China Tantangan Terberat Asia Tenggara

SED1HMINEWS.Com – Usai pertemuan aktivis dua negara, Indonesia dan Malaysia, yang tergabung dalam CISFED (Center for Islamic Studies in Finance, Economics, and Development) dan ISDEV (Center for Islamic Development Management Studies) Universiti Sains Malaysia. Pegiat CISFED dan pengasuh Jurnal Ekonomika, Syahrul Efendi Dasopang menulis ‘Manifesto Masyarakat Muslim Asia Tenggara.’

Di antara isi manifesto tersebut Syahrul mengungkapkan berbagai faktor pemersatu Kawasan Asia Tenggara, yaitu agama (Islam) dan bahasa (Melayu). Ditulis pula sejumlah rumusan untuk menyatukan kawasan dengan persatuan yang kokoh untuk menyongsong era yang gemilang di tengah percaturan politik-ekonomi yang makin sengit, terutama serbuan pasar China, menyusul Amerika dan benua lainnya.

Saat ini, tulisnya, terdapat ancaman okupasi dan hegemoni yang lebih keras dan massif, yaitu dari China dan jejaringnya. China—kecuali yang menganut Islam—berbeda secara kebudayaan dengan Melayu, karena itu terdapat masalah yang menghadang kedua peradaban ini. Dalam sejarahnya pun, China memandang Asia Tenggara sebagai sasaran ekspansi kekuasaan dan pengaruhnya. Di masa lalu, terjadi peperangan dengan Cina, misalnya antara Kerajaan Kediri (Jawa) dengan China, atau pun Vietnam dengan China. Tetapi dibandingkan dengan bangsa-bangsa Kristen Eropa, pendekatan penjajahan Cina jauh lebih halus ketimbang Eropa.

Bangsa Kristen Eropa dalam praktik penjajahannya benar-benar menempuh jalan kekerasan, eksploitatif dan dominatif. Hal ini bukan berarti ancaman penjajahan China di masa depan dapat diabaikan. Asia Tenggara sudah belajar dari pengalaman dijajah oleh Jepang, sekalipun itu bukan bangsa Kristen Eropa. Sebab karakteristik penjajahan di masa sekarang, tidak lagi dilatari oleh motif subjektif untuk kemegahan imperium dan keangkuhan kekuasaan, tetapi oleh suatu alasan objektif untuk memperluas pasar dan sumber-sumber bahan baku dalam rangka mengamankan industri negara bersangkutan, nasib ekonominya dan kelangsungan negaranya.

China dewasa ini, secara diam-diam sebenarnya sudah bertransformasi menjadi penjajah yang senyap, tidak hingar-bingar. Ketergantungannya pada perluasan pasar akan produk-produknya dan perluasan sumber bahan baku industrinya, telah menempatkan negara itu menjadi sosok yang siap menjadi penjajah yang kejam dan bengis. Hanya karena situasinya yang masih saling menguntungkan saja sehingga penolakan dari negara-negara lain akan produk dan pengaruh Cina belum terjadi dengan kencang. Dan bila itu terjadi, China akan terdorong meningkatkan intervensinya dari soft power kepada hard power-nya. Bila itu terjadi, dimana Asia Tenggara secara tradisonal adalah sasaran tatapan mata Cina, maka Asia Tenggara benar-benar akan menjadi koloni China.

Saat ini, masyarakat Muslim di Asia Tenggara memerlukan resep kemajuan yang tidak melepaskan mereka dari jati diri keislaman mereka yang mengakar, bahkan memperkuat kecintaan dan kemenyatuan mereka dengan ajaran Islam. Karena itu, membudayakan spirit dan ajaran Islam yang luhur haruslah terus dapat dikembangkan dan diamalkan oleh setiap penganutnya. Keadilan, kejujuran, keterbukaan, kemurahhatian, kedermawanan, kegigihan, ketekunan, kesederhanaan dan kezuhudan, hendaknya menyatu dalam sikap dan perangai pemeluk Islam, serta dilengkapi pula sikap dan perilaku hidup yang mereka peroleh sepanjang interaksi mereka dengan peradaban Barat berupa sikap dan tindakan rasional, efisien dan efektif, maka kemajuan yang sempurna akan berjaya dari kawasan ini.

Keterangan: kegiatan antara CISFED dengan ISDEV ini telah dilaksanakan pada 14-15 Februari 2015 di Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *