Mengapa Quick Count Agak Aneh

qcSaya ditanya mengapa belum menyetujui hasil Quick Count lembaga-lembaga kredibel yang memenangkan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla. Ini karena memang hasilnya bertentangan dengan prediksi dimana jauh-jauh hari bahkan bulan kita sudah katakan akan terjadi close to call (selisih tipis) sekitar 3% saja, dan SBY akan mengambil peran sebagai mediator. Ini merujuk pada teori base case yang diperkenalkan guru ekonometrika Dale W. Jurgenson dari Harvard adanya faktor exonegenous variable, atau hal-hal yang mengubah secara dramatis terhadap perhitungan dan nilai-nilai.

Dalam kasus pilpres 2014 kita sekarang, maka media massa dan media sosial terlibat aktif dalam proses exogenous tadi. Hal ini terjadi karena ada kasus dasar (base case) yang kita set dan kemudian kita adopsi sebagai asumsi rujukan (default assumption). Asumsi ini digunakan karena kita membutuhkan model dan simulasi untuk memahami sebuah kasus dan mengambil alternatif kasus jika dibutuhkan.

Pada kasus kita ini asumsi dasarnya adalah:

1. Jokowi harus menang karena popularitas dan elektabilitasnya tinggi (di atas 70%)
2. Jokowi harus menang meski dipasangkan dengan sandal.

Pada perkembangannya adalah, bahwa semua lembaga survey sepakat dalam satu setengah bulan, elektabilitas dan popularitas Jokowi menurun sementara Prabowo menunjukkan tren naik. Rata-rata menempatkan posisi puncak bagi kedua kandidat pada angka di bawah 50%. Di sini kemudian muncul dorongan dari base-case assumption kepada alternative case. Kira-kira bagaimana jika nanti garis elektabilitas Jokowi yang terus menurun akan bertemu dengan garis elektabilitas Prabowo yang menanjak. Titik “cross” atau simpang dari kedua orang ini adalah pada titik 48% atau amannya titik 50%. Saya yakin semua lembaga survey percaya itu.

Sangat sulit mengabaikan tren berhenti di titik itu bagi kedua pihak, yang artinya apa mau dikata elektabiltias Jokowi akan terus turun dan Prabowo akan menyalip (crossing). Sehingga ini menimbulkan pertanyaan dan kegusaran bagi semua pihak konsultan tentunya. Apa mungkin akhirnya Jokowi tersalip Prabowo? Jawabannya ya, karena terjadi rasio konstan dari trend penurunan-kenaikan kedua kandidat tadi.

Nah, menghindari posisi ‘tidak enak’ bagi salah satu pihak ini maka, ada alternative case yang perlu dimunculkan melalui asumsi baru yaitu:
1. Jokowi menang menurut QC lembaga kredibel
2. Jokowi kalah menurut QC lembaga yang dipertanyakan kredibilitasnya
3. Jokowi kalah hanya jika dicurangi.
4. Jokowi harus menang, jika kalah maka lembaga dipertanyakan kredibilitasnya atau terjadi operasi kecurangan (Jusuf Kalla).

Nah, di sini kata “kredibilitas” dan “kecurangan” akan menjadi: exogenous variable, yang kita bahas di atas sebelumnya. Menggantikan hal yang penting juga kita pertanyakan, yaitu bagaimana tren menurunnya Jokowi dan menanjaknya pamor Prabowo ternyata berhenti di angka 48% oleh lembaga-lembaga survey tadi. 

Bagaimana tren dalam 1,5 bulan yang bergerak sligthly moderate tiba-tiba secara non konvensional bounching (melambung lagi) dimana Jokowi bergerak naik mendadak dari tren penurunan di angka 48% (SMRC) menjadi 52,45%.

Decline Projection pada kandidat yang terus mengalami defisit (Jokowi) sebetulnya memiliki rasio konstan secara nasional. Ini kenapa kita dengan mudah melihat rata-rata suara hampir seimbang menunjukkan penurunan dan kenaikan. Namun ketika terjadi bounching seperti yang dilaporkan oleh lembaga-lembaga survey yang kredibel dengan menunjukkan angka kenaikan 4% dalam satu hari pemilihan ini benar-benar ajaib.

Sehingga wajar kita yang masih mau berpikiran sehat dan fair ingin tahu juga bagaimana hitung-hitungannya terjadi. Tetapi tetap saja, Pilpres ini sudah diputuskan siapa peserta dan wasit-wasitnya. Untuk itu lebih baik kita bersabar menunggu hasil pasti KPU pada 22 Juli besok.

Andi HakimAndi Hakim