HMI MPO Mataram: Jokowi-JK Tak Mampu Urus Negara

HMINEWS.Com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) Cabang Mataram berunjukrasa mengkritik setahun pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla (JK). Rezim Jokowi-JK mereka nilai gagal.

Anggota HMI Mataram berangkat dari Gomong dengan berjalan kaki sambil membentangkan spanduk “Turunkan Jokowi-JK” hingga Perempatan BI Mataram dan bergantian berorasi di tempat tersebut, Selasa (20/10/2015).

Menurut korlap aksi, Sadam, banyak persoalan yang tak mampu diatasi pemerintahan Jokowi-JK selama setahun ini. Di antaranya permasalahan politik, penegakan hukum, ekonomi dan pendidikan serta kesehatan. Jokowi-JK dinilai tidak sungguh-sungguh mewujudkan janji-janji kampanye dan melaksanakan Nawa Cita maupun revolusi mental.

“Kalau memang Jokowi-JK merasa tidak mampu untuk mengurus negara,  maka HMI MPO Cabang Mataram meminta dengan hormat agar kiranya Jokowi-JK segera mungkin mundur dari jabatan,” ujar massa HMI.

Namun, lanjut Sadam, jika Jokowi-JK masih ingin melanjutkan pemerintahannya, ada tiga tuntutan yang harus dipenuhi. Yaitu realisaskan janji-janji politik, stabilkan ekonomi dan pendidikan, serta tegakkan supremasi hukum.

Ode untuk H.O.S Tjokroaminoto

Oleh: Zawawi Imron

Saat ini akan saya sebut sebuah nama
Dan dalam menyebut nama beliau
Tak cukup hanya dengan Bahasa melati dan mawar
Tapi juga
Dengan bahasa batu karang
Yang selama ribuan tahun tak bisa di goyang terjangan gelombang.

Siapa nama orang itu?
Tanya anak kecil yang masih fitrah
Orang itu adalah HOS Tjokroaminoto
Orang itu adalah bunga yang mekar semerbak
Karena bertekad mengangkat harkat martabat rakyat yang melarat.

Bangsa ini harus dipandu menuju alam yang basah oleh madu
Kita harus jadi penyalur kasih saying Allah
Kepada seluruh umat
Bumi nusantara tak boleh basah oleh air mata
Kita harus berbuat nyata
Agar rakyat jelata yang ditindas dan dilindas oleh penjajah yang jahat dan serakah
Bisa bangkit, bangkit!
Bisa mengusir ketakutan
Bisa menepis rasa sulit dan segenap rasa sakit
Rakyat harus maju
Melawan penindasan dan keserakahan
Karena tidak ada kesejahtaran tanpa kemerdekaan.

Bahkan penjajahan yang paling sopanpun harus dilawan
Apa lagi memang terasa rakyat jelata sudah megap-megap
Tak bisa bernafas dalam dam penjajahan.

Dan sangat jelas:
Rakyat yang diinjak dan penjajahan yang menginjak
Rakyat yang dirampok dan pemerintah yang merampok
Pak Tjokro tidak terima kenyataan ini
dan Pak Tjokro dating kemana-mana
Menyaksikan dengan nyata wajah bangsanya yang terluka
Melihat nasib bangsanya yang tersiksa
Hati Pak Tjokro melelehkan darah
Beliau marah
Tapi malah beliau seirama dengan nafas ayat-ayat ilahi.

Sekarang kita kenang
Perjuangan HOS Tjokroaminoto
Suara beliau yang menggetarkan menyatakan kebenaran
Suara beliau yang menggelegar mengutuk kekejaman, kedholiman
Membuat keder hati para penguasa colonial
Tapi hati Pak Tjokro tetap bersujud
Pada Allah.

Kita kenang HOS Tjokroaminoto
Beliau berjuang tanpa takut kepada bahaya
Dan kalua beliau datang kemana-mana
Rakyat jelata menyambutnya beramai-ramai
Seperti menyambut datangnya kemerdekaan yang dirindukan
Karena hakikat jiwa Pak Tjokro adalah fajar kemerdekaan itu sendiri.

Pak Tjokro sebagai pemimpin
Tidak hanya hebat sendiri
Teman-teman seperjuangannya,
H. Samanhudi, H. Agus Salim, Wondo Amiseo, AM Sangaji
Adalah meteor-meteor yang gemilang dalam perjuangan kemerdekaan.
Karena kebersamaan yang berupa himpunan
Akal sehat kolektif adalah kekuatan yang maha dahsyat.

Setelah Pak Tjokro wafat dipanggil Allah
Murid-murid beliau punya refleksi sejarah yang dalam
Tjokroaminoto boeh wafat
Tapi semangat jiwa kerakyatan dan semanagat kemerdekaan
Tetap berkobar di dada murid-muridnya.
Api sejarah Tjokroaminto hidup pada pidato-pidato Bung Karno
Semangat Tjokroaminoto tetap hidup pada jiwa seluruh pejuang kemerdekaan.

Kita yang sekarang mengenang beliau di sini
Perlu bertanya kepada diri sendiri
Sanggupkah kita mengukir
Sejarah seperti beliau, HOS Tjokroaminoto?

###

pembacaanDibacakan pada saat Orasi Kebudayaan dalam rangka Sarasehan 110 Tahun Kebangkitan Nasional (1905-2015) – 16 Oktober 2015 bertempat di Tugu Proklamasi, Jakarta – atas prakarsa Yayasan Rumah Peneleh, Pusat Studi Pemikiran Islam (di) Nusantara dan PB HMI MPO.

Aji Dedi Mulawarman: Waspadai Siklus Satu Abad

HMINEWS.Com – Penulis buku Jejak Perjuangan Tjokroaminoto, Dr. Aji Dedi Mulawarman mengingatkan bangsa Indonesia akan siklus satu abad. Yaitu, menurutnya, siklus berjaya atau tumbangnya sebuah bangsa atau peradaban tiap satu abad.

“Dalam siklus satu abad akan ada dimana satu peradaban akan tenggelan dan peradaban bangsa menjadi maju. Maka dari itu kaum muslimin, khususnya generasi muda harus mempersiapkan diri menyongsong kebangkitan,” kata Aji Dedi Mulawarman dalam diskusi publik pada Festival Al A’zhom Kota Tangerang dalam menyambut Tahun Baru Hijriyah, Sabtu (17/10/2015).

Khusus di Indonesia, Aji Dedi mencatat, siklus satu abad itu bisa dibaca seperti kemunculan Diponegoro yang menandai babak baru Tanah Jawa, kemudian kehadiran Tjokroaminoto sebagai Bapak Bangsa yang mengkader para pemimpin bangsa seperti Sukarno, Agus Salim, Hamka, dan lainnya.

Sementara tokoh muda yang juga menjadi pembicara, Ubedilah Badrun, mengkritisi kecenderungan bangsa Indonesia yang kebablasan mengartikan dan menerapkan demokrasi, sehingga melebihi bangsa Barat dimana demokrasi diproduksi. “Orang Indonesia dalam menerjemahkan demokrasi sayangnya text book, sehingga demokrasi Indonesia lebih demokrasi ketimbang Amerika,” ungkapnya.

Festival Al A’zhom Kota Tangerang digelar dalam rangka menyambut Tahun Baru  1437 Hijriyah. Acara ini diadakan oleh Disporparekraf Kota Tangerang, BKPRMI Kota Tangerang dan HMI (MPO) Cabang Tangerang Raya, mulai tanggal 13-24 Oktober 2015 di komplek Masjid Al A’zhom Kota Tangerang.

Festival diisi dengan bazar berbagai produk kerajinan UKM, perlombaan marawis, kasidah, serta kegiatan ilmiah seperti dialog publik dan seminar. Festival dibuka oleh Kabid Pemuda Kota Tangerang, serta dihadiri Walikota Tangerang, Arief F Wismansyah.

Zawawi Imron: Generasi Muda Harus Belajar dari Sejarah!

HMINEWS.Com – Budayawan Zawawi Imron menyampaikan orasi dan membacakan puisinya khusus untuk H.O.S Tjokroaminoto dalam sarasehan 110 Tahun Sarekat Dagang Islam, yang diadakan oleh Yayasan Rumah Peneleh di Pelataran Tugu Proklamasi, Cikini – Jakarta Pusat.

Dalam orasinya, Zawawi mengingatkan agar generasi muda tidak sekedar menghafal atau mengingat sejarah Tjokro. Lebih dari itu, harus memberikan semangat dan peniruan kreatifitas dan karyanya yang luar biasa dan melampaui zaman.

“Ada orang yang belajar sejarah hanya mendapat abu-nya sejarah. Kenapa? Karena yang dipelajari hanya kaleidoskop, daftar-daftar tanggal yang berisi peristiwa, yang digali bukan apinya sejarah. Kenapa Pak Tjokro mau berjuang, kenapa Bung Karno rela ditahan, kenapa Pak Dirman dalam keadaan sakit paru-paru tinggal satu diusung dari Jogja-Kediri kemudian balik lagi, terus berjuang? karena beliau punya ati macinnong (istilah Bugis), hati yang bersih, yang di dalamnya tidak lain adalah semangat sejarah,” papar Zawawi, Jum’at (16/10/2015) malam.

Menurutnya, meremehkan sejarah akan mebuat kita bingung membangun masa depan, sebab sejarah masa lalu itu dijadikan guru untuk diambil semangatnya guna membangun hari esok.

“Sebab satu hari saja bagi seorang pahlawan itu seribu hari bagi orang yang bukan pahlawan yang sama sekali tidak pernah berjuang bagi tanah airnya. Sebagaimana ucapan Iqbal ‘Sehari usia singa di rimba, seratus tahun usia domba.’ itu perbedaannya. Sehari dalam kehidupan Sukarno, dalam kehidupan Tjokroaminoto, dalam kehidupan Haji Agus Salim, dalam kehidupan Bung Hatta, dalam kehidupan Diponegoro, sehari saja, itu sama dengan seratus tahun orang yang sama sekali tidak berjuang untuk tanah airnya. Jadi, bahaya tidak mengenal sejarah, karena tidak mengenal keteladanan yang baik,” lanjutnya panjang lebar.

Ia juga mengatakan, semangat keindonesiaan itu sangat kaya . Orang Melayu punya (pepatah) “belakang parangpun kalau diasah jadi tajam”, demikian pula kita bila sungguh-sungguh meneladani para pahlawan itu, maka juga akan bisa mendatangkan perubahan yang baik.

“Rumus menjadi pahlawan itu sederhana, kalau hatinya bersih, tidak punya semangat memiliki yang bukan miliknya. Orang hidup harus mampu menghidupkan orang lain,” tambahnya lagi.

Usai orasi, Zawawi membacakan puisinya untuk Tjokro yang 4 lembar itu, kemudian dilanjut pemaparan oleh sejarawan Prof. Anhar Gonggong. Acara ini dimoderatori oleh Ketua Umum PB HMI MPO, Puji Hartoyo Abubakar.

110 Tahun SDI, Kebangkitan Nasional Dimulai dari Sini

HMINEWS.Com – Yayasan “Rumah Peneleh” yang bergerak di bidang pemikiran Islam di Indonesia, khususnya pemikiran H.O.S Tjokroaminoto, mengadakan Sarasehan 110 tahun Syarikat Dagang Islam (1905-2015). Bertema “Kebangkitan Nasional Politik dan Bisnis Saudagar Muslim Indonesia.”

Sarasehan ini digelar di Pelataran Tugu Proklamasi, Cikini Jakarta Pusat, Jum’at (16/10/2015) malam. Dihadiri penyair budayawan Zawawi Imron dan sejarawan Anhar Gonggong, serta Ketua Rumah Peneleh, Aji Dedi Mulawarman.

Ketua penyelenggara, Azwar Muhammad, menyatakan bahwa acara ini sebagai upaya untuk membaca ulang sejarah kebangkitan nasional, yang dimulai dari pendirian SDI pada tahun 1905 di Solo, yang pada perjalanan berikutnya di bawah kepemimpinan Cokroaminoto menjadi Sarekat Islam (SI).

Sebagai sejarawan, Prof. Anhar Gonggong tidak menyalahkan inisiatif seperti ini, justru ia membenarkannya.

“Pemerintah tentukan itu (Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei), itu haknya dia. Tapi kita punya  hak juga kita mengatakan yang lain tanpa mengatakan itu salah. Jangan mengatakan bahwa 20 Mei itu salah, oleh karena itu anda memperingati itu,” ungkapnya.

Ia mengingatkan, tiap tanggal 20 Mei selalu ada protes mengapa yang dijadikan acuan adalah Budi Utomo yang lahir belakangan, yaitu pada 1908.

“Kalau itu yang dipersoalkan tidak akan pernah selesai, masing-masing punya kekuatan argumen. Oleh karena itu kita peringati saja ini sebagai bagian daripada bagaimana tokoh Tjokro membawa SI kemudian menjadi SII 1927 kemudian menjadi Partai. Dari Sarekat Dagang menjadi Sarekat Islam, menjadi Sarekat Islam Indonesia 1927 baru kemudian menjadi partai dan merupakan partai pertama yang menghendaki kemerdekaan,” paparnya.

Lebih penting daripada perdebatan itu, lanjutnya, adalah bagaimana mengambil pelajaran dari para pemimpin bangsa itu dan kiprah mereka.

“Mengapa ada orang seperti Tjokro, Hatta, Sukarno, Sahrir dan segala macam dalam masa pergerakan itu. Ada istilah dari presiden kita sekarang sewaktu kampanye, revolusi mental, kita merdeka dari revolusi mental itu. Tetapi para pemimpin memulainya dari diri sendiri dulu. Sukarno itu insinyur, Hatta anak orang kaya. Kalau dia mau bekerjasama dengan pemerintah kolonial belanda, akan dapat hidup enak. Kenapa tidak mau melakukannya, karena ia merevolusi mental dirinya sendiri dulu. Baru setelah itu ia melangkah menjadi pemimpin. Dan ia tahu risikonya; masuk penjara. Kalau tidak tahu risikonya ngapain maju ia. Sama dengan Cokro, Pak Jokowi melontarkan ide itu tapi tidak ada revolusi mental yang terjadi sekarang,” Prof. Anhar Gonggong melanjutkan.

Setelah merevolusi diri, baru menciptakan alat untuk merevolusi bangsanya. Jadi SI itu alat kegiatan untuk rakyat menyadari bersedialah berjuang meraih kemerdekaan. Landasan pikirnya seperti itu. Karena yang ‘menciptakan’ Indonesia adalah orang-orang yang berilmu, tidak sekedar berilmu, tapi sekaligus tercerahkan, karena itu mereka mampu melampaui dirinya.

Pendidikan Karakter untuk Mengikis Bakteri Korupsi

HMINEWS.Com – Pegiat anti korupsi di Semarang, Wardjito Soeharso, menyampaikan bahwa pendidikan menjadi harapan untuk menghilangkan penyakit korupsi. Hal ini disampaikan dalam studium general pelantikan Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) Cabang Semarang, Jum’at (16/10/2015).

Menurut Wardjito Soeharso Indonesia telah diserang bakteri yang bernama korupsi. “Bakteri” korupsi itu telah menggerogoti di semua lini, sehingga memerlukan penanganan yang sangat kompleks. Dibentuknya KPK adalah salah satu upaya menanganinya. Namun Wardjito menyayangkan adanya upaya pelemahan KPK dalam UU. Hal ini menandakan bahwa penyelenggara baik yudikatif dan eksekutif hilang komitmen untuk memberantas korupsi.

“UU itu memberikan batas kekuasaan KPK. Sementara mereka berupaya membiarkan kekuasaan untuk korupsi,” kata Wardjito.

Maka setidaknya, lanjut Wardjito, kita bisa mengurangi korupsi melalui ranah pendidikan, sebab dengan pendidikan akan meningkatkan derajat hidup dan corak berpikirnya.

“Terutama pendidikan karakter yang dibentuk untuk membenci korupsi. Contoh kecil, kita memasang jargon anti korupsi di mana pun, di meja kerja dan tempat yang menggerakkan semangat anti korupsi sehingga menjadi ‘alarm’ kita untuk tidak melakukan korupsi sekecil apa pun” ungkapnya.

A Abdul Mujib, LAPMI Semarang

Pengurus Baru Dilantik, LAPMI Semarang Diharap Lebih Greget

HMINEWS.Com – Bertempat di asrama HMI Cabang Semarang, Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) Cabang Semarang menggelar pelantikan kepengurusan periode 1436-1437 H/2015-2016. Acara yang dihadiri anggota HMI se-Semarang ini dimulai dengan agenda studium general, dialog dan pembacaan puisi.

Pelantikan dilaksanakan pada Jum’at (16/10/2015) malam. Hadir sebagai pelantik Abdul Razak selaku ketua HMI MPO Cabang Semarang. Dalam sambutannya, ia mengharapkan dengan adanya kepengurusan LAPMI baru, greget menulis kader HMI semakin terbangun. Ia meminta agar LAPMI melakukan program yang membangkitkan semangat kader untuk menulis.

Jajaran pengurus baru LAPMI Cabang Semarang yang dilantik adalah Muhamad Faizun (Direktur), Ahmad Mas’ud (sekretaris), A. Abdul Mujib (Bendahara), Ibnu Himawan dan Fajar (Staf).

Studium general disampaikan oleh Wardjito Soeharso, seorang pegiat anti korupsi di Semarang, dilanjut dengan diskusi dan ditutup dengan pembacaan puisi para penyair yang tergabung dalam buku antologi “Topeng Monyet Pendidikan” yang diterbitkan oleh Komunitas Sastra (Komsas) Semarang.

AA Mujib

Sejumlah Pakar dan Peneliti Hadiri LK2 HMI Yogya

Suasana LK2 HMI MPO Yogyakarta
Suasana LK2 HMI MPO Yogyakarta

HMINEWS.Com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) Cabang Yogyakarta menggelar Latihan Kader 2 (LK2) atau intermediate training. Acara ini diselenggarakan di Pesantren Darul Ulum Potorono, Bantul, mulai Selasa (13/10/2015).

Pelaksana atau panitia LK2 ini adalah HMI Komisariat FE UII, dengan ketua panitianya Abdullah Rosyid Wicaksono. Sedangkan peserta berjumlah 46 kader.

Menurut pemandunya, sejumlah pemateri yang telah mengisi LK2 ini di antaranya ada Suwarsono Muhammad (mantan Penasehat KPK) yang menyampaikan materi Integrasi Ekonomi; ada Al Makin, M.Phil (dosen UIN Yogya) yang menyampaikan materi Struktur Masyarakat Modern; serta Ki Herman Sinung Janutama (Peneliti Balai Kajian Sejarah Kebudayaan Islam di Nusantara), yang memaparkan “Ekonomi Kelautan Sebagai Identitas Kebangsaan.”

Untuk Herman Sinung, berbicara soal Jalur Sutra Laut, yang merupakan jalur pