HMI Ushuluddin UIN Riau Selenggarakan Basic Training

HMINEWS.Com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) Cabang Pekanbaru menggelar basic training (Latihan Kader I). Kegiatan berlangsung di kantor HMI Cabang Pekanbaru, Jl Soekarno Hatta No 81, Pekanbaru-Riau.

LK 1 yang dilaksanakan oleh Komisariat Ushuluddin UIN Sultan Syarif Qasim Riau tersebut dimulai tanggal 27 hingga 29 September 2013. Acara dibuka secara langsung oleh Ketua Umum HMI MPO Cabang Pekanbaru, Mizan Mustofa.

Bertindak sebagai master of training (MOT) adalah Hafid Fahdani, mantan Ketua Cabang periode sebelumnya. Hafid berharap pentrainingan ini akan menghasilkan kader yang militan.

“Saya berharap kader-kader baru bisa menjadi kader yang berkualitas dan militan, berani mensyiarkan kebenaran demi terwujudnya tatanan masyarakat yang diridhai Allah, serta berjuang menegakkan amar ma’ruf nahi munkar di buni Melayu ini,” kata Hafid.

Ia juga mengimbau semua komisariat di lingkungan Cabang Pekanbaru mempersiapkan kepanitiaan basic training selanjutnya, sehingga proses perkaderan terus berjalan dan berkesinambungan.

“Karena HMI adalah organisasi perjuangan dan perkaederan, perkaderan adalah jantungnya HMI,” lanjut Hafid.

Training tersebut diikuti 11 peserta, namun di akhir acara tidak semua dinyatakan lulus, 8 peserta yang telah lulus training dan kemudian mengucapkan ikrar sebagai anggota baru.

Setelah Formatur HMI Wonosobo Terpilih

HMINEWS.Com – Setelah rangkaian acara Konferensi ke-18 HMI MPO Cabang Wonosobo selesai, acara ditutup secara resmi. Ketua Cabang demisioner dan formatur terpilih menyampaikan sambutannya pada dini hari yang dingin itu.

“Keberhasilan dari organisasi ini bersumber dari keyakinan bersama,” kata formatur terpilih HMI MPO Cabang Wonosobo, Ruliah, Senin (30/9/2013) pukul 02.30.

Ruliah berharap semua kader mempunyai keyakinan dan visi yang kuat dan semangat dalam mengemban amanah agar HMI Cabang Wonosobo dapat bertahan dan menerobos kebekuan zaman. Mahasiswi UNSIQ Wonosobo tersebut menerima amanah setelah lama didesak dan dibujuk oleh para utusan komisariat peserta konferensi cabang.

Sementara itu Ketua demisioner, Susan Widhianto menyampaikan agar kader-kader HMI MPO Wonosobo tidak lari dari tanggungjawab, termasuk apa yang mereka lakukan dengan memilih formatur yang baru tersebut.

“Teman-teman yang tadi memilih jangan meninggalkan, tetapi harus selalu mendampingi dan berjuang bersama, sehingga Cabang Wonosobo bisa selalu istiqamah dan eksis dalam perjuangannya,” ungkap Widhianto.

Semua berharap HMI MPO Wonosobo semakin ramai dan berkualitas. Dalam periode kepengurusan ini nantinya akan ada 3 bidang, yaitu Bidang Perkaderan, Kemuslimahan dan Studi Peradaban.

Basis HMI MPO Wonosobo berada di kampus UNSIQ (Universitas Sains Al Qur’an) yang mempunyai 9 fakultas, Tarbiyah, Ekonomi, Syariah, Komsospol, Teknik (Sipil dan Informatika), Ilmu Kesehatan (Akper dan Akbid), Sastra dan lainnya.

Sebelumnya mereka telah mengadakan masa perkenalan calon anggota (Maperca) untuk mahasiswa baru UNSIQ dan pekan depan akan digelar Latihan Kader 1 (basic training). Konferensi itu digelar di Gedung Tamzis Center milik Saat Suharto, alumni HMI pegiat keuangan mikro asli Wonosobo.

Muhammad Firdaus

Selamatkan Mutiara Negeri

Salam untuk semua anak bangsa Indonesia. Tulisan ini bermaksud mengangkat fenomena yang terjadi di dunia hiburan belakangan ini. Tahukah betapa penting mengkritisi dunia hiburan yang berkembang kini?

Generasi bangsa masa hadapan dibahasakan dengan mutiara negeri. Sayyidina Ali pernah mengatakan bahwa jiwa pemuda itu bagaikan ladang garapan, ladang ini seperti lahan subur yang apabila ditanam apapun ia akan cepat berkembang. Jiwa pemuda Indonesia juga diibaratkan dengan hal tersebut,  positif atau negatif yang diberikan pasti akan subur di jiwa pemuda.

Dunia hiburan semakin merajalela merusak mutiara-mutiara negeri. Anak berusia belasan tahun dibimbing mengikuti kebiasaan populer bangsa lain yang bertentangan dengan moralitas bangsa Indonesia.

Fenomena “girl band” syarat dengan membuka tubuh seorang wanita muda agar dapat disaksikan oleh penonton. Luar biasa efek yang terjadi, banyak lelaki yang menggandrungi penampilan seperti itu. Wanita dimanfaatkan oleh industri hiburan untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Apakah bedanya ini dengan perbudakan oleh penjahat kelamin?

Sedih sangat ketika menengok gadis belia tiga belas tahunan sudah dimasukkan dunia hiburan yang bermotif meraih keuntungan semata. Banyak contoh yang dapat ditemui dalam berbagai acara televisi yang populer belakangan selalu menampilkan wanita dengan baju minimalis atau super seksi.

Tragedi asusila sangat diharamkan oleh mayoritas rakyat Indonesia. Namun tindakan pembukaan tubuh wanita secara umum dalam dunia hiburan kiranya bersanding pula dengan perbuatan asusila. Berstatus manusia yang berpendidikan, berbudaya, mempunyai akal dan hati bagaimana seharusnya melihat konstelasi tersebut? Sesungguhnya pembiaran terhadap praktek eksploitasi wanita ke arah sensualitas inklusif adalah bentuk kezhaliman.

Wanita diciptakan untuk menjaga tiang perjuangan umat. Bila seorang wanita sudah rusak kehormatannya maka rusak pulalah tiang negara. Wanita bagaikan mutiara negeri sangat disanjung, dicintai, dilindungi kehormatannya agar tidak rusak. Hancurnya mutiara sehingga bagai tak bernilai akan menjadi hal yang sangat merugikan.

Di dalam Islam wanita sangat dihormati dan dilindungi. Bentuk penghormatan ialah dengan tidak menjadikannya barang dagangan untuk diperjualbelikan. Jelas kewajiban seorang wanita menurut ajaran Islam ialah menutup aurat agar fisiknya tidak dapat menjadi komoditas. Bentuk perlindungan ialah wanita tidak diwajibkan mencari nafkah, namun lelakilah yang wajib menafkahi. Bila kehidupan wanita tak berkecukupan maka negara wajib memenuhi kebutuhannya.

Pemuda-pemudi Indonesia adalah harapan bagi bangsa yang besar ini. Menengok kembali ungkapan Sayyidina Ali,  dapat diambil pelajaran bila kini banyak tindakan yang tidak tepat dari pemuda-pemudi tersebut seperti pembunuhan, pemerkosaan, tawuran adalah hasil bibit kejahatan yang ditanamkan orang tua, lingkungannya.

Emile Durkheim mengatakan kebiasaan yang lebih banyak diikuti dapat menutupi sebuah kebudayaan adiluhung. Bahkan Indonesia sebagai negara yang bermartabat bisa tergerus imoralitas. Sudah menjadi keharusan dalam melihat persoalan ini kaum cerdik dan masyarakat memperbaiki bangsa ini dengan menanamkan benih kebaikan pada jiwa pemuda-pemudi Indonesia, dan mari selamatkan mutiara negeri ini.

Allan Mustafa Umami

HMI KOORKOM UII

HMI Kader Umat dan Bangsa

HMINEWS.Com – Ada kecenderungan salah yang perlu dikoreksi sebelum merusak pergerakan dan menumbuhkan mental korup. Yaitu kecenderungan dalam merekrut mahasiswa dengan menunjukkan kebanggaan yang berlebih pada sosok atau tokoh-tokoh tertentu tanpa membedah pemikirannya.

Misalnya, upaya ‘menjual’ tokoh tertentu dan tawaran untuk menjadikan calon-calon anggota itu menjadi seperti si tokoh tersebut, tanpa membedah pemikiran dan “proses menjadi”-nya.

“Dari awal, korupsi dimulainya seperti itu, merasa lebih baik dari orang lain dan muncullah sikap sewenang-wenang, tidak punya awareness tentang keadilan,”  ungkap mantan Ketua Umum PB HMI MPO, Syahrul Efendi Dasopang dalam diskusi di PB HMI MPO di Jagakarsa, Jakarta Selatan, Ahad (29/9/2013) malam.

Merasa selalu lebih baik dari orang lain karena latar belakang kampus, organisasi dan latar belakang lainnya, kata Syahrul, adalah bibit dari sikap jumawa yang kemudian meremehkan orang lain. Karena merasa menjadi golongan elit dan tidak merasa tidak ada yang bisa mengawasi, maka mencullah perilaku yang korup.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, lanjut Syahrul, yang harus dilakukan adalah dengan mengajak mahasiswa bicara secara substansial. “Yang diapresisasi adalah pemikirannya, bukan melulu sosoknya.”

Syahrul mengakui, dalam perjalanannya HMI yang penuh dinamika, berbagai ijtihad diambil untuk kemajuan organisasi. Seperti ijtihad Nurcholis Madjid yang fenomenal pada zamannya. Namun, di antara ijtihad tersebut, walau banyak capaian besar, tetapi tetap ada yang patut dikoreksi.

“Cak Nur, dialah yang memisahkan HMI dari spektrum gugusan gerakan-gerakan Islam.  Tapi kemudian menjadi elitis, sehingga seolah tidak mempunyai tanggungjawab moral terhadap yang masih menderita,” lanjutnya.

Sikap elitis tersebut, misalnya, terlihat dari perilaku sebagian anggota atau bahkan kader yang petentang-petenteng karena membayangkan dirinya akan jadi pejabat, menteri dan sebagainya.

“Seperti itulah struktur massa borjuasi diciptakan, merasa seolah terpisah dan berdaya sendiri, terpisah dari massa rakyat,” tegasnya.

Alumni PTIQ tersebut menawarkan solusi, “Hidupkanlah gerakan keislaman itu menjadi gerakan kemanusiaan, bukan gerakan ‘sempalan,’ sebagaimana Islam lahir menjadi gerakan kemanusiaan. HMI harus menjadi mercusuar program kemanusiaan hari ini, memecahkan persoalan kemanusiaan dengan sumber yang diambil dari mata air Islam,” tandas Syahrul.

Majelis Daerah KAHMI Depok Dilantik

HMINEWS.Com – Jajaran Majelis Daerah Korps Alumni HMI (KAHMI) Kota Depok dilantik di Aula Balaikota Depok, Ahad (29/8/2013). Pengukuhan dilakukan oleh Ketua KAHMI Jaya, Zulfahmi Burhan.

Sebelum pelantikan, Mahfud MD menyampaikan orasi sebagaimana dijadwalkan panitia. Dalam orasinya, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi tersebut berpesan agar KAHMI makin rapi pergerakannya.

“Barisan KAHMI kedepan harus lebih rapi, bawa estafet perjuangan para pendahulu yang telah berjasa pada Republik ini mendirikan bangsa, dan memperjuangkan nilai-nilai maslahat bagi NKRI. Lalu berbicara soal demokrasi selama era reformasi, demokrasi kita berada di dalam kegelapan di tengah kesesatan. Noda terhadap demokrasi dimulai saat awal-awal reformasi,” kata Mahfud.

Mahfud mencontohkan saat awal reformasi, terdapat pemilihan di sebuah kabupaten di Yogyakarta. Ternyata calon yang lemah bisa menang karena mampu mengeluarkan sejumlah uang.

Kecurangan juga terjadi atau dilakukan oleh semua partai politik, tanpa kecuali. “Semua curang. Ada yang tidak curang di Banten, curangnya di Sulawesi Utara,” lanjutnya mencontohkan.

Namun, Mahfud mengakui pemilu sekarang telah lebih demokratis dibanding era Orde Baru, akan tetapi banyak terjadi transaksi besar, demokrasi transaksional. Demokrasi yang dicapai karena orang mampu membayar.

Selain Mahfud, Walikota Depok Nurmahmudi Ismail, Dewan Penasehat KAHMI Depok, Sayuti As Syathiri dan Dewan Pakar KAHMI Depok, Edi Budiono juga menyampaikan orasi.

Pembukaan acara tersebut dimeriahkan penampilan musik marawis oleh sejumlah santri, dan tilawah Al Qur’an yang sangat merdu oleh seorang qari internasional, Ustadz Mustofa.

KAHMI Depok merupakan yang terakhir di Indonesia melaksanakan Musda Ishlah, antara dua kubu KAHMI, Juli lalu. Terpilih sebagai Koordinator KAHMI Depok yaitu Hery Hermansyah.

HMI Wonosobo Sukses Menggelar Konfercab ke-18

berfoto seusai pemilihan formatur cabang

HMINEWS.Com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) Cabang Wonosobo – Jawa Tengah telah melaksanakan Konferensi XVIII. Dimulai dari Kamis (26/9) dan pada Senin (30/9/2013) dini hari telah memilih formatur.

Peserta Konferensi telah memilih formatur, yaitu Ruliah, yang mendapat dukungan 7 suara, sementara Agus Setiawan didukung 4 suara utusan. Keduanya sebenarnya tidak mau dipilih dengan alasan masing-masing dan merasa ada yang lebih tepat untuk mengemban amanah sebagai formatur (ketua umum cabang) nantinya. Namun utusan-utusan komisariat yang memilih mereka tetap mendesak hingga mereka mau menerima amanah tersebut.

Baik Ruliah maupun Agus sama-sama dari kampus Universitas Sains Al Qur’an (UNSIQ) Wonosobo.

Konferensi, kata Susan Widhianto, Ketua Umum Cabang Wonosobo yang telah demisioner, diagendakan selesai pada Sabtu (28/9), namun Senin dini hari formatur baru terpilih. Acara berlangsung di Gedung TAMZIS Training Center, Marongsari Kecamatan Kreteg, Wonosobo.

Pada pembukaan, Konferensi diisi dengan seminar tentang demokrasi dan menghadirkan Asma’ Ketua Panwaslu Wonosobo, Maya Rosida Wakil Bupati Wonosobo dan satu lagi namun berhalangan hadir, yaitu Puji Hartoyo Ketua Umum PB HMI MPO.

Agenda lain HMI di lingkungan Cabang Wonosobo, kata Susan Widhianto, seminggu setelah ini Komisariat Ulil Albab akan menyelenggarakan Latihan Kader 1 (Basic Training), dan Cabang Wonosobo juga akan mengadakan Bakti Sosial Hari Raya Idul Adha di Mangunrejo, Kalijajar mulai 14-20 Oktober, dengan sasaran ke tempat-tempat pengajian anak (TPA) dan melakukan pembinaan dan aktivitas sosial lainnya.

Abdul Wahid

HMI UII Sosialisasikan Keterbukaan Informasi Publik

HMINEWS.Com – Klinik Keterbukaan Informasi Publik Universitas Islam Indonesia (KIP UII) bersama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Hukum UII dan Klinik Advokasi Hak Asasi Manusia (KAHAM) UII melakukan aksi sosialisasi UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, Sabtu (28/9/2013).

Aksi ini bertepatan dengan peringatan Hari Hak Uuntuk Tahu Sedunia (Right to Know Day) yang pertama kali diperingati di Sofia, Bulgari pada 28 September 2002 secara internasional oleh para pembela hak akses atas informasi publik.

Dimulai pada pukul 08.30 WIB dari kantor KIP UII, Jl. Lawu, Kotabaru, masa aksi berjalan menuju Titik Nol Kilometer (0 KM) untuk mensosialisasikan UU KIP dengan orasi-orasi, pembacaan puisi, teatrikal, pembagian stiker, press release, dan penggalangan tanda tangan sebagai bentuk dukungan masyarakat Yogyakarta.

Direktur KIP UII, Anang Z mengatakan “Aksi ini digagas oleh Dosen Fakultas Hukum dan Komunikasi UII yang tergabung dalam KIP UII, mengingat masih kurangnya implementasi dari UU KIP. Hal ini disebabkan minimnya pengetahuan dan kesadaran baik bagi masyarakat maupun badan publik. Masih banyak masyarakat dan badan publik yang tidak tahu, sehingga UU KIP yang seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai pengawasan terhadap badan publik menjadi tidak maksimal,” ujarnya.

