Mendikbud Buka Islamic Book Fair 2015

HMINEWS.Com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, membuka Islamic Book Fair ke-14 di Istora Senayan, Jakarta. Dalam kesempatan ini ‘Mas Menteri’ juga menyampaikan sejumlah hal, terutama mengenai pentingnya buku dan kegiatan membaca.

“Pentingnya buku, dan pentingnya membaca adalah pesan yang sangat ditekankan dalam Islam. Bahkan Al-Qurán yang agung pun disebut dengan nama ‘Kitab.’ Perintah membaca ada dalam wahyu pertama, Iqra’ bismi rabbika, dan walaupun ditujukan lewat Nabi yang tidak pandai membaca, ini menunjukkan pentingnya bacaan,” kata Anies Baswedan, Jumat (27/2/2015).

Menurut Mendikbud, dalam pandangan Islam, ada ungkapan yang sangat populer bahwa sebaik-baik teman adalah buku. Karena buku dapat mempengaruhi emosi – membawa kegembiraan dan kebanggaan atau sebaliknya. Buku juga teman yang luar biasa tulus, menyampaikan apa adanya.

Dalam konteks kebudayaan, Mendikbud menyatakan, buku menggambarkan peradaban dalam konteks masyarakatnya. karenanya di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, dan di pameran (Islamic Book Fair) ini pun kita melihat bahwa buku-buku Islami itu bukan hanya yang berbicara tentang berbagai aspek ibadah maupun aqidah, namun yang mencerminkan nilai-nilai dan budaya yang sejalan dengan Islam.

“Buku-buku Islami sangat luas berbicara tentang kedamaian, keadilan, tanggung jawab pada alam, profesionalisme dalam bekerja, penghormatan pada negara, dan lain sebagainya,” ujar Anies Baswedan.

Menurut Mendikbud, dukungan pada industri perbukuan juga merupakan sebuah pesan tegas menciptakan peradaban yang lebih baik. Dalam kaitan ini komitmen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini ditunjukkan lewat dukungannya pada peran Indonesia sebagai guest of honour di Frankfurt Book Fair 2015, yang akan berlangsung beberapa bulan mendatang.

Menteri Anies Baswedan melihat dari sisi pendidikan, buku terbukti merupakan alat belajar-mengajar yang sangat efektif untuk memberdayakan siswa, guru dan semua pihak yang terlibat.

“Penggunaan berbagai jenis buku yang beragam sebagai sumber belajar dan dukungan dari Pemerintah untuk menyebarluaskan konten dan pemikiran yang inovatif menjadi bagian yang sangat penting dari upaya peningkatan mutu dan juga pemerataan akses pendidikan,” kata Anies yang juga menyebut bahwa peningkatan akses terhadap pendidikan merupakan salah satu dari tiga kerangka strategis (Trisentra) Kemendikbud.

Pertama, penguatan pelaku pendidikan dan kebudayaan. Kedua, percepatan peningkatan mutu dan akses pendidikan. Ketiga, pengembangan efektifitas birokrasi pendidikan melalui perbaikan tata kelola dan pelibatan publik.

Satu hal lagi yang penting, menurut Menikbud, adalah pembentukan kebiasaan membaca yang baik, setiap hari, yang dibangun di sekolah dan rumah lewat berbagai upaya.

“Pembaca yang baik, akan menjadi bagian dari pemikir dan orang-orang yang berkarya dengan baik bagi Indonesia,” kata Anies Baswedan.

Serukan Penertiban Geng Motor, HMI Makassar Dirampok

HMINEWS.Com – Gara-gara menyerukan agar polisi menindak geng motor yang makin marak, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) Makassar diserang. Selain menggeruduk sekretariat HMI Makassar, kawanan yang diduga geng motor juga melukai seorang kader dan menjarah isi sekretariat.

Peristiwa itu terjadi pada Kamis (26/2/2015) pagi di sekretariat HMI MPO Makassar (versi Konfercablub yang diketuai Najamuddin Arfah) di Jalan Emmy Saelan Cokonuri dalam No.7, Kelurahan Tidung, Kecamatan Rappocini, Makassar.

Seorang kader HMI MPO yang menjadi korban penyerangan, Harimukti Hasan, menjelaskan, sekitar pukul 06.30 Wita, pelaku datang mengendarai sepeda motor matic kemudian diparkir di depan rumah tetangga. Setelah itu dua pelaku masuk ke dalam sekterariat lalu pura-pura bertanya kepadanya.

“Pelaku awalnya bertanya dimana teman-temanmu yang lain, lalu saya jawab ada di lantai dua, masih sedang tidur,” ujar Hari

Saat itu, kondisi sekretariat sedang sepi setelah beberapa menit sebelumnya Ketua HMI Cabang Makassar, Najamuddin meninggalkan lokasi kejadian untuk beraktivitas. Para pelaku berhasil menggasak satu unit laptop, dua handphone, dompet dan beberapa surat-surat berharga lainnya.

Bersamaan dengan itu, dua orang pelaku langsung mengeluarkan senjata tajam berupa badik dan menodongkan ke leher Hari. Satu pelaku, kata dia, langsung menggiringnya masuk ke dalam kamar mandi dan dikunci dari luar sementara satunya lagi menjarah semua barang-barang berharga di dalam sekretariat.

“Setelah itu para pelaku langsung melarikan diri dengan menggunakan motor matic warna putih yang nomor polisinya tidak diketahui,” pungkasnya. (buletinsia)

Peningkatan Utang LN Menjerumuskan Negara dalam Neokolonialisme

HMINEWS.Com – Langkah pemerintahan Jokowi – JK  meningkatkan Utang Luar Negeri semakin menambah beban rakyat Indonesia. Posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir November 2014 tercatat sebesar 294,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp 3.586 triliun. Tahun ini pemerintahan  Jokowi – JK  melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) akan berutang  sebesar Rp 451,8 triliun untuk Pembangunan infrastruktur dinilai sangat tidak tepat.

Komisi kajian dan kebijakan strategis PB HMI MPO menilai langkah tersebut sebagai upaya yang tidak kreatif dan justru menjerumuskan.

“Selain itu, Utang Luar Negeri merupakan bentuk neokolonialisme negara maju terhadap negara berkembang  dengan dalih pembangunan infrastruktur mengakibatkan eksplorasi, ekspansi dan eksploitasi terhadap sumber daya alam Indonesia,” kata Suparman dari Komisi Kajian Strategis PB HMI MPO, Kamis (26/2/2015).

Oleh sebab itu, lanjutnya, ia mendesak agar Pemerintahan Jokowi -JK mencari cara lain untuk pembangunan infrastruktur, tidak mesti berutang ke luar negeri yang akan menyengsarakan rakyat.

Menurut Suparman, pembangunan infrastruktur Indonesia dengan menggunakan Utang Luar Negeri sangat mengancam eksistensi Indonesia.

Kementan Hadir pada LK2 HMI Cabang Pinrang

HMINEWS.Com -Pada hari ketiga pelaksanaan Intermediate Training atau Latihan Kader II (LK II) HMI Cabang Pinrang, Kepala Balitbang Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Fadjry Djufry, hadir sebagai pembicara. Yaitu pada hari Selasa (23/2/2015) di Hotel Nirwana, Pinrang-Sulawesi Selatan.

Fadjry mewakili Menteri Pertanian Dr. Ir. Amran Sulaiman yang seyogianya hadir sebagai pemateri, namun berhalangan hadir dikarenakan urusan kenegaraan. Dalam pemaparannya, Fadjry Djufry mengatakan sebagai kader yang selalu mengedepankan nilai intelektual HMI harus menguasai berbagai bidang keilmuan dan tidak terpaku hanya pada salah satu segmen ilmu tertentu.

“Kader HMI harus punya visio analisis yang kuat sehingga mampu membaca apa yang tersirat dari setiap peristiwa, yang tersurat pasti bisa dibaca oleh setiap orang tetapi yang tersirat itu hanya mampu dibaca oleh yang punya analisis kuat,” kata KaBalitbang.

Ia juga memaparkan bahwa Indonesia sangat kaya dengan potensi sumber daya alam tetapi sumber daya manusianya lemah, sehingga itu kader HMI harus mampu tampil sebagai pionir di garis terdepan, sehingga  sumberdaya alam yang ada tidak terus menerus dikeruk oleh asing.

Fadjry Jufry juga memberi kesempatan untuk berdialog dengan para peserta yang berasal dari berbagai daerah Kabupaten/Kota  di Indonesia. Tiga dari peserta yang diberi kesempatan bertanya, mengeluhkan kurang maksimalnya pemerintah dalam pembangunan manusia sehingga industri-industri besar di Indonesia masih didominasi oleh pihak asing, apalagi sekarang negara kita bukan lagi menjadi swasembada pangan dunia malah menjadi negara konsumtif dari hasil impor pangan  negara lain.

Dalam waktu tiga tahun ini pemerintah mencanangkan Indonesia harus kembali swasembada komoditas pangan tersebut, yang harus dicapai dengan mempersiapkan infrastruktur dan suprastruktur yang menjadi sarana pencapaian tersebut.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua DPC Pemuda Tani Indonesia Kabupaten Pinrang  Jamaluddin, S.Tp.  Ia mengatakan bahwa Indonesia dulu sangat dikenal sebagai negara pangan terbesar di dunia. Oleh karenanya pemerintah sekarang harus kembali berbenah dalam rangka kembali menjadikan identitas Indonesia sebagai negara lumbung pangan.

China Tantangan Terberat Asia Tenggara

SED1HMINEWS.Com – Usai pertemuan aktivis dua negara, Indonesia dan Malaysia, yang tergabung dalam CISFED (Center for Islamic Studies in Finance, Economics, and Development) dan ISDEV (Center for Islamic Development Management Studies) Universiti Sains Malaysia. Pegiat CISFED dan pengasuh Jurnal Ekonomika, Syahrul Efendi Dasopang menulis ‘Manifesto Masyarakat Muslim Asia Tenggara.’

Di antara isi manifesto tersebut Syahrul mengungkapkan berbagai faktor pemersatu Kawasan Asia Tenggara, yaitu agama (Islam) dan bahasa (Melayu). Ditulis pula sejumlah rumusan untuk menyatukan kawasan dengan persatuan yang kokoh untuk menyongsong era yang gemilang di tengah percaturan politik-ekonomi yang makin sengit, terutama serbuan pasar China, menyusul Amerika dan benua lainnya.

Saat ini, tulisnya, terdapat ancaman okupasi dan hegemoni yang lebih keras dan massif, yaitu dari China dan jejaringnya. China—kecuali yang menganut Islam—berbeda secara kebudayaan dengan Melayu, karena itu terdapat masalah yang menghadang kedua peradaban ini. Dalam sejarahnya pun, China memandang Asia Tenggara sebagai sasaran ekspansi kekuasaan dan pengaruhnya. Di masa lalu, terjadi peperangan dengan Cina, misalnya antara Kerajaan Kediri (Jawa) dengan China, atau pun Vietnam dengan China. Tetapi dibandingkan dengan bangsa-bangsa Kristen Eropa, pendekatan penjajahan Cina jauh lebih halus ketimbang Eropa.

Bangsa Kristen Eropa dalam praktik penjajahannya benar-benar menempuh jalan kekerasan, eksploitatif dan dominatif. Hal ini bukan berarti ancaman penjajahan China di masa depan dapat diabaikan. Asia Tenggara sudah belajar dari pengalaman dijajah oleh Jepang, sekalipun itu bukan bangsa Kristen Eropa. Sebab karakteristik penjajahan di masa sekarang, tidak lagi dilatari oleh motif subjektif untuk kemegahan imperium dan keangkuhan kekuasaan, tetapi oleh suatu alasan objektif untuk memperluas pasar dan sumber-sumber bahan baku dalam rangka mengamankan industri negara bersangkutan, nasib ekonominya dan kelangsungan negaranya.

China dewasa ini, secara diam-diam sebenarnya sudah bertransformasi menjadi penjajah yang senyap, tidak hingar-bingar. Ketergantungannya pada perluasan pasar akan produk-produknya dan perluasan sumber bahan baku industrinya, telah menempatkan negara itu menjadi sosok yang siap menjadi penjajah yang kejam dan bengis. Hanya karena situasinya yang masih saling menguntungkan saja sehingga penolakan dari negara-negara lain akan produk dan pengaruh Cina belum terjadi dengan kencang. Dan bila itu terjadi, China akan terdorong meningkatkan intervensinya dari soft power kepada hard power-nya. Bila itu terjadi, dimana Asia Tenggara secara tradisonal adalah sasaran tatapan mata Cina, maka Asia Tenggara benar-benar akan menjadi koloni China.

Saat ini, masyarakat Muslim di Asia Tenggara memerlukan resep kemajuan yang tidak melepaskan mereka dari jati diri keislaman mereka yang mengakar, bahkan memperkuat kecintaan dan kemenyatuan mereka dengan ajaran Islam. Karena itu, membudayakan spirit dan ajaran Islam yang luhur haruslah terus dapat dikembangkan dan diamalkan oleh setiap penganutnya. Keadilan, kejujuran, keterbukaan, kemurahhatian, kedermawanan, kegigihan, ketekunan, kesederhanaan dan kezuhudan, hendaknya menyatu dalam sikap dan perangai pemeluk Islam, serta dilengkapi pula sikap dan perilaku hidup yang mereka peroleh sepanjang interaksi mereka dengan peradaban Barat berupa sikap dan tindakan rasional, efisien dan efektif, maka kemajuan yang sempurna akan berjaya dari kawasan ini.

Keterangan: kegiatan antara CISFED dengan ISDEV ini telah dilaksanakan pada 14-15 Februari 2015 di Jakarta.

Islam dan Bahasa Melayu, Pemersatu Kawasan Asia Tenggara

SEDHMINEWS.Com – Islam dan Bahasa Melayu (dengan berbagai ragamnya) merupakan dua elemen yang sangat menentukan dalam persatuan kawasan Asia Tenggara. Demikian diungkap oleh pegiat Center for Islamic Studies in Finance, Economics, and Development (CISFED), Syahrul Efendi Dasopang.

Syahrul merinci, dari pengamatannya terhadap muslim Malaysia, maka didapati bahwa tingkah laku, perkataan, selera, cara sholat, cara bertutur, bahasa yang digunakan dan cara mengungkapkan pikiran mereka itu sama dengan orang Indonesia.

“Intinya, jati diri dan karakteristik mereka, benar-benar dekat dengan jati diri dan karakteristik saya sendiri, orang Indonesia. Rasanya mereka bukanlah orang yang datang dari negara lain, dari kebudayaan dan peradaban yang asing, sebagaimana ketika saya bertemu dengan orang Mesir misalnya, orang Eropa atau pun orang Cina,” ungkap Syahrul (17/2/2015).

Selain itu masih ditambah lagi, cara berpakaiannya, cara makan, tidur, ungkapan sikapnya (akhlak)nya pun sama. Ukuran nilai-nilai yang terpuji dan yang buruk sama persis.

“Ini sudah jelas membuktikan, bahwa penduduk yang berada di beberapa negara Asia Tenggara tersebut, dari Thailand Selatan, Filipina Selatan, Malaysia, Brunei, Singapura hingga Indonesia diikat oleh suatu jati diri, nilai-nilai rohani, karakteristik, dan adat istiadat yang sama,” lanjutnya lagi.

Mantan Ketua Umum PB HMI MPO itu juga mengatakan, hanya rekayasa politik bekas penjajah saja lah yang menyebabkan masyarakat Asia Tenggara terpisah dinding negara dan politiknya masing-masing. Namun meski begitu mereka tetap tak terpisahkan, karena begitu kuatnya akar Islam dan adat istiadat serta kebudayaan dan asal-usul ras dan masa lalu mereka yang menghubungkan kesadaran dan perwatakan perasaan dan pikiran mereka hingga melewati waktu yang demikian panjang sampai masa ini.

“Mereka dihubungkan oleh suatu faktor yang sangat kuat: faktor agama dan bahasa Melayu. Kedua faktor inilah yang menjadi benteng lestari dan terpeliharanya hubungan batin di antara masyarakat yang berada di berbagai negara itu. Sekali mereka masyarakat Melayu itu berpindah agama, lenyaplah hubungan batin yang begitu erat mempersatukan mereka. Demikian pula, sekali mereka berbeda bahasa, maka lenyap pulalah perasaan dekat antar sesama mereka. Walhasil, Islam dan bahasa Melayu merupakan faktor kuat dan strategis menghubungkan perasaan, batin dan pikiran penduduk yang bertempat di belahan Asia Tenggara ini,” tandasnya lagi.

Berkembangnya Islam dan bahasa Melayu di kawasan ini adalah jaminan akan tumbuhnya ikatan batin, saling pengertian dan rasa senasib dan sepenanggungan di antara penduduk di wilayah ini, sekalipun elit-elit politiknya memiliki orientasi dan haluan yang berbeda-beda.

“Oleh karena itu, dua hal yang patut dibina di dalam rangka memelihara dan menumbuhkan kesadaran kesatuan pada penduduk Muslim di Asia Tenggara, yaitu pembinaan dan pemasyarakatan bahasa Melayu sebagai bahasa pergaulan dan resmi, dan juga pembinaan kesadaran dan internalisasi Islam di dalam masyarakat dan negara.

Islam adalah sumber rohani sekaligus sumber peradaban masyarakat Muslim Asia Tenggara. Islam telah lama menjadi sumber hukum dan qanun yang mengatur dan membina kerajaan-kerajaan Muslim yang muncul jauh sebelum penjajah Kristen Eropa menjejakkan kakinya di kawasan ini.”

Intermediate Training (LK 2) HMI Cabang Gorontalo Resmi Dibuka

Kanda Fendi Tulusa saat memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan Intermediate Training HMI Cabang Gorontalo, Rabu (17/02/2015).
Fendi Tulusa saat memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan Intermediate Training HMI Cabang Gorontalo, Rabu (17/02/2015).

HMINEWS.Com – Setelah kurang lebih 2 pekan melakukan persiapan dengan matang, pada Rabu malam (17/02/2015) kegiatan Intermediate Training HMI-MPO Cabang Gorontalo dibuka dengan resmi oleh Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), Fendi Tulusa. Dalam sambutannya Fendi sangat mengharapkan agar kegiatan ini menjadi medium untuk mempererat tali silaturahim antar sesama kader HMI dan menjadi arena mengasah kemampuan intelektual dan spiritual kader secara ke-HMI-an.

Ketua Panitia, Nuriman Bokingo, dalam laporannya, berharap agar semua elemen panitia terus bekerja sampai kegiatan ini sukses dan tidak membuat kecewa para peserta. Iman, sapaan akrabnya itu, sangat bangga diamanahi sebagai panitia karena ini merupakan bagian dari proses perkaderan di HMI bersama tim kepanitian.

“Saya bangga dengan amanah ini dan ini bagian dari perkaderan sehingga saya berharap kepada teman-teman agar serius dalam menyukseskan kegiatan ini, permohonan maaf kami kepada seluruh peserta dan Pengurus Cabang kalau dalam proses kegiatan ini terdapat kekurangan atau kendala dan tak lupa saya mengucapkan terimakasih kepada seluruh peserta baik dari Cabang Gorontalo maupun luar Gorontalo yang turut serta mengikuti kegiatan,” kata mahasiswa kelahiran Bolaang Mongondow ini.

Ketua Umum HMI Cabang Gorontalo, Sabahrudin Laode Mago, dalam sambutannya mengatakan bahwa Intermediate Training HMI yang dikenal dengan LK 2 merupakan salah satu proses pematangan perkaderan secara Intelektual dan spiritual yang ada di HMI.

“Saya berharap kepada seluruh peserta yang mengikuti kegiatan ini agar benar-benar menghasilkan kader-kader yang militan baik secara kultural maupun secara kedirian sehingga nilai-nilai perjuangan yang telah diwariskan oleh pendahulu-pendahulu kita di HMI tidak mengalami pergeseran,” jelas Sabahrudin.

Turut dalam acara pembukaan dihadiri oleh Ketua Badko Wilayah Sulutka, Kalbi Tulusa, yang sempat memberikan sambutan dan memberikan motivasi kepada seluruh panitia dan peserta agar kegiatan dapat berjalan dengan baik.

“Kita di HMI diajarkan menjadi kader yang ikhlas dalam segala hal, dilatih menjadi manusia yang selalu mengedepankan Jama’ah HMI dan harus mampu menghilangkan ego individual karena apabila watak ini dipelihara di HMI maka kita tinggal menunggu waktu saja untuk kehancuran HMI. HMI besar bukan karena kadernya yang cerdas tetapi karena Kulturnya, kalau kader HMI sudah taat kepada kultur HMI maka otomatis kader HMI menjadi kader yang cerdas dan militan, baik secara intelektual maupun spiritual,” papar Kalbi.

Kalbi juga berharap agar semua kader tidak berhenti berproses di HMI. “Teruslah menjadi kader Ulul Albab dan nikmati perjalanan spiritual dan intelektual yang tidak bertepi di HMI,” lanjut mantan Ketua Umum HMI Cabang Gorontalo periode 2012-2013 ini.

Prosesi pembukaan berlangsung selama 2 Jam dan bertempat di Aula Gedung SKB (Sanggar Kegiatan Bersama) Kota Gorontalo dengan dihadiri oleh beberapa senior dan peserta dari berbagai Cabang yang berada di Wilayah Badko Sulutka. Menurut Panitia kegiatan ini akan berlangsung selama 2 Minggu kedepan, 10 hari kegiatan Intermediate (LK 2) dan akan dilanjutkan dengan kegiatan Senior Course (SC) selama 4 hari. (*fdi)

Antisipasi V-Day, Hizbul Wathan Lamongan Gelar Workshop Menulis

??????????????????????HMINEWS.Com – Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Kwartir Daerah Lamongan- Jawa Timur menggelar Workshop Motivasi Menulis, Sabtu (14/2). Sekjen Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia Aliya Nurlela tampil sebagai narasumber.

Acara yang bertempat di lantai 3 Kampus STIKES Muhammadiyah Lamongan itu, diikuti 150-an siswa dan guru perwakilan dari 34 SMA/MA/SMK se-Kabupaten Lamongan. Peserta sangat antusias mendapatkan materi motivasi dari Aliya Nurlela yang juga seorang novelis.

Pembina Hizbul Wathan Lamongan Fathurochim Suryadi mengatakan, motivasi menulis tersebut diadakan dalam rangka memotivasi siswa bagaimana seharusnya mereka menyalurkan bakat.

“Acara ini juga sengaja diadakan pada tanggal 14 Februari, bertepatan hari Valentine Day, agar konsentrasi siswa dialihkan pada kegiatan yang lebih positif,” ujarnya.

Selain workshop, Fathurochim Suryadi juga berencana menggagas pembentukan cabang FAM Lamongan. Saat ini telah dipersiapkan calon pengurus yang terdiri dari kalangan guru, mahasiswa dan pelajar di daerah itu.

Sementara di Padangpanjang, Sumatera Barat, sebanyak 20-an siswa MAN X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, mengikuti Training Jurnalistik bersama Muhammad Subhan, penulis dan Ketum FAM Indonesia. Narasumber lainnya, Ismail Sakban, mantap wartawan di salah satu televisi swasta di Jakarta.

Pada kesempatan tersebut, Muhammad Subhan menyebutkan bahwa keterampilan jurnalistik harus dimiliki siswa sebab banyak peristiwa di lingkungan sekolah yang bisa ditulis dan dilaporkan.

“Menjadi wartawan sekolah dengan sendirinya siswa mengangkat potensi sekolah,” kata Muhammad Subhan yang juga mantan wartawan surat kabar harian di Padang.

Dia menganjurkan kepada pihak sekolah agar mewadahi bakat menulis siswa lewat penerbitan majalah sekolah. Dengan adanya majalah itu, siswa dapat menyalurkan kemampuan menulisnya. “Belum banyak sekolah yang mampu dan berani menerbitkan majalah sekolah. Tentu terkait dana juga. Tetapi sejumlah sekolah lain di Indonesia malah eksis menerbitkan majalah siswa,” katanya.

Ditambahkan, Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia sebagai komunitas kepenulisan nasional, secara rutin masuk ke sekolah-sekolah di berbagai kota di Indonesia untuk memberikan bimbingan menulis kreatif dan jurnalistik. Dari bimbingan itu diharapkan melahirkan banyak penulis aktif dan kreatif. (rel)

PB HMI: Praperadilan BG Dikabulkan, Rekening Gendut Harus Tetap Diusut

HMINEWS.Com – Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI -MPO) menyatakan, dikabulkannya gugatan praperadilan Komjen Budi Gunawan tidak menggugurkan substansi perkara rekening gendut perwira tinggi Polri.

Demikian disampaikan Ketua Komisi Hukum dan HAM PB HMI MPO, Zuhad Aji Firmantoro terkait Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah mengabulkan gugatan praperadilan Komjen Budi Gunawan untuk menyatakan tidak sahnya status tersangka yang diberikan KPK kepadanya hari ini, Senin (16/2/2015).

“Putusan praperadilan tidaklah menggugurkan substansi perkara rekening gendut yang mengantarkan Komjend Budi Gunawan menjadi tersangka. Meski pada akhirnya Hakim Sarpin mengabulkan gugatan praperadilan Komjend Budi Gunawan untuk menyatakan tidak-sahnya status tersangka yang diberikan KPK kepadanya namun substansi perkara rekening gendut ini tetaplah fakta. Prosedur wajib dijalankan tetapi tidak boleh mengalahkan atau mengenyampingkan substansi perkara,” kata Zuhad Aji.

Meski begitu, Zuhad menegaskan, “PB HMI MPO menyerukan kepada semua pihak untuk tetap menghormati hukum dengan cara mendukung KPK melanjutkan proses penyidikan terhadap kasus rekening gendut perwira POLRI sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku,” lanjutnya.

Menurutnya hal ini penting karena institusi POLRI diyakini masih memiliki banyak perwira yang berintegritas dan layak untuk menjadi Kapolri selain Komjend Budi Gunawan.

“Karena itu PB HMI mpo mendukung Presiden Jokowi untuk tidak melantik Komjend Budi Gunawan menjadi KAPOLRI demi menjaga martabat dan kewibawaan institusi POLRI sebagai penegak hukum,” tegasnya.

Mengungkap Peran Islam terhadap Kemajuan Teknologi Dunia

HMINEWS.Com -Sejaran mencatat, tatkala peradaban Islam memimpin dunia, Barat sedang dalam kegelapannya. Saat Barat masih berada dalam ‘abad kegelapan’, Islam telah mencapai abad kemajuan yang gilang gemilang. Berbagai penemuan mulai dari kedokteran, teknologi perkakas, ilmu alam, fisika dan bidang-bidang ilmu lainnya. Ilmu-ilmu yang dikembangkan ilmuwan muslim menjadi pijakan bagi kemajuan dunia Barat kini.

Bermula dari kekalahan dalam Perang Salib akhirnya Barat menyadari bahwa mereka harus belajar dari Islam. Dimulailah proyek jangka panjang penerjemahan buku-buku karya ilmuwan Muslim ke dalam bahasa orang-orang Barat. Selain itu, mereka pun banyak mengirim pelajar ke universitas-universitas di negeri-negeri Muslim. Intinya, mereka menyerap sebanyak-banyaknya ilmu yang berkembang di dunia Islam dan mereka aplikasikan mengejar kemajuan mereka dan mengalahkan umat lain.

Fase transformasi ilmu-ilmu dari Islam oleh Barat digambarkan pula dengan jujur oleh banyak ilmuwan Barat –termasuk oleh pihak Gereja sendiri–,tak terkecuali dalam bentuk novel yang amat bagus yang ditulis oleh Umberto Eco berjudul ‘Il Nome Della Rosa’ (The Name of The Rose).

Namun kini tak banyak yang tahu hal tersebut, bahkan menganggap Islam tidak punya kontribusi bagi kemajuan dunia. Kemajuan peradaban Islam itu tak lain karena ajaran Islam yang memang memerintahkan umatnya agar terus menggali ilmu; meneliti dan menelaah, selaras dengan perintah pikir dan zikir bagi insan ulul albab.

Untuk menghidupkan kembali semangat itu, ‘MED’ (Muslim Every Day) akan menyelenggarakan kajian yang akan dimulai di Masjid Istiqamah, Jalan Citarum Nomor 16 Bandung, Sabtu 21 Februari 2015 pukul 09:00 -11:30 WIB. Pemateri Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar, profesor termua bidang geospasial dan peneliti LIPI.

Mohammad Hadiid