peran semua yang terlibat. Siapa sebagai apa, sesuai spesifikasi keahlian masing-masing agar kerja-kerja yang dilakukan dapat efektif langsung pada sasaran. Tiap orang, unit atau kelompok bekerja sesuai peran atau fungsi yang telah disepakati. Jangan mengambil garapan yang lain dengan mengabaikan pekerjaan sendiri, kecuali yang sifatnya hanya membantu atau pekerjaan sendiri telah terselesaikan dengan sebaik-baiknya.

Banyak godaan yang menggiurkan sewaktu proses berjalan untuk mengambil peran orang lain atau mengerjakan pekerjaan unit lain. Hal itu bisa jadi karena beberapa hal, di antaranya adalah, bisa jadi karena melihat individu atau unit lain yang tidak maksimal, sementara dirinya menganggap hal itu sebagai pekerjaan mudah saja, sehingga mengundang rasa ‘geregetan’ dan kemudian turut campur tangan.

Sebaliknya, meski harus fokus pada pekerjaan masing-masing bukan berarti cuek dan tidak peduli sama sekali dengan pekerjaan sesama anggota tim. Berlomba-lomba dalam kebaikan atau berpacu dalam prestasi memang harus, tetapi tidak dengan membiarkan kesalahan orang lain. Kesalahan orang atau unit lain harus ditegur dan diingatkan agar tidak menambah pekerjaan di belakang hari yang akan menghambat seluruhnya.

Penting juga diperhatikan pihak mana saja yang dapat diajak berkoalisi, baik itu untuk jangka pendek, menengah ataupun jangka panjang. Tentunya yang diajak adalah mereka yang dapat memberikan manfaat langsung dalam mencapai sasaran.

Tidak kalah penting adalah menentukan sarana apa yang akan dipakai sebagai pendukung agar pekerjaan dapat lebih efektif dan efisien. Disesuaikan dengan tingkat kemampuan dari segi biaya, efektifitas, serta berbagai pertimbangan lain seperti kemampuan individu menggunakan sarana pendukung itu, yang tidak hanya asal modern dan paling canggih namun masih gaptek dalam pengoperasiannya. Dari itu tidak perlu gengsi menggunakan sarana atau alat lawas. Sedangkan jika alat atau sarana yang terbaru dan termodern bisa memberikan penyelesaian lebih cepat, efisien dan murah, maka terlebih dahulu harus ada training untuk menggunakannya sampai pada tingkat mahir, sehingga tidak justru menghambat kinerja.

Menjaga Ritme dan Memelihara Kesinambungan

Ritme atau irama kerja perlu terus dijaga agar tetap terpelihara, meskipun berdinamisasi, akan tetapi tetap pada koridornya. Hal ini sebenarnya sama saja dengan kegiatan evaluasi. Ada evaluasi yang dilakukan selama proses berjalan, evaluasi untuk tiap waktu tertentu (periodik) dan evaluasi setelah semua pekerjaan terlselesaikan.

Evaluasi selama proses berjalan berfungsi agar kerja-kerja yang dilakukan tidak keluar dari garis yang telah ditentukan di awal, sehingga tetap fokus dan makin mendekatkan pada keberhasilan. Untuk menghindarkan yang sebaliknya yang tidak makin mendekatkan pada tujuan yang diinginkan, atau malah menjauhkannya.

Evaluasi periodik gunanya untuk menilai pekerjaan pada tiap tahap dan waktunya, sehingga diketahui sejauh mana efektifitas fase-fase kerja yang telah diprogramkan. Dengan begitu, sebelum melangkah lebih jauh lagi sudah diketahui apa saja kekurangan yang perlu ditambal, serta kelebihan mana yang perlu terus ditekankan agar pekerjaan lebih cepat selesai dan dengan hasil memuaskan.

Sementara evaluasi finish bertujuan agar mengetahui efektivitas, kekurangan dan kelebihan dari keseluruhan proses yang telah dijalani. Evaluasi harus menyimpulkan garis besar dan hasilnya dapat dijadikan sebagai alat ukur untuk kerja-kerja yang akan datang, sehingga berbagai kesalahan sekecil apapun dapat dihindarkan, sedangkan hal-hal yang positif terus dikembangkan dan menjadi strategi atau taktik yang dapat digunakan dalam kerja-kerja di masa mendatang.

Fathurrahman

Alumni Attaqwa Bekasi Selenggarakan Silatnas ke-49

Attaqwa-HMINEWS.Com – Ikatan Keluarga Abituren Attaqwa (alumni Ponpes Attaqwa Bekasi) menggelar Halal Bihalal dan Silatnas ke-49. Acara dilangsungkan di Aula KH Noer Alie, Ponpes Attaqwa Putri, Ujungharapan, Babelan – Bekasi, Ahad (18/8/2013).

Momen Syawal tahun ini, Silatnas diisi dengan: Pameran Memorabilia KH Noer Alie, Pentas Seni Santri, Pameran Foto Jadoel, Kuliner Tempo Doeloe, stand Bazaar per angkatan, dan Ziarah ke Makam Sang Pejuang: KH Noer Alie. Acara juga dimeriahkan dengan penampilan khusus Abdul Hadi WM dan pelantun lagu religi Wafiq Azizah.

Al Absath, wadah komunikasi alumni tahun 2003 yang menjadi penanggungjawab acara tersebut, mengusung tema celebrate, tribute & unite untuk Silatnas ke-49 ini

“Dalam silaturahmi, terdapat perayaan, terdapat penghormatan atas memori yang selalu terkenang, dan terdapat ukhuwah dan persatuan. Itu sebabnya kami mengambil nama Silaturahmi Nasional, dengan tiga tujuan dasar: celebrate, tribute, dan unite,” demikian tulis panitia.

Ribuan alumni Pesantren Attaqwa Putra dan Putri menghadiri acara tersebut. Sedangkan sambutan-sambutan, antara lain disampaikan oleh Ketua IKAA, Ustazd Syamsul Falah, perwakilan Alumni 1995 Ustazd Zainal Muttaqien, pengasuh pondok KH Amien Noer dan KH Nurul Anwar.

Sehari sebelumnya, Sabtu (17/8)  diadakan donor darah di Masjid Attaqwa, dengan penyelenggara Dewan Masjid Attaqwa, KBIH Attaqwa, IKRA Pusat, Korikawati, dan Radio Attaqwa.

Fathur

PB HMI Desak PBB Hentikan Pembunuhan di Mesir

HMINEWS.Com – Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO), Puji Hartoyo berkirim surat mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menghentikan pembunuhan di Mesir, Sabtu (17/8/2013).

Menurut Puji Hartoyo, desakan itu mengingat belum adanya satu kekuatan pun yang berusaha menghentikan pembunuhan-demi pembunuhan oleh militer terhadap massa pendukung Presiden Mesir tergulingkan, Mohammad Mursi. Bahkan kekejaman militer tersebut dilakukan terhadap mereka yang bertahan di masjid, memberondong massa dengan senjata api dari jarak dekat, serta membuldoser mereka hingga korban tewas terus bertambah.

Apalagi, di kawasan Timur Tengah sendiri malah terpecah, bahkan Raja Saudi mengeluarkan fatwa tentang gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir sebagai gerakan teroris, dan fatwa tersebut bisa menjadi alasan penguat pemerintah militer untuk membunuhi masyarakat sipil yang menyuarakan penolakan mereka. Militer di bawah Jenderal Al Sisi juga membungkam media.

Puji melihat kejadian di Mesir tidak lepas dari campur tangan asing, khususnya Amerika Serikat (USA) yang tidak menyukai kepemimpinan Mursi di Mesir, padahal Mursi merupakan presiden yang dipilih secara demokratis. Sebagaimana desakan Presiden Amerika tahun 2009 mengenai hubungan Islam dengan Barat, dan klaim Amerika terhadap demokrasi, tetapi pada prakteknya mereka tidak menyukai pemerintahan Mursi pilihan rakyat.

Berikut poin seruan PB HMI kepada badan dunia PBB, Uni Eropa dan Amerika Serikat:

1. Hentikan kekerasan/ pembunuhan dan bebaskan masyarakat sipil yang ditahan secara semena-mena
2. Bebaskan Presiden Mursi dan kembalikan kepemimpinannya
3. Insiasikan dialog antar kelompok politik di Mesir, termasuk kelompok pemuda dan militer untuk mencari solusi atas krisis yang terjadi. Militer tidak boleh terlalu campur tangan dalam proses politik tersebut.
4. Segera investigasi pembunuhan terencana yang dilakukan militer terhadap massa rakyat dan tindak tegas pihak yang bertanggungjawab atas tragedi tersebut.
5. Jamin kebebasan ekspresi dan pers

Janji Kemerdekaan

Anies Baswedan
Kibarannya membanggakan. Merah-Putih berkibar gagah di tiang bambu depan rumah batu. Rumah sepetak kecil, alasnya tanah, dan atapnya genteng berlumut. Berlokasi di tepi rel kereta tak jauh dari Stasiun Jatibarang, rumah batu itu polos tanpa polesan material mewah.

Pemiliknya jelas masih miskin. Namun, dia pasang tinggi bendera kebanggaannya. Seakan dia kirim pesan bagi ribuan penumpang kereta yang tiap hari lewat di depan rumahnya: Kami juga pemilik sah republik ini. Kami percaya di bawah bendera ini kami juga akan sejahtera!

Yang miskin telah menyatakan cinta dan bangga kepada negerinya. Keseharian hidupnya mungkin sulit, mungkin serba kerontang. Mungkin tak punya tabungan di bank, tetapi tabungan cintanya kepada republik ini luar biasa banyak. Negeri ini masih dicintai dan dibanggakan rakyatnya tanpa syarat.

Hasil perjuangan

Tiap memasuki bulan Agustus ada rasa bangga. Kemerdekaan diongkosi dengan perjuangan. Di tiap hela napas anak bangsa hari ini, ada tanda pahala para pejuang, para perintis kemerdekaan.

Jangan pernah lupa bahwa saat merdeka, mayoritas penduduk serba sulit. Hanya 5 persen rakyat melek huruf. Siapa pun hari ini, jika menengok ke masa lalu, masih akan melihat jelas jejak ketertinggalan sebagai bagian dari sejarah keluarganya. Kemiskinan dan keterbelakangan adalah baju bersama pada masa lalu.

Republik ini didirikan bukan sekadar untuk menggulung kolonialisme, melainkan untuk menggelar keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Republik hadir untuk melindungi, menyejahterakan, dan mencerdaskan rakyatnya serta memungkinkan mereka berperan dalam tataran dunia.

Isi Pembukaan UUD
1945 selama ini diartikan
 sebagai cita-cita. Cita-cita 
kemerdekaan adalah kata 
kunci paling tersohor. Istilah cita-cita kemerdeka
an adalah istilah yang sudah jamak dipakai dalam mengilustrasikan tujuan republik ini, tetapi ada ganjalan fundamental di sini.

Kemerdekaan perlu memberi ekspresi yang lebih fundamental, bukan sekadar bercita-cita. Lewat kemerdekaan, sesungguhnya republik ini berjanji. Narasi di Pembukaan UUD 1945 bukanlah ekspresi cita-cita semata, tetapi itu adalah janji. Janji perlindungan, kesejahteraan, pencerdasan, dan peran global pada setiap anak bangsa. Republik dibangun dengan ikatan janji!

Cita-cita itu adalah harapan, dan ia bisa tidak mengikat. Secara bahasa cita-cita itu bermakna keinginan (kehendak) yang selalu ada di dalam pikiran atau dapat juga diartikan sebagai tujuan yang hendak dilaksanakan. Bila tercapai cita-citanya, maka akan disyukuri. Jika belum, maka dievaluasi dan direvisi.

Ada komponen ketidakpastian yang abstrak pada kata cita-cita. Namun, Indonesia hadir bukan sekadar untuk sesuatu yang di dalamnya mengandung komponen yang belum tentu bisa dicapai. Sudah saatnya tidak lagi menyebutnya cita-cita, tetapi sebagai Janji Kemerdekaan.

Berbeda dengan cita-cita, sebuah janji adalah kesediaan, kesanggupan untuk berbuat, untuk memenuhi, dan untuk mencapai. Janji adalah utang yang harus dilunasi. Janji memberikan komponen kepastian. Janji itu konkret. Republik ini bukan sekadar bercita-cita, melainkan berjanji menyejahterakan dan mencerdaskan tiap anak bangsa.

Hari ini janji itu telah dilunasi bagi sebagian rakyat yang sudah tersejahterakan, tercerdaskan, terlindungi, dan bisa berperan di dunia global. Mereka sudah mandiri. Mereka tak lagi bergantung pada negara, mulai dari kehidupan ekonomi keseharian, pendidikan, sampai kesehatan. Pada mereka, janji kemerdekaan itu sudah dibayar lunas.

Masih utang janji

Akan tetapi, masih jauh lebih banyak lagi mereka yang mendapat janji dan belum dilunasi. Bangsa ini perlu melihat usaha mencerdaskan dan menyejahterakan bukan sekadar meraih cita-cita, melainkan sebagai pelunasan janji kemerdekaan. Pelunasan janji itu bukan cuma tanggung jawab konstitusional negara dan pemerintah, melainkan juga tanggung jawab moral setiap anak bangsa yang telah mendapat pelunasan janji: telah terlindungi, tersejahterakan, dan tercerdaskan.

Jangan lupa dahulu seluruh rakyat sama-sama miskin, buta huruf, terjajah, dan terbelakang. Mayoritas mereka yang hari ini sudah tersejahterakan dan tercerdaskan mendapatkannya lewat keterdidikan. Pendidikan di republik ini adalah eskalator sosial ekonomi; mengangkat derajat jutaan rakyat untuk mendapat janji tercerdaskan dan tersejahterakan.

Saat republik ini didirikan, semua turun tangan menegakkan Merah-Putih, menggulung kolonialisme. Ada yang sumbang tenaga, harta, dan juga nyawa. Mereka menegakkan bendera tanpa minta syarat agar anak-cucunya nanti lebih sejahtera dari yang lain.

Semua paham adanya janji bersama untuk menggelar kesejahteraan bagi semua. Itu bukan sekadar cita-cita. Kini bendera itu sudah tegak, makin tinggi, dan di bawah kibarannya, janji kemerdekaan harus dilunasi untuk semua.

Bayangkan di kampung kecil pinggiran kota, di rumah kayu ala kadarnya. Kabel listrik berseliweran dipakai gantungan dan aliran listriknya pun kecil. Di bawah sinar lampu seadanya beberapa orang bersila di atas tikar membincangkan rencana perayaan kemerdekaan di kampungnya. Mereka belum sejahtera dan mereka akan merayakan kemerdekaan!

Tidak pantas rasanya terus-menerus merayakan kemerdekaan sambil berbisik memohon maaf bagi mereka yang belum terlindungi, belum tercerdaskan, dan belum tersejahterakan. Bangun kesadaran baru bahwa usaha ini sebagai pemenuhan janji. Sebagai janji ia mengikat, bisa mengajak semua ikut melunasinya dan sekaligus agar semua lebih yakin bahwa janji itu untuk dilunasi.

Perayaan kemerdekaan bukan sekadar pengingat gelora perjuangan. Merayakan kemerdekaan adalah meneguhkan janji. Wujudkan impian pemilik rumah batu itu, yang menerawang kibaran Merah-Putih di rumahnya sambil tersenyum membayangkan bahwa dia dan anak-cucunya akan tersejahterakan dan tercerdaskan. Semua akan bangga jika perayaan kemerdekaan adalah perayaan lunasnya janji kemerdekaan bagi tiap anak bangsa.

***

Melunasi janji kemerdekaan adalah tanggung jawab moral setiap anak bangsa. Bagaimana usaha Anda turun tangan melunasi janji kemerdekaan itu?

*Dimuat tanggal 17 Agustus 2013 di: turuntangan.org

Pelepasan Tim Pertama SOS Egypt

HMINEWS.Com – Lembaga kemanusiaan ‘Aksi Cepat Tanggap’ (ACT) mengirimkan tim pertama Symphaty of Solidarity (SOS) Egypt ke Mesir. Tim dilepas usai shalat Jumat di Masjid Agung Al Azhar Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jum’at (16/8/2013).

Presiden ACT, Ahyudin mengatakan, tim kemanusiaan akan dipimpin Doddy CHP yang sudah berpengalaman memasuki kawasan krisis dan konflik kemanusiaan seperti Palestina dan Myanmar. Doddy selau Direktur Global Partnership dan Andhika Purbo Swasono (Global Humanity Response), serta tim medis dipimpin dr Lukmanul Hakim dan dr Ars Ramdhani.

Ahyudin menjelaskan sedikitnya ada 3 alasan aksi kemanusiaan tersebut. Pertama, Mesir negara pertama yang mengakui kemerdekaan RI, yang secara de facto tertanggal 22 Maret 1946 atas desakan rakyat Mesir dan pengakuan de jure tertanggal 10 Juni 1947.

Kedua, di Mesir, aksi damai sipil yang terdiri dari pria/wanita, dewasa, anak-anak dan bahkan manula tanpa senjata, ternyata dilawan militer bersenjata. Anak-anak, perempuan, manula tak luput dari sasaran kekerasan. “Laporan media internasional menyebutkan, korban tewas sampai 14 Agustus 20131, dari catatan tiga masjid dan tita rumah sakit sudah mencapai angka 4.500-an jiwa”

Ketiga, Mesir berperan penting mendidik intelektual Indonesia. Saat ini tak kurang dari 5.000 mahasiswa Indonesia belajar di Mesir, terutama di Al Azhar. Bertahun-tahun, intelektual Indonesia banyak dididik di Mesir dan mereka calon-calon pemipmpin di Indonesia. Kini, Mesir berolak dan para pengajar, sejumlah ulama Mesir pun terlibat bersama massa menyuaraan pandangannya. Mereka pun salah satu kelompok potensial terbunuh dalam krisis Mesir ini.”

Menjelasan langkah ACT, Novariyadi Imam Akbari (Senior Vice President -Global Network Dept) mengatakan fase pertama ACT menyiapkan program layanan medis, pangan darurat (dapur umum), dan mendorong pemerintah RI agar mengingatkan Mesir untuk menghentikan penghilangan nyawa warganya.

Ketua Umum PB HMI Instruksikan Aksi Solidaritas Mesir

HMINEWS.Com – Menyikapi krisis kemanusiaan yang terjadi di Mesir, Ketua Umum PB HMI MPO, Puji Hartoyo menginstruksikan kepada HMI Cabang-cabang untuk bersikap.

Instruksi telah dikirim ke email cabang-cabang HMI MPO seluruh Indonesia. Berikut petikan instruksi yang dikeluarkan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI, Sabtu 17 Agustus 2013. Surat bernomor 01/A/FOR/10/1434.

Nomor : 01/A/FOR/10/1434
Lamp    : 1
Hal            : INSTRUKSI SOLIDARITAS UNTUK MESIR

 

Kepada Yang Kami Hormati
Ketua Umum HMI Cabang Se-Indonesia

Di TEMPAT

Assalamu’alaikum wr. wb.

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan  hidayah-Nya yang selalu tercurahkan kepada makhluk-Nya. Sholawat dan salam senantiasa kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya.

Sehubungan dengan telah terjadinya krisis politik didalam negeri Mesir belakangan ini, yang berujung pada persitiwa unjukrasa berdarah pada hari Rabu (14/8/2013) atau pada umumnya disebut “EgyptMassacre” yang telah menewaskan ratusan orang dan ribuan lainnya terluka. Atas nama solidaritas persaudaraan ummat Islam dan rasa kemanusiaan, untuk itu kami mengajak kepada Ketua Umum HMI Cabang se-Indonesia untuk bersikap atas peristiwa ini dalam bentuk aksi unjukrasa solidaritas, pernyataan ataupun bentuk lainnya.

Demikian surat instruksi ini kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.

Billahittaufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum
 wr. wb. 

Jakarta, 09 Syawal     1434  H
17 Agustus    2013 M

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM

PENGURUS BESAR

PUJI HARTOYO ABU BAKAR

KETUA UMUM

Tembusan:

  1. HMI Badko se-Indonesia
  2. Arsip Nasional PB HMI