Harapannya dengan aksi ini masyarakat dan badan publik dapat tahu dan sadar atas haknya. Anang menambahkan bahwa UU KIP ini masih perlu perbaikan karena masih banyak kekurangan, namun demikian UU KIP yang sudah ada harus dimaksimalkan implementasinya.

Pada kesempatan lain Irsya Bachtiar selaku Koordinator Lapangan mengatakan “Aksi Yang diikuti oleh sekitar 50 orang ini merupakan Aksi Memperingati Hari Hak Untuk Tahu Sedunia dengan tujuan agar masyarakat dan badan publik tahu atas hak dan kewajibannya. Hak kita telah dijamin oleh UU No.14 Tahun 2008”.

Sebelum sampai titik nol masa aksi berhenti di beberapa titik, yaitu Tugu Jogja, Audiensi di Kantor Kedaulatan Rakyat dan Kepatihan Yogyakarta. Di Kepatihan Yogyakarta masa aksi disambut oleh Kabid HUMAS, Iswanto, yang mendukung aksi tersebut dan menerima Audiensi. Aksi berakhir pada pukul 15.10 WIB dan ditutup dengan do’a

Dolly Setiawan

 

Menjaga Ideologi, Menegaskan Keindonesiaan

HMINEWS.Com – Indonesia dibangun oleh para pendiri bangsa yang hidup secara totalitas untuk memperjuangkan ide mewujudkan Indonesia merdeka, berdaulat, adil dan makmur. Para founding fathers tersebut setiap malam sepanjang hari berfikir dan berjuang untuk tujuan itu, dan tidak dipungkiri mereka menjadi tokoh pemikir kelas dunia. Tetapi Indonesia sekarang dikuasai orang-orang kerdil yang hanya berorientasi mencari penghidupan, bagaimana menggerogoti APBN dan olah ini-olah itu.

Demikian disampaikan mantan Ketua Umum PB HMI MPO, Syahrud Efendi Dasopang dalam diskusi di PB HMI MPO, Jagakarsa – Jakarta Selatan, Ahad (29/9/2013) malam.

“Begitu mereka sudah tentukan tujuan hidup atau ideologinya, kemudian dijalani dan diperjuangkan secara total. Wajar mereka bisa memerdekakan bangsa sebesar ini, karena kepribadian mereka yang sangat kuat. Lihatlah cara hidup mereka yang totalitas itu. Tak heran mereka berkelas dunia, meski waktu itu mereka relatif masih sangat muda,” lanjut Syahrul.

Lanjut Syahrul, sistem Indonesia sekarang sudah berjalan, tidak sesulit zaman dahulu. “Jadi presiden sekarang tidak capek,” ujarnya.

Orang pada zaman itu sangat kental dengan ideologi, yang mungkin sekarang menjadi barang asing, karena sekarang hampir semua orang tertuju pada materi. Tapi pada waktu itu banyak orang berjuang atas nama ideologi. Indonesia dibangun di atas proyek gagasan (ide), tidak seperti mendirikan perusahaan; ada duit, tenaga kerja, pasar.

Memahami Indonesia dari Sudut Pandang Gagasan

Jika ingin memahami Indonesia melalui sudut pandang ide, setidaknya kita harus membaca dulu apa yang ditulis Sukarno “Islamisme, Marxisme dan Nasionalisme.” Sukarno memahami tiga gagasan inilah yang paling determinan membentuk dan melahirkan republik ini. Ia berinteraksi langsung dalam kancah itu.

Selain itu harus juga dibaca karya-karya pemikiran orisinil HOS Cokroaminoto, Natsir, Kartosuwiryo, Tan Malaka, Yamin, Hatta, Soepomo dan lain-lain. Semua pemikiran tersebut merefleksikan muara-muara ideologi yang inheren dalam kehidupan bangsa Indonesia. Membaca dan memahami bukan dalam konteks subversif, tetapi untuk memahami pergulatan ide dan menguatkan jatidiri ke-Indonesiaan kita.

“Saat ini kita kekurangan bacaan pertempuran tiga gagasan tersebut, apalagi kita selama puluhan tahun telah dicuci melalui kurikulum kita, kampus kita, sehingga ketika kita tanya apa itu marxisme, yang terbayang Gerwani menggorok orang, jika kita tanya apa itu Islamisme, yang terbayang hanya Natsir tanpa tahu seluk beluk pemikirannya, dan ketika ditanya apa itu nasionalisme, maka yang kita ingat hanya burung Garuda, selesai di situ,” ungkapnya prihatin.

Kepada para peserta diskusi, Syahrul berpesan, supaya tidak menjadi mahasiswa gagal, maka harus akrab dengan literatur tersebut. PKI saja, lanjutnya, punya ide untuk memajukan Indonesia, mereka ‘membayangkan’ Indonesia yang memayungi rakyat sehingga tidak perlu ada orang-orang terlantar, negara yang selalu hadir turun tangan menyelesaikan masalah dan kesenjangan.

Ke depan, anak-anak republik ini seharusnya bisa pintar menjadi leader di tingkat regional dan dunia, tetapi yang terjadi kini Indonesia malah hanya menjadi ‘pasar.’

“Hari ini orang sibuk dengan hal-hal yang material, kemarin orang tidak hanya memikirkan bahwa hidup hanya mengenai material, tetapi ada moral dan spirit lainnya,” tandas Syahrul.

8 Anggota Mapala UNAND Terseret Banjir, 6 Meninggal

Artica, salah satu anggota Mapala Unand yang meninggal (foto: @halimiglesias)

HMINEWS.Com – Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun, 8 anggota Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) Universitas Andalas (UNAND) Sumatera Barat terseret arus Sungai Padang Janiah, Batu Busuk -Padang saat survei diksar (pendidikan dasar), Sabtu (28/9/2013) sore.

Dari 8 orang tersebut, laporan terakhir menyebutkan, 6 orang meninggal dunia yaitu:
1. Elin Florita (ATR 233 MU)
2. Artika Caspela (ATR 236 MU)
3. Deni Linardo (MU 249 Bnr)
4. Veglan Rizki Ramadhan (ATR 228 MU) dan
5. Aidil Adi Warsa
6. Rezki Tega (MU 239 Bnr) yang ditemukan Ahad (29/9) pagi

Korban selamat: Ivo Nurdio Putra (MU 216 Knf.) dan Meta Rama Rita (MU 232 Wtn.).

Kronologis Kejadian

Kedelapan anggota Mapala Unand tersebut tengah surve diksar (pendidikan dasar)  untuk mencari jalan alternatif. Survey ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap bulan September, untuk persiapan kegiatan pendidikan dasar, dan bertujuan untuk mencari jalur alternatif, karena maklum jika musim hujan, daerah tersebut kerap dilanda banjir sejak 2 tahun lalu.

Sabtu (28/9) sekitar jam 18.00 aliran sungai mulai deras. Korban menunggu selang 1 jam. Mereka terdiri dari 8 orang, ketika air mulai surut, 6 orang diantara mereka mulai menyebrang, namun nahas, baru sejauh 1 meter menyebrang datang air bah dan menghanyutkan korban.

Menurut Ivo, salah seorang yang selamat, peristiwa itu terjadi saat mereka menyeberangi sungai Padang Janiah, usai melakukan survei. Saat menyeberang, air bah datang tiba tiba, enam orang yang berada di pinggir sungai, tersapu ketika hendak menyeberang.

Mari kita berdoa untuk seluruh korban dan keluarga mereka.

Jalur Pintas Belajar Membuat Film

belajar membuat film (foto: metfilmschool)

HMINEWS.Com – Untuk sampai pada kemampuan tingkat tinggi membuat film, bisa kuliah perfilman, dan itu paling tidak 4-5 tahun baru lulus. Adakah cara lain untuk mengejar ilmu tersebut secara lebih singkat bagi orang yang ingin membuat film tapi tidak pernah kuliah perfilman?

Berikut ini penuturan sutradara kawakan, Imam Tantowi dalam Workshop Pembuatan Film yang diadakan tim IMSA TV di kantor Perhimpunan KB PII di Jalan Daksa, Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Sabtu (28/9/2013) sore.

“Caranya ya kita belajar pada film. Kalau sekolah, lima tahun, dengan menonton film, kita bisa faham. Ditonton dan kemudian dibedah; didiskusikan, begitu dilakukan berulang-ulang. Kita pilih film yang bagus-bagus, dari situ kita belajar film yang bagus, cara bercerita film yang bagus itu bagaimana, lighting-nya seperti apa, pembagian job, angle dan dialog yang bagus,” ungkap Imam Tantowi.

Sutradara yang pernah menggarap berbagai film layar lebar termasuk film kolosal yang fenomenal di zamannya ‘Saur Sepuh’ tersebut mencontohkan, di antara film yang bagus untuk dibedah di antaranya film The Godfather yang sangat bagus hampir dalam segala sisinya; kekuatan dialognya, pencahayaannya, angle-nya, dan dramatisasinya. Selain itu ada juga film-film produksi negara Iran yang mampu mengangkat ide yang orisinal dari negeri tersebut.

Ia menuturkan, adegan tertentu perlu angle tertentu pula dan ada yang disebut dengan istilah karakter shoot. Misalnya adegan sedih atau orang menangis jangan diambil dari bawah, karena justru mengesankan sombong, tetapi lebih bagus dari atas karena akan lebih memberikan tekanan.

Selain itu kesan psikologis tiap adegan tidak boleh terbalik, seperti adegan melarikan diri harus dibuat menjauhi kamera, sedangkan scene kepulangan ke rumah harus diambil dari rumah dan yang menjelaskan bahwa tokoh yang diperankan tersebut sedang pulang ke rumah.

“Kalau diambil dari luar yang menjauh meskipun masuk rumah, itu namanya menuju rumah, tidak identik dengan kepulangan,” tandasnya.

Sutradara asal Tegal itu juga melanjutkan, untuk satu adegan bisa terjadi ada puluhan shoot, dan hal itu sudah biasa. “Jangan pernah berfikir satu adegan itu dengan satu shoot.”

Bagaimana Membuat Film Menarik?

Di hadapan para calon pemain film “Kerudung Cinta” yang akan dibuat para alumni Pelajar Islam Indonesia (PII) tersebut, Imam Tantowi tidak pelit berbagi ilmu penyutradaraannya. Alumni Brigade PII di tahun 60-an tersebut mengatakan, untuk membuat film yang baik dibutuhkan ide cerita yang menarik.

Dari ide yang menarik itulah yang juga biasanya akan menggerakkan produser untuk mau membiayai produksi film tersebut, seperti kisah film fiksi ilmiah ‘Armageddon’ yang begitu booming. Sebelum ditulis, penulis skenarionya hanya membuat dua kalimat yang diajukan kepada produser: “Ada sebuah asteroid sebesar Kota Texas yang jatuh dan sedang menuju bumi. Nasa memerintahkan agar menghancurkan asteroid tersebut.” Dua kalimat ini menggambarkan kekuatan ide cerita Armageddon yang membuat sang produser tertarik dan membiayai produksinya.

Ia meneruskan, ide cerita bisa berupa apa saja yang menarik, bisa kegelisahan dan kritik terhadap sesuatu dan ingin menyampaikan pesan tersebut secara menarik melalui film.

Misalnya, sebagaimana pernah ia buat, film “Sang Muballigh” yang bercerita tentang seorang da’i muda yang sangat potensial, yang oleh temannya akan diorbitkan menjadi da’i terkenal atau da’i selebritis dengan penghasilan tinggi. Sebelum menyanggupi permintaan teman yang mengaku siap menjadi manajer dan menjanjikan tarif puluhan juta apabila sudah terkenal tersebut, si da’i muda mendatangi kakeknya dan minta diajari cara berpidato yang memukau.

Oleh Engkongnya (karena ia Betawi, memanggil kakek dengan sebutan engkong) ia justru disuruh mengembalikan sebuah kitab fiqih kepunyaan teman pesantrennya dahulu. Si da’i muda mengantarkan kitab tersebut, namun titipan itu dijambret di pemukiman di lokasi pembuangan sampah.

Dalam upaya menemukan kembali kitab pinjaman tersebut, si pemuda melihat kondisi yang sangat timpang di masyarakat pembuangan sampah. Hingga akhirnya ia berda’wah di lingkungan tersebut dan menolak menjadi da’i selebritas.

Menurut pengakuan Imam Tantowi, yang ingin diangkat dari film tersebut adalah kritik terhadap da’i-da’i perkotaan yang hanya melayani ibu-ibu arisan, mengejar popularitas, dan melupakan orang-orang kumuh yang juga berhak atas pengajaran agama.

@fathur_bekasi