GPII Dukung Netralitas dan Independsni KPU-Bawaslu

gpii.HMINEWS.Com – Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) menyerukan para pendukung dua pasang capres-cawapres tidak melakukan tindakan provokatif terhadap rakyat. Solus populi suprema lex esto, keselamatan rakyat itu adalah hukum tertinggi suatu negara.

GPII menyatakan, situasi pasca Pilpres 09 Juli membuat banyak masyarakat khawatir terhadap kinerja KPU menjadi terganggu oleh tindakan para pendukung capres-cawapres.

“Sebagaimana yang telah menjadi kesepakatan bersama bahwa pengumuman secara resmi oleh KPU dilaksanakan hingga tanggal 22 Juli 2014, maka kepada para kandidat beserta pendukungnya untuk dapat menghormati atas kesepakatan bersama penyelanggaraan pemilu yang aman, jujur, adil dan damai sebagaimana yang tertuang dalam Deklarasi Bersama pada tanggal 3 Juni 2014 di Jakarta,” Koordinator Lapangan GPII hasil muktamar bersama GPI-GPII di Medan, Khaerudin Lumaluntur di Jakarta, Senin (14/7/2014).

Dengan alasan itu, GPII menyerukan penguatan netralitas KPU, BAWASLU, dalam proses rekapitulasi penghitungan suara sebagai bagian dari tahapan pemilu dalam menghasilkan keputusannya, meminta TNI /POLRI dan aparat lainnya untuk tetap netral/tidak berpihak, serta menindak tegas setiap upaya tindakan yang mengarah kepada provokasi yang berpotensi terganggunya kehidupan masyarakat.

Gerakan yang berpusat di Menteng tersebut juga mengimbau masyarakat bersikap tenang dan tetap menjaga persatuan serta menjaga suasana damai yang harmoni.

WALHI Aceh Apresiasi Putusan Tindak Pidana Kejahatan Perkebunan

unnamedHMINEWS.Com – WALHI Aceh mengapresiasi putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Meulaboh terhadap perkara pidana PT Kalista Alam, memutuskan 8 bulan penjara dan denda 150 juta serta subsider 3 bulan.

Dalam Perkara pidananya,  PT Kalista Alam dihukum melakukan tindak pidana perkebunan berupa pembukaan lahan dengan cara membakar dan tidak punya izin usaha perkebunan budidaya untuk membuka lahan perkebunan. Hal itu diduga telah mengakibatkan kerugian besar terhadap pengelolaan sumber daya alam di Aceh. Kerugian bukan hanya materiil tetapi kerugian lingkungan (ekologis) yang dampaknya luar biasa kepada kehidupan berikutnya.

“Hal ini berkaitan dengan gugatan WALHI Aceh terhadap pencabutan izin usaha perkebunan budidaya yang sudah dikuatkan Mahkamah Agung sehingga pemerintah daerah mengambil alih lahan seluas 1.605 Hektar yang berlokasi di Desa Pulo Kruet Kecamatan Darul Makmur Kabupaten nagan Raya dijadikan sebagai Kawasan Konservasi” papar Walhi Aceh dalam rilisnya (15/7/2014).

WALHI Aceh juga mendukung pengelolaan lahan tersebut diserahkan kepada pemerintah Kabupaten Nagan Raya. Sekaligus ini juga menguatkan putusan perdata tentang ganti rugi yang diajukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup yang mana sebelumnya PT. Kalista Alam juga diputus bersalah oleh PN Meulaboh dan diwajibkan membayar ganti rugi  sebesar 366 milliar karena terbukti bersalah melakukan pembakaran lahan gambut rawa tripa yang masuk dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Kebakaran lahan tersebut mengakibatkan gas yang dikeluarkan saat terjadinya pembakaran melewati nilai ambang batas sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan.

Menjahit Kembali Merah Putih Kita

supporter
Merah Putih Bersatu (ilustrasi supporter sepakbola Indonesia)

HMINEWS.Com – Pasca Pilpres 9 Juli 2014, setelah setelah dua calon presiden mengklaim kemenangannya masing-masing, kita menghadapi masa ketidakpastian panjang. Problem ini memunculkan berbagai spekulasi munculnya kekerasan, konflik, hingga melambatnya investasi dan laju ekonomi. Selain itu, Pilpres 2014 ini juga mengubah peta struktur sosial masyarakat kita menjadi dua (oposisi biner). Sangat jelas, konsekuensinya adalah kedaulatan politik dan negara yang plural ini.

Berdasarkan pada konteks tersebut, Pusat Studi Sosial Politik Indonesia (Puspol Indonesia) mengadakan studi kualitatif mengenai Diskursus Pilpres 2014, dengan metode “Discourse Analysis.” Menganalisis lima aspek utama, yaitu: (1) Debat dan emosi publik; (2) Kampanye hitam dan negatif; (3) Collective action dan orientasi politik; (4)  Intervensi asing; dan (5) pembelahan masyarakat.

Merah – Putih yang Terbagi: Diskursus Pilpres 2014

Debat dan Emosi Publik:

  Sebelum Pilpres 9 Juli   Sesudah Pilpres 9 Juli  Dampak
  • Penuh harapan terhadap visi, misi, dan program kerja Capres-Cawapres
  • Terkonsentrasi dan tersubyektivikasi oleh substansi yang dibawakan oleh  Capres –Cawapres
  • Hasil debat didrive untuk mendulang suara, dan  menskoringkan hasil debat di sosial media menjadi trending topic
  • Pangung debat hadir di mana-mana, dan masyarakat terkelompokkan menjadi dua
  • Pembenaran terhadap visi, misi, dan program kerja Capres-Cawapres
  • Personifikasi Capres-Cawapres
  • Saling klaim kemenangan versi debat, berpengaruh kepada versi survey. Di sini, hasil debat dijadikan propaganda kemenangan
  • Panggung politik diarahkan secara berlawanan, saling serang, hingga pembunuhan karakter yang tentunya tidak elegan bila ditinjau dari etika politik kita
Terciptanya masyarakat tontonan – spectacle society,

Kampanye Hitam dan Negatif

  Sebelum Pilpres 9 Juli   Sesudah Pilpres 9 Juli  Dampak
  • Catatan Politica Wave selama Mei-Juni 2014, terdapat 458.678 kampanye hitam.
  • Jokowi-JK merupakan pasangan  yang paling banyak diserang oleh kampanye hitam, dengan persentase 74,5% serangan kampanye hitam dan 25,5% kampanye negatif.
  • Prabowo-Hatta lebih banyak mendapat kampanye negatif, sebesar 83,5% dibandingkan kampanye hitam sebesar 16,5%.
  • Hasil observasi pasca pilpres kampanye hitam dan negatif, lebih banyak menyerang Prabowo-Hatta. Di mana isu yang berkembang, bahwa kubu Prabowo-Hatta tidak siap kalah dan akan melakukan kekerasan.
  • Deklarasi pemenangan yang terlalu dini, sebelum data mencapai 100%, oleh Kubu Jokowi – Jusuf Kalla, menjadi tending topic negatif untuk pasangan tersebut. Jokowi – JK dinilai terlalu prematur mendeklarasikan kemenangan
Politik kehilangan kesantunan – Senjakala Demokrasi adalah katastrofi bagi perkembangan demokrasi kita

Collective Action dan Orientasi Politik

  Sebelum Pilpres 9 Juli   Sesudah Pilpres 9 Juli  Dampak
  • Legitimasi lembaga survey, sehingga memicu lahirnya berbagai lembaga survey. Yang terdaftar di KPU 50 Lembaga Survei
  • Legitimasi KPU
  • Delegitimasi lembaga survey
  • Delegitimasi KPU
  • Proyeksi dan Potensi Politisasi MK
Munculnya berbagai gerakan sosial di tingkat grasroot, yang dapat memicu ketidakstabilan keamanan, pertikaian, dan konflik

Intervensi Asing

Sebelum Pilpres 9 Juli Sesudah Pilpres 9 Juli
  • Pemberitaan media asing yang tidak berimbang.
  • Isu gelontoran dana asing dalam Pilpres
Massifnya pemberitaan media asing menyudutkan pasangan Prabowo-Hatta.Pertanyaan-pertanyaan yang diarahkan oleh para Jurnalis Asing kepada Prabowo mengarah pada “bila anda kalah”

Spekulasi kedatangan Bill Clinton, 22 Juli 2014

Bagi Kubu Jokowi-JK isu intervensi asing menjadi senjata politik baru dalam pilpres ini. Tim Kampanye Jokowi-JK merasa aneh dengan tuduhan sejumlah pihak yang mengeksploitasi intervensi asing di ajang Pilpres 2014.

Melucuti kedaulatan NKRI

Pembelahan Masyarakat

Sebelum Pilpres 9 Juli Sesudah Pilpres 9 Juli
  • Bersifat laten dan parsial
  • Optimisme untuk menyatu kembali
  • Berbeda, tapi kedua-duanya adalah putra-putri terbaik bangsa.

 

  • Bersifat manifest dan massif. Pada level grasroot, misalnya: pembelahan pada keluarga menyebabkan perceraian. Level komunitas: perselisihan antar kelompok.
  • Pesimisme masyarakat, berujung pada keresahan sosial, yang sudah menggejala dibeberapa tempat
  • Beberapa pernyataan elite yang mempertegang situasi. (1) Burhanudin “KPU keliru kalau tidak menetakan Jokowi sebagai pemenang Pilpres”; (2) Fadli Zon “Tak ada scenario kalah”; (3) Panglima TNI dan Kapolri mengatakan “Siaga 1”.

Menjahit Kembali Merah – Putih Kita

Perlu waktu yang tak sedikit untuk mengembalikan “pembelahan masyarakat” ini kepada bentuk struktur semula pasca Pilpres 2014. Untuk itu, perlu dilakukan Rekonsiliasi, Reorientasi Sistem Kaderisasi dan Pendidikan Politik, Spirit Kebangsaan, dan Spirit Kedaulatan.

Rekonsiliasi dan pencegahan konflik pasca Pilpres mutlak diperlukan antara dua kubu kontestan. Pilpres 2014 yang hanya menyajikan dua pasang calon, dalam banyak hal mencerminkan kegagalan elite politik melahirkan generasi pemimpin bangsa. Untuk itu, perlu reorientasi sistem kaderisasi dan pendidikan politik di masa mendatang.

Menumbuhkembalikan Spirit Kebangsaaan dengan mengedepankan semangat spiritualitas, toleransi, saling menghargai, bersatu, dan adil yang bertumpu kepada ideologi berbangsa dan bernegara, yaitu Pancasila.

Point penting dari ajang Pilpres ini adalah “kedaulatan bangsa”, di mana ke depan tujuan dan tantangan bernegara akan teramat besar, siapapun yang akan menjadi presiden kita nanti, diperlukan komitmennya untuk menjaga kedaulatan NKRI.

Demikian studi kualitatif Puspol Indonesia yang diketuai Ubedillah Badrun (Direktur) dan Ketua Litbang Ahmad Tarmiji A.

Jika Belajar dari Sejarah, Indonesia Berpeluang Besar Damaikan Palestina-Israel

Panglima Pasukan PBB, Rais Abin asal Indonesia. Insert: Buku Catatan Rais Abin, ditulis oleh Dasman Djamaluddin
Catatan Rais Abin

Jalur Gaza diserang Israel. Korban yang jatuh melebihi 100 jiwa terdiri dari warga sipil, anak-anak, perempuan dan orang tua. Dunia marah, mengecam dan memaki-maki Israel. Tetapi Israel tidak gentar dan terus melanjutkan pemboman. Bagi warga kita yang masih muda-muda sudah tentu pemboman seperti ini sangat kejam. Tetapi bagi warga seusia saya, pembantaian warga sipil ini sudah sering dilakukan Israel. Tetap saja Israel tidak pernah dihukum oleh dunia internasional, karena Amerika Serikat selalu membantu jika sudah dilakukan di sidang di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan menggunakan hak vetonya.

Indonesia sebagai negara yang sangat dekat sekali berhubungan dengan negara-negara Arab ikut mengecam. Presiden RI dan Menteri Luar Negerinya sama-sama mengecam dan meminta agar serangan itu dihentikan karena sudah melanggar kemanusiaan. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan sudah menelpon salah satu negara di Timur Tengah dengan mengemukakan konsep-konsepnya. Menteri Luar Negeri RI juga berusaha semaksimal mungkin menekan Israel agar menghentikan serangan-serangannya ke Jalur Gaza melalui dunia diplomasi.

Masyarakat Indonesia tidak ketinggalan dan menunjukkan solidaritasnya dengan berdemo. Suatu ungkapan kemarahan yang tidak bisa dibendung di depan Kedutaan Besar AS, karena faktanya memang Amerika Serikat merupakan pendukung utama negara Yahudi tersebut. Seandainya ada Kedutaan Besar Israel di Jakarta sudah tentu menjadi sasaran kemarahan mereka. Tetapi sejauh ini Indonesia tidak mengakui keberadaan negara Israel dan tidak menjalin hubungan diplomatik untuk menjaga perasaan negara-negara Arab lain, terutama Palestina yang terus memperjuangkan hak-haknya untuk merdeka penuh baik secara de facto maupun de jure.

Memang Palestina pernah menyatakan kemerdekaannya dan memiliki Duta Besar di berbagai negara, termasuk di Jakarta. Tetapi hal itu masih sebatas de facto dan belum diakui secara de jure. Bahkan banyak di antara negara-negara pemenang Perang Dunia II, terutama Amerika Serikat belum mengakuinya secara de jure. Singkatnya Dunia Internasional masih terbelah mensikapi kemerdekaan Palestina tersebut.

Akan halnya Indonesia, sudah tentu sikap mendukung perjuangan Palestina selalu diungkapkan di berbagai forum internasional. Indonesia bersama negara-negara Arab lainnya berpendapat, kemerdekaan Israel tahun 1948 tidak sah karena tidak adil. Kemerdekaan Israel itu dinyatakan di tanah Palestina sendiri di mana negara-negara pemenang Perang Dunia II lah yang melakukannya di bawah naungan badan dunia PBB tahun 1947. Mana mungkin warga Yahudi yang semula tidak mempunyai wilayah kemudian mendapatkan pembagian dari tanah Palestina cuma-cuma. Pembagiannya pun tidak adil. Kaum Yahudi memperoleh 56 persen dari seluruh wilayah Palestina, sementara Arab Palestina pemilik sah wilayah itu memperoleh 42 persen. Dua persennya lagi, termasuk kota tua Jerusalem masuk dalam pengawasan internasional.

Setelah Israel memerdekakan diri tahun 1948, sehari sesudahnya terjadi perang Arab-Israel. Ketidakadilan pembagian wilayah Palestina tersebut membuat negara-negara Arab lain marah seperti Jordania, Mesir, dan Suriah. Singkatnya negara-negara Arab ini kalah. Persenjataan modern Israel yang dipasok dari negara-negara Barat menghancurkan wilayah-wilayah negara-negara Arab itu, bahkan mencaplok serta menduduki wilayah yang direbutnya.

Wilayah Palestina pun semakin lama semakin sempit. Pembantaian warga Palestina terjadi di mana-mana, karena warga Palestina mengungsi ke sana. Perjuangan gerilyawan Palestina pun berpindah-pindah. Perdamaian antara negara Arab dan Israel selalu menemui jalan buntu. Perseteruan memuncak pada tahun 1972 ketika pejuang Palestina yang menamakan dirinya Black September membunuh 11 atlet Israel pada Olimpiade Munich.

Organisasinya ini meresahkannya juga negara-negara Arab yang ditumpangi warga Palestina. Pada tahun 1970, Raja Jordania, Hussein terpaksa menghentikan gerak organisasi tersebut. Memerintahkan pasukannya membantai ribuan pengikut Black September yang terdiri dari warga Palestina di pengungsian Jordania. Oleh karena itu, warga Palestina ini tidak hanya dimusuhi Israel, tetapi juga negara Arab yang ditumpangi menganggap gerakan Palestina di wilayahnya sangat membahayakan.

Belum lagi kita berbicara mengenai warga Palestina yang mengungsi ke Suriah, Irak dan Libanon. Oleh karena itu warga nasib bangsa Palestina ini tidak memiliki harapan. Diharapkan dukungan dari negara-negara Arab, juga tidak mungkin karena negara-negara Arab sendiri terpecah-pecah dalam menyikapi masalah Palestina ini. Jordania sendiri malah sudah menjalin hubungan dengan Israel pada tahun 1970. Mesir pada Perjanjian Camp David tahun 1979, yaitu perdamaian antara Mesir dan Israel.

Menarik untuk disimak adalah mengenai Perjanjian Camp David tersebut. Usaha perdamaian ini dikarenakan laporan seorang Panglima Pasukan Perdamaian PBB di Sinai, yang tidak lain adalah putera bangsa Indonesia, Mayor Rais Abin, kepada Sekjen PBB kala itu, Kurt Wardheim bahwa di lapangan, kedua belah pihak Mesir-Israel sudah mau duduk di meja perundingan. Laporan dari Rais Abin inilah yang ditindaklanjuti Sekjen PBB untuk menggelar Perjanjian Perdamaian Camp David yang ditengahi oleh Amerika Serikat.

Lebih menarik lagi adalah bahwa Israel menyetujui putera bangsa Indonesia untuk menjadi Panglima Pasukan Perdamaian PBB. Sementara negara Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Waktu itu Rais Abin sengaja bertemu dengan Menteri Pertahanan Israel Shimon Peres di Jerusalem. Shimon Peres mengatakan kepada Rais Abin:” Terus terang saja , merupakan suatu preseden yang unik bahwa kami menyetujui Panglima Pasukan PBB dari negara yang tidak mengakui Israel. Dari kami tidak ada keberatan, tetapi masih ada masalah politis.”

Melihat sejarah masa lalu keberhasilan Rais Abin tersebut, sebetulnya peluang Indonesia menciptakan perdamaian antara Palestina dan Israel sangat besar. Bisa saja hubungan tidak resmi dilakukan terus menerus agar Israel mau duduk bersama dengan Palestina di meja perundingan. Tujuannya hanya untuk menciptakan perdamaian. Bagaimana pun sejarah perdamaian Mesir-Israel dilakukan oleh putera bangsa Indonesia, Rais Abin dan bisa melobi pihak Israel untuk mengakuinya. Bangsa ini sangat mampu berdiplomasi. Hal ini kita lihat ketika Presiden RI Soekarno menggagas Konferensi Asia Afrika dan Presiden RI Soeharto menggagas berdirinya Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara, ASEAN. Kenapa untuk menjadi inisiator perdamaian Israel-Palestina tidak? Bukankah kita pernah mencoba melobi Israel secara tidak resmi agar mendukung putera bangsa Indonesia sebagai Panglima pasukan Perdamaian PBB 1976-1979 ? Sudah ada modal Indonesia menjadi inisiator, kenapa tidak dilakukan?

DDjDasman Djamaluddin, biographer.
(tulisan telah dimuat di kompasiana, 13 Juli 2014)

Bangsa ini Dibangun Bukan Oleh Pendendam

soekarno-hattaPerhatikan komentar Buya Hamka atas pemenjaraan dirinya oleh Bung Karno, “Saya tidak pernah dendam kepada orang yang menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al-Qur’an 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu.”

Meskipun secara politik berseberangan, Soekarno pun tetap menghormati keulamaan Hamka. Menjelang wafatnya, Soekarno berpesan, “Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku…”

Meskipun banyak yang tak setuju, Buya Hamka dengan ikhlas memenuhi wasiat Soekarno memimpin shalat jenazah tokoh yang pernah menjebloskannya ke penjara itu.

Bangsa ini Dibangun oleh Para Negarawan yang Tegas tapi Santun

Karena kritiknya yang tegas pada Orde Baru, Mohammad Natsir bersama kelompok Petisi 50 dicekal. Natsir dilarang untuk melakukan kunjungan luar negeri seperti mengikuti Konferensi Rabithah Alam Islami. Bahkan Natsir tidak mendapat izin untuk ke Malaysia menerima gelar doktor kehormatan dari Universiti Kebangsaan Malaysia dan Universiti Sains Pulau Pinang.

Di balik kritik yang ia lancarkan, ia tetap bersikap santun. Misalnya pada beberapa kali perayaan Idul Fitri, ia selalu saja hadir dalam acara silaturahmi di kediaman Soeharto di Cendana, meskipun keberadaannya seringkali tidak ditanggapi oleh Soeharto saat itu.

Bahkan bukan hanya bersikap santun, ia secara sadar juga turut membantu pemerintahan Orde Baru untuk kepentingan pemerintah sendiri. Misalnya, ia membantu mengontak pemerintah Kuwait agar dapat menanam modal di Indonesia dan meyakinkan pemerintah Jepang tentang kesungguhan Orde Baru membangun ekonomi.

Bangsa ini Berdiri karena Para Founding Fathers yang Toleran dan Penuh Empati

Prawoto Mangkusasmito, Ketua Umum Masyumi setelah Mohammad Natsir, hidup sangat sederhana bahkan tak punya rumah. Ketua Umum Partai Kristen Indonesia, IJ Kasimo menginisiasi urunan untuk membelikan rumah bagi Prawoto.

Bangsa ini Besar karena Kesederhanaan Pemimpinnya

Bung Hatta pernah punya mimpi untuk membeli sepatu Bally. Dia menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya. Ia kemudian menabung, mengumpulkan uangnya sedikit demi sedikit agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

Namun, apa yang terjadi? Ternyata uang tabungan tidak pernah mencukupi untuk membeli sepatu Bally. Uang tabungannya terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu orang-orang yang datang kepadanya guna meminta pertolongan. Alhasil, keinginan Bung Hatta untuk membeli sepasang sepatu Bally tak pernah kesampaian hingga akhir hayatnya. Bahkan, yang lebih mengharukan, ternyata hingga wafat, guntingan iklan sepatu Bally tersebut masih tersimpan dengan baik.

Bangsa ini Kokoh karena Pemimpinnya Menjunjung Fairness

Ketika hubungan Soekarno dan Hatta merenggang, beberapa orang yang pro Soekarno tidak mencantumkan nama Hatta pada teks proklamasi. Soekarno dengan marah menegur, “Orang boleh benci pada seseorang! Aku kadang-kadang saling gebug dengan Hatta!! Tapi menghilangkan Hatta dari teks proooklaamaasii, itu perbuatan pengecut!!!”

Hari ini kita menentukan apakah bangsa ini jadi pemenang atau pengecut.

Jadi besar atau kerdil

Jadi pemaaf atau pendendam

Jadi penuh empati atau suka menghakimi

Jadi penyebar damai atau penebar fitnah

Yang akan menentukan masa depan bangsa ini bukan hanya siapa yang terpilih, tapi juga bagaimana sikap pendukungnya.

Bukan hanya siapa yang menang, tapi bagaimana sikap yang kalah.

(Zulmen)

Masyarakat Indonesia di Luar Negeri Minta Lembaga Survey Jujur

Suasana Pilpres 09 Juli 2014 di Hong Kong
Suasana Pilpres 09 Juli 2014 di Hong Kong

HMINEWS.Com – Sejumlah anggota masyarakat Indonesia di Pittsburgh, Pennsylvania, AS menyatakan sikap politik mereka terkait dengan rekapitulasi perhitungan pemilu yang jujur dan transparan. Gerakan-gerakan dukungan dan sikap politik banyak bermunculan selama musim pemilihan presiden tahun 2014 ini. Fenomena ini menunjukkan tingginya partisipasi aktif warga Indonesia di luar negeri terhadap situasi politik di tanah air.

“Perlu ditegaskan, bahwa partisipasi politik warga Indonesia di luar negeri tidak bisa dianggap kecil, dan pemahaman politik mereka cukup luas mendalam, tidak hanya mengandalkan informasi media saja”, demikian kata Anis Sundusiyah, warga Indonesia yang sedang menempuh S3 di Universitas Pennsylvania, Ahad (13/7/2014).

Mewakili masyarakat Indonesia yang berada di Pittsburgh, Anis menyampaikan rasa syukurnya atas penyelenggaraan Pemilihan Presiden 2014 yang berlangsung aman dan demokratis. Oleh karena itu berharap agar KPU tetap bertindak adil, menjaga hasil pilpres dengan bersih, jujur, transparan dan bebas manipulasi.

“Kami juga menyerukan kepada lembaga-lembaga survey yang melaksanakan quick count agar menyajikan hasil quick count secara jujur dalam koridor ilmiah, etika dan dapat mempertanggung-jawabkannya secara hukum”, pungkas staf pengajar IAIN Walisongo Semarang tersebut.

Dimensi dan Akar Kebangkitan Islam

muslim_ummahAkhir-akhir ini kita sudah banyak menemukan tesis-tesis kebangkitan pemikiran dan sains Islam. Pemikiran-pemikiran kebangkitan Islam itu kita bisa temukan dari banyak pemikir di Indonesia, seperti Mulyadi Kartanegara yang membicarakan integrasi Islam, Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Islam alternatif, Kuntowijoyo Islam sebagai ilmu, dan pemikir-pemikir NU, seperti Gus Dur yang mencoba membangun cakrawala berpikir kaum santri menjadi lebih terbuka dan modern dalam beberapa karya-karyanya baik Islam dan Pluralisme, Pribumisasi Islam. Tak ketinggalan pemikir-pemikir seperti Amien Eais yang ingin membangun Islam dalam perspektif politik dan demokrasi. Buya Safii Maarif, Islam profetik dan masih banyak yang lainnya.

Islam sebagai agama, bukan hanya menjelaskan sholat, puasa, zakat dan haji. Lebih dari itu menjadi jembatan untuk memajukan kesejahteraan umat manusia karena dalam dimensi keislaman mengandung banyak unsur yang ingin didorong. Baik unsur saintifik, kemanusiaan, sosial, ekonomi, politik maupun unsur kesemestaan. Namun lebih dari itu unsur-unsur dari dimensi keislaman ini termaktub dalam paradigma utama; Islam sebagai jalan keselamatan selalu mengantarkan manusia pada kesadaran tauhid yang tidak terbatas namun menafsirkan hakekat tauhid bahwa segala sesuatu itu satu, serasi, teratur dan mewujud asalnya satu namun pada dimensi eksistensi menjadi pluralitas.

Dimensi esensi segala sesuatu ditemukan asal maujudnya yakni wajibul wujud, berpusat pada Sang Haq. Dalam logika metafisika Aristoteles wujud pertama, sementara dalam konsep Al Farabi dikenal dengan nama akal pertama. Penjelasan secara filosofis maupun teologis mengisahkan pada akhirnya keberadaan segala sesuatu adalah satu sehingga ketika dibedah menjadi hakekat semua akan ditemukan dalam satu definisi yang sama, satu hakekat yang sama yakni dimensi ketuhanan. Namun, pada konteks eksistensi keberadaan segala sesuatu menjadi beragam, mewujud berbeda, ada manusia, ada binatang, ada tumbuhan dan semesta semuanya menjadi berbeda-beda.

Pandangan ini tentu benar karena kenyataannya demikian namun saat kita melakukan perenungan mendalam maka dimensi ini akan semakin kita temukan hakekatnya semakin mendalam, semakin dalam kita melakukan uji validasi maka semakin jelas hakekatnya yakni kesatuan wujud dari segala yang mewujud.

Ulasan diatas hanya berusaha menjelaskan Islam sebagai tauhid dan pandangan dunia bahwa, ketika seseorang telah berislam maka tafsir keislamannya harus mampu terjelaskan dalam kehidupan sosial, kehidupan bernegara, bukan hanya dalam artian mendirikan negara seperti keinginan orang-orang yang mau mendirikan khilafah yang sebagian besar umat islam tidak menginginkan itu. Bagi penulis, Islam dalam tafsiran demikian menjadi sangat skriptualis yang kehilangan akar kulturalnya. Di sinilah letak penting membangun pandangan Islam yang konteks dan terjiwai dalam kehidupan sosial. Di sinilah letak pentingnya Islam sebagai hukum nilai yang mengikat penganutnya.

Arah Kebangkitan Islam

Islam sebagai dimensi sosial, politik dan sains mengantarkan kita menjadi muslim yang terbuka, pluralis dan menjunjung tinggi nilai-nilai utama dan tetap mengedepankan keberbedaan yang memajukan. Kalau kita melakukan telaah Piagam Madina yang dianggap banyak kalangan sebagai prodak pemikiran Islam yang sangat modern khususnya dalam membangun konsensus sosial, hukum bersama untuk ditaati. Di sini Islam kita temukan sebagai negara dan nilai, Islam sebagai negara ikut mempersatukan keberagaman, baik yahudi, nasrani maupun Islam sendiri di Madina tercermin dalam proses pembentukan Madinah setelah terbentuknya konsensus tersebut. Islam di sini dimaknai sebagai dimensi nilai, karena agenda utama dalam konsensus Piagaman Madinah, kerukukan, keadilan dan kesamaan di mata hukum. Semua umat dan suku memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam kehidupan sosial meski nabi besar Muhammad SAW adalah pemimpin tertinggi tidak otomatis menindas suku dan bangsa lain atau umat beda agama. Semuanya berada dalam perlakuan yang sama. Tentu saja jika islam model seperti ini, terbuka, pluralis bukan liberal dilaksanakan maka proses konsolidasi pemikiran, sains khususnya ilmu pengetahuan akan muda tercerna.

Keterbukaan membangun komunikasi yang seimbang, membangun banyak sahabat tak heran jika Habermas, tokoh posmodernisme awal menggagas nalar komunikan, konsensus sosial dibangun dari proses komunikasi dan ideologi yang berbeda jangan menjadi dominasi dalam prinsip kehidupan sosial sehingga terjadi dinamika sosial yang sehat dan memajukan. Meski Habermas pemikir yang masih sulit menjadi rujukan bagi umat Islam namun minimal pandangannya bisa menjadi satu catatan penting bahwa kehidupan yang terbuka, berkomunikasi dan membangun konsesus akan menciptakan kehidupan sosial yang harmonis.

Keterbukaan itu menjadi senjata untuk kebangkitan Islam. Tidaklah salah ungkapan Muhammad Abduh “Aku melihat Islam (di Barat), tapi tidak melihat Muslim,  Dan aku melihat Muslim (di Timur) tetapi aku tidak melihat Islam”. Makna dasar yang ingin disampaikan semangat pencerahan, kemajuan, saintifik di Barat memperlihatkan nilai-nilai Islam, tetapi di sana tidak ada (sedikit) umat Islam sementara di Timur banyak orang Islam namun kemajuan sebagai jiwa Islam belum terjiwai dalam kehidupan sosiologis.

Ruang Eksistensi Kemajuan Islam

Islam saat ini mulai kembali memperlihatkan kemajuan dari beberapa sektor, pendidikan atau kampus, mesjid mulai mejlis ta’lim dan pendidikan anak umur-umur 4-10 tahun, pesantren, bank-bank Islam dan BMT. Lembaga ini mencerminkan era kebangkitan umat Islam. Di pesantren tempat tumbuh kembangnya para penghafal al Qur’an, dai hebat bahkan saat ini sudah ada upaya membangun pesantren modren yang terintergasi dengan sains dan kemajuan zaman. Di pesantren bukan hanya mengajarkan kitab kuning, dan doa-doa namun mulai merambah pada kewirausahaan, pertanian, peternakan dan perkebunan. Ada juga beberapa pesantren mulai merombak kurikulum pembelajaran dengan menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Aspek penguasaan pelajaran bukan hanya dari sisi kemampuan keagamaan namun juga diberikan pemahaman sosiologis dan kehidupan yang kreatif dengan membangun usaha-usaha yang bisa memajukan kehidupan ekonomi umat. Pesantren punya sistem kaderisasi, baik menjadi ulama maupun menjadi sosok islam yang berpemikiran modern.

Di dalam pesantren orang-orang yang terlibat menghargai proses belajar dengan cara-cara mengajarkan ilmu ikhlas, sabar dan ikhsan. Tentu saja ini menjadi model pendidikan berkarakter, tapi dalam definisi pesantren adalah pendidikan moral dasar sebelum meraih ilmu harus selesai dulu ketulusannya agar ilmu bisa masuk dan menjadi sinar kehidupan bagi santri. Lulusan-lulusan pesantren yang merupakan santri hebat dan memiliki pandangan pendidikan dasar keagamaan Islam saat ini sudah mulai memasuki dunia profesional, ada juga yang ke negara-negara Eropa dan Amerika untuk memperdalam ilmu modern. ini mempertegas bahwa pesantren mencetak manusia berakhlaq mulia yang terdidik karena proses konsolidasi dan rekonsolidasi pengetahuan yang kompleks dengan memperdalam ilmu di negera-negara barat. Dengan sendirinya saat mereka pulang akan memiliki konsepsi motodologi berilmu modern yang ilmiah membuat penafsiran islam menjadi lebih aktual dan hidup.

Perkembangan islam di mesjid-mesjid, di Indonesia masjid sudah menjadi multi fungsi selain tempat beribadah juga menjadi ruang untuk belajar. Proses itu terus berlangsung bertahun-tahun, sehingga terbentuk komunitas tradisional yang punya kajian keislaman, meski dalam taraf biasa karena diskusinya masih seputar fiqh, tafsir ilmu namun setiap diskusi tersebut memberikan banyak pencerahan, baik kehidupan sosial, cara-cara seorang muslim hidup dan orientasi keislaman akan diantar kemana. Semua proses itu meninggalkan kesan mendalam selain sebagai bagian tradisi keilmuan juga menjadi kultur yang membantuk kekuatan kebersamaan. Di sini mesjid menjadi sebagai simpul keilmuan sama dengan pesantren. Bedanya, mesjid lebih terbuka sehingga siapa saja boleh ikut kajian dan mendiskusikan persoalan keseharian umat. Anak-anak terbiasa membaca dan terlatih dengan belajar di mesjid. Mereka ini adalah bibit-bibit masa depan umat Islam. Mereka yang masih kecil sudah menguasai al Qur’an tentu internalisasi nilai-nilai keislamannya akan sangat kuat ketika besar. Anak-anak yang tumbuh dari tradisi keislaman yang kuat sejak dini akan memiliki karakter keislaman yang kuat di masa depan. Kondisi demikian jika berlanjut akan mencetak banyak cendikian Islam di Indonesia.

Ketika pemahaman keagamaan menjadi milik publik luas khususnya umat Islam, maka tradisi pembentukan masyarakat tamadduni, masyarakat Islam yang berperadaban karena kekuatan tradisi akan mudah terbentuk. Spirit pembentukan peradaban Islam tentunya dari al Qur’an dan nilai-nilai yang terdapat di dalamnya. Selain itu, kampus-kampus sekarang mulai menjadi pusat-pusat diskusi kelompok Islam. Kampus bukan hanya berfungsi sebagai ruang akademik namun juga menjadi tempat banyak berdiskusi persoalan keislaman modern. Baik ekonomi, tradisi keagamaan, dan sains. Kesemuanya menunjukkan era baru kebangkitan Islam. Kampus mencetak sarjana yang punya wawasan keagamaan bukan lagi menjadi hal baru sebab meski sekarang kampus negeri atau tidak nampak berhaluan Islam namun organisasi kepemudaan Islam pasti ada di dalamnya.

Dari sini tampak sebuah khasanah baru yang akan menjadi pondasi kebangkitan umat Islam, apalagi jika terus menata diri mengevaluasi dan memajukan akan terbentuk sebuah tradisi ilmiah yang kuat dalam masyarakat. Dengan sendirinya sains dan peradaban Islam bisa tumbuh akar-akarnya

unnamed (2)Bahtiar Ali Rambangeng

Setelah Tak Ada Lembaga Survey Netral, Apa?

rqcDua kubu lembaga survey, pendukung dua pasang Capes/Cawapres, saling melaporkan sebagai buntut kisruh hasil hitung cepat (quick count) Pilpres 09 Juli 2014. Lembaga survey yang terlebih dahulu dialporkan adalah Saiful Mujani Research Centre (SMRC), Cyrus dan Center for Strategic and International Studies (CSIS)

M Maulana, salah seorang anggota tim advokat Prabowo-Hatta, menyatakan SMRC patut diduga tidak independen dan partisan karena Saiful Mujani mengakui secara terbuka berkampanye negatif menentang pencalonan Prabowo. Sementara Cyrus adalah konsultan pemenangan Jokowi sewaktu Pilgub DKI 2012. Demikian kata dia dalam saat melapor ke bawaslu, Jumat (11/7/2014).

Selain melaporkan dua lembaga survei tersebut, mereka juga melaporkan salah satu pengamat politik bernama Adrinof Chaniago. Trim advokat Prabowo-Hatta mengaku mendapat informasi bahwa Adrinof merupakan konsultan Jokowi saat Debat Capres.

Sebagai serangan balik, 4 lembaga survey yang dinilai mendukung Prabowo-Hatta pun dilaporkan. Keempatnya adalah Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), Lembaga Survey Nasional (LSN), Indonesia Research Center (IRC) dan Jaringan Suara Indonesia (JSI). Laporan bukan ditujukan ke Bawaslu, akan tetapi ke Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim Mabes Polri), dan pelapornya adalah Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) Jakarta, Sabtu (12/7).

Keempat lembaga survei tersebut dituduh telah melakukan pembohongan publik dengan memanipulasi data dalam quick count Pilpres dan memenangkan kubu Prabowo-Hatta, berbeda dari umumnya lembaga survey yang hasilnya memenangkan Jokowi-JK.

Pihak PBHI Jakarta mengaku menemukan bukti yang menunjukkan manipulasi data di lapangan oleh keempat lembaga survey, salah satunya adalah angka prosentasi jumlah responden yang mencapai 100,35 persen dari angka wajarnya, yakni 100 persen.

Pandangan Kritis

Quick count merupakan terobosan ilmiah yang telah teruji, meski tidak selalu tepat. Sah-sah saja mempercayai quick count sebagai sebagai sebuah metodologi. QC memang ilmiah, tetapi bukan berarti tidak bisa dimanipulasi sama sekali. Ianya menjadi wajar dan representatif, salah satunya indikatornya, manakala dilakukan secara transparan dan tidak salah dalam pengambilan sampel.

Temuan kejanggalan proses penghitungan ini yang sudah banyak dikaji. Misalnya, (tidak jadi deh, hehe ). Percaya seratus persen terhadap lembaga survey itu konyol, demikian juga sebaliknya terhadap lembaga negara yaitu KPU, apalagi Ketua KPU sendiri mengatakan hasil real count KPU pun tidak mutlak. Lho? Artinya masih bisa digugat ke MK jika ditemukan kejanggalan.

Sebenarnya quick count bisa digunakan untuk mengawal real count. Sayangnya, dari awal lembaga-lembaga survey yang melakukan penghitungan cepat ini dinilai sudah tidak netral, dan dibiayai pihak tertentu. Pun demikian dengan quick count yang dilakukan oleh lembaga negara yang seharusnya netral. Namun demikian, masyarakat (yang tidak tergabung ke dalam berbagai lembaga survey) tetap bisa memainkan perannya. Toh KPU telah menempuh terobosan baru dengan mengunggah form C1 ke internet yang bisa dipantau dari mana saja.

Fathur

Efek Pilpres: Adu Petisi Online Serang Metro-TV One

metro vs tv oneHMINEWS.Com – Dampak Pemilu Presiden (Pilpres) 2014 dan keberpihakan media berlanjut dengan pembuatan petisi online di change.org. Petisi ditujukan untuk mendesak Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mencabut izin siaran dua stasiun televisi.

Pertama petisi dibuat oleh orang yang mengaku bernama Teuku Kemal Fasya, warga Lhokseumawe, Aceh, tiga hari lalu, dan kini telah mendapat 28.049 tandatangan secara online, dan diperkirakan bakal terus bertambah.

Kedua, petisi tandingan yang dibuat untuk mendesak pencabutan izin siaran Metro TV. Dalam petisi ini, alasan yang dikemukakan sama persis dengan yang dibuat petisi pertama. Perubahan atau perbedaan hanya pada nama stasiun tv serta nama pihak yang mengajukan petisi, yaitu Masyarakat Transparansi Informasi Indonesia (bukan Masyarakat Transparansi Indonesia). Pagi ini, Senin (14/7/2014) petisi telah mendapat 14.846 tandatangan secara online, diperkirakan akan terus naik.

Inilah alasan -yang sama- yang dibuat kedua pembuat petisi: yaitu dinilai “terbukti secara sistematis, terencana, sporadis, dan cukup lama menyebarkan kabar bohong, propaganda, dan fitnah yang bisa mengarah kepada perpecahan nasional.”

“Apa yang dilakukan Metro TV/ TV ONE bukan saja melanggar ketentuan penyiaran, tapi juga penistaan pada prinsip utama pemilu seperti memberikan kabar bohong tentang berbagai isu selama Pilpres, menyiarkan berita tanpa prinsip keseimbangan yang layak, membangun opini meresahkan kecurangan yang tak berdasar yang mendiskreditkan salah seorang kandidat presiden Prabowo Subianto, melakukan kampanye kepada pasangan Jokowi – JK pada hari tenang 6-8 Juli 2014, menyiarkan hasil hitung cepat (quick count) Pemilu Presiden 9 Juli 2014 dari lembaga yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kredibilitas metodologisnya, dan menyembunyikan hasil survei yang berbeda dengan preferensi politik Metro TV/TV ONE.”

Sejauh apa petisi ini memberikan dampak?

HMI MPO Galang Solidaritas Palestina

HMINEWS.Com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) dari berbagai cabang dan Pengurus Besar melakukan aksi solidaritas untuk Palestina. Aksi dilakukan dengan menggelar unjukrasa damai serta penggalangan dana.

Tangerang Palestina
Aksi Solidaritas HMI MPO Tangerang

Seperti aksi solidaritas HMI MPO Cabang Tangerang di Bundaran Tugu Adipura (11/7) menuju Tangerang City Mall menyerukan boikot produk pendukung zionisme. Sebagai kecaman terhadap kekejaman terhadap rakyat Palestina itu, mereka juga melakukan aksi tidur di jalan serta menggalan dana untuk korban di Gaza. Dalam orasinya, salah seorang kader, Khotibyani mendesak sikap aktif pemerintahan Indonesia terhadap penyerangan militer di Gaza tersebut.

Di Riau, HMI MPO Pekanbaru menggelar aksi solidaritas dan penggalangan dana di Jalan Soekarno-Hatta dan Jalan Tuanku Tambusai. Aksi dipimpin Ketua Umum HMI MPO Pekanbaru, Ganjar Stiawan. Massa selain berorasi dan menggalang dana juga mendoakan keselamatan warga Gaza.

HMI MPO Pekanbaru
HMI MPO Pekanbaru

Di Palu, Sulawesi Tengah, aksi bersama Solidaritas Pemuda Islam Sulteng ditujukan untuk solidaritas Palestina dan Suriah. Ketua HMI MPO Cabang Palu, Sadli Naharuddin mengajak partisipasi seluruh warga Kota Palu terhadap tragedi kemanusiaan yang terkesan dibiarkan oleh dunia internasional itu. HMI MPO Cabang Palu juga telah mengumpulkan sumbangan Rp 2,827 juta.

HMI MPO Palu
HMI MPO Palu

Sementara aksi yang dilakukan di Jakarta oleh beberapa cabang dengan personel Pengurus Besar HMI MPO, bersama sejumlah elemen seperti Voice of Palestine (VOP) serta yang lainnya dalam aksi bersama di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat (USA) di Jakarta. PB HMI MPO mengutuk serangan israel yang tidak beralasan dan pembiaran oleh USA serta Dewan Keamanan PBB (UNO).

PB HMI MPO menyerukan agar Dewan Keamanan PBB  melakukan tindakan nyata yaitu menurunkan pasukan untuk menjaga wilayah Palestina. Tiga poin lain dalam tuntutannya, HMI MPO menyerukan agar;

  1. PBB dan masyarakat internasional mendorong Israel untuk menjalankan Konvensi Jenewa  1948 secara konsisten.
  2. Pemerintah Indonesia untuk menekan Israel hentikan serangan ke Palestina.
  3. Menuntut Israel untuk diadili di Mahkamah HAM Internasional

    Aksi solidaritas Palestina oleh PB HMI MPO di depan Kedutaan Amerika Serikat
    Aksi solidaritas Palestina oleh PB HMI MPO di depan Kedutaan Amerika Serikat