HMI Nunukan Galang Dana Korban Banjir di Kabupaten Bulungan

HMINEWS.Com – Jum’at 13 Februari 2015 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Nunukan yang tergabung dalam Aliansi Organisasi Mahasiswa se-Kabupaten Nunukan melakukan aksi sosial penggalangan dana “Peduli Bulungan” yang terendam banjir hingga ketinggian beberapa meter.

Kabupaten Bulungan yang merupakan ibu kota provinsi Kalimantan Utara dalam beberapa hari ini terendam banjir sehingga roda perekonomian masyarakat bulungan terhambat dalam beberapa hari ini.

Aksi penggalangan yang di lakukan oleh HMI Komisarait Nunukan yang terpusat di Alun-Alun Kota Nunukan dimulai pada pukul 14.00 – 17.00 WITA. Dana yang diperoleh akan di serahkan secara langsung ke masyarakat Kabupaten Bulungan.

Samsuddin

PB HMI: Amerika Harus Adil Terhadap Warga Muslim

HMINEWS.Com – Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI-MPO) mengutuk penembakan tiga mahasiswa muslim di Amerika Serikat (USA). Tindakan tersebut merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia serius yang harus disikapi serius pula oleh Amerika Serikat. Demikian disampaikan Sekjen PB HMI MPO, Abdul Malik Raharusun di Jakarta, Sabtu (14/2/2015).

Abdul Malik menilai penembakan tersebut menunjukkan bahwa warga Amerika masih bersikap intoleran terhadap Islam dan umat Islam. Fenomena Islamofobia yang ditunjukan warga Amerika di media sosial maupun dalam interaksi sehari-hari menunjukan sebagaian warga Amerika tidak ramah terhadap nilai-nilai kemanusaan pada umumnya dan dunia Islam khususnya.

Sebagaimana diketahui tiga mahasiswa muslim korban penembakan di Chapel Hill, North Carolina, adalah Deah Barakat (23) dan istrinya Yusor Mohammad (21) serta sang adik, Razan Mohammad Abu Salha (19). Penembaknya adalah Craig Stephen Hicks (46) yang dikenal sebagai atheis.

“Tragedi ini menunjukan sikap biadab sebagian warga Amerika yang bertindak tidak manusiawi. Untuk itu PB HMI meminta, Pemerintah Amerika untuk tegas terhadap warganya yang melanggar hukum dengan menjatuhkan hukum yang seberat-bertanya kepada pelaku pembunuhan oleh karena aksi ini dipicu oleh gerakan anti-Islam,” lanjut Abdul Malik.

Tidak hanya itu, Abdul Malik juga menuntut agar Pemerintah Amerika Serikat menjamin keamanan Muslim Amerika terutama warga muslim Chapel Hill, North Carolina. Ia menilai penembakan tersebut menjadi ujian sejauh mana Pemerintah Amerika dapat bersikap adil menjunjung tinggi nilai-nilai Hak Asasi Manusia sebagaimana kampanye politik yang selama ini dikampanyekan oleh Presiden-presiden Amerika.

“Bagi PB HMI, warga Amerika harus belajar banyak dari sikap toleransi umat Islam Indonesia yang meskipun sebagai agama mayoritas di Indonesia, muslim Indonesia selalu hidup rukun bersama warga Indonesia non-muslim,” pungkasnya.

 

Makna Usia 68 Tahun Bagi HMI, Semakin Tua Atau Semakin Matang?

Oleh: Zaenal Abidin Riam
Ketua HMI MPO Badko Sulambanusa (Sulawesi bagian selatan, Maluku utara, Bali, dan Nusa tenggara)

5 februari 2015, HMI genap berusia 68 tahun, sebuah usia yang cukup panjang. Puluhan tahun sudah HMI berkiprah di dunia gerakan mahasiswa, gerakan kebangsaan, dan gerakan keummatan. Tentu dalam rentang waktu tersebut, HMI sudah terlibat dengan berbagai dinamika hidup mahasiswa, bangsa, dan umat.

Pergulatan HMI pada tiga ranah tersebut (kemahasiswaan, kebangsaan, keummatan) juga merupakan faktor pendorong utama berdirinya HMI. Dengan usia 68 tahun, komunitas ‘hijau hitam,’ perlu melakukan refleksi terkait kontribusi dan perannya dalam dunia mahasiswa, bangsa, dan umat. Refleksi ini penting untuk mengukur pencapaian lembaga ini di dunia nyata. Indikator lain kembali ke tujuan HMI sendiri, yakni pembentukan individu dengan kualifikasi ulul albab, serta pembentukan tatanan masyarakat yang diridhoi Allah SWT. Demi mewujudkan pencapaian tersebut sangat ditentukan oleh kompetensi lembaga dalam melakukan aksi di dunia nyata.

Kompetensi aksi di dunia nyata, bagi sebuah organisasi juga dipengaruhi oleh usia organisasi tersebut. Bila dianalogikan sebagai manusia, manusia memiliki fase kematangan dalam berkontribusi ke masyarakat. Fase tersebut terjadi saat manusia menginjak usia tertentu. Di sisi lain, kontribusi tersebut bisa menurun seiring datangnya usia tua, kaitannya dengan HMI, apakah usia 68 tahun masuk kategori matang atau kategori tua bagi organisasi ini?

Kata tua dan matang bagi sebuah organisasi, memiliki implikasi berbeda di lapangan. Sekilas pembahasan ini mungkin terlihat remeh, bahkan kader hijau hitam bisa saja menganggap bahwa hal ini tak lebih dari permainan kata belaka, akan tetapi, yang perlu disadari, istilah tua dan matang tidak hanya mendatangkan perbedaan implikasi aksi di lapangan, minimal dilihat dari perbedaan power di antara dua kategori tersebut, namun juga berbeda secara makna dan tafsir makna, perbedaan makna dan tafsir ini kemudian menyebabkan perbedaan gerak di lapangan.

Jika komunitas hijau hitam, dianggap telah semakin tua, maka hal itu berarti, tenaga organisasi ini mulai berkurang, powernya juga berkurang, termasuk tingkat kekritisannya dalam menanggapi realitas di sekitarnya. Kaum tua biasanya lebih bijaksana menanggapi masalah, namun tidak jarang kebijaksanaannya itu, secara tak sadar, mengantarnya pada pembenaran  terhadap status quo. Kata ‘tua’ bisanya juga berkaitan dengan tahap menutup usia. Bila HMI dianggap tua, maka berarti sebentar lagi ia juga akan tutup usia. Lalu bagaimana dengan tujuan HMI, khususnya tentang mewujudkan insan ulul albab, serta membentuk tatanan masyarakat yang diridhoi Allah SWT, apakah sudah terwujud? Atau minimal sudah hampir terwujud? Tentu masih jauh panggang dari api. Jika begitu, layakkah HMI menurunkan powernya lalu menutup usia saat tujuannya belum tercapai? tentu tidak, dalam beberapa kesempatan, di forum nasional HMI, sering mengemuka pendiskusian, bahwa organisasi ini suatu waktu bisa saja dibubarkan, hal itu terjadi saat HMI dianggap telah mencapai tujuannya.

Sudut pandang lain akan muncul, saat kita memilih menyematkan kata “matang.” Seiring dengan usia organisasi di angka 68, kematangan berarti mengharuskan organisasi untuk memulai kerja secara lebih baik. Hal ini bisa diibaratkan, bahwa di masa sebelumnya,  organisasi ini pernah melakukan kekeliruan terkait pilihan hidupnya, karena memang saat itu ia masih labil, belum berusia matang, namun saat kematangan telah dicapai, maka kekeliruan tersebut tidak perlu diulang, bahkan ia menjadi ibrah tersendiri untuk masa mendatang. Istilah “semakin matang” bagi ‘hijau hitam’ juga menandaskan bahwa organisasi ini belum sampai pada tujuan mulianya, masih dalam tahap proses, dan kerja yang berlangsung dalam proses tersebut akan lebih baik seiring dengan semakin kayanya pengalaman yang didapat, serta semakin mendalamnya analisis terhadap realitas dunia. Selain itu, bila kita meyakini HMI semakin memasuki tahap kematangan, maka hal itu juga berarti kekuatan gerakan HMI semakin meningkat dari masa sebelumnya, ia akan semakin maksimal mejalankan perannya dalam ranah mahasiswa, bangsa, dan umat.

Angka 68 tahun bagi HMI, seharusnya dilihat sebagai pertanda kematangan, bukan ketuaan. Hal ini penting demi menjaga semangat dan aksi gerakan, tetap bergelora dan masif. Hijau hitam memang perlu berlaku bijak, khususnya dalam aspek tertentu, namu sifat bijaksana tersebut tidak boleh memandulkan nalar kritisnya, terlalu dini untuk menganggap HMI telah berusia tua, bila dikomparasikan dengan usia manusia, anggapan tua mungkin bisa diterima, namun perlu diingat, HMI bukan manusia, namun ia adalah wadah tempat berkumpulnya manusia dengan semangat tinggi, sehingga yang menghidupkan HMI adalah semangat manusia yang bernaung di bawahnya. Semangat itu bisa mewujud dalam kuatnya idealisme dan militansi gerakan, manusia yang memilih tinggal di rumah ‘hijau hitam’ selalu berganti dari waktu ke waktu. Bila satu generasi membuka pintu keluar, maka segera generasi baru akan mengetuk pintu masuk. Pemilihan segmen mahasiswa yang masih berjiwa muda sebagai anggotanya, boleh jadi akan menjadikan lembaga ini selalu tampak muda dan matang, walaupun lembaran waktu bergantian menyapanya, karena ia akan selalu hidup dari semangat muda para anggotanya.

KOHATI Gorontalo Aksi Dukung 14 Februari Hari Berhijab Sedunia

Aksi Korps HMI Wati Cabang Gorontalo (13/02/2015)
Aksi Korps HMI Wati Cabang Gorontalo (13/02/2015)

HMINEWS.Com – Sebagai upaya penolakan terhadap Valentine’s Day (hari valentine) yang sering digembar-gemborkan oleh kaum muda setiap tahunnya sebagai hari Kasih sayang, Korps HMI Wati Cabang Gorontalo (KOHATI MPO), hari ini (13/02) menggelar aksi damai sebagai bentuk protes dan perlawanan terhadap tradisi Barat yang telah menghegemoni Umat Islam khususnya kalangan/pemuda Islam yang telah terhipnotis dengan Budaya ala Barat dengan kemasan perayaan ‘Hari Kasih Sayang.’

KOHATI Cabang Gorontalo memandang bahwa hari Valentine sebagai hari kekacauan psikologis bagi remaja khususnya bagi kaum muda Islam yang sudah terkena virus ini. Dalam Orasinya, Maslan Yusuf selaku Ketua Umum Korps HMI Wati Cabang Gorontalo mengatakan bahwa “Kita sebagai umat Islam tidak membutuhkan momentum Valentine untuk megekspresikan kasih sayang, karena pada hakikatnya Islam sebagai rahmatan lil alamin menjadikan setiap hari adalah sebagai hari kasih sayang”, kata lulusan LK 2 Makassar ini.

Senada dengan yang disampaikan oleh Hisna dalam orasinya mengatakan bahwa “Kasih sayang dalam Islam diwujudkan dengan perintah berhijab/menutup aurat sebagaimana banyak dijelaskan dalam kitab suci Umat Islam sebagai benteng pertahanan Iman bagi para Muslimah dalam melindungi diri sendiri, bukan menebar maksiat dalam kemasan kasih sayang dengan cara hura-hura dan seks bebas yang sudah menjadi trend dikalangan para pemuda saat ini, dan Kami berharap agar momen 14 Februari dijadikan sebagai Hari Berhijab sedunia sebagai simbol perlawanan terhadap kemaksiatan yang meracuni umat Islam saat ini, tegas Mahasiswa Sejarah UNG tersebut.

Aksi yang diikuti seluruh anggota KOHATI Cabang Gorontalo tersebut berlangsung didepan Kampus Universitas Negeri Gorontalo dan banyak menyita perhatian warga kota gorontalo yang lewat didepan kampus. (*fdi)

Milad HMI, Pengurus Cabang Palopo Gelar Intermediate Training

HMINEWS.Com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) kini gelap berusia 68 tahun sejak diprakarsai oleh Lafran Pane 5 Februari 1947 silam. Tepat dua tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 1945.

Dalam rangka memperingati hari lahirnya HMI, Pengurus Cabang Palopo menggelar Milad HMI ke 68 dan dibarengkan dengan pembukaan Intermediate Training (LK II) Regional Se-Indonesia Timur.

Acara yang digelar di Gedung Veteran Kota Palopo ini (5/2/2015), dihadiri oleh Kapolres Kota Palopo, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Palopo, Ir. Muh. Kasim Alwi, dan Pengurus KAHMI Kota Palopo, Haedar Djidar, SH.MH.

KAHMI Kota Palopo berharap HMI semakin memantapkan perkaderan serta pembinaan generasi muda di Kota Palopo. Tentu upaya tersebut tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan. Namun dengan banyaknya gagasan yang berkualitas dan kuatnya silaturahim diantara keluarga besar HMI bisa berperan aktif dalam menyelesaikan persoalan kebangsaan.

“Milad HMI adalah waktunya bersilaturahim dengan sesama kader baik yang sudah alumni, senior dan yunior”, kata Haedar Djidar dalam sambutannya.

Sekda Kota Palopo, Ir. Muh. Kasim Alwi menambahkan bahwa dalam pembinaan masyarakat dan generasi muda kota Palopo dibutuhkan kerjasama seluruh elemen untuk terlibat.

“Sinergitas pemuda dan mahasiswa (HMI) dengan pemerintah sangat diharapkan terutama dalam hal pembinaan generasi muda, seperti kegiatan LK II ini”, ujar Muh. Kasim Alwi, Sekretaris Daerah Kota Palopo. .

Ketua Umum HMI Cabang Palopo, Akbar A., dalam sambutannya menghimbau seluruh kader menjadikan Milad HMI sebagai memontum dan refleksi serta bisa mengambil manfaat positif dari perjalanan pemrakarsa berdirinya HMI, Lafran Pane.

“Milad sebagai momentum, karena kader bisa bersilaturahim dengan keluarga besar HMI, alumni senior dan yunior. Baik dalam pengertian bertemu berjabat tangan maupun gagasan untuk perubahan”.

“Milad juga diperingati sebagai medium refleksi kedirian kader dan lembaga, sejauhmana kerja-kerja kelembagaan ke arah pencapaian cita dan perkaderan HMI”.

Karena itu HMI Cabang Palopo akan menyelenggarakan Intermediate Training (LK II) Regional Se-Indonesia Timur. Diantara pesertanya berasal dari HMI Cabang Palopo, Majene, Bau Bau dan cabang-cabang di Indonesia timur lainnya. Kegiatan ini akan berlangsung selama 10 hari, tanggal 5 – 15 Februari 2015. (Efsy)

Milad HMI ke 68, Sekda : Pemerintah Palopo Apresiasi LK II HMI

HMINEWS.Com – Sekretaris Daerah Kota Palopo, Muh. Kasim Alwi mengapresiasi perkaderan Himpunan Mahasiswa Islam di Kota Palopo.

“Pemerintah mengapresiasi organisasi seperti HMI yang masih peduli terhadap (pembinaan) kaum muda”, ujar Muh. Kasim Alwi saat menghadiri acara Milad HMI dan Pembukaan LK II HMI Cabang Palopo di Gedung Veteran Kota Palopo, Kamis (5/2/2015).

Menurutnya, Himpunan Mahasiswa Islam adalah diantara organisasi yang masih konsisten dalam pengembangan sumberdaya manusia di kota Palopo dengan kegiatan-kegiatan perkaderan yang sangat bermanfaat.

Tidak hanya itu pelatihan kepemimpinan model LK II HMI bisa mengorbitkan calon pemimpin di masa mendatang. Kegiatan ini juga bisa membantu pemerintah memberi pencerahan kepada masyarakat dan generasi muda khususnya.

Memang harus diakui keterlibatan seluruh masyarakat sangat dibutuhkan dalam pembangunan dan kemajuan kota Palopo di masa mendatang. Oleh karena itu kepedulian (HMI) terhadap pembinaan generasi muda harus diapresiasi dan bisa bersinergi dengan pemerintah.

“Sinergitas pemuda dan mahasiswa (HMI) dengan pemerintah sangat diharapkan terutama dalam hal pembinaan generasi muda, seperti kegiatan LK II ini”, katanya dalam sambutan saat mewakili Walikota Palopo. (Efsy).

Milad HMI-68; Menjaga Konsistensi Perjuangan

Kita kembali dapat menyaksikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hadir dalam perjalanan bangsa kita hingga hari ini. HMI yang lahir pada 14 rabiul awal 1366, atau bertepatan pada 5 febuari 1947. Jadi jika dihitung sejak kelahirannya HMI berumur 68 tahun tepat pada 5 Februari 2015 ini. Merupakan masa yang sangat lama selama 68 tahun HMI telah menghiasi warna warni dinamika bangsa hingga sejauh ini. HMI yang dalam kelahirannya diprakarsai oleh Lafran Pane beserta 13 mahasiswa lainnya dikampus STI (UII saat ini) Yogyakarta menyadari saat itu perlu hadirnya semangat perjuangan mahasiswa Islam dalam rangka mengawal bangsa dan negara, sebab saat itu belum ada pergerakan bernafaskan Islam yang notabene mahasiswa. Sebab melihat semangat perjuangan kebangsaan dan Islam, maka tujuan pertama HMI saat itu adalah “pertama, Mempertahankan NKRI dan mempertinggikan derajat rakyat Indonesia. Dan kedua, menegakkan dan megembangkan ajaran agama Islam”. Sehingga dalam asas HMI saat itu pun dicetuskan Islam.

Lafran pane berpandangan Islam bukan saja bicara ritualisme ibadah semata, tapi Islam juga  merupakan spirit  cara pandang dan sikap hidup. Spirit Islam inilah yang oleh Lafran Pane dan sahabat seperjuangannya dijadikan pijakan dalam perkaderan dan perjuangan HMI. Spirit Islam ini pula yang menjadikan fungsi HMI sebagai organisasi perkaderan digelorakan hingga kepenjuru kampus didaerah sehingga HMI dalam waktu yang tidak lama telah tersebat ke berbagai wilayah di Indonesia. Spirit Islam ini juga yang dijadikan dasar HMI dalam menjalankan perannya sebagai organisasi perjuangan/perrgerakan.

Berangkat dari spirit Islam yang menjadi azas HMI, organisasi ini ternyata telah mampu  melewati fase-fase penting dalam dinamika kebangsaan kita. Beberapa diantaranya adalah:

Fse awal masa kemerdekaan tahun 1947 an. HMI  turut terjun kegelanggang pertempuran melawan agresi yang di lakukan oleh Belanda, membantu pemerintah baik memegang senjata bedil dan bambu runcing, sebagai staf, penerangan, penghubung. Untuk menghadapi pemberontak di Madiun 18 september 1948, yang saat itu Ketua PPMI sekaligus Wakil ketua PBHMI Ahmad Tirtosudiro membentuk corps mahasiswa (CM).

Fase berikutnya adalah tahun 1965, dimana tahun itu adalah periode disaat pergolakan PKI kian runcing. Presiden Soekarno yang ditengarai berkolaborasi dengan PKI saat itu turun tahta sebab oleh gerakan mahasiwa, rakyat dan peranan tentara yang dikomando oleh Brigjen Soeharto saat itu. HMI yang masa itu sudah ada di gerakan intra kampus turut sumbangsih baik melalui gerakan formal maupun non formal dalam kampus. Disisi lain HMI sebagai gerakan ekstra kampus mengorganisir dirinya dan kantong gerakan yang dimilikinya turun kejalan.

Fase tahun 1974, periode ini tidak kalah pentingnya sebab dimasa ini mulai gerakan kontra Presiden Soeharto. Dimana puncaknya persitiwa malapetaka 15 Januari 1974 meletus. Akibatnya 11 mahasiswa menjadi korban meninggal akibat brutalnya tentara yang bertindak represif menghalau aksi protes mahasiswa.

Fase berikutnya adalah tahun 1980, di tahun inilah yang menjadi sejarah pahit dengan terbelahnya HMI menjadi dua; HMI Majelis Penyelamat Organisasi (MPO) dan HMI Diponegoro (letaknya di Jalan Diponegoro). Peristiwa terjadi karena diterapkannya asas tunggal Pancasila oleh Presiden Soeharto. Dimana penerapan asas tunggal pancasila ini berlaku untuk semua organisasi maupun partai tanpa terkecuali. Menjadi perdebatan panjang di internal HMI antara yang pro dan kontra dengan kebijakan Sohearto tersebut, hingga pada akhirnya pasca diselenggarakannya kongres ke-15 HMI di Medan  pada tahun 1983.  Tepatnya Pada tahun 1986 HMI yang menerima azas tunggal Pancasila dengan pertimbangan-pertimbangan politis beserta tawaran-tawaran menarik lainnya, rela melepas azas Islam sebagai azas organisasinya. Selanjutnya HMI pihak ini disebut sebagai HMI DIPO,. Sedangkan HMI yang tetap mempertahankan azas Islam kemudian dikenal dengan istilah HMI MPO. Peristiwa perpecahan HMI telah mewariskan  dua semangat berbeda yang  menyeruak dan makin nampak. HMI Diponegoro yang tumbuh selalu dekat dengan kekuasaan menjadikan tipologi gerakannya kuat dalam  tradisi politik. Sementara HMI MPO yang lahirr dari semangat mempertahankan ideologi Islam tumbuh menjadi organisasi yang menjaga kuat nilai independensi dan tradisi nila, baik dalam laku pribadi sebagai  kader  maupun secara komunal organisasi. Hingga kini dua HMI masih tetap berada pada jalurnya masing-masing.

Yang menarik kemudian adalah HMI MPO, yang tumbuh dalam tekanan pemerintahan Orde Baru saat Soeharto masih berkuasa tetap mampu bertahan dalam menjalankan   perkaderannya, meskipun dalam konteks pergerakan  mengalami kendala yang cukup rumit, sebab eksistensi HMI MPO terancam  ketika tampil dipermukaan, HMI MPO dianggap oleh pemerintah sebagai gerakan  subversive.

Fase 1998, di tahun  1990 Posisi HMI MPO sebagai gerakan underground. Hal ini membuat gerakan sayap HMI MPO muncul dibeberapa kota besar  seperti Jakarta HMI MPO membuat FKMIJ, di Jogjakarta ada LMMY, di Makasar ada FKMIM. Selain itu aktifis HMI MPO juga banyak berjuang lewat lembaga-lembaga kampus seperti DEMA, BEM, dan lain sebagainya. Dan menjadi sebuah kebanggan besar dari konsistensi gerakan HMI MPO saat Orde Baru tumbang dengan ditandainya Soeharto menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Presiden RI saat itu.

Fase pasca reformasi HMI MPO kini bermetamorfosa bukan lagi menjadi gerakan underground yang kerap mendapatkan ancaman dari pemerintah. Di era keterbukaan dan demokratis saat ini tantangan HMI MO adalah justeru dari dalam. Jika dulu tantangannya adalah tekanan saat ini tantangannya adalah godaan. Banyak sekali godaan yang menjangkiti cara pandang mahasiswa sekarang yang ingin cepat lulus, berorientasi kuat kepada karier an sich dan budaya pop culture yang bergaya hidup hedonis menjadi tantangan tersendiri baghi aktivis saat ini dalam menifestasi perkaderan maupun pergerakannya. Ajakan kepada mahasiswa seolah berlalu begitu saja, sikap apatisme kian tinggi dikalangan mahasiswa. Bahkan tidak sedikit yang nyinyir ketika ada kelompok mahasiswa yang aksi turun kejalan.

Selain tantangan tersebut, era globalisasi yang kita hadapi saat in i telah melahirkan banyak stigma buruk terhadap Islam. Gerakan Islam bahkan ajaran islam dianggap membahayakan dalam mkobteks tertentu, akhirnya muncul Islam phobia. Persoalan-persoalan demikian tentu menjadi pekerjaan bersama ummat Islam khusus gerakan Islam yang masih memiliki nalar kritis dan keberpihakan kepada ummat. Sangatlah penting bagi HMI sebagai organisasi mahasiswa Islam tertua dan terbesar di Indonesia untuk mengambil peran sentral meredam stigma yang demikian. HMI harus mengkampanyekan terus menerus paradigma Islam rahmatan lil ‘alamin –Islam yang moderat, toleran, dan antikekerasan.

Serlain daripada persoalan diatas itu, tentu yang selalu menjadi focus utama HMI adalah persoalan klasik yang selalu ada yakni kemiskinan, keterbelakangan, ketidakadilan menjadi perhatian yang tidak boleh pernah HMI lupakan sampai kapanpun.

Maka, momentum meme;peringati Milad HMI ke-68, semoga HMI tetap istiqamah dalam derap langkah dan perjuangannya menjadi inisiator dan katalisator perubahan untuk kemaslahatan ummat Islam dan bangsa Indonesia. Dirgahayu HMI ke-68!

Bahagia HMI…..

Puji Hartoyo Abubakar

Pesan-pesan JK dalam Milad 68 Tahun HMI

HMINEWS.Com – Milad 68 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang digelar PB HMI di JCC Senayang berlangsung meriah. Ribuan kader HMI dari berbagai kota serta ratusan alumni terlihat memadati JCC, Kamis (5/2/2015) malam.

Dalam acara milad atau dies natalis HMI itu juga dianugrahkan HMI Award kepada sejumlah alumni yang dinilai telah berjasa bagi HMI, baik di masa lalu maupun masa kini. Sedangkan untuk orasi disampaikan Wapres Jusuf Kalla (JK) dan Ketua BPK, Harry Azhar Azis.

JK menyampaikan candaan di awal pidatonya, seperti mengatakan bahwa ‘HMI naik kelas’, karena kini menyelenggarakan milad di JCC dengan biaya mahal, sedangkan sebelum-sebelumnya biasa digelar di masjid atau tempat-tempat lain yang sederhana. Setelah itu ia menyampaikan pesan-pesan bagi generasi muda HMI.

Menurut JK, dalam ber-HMI ada 3 cita-cita kader sekaligus yang berjalan beriringan, yaitu cita-cita pribadi, cita-cita kebangsaan dan cita-cita keislaaman. Ia juga berpesan agar gerakan HMI lebih progresif lagi dan tidak mengidentikkan diri hanya pada demonstrasi.

“Seakan-akan digambarkan mahasiswa itu tujuannya di jalan, demonstrasi, mengoreksi penguasa. Walaupun itu perlu, tapi bangsa ini membutuhkan saintis, orang pintar, insinyur, profesor, profesional, orangorang yang punya keahlian, birokrat-birokrat hebat, pemimpin, pengusaha-pengusaha besar.”

“Jadi HMI bukan hanya yang digambarkan secara sederhana seperti tadi. Jadi jangan hanya diberikan kesan perjuangan HMI hanya jika berdiri di Kopaja melambaikan bendera, bukan… Jangan digambarkan HMI sesederhana tadi saja. terlalu sederhana untuk organisasi sebesar HMI.”

JK pun mengakui, jumlah anggota HMI saat ini memang besar. Sebagaimana disampaikn Arief Rosyid Hasan, ada 215 cabang HMI se-Indonesia, 600.000 kader, serta 6 juta alumni.

“Kita memang banyak, tapi kita perlu prestasi yang tinggi lagi, dan itu bisa kita peroleh dari pengetahuan, pengetahuan kita peroleh dari pendidikan. Kita butuh lebih bnyak lagi inovasi2 besar, karena dunia sekarang dan yang akan datang kemajuannya berdasarkan ilmu pengetahuan,” lanjut wapres yang punya akun @Pak_JK itu lagi.

“Insan akademis pencipta dan pengabdi, bisa mencipta jika pintar, bisa mengabdi karena ikhlas. Pintar dan ikhlas adalah kunci HMI besar. Karena itulah saya selalu memimpikan kembali, mendorong kembali kejayaan HMI di kampus-kampus besar. Bukan hanya di sini tapi juga di luar negeri.”

Tak lupa ia mengkritik kongres HMI ‘Dipo’ yang lalu yang berlangsung hingga sebulan. “Jangan lagi terulang, berkongres lebih dari satu bulan. Datang ke alumni mengemis-ngemis untuk  perpanjangan waktu kongres. Berilah contoh yg baik kepad bangsa ini. Berikanlah contoh yg baik. lihatlah, karena jika anda generasi muda berkonflik, maka anda membawa konflik untuk 25 tahun yang akan datang.”

Pengurus Komisariat FPMIPATI Dilantik Ketum HMI Semarang

HMINEWS.Com – Para Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) Komisariat FPMIPATI Universitas PGRI Semarang dilantik. Ketua Umum HMI Cabang Semarang Rina Sunia Setya sendiri yang melantik jajaran pengurus tersebut di Serambi Masjid Nurul Huda Universitas PGRI Semarang, Jumat (6/2/2015) siang.

Ketua Umum HMI Komisariat FPMIPATI, Zakaria Alfarizi,  dalam sambutannya mengatakan; “HMI dikenal dengan pendidikannya yang baik. Baik dari segi perkaderan maupun jaringannya. Semoga di kepengurusan yang saya nakhodai bisa membawa MIPA lebih baik lagi.”

Selain itu, Ketua HMI Cabang Semarang  berpesan “Di usia HMI yang sudah tua, teruslah menggebrakkan semangat mengabdi untuk umat. Umat terkecil HMI Komisariat FPMIPATI adalah kampus. Janganlah berkutat pada internal komisariat terus menerus, karena dampak yang akan terjadi adalah kesadaran sosial yang terbengkalai.”

Setelah pelantikan dilanjut diskusi dengan tema “Quo Vadis pendidikan di Indonesia, Kuantitas ataukah Kualitas?” dengan pemateri oleh Sigit Ristanto S.T.,M.Sc (Alumni HMI, Dosen Univ. PGRI Semarang) dan Anwar Yasfin, S.Pd ( Pengurus HMI Cabang Semarang).

Noor Laila

Pengurus HMI Jaksel Dilantik

HMINEWS.Com – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI -MPO) Cabang Jakarta Selatan dilantik. Pelantikan kepengurusan yang diketuai oleh Adharu Dhahiru tersebut dilangsungkan di Masjid Al Hidayah, Cilandak, Kamis (5/02/2015) malam.

Jajaran pengurus dilantik oleh Bambang Suherly dari Komisi PAO PB HMI, ditemani Wahyudin. Usai pelantikan acara dilanjut dengan diskusi perkembangan organisasi dan bagaimana menghidupkan ghirah perjuangan pengurus serta kader untuk estafeta kepemimpinan di HMI.

Dalam kesempatan tersebut, Bambang Suherly menyampaikan bagaimana memenej organisasi dengan baik, bagaimana mengelola perkaderan seperti LK1, LK2 dan training-training atau perkaderan lainnya.

“Ini tentunya harus dibarengi dengan kerjasama tim dalam kepengurusan yang solid,” tandasnya.

Selain itu, selama di HMI yang harus diniatkan adalah sebagai ladang pengabdian, buakn mencari nama. “Pengabdian itulah yang sudah seharusnya menjadi landasan bagi kader-kader HMI,” lanjutnya.

Menyambung Bambang, Wahyudin berpesan agar tema dan agenda cabang disinkronkan dengan tema PB. Hal itu agar terjadi sinergi sehingga lebih memudahkan untuk mewujudkan cita-cita organisasi.