Dimensi dan Akar Kebangkitan Islam

muslim_ummahAkhir-akhir ini kita sudah banyak menemukan tesis-tesis kebangkitan pemikiran dan sains Islam. Pemikiran-pemikiran kebangkitan Islam itu kita bisa temukan dari banyak pemikir di Indonesia, seperti Mulyadi Kartanegara yang membicarakan integrasi Islam, Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Islam alternatif, Kuntowijoyo Islam sebagai ilmu, dan pemikir-pemikir NU, seperti Gus Dur yang mencoba membangun cakrawala berpikir kaum santri menjadi lebih terbuka dan modern dalam beberapa karya-karyanya baik Islam dan Pluralisme, Pribumisasi Islam. Tak ketinggalan pemikir-pemikir seperti Amien Eais yang ingin membangun Islam dalam perspektif politik dan demokrasi. Buya Safii Maarif, Islam profetik dan masih banyak yang lainnya.

Islam sebagai agama, bukan hanya menjelaskan sholat, puasa, zakat dan haji. Lebih dari itu menjadi jembatan untuk memajukan kesejahteraan umat manusia karena dalam dimensi keislaman mengandung banyak unsur yang ingin didorong. Baik unsur saintifik, kemanusiaan, sosial, ekonomi, politik maupun unsur kesemestaan. Namun lebih dari itu unsur-unsur dari dimensi keislaman ini termaktub dalam paradigma utama; Islam sebagai jalan keselamatan selalu mengantarkan manusia pada kesadaran tauhid yang tidak terbatas namun menafsirkan hakekat tauhid bahwa segala sesuatu itu satu, serasi, teratur dan mewujud asalnya satu namun pada dimensi eksistensi menjadi pluralitas.

Dimensi esensi segala sesuatu ditemukan asal maujudnya yakni wajibul wujud, berpusat pada Sang Haq. Dalam logika metafisika Aristoteles wujud pertama, sementara dalam konsep Al Farabi dikenal dengan nama akal pertama. Penjelasan secara filosofis maupun teologis mengisahkan pada akhirnya keberadaan segala sesuatu adalah satu sehingga ketika dibedah menjadi hakekat semua akan ditemukan dalam satu definisi yang sama, satu hakekat yang sama yakni dimensi ketuhanan. Namun, pada konteks eksistensi keberadaan segala sesuatu menjadi beragam, mewujud berbeda, ada manusia, ada binatang, ada tumbuhan dan semesta semuanya menjadi berbeda-beda.

Pandangan ini tentu benar karena kenyataannya demikian namun saat kita melakukan perenungan mendalam maka dimensi ini akan semakin kita temukan hakekatnya semakin mendalam, semakin dalam kita melakukan uji validasi maka semakin jelas hakekatnya yakni kesatuan wujud dari segala yang mewujud.

Ulasan diatas hanya berusaha menjelaskan Islam sebagai tauhid dan pandangan dunia bahwa, ketika seseorang telah berislam maka tafsir keislamannya harus mampu terjelaskan dalam kehidupan sosial, kehidupan bernegara, bukan hanya dalam artian mendirikan negara seperti keinginan orang-orang yang mau mendirikan khilafah yang sebagian besar umat islam tidak menginginkan itu. Bagi penulis, Islam dalam tafsiran demikian menjadi sangat skriptualis yang kehilangan akar kulturalnya. Di sinilah letak penting membangun pandangan Islam yang konteks dan terjiwai dalam kehidupan sosial. Di sinilah letak pentingnya Islam sebagai hukum nilai yang mengikat penganutnya.

Arah Kebangkitan Islam

Islam sebagai dimensi sosial, politik dan sains mengantarkan kita menjadi muslim yang terbuka, pluralis dan menjunjung tinggi nilai-nilai utama dan tetap mengedepankan keberbedaan yang memajukan. Kalau kita melakukan telaah Piagam Madina yang dianggap banyak kalangan sebagai prodak pemikiran Islam yang sangat modern khususnya dalam membangun konsensus sosial, hukum bersama untuk ditaati. Di sini Islam kita temukan sebagai negara dan nilai, Islam sebagai negara ikut mempersatukan keberagaman, baik yahudi, nasrani maupun Islam sendiri di Madina tercermin dalam proses pembentukan Madinah setelah terbentuknya konsensus tersebut. Islam di sini dimaknai sebagai dimensi nilai, karena agenda utama dalam konsensus Piagaman Madinah, kerukukan, keadilan dan kesamaan di mata hukum. Semua umat dan suku memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam kehidupan sosial meski nabi besar Muhammad SAW adalah pemimpin tertinggi tidak otomatis menindas suku dan bangsa lain atau umat beda agama. Semuanya berada dalam perlakuan yang sama. Tentu saja jika islam model seperti ini, terbuka, pluralis bukan liberal dilaksanakan maka proses konsolidasi pemikiran, sains khususnya ilmu pengetahuan akan muda tercerna.

Keterbukaan membangun komunikasi yang seimbang, membangun banyak sahabat tak heran jika Habermas, tokoh posmodernisme awal menggagas nalar komunikan, konsensus sosial dibangun dari proses komunikasi dan ideologi yang berbeda jangan menjadi dominasi dalam prinsip kehidupan sosial sehingga terjadi dinamika sosial yang sehat dan memajukan. Meski Habermas pemikir yang masih sulit menjadi rujukan bagi umat Islam namun minimal pandangannya bisa menjadi satu catatan penting bahwa kehidupan yang terbuka, berkomunikasi dan membangun konsesus akan menciptakan kehidupan sosial yang harmonis.

Keterbukaan itu menjadi senjata untuk kebangkitan Islam. Tidaklah salah ungkapan Muhammad Abduh “Aku melihat Islam (di Barat), tapi tidak melihat Muslim,  Dan aku melihat Muslim (di Timur) tetapi aku tidak melihat Islam”. Makna dasar yang ingin disampaikan semangat pencerahan, kemajuan, saintifik di Barat memperlihatkan nilai-nilai Islam, tetapi di sana tidak ada (sedikit) umat Islam sementara di Timur banyak orang Islam namun kemajuan sebagai jiwa Islam belum terjiwai dalam kehidupan sosiologis.

Ruang Eksistensi Kemajuan Islam

Islam saat ini mulai kembali memperlihatkan kemajuan dari beberapa sektor, pendidikan atau kampus, mesjid mulai mejlis ta’lim dan pendidikan anak umur-umur 4-10 tahun, pesantren, bank-bank Islam dan BMT. Lembaga ini mencerminkan era kebangkitan umat Islam. Di pesantren tempat tumbuh kembangnya para penghafal al Qur’an, dai hebat bahkan saat ini sudah ada upaya membangun pesantren modren yang terintergasi dengan sains dan kemajuan zaman. Di pesantren bukan hanya mengajarkan kitab kuning, dan doa-doa namun mulai merambah pada kewirausahaan, pertanian, peternakan dan perkebunan. Ada juga beberapa pesantren mulai merombak kurikulum pembelajaran dengan menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Aspek penguasaan pelajaran bukan hanya dari sisi kemampuan keagamaan namun juga diberikan pemahaman sosiologis dan kehidupan yang kreatif dengan membangun usaha-usaha yang bisa memajukan kehidupan ekonomi umat. Pesantren punya sistem kaderisasi, baik menjadi ulama maupun menjadi sosok islam yang berpemikiran modern.

Di dalam pesantren orang-orang yang terlibat menghargai proses belajar dengan cara-cara mengajarkan ilmu ikhlas, sabar dan ikhsan. Tentu saja ini menjadi model pendidikan berkarakter, tapi dalam definisi pesantren adalah pendidikan moral dasar sebelum meraih ilmu harus selesai dulu ketulusannya agar ilmu bisa masuk dan menjadi sinar kehidupan bagi santri. Lulusan-lulusan pesantren yang merupakan santri hebat dan memiliki pandangan pendidikan dasar keagamaan Islam saat ini sudah mulai memasuki dunia profesional, ada juga yang ke negara-negara Eropa dan Amerika untuk memperdalam ilmu modern. ini mempertegas bahwa pesantren mencetak manusia berakhlaq mulia yang terdidik karena proses konsolidasi dan rekonsolidasi pengetahuan yang kompleks dengan memperdalam ilmu di negera-negara barat. Dengan sendirinya saat mereka pulang akan memiliki konsepsi motodologi berilmu modern yang ilmiah membuat penafsiran islam menjadi lebih aktual dan hidup.

Perkembangan islam di mesjid-mesjid, di Indonesia masjid sudah menjadi multi fungsi selain tempat beribadah juga menjadi ruang untuk belajar. Proses itu terus berlangsung bertahun-tahun, sehingga terbentuk komunitas tradisional yang punya kajian keislaman, meski dalam taraf biasa karena diskusinya masih seputar fiqh, tafsir ilmu namun setiap diskusi tersebut memberikan banyak pencerahan, baik kehidupan sosial, cara-cara seorang muslim hidup dan orientasi keislaman akan diantar kemana. Semua proses itu meninggalkan kesan mendalam selain sebagai bagian tradisi keilmuan juga menjadi kultur yang membantuk kekuatan kebersamaan. Di sini mesjid menjadi sebagai simpul keilmuan sama dengan pesantren. Bedanya, mesjid lebih terbuka sehingga siapa saja boleh ikut kajian dan mendiskusikan persoalan keseharian umat. Anak-anak terbiasa membaca dan terlatih dengan belajar di mesjid. Mereka ini adalah bibit-bibit masa depan umat Islam. Mereka yang masih kecil sudah menguasai al Qur’an tentu internalisasi nilai-nilai keislamannya akan sangat kuat ketika besar. Anak-anak yang tumbuh dari tradisi keislaman yang kuat sejak dini akan memiliki karakter keislaman yang kuat di masa depan. Kondisi demikian jika berlanjut akan mencetak banyak cendikian Islam di Indonesia.

Ketika pemahaman keagamaan menjadi milik publik luas khususnya umat Islam, maka tradisi pembentukan masyarakat tamadduni, masyarakat Islam yang berperadaban karena kekuatan tradisi akan mudah terbentuk. Spirit pembentukan peradaban Islam tentunya dari al Qur’an dan nilai-nilai yang terdapat di dalamnya. Selain itu, kampus-kampus sekarang mulai menjadi pusat-pusat diskusi kelompok Islam. Kampus bukan hanya berfungsi sebagai ruang akademik namun juga menjadi tempat banyak berdiskusi persoalan keislaman modern. Baik ekonomi, tradisi keagamaan, dan sains. Kesemuanya menunjukkan era baru kebangkitan Islam. Kampus mencetak sarjana yang punya wawasan keagamaan bukan lagi menjadi hal baru sebab meski sekarang kampus negeri atau tidak nampak berhaluan Islam namun organisasi kepemudaan Islam pasti ada di dalamnya.

Dari sini tampak sebuah khasanah baru yang akan menjadi pondasi kebangkitan umat Islam, apalagi jika terus menata diri mengevaluasi dan memajukan akan terbentuk sebuah tradisi ilmiah yang kuat dalam masyarakat. Dengan sendirinya sains dan peradaban Islam bisa tumbuh akar-akarnya

unnamed (2)Bahtiar Ali Rambangeng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *