Formatur LAPMI Baru Terbentuk

JOGJAKARTA, BULETINSIA.com-Musyawarah Nasional (MUNAS) Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) yang diselenggarakan di Kaliurang, Jogjakarta yang digelar selama 2 hari sejak Sabtu-Minggu (26-27) Oktober menghasilkan 3 nama mid formatur yang nantinya  akan nantinya diusulkan menjadi Kordinator Nasional (Kornas)/Direktur LAPMI periode 2013-2015.

 Ketiga nama mid formatur yang dihasilkan oleh forum Munas tersebut yakni sesuai dengan nomor urut mid formatur, nomor urut 1 Najamuddin Arfan, (HMI Cabang Makassar), Nomor urut 2 Bhima Yudhistira (HMI Cabang Sleman) dan Nomor urut 3 Faturahman (HMI Cabang Bekasi).

Sebelumnya, ke 2 kandidat yang lain, Najamuddin Arfan dan Bima Yudistira sepakat memberikan mandat Direktur LAPMI kembali dipegang oleh Faturahman. “Insya Allah kami akan me
ndorong beliau (Fatur) untuk kembali menduduki posisi sebagai direktur LAPMI 2013-2015),” kata Bima  ke kru BULETINSIA.com disela acara penutupan Munas LAPMI, di Hotel Kayu Manies, Kawasan Wisata Kaliurang, Jogja, Ahad (27/10/2013).

Senada dengan itu, Najamuddin Arfan memberikan alasan jika kedepannya Ia lebih memilih fokus untuk melakukan pengembangan dan proses kaderisasi di LAPMI Cabang Makassar.
“Masih banyak hal yang perlu kami benahi di LAPMI Cabang Makassar, apalagi sebelumnya LAPMI Cabang Makassar mengalami kevakuman,” katanya.

 Jika ke 2 kandidat tersebut menyatakan ketidaksiapannya menjadi Kornas/Direktur LAPMI masa kepengurusan 2013-2015, maka hampir dipastikan saudara Faturahman yang sebelumnya menjabat sebagai Kornas LAPMI 2011-2013 kembali akan memegang jabatan sebagai Direktur Kornas LAPMI 2013-2015.

“Saya secara pribadi mendorong mas Fathur untuk kembali memimpin, dan itu akan kami musyawarahkan dengan Pengurus Besar Himpunan Mahhasiswa Islam (PB HMI-MPO),”ujar Na
jamuddin.

Senada dengan itu,   Pengurus PB HMI saat dikofirmasi mengenai ketiga nama mid formatur tersebut mengatakan, nantinya usulan ketiga mid Formatur yang dihasilkan oleh Munas LAPMI akan diputuskan oleh Ketua PB HMI siapa yang akan menduduki posisi sebagai Direktur LAPMI selanjutnya.Namun, keputusan final tergantung pada keputusan Ketua Umum PB HMI, Puji Hartoyo A.


“Insya Allah akan ada musyawarah dengan mid formatur, sesuai dengan urutan usulan mid formatur, jika nomor urut 1 tidak siap, akan kami serahkan ke nomor 2, jika tidak siap amanah akan kami berikan ke nomor urut 3,” Jelas Puji. (Abr)

Diunduh dari: http://www.buletinsia.com/2013/10/fathurahman-hampir-pasti-kembali-pimpin.html

MENJADI INDONESIA (Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab 1934)

Oleh: Lukman Hakiem*

SEJAK berabad-abad, umat Islam bukan saja telah menyatu dengan sejarah bangsa bahkan dalam keadaan apa pun selalu tampil menjadi pelopor dan pembela bangsa. Peranan ulama dan zu’ama (pemimpin) dalam sejarah perjuangan bangsa kita, tidak mungkin diabaikan. Beberapa nama yang sudah sangat populer, dapat kita sebut: Teuku Umar, Cut Nyak Din, Imam Bonjol, Fatahillah, Diponegoro, Antasari, dan Hasanuddin.

Pada masa perjuangan politik sebelum Proklamasi Kemerdekaan yang dimulai dengan bangkitnya kesadaran sebagai umat yang bermartabat, ditandai dengan lahirnya Serikat Dagang Islam (SDI) pada 16 Oktober 1905, peran ulama dan zu’ama juga cukup signifikan. Sekadar menyebut beberapa nama: K.H. Ahmad Dahlan, K.H. Mas Mansur, K.H.M. Hasjim Asj’ari, K.H. Ahmad Sanusi, K.H. Abdul Halim, H. Samanhudi, H.O.S. Tjokroaminoto, H. Agus Salim, Dr. Soekiman Wirjosandjojo, dan Abikusno Tjokrosujoso.

Samanhudi dan kawan-kawan telah membangkitkan kesadaran umat sebagai pribumi yang ladang ekonominya dikuasai orang-orang asing. Tjokroaminoto dan Agus Salim membangkitkan kesadaran umat di bidang politik. Di bidang agama, pendidikan, dan sosial, kesadaran umat dibangkitkan oleh Ahmad Dahlan, Hasjim Asj’ari, Ajengan Sanusi, dan lain-lain.

Ketika kesadaran politik umat sudah makin meluas, dan sudah bangkit kesadaran berbangsa, pada 1925 para mahasiswa kita di Belanda mengganti nama organisasinya dari Indische Vereeniging menjadi Perhimpoenan Indonesia. Peristiwa ini jelas bukan sekadar pergantian nama, karena di dalamnya terkandung kesadaran dan arah yang lebih tegas dari perjuangan organisasi itu, yakni berbangsa Indonesia dan bernegara Indonesia merdeka. Dalam catatan sejarah yang saya ketahui, inilah untuk pertama kali nama Indonesia secara resmi dilekatkan pada nama suatu organisasi.

Sesudah peristiwa heroik pada 1925 itu, pada 1926 dalam kongresnya yang pertama nama Indonesia dilekatkan pada nama organisasi Indonesia Moeda. Nama Indonesia dikuatkan lagi dua tahun kemudian pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Kebetulan atau tidak, ketika Indische Vereeniging berubah nama menjadi Perhimpoenan Indonesia, ketua organisasi tersebut adalah Soekiman Wirjosandjojo yang sekembalinya di tanah air dikenal sebagai salah seorang tokoh Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII), Ketua Partai Islam Indonesia (PII), dan Ketua Umum pertama partai politik Islam legendaris Masjumi. Sampai Masjumi membubarkan diri pada 1960, Soekiman adalah Wakil Ketua Umum Masjumi.

Pada 1925 pula, Jong Islamieten Bond (JIB) membentuk badan kepanduan yang dengan tegas diberi nama Nationale Indonesisch Padvindery (Natipy). Bukan Nationale Islamitisch Padvindery seperti ditulis di beberapa buku sejarah.

SPIKA dan PAI

Dalam kaitan dengan peran ulama dan zu’ama ini, ada peristiwa yang cenderung dilupakan sejarah yakni Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab (SPIKA) di Semarang, 4 Oktober 1934, berbunyi sebagai berikut:

1. Tanah air peranakan Arab adalah Indonesia (sebelum itu mereka berkeyakinan tanah airnya adalah negeri-negeri Arab dan senantiasa berorientasi ke sana);

2. Karenanya mereka harus meninggalkan kehidupan menyendiri (isolasi);

3. Memenuhi kewajibannya terhadap tanah air dan bangsa Indonesia.

Dari prespektif hari ini, barangkali terasa aneh ada sumpah pemuda tetapi memakai embel-embel keturunan Arab. Akan tetapi, dari prespektif dekade-dekade awal abad XX, ketika di antara orang-orang Arab yang lahir di Hadramaut (wullaiti) dan orang-orang Arab keturunan Hadramaut yang lahir dan beribu Indonesia (muwallad), atau antara kaum sayyid dan bukan sayyid, antara kelompok al-Rabithah dan al-Irsyad, tidak pernah bisa bertemu, hidup ekslusif, dan tidak merasa sebagai bagian dari bangsa Indonesia, lahirnya SPIKA bukan saja terasa relevan, tetapi bahkan merupakan keniscayaan dalam proses pergerakan kebangsaan. Berdasarkan SPIKA itulah didirikan Partai Arab Indonesia (PAI).

Kedua peristiwa ini segera menimbulkan reaksi pro dan kontra. Pemerintah kolonial Belanda mengambil sikap waspada. Bagaimanapun, menurut strata hukum yang berlaku pada masa itu, orang Arab dikategorikan sebagai orang Timur Asing, dan karena itu derajatnya setingkat di bawah orang Belanda dan Eropa serta setingkat di atas orang pribumi yang secara merendahkan disebut inlander. SPIKA dan PAI telah memilih tempatnya di antara rakyat Indonesia asli. Pilihan SPIKA dan PAI untuk menjadi Indonesia menunjukkan aktivisnya adalah kelompok radikal, progresif revolusioner, dan siap menghadapi segala risiko. Jika sikap itu menular kepada yang lain, bisa diduga apa yang akan terjadi di ranah pergerakan kebangsaan.

Kaum pergerakan nasional yang merasa mendapat kawan, bersukacita dengan dicetuskannya SPIKA dan lahirnya PAI. Di tengah sikap keras pemerintah kolonial Belanda yang menangkapi dan men-Digul-kan para aktivis politik serta membubarkan partai politik berhaluan radikal, SPIKA dan PAI dianggap sebagai darah segar bagi pergerakan nasional.

Semua koran dan majalah milik kaum pergerakan nasional di seluruh tanah air, memberitakan dan mempropagandakan kelahiran SPIKA dan PAI sebagai gerakan yang sangat progresif. Tidak heran jika para tokoh pergerakan nasional dengan senang hati turut menggembleng kader-kader PAI, sehingga dalam waktu singkat PAI diterima menjadi anggota Gabungan Partai Politik Indonesia (GAPPI) karena PAI yang berasas Islam pada pasal II Anggaran Dasarnya, mengakui:

a. bahwa Indonesia tempat peranakan Arab lahir adalah tanah airnya, yang kepadanya mereka mempunyai kewajiban;

b. bahwa kepentingan mereka dan rakyat Indonesia yang mereka termasuk di dalamnya wajib diutamakan.

Pada pasal III, PAI merumuskan tujuan dan usahanya sebagai berikut:

1. Mendidik peranakan Arab supaya menjadi putra dan putri Indonesia yang berbakti kepada tanah air dan masyarakatnya.

2. Bekerja dan membantu segala daya upaya dalam lapangan politik, ekonomi, dan sosial, yang menuju keselamatan rakyat dan tanah air Indonesia.

Menolak Politik Golongan

PAI juga diterima menjadi anggota Majelis Islam ‘Ala Indonesia (MIAI) yang merupakan federasi dari semua partai dan perkumpulan Islam, karena PAI yang nasionalistis itu berasaskan Islam. Tidak banyak partai yang diterima sekaligus sebagai anggota GAPPI dan MIAI. Di antara yang sedikit itu adalah PAI. Inilah pengakuan bahwa warga keturunan Arab di Indonesia diterima dan diakui sebagai putera Indonesia.

Di masa pendudukan Jepang, seluruh partai politik, termasuk PAI dibubarkan. Dan ketika Indonesia merdeka, PAI tidak didirikan lagi. Jika di masa penjajahan, warga keturunan Arab merasa perlu menegaskan jati diri keindonesiaannya, di alam kemerdekaan pimpinan dan para anggota PAI menolak politik “kegolongan yang berdasarkan minoritas.”

Konsisten pada sikap tersebut, sejak awal kemerdekaan bekas pimpinan dan anggota PAI masuk ke dalam berbagai badan perjuangan dan partai politik menurut alirannya masing-masing. Mr. Hamid Algadri menjadi anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), dan AR. Baswedan menjadi Menteri Muda Penerangan.

Pada pemilihan umum 1955, banyak warga keturunan Arab yang terpilih menjadi anggota parlemen dan Konstituante. Ini berbeda sekali dengan kelompok warga keturunan dan minoritas lainnya yang menjadi anggota parlemen dan konstituante karena diangkat oleh pemerintah.

Alhasil, banyak kader PAI yang bukan saja menjadi anggota, bahkan menjadi ketua parlemen di daerah, seperti Ali Gathmier di Palembang, Saleh Sungkar di Lombok, dan Abdullah Salim Basalama di Jakarta. Di masa ketika warga keturunan Cina dipinggirkan dari panggung politik, warga keturunan Arab tetap eksis di posisi-posisi penting pemerintahan. Ali Alatas, Quraish dan Alwi Shihab, adalah beberapa nama yang masih tetap eksis hingga kini, di samping banyak nama yang lain.

Tulisan ini sekadar ingin mengingatkan, betapa tidak mudahnya menjadi Indonesia. Para pendahulu kita dengan caranya masing-masing telah meretas jalan ke arah Indonesia. Sebagai generasi yang datang kemudian, kita harus mencatat semua peristiwa di masa lalu yang telah mempermudah kita menjadi Indonesia, bukan malah melupakan atau bahkan mencoretnya dari buku sejarah.

Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab dan pembentukan Partai Arab Indonesia hanyalah contoh dari proses menjadi Indonesia yang tampak sederhana tetapi sesungguhnya tidak mudah itu. Peristiwa ini pun cenderung makin dilupakan oleh sejarah.

*Lukman Hakiem
Alumni HMI, kini Wakil Ketua Majelis Pakar DPP PPP

218 Mahasiswa Se-Indonesia KKN Kebangsaan di Bantaeng

KKN kebangsaan 2013 UNSYIAH & UNSRI kelompok 233 Teupin Batee (foto dari blognya Ernifa)

HMINEWS.Com – 218 mahasiswa dari 31 kampus di seluruh Indonesia akan mengikuti “KKN Kebangsaan 2013” yang akan dilaksanakan di Kabupaten Bantaeng. Dengan tema Nasionalisme dan Ketahanan Pangan, KKN Kebangsaan ini akan dilaksanakan di tiga kecamatan yakni Kecamatan Eremerasa, Pajukukang, dan Uluere.

Pada acara pembekalan umum kepada mahasiswa Indonesia yang akan mengikuti KKN Kebangsaan, Jumat (25/10/2013) di Aula RS Pendidikan UNHAS,  Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Republik Indonesia, Roy Suryo  menjadi salah satu pembicara di hadapan ratusan mahasiswa peserta KKN.

Roy Suryo dalam ceramahnya mengungkapkan, kegiatan KKN Kebangsaan ini mengingatkannya dengan peristiwa Sumpah Pemuda yang juga menyatukan pemuda dari seluruh Indonesia seperti Jong Java, Jong Sumatera, Jong Celebes Jong Kalimantaan, Jong Ambon dan ‘jong-jong’ lainnya.

“Dengan adanya kegiatan ini saya berharap kalian bisa mengaplikasikan bidang ilmu kalian untuk masyarakat,” ujar alumnus Ilmu Komunikasi UGM tersebut.

Roy Suryo juga berpesan kepada mahasiswa agar meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat dan menghindari perilaku mengabaikan bangsa. Selain itu, ia juga mengharapkan para mahasiswa menanamkan perilaku santun kepada masyarakat yang akan mereka temui di lokasi KKN.

Lebih jauh Roy Suryo memaparkan, KKN Kebangsaan ini  merupakan tradisi lama universitas yang digagas oleh empat perguruan tinggi yakni UNHAS, UGM, UNDALAS dan IPB. “Namun, KKN Kebangsaan ini menjadi berbeda karena menyatukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi,” ungkapnya.

[Buletinsia]

Seminar Kepemudaan HMI Semarang Bersama Anies Baswedan

HMINEWS.Com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Semarang akan mengelar acara Seminar Kepemudaan bersama Anies Baswedan dengan mengusung tema “Saatnya Pemuda Memimpin Indonesia; Membangun Idealisme dalam Menyongsong Masa Depan Bangsa.”

Dalam kegiatan ini, diagendakan yang akan hadir sebagai pembicara adalah Anies Baswedan, Ph.D., Ganjar Pranowo, S.H. (Gubernur Jawa Tengah), dan Drs. Warsito, S.U. (Pembantu Rektor 3 UNDIP).

Acara ini akan dilaksanakan pada hari Ahad 3 November 2013, pukul 08.00-12.30 Wib di Gedung LPPU UNDIP. Panitia juga menyediakan fasilitas seminar kit, sertifikat, doorprize menarik sekaligus info tentang program Indonesia Mengajar.

Untuk para pemuda dan mahasiswa di Semarang dan sekitarnya dapat menghubungi panitia dengan format pendaftaran: SEMDA_Nama_Universitas, kirim ke 085727285822 (Rina). Bagi peserta mahasiswa, kontribusi sebesar Rp 30.000 (2 orang Rp 50.000) dan umum Rp 50.000,.

Untuk keterangan lanjut bisa menghubungi nomor panitia atau datang ke sekretariat HMI Semarang di Jalan Wonosari Gang 1 Nomor 31A, Kalisari – Semarang.

 

Pemuda Menyongsong Perubahan Global

ilustrasi (foto desain oleh Aloysius Garry Iryawan, net)

Diskursus mengenai peran pemuda dalam proses transformasi sosial merupakan pembahasan yang tak bertepi dan tidak akan pernah ada habisnya. Dalam lintasan sejarah yang panjang, pemuda telah banyak mengukir sejarah peralihan peradaban dari tatanan sistem kehidupan yang satu menuju tatanan sistem kehidupan yang lain. Gairah perjuangan pemuda selalu hidup dan menghidupkan romantika perjuangan dan juga perubahan di segala penjuru dunia.

Pemuda lah yang menggagas perubahan, mendobrak kebuntuan, dan menemukan solusi atas tantangan negara bahkan dunia. Pemuda adalah mereka yang gagah, berani, kuat dan selalu terdepan dalam mengambil peran perjuangan, hingga Sayyidina Ali ra. pernah mengungkapkan bahwa, “Tidak dikatakan pemuda yang gagah berani orang yang membanggakan kebesaran leluhurnya, akan tetapi dikatakan pemuda yang gagah adalah pemuda yang berani mengatakan inilah saya.”

Sejarah juga telah mencatat dengan baik bagaimana peran pemuda di arena dakwah ketika generasi awal umat ini melakukan pergolakan pemikiran. Pemuda senantiasa menjadi tombak utama yang mendampingi Rasulullah SAW dalam menghadapi kerasnya badai penghalang dakwah. Ketika terjadi Bai’at Aqabah yang kedua, generasi Islam yang umurnya masih belia turut menyaksikan, mereka adalah Mu’adz bin Jabal yang usianya kala itu belum genap dua puluh tahun, abu al-Yassar Ka’b bin Amru Al-Anshari yang genap berusia dua puluh tahun. Demikian pula ketika terjadi perang Badar yang merupakan konfrontasi pertama antara umat Islam dan kaum kafir Quraisy dan Allah menyebutnya sebagai Yaumul Furqon. Generasi muda para sahabat yang turut serta dalam pertempuran itu diantaranya adalah Umair bin Abi Waqqas yang menemui syahid, Ali bin Abi Thalib, dan Ma’mar bin Hubaib. Begitu pula dengan Muhammad Al-Fatih dengan usianya yang baru 21 (dua puluh satu) tahun dia telah mampu memobilisasi dan memimpin pasukan untuk merealisasikan sebuah bisyarah dari Rasulullah SAW akan takluknya kota Konstantinopel.

Sosok perkasa seperti generasi awal Islam ini akan selau ada di sepanjang zaman dan senantiasa menghiasi dan mewarnai lembaran sejarah. Sebut saja Nelson Mandela dari Afrika Selatan juga memberikan sebuah catatan sejarah yang sangat mengagumkan. Tokoh anti-apartheid ini rela meninggalkan kehidupan normalnya dan lebih memilih untuk mewakafkan dirinya untuk bangsanya yang terjajah oleh orang kulit putih. Dan tentunya kita semua sama-sama mengenal Ir. Soekarno, seorang yang lebih memilih berkorban untuk Indonesia, bermimpi akan menjadi Presiden Indonesia, meski saat itu “Republik bernama Indonesia” belumlah lahir. Dan masih banyak tokoh-tokoh muda lainnya yang telah dan akan menjadi saksi lahirnya perubahan-perubahan besar yang menyertai suatu negara ataupun dunia.

Dengan modal semangat yang membara dalam jiwa yang dimiliki oleh para pemuda masa kini, bukan tidak mungkin kalau saat ini mereka pun akan bangkit mengukir prestasi mengambil tongkat estafet kepemimpinan abab 21. Ketertindasan di bawah rezim tirani sistem kapitalisme seharusnya menjadi spirit yang membangkitkan gelora dan semangat juang di kalangan pemuda, hingga mampu berdiri dan berteriak lantang serta memberontak untuk menggagas sebuah perubahan. Perubahan yang bukan hanya mengganti rezim yang satu dengan rezim yang lainnya, tetapi perubahan yang sifatnya revolusioner untuk menggagas negara yang paripurna yang mengganti rezim dan sistem sekaligus. Cukuplah romantika sejarah reformasi yang terjadi di bawah tetesan keringat pemuda-pemuda negeri ini yang kini tengah menuai kegagalan menjadi sejarah yang terkubur. Dan sudah saatnya para pemuda menghapus impiannya untuk berharap pada reformasi, karena harapan itu hanya sebatas fatamorgana belaka.

Kini saatnya telah tiba, pemuda harus mencari format baru arah perubahan menuju “Negara yang Ideal”. Format gerakan itu haruslah berupa gerakan massif yang berlandaskan pada sebuah ideologi. Tatkala sosialisme komunis tumbang dan kemungkinan untuk bangkit dari kuburnya semakin sirna serta kekuatan kapitalisme yang semakin rapuh akibat keserakahan yang merendahkan manusia pada taraf yang hina di bawah kehidupan hewani, maka Islamlah satu-satunya harapan untuk mewujudkan perubahan sejati.

Para pemuda harus tampil mengambil bagian dari arus perubahan ini, dan bangga menjadi pejuang Islam yang senantiasa bersuara lantang menyuarakan tegaknya kebenaran dan keadilan dengan segera. Semangat perjuangan dan pengorbanan yang dilandasi dengan sikap keistiqomahan harus selalu dipertahankan agar bisa meraih perubahan yang hakiki. Dan, perubahan yang hakiki hanya bisa diukir dengan perjuangan yang jelas dan terarah serta kebenaran metode perjuangannya tidak terbantahkan. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Muzakkir Mahmud
Mahasiswa UNTAD, Kader HMI MPO Palu

HMI FH UII Adakan Pelatihan Karya Tulis

HMINEWS.Com – Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia  (HMI FH UII ) mengadakan kegiatan Pelatihan Penulisan Karya Tulis, bertempat di Kampus Perjuangan FH UII, Ahad (27/10/2013).

Pelatihan ini diikuti 18 kader HMI Komisariat FH UII. Pemateri dalam Pelatihan ini diantaranya Dr.Ni’matul Huda SH.,M.Hum dan Zayanti Mandasari S.H.

Setelah materi tersebut, agenda dilanjutkan dengan presentasi oleh empat kelompok yang menyampaikan ide melalui tulisan dengan kasus pro kontra dilanjutkan kemudian diisi dengan forum tanya jawab. Pelatihan Penulisan Karya Tulis merupkan rangkaian kegiatan dari Public Speaking yang diselenggarakan sepekan sebelumya,  yang juga bertempat di kampus perjuangan FH UII dengan pemateri Agus Fadila Sandi S.H.

Adapun tema kegiatan Public Speaking dan Pelatihan Karya Tulis “ Meningkatkan Kualitas Kader dalam Berwacana: Penyampaian Gagagsan dengan Lisan dan Tulisan.”

Unit KAJIBANG yang merupakan penanggungjawab kegiatan Public Speaking dan Pelatihan Karya Tulis  melalui perwakilannya, Ahmad Alisy, mengatakan tujuan dua kegiatan ini adalah untuk mengembangkan kualitas kader dalam kemampuan Public Speaking dan karya tulis.

“Harapan dari kegiatan ini adalah kader tidak hanya pandai dalam menyampaikan gagasan namun juga dapat menuangkan dalam tulisan” kata Ahmad.

Adam Hervanda

 

Ali Jaka 4

“Kalau kita begini terus, aku pulang saja! Mana cukup belanja satu juta sebulan. Dapat apa uang segitu! Belanja harian saja sudah habis,” kata istri laki-laki muda itu. Anak-anak mereka sudah tidur. Laki-laki itu tertunduk. Dia sebetulnya tidak tahan harga dirinya dibanting begitu rupa. Habis mau nambah berapa lagi, gajinya juga Rp. 1,3 juta. Sementara istrinya tidak mau memahami keadaannya itu.

“Nih, ambil saja!” Tiba-tiba istrinya meletakkan uang 1 juta itu di hadapannya. Terbayang betapa susahnya dia mengumpulkan 1 juta rupiah itu dalam 25 hari kerja. Sebetulnya, jika tidak mempertimbangkan nasib anak-anaknya, sudah sejak lama dia berniat memulangkan perempuan itu ke orang tuanya. Namun terbayanglah di matanya bagaimana pilunya nasib buah hatinya, jika tumbuh dan dewasa tanpa belaian dua orang tuanya secara lengkap. Sementara istrinya, sama sekali tak memperhitungkan hal itu. Perempuan itu begitu ambisius dalam mengejar materi. Istrinya itu berhasrat sekali hidup layaknya kelas menengah, punya mobil, rumah yang besar, dan duit yang terus menerus tersedia.

“Aku besok sama anak-anak pulang saja. Aku tidak mau hidup miskin. Sudah 5 tahun kita lalui, hidup kok begini terus. Memang saya nggak bisa kaya tanpa kamu?” kata istrinya ketus.

“Ok. Silakan kau besok pulang.” Laki-laki malang itu tak mampu melanjutkan ucapannya. Luka hatinya sangat dalam. Dihina sebagai laki-laki dan ayah, disudutkan karena ketidakberdayaan secara ekonomi.

Dia tinggalkan perempuan berhati kasar itu. Dia pergi ke rumah temannya untuk meredakan luka hatinya. Kepingin sekali dia hendak menampar mulut istrinya yang lancung, tapi dia berusaha sadar diri jangan sampai tangannya menghantam pipi seorang perempuan. Dia tak sanggup lakukan perbuatan itu, karena dia ingat ibunya yang juga perempuan.

Malam itu dia benar-benar tidak dapat memejamkan mata. Bayangan-bayangan peristiwa selama 5 tahun hidup bersama, muncul silih berganti. Mulai dari pertama berjumpa dengan perempuan itu. Waktu itu tampaklah kesan baginya bahwa perempuan itu cocok sekali dengan impiannya. Ada kesan tegar dalam sorot mata perempuan tersebut. Dia pun berpikir, sekiranya hidup bersama, susah senang bukanlah sesuatu yang berat bagi perempuan tersebut. Demikianlah dia menduga-duga waktu itu.

Kemudian muncul pulalah bayangan saat mereka di pelaminan. Dirayakan demikian megahnya. Seluruh kerabat meramaikannya. Lantas lahirlah anak-anak mereka yang lucu. Setiap hari, sebelum berangkat ke kantor di Jakarta, senantiasa dia antarkan terlebih dahulu anak-anaknya ke TK. Tidak hanya itu, dia pun selalu memandikan anak-anaknya. Menghandukinya, memakaikan baju seragam TK, menyisiri rambut anak-anaknya, sampai mengantarkan dengan mobil tuanya ke TK anak-anaknya. Dia tidak pernah lupa bagaimana indahnya ketika kedua buah hatinya duduk melambaikan tangan kepada Ibu mereka dengan mengucapkan, “Daaa….Ibu. assalamu’alaikum!!”

Kini dia merasa adegan-adegan semacam itu di hari-harinya yang akan datang sudah tidak ada lagi. Perempuan yang telah melahirkan anak-anaknya yang manis itu, telah menghancurkan cerita dan menggantikannya dengan cerita lain: seorang ayah yang terhina dan dipaksa pisah dengan permata-permata hatinya.

“Om, kok belum tidur?” tegur Ali Jaka. Ali Jaka melihat lelaki itu menatap ke langit-langit kamar tidur bagaikan orang yang sedang menerawang.

“Nggak apa-apa,” jawab lelaki itu sembari menoleh ke Ali Jaka. “Ayahmu belum pulang, Li?” tanyanya balik.

“Belum, Om. Biasanya pulang jam satu malam.”

“Kok, gitu?”

“Ya. Lagi banyak kerjaan katanya.”

“Ohh.”

Tidak berapa lama kemudian, suara mobil menderu memasuki garasi rumah. Seorang laki-laki berusia 40 tahun, muncul dari balik pintu depan. “Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikum salam!”

“Hei, kompek. Datang kau rupanya. Sudah lama?” tanya laki-laki itu.

“Baru,” jawab laki-laki yang baru bertengkar dengan istrinya itu. Mereka berdua adalah kawan karib sejak sama-sama aktif pada sebuah kelompok mahasiswa. Kelompok mereka, 20 puluh tahun yang lalu merupakan kelompok yang paling menonjol melancarkan protes-protes kepada pemerintah dan perusahaan-perusahaan tambang.

Kini, masing-masing melakoni nasib dan hidupnya. Meski terpaut lima tahun antara mereka berdua, namun persahabatan mereka tidak terpisahkan oleh umur yang berjarak. Nasib saja yang berbeda. Konrad, ayah Ali Jaka, telah menikah sejak usia 20 tahun. Namun ketika melahirkan Ali Jaka, istri Konrad meninggal dunia akibat pendarahan hebat. Maklum, ketika itu, persalinan istrinya dilakukan di rumah seorang dukun kampung. Belum sempat diantar ke rumah sakit yang jaraknya puluhan kilo meter dari desa, istrinya telah menghembuskan nafas terakhir. Konrad sangat menyesal tidak sempat menolong nyawa istrinya. Yang dia syukuri, anak laki-laki yang dilahirkan istrinya, selamat dan kini sudah kuliah. Sejak itu dia tidak kunjung mencari pengganti istrinya.

“Man, kau tidurlah duluan. Besok pagi kita ngobrol,” pinta Konrad kepada sohibnya itu. Astaman yang mendengar saran Konrad, berjalan menuju kamar tidur. Kamar tidur itu, selalu menjadi tempatnya jika bermalam di rumah Konrad. Sedangkan Ali Jaka dan ayahnya, Konrad, sejak balita sudah tidur sekamar. Meskipun Ali Jaka telah dewasa, tetap saja dia tidak bisa pisah kamar dari ayahnya.

Astaman tetap tidak bisa memejamkan mata. Terbayang di matanya, kedua permata hatinya. Dia belum siap menjalani hidup seperti Konrad. Apalagi antara Konrad dengan dirinya berbeda. Konrad ditinggal mati istrinya. Sedangkan dia calon yang akan ditinggalkan hidup istrinya. Ah..hidup ini sangat memalukan jika cerai hanya gara-gara persoalan ekonomi. Tapi mau apa lagi. Itulah kenyataan yang sedang dia hadapi.

Selama ini dia tak pernah bayangkan, perceraian terjadi gara-gara ekonomi. Apalagi jika dia bandingkan dengan rumah tangga yang dibina oleh kedua orang tuanya yang jauh lebih susah dari rumah tangganya, tapi tak pernah dia mendengar pertengkaran meledak antara kedua orang tuanya. “Apa karena Ibu dan Ayahku tak mengecap perguruan tinggi yang mengajarkan sikap liberal?” batinnya. “Kurang sengsara apa, Ibu. Kadang kami harus makan nasi aking. Tapi nggak ada protes. Wajah Ibu tetap seteduh pohon beringin. Ibu…anakmu rindu memeluk wajah welas asihmu.”

Semalaman penuh dia mengenang perjalanan hidupnya. Mulai dari kecil hidup di pelosok Jawa. Kuliah di Bandung, lalu bertemu seorang gadis sekampus yang kemudian menjadi istrinya. Hingga kokok ayam bersahutan menandakan subuh telah datang, matanya tetap menyala. Jiwanya lelah. Dia mencoba menyegarkan pikirannya dengan menunaikan shalat Subuh. Setelah itu tetap saja dia tidak bisa tidur.

Pagi sudah menyapa. Mbok Sita telah menghidangkan sarapan di meja makan. Ali Jaka sudah siap dengan sendok dan garpunya. Demikian pun dengan Konrad, ayah Ali Jaka. Astaman dengan tenang melangkah untuk bergabung ke meja makan. Buah-buahan segar terdiri dari semangka, pepaya, rambutan, dan manggis telah dari tadi menunggu tangan-tangan yang siap menyantapnya.  Segelas susu coklat di hadapan masing-masing dari orang-orang yang mengitari meja itu telah tersedia. Nasi, gule asam ikan baung hasil tangkapan Konrad seminggu sebelumnya, mengepul di hadapan mereka. Udang goreng dan sambal goreng teri medan tidak kalah sedapnya merayu-rayu selera makan.

Sebetulnya mereka sedang makan siang apa sarapan? Begitu kira-kira dugaan heran orang Jakarta yang tidak mengenal gaya makan Konrad yang berasal dari Tapanuli. Bagi orang Tapanuli, pagi, siang, atau malam, jika makan, ya tetap makan dalam porsi besar. Semua waktu jika tiba saatnya makan, ya makan besar, selama bisa dipenuhi.

Ayah dan anak itu seperti beradu kuat menyantap hidangan. Tapi tidak dengan Astaman. “Hei, Man! Ada apa denganmu? Kenapa kau tak santap gule baung, tu? Biasanya kau yang duluan menyambarnya, jika ada gule baung,” tanya Konrad kepada sahabatnya, Astaman.

“Nggak apa-apa, Rad,” jawab Astaman singkat.

“Ada masalah apa, kau?”

“Ah, kau tak perlu tahu.”

“Woi! Sejak kapan pula aku tak perlu tahu dengan masalahmu, Man? Mana boleh.”

“Ah…sudahlah, Rad.”

Konrad memandangi sahabatnya itu dengan tajam. Dia dapat menangkap ada masalah serius yang membebani Astaman.

“Om, Ayah. Ali duluan, ya.” Tiba-tiba Ali Jaka menyela.

“Sepagi ini? Tumben kau ini,” jawab Ayahnya.

“Ya. Aku mau ada urusan dengan calon pembimbing skripsi.”

“Ya, sudah. Hati-hati ya, Nak.”

“Sip. Assalamu’alaikum!”

“Kum salam.”

Selepas Ali Jaka meninggalkan mereka, kembali Konrad bertanya kepada Astaman. “Man, cobalah kau cerita. Ada masalah apa rupanya, kawan?”

“Begini, Rad. Istriku memutuskan pulang ke orang tuanya. Sebetulnya dia sudah berkali-kali menguatarakan hal itu, tapi selalu dapat kuurungkan niatnya. Kalau ada masalah sedikit, selalu saja dia mengancam pulang. Selama ini memang aku sengaja merendahkan hati untuk menghalangi niatnya. Bagaimana pun aku lebih baik menanggung rasa sakit hati ketimbang melihat anak-anakku menghadapi kenyataan pahit berpisah dari ayahnya. Tapi tadi malam aku sudah panas, Rad. Dia betul-betul merendahkanku hanya karena uang pemberianku tak cukup bagi dia. Aku persilahkan saja dia pulang seperti keinginannya itu,” ujar Astaman panjang lebar.

“Jadi istrimu itu sudah pulang?” tanya Konrad bermaksud memastikan.

“Pulang atau tidak pulang, aku tak peduli.”

“Bagaimana dengan anak-anakmu?”

“Mereka ikut ibunya.”

“Kenapa tidak ikut kau saja?”

“Aku ini tak tega jika anak-anak nanti bertanya dimana Ibu mereka. Kalau aku, karena sering bepergian, anak-anak tidak terlalu heran jika aku tak ada. Mungkin nanti saatnya, anak-anak aku tarik ke sini.”

“Kau sudah yakin dengan keputusanmu itu?” tanya Konrad.

“Lagi pula aku sudah muak, Rad. Kayak aku tak bisa cari yang lebih baik dia pikir. Kupikir selama ini aku sangat setia, Rad. Persoalan kami hanya soal duit. Aku akui aku miskin, Rad, sehingga tak bisa memberinya uang berlebih. Tapi, tak pernah juga kami terancam kelaparan.”

Konrad dengan cepat menghubungi nomor istri Astaman. “Hallo! Asslamu’alaikum!”

“Wa’alaikum salam,” jawab istri Astaman. “Siapa ini?” sambungnya.

“Ada Astaman, Bu?” tanya Konrad berpura-pura.

“Nggak ada.”

“Saya Konrad, temannya Astaman. Ibu ada di rumah?”

“Nggak. Saya lagi menuju stasiun.”

“Emang, mau kemana, Bu?”

“Mau jalan-jalan sama anak. Pulang ke rumah neneknya.”

“Apa masih pulang lagi ke rumah di Bekasi?”

“Lho, kenapa tanya?”

“Nggak apa-apa kok, Bu. Soalnya saya ada proyek dengan Astaman. Tadi saya pikir Astaman ikut juga menyusul Ibu ke rumah neneknya.”

“Nggak. Dia tetap di Bekasi, kok. Saya dan anak-anak saja yang pulang.”

Astaman tidak menyangka jika Konrad sekonyong-konyong menghubungi istrinya. Timbul rasa ngilu jika mengingat sikap istrinya tadi malam. “Kau nggak usah bela-belain hubungi istriku, Rad. Sudah kubilang, mau pulang atau tidak, aku sudah biarkan. Yang penting, anak-anak aman dulu.”

“Aku turut prihatin, Man. Semoga jalan keluar tidak lama datang menghampirimu, kawan,” hibur Konrad.

“Terima kasih perhatianmu, Rad. Aku dalam waktu dekat ini, mengambil S2 ke Medan saja. Sekalian melupakan dia. Kebetulan telah lama aku menaruh minat studi antropologi terkait objek kajian Mandailing. Kudengar di Unimed ada seorang professor yang siap membimbing mahasiswa S2 dalam kajian budaya Mandailing.”

“Kenapa pula kau tertarik dengan objek studi semacam itu?”

“Rad, biar bagaimana pun, meskipun aku lahir di Jawa, ibuku juga Jawa, tapi kan ayahku Mandailing. Aku mau memahami akarku sendiri.”

Konrad pun sebetulnya menyimpan hasrat untuk melanjutkan studi. Namun karena kesibukannya sebagai pengusaha, hasrat itu dia tepiskan. Usahanya di bidang alat-alat kesehatan dan farmasi belum sepenuhnya mapan, tetapi keuntungan yang dia raih sudah lebih dari cukup untuk membiayai dirinya dan putranya, Ali Jaka.

“Aku mau membantumu, Man. Aku tahu problemmu adalah soal uang. Aku ini kawanmu. Kupikir tak ada salahnya kau sambil kuliah di Medan, menyambi pula sebagai prinsipalu untuk perusahaan. Bagaimana? Kau mau, Man?” tanya Ali Jaka.

“Kau serius, Rad?” tanya Astaman balik.

“Ah…kau kayak tak kenal aku saja. Kapan aku tak serius padamu, Man?”

“Baiklah. Aku terima usulmu.”

Akhirnya mendung yang menggelantung di raut wajah Astaman, perlahan-lahan sirna, berganti setitik demi setitik sinar cerah. Betapa tidak, dia tidak saja akan menggenapi hasratnya untuk S2 antropologi, tapi juga sekalian bisa cari duit lewat bisnis alat kesehatan di tempatnya nanti yang baru.

Kejujuran yang Makin Langka

Manusia adalah makhluk sosial sekaligus sebagai makhluk individu yang diberi kebebasan menentukan pilihan-pilihannya. Tatanan kehidupan manusia dengan sesamanya diatur dengan norma-norma. Hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain bisa indah jika ditopang dengan terciptanya interaksi sosial yang baik dan damai, dan salah-satu parameter untuk menilai tersebut adalah terbentuknya akhlak yang baik. Varian dari akhlak yang coba akan kita bahas disini adalah sifat jujur.

Jujur adalah salah-satu sifat baik dan terpuji yang diajarkan oleh agama kepada kita. Sifat ini adalah salah-satu sifat mulia Nabi Muhammad SAW, yang oleh kaumnya, beliau dijuluki dengan gelar kehormatan Al-Amin (Orang yang terpercaya). Gelar ini pun di kemudian hari membawa Nabi Muhammad manjadi seorang pemimpin spiritual, negarawan, mengeluarkan kaumnya dan ummat manusia dari lembah kehinaan menuju pribadi-pribadi mulia.

Jujur dalam setiap tindakan manusia adalah sifat yang harusnya menjadi salah-satu sifat kita. Sebab agama telah menggaransi bahwa manusia yang memiliki sifat ini dekat dengan kemuliaan, dekat dengan kebaikan dan alam pun senang kepadanya. Sebagaimana mulianya Nabi Muhammad di tengah-tengah kaum dan Tuhannya. Dalam kehidupan keseharian kita di masyarakat, sifat ini sangat dibutuhkan untuk membangun tatanan masyarakat yang damai, tatanan pemerintahan yang sehat, dan bahkan membangun peradaban yang bersih dari kebohongan yang saat ini banyak kita lihat bermunculan oknum-oknum yang banyak membual di mata publik.

Dalam berbagai kesempatan, Nabi Muhammad di mata para sahabat banyak memberikan perhatian khusus kepada ummatnya, khususnya mengenai kejujuran ini. Kini kejujuran sudah mengalami banyak degradasi. Harusnya setiap pribadi menjadikan sifat ini sebagai sifat utama menjadi manusia-manusia terpuji dan harapan kita semua.

Reduksi sifat jujur ini terbukti banyak membawa petaka. Orang yang berlaku jujur dimarginalkan sebagai manusia yang tidak bisa diajak kompromi. Orang yang ingin berlaku jujur disingkirkan dari jabatan strategisnya, padahal dia memiliki kemampuan yang dibutuhkan. Orang yang belaku jujur dicap manusia sok suci. Maka orang-orang berpendidikan tinggi sekarang banyak melakukan kebohongan publik. Sifat jujur tidak menginspirasi diri dan dalam kerja-kerja kita.

Namun begitu, di zaman ini orang-orang jujur masih tetap ada, natural dan tetap mendapatkan tempat, karena memang pada dasarnya semua manusia suka dan menginginkan kejujuran, sebagai fitrahnya. Kita memang butuh orang yang cerdas secara intelektual, tetapi yang paling penting kita butuhkan juga adalah orang yang cerdas secara moral/akhlak, dan salah satu variannya adalah JUJUR.

Sadli Naharuddin
HMI MPO Palu

Batra Istimewa HMI STKIP Muhammadiyah Bogor

HMINEWS.Com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) Komisariat STKIP Muhammadiyah Bogor mengadakan Latihan Kader 1 (basic training) di Gedung Pusat Training Pemuda Islam, Parung- Bogor. LK1 dimulai hari Jum’at (18/10/2013) malam, dibuka oleh Ketua Cabang Bogor, TB Sandi Irawan.

LK kali ini istimewa karena peserta ada yang berasal dari Komisariat Persiapan STAI Al Karimiah dan mahasiswa STIE Cirebon yang rencananya akan dibentuk Cabang Persiapan Cirebon, hasil eskpansi Cabang Bogor.

“Ini kali kedua kedatangan kader HMI-MPO Cabang persiapan dari STIE Cirebon Jawa barat. Yang kedua, ekspansi komiariat di HMI-MPO Cabang Bogor kian berjalan, hari ini langsung 15 kader dari kampus Akademik Kimia Analisis (AKA) Bogor, serta 2 Kader  dari STAI Al-Karimiah,” kata Sekretaris Umum HMI MPO Bogor, Aep Permana.

Menurut Ketua Panitia LKI HMI-MPO Komisariat STKIP Muhammadiyah Bogor, Yunita, seluruh peserta berasal dari STKIP Muhammadiyah Bogor, STAI Al Karimiah, UIKA Bogor, UNPAK Bogor, UNIDA Bogor, AKA Bogor, UI Depok dan STIE Cirebon. “Jumlah semuanya 26 orang,” ucapnya.

Ketua HMI-MPO Komisariat STKIP Muhammadiyah Bogor, Ana Mulyana berharap regenerasi kepengurusan dan perjuangan HMI-MPO di Bogor pada berjalan baik, khususnya di komisariat yang dipimpinnya.

“Selain itu, reposisi gerakan komisariat  harus sesuai dengan yang termaktub dalam pedoman perkaderan HMI, sehingga upaya ini akan menginternalisasikan nilai-nilai Islam dari yang paling dasar sebagai basic kedirian yang mampu menjadi benteng di hari esok dalam kemenjadiannya,” kata Ana.

 

Biaya Antisipasi Banjir Aceh Layak Pakai Dana APBN

HMINEWS.Com, Lhoksukon – Meluapnya sungai Krueng Kruetoe dan Pirak akibat hujan deras di Bener Meriah menyebabkan 111 desa di empat kecamatan terendam banjir sejak Jumat (18/10/2013). Banjir tahunan ini membuat masyarakat di kecamatan Pirak Timu, Paya Bakong, Matang Kuli, dan Tanah Luas sangat kelimpungan.

Banjir karena meluapnya sungai Krueng Kruetoe dan Pirak sebenarnya adalah banjir yang telah sejak lama terjadi. Selalu berulang tanpa penanganan yang tuntas dan permanen. Kedua sungai itu hanya berada pada radius 1-2 kilometer dari lapangan gas Arun milik ExxonMobil, yang sangat dekat dengan Point A.

“Dulu debit air banjir hanya menggangu lalu lintas jalan raya. Namun karena penanganan yang parsial sekarang banjir itu telah menyebar ke daerah yang lain, yang menggangu lokasi pemukiman dan pertanian warga,” sebut Teuku Kamaruzzaman, mantan Sekretaris Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh – Nias dalam rilisnya.

Menurutnya, untuk penanganan sungai Kruetoe dan Pirak ini perlu studi dan penanganan yang  serius dan menyeluruh. Sehingga hal yang sama tidak terus berulang di masa depan.

“Dinas Pengairan Aceh bersama Balai Pengairan dari Departemen PU perlu segera mencari solusi permanen terhadap situasi ini,” jelas mantan pejuang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang akrab dipanggil Ampon Man ini.

Selaku orang yang punya pengalaman menangani bencana tsunami, Ampon Man menyarankan agar Pemerintah memikirkan solusi integratif penanangan kedua sungai ini. Menurutnya perlu digabungkan antara solusi pembangunan DAM di hulu, pelebaran penanganan daerah aliran sungai (DAS), dan pembangunan tanggul penahan banjir.

Contoh penanganan banjir sungai Krueng Aceh di Aceh Besar dan Banda Aceh yang sukses dimasa Gubernur Syamsuddin Mahmud dapat ditiru oleh Bupati Muhammad Thaib dan Gubernur Zaini Abdullah.

“Walau penanganan ini akan memakan waktu dan biaya yang cukup signifikan. Ini sebuah kondisi ironis, yang cukup pantas untuk diperjuangkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten maupun Provinsi Aceh ke Pemerintah Pusat. Sumber dana APBN di Kementerian PU layak dialokasikan untuk penanganan banjir ini,” tambah Ampon Man.

Menurutnya, minyak dan gas di perut bumi Lhoksukon ini telah menghasilkan devisa negara sampai ratusan trilyun rupiah sejak tahun 1970-an. “Hasil gas alam Arun harusnya mampu mendanai penanganan banjir dari luapan dua sungai di sekitar kilang ExxonMobil ini. Harapan kita, bencana yang menyedihkan ini tidak berulang kembali dimasa depan,” tutup Ampon Man.