Badko Sulambanusa Gelar LK II di Lombok Barat

lombok1HMINEWS.Com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI -MPO) Badko Sulambanusa menggelar Latihan Kader II (LK II) atau intermediate training HMI se-Indonesia Timur. HMI MPO Cabang Lombok Barat menjadi panitianya.

Intermediate training ini dimulai tanggal 20 April dan direncanakan berlangsung hingga 28 April 2015, bertempat di Pondok Pesantren Hidayatullah Lombok Barat, NTB.

Sebagaimana lazimnya, para peserta memperdalam materi-materi dan wacana keislaman, kemahasiswaan, kebangsaan, ke-HMI-an, serta menginisiasi berbagai terobosan atau solusi bagi setiap permasalahn dari tiap-tiap hal yang dibahas itu.

Memasuki hari keenam pelaksanaan LK II, Ahad (26/4/2015) pagi, para peserta sampai pada pembahasan Strategi Pengembangan SDM dan Pembangunan Masyarakat Kontemporer yang dipandu oleh Ketua Badko Sulambanusa, Zaenal Abidin Riam.

Kemudian dilanjut oleh Paox Iben, penulis novel Tambora 1815. Para peserta mengikuti rangkaian acara ini dengan penuh khidmat.

Alif Babuju

HMI Cabang Manado Gelar Dialog Publik Sikapi ISIS

manadoHMINEWS.Com –  Issu ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) makin memanas, bahkan menimbulkan persepsi yang berbau paradoks dan kontroversial. Makin berkembang dan menjadi hal yang menakutkan di tengah masyaraka.

Di Sulawesi Utara (Sulut), geliat Isu ISIS beberapa pekan terakhir pun sempat menyita perhatian publik, bahkan Pemprov Sulut bersama TNI/Polri serta Kabupaten/Kota di Sulut, sampai-sampai melakukan deklarasi penolakan terhadap Kelompok tersebut.

Melihat hal tersebut, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) Cabang Manado, melalui Komisariat Eksakta, yang bekerja sama dengan Dewan Mahasiswa (Dema) IAIN Manado, yang dinakhodai oleh Supriadi Haribay, menggelar Diskusi Publik, yang bertempat di Aula IAIN, Jum’at (24/04) sore.

Kegiatan ini juga dihadiri Kanit Intel Polda Sulut mewakili Kapolda. Diskusi bertajuk ‘Benarkah ISIS Ada?’ ini, berlangsung alot dan dramatis. Pasalnya, Ketiga Narasumber masing-masing Hi. Amir Liputo (Anggota Deprov Sulut), Dr. Delmus Puleri Salim (Dosen IAIN Manado) dan La Fendi Tulusa (Wasekjen PB HMI), memberikan pandangan yang berbeda dalam membedah wacana ISIS yang hangat diperbincangkan masyarakat Dunia.

Amir Liputo misalnya, ia mengatakan, secara umum ISIS memang ada, tapi khususnya di Indonesia keberadaannya belum teridentifikasi. Oleh karena itu, isu tentang ISIS terlalu berlebihan dan boombastis.

“Jika ISIS memang ada, maka perlu kita waspadai. Kemudian, aliran sesat lain seperti Syi’ah, yang tumbuh subur di Indonesia dan lagi-lagi mengatasnamakan Islam, juga harus kita antisipasi pergerakannya. Karena itu sangat bahaya. Dan dengan tegas saya mengatakan bahwa ISIS itu bukan Islam,” ucap Aleg Provinsi Sulut dari PKS ini.

Berbeda dengan Hi Amir yang mengatakan ISIS bukan Islam dan dengan terang-terangan menyatakan sikap anti Syi’ah, Dr Delmus Puleri Salim menganggap, perkataan itu merupakan pupuk diskriminasi yang sangat bahaya jika diserap dengan pengetahuan yang tak mumpuni.

“Ideologi ISIS seperti halnya ideologi-ideologi kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam. Dalam ideologi ini, lebih baik mati dan mendapatkan bidadari, ketimbang mati namun mendapatkan dosa. Menurut saya, diskriminasi terhadap kelompok lain akan bahaya jika dipahamkan dalam forum seperti ini. Oleh karena itu, saya takut mengatakan bahwa kelompok lain itu sesat karena nantinya persepsi masyarakat terhadap IAIN Manado akan keliru,” kata Dr Delmus yang pernah menimba ilmu di negeri Kangguru (Australia) ini.

Sedang, dalam pemahaman narasumber yang terakhir, yakni La Fendi Tulusa, aliran-aliran yang mengancam kedaulatan NKRI (seperti ISIS) disebabkan kebencian dari berbagai kelompok satu dengan yang lainnya. Menurutnya, “Perlu digaris bawahi. Isu ISIS di Indonesia merupakan peralihan isu politik di negara ini. Sebab, pemilihan kepala daerah sedang akan berlangsung. Oleh karena itu, perlu ada peninjauan benar tidaknya keberadaan ISIS di Indonesia,” tuturnya sambil mengelus kopiah yang berada di kepalanya.

Di tengah situasi yang sempat memanas akibat saling debat argumen antara narasumber, para peserta yang datang dari berbagai Universitas dan Institut yang ada di Sulut, sibuk menyusun konsep pertanyaan yang akan ditanyakan.

Untuk diketahui, ISIS adalah sebuah ‘negara’ dan kelompok militan jihad yang tidak diakui di Irak dan Suriah. Kelompok ini dalam bentuk aslinya terdiri dari dan didukung oleh berbagai kelompok pemberontak Sunni, termasuk organisasi-organisasi pendahulunya seperti Dewan Syura Mujahidin dan Al-Qaeda di Irak (AQI), termasuk kelompok pemberontak Jaysh al-Fatiheen, Jund al-Sahaba, Katbiyan Ansar Al-Tawhid wal Sunnah dan Jeish al-Taiifa al-Mansoura, dan sejumlah suku lain.

Komisi PAO PB HMI Imbau Cabang Masifkan Peran Pengader

HMINEWS.Com – Menjelang Pleno III, Komisi PAO PB HMI MPO mengimbau cabang-cabang HMI agar  makin memasifkan peran pengader dalam membangun cabang yang lebih unggul dalam intelektualitas dan mematangkan proses perkaderan.

Demikian disampaikan Bambang Suherly, staf Komisi PAO PB HMI MPO. Ia berharap agar tiap cabang HMI MPO bekerjasama dan bersinergi dalam program sesuai tema PB agar pengurus-pengurus cabang yang baru yang akan mengikuti Pleno III dan Kongres nantinya tidak kosong dari wacana dan bahan tentang perkembangan  gerakan organisasi ini.

Lebih dari itu, lanjutnya, soliditas sesama pengurus cabang sangat diharapkan untuk eksistensi cabang HMI di daerah masing-masing.

“Penyehatan dan soliditas tersebut akan meningkat apabila ketua-ketua cabangnya mampu mengayomi kadernya dengan berbagai aksi dan program kerja yang membuat semangat kekeluargaan dan berorganisasi kadernya tumbuh dengan baik,” kata Bambang Suherly (17/4/2015).

Ia juga menyayangkan adanya dinamika yang tidak sehat di sejumlah cabang. Menurutnya dinamika yang terjadi di internal masing-masing itu sebenarnya sah-sah saja, tetapi jika semakin membesar maka akan timbul konflik dan prahara.

“Tugas pengader di tiap-tiap cabanglah yang membantu ketua-ketua  HMI cabang itu memenej dinamika dan konflik yang terjadi. Sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan, tiap kader dituntut untuk membenahi diri sebelum berbicara ke luar,” paparnya.

Komisi PAO PB HMI berharap cabang-cabang HMI yang akan mengikuti Pleno III yang akan digelar tak lama lagi di Cabang Yogyakarta, membuat setting pergerakan terhadap issu-issu di daerah masing-masing maupun nasional.

Tak hanya itu, berkenaan dengan pelaksanaan Pemilukada serentak di tahun ini, Komisi PAO juga mengimbau cabang-cabang HMI MPO memberikan pendidikan politik yang sehat kepada masing-masing kader.

HMI MPO Cabang Makassar Akan Gelar Sekolah Gerakan

HMINEWS.Com – Mahasiswa dan gerakan sosial meruapakan dua bagian tak terpisahkan, kesadaran ini juga terbangun di kalangan Pengurus HMI MPO Cabang Makassar. Ditambah lagi, dalam konteks gerakan mahasiswa, HMI MPO Cabang Makassar memiliki sejarahnya yang panjang.

Demi menjaga agar tradisi gerakan tetap lestari, Pengurus HMI MPO Cabang Makassar akan mengadakan ‘sekolah gerakan,’ rencananya kegiatan ini akan digelar akhir April 2015. Format kegiatan dibagi ke dalam dua bagian, bagian pertama adalah indoor, dan bagian ke dua adalah outdoor.

“Sebagai langkah awal, sekolah gerakan tahap pertama ini dikhususkan kepada Kader HMI MPO, pendaftaran telah dibuka dari sekarang, tak ada pungutan biaya bagi kader yang ingin mengikuti kegiatan ini, secara khusus kegiatan ini dihandle oleh Bidang Eksternal HMI MPO Cabang Makassar, bidang eksternal juga telah melakukan pertukaran pikiran dengan beberapa pihak guna lebih mematangkan desain kegiatan,” kata Sahril Abdul Salam, Ketua Bidang Eksternal HMI MPO Cabang Makassar (21/4/2015).

Menurutnya kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman gerakan secara utuh pada aspek teori dan praktik kepada para kader. Di sisi lain kegiatan ini juga berguna untuk memupuk militansi gerakan.

Sedangkan menurut Ketua Umum HMI MPO Cabang Makassar, Nasrun Sibela, sekolah gerakan diharapkan mampu meluruskan pemahaman beberapa kader yang masih sempit dalam memaknai gerakan.

“Kami mengharapkan semua kader dapat berperan aktif dalam kegiatan ini,” demikian ia berharap.

Refleksi Hari Kartini, KOHATI Gorontalo (MPO) Turun ke Jalan

HMINEWS.Com – Baru selesai melakukan kegiatan Penataran KOHATI beberapa waktu lalu, Korp HMI Wati Cabang Gorontalo semakin bergeliat, hal ini dibuktikan dengan melakukan aksi memperingati Hari Kartini tahun 2015 yang jatuh tepat tanggal 21 April 2015.

Dalam aksinya KOHATI Cabang Gorontalo menilai bahwa Hari kartini bukan sebagai ajang untuk menuntut kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, tetapi mengenang kembali perjuangan Raden Ajeng Kartini yang telah memperjuangkan hak-hak kaum perempuan.

Dalam peringatan Hari Kartini melalui aksi seperti ini merupakan salah satu bentuk perhatian dan kepedulian kita sebagai perempuan terhadap cita-cita yang telah diperjuangkan Raden Ajeng Kartini, khususnya dalam bidan pendidikan, kata salah satu orator aksi, maka sepatutnya kaum perempuan harus mandiri dalam bidang pendidikan seperti yang dicita-citakan Ibu Kartini agar terbebas dari ketertindasan dan bangkit untuk mempresentasikan eksistensinya sebagai perempuan untuk mengejewantahkan kedudukan dan tanggung jawabnya dalam kehidupan sosial, lanjutnya.

Sebagai Koodinator Aksi, Maslan Yusuf menyampaikan dalam Orasinya bahwa “peringatan hari Kartini ini kami selaku kaum perempuan menuntut pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan untuk kaum perempuan dan membebaskan kaum perempuan dari ketertindasan berdasarkan nilai-nilai perjuangan Ibu Kartini dan memperjuangkan apa yang menjadi hak-hak perempuan”, kata Ketua Umum Kohati Cabang Gorontalo tersebut.

Sementara itu Reflin Hamsiah mengatakan bahwa “memperingati Hari Kartini bukan berarti menuntut kesetaraan tetapi menuntut sebuah keadilan antara kaum perempuan dan kaum laki-laki. Sehingga yang menjadi tuntutan utama dari Korps HMI Wati yaitu, bebaskan Tenaga Kerja Wanita (TKW) dari ketertindasan, pemerintah harus memperhatikan hak-hak kaum perempuan dan bebaskan kaum perempuan dari sistem patriarki. Karena perempuan juga manusia yang dibekali potensi untuk perkembangan dan membentuk suatu peradaban”, sehingga moment Hari Kartini jangan disalah tafsirkan, kata lulusan LK II Gorontalo tersebut. Keadilan “yes” kesetaraan “no”, tutupnya.

Aksi yang berlangsung dengan damai tersebut mengambil rute Lapangan Catur UNG, depan Gerbang Kampus UNG dan RRI. Masa aksi yang tergabung dalam aksi hari kartini tersebut, yaitu seluruh anggota Korps HMI Wati (KOHATI MPO) Cabang Gorontalo. (*Maslan)

Menakar Ujian Nasional; Antara Ujian Siswa dan Ujian Guru

editSejak didirikan Oleh Sang Maha Guru Pendidikan Indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara, wajah pendidikan Indonesia mengalami perkembangan, walaupun hanya sebatas Taman Siswa tetapi hal ini merupakan cikal bakal pendidikan di Indonesia dan kemudian bermetamorfosis menjadi lembaga-lembaga sekolah secara Formal, baik sekolah yang didirikan oleh pemerintah dengan gelar sekolah Negeri maupun yang didirikan oleh Individu, kelompok dengan mengatasnamakan Yayasan dengan label Sekolah Swasta.

Bisnis pendidikan di Indonesia merupakan bisnis yang sangat menggiurkan dan menjanjikan dengan keuntungan yang sangat besar dengan budget yang tidak sedikit. Tarif atau iuran yang ditetapkan oleh Sekolah tertentu tidaklah murah mulai dari Lembaga Sekolah yang bernama PAUD/TK (Sejenisnya) sampai pada tingkatan perguruan Tinggi dengan dalih peningkatan mutu pendidikan sehingga muncullah istilah dimasyarakat bahwa “Pendidikan itu Mahal”. Tidaklah mengherankan kalau antara lembaga sekolah baik itu sekolah Negeri maupun Swasta setiap tahunnya melakukan promosi-promosi lewat media masa maupun media online bak iklan penjual obat untuk menarik simpati para calon anak didik dengan menampilkan kehebatan maupun kecanggihan teknologi yang digunakan oleh sekolah masing-masing dengan dalih Sekolah modern dengan fasilitas modern agar mendapatkan banyak siswa untuk masuk disekola tersebut.

Dalam perjalanan sejarahnya, Ujian Nasional (UN) awalnya bernama Ujian Negara Tahun 1965-1971, Ujian Sekolah Tahun 1972-1979, Evaluasi Belajar tahap Akhir nasional (EBTANAS) Tahun 1980-2002, Ujian Akhir Nasional (UAN) Tahun 2003-2004, kemudian berubah menjadi Ujian Nasional (UN) Tahun 2005-sekarang. Meskipun sering ganti nama/istilah tetapi proses dan model pelaksanaannya tetap sama dan diselenggarakan serentak oleh sekolah diseluruh pelosok Indonesia.

Ujian Nasional yang dianggap sebagai ritual tahunan menjadi hantu bagi para siswa dan guru disetiap institusi pendidikan Formal, karena hal ini masih dianggap sebagai ukuran keberhasilan dan kesuksesan pendidikan di Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya kegiatan-kegiatan Zikir dan Istighosah akbar yang diselenggarakan oleh setiap institusi pendidikan yang ada di Indonesia, yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah Apakah Ujian Nasional itu?, Apa Manfaat Ujian Nasional?, Mengapa harus ada Ujian Nasional? Kemudian menjelma menjadi sesuatu yang sangat menakutkan. Efek ini tidak hanya dirasakan oleh Siswa dan Guru tetapi termasuk orang tua siswa yang menyekolahkan anaknya dengan sangat susah payah.

Pengalaman saya ditahun 2003 sempat menyaksikan kejadian yang sangat tidak wajar disekolah, waktu itu Ujian Nasional SMA dan saya masih Kelas 1 (istilah skarang Kelas 10), saat itu Ujian Nasional untuk hari pertama adalah Mata Pelajaran Matematika, kejadian aneh terjadi di Kelas IPA (katanya jurusan hebat) dimana ada seorang siswa jadi gemetaran dan pingsan ketika membuka naskah soal Ujian Nasional. Muncul berbagai macam pertanyaan penasaran dipikiran saya pada saat itu, apa sih yang membuat siswa tersebut jadi pingsan?,se ekstrim itukah dampak Ujian Nasional?. Tanggapan dari guru beragam dari kejadian tersebut, ada yang mengatakan bahwa siswa tersebut ketakutan, anehnya ada guru yang beranggapan bahwa siswa tersebut tidak melakukan ritual haroa (baca sesajen) untuk menghadapi Ujian Nasional, kembali saya begumam dalam hati “separah itukah ketakutan siswa dan guru dalam menghadapai Ujian Nasional?”

Dalam pelaksanaannya, menurut hemat penulis proses Ujian Nasional merupakan sesuatu yang sangat kontroversi dalam proses pelaksanaannya. Hal ini dapat dilihat dalam pelaksanaan setiap tahunnya dimana pemerintah setiap tahun sangat akrab dalam mengeluarkan statmen di media bahwa “hasil Ujian Nasional Tahun ini Murni kerja dari siswa dan tidak ada campur tangan dari pihak luar”,tau dari mana?, wong soal saja yang dikirim dari percetakan pemerintah langsung kesekolah tidurnya sampai 3 hari disekolah dan dijaga oleh oknum guru dalam bentuk piket, kalaupun soal dikirim di Polsek setempat tetap ada Guru yang dilibatkan untuk menjaga naskah soal tersebut. Anehnya hasil Lembaran Jawaban Komputer (LJK) Ujian Nasional masih juga tidur selama 3 hari disekolah nanti selesai seluruh rangkaian Ujian Nasional kemudian diantar langsung ke Dinas atau Universitas yang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan terkait. Berbagai kecurigaan pasti muncul termasuk penulis. Apakah benar hasil ujiannya betul-betul murni tanpa ada campur tangan dari pihak luar?, ataukah statmen diatas benar karena yang ujian langsung adalah siswa yang bersangkutan bukan orang luar?, lantas mengapa sebelum pelaksanaan Ujian Nasional banyak dihebohkan dengan bermunculannya SMS (pesan singkat) yang berisikan kunci jawaban soal UN dan memang jawabannya tidak ada yang meleset dari soal yang dikerjakan oleh siswa??, dari mana jawabannya dan siapa yang mengerjakannya??, adakah oknum guru yang bermain dibalik UN ini?, Inilah seklumit atau potret wajah Ujian Nasional (UN) di Indonesia saat ini.

Tidak dapat dipungkiri bahwa harapan setiap Guru untuk kelulusan siswanya sangat besar dengan dibuatnya pengayaan-pengayaan untuk mendaras soal-soal Ujian Nasional di tahun-tahun sebelumnya. Berbagai trik maupun strategi menjawab soal UN di praktekkan oleh sang Guru didepan siswa bagaikan tukang sulap dan pemain akrobat (meminjam istilah Iwan Fals). Namun lagi-lagi kegelisahan para Guru mencapai puncaknya pada saat hari pelaksanaan Ujian Nasional (UN) sehingga kecurangan pun terjadi yang dilakukan oleh beberapa oknum guru dengan cara mencarai strategi untuk menembus pertahanan Pengawas Ujian Nasional yang ada diruangan Ujian agar kunci jawaban dapat sampai ke tangan peserta Ujian, lantas apa gunanya pengayaan-pengayaan yang sebelumnya dilakukan??. Dapat dikatakan bahwa guru tidak menanamkan rasa kepercayaan diri kepada siswa, meragukan kemampuan siswa dan guru mengalami degradasi kepercayaan terhadap siswa termasuk meragukan kemampuannya sendiri dalam mengajar siswa. Sehingga setiap tahunnya ada rasa ketergantungan siswa terhadap Guru dalam mengerjakan soal-soal Ujian Nasional dan tidak ada lagi usaha siswa untuk belajar dalam menghadapi Ujian Nasional, sehingga muncullah stigma negatif terkait Ujian Nasional, bahwa Ujian Nasional adalah Ujian bagi Guru secara nasional dan siswa hanya sebagai perantara, lulusnya siswa adalah prestasi guru, tidak lulusnya siswa menimbulkan stigma buruk bagi Guru dan sekolah yang bersangkutan sehingga konsep “pendidikan yang membebaskan” ala Freire tidak pernah terwujud.

Pemerintah harus terus bergeliat membenahi sistem Ujian Nasional di Indonesia agar nilai pendidikan kembali pada rohnya yaitu memanusiakan manusia dan mampu mencerdaskan bangsa sesuai dengan amanah UUD 1945 serta dapat melahirkan generasi muda yang berperadaban. Negara bisa maju apabila sistem pendidikan menjadi maju karena suplai terbesar pemimpin Indonesia berasal dari bangku pendidikan.

SELAMAT MENEMPUH UJIAN NASIONAL 2014/2015

Oleh: La Fendi Tulusa

Penulis adalah Staf Pengajar di SMAN 1 Lolak, Kab. Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara

Pendidikan Sejarah: Belajar dari Guru Bangsa

Pendidikan Sejarah Tanggung Jawab Membangun Karakter Bangsa

Pendidikan pada suatu bangsa adalah ikhtiar bangsa tersebut mempersiapkan generasi muda bangsa guna melanjutkan estafet berbangsa. Perumusan pendidikan, dalam hal ini kurikulum, sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai sosial, budaya, ekonomi dan politik. Dalam sejarah pendidikan, perumusan kurikulum pendidikan aspek politik berbangsa cukup dominan mempengaruhi kebijakan dunia pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari praktek kurikulum pendidikan pada masa Orde Lama dengan konsep Nasakom sampai dengan Orde Baru dengan tema besar pembangunan.

Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional pasal 1 poin 1 menyebutkan “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.” Selanjutnya pada point 19 menyebutkan “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.”

Pasal di atas menyebutkan posisi kurikulum sebagai seperangkat sistem pendidikan yang didesain guna mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum pendidikan nasional didesain untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Pendidikan sejarah sebagai bagian dari kurikulum pendidikan nasional juga dituntut mengarahkan peserta didik mencapai tujuan pendidikan nasional.  Dalam nomenklatur UU No.20 tahun 2003 pasal 37 pendidikan sejarah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dapat dikelompokan dalam pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), seni budaya dan muatan lokal. Ketiga kelompok pendidikan ini (baca : IPS, Seni-Budaya dan Muatan Lokal) pada batas tertentu pendidikan sejarah dapat diintegrasikan.

Sejauh ini posisi pendidikan sejarah dalam kurikulum dilihat dalam dua perspektif. Pada jenjang dasar (SD dan SMP/SLTP) pendidikan sejarah diorganisasikan dalam rumpun pendidikan IPS sedangkan pada jenjang pendidikan menengah (SMA) pendidikan sejarah berdiri sendiri sebagai mata pelajaran sejarah, sementara pada sekolah kejuruan SMK pendidikan sejarah sebagaimana tingkat dasar (SD dan SMP/SLTP) pendidikan sejarah menjadi bagian dalam pendidikan IPS.

Perbedaan posisi pendidikan sejarah dalam jenjang pendidikan mungkin saja dipengaruhi oleh cara pandang eklektik, yakni cara pandang dalam ilmu konseling yang berusaha menyelidiki berbagai sistem metode, teori atau doktrin, yang dimaksudkan untuk memahami dan bagaimana menerapkannya dalam situasi yang tepat. Cara pandang eklektik sebagaimana di atas meniscayakan pendidikan sejarah pada jenjang pendidikan disesuaikan dengan metode, teori dan doktrin pada jenjang pendidikan mana diajarkan.

Dimasukkannya pendidikan sejarah dalam setiap jenjang pendidikan adalah bagian dari ikhtiar membangun karakter peserta didik. Pendidikan sejarah dipandang sangat strategis untuk menanamkan, menumbuhkan dan mengembangkan karakter bangsa pada peserta didik. Lewat pendidikan sejarahlah nilai-nilai kepahlawanan, budaya bangsa, tradisi serta kecintaan terhadat bangsa ditanamkan pada peserta didik.

Hamid Hasan (2008) mengemukakan beberapa potensi pendidikan sejarah dalam mengembangkan karakter bangsa pada peserta didik di antaranya :

1.    Mengembangkan kemampuan berfikir kritis,
2.    Mengembangkan rasa ingin tahu,
3.    Mengembangkan kemampuan berfikir kreatif,
4.    Mengembangkan sikap kepahlawanan dan kepemimpinan,
5.    Membangun dan mengembangkan semangat kebangsaan
6.    Mengembangkan kepedulian sosial
7.    Mengembangkan kemampuan berkomunikasi
8.    Mengembangkan kemampuan mencari, mengelola, mengemas, dan mengkomunikasikan informasi.

Kedelapan potensi yang ada pada pendidikan sejarah mestinya menjadi perhatian guru sejarah dalam proses embelajaran sejarah. Jika ke delapan potensi ini dapat digali dari siswa dengan pembelajaran sejarah maka akan tumbuh karakter bangsa yang “kuat” pada peserta didik. Dan karakter bangsa yang kuat tersebut akan melahirkan bangsa yang ‘kuat’ mandiri pada bangsa sendiri.

Belajar Dari Guru Bangsa : Peran Pendidikan Sejarah

Mengembangkan sikap kebangsaan pada peserta didik sepertinya sudah menjadi tugas wajib pendidikan sejarah tidak hanya di Indonesia. Di seluruh negara di dunia mengamanahkan tugas tersebut pada pendidikan sejarah. Depertemen Pendidikan New York (dalam Hamid Hasan, 2012 ; 24) misalnya, menetapkan tujuan pendidikan sejarah pada jenjang menengah (SMA) sebagai berikut :

  • The skills of historical analysis include the ability to: explain the significance of historical evidence;  weight the importence, reliability, and validity of evidence. understand the concep of multiple causation;  understand the importance of changing and competing interpretations of different historical development.
  • Establishing time frames, exploring different periodisations, examining themes across time and within cultures, and focusing on important turning points in world  history help organize the study of world cultures and civilizations.

Tentunya terdapat banyak materi atau tema pembelajaran sejarah yang dapat menumbuhkan karakter bangsa pada peserta didik. Dari sekian banyak materi atau tema tersebut salah satu materi yang relevan diajarkan untuk mengembangkan karakter bangsa adalah materi tentang ketokohan pahlawan nasional atau dalam bahasa yang akhir-akhir ini populer mengajarkan karakter Guru Bangsa.

“Guru Bangsa” adalah sosok yang mempunyai andil dalam memploklamirkan dan memajukan bangsa ini dalam bidang apapun. Pendek kata, Guru Bangsa adalah pahlawan bagi bangsa ini.  Terdapat 165 pahlawan nasional yang telah dipublikasikan Kementerian Sosial RI sampai dengan tahun 2014, kemungkinan ditambahkan jumlah pahlawan nasional masih sangat terbuka. Mereka adalah manusia terbaik yang pernah dilahirkan oleh zamannya dan menorehkan tinta emas bagi bangsa ini.

Mengajarkan ketokohan Guru Bangsa adalah tugas pendidikan sejarah. Tujuan utama dari belajar terhadap Guru Bangsa ini adalah transformasi nilai kepada peserta didik. Sepintas lalu gagasan ini sepertinya mudah namun sejatinya dalam praktek pembelajaran guru sejarah tetap harus memperhatikan beberapa hal penting dalam proses pembelajaran. Setidaknya dalam proses “Belajar Dari Guru Bangsa” ini beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses transformasi nilai Guru Bangsa antara lain :

  1. Peserta didik sebagai generasi bangsa bukanlah benda mati, mereka adalah generasi yang penuh idealisme, potensi dan pendukung bangsa ini di kemudian waktu. Pendidkan sejarah harus memberikan ruang tafsir terbuka bagi peserta didik untuk mengembangkan potensi kemanusiaannya. Guru sejarah harus dapat “menghantarakan” nilai sejarah ke dalam ruang hidup peserta didik. Sikap para Pahlawan Nasional terhadap orang Belanda tidak dapat ditafsirkan secara “kaku” bahwa orang Belanda harus dimusuhi. Tetapi terdapat nilai-nilai yang melanggar Hak Asasi Manusia yang diperankan orang Belanda di masa lalu dan karena itu dimusuhi seperti menindas, eksploitasi dan memaksa.
  2. Belajar pada Guru Bangsa tidak sekedar belajar tentang “tanda.” Mengajarkan tentang ketokohan Guru Bangsa tidak sekedar mengajarkan tentang kapan dia lahir, dimana dia lahir, kapan dia meninggal dan di mana dikebumikan. Guru sejarah harus dapat mengajarkan tentang “nilai.” Tentang nilai baik apa saja yang turut mempengaruhi jati diri Guru Bangsa tersebut, masyarakat dan budaya seperti apa yang membentuk karakter sang Guru Bangsa. Dalam tahapan ini tugas guru sejarah adalah melakukan kontekstualisasi nilai dalam ruang hidup sekarang dimana peserta didik hidup.
  3. Mengajarkan sikap hidup yang dilakukan Guru Bangsa. Hal yang juga sangat penting diajarkan guru sejarah adalah sikap hidup dari Guru Bangsa. Bagaimana seorang Guru Bangsa semisal Tjokroaminoto bersikap terhadap orang kecil atau buruh pabrik karet yang diperlakukan sebagai manusia seutuhnya. Bagaimana seorang Muhammad Hatta meski di pembuangan belantara Boven Digoel Papua di tahun 1926, buku tetap menjadi “teman” dekatnya megisi waktu-waktu kosongnya. Selain itu yang dilakukan Hatta adalah menulis dan diskusi.  Bagaimana juga seorang Mohammad Natsir perdana menteri RI di tahun 1950 dengan baju usang dan robek bertambal dimana-mana sampai seluruh baju sudah tertambal. Natsir seorang  Perdana Menteri yang sangat sederhana dalam hidupnya.
  4. Mengajarkan konsistensi atau komitmen hidup Guru Bangsa. Guru Bangsa adalah contoh terbaik orang-orang yang tetap konsisten terhadap janji, juga terhadap komitmen mereka pada prinsip kebenaran yang dipegang, hal yang jarang ditemukan di zaman kini.  Ketika Pemerintah Singapura mengeksekusi mati Serda Usman dan Kopral Harun, Wakil Presiden Mohammad Hatta bersumpah tidak pernah menginjakan kakinya di Singapura. Mungkin saja sumpah ini dinilai keliru tetapi komitmen Hatta selama itu (dari tahun 1968-1980) sampai akhir hayatnya Hatta tetap dijalankan, Hatta tak pernah lagi menginjakan kakinya di Singapura.
  5. Mengajarkan demokrasi dan penghargaan terhadap pendapat. Sikap menghargai perbedaan pendapat bagian penting dari sejarah Guru Bangsa. Meski berbeda pendapat Tjokro tetap menghargai sikap Samaun yang lebih memilih gerakan sosialis-revolusioner. Hal yang sama juga ada pada sikap Mohammad Natsir terhadap Soekarno karena berbeda pendapata sistem kenegaraan Natsir memilih mundur dari perdana menteri secara arif dan bijaksana.

Epilog : Guru Bangsa, Mata Air Keilmuan yang Tak Pernah Kering

Ibarat sumur zam-zam yang tidak pernah kering dan tidak pernah menghapus dahaga. Setiap kali airnya diteguk saat itu juga rasa ingin meneguknya lagi akan terasa. Demikianlah mata air kelimuan dari para Guru Bangsa di negeri ini bagi pecinta ilmu rasa dahaga itu terus mengalir dan mengalir. Ada banyak hikmah di sana, pada diri guru Bangsa juga pada sikap hidup Guru Bangsa, tentang kejujuran, tentang penghargaan, tentang kasih sayang dan tentang cinta.

Rabu 15 April 2015 yang lalu penulis sempatkan untuk menonton film Guru Bangsa Tjokroaminoto pada salah satu bioskop di Jakarta. Seperti film-film Guru Bangsa yang lain, Ahmad Dahlan atau Soekarno, film Tjokro pun masih sepi dari geliat anak muda untuk menonton. Apa sebababnya?? Mungkin saja jawabanya ada pada guru sejarah. Memang harus diakui altar sejarah dan pendidikan sejarah serta guru sejarahnya masih bergelut dengan segudang masala. Ini menjadi tugas penting kita bersama pengambil kebijakan, institusi pendidikan, para guru meramu gagasan mencarikan solusi terbaik.

Sumber Bacaan :

Panggung Sejarah, Yayasan Pustaka Obor, Jakarta, 2011
Pendidikan Sejarah Indonesia, Said Hamid Hasan, Rizqi Press, Bandung 2012
Pendidikan Sejarah untuk manusia dan kemanusiaan, Kamarga, Hansiswany dan Kusmarni, Yani, Media Indonesia, Bandung 2012

Abdul Malik Raharusun,  S.Pd. M.Pd
Guru Sejarah SMA Neg. 2 Langgur, Kabupaten Maluku Tenggara

Rumah Budaya Fadli Zon Tambah Koleksi Batu Akik

akik suliki 1
Akik Suliki

HMINEWS.Com – Koleksi Rumah Budaya Fadli Zon di Aie Angek, Tanah Datar, Sumatera Barat, bertambah satu lagi. Koleksi itu berupa “batu akik” yang sedang booming setahun terakhir. Tujuannya, memberi apresiasi atas minat masyarakat Sumatera Barat terhadap batu mulia tersebut.

Manajer Rumah Budaya Fadli Zon, Edin Hadzalic, melalui Siaran Pers Senin (20/4/2015), mengatakan, koleksi batu akik yang dikoleksi itu berasal dari Suliki dan Sungaidareh. Di Sumatera Barat, kedua daerah ini dikenal sebagai produsen batu akik yang gaungnya sampai ke mancanegara.

“Bertambahnya koleksi Rumah Budaya ini juga bermaksud memperkenalkan batu akik Suliki dan Sungaidareh, khususnya bagi tamu-tamu yang berkunjung ke Rumah Budaya,” ujar Edin Hadzalic.

Dia mengatakan, koleksi batu akik Suliki dan Sungaidareh itu, didapatkan langsung dari kedua daerah tersebut. Koleksi yang tersedia di Rumah Budaya berupa batu bongkahan maupun batu yang sudah siap pakai.

“Semoga koleksi batu akik ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang datang ke rumah Budaya dan bisa menjadi bahan promosi pariwisata Sumatera Barat,” harap Edin Hadzalic.

Sementara itu, Direktur Rumah Budaya Fadli Zon, Hj. Elvia Desita mengatakan, Rumah Budaya Fadli Zon diresmikan pada 4 Juni 2011. Salah satu koleksi unggulannya yaitu 100 keris Minangkabau yang dikumpulkan dari berbagai daerah di Sumatera Barat. Keris itu di antaranya Keris Luk Sembilan asal Pagaruyung yang dibuat pada abad ke-18.

Selain keris, ada songket corak Minangkabau tempo dulu, juga ada 700 lebih judul buku bersejarah yang bertema Minang, sejumlah lukisan kuno, termasuk fosil kerbau berusia dua juta tahun dan fosil-fosil kayu yang telah menjadi batu.

“Rumah Budaya telah menjadi salah satu kantong kebudayaan di Ranah Minang yang keberadaannya diharapkan bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya. (rel)

HMI Sosbud Unesa Selenggarakan Pelantikan, Upgrading dan Raker

HMINEWS.Com – Setelah Rapat Anggota Komisariat (RAK) untuk pemilihan ketua umum baru pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Sosial Budaya (Sosbud) Unesa pada 21 Maret 2015, kepengurusan baru segera dibentuk dan dilantik. Pelantikan dilaksanakan pada Rabu (15/4/2015) di Yayasan Muslim Surabaya.

Pelantikan dengan tema “Merajut Kembali Rasa Keharmonisan HMI Sosbud Unesa Demi Terwujudnya Insan Cita” itu dihadiri oleh ketua umum HMI Cabang Surabaya, Rendra Rahmawan, serta seluruh organisasi mahasiswa eksternal se-Surabaya – Sidoarjo, terdiri dari PMII, GMNI, IMM, SMI, IPNU-IPPNU.

Rangkaian acara pelantikan terdiri dari pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Quran, menyanyikan himne HMI, menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan Surat Keputusan oleh HMI Cabang Surabaya, ikrar, dan serah terima jabatan oleh ketua umum demisioner Hidayatullah Arrozi kepada ketua umum terpilih Moch. Heru Anggoro, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Di akhir acara pelantikan diisi dengan Studium Generale oleh kanda Fauzi Hasyim.

“Semoga kepengurusan baru ini dapat menjalankan roda organisasi HMI kedepannya semakin lebih baik dan semakin eksis dalam membela hak masyarakat, karena HMI Sosbud Unesa harus selalu di garda terdepan dalam membela kepentingan masyarakat dan rakyat,” ucap ketua umum Hmi Cabang Surabaya dalam sambutannya.

Sementara Fauzi Hasyim, dalam pemaparannya menyatakan tersanjung dan bangga. “Saya sangat bangga mengisi Studium Generale pada pelantikan ini, karena baru pertama kali ini saya mengisi dihadiri semua organ baik dari HMI, PMII, GMNI, IMM, SMI, IPNU-IPPNU. Semua harus bersatu karena tidak ada perubahan di Indonesia yang tidak dimulai oleh pemuda,” tutur kanda Fauzi hasyim.

Selesai pelantikan dilanjut dengan upgrading dan rapat kerja pada 18 April 2015 untuk merencanakan program kerja kepengurusan HMI Sosbud Unesa selama satu tahun kedepan.

Upgrading bertujuan untuk menambah pengetahuan dan wawasan pengurus supaya lebih memahami akan makna tugas dan fungsi sebagai kader HMI,” ucap ketua umum Moch Heru Anggoro dalam sambutannya.

Upgrading sampaikan oleh Andik Mariono, yang dalam kesempatan itu ia berpesan: “Perbanyaklah cermin di dalam rumah HMI Sosbud Unesa karena evaluasi yang bijak adalah evaluasi dari dalam diri sendiri.”

Banyak program kerja yang dicanangkan oleh pengurus dalam rapat kerja sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Zamroni

TJOKRO

Soekarno sudah kuliah di Bandung pada hari ketika tentara Belanda menggedor rumah mertuanya di sebuah tengah malam buta medio September 1921, dan lalu menggiringnya ke dalam tahanan di bawah todongan bayonet. Ia waktu itu juga sudah membawa serta Siti Oetari, isterinya, anak pertama Tjokroaminoto, untuk tinggal bersamanya di rumah kos Haji Sanusi. Di rumah itu, Soekarno dan Oetari tidur di kamar terpisah. Menurut pengakuannya, ia memang lebih menganggap Oetari sebagai adik ketimbang isterinya. Itu sebabnya, seturut pengakuannya kepada Inggit Garnasih, isteri Haji Sanusi yang kemudian diperisterinya, ia belum pernah “menyentuh” gadis itu.

Soekarno sudah menduga bahwa cepat atau lambat Tjokro akan ditangkap Belanda. Namun tak urung, surat pemberitahuan yang mengabarkan penangkapan itu membuatnya terkejut juga.

Fragmen penangkapan Tjokro dan keputusan yang diambil Soekarno kemudian selalu berhasil membuat mata saya nanar. Soekarno sangat menghormati Tjokroaminoto, sama seperti halnya Sang Raja Jawa Tanpa Mahkota itu juga sangat menyayangi anak didiknya itu.

Keluarga Tjokro saat itu memang sedang banyak dibelit persoalan, terutama keuangan. Dan lebih dari sekadar menantu, sebagai orang yang sedari awal memposisikan diri sebagai murid sekaligus anak pertama dari keluarga Tjokroaminoto, Soekarno merasa harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada keluarga tersebut.

Ia segera menitipkan Oetari, yang waktu itu juga bersekolah di Bandung, kepada induk semangnya. Ia memutuskan untuk meninggalkan kuliahnya hingga batas waktu yang tak ditentukan, bahkan dengan kemungkinan tak akan bisa menyelesaikan studinya, hanya untuk mengurusi keluarga Tjokro di Surabaya.

Oetari memang harus ditinggalkannya di Bandung, karena gadis itu belum cukup dewasa untuk bisa membantu keluarganya. Membawanya serta hanya akan menambah beban saja.

Bagi Soekarno, membantu keluarga Tjokro adalah tanggung jawabnya, sekaligus bentuk dari praktik gotong royong yang juga diajarkan oleh gurunya itu. Sehingga, meskipun Tjokro dan keluarganya tidak memintanya, dan meskipun ia sendiri ditahan oleh Haji Sanusi dan kawan-kawannya untuk fokus saja menyelesaikan kuliah, Soekarno memilih untuk kembali ke Surabaya.

“Saya harus berbakti kepada orang yang saya puja,” ujarnya tegas. Duh…

Saat bertolak ke Surabaya, tak lupa ia membawa serta semua bukunya. Memang tak ada yang tahu hingga kapan ia harus berada di Surabaya. Bisa sebentar, bisa juga selama-lamanya. Di kota itu, untuk menopang kehidupan keluarga Tjokro, Soekarno muda kemudian bekerja di kantor jawatan kereta api.

Fragmen itu menunjukkan betapa dalamnya hubungan antara Soekarno dengan Tjokroaminoto. Dan Soekarno memang pantas memberikan penghormatan tersebut kepada Tjokro.

Pada 1919, ketika hujan abu vulkanik yang dahsyat sedang mengepung Blitar, Tjokro mengendarai mobilnya seorang diri dari Surabaya ke Blitar. Ia benar-benar mengabaikan keselamatannya sendiri dengan menerjang bencana, hanya untuk memastikan bahwa salah satu murid kesayangannya, yang juga anak semangnya, selamat dari bencana hari itu. Dan murid kesayangan itu tak lain adalah Soekarno. Begitu juga ketika Soekarno meneruskan kuliah di Bandung, adalah Tjokro yang meminta Haji Sanusi, seorang anggota Sarekat Islam, untuk mencarikan pondokan dan membantu Soekarno.

Setiap kali mengingat Tjokroaminoto, saya selalu teringat terhadap fragmen penghormatan Soekarno itu. Tjokro adalah seorang guru bangsa, dimana anak-anak bangsa kita yang cemerlang pada kuartal pertama abad ke-20, seperti Semaoen, Darsono, Moeso, Soekarno, Kartosuwirjo, serta Abikoesno, pernah belajar kepadanya.

Sebuah surat kesaksian yang ditulis oleh W. Wondoamisoeno tahun 1951 ini, yang merupakan saksi dekat keseharian Tjokroaminoto, mungkin bisa memberikan gambaran bagaimana sosok Guru Bangsa tersebut.

SI“Memang sesungguhnja sampai sekarang djuga belum ada di Indonesia seorang pemimpin jang pandai bitjara dan berkaliber besar seperti Ketua Tjokroaminoto.

Kalau orang mengatakan Bung Karno pandai bitjara, betul djuga, dan saja akui kepandaiannja berpidato. Tetapi belum seperti Tjokroaminoto.

Ketua Tjokro kalau bitjara tidak banjak agitasi. Bitjaranja lempang, lurus, tegas dan djitu. Alasan-alasannja mengandung dalil-dalil jang haq, sehingga sukar dibantah. Ketjuali daripada itu bitjaranja mengandung semangat perbawa yang menjala-njala. Mereka jang mendengar selalu terbakar hatinja. Pihak musuh tunduk, karena tepat dan benar. Apalagi kalau marah, tak ada seorangpun jang kuat menahan tantangannja. Semua diam, tak ada berkutik, badan gemetar, hati takut. Itulah jang saja katakan mengandung perbawa, jang artinja sakti. Seorang pemimpin jang berkarakter, berbudi luhur.

Demikianlah kalau berhadapan dengan pihak lawan, nampak mukanja seperti singa dengan mata kanannja tak berhentinja berkedjapan, tegak dan tertib segala gerak-geriknja, origineel, bukan bikin-bikinan.

Tetapi sebaliknja kalau berhadapan dengan kaum Kromo dan kawan-kawan sendiri, bukan main manisnja segala kata-kata dan tingkah lakunja jang ramah tamah. Semua orang senang dan ingin mendapat fatwanja. Laki-laki, perempuan, tua-muda, sama-sama tjinta lahir batin kepadanja sebagai orang tuanja sendiri atau dipandang sebagai guru besar, ditaati segala kata-katanja.”

Demikianlah.

Hari Kamis, 9 April 2015 kemarin, bersama beberapa kawan, saya menonton film “Guru Bangsa” yang dibesut Garin Nugroho. Sesuai tebakan kami, tak banyak yang menonton film itu di hari pertama pemutarannya. Bioskop tampak lengang, meskipun kami menontonnya di pusat keramaian Yogya.

Saya duduk menonton benar-benar untuk menikmati film tentang Tjokro itu. Ya, memang benar-benar untuk menikmati, tanda tendensi apapun, sehingga sayapun tak akan berbagi catatan mengenai apa dan bagaimana film itu di sini.

Tjokro adalah orang besar yang karya-karyanya tak lagi mudah dijangkau oleh generasi terkini. Kecuali buku “Islam dan Socialisme” (1924), banyak dari kita tak lagi mengenal karangan-karangan Tjokro yang lain, padahal ia adalah salah satu pengarang yang produktif.

Selepas menonton film itu, saya benar-benar tak bisa membayangkan, jika banyak orang demikian enggan mencari tahu dan menonton film tentang Tjokro, bagaimana membayangkan akan ada orang yang tertarik dan mencoba menelusuri karya-karyanya?! Ah, barangkali itu tautologi yang keliru.

Jadi, Anak Muda, sudahkah engkau mengantri tiket film “Fast and Furious 7”?!

Tarli Nugroho
[telah dipublish di media sosial facebook 11 April 2015]