Arah Perang Minyak Saudi

Mentalitas Gain Seeking dalam Hubungan Internasional via Perang Minyak

Pernyataan Menteri Perminyakan Arab Saudi, Ali al-Naimi dan Pangeran Salman Bin Abdul Aziz Al Saud yang mengatakan bahwa Saudi tidak akan mengendurkan produksi minyak meski harga minyak curah turun hingga 20 Dollar saja per barel dan akan menyebabkan defisit pendapatan negara tahun-tahun ke depan dapat dilihat dari kacamata Teori Neo-Realis Hubungan Kerjasama Internasional sebagai mentalitas baru cari untung (new gain seeking mentalities).

Bisnis minyak meski dalam pandangan teori ego-rasional (rational egoist) adalah bagaimana produsen memperoleh keuntungan sebesarnya bagi kepentingan domestiknya, namun dalam kenyataannya ia punya sejarah panjang relasi kekuasaan, konflik, dan keamanan (power, conflict, and security). Dimana tujuan lainnya adalah negara-negara pengekspor selain perlu mempertahankan tujuan utamanya (absolute) yaitu revenue keuntungan ke dalam negeri, mereka juga harus berhadapan dengan tujuan relatif (relative) yaitu revenue dinamis yang berbeda-beda yang dimainkan baik kompetitor maupun lawan ekonomi-politik.

Perilaku menyesuaikan terhadap tantangan perubahan konstelasi ancaman-ancaman ini yang menjadi kesimpulan dari tabiat ingin meraih keuntungan (gain-seeking). Melihat apa yang dilakukan oleh Saudi memang tidak terlalu mudah dibaca lewat kacamata mikroekonomi dan teori ego-rasional, tetapi bahwa mereka sedang mencari –new challenging of constellation of threats– dapat kita baca dengan teori posisionalis strategis (neo-realias) yang artinya Saudi sedang memainkan distribusi kerjasama kekuatan dan distribusi konflik di wilayah Tim-Teng yang tengah berubah drastis. Saudi membutuhkan pengakuan baru dan menjelaskan posisinya yang dengan sendirinya mencoba meraih pencapaian daya kontrol (hegemonic power) minimal di kawasan panas tadi.

Untuk menerangkan neo-realitas yang serba anomali ada beberapa poin yang perlu difahami.

Pertama, yang perlu kita lihat adalah bahwa Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dll.. adalah negara anggota eksportir minyak OPEC, yang selalu terlibat dalam hubungan dilematis bekerjasama atau perang (ekonomi-politik-militer). Hubungan antara harga minyak, stabilitas, perdamaian, perang dan konflik dan mempengaruhi mikroekonomi bangsa-bangsa, membuat koalisi OPEC adalah koalisi internasional yang berbasiskan kepada apa yang disebut Doppelten Sicherheitdillema, dilema standar ganda.

Di satu sisi mereka saling membenci, namun di sisi lain mereka saling membutuhkan agar harga minyak stabil dan dengan sendirinya mereka tetap mendapatkan modal untuk memperkuat posisi politik, ekonomi, serta mendanai anggaran militernya (Robert Mabro). Di sini teori ego-rasional masih dapat diterima.

Kedua, adalah soal rational egoist baru. Keberadaan mereka yang disebut sebagai pemasok utama (Venezuela 24%, Arab Saud 22%, Iran 13%, Irak 12% EUA,Qatar,8% Libya 4%) dengan cakupan konsumsi 82% minyak dunia membuat negeri-negeri ini berhak menjadi penentu berapa keuntungan maksimum yang dapat mereka peroleh dari hubungan minyak-harga-stabilitas. Di sini muncul kesadaran dasar rational egoist, yaitu pada dasarnya negara-negara ini ingin memperoleh harga yang sebaik-baiknya bagi negeri mereka dengan tetap menjaga “utilitas” dan alat-alat produksinya. Yang lalu menempatkan masing-masing pihak dengan kekuatan-kekuatan produksinya tadi menentukan secara distribusional berapa harga ideal bagi mereka pribadi. Misal bagi Saudi yang memasok 22% harga 100 dollar itu cukup, sementara Iran 130 dollar karena ada embargo, dan sebagian besar lainnya sepakat damai di 120%.

Persoalan yang sering terjadi dari kesepakatan antar negara-negara ini adalah bahwa masing-masing mereka juga melakukan perdagangan minyak lewat jalur-jalur lain yang disembunyi-sembunyikan atau tipu-tipu. Misal bagi Iran yang diembargo, demi mengejar optimum gain 130 dollar yang mereka butuhkan untuk menyimbangkan anggaran negaranya. Maka mereka menjualnya lewat perantara lain seperti Cina, India, Rusia, agar terpenuhi apa yang disebut pareto optimal. Syaratnya utilitas dan alat-alat produksi dari masing-masing produsen tidak boleh terganggu. Ini artinya wilayah di negara-negara produsen kuat (kecuali Irak dan Libya) tidak boleh ada konfik dan sebagai gantinya konflik harus dipindahkan ke tempat lain, Syiria, Irak Utara, Libya, Aljazair, atau Sudan misalnya.

Ketiga, munculnya Posisionalis Strategis atau neo-realis. Melihat bahwa dalam kenyataannya gain atau perolehan sendiri bersifat dinamis maka sekelompok orang melihat bahwa teori rasional egois tidak cukup dapat menerangkan hubungan-hubungan yang semakin lama semakin anomali dan tidak umum (meskipun sebetulnya normal juga).

Ini misalnya, apa yang dilakukan Saudi dengan menjual minyak murah-murah yang menyebabkan defisit bagi negerinya dan diperkirakan menghancurkan negara tadi dalam 5 tahun ke depan maka kita katakan mustahil mereka melakukannya tanpa mempertimbangkan gain (perolehan). Yang jelas Saudi harus punya cadangan duit minimum 5 tahun dalam perang harga super murah yang baru terjadi kali ini dan mereka harus benar-benar yakin bahwa ini adalah pilihan posisional strategis terbaik untuk memperoleh hasil optimal.

Konsekuensinya Saudi juga harus siap menerima realitasnya gain-seeking dari rasionalis-egois itu sekarang berbeda, bukan lagi maksimum tetapi sekedar lebih asal untuk sikit-sikit lah alias bisa-bisanya lah cari posisi strategis. Di sini kemungkinan terjadinya penawaran relative-gains antar aktor-aktor pemain sekaligus tawaran kemungkinan perubahan kongsi-kongsi kepentingan di dalamnya. Semakin ini menunjukkan bahwa apa yang dicari Saudi lewat perang harga murah ini adalah -melihat tantangan konstelasi ancaman ke depan, dimana mereka membutuhkan kawan-kawan dan mengundang terbangunnya negara-negara elit grup dari kartel minyak baru. Singkatnya Saudi membutuhkan AS sebagai mitra koalisi kartelnya, tetapi ia membutuhkan kawan-kawan baru bukan mustahil itu adalah Rusia.

Tentu saja yang diharapkan terpukul adalah Iran dan Rusia sebagai produsen kedua di jajaran OPEC dan non. Tetapi kedua negara ini sudah terbiasa mengalami embargo dan sanksi ekonomi tidak hanya pembatasan komoditas minyak mentah dalam satu dua tahun ke belakang. Selain Rusia mengutamakan pasar domestik dan Iran tidak menempatkan untung minyak sebagai pondasi pembangunan ekonominya dimana hal ini tidak akan dibaca mereka sebagai tantangan konstelasi ke depan.

Andi HakimSaudi tidak dalam posisi dapat menyerang dalam perang minyak era sekarang… mentalitas gain seeking mereka akan berbeda kali ini, karena yang dimainkan adalah harga rendah (bukan harga jual mahal) dimana mereka terpaksa pelan-pelan tarik uang tabungannya. Selain bahwa Rusia juga tidak akan merusak hubungan tradisionalnya dengan negara-negara yang kebetulan adalah lawan-lawan politik Saudi di kawasan Timteng.

Kecuali AS, sekutu Saudi di Eropa misalnya, juga jauh akan lebih tenang berbisnis gas dengan rusia daripada membeli minyak murah hanya sementara yang berisiko bagi rencana-rencana pembangunan mereka. Mereka juga punya pengalaman krisis minyak 1980, perang Iraq-Iran, perang Irak-Kuwait, dan lainnya  menempatkan Eropa tidak dalam banyak pilihan juga dalam perang minyak kali ini.

Andi Hakim

Dilantik, Pengurus HMI Cabang Bogor Gelar Seminar Pendidikan

HMINEWS.Com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) Cabang Bogor dilantik. Pelantikan diadakan disaksikan ratusan tamu dari berbagai kalangan, terdiri dari para pemuda, mahasiswa, unsur legislatif dan ekekutif Kota Bogor, bertempat di Gedung Balai Kota Bogor, Sabtu (27/12/2014) pagi.

Pengurus Cabang untuk periode 1436-1437 H tersebut dilantik oleh Ketua Komisi Pemuda PB HMI MPO, Herdiana Abdus Salam, yang juga mantan ketua HMI MPO Cabang Bogor tiga periode sebelumnya.

Selain pengukuhan kepengurusan, acara tersebut dilanjutkan dengan seminar nasional menyoal pendidikan. Hal ini sesuai yang disampaikan oleh ketua umum HMI-MPO Cabang Bogor, Asep Kurnia.

“Gerakan HMI-MPO akan selalu konsisten dalam pembelaan kaum mustad’afin di manapun, terkhusus di Bogor ini baik kota dan kabupaten, karena kedua pemerintah daerah ini masih memiliki ‘PR’ besar tentang pengelolaan daerahnya yang lebih maju, terlebih maraknya kasus-kasus korupsi, ketidakmerataan pembangunan, tingginya tingkat buta aksara, penganguran dan kemiskinan masih tinggi,” ujar Asep.

Selanjutnya ia menegaskan, tantangan global yang didepan mata untuk negara ini adalah masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) termasuk di Bogor sebagai penyangga ibukota negara. Sehingga, lanjutnya lagi, HMI-MPO dalam kepengurusan satu tahun kedepan akan fokus  mengawal kebijakan pendidikan.

“Karena pendidikan yang baik akan melahirkan generasi yang baik, sehingga di pos-2015 kita bisa menjadi pesaing dan pemain yang profesional dalam dunia globalisasi,” tegasnya lagi.

Sejalan dengan hal di atas, mantan ketua umum HMI-MPO 2011 Herdiana S.T menuturkan bahwa tantangan HMI-MPO adalah kesungguhan dalam mengabdikan diri dalam gerakannya untuk perbaikan umat dan daerah khususnya di Bogor.

Orientasi menyoal pendidikan dalam seminar pelantikan ini dikupas oleh unsur legislatif, eksekutif, pengamat, sosilog, dan akademisi. Hal ini dimaksudkan untuk mempertegas permasalah pendidikan yang harus diberikan obat sehingga pembangunan manusianya bisa lebih baik. Dengan itu diharapkan tantangan global bisa diatasi dengan baik.

Beberapa tamu undangan yang hadir di antaranya Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto, Kepala Dinas Pendisikan Kota dan Kabupaten Bogor, serta Komisi D DPRD Kota Bogor sebagai narasumber.

Mahfud MD Minta KAHMI Bantu Pemerintah

HMINEWS.Com – Koordinator Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Mahfud MD, berjanji organisasi yang ia pimpin akan berperan aktif untuk ikut menyukseskan program pemerintah.

Mantan ketua Mahkamah Konstitusi ini menjelaskan, KAHMI akan menggelar acara nasional lintas politik. Anggota KAHMI, baik yang menjadi menteri maupun yang aktif di DPR dan parpol akan berkumpul untuk menyamakan dan mengingatkan bahwa KAHMI lahir untuk Indonesia.

Pertemuan yang rencananya akan digelar pada 22 Januari 2015 ini akan membicarakan respons KAHMI terkait kondisi politik nasional. Mahfud mengatakan, langkah itu perlu diambil, agar KAHMI berperan lebih aktif. Selain itu agar KAHMI tidak terlalu asyik dan sibuk dalam pertikaian politik.

“Kami akan mengadakan kegiatan bersama alumni HMI. Kami adakan untuk menyamakan visi dan langkah semua alumni yang ada di legislatif dan eksekutif,” kata Mahfud usai bertemu Wakil Presiden, Jusuf Kalla, di kantor Wapres, Jakarta, Senin 29 Desember 2014.

Kedua tokoh itu membahas mengenai posisi KAHMI yang saat ini ikut terbelah terkait konflik politik antara Koalisi Merah Putih (KMP) dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH).

“Ini waktunya bekerja. Momen persaingan politik sudah diberikan yaitu Pileg dan Pilpres. Dan itu sudah selesai dan tinggal bekerja,” ujar mantan ketua tim kampanye nasional pasangan Capres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa ini.

Mahfud mendorong, pemerintah melaksanakan agenda-agendanya. Sementara, pihak yang mengambil posisi oposisi agar tidak mengganggu.

“Bukan untuk bikin gaduh. Kita mendorong menyatunya kembali kekuatan-kekuatan KAHMI mendorong kemajuan. Bukan untuk bertikai tanpa berkesudahan.” (vivanews)

Anugrah Gelar Doktor HC Said Tuhuleley, KAHMI DIY Gelar Syukuran

HMINEWS.Com – Korp Alumni HMI (KAHMI) DIY mengdakan syukuran atas gelar DR (HC) yang diberikan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kepada Said Tuhuleley, alumni HMI dan sekaligus pengurus PP Muhammadiyah, Sabtu (27/12/2014).

Acara syukuran yang diadakan di gedung pertemuan Balai Diklat Perindustrian Yogyakarta pada malam hari ini dihadiri puluhan anggota KAHMI pusat dan KAHMI DIY, PP Muhammadiyah dan PB HMI-MPO. Acara digelar sekaligus dengan refleksi akhir tahun 2014 yang menampilkan pembicara Prof. Jawahir Thontowi, Ph.D, LLM.

Penerima gelar, Dr (HC) Said Tuhuleley dalam sambutannya mengaku tidak menyangka sebelumnya akan mendapatkan gelar tersebut.

“Saya tidak pernah menyangka mendaptkan penganugerahan gelar (DR) ini. Bagi saya bekerja secara profesional dan ikhlas saja. Dan ternyata Allah memberikan ganjaran yang seperti ini,” kata Dr. (HC) Said.

Said Tuhuleley pun berkisah sewaktu dulu aktif di dunia pergerakan, khususnya keaktifan dirinya di HMI. “Selama dipergerakan saya banyak mendapatkan pembelajaran di HMI,” ucapnya.

Mengemplang Pajak Sama Dengan Korupsi

HMINEWS.Com – Belanja Negara cenderung meningkat di Indonesia, nominal maupun secara relative dari PDB. Itu konsekwensi demokrasi, dimana ada tuntutan yang semakin besar agar negara lebih bersifat melindungi rakyat dan menjamin kesejahteraannya. Sayangnya, kecenderungan ini tidak sepenuhnya diimbangi oleh peningkatan penerimaannya, sehingga defisit anggaran menjadi semakin besar dari tahun ke tahun. Secara lebih khusus, penerimaan perpajakan yang paling diandalkan justru memperlihatkan beberapa gejala kurang baik.

Penerimaan pajak secara absolut memang masih meningkat dari tahun ke tahun dan merupakan 75% pendapatan negara. Akan tetapi, tax ratio (penerimaanpajak /PDB) cenderung stagnan. Tax coverage ratio (realisasi penerimaan/potensi pajak yang dapat dipungut) pun (realisasi penerimaan/potensi pajak yang dapat dipungut), sekitar 50% saja. Target yang dipatok oleh APBN hampir selalu tidak tercapai selama pemerintahan SBY.

“Perbaikan administrasi pajak yang dilakukansecara sungguh-sungguh dan konsisten menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan penerimaan pajak. Terkait itu, salah satu kunci yang kurang maksimal dimanfaatkan adalah data transaksi keuangan dan kekayaan,” kata Prastowo dalamdiskusi yang diselenggarakan Barisan Nusantara sore ini di hotel SofyanBetawi, Jakarta.

“Sistem IT yang andal serta kerjasama antar instansi adalah sesuatu yang amat vital dalam penyempurnaan administrasi pajak secara terus menerus,” lanjutPrastowo, ahli dan pengamat perpajakan.

“Upaya penagihan yang gigih disertai prosedur yang pasti akanmengurangi risiko besarnya pajak terutang bahkan yang dikemplang. Konsistensi dalam upaya penindakan yang bermuara pada kepastian hukum akan mendorong kepatuhan para wajib pajak,” tambah Prastowo, yang juga mantan anggota Pokja APBN, Tim TransisiJokowi.

Sementara itu, Tamsil Linrung, anggota DPR RI yang pernah menjadi pimpinan Badan Anggaran DPR, menjelaskan mengenai berbagai hal perpajakan, khususnya aspek legislasi. Tamsil yakin bahwa penerimaan pajak negara masih dapat ditingkatkan secara signifikan di masa depan.

Dalam diskusi berkembang pandangan yang menyamakan para pengemplang pajak, terutama yang bernominal besar, dengan para koruptor. Karena sama-sama merugikan negara. Koruptor sudah mulai ditangani secara serius, bahkan melibatkan masyarakat luas dalam mengawasi serta dalam hal sanksi moral dan sosial. Namun, para pengemplang pajak masih lebih leluasa, dan hampir tidak merasakan sanksi hukum, moral dan sosial.

Pluralisme Cak Nur Menurut Samsul Maarif

downloadHMINEWS.Com – Pemikiran Cak Nur tentang pluralisme menjadikannya sebagai salah satu pemikir muslim terdepan di Indonesia. Gagasan Cak Nur dinilai sebagai sumber pluralisme dan keterbukaan mengenai ajaran Islam.

Nurcholis Madjid, yang lebih populer dipanggil Cak Nur, lahir pada tanggal 17 Maret 1939 di lingkungan keluarga kyai yang terhormat di Jombang, Jawa Timur. Setelah mengenyam pendidikan di pesantren, ia melanjutkan pendidikan di IAIN Jakarta, lalu menyelesaikan program doktor di Universitas Chicago, Amerika Serikat.

Hal ini disampaikan oleh Samsul Maarif, Ph.D. dalam Diskusi Serial Tokoh Pluralis Indonesia #5 yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Sunan Kalijaga bekerjasama dengan AIFIS (American Institute for Indonesian Studies), pada hari Jumat, 19 Desember 2014 di UIN Sunan Kalijaga. Samsul Maarif adalah alumnus Arizona State University, Amerika yang kini menjadi dosen program S2 pada Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) UGM.

Dalam kesempatan tersebut Samsul Maarif menjelaskan, Cak Nur memandang bahwa pluralisme merupakan suatu landasan sikap positif (aktif dan bijaksana) untuk menerima kemajemukan dalam kehidupan sosial dan budaya, termasuk agama, terbuka untuk berdialog dan menerima perbedaan secara adil. Kemajemukan merupakan taqdir (kepastian Allah), atau sunnatullah yang harus diterima di mana masyarakat didorong untuk berlomba berbuat kebaikan kepada sesama.

Samsul Maarif sendiri menilai bahwa pluralisme Cak Nur berdasar pada fondasi pluralisme Islam, yaitu Islam, Iman dan Taqwa. Islam, baik yang diturunkan sejak Nabi Adam maupun Nabi Muhammad, merupakan sebuah penyerahan terhadap keesaan Allah. Sedangkan Iman, merupakan sebuah keyakinan bahwa tidak ada yang lebih tinggi dibanding Allah. Sedangkan makna taqwa, bukan sekadar melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. Tapi lebih dari itu, ketaqwaan harus berimplikasi pada keadilan terhadap sesama manusia.

Jufra Udo Pimpin HMI Cabang Kendari

HMINEWS.Com – Mantan Ketua Umum HMI MPO Komisariat FKIP Universitas Haluoleo (UHO), terpilih menjadi formatur HMI MPO Cabang Kendari periode 2014-2015 dalam Konferensi Cabang ke-7 di Aula Fakultas Pertanian UHO, Kendari (21/12/2014).

Suasana kegiatan berlangsung hikmad di bawah arahan Koordinator Steering, La Asri. Peserta konferensi yang dihadiri seluruh Komisariat Se-Cabang Kendari sepakat memilih Jufra Udo sebagai formatur, setelah Ketua Umum demisioner, Budiman, tidak bersedia untuk dipilih kembali.

Untuk menyusun kepengurusan HMI MPO Cabang Kendari, Jufra Udo dibantu tiga orang anggota mide formatur. Secara otomatis Budiman menjadi salah satu mide formatur. Dua anggota mide formatur lainnya merupakan Pengurus demisioner yakni Imran Udo (Korps Pengader Cabang), dan La Susi (Bidang Advokasi dan Pergerakan).

Setelah ditetapkan sebagai formatur terpilih, seluruh peserta memintanya untuk menyampaikan sambutan. Jufra Udo mengajak semua kader untuk fokus pada usaha-usaha perkaderan dan perjuangan.

“Salah satu hal yang penting adalah kemandirian Komisariat-Komisariat yang ada untuk terus memacu kegiatan perkaderan, karena lokomotif perkaderan di tangan Komisariat. Tentu dengan tetap berkordinasi dengan cabang. Memang hal ini kedengaran usang, tapi penegakannya kadang kedodoran,” ucapnya.

Selain memilih formatur dan mide formatur, Konferensi berhasil menyusun acuan program kerja, merumuskan beberapa rekomendasi, dan desain struktur Kepengurusan baru.

“HMI MPO mengawal ditetapkannya Perda Syariah di Kota Kendari sebagai Kota Bertakwa, dan pengawalan kebijakan pendidikan baik sekolah dasar, menengah, dan Perguruan Tinggi,” demikian salah satu rekomendasi yang ditetapkan Konferensi.

Adapun visi-misinya dalam mengemban kepengurusan satu tahun kedepan, tema yang diusung yakni: Rekonstruksi Tata Kultural HMI Dalam Merekayasa Masa Depan Umat. (*)

Perlakukan Karya Tulis Seperti “Anak Sendiri”

HMINEWS.Com – Karya tulis, apa pun jenisnya, perlu diperlakukan seperti anak sendiri. Penulis, sebagai orang yang melahirkan karya itu, harus mempunyai rasa kasih sayang sehingga “anak” yang dilahirkannya dapat tumbuh besar, dan kelak, kehadirannya memberikan manfaat bagi banyak orang.

Demikian dikatakan Muhammad Subhan, motivator kepenulisan dari Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia yang tampil sebagai pembicara bersama penulis best seller Asma Nadia di hadapan 200-an peserta Seminar Nasional bertajuk “Bring Your Future Today With Writing” yang ditaja Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas MIPA Universitas Negeri Padang (UNP), Kamis (25/12).

“Karya tulis saya ibaratkan anak yang dilahirkan seorang ibu. Proses melahirkannya berdarah-darah, antara hidup dan mati. Ketika anak itu lahir, orangtua si anak harus ikhlas menerima apa pun bentuk fisik anaknya, baik sehat maupun cacat,” ujar Muhammad Subhan yang juga penulis sejumlah buku.

Dia mengilustrasikan, dalam kehidupan nyata, banyak bayi atau anak yang “dibuang” dan ditelantarkan orangtuanya lantaran si anak tidak sesuai harapan, seperti cacat fisik atau berkebutuhan khusus. Padahal, anak itu karunia Tuhan.

“Kejam sekali jika ada orangtua membuang atau menelantarkan anaknya. Padahal, siapa tahu, atas izin Tuhan, kelak si anak menjadi orang hebat,” papar mantan Manajer Program Rumah Puisi Taufiq Ismail (2009-2012) itu.

Dalam proses kreatif menulis, karya tulis yang lahir, sejelek apa pun, tetap memberikan manfaat, setidaknya bagi diri si penulis. Sebab menurutnya, inspirasi tulisan juga merupakan anugerah Tuhan. Maka, ketika tulisan lahir tetapi hasilnya kurang bagus, tugas penulis sebagai “orangtua” merawat dan membesarkannya, agar kelak menjadi bagus.

“Cara merawatnya, lakukan editing berkali-kali, perbaiki jika terdapat kekeliruan, tulis sekreatif mungkin. Selain itu, setelah karya terbit, penulis harus sadar promosi untuk membesarkan karyanya,” kata Muhammad Subhan yang juga mantan wartawan salah satu koran harian di Padang.

Sementara itu, Asma Nadia berbagi kiat bagaimana menulis novel yang baik dan diminati pembaca, khususnya kalangan muda. Penulis buku best seller “Catatan Hati Seorang Istri” yang telah disinetronkan itu, saat ini merilis novel terbarunya dan juga diangkat ke layar lebar, yaitu “Assalamualaikum Beijing”.

“Insya Allah film ini tayang perdana akhir bulan ini (Desember) di seluruh bioskop di Indonesia,” kata Asma Nadia.

Seminar Kepenulisan Nasional itu diikuti para calon penulis, di antaranya pelajar, mahasiswa dan kalangan umum lainnya yang datang dari berbagai daerah di Sumatera Barat. Peserta juga dihibur oleh seniman musik, M. Jujur yang membawakan beberapa lagu ciptaannya. M. Jujur pernah diundang menjadi bintang tamu di acara Kick Andy Metro TV (2012).  (rel)

LAZC Adakan Baksos bagi Korban Banjir di Kedungreja

bocahHMINEWS.Com – Lembaga Amil Zakat Cilacap (LAZ-C) mengadakan Bakti Sosial (Baksos) Pelayanan Kesehatan Gratis Pasca Bencana Banjir di wilayah Kecamatan Kedungreja, Sabtu (27/12/2014). Menurut Manajer LAZ-C, Maryanto, program ini adalah lanjutan setelah sebelumnya LAZC bekerjasama BAZPAM PDAM Cilacap membuat Dapur Umum Bagi Korban Banjir di Kecamatan Kedungreja, Cilacap.

Sedikitnya, 100 orang warga di Kecamatan Kedungreja mengikuti Acara Baksos yang diselenggarakan oleh LAZC. “Meskipun turun hujan, Alhamdulillah antusiasme masyarakat sangat tinggi mengikuti acara tersebut. Selain Layanan Kesehatan Gratis Bagi Warga Korban Banjir bersama dr. Ahmad Arif (Dokter Jaga RSPC), disediakan juga pakaian pantas pakai dari usia dewasa, sampai anak-anak. Bahkan boneka juga disediakan pantia, sehingga langsung diserbu warga masyarakat. Semoga kegiatan ini dapat terus belanjut dan membawa keberkahan bagi semuanya”, ujarnya.

Dia menambahkan, pihaknya selalu terbuka bagi masyarakat yang ingin berdonasi melalui Lembaga Sosial LAZ Cilacap.

“Bagi Donatur yang berminat untuk berdonasi bgi Baksos di Daerah Bencana, silahkan dapat ditunaikan di Kantor Pelayanan LAZC, Jl. Rajiman No.36 Cilacap. Layanan Transfer Via Rekening LAZC di BNI Cilacap an. Edy Kistie Anto: 0174296769. Kami siap segera menyalurkan donasinya. Kami juga Layanan Konsultasi dan Jemput Donasi, dengan Kontak Person: 085641680925 (Call/SMS/WA).”, Imbuhnya.

(Kasyono, Humas LAZC)

Segera Siaran, TPI Akan Kembali ke Khittah

HMINEWS.Com – Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) akan kembali ke khittah sebagai stasiun televisi yang khusus ditujukan untuk menyebarkan informasi di bidang pendidikan dan sebagai media pendidikan pembelajaran masyarakat.

“Sebagai tindak lanjut dari Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung yang memenangkan kubu Mbak Tutut, kami akan kembali melakukan siaran setidaknya pertengahan Januari 2015. Call Sign atau nama udara yang akan kami gunakan adalah “TPI” bukan “MNC TV,” kata Direktur PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia, Habiburokhman, dalam siaran persnya, Sabtu (27/12/2014).

Menurutnya, saat ini jajaran Direksi dan manajemen TPI tengah melakukan persiapan teknis dan legal untuk melaksanakan siaran tersebut. Pihaknya menyatakan secara teknis persiapan sudah hampir mencapai 90 % berupa penyiapan program-program yang akan ditayangkan dan penyiapan infrastruktur penyiaran, sementara secara legal sudah tidak ada hambatan serius lagi untuk mengeksekusi keputusan PK MA.

TPI, lanjut Habiburokhman, akan fokus menyiarkan program yang membantu mencerdaskan kehidupan bangsa, dan membantu mewujudkan hak semua warga negara Indonesia untuk memperoleh pengajaran sebagaimana dahulu TPI beroperasi. Inilah yang disebutnya sebagai ‘TPI Kembali ke Khittah’ itu.”Kebijakan kembali ke khittah ini kami lakukan sebagai respon atas besarnya keluhan masyarakat terhadap program-program televisi yang hanya menyajikan sinetron, infotaintment dan acara lain yang dianggap kurang mendidik,” lanjut dia.

Meski begitu, ia mengaku tidak akan mengharamkan sintetron, namun sinetron yang akan tayang di TPI haruslah memiliki muatan pendidikan yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Terkait dengan masih digunakannya frekwensi oleh pihak lain, kami menyerahkan kepada pemerintah untuk melakukan tindakan penegakan hukum yang efektif. Jika mereka tidak mau berhenti melakukan siaran secara sukarela tentu akan ada konsekwensi hukum dari aparat penegak hukum,” pungkasnya.