HMI MPO Cabang Depok Adakan Rekrutmen Terbuka

HMINEWS.Com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) Cabang Depok  mengadakan rekrutmen terbuka bagi mahasiswa Universitas Indonesia dan sekitarnya. Kali ini tema yang diusung dalam alur kaderisasi HMI-MPO Cabang Depok ini adalah “Mencipta Insan Intelektual Profetik.”

“Kegiatan ini ditujukan kepada mahasiswa agar senantiasa menjadi intelektual dalam rangka kebaikan dan mencegah kemunkaran,” kata Sekretaris Umum HMI MPO Cabang Depok, Dicki Abdul Ghaniy, Rabu (19/9/2013).

Para pendaftaran: kirimkan data diri ke email: hmi.mpo.depok@gmail.com kemudian melakukan konfirmasi melalui sms ke 085777943832 (Fery-Politik UI 2010-: Kabid Internal HMI MPO Cab Depok).

Format Data Diri: Nama, TTL, Alamat, No Telp, Email, FB/ TW, Pengalaman Organisasi.

Format Konfirmasi SMS: HMIUI_NAMA_JURUSAN_ANGKATAN

Skema Rekrutmen

No Tanggal Agenda Keterangan
1 15-30 September 2013 Registrasi Calon Anggota Muda Calon peserta mengirimkan data diri ke email hmi.mpo.depok@gmail.com dan mengkonfirmasi melalui sms ke Fery 085777943832
2 5 Oktober 2013 MAPERCA (masa perkenalan calon anggota) Seluruh calon anggota muda dikumpulkan dan diadakan gathering. Materi: pengenalan HMI, sosialisasi program, dan pendaftaran LK1.
3 11-13 Oktober 2013 Latihan Kader 1 (LK1) atau Basic Training Pelaksanaan metode rekrutmen untuk menjadi anggota HMI MPO Cabang Depok. LK1 diadakan selama 3 hari (Jumat-Minggu).

Penjelasan Tema

Andinata Fery selaku koordinator kegiatan ini juga menyampaikan agar mahasiswa kembali kepada tabiatnya sebagai intelektual. Intelektual versi Barat adalah kelompok orang yang merasa terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya, menangkap aspirasi mereka, merumuskannya dalam bahasa yang mudah dipahami setiap orang, menawarkan strategi dan alternatif pemecahan masalah. Dengan kata lain, intelektual adalah orang yang terlibat secara kritis dengan nilai, tujuan, dan cita-cita yang mengatasi kebutuhan-kebutuhan praktis.

Menurut Jalaluddin Rakhmat, intelektual lebih tepat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan cendekiawan. Orang yang terlibat dalam data dan gagasan analitis adalah ilmuwan; orang yang bergelut dalam penerapan praktis adalah teknokrat; orang yang berjuang untuk menyebarkan dan menegakkan gagasan normatif adalah moralis. Sedangkan cendekiawan adalah orang yang menggabungkan ketiganya. Cendekiawan muslim yaitu gabungan antara ilmuwan, teknokrat, moralis dan filosofis yang berlandas dan bertolak dari al-Qur’an dan Sunnah.

Kaitannya dengan peran-peran kenabian maka seorang cendekiawan atau intelektual memiliki nilai lebih yang bersifat transenden dan berdampak profan. Istilah yang tepat untuk intelektual profetik dalam al-Qur’an adalah Ulil Albab. Jalaluddin menerjemahkannya dengan istilah intelektual plus. Yakni plus ketakwaan, plus keimanan, dan plus nilai-nilai perjuangan yang menjadi kewajiban agama akan hal itu.

Ali Syari’ati memiliki istilah unik memaknai intelektual versi di atas, yaitu rausansfekr. Dia adalah pemikir tercerahkan. Ia bukanlah seorang pemikir yang merenung seorang diri di perpustakaan atau peneliti di laboratorium dengan tanpa kepedulian sosial untuk melakukan perubahan. Yang dimaksud dengan pemikir tercerahkan menurut Ali Syari’ati adalah pemikir yang sekaligus mencerahkan umatnya, membimbingnya untuk meretas sejarah dalam sebuah rangkaian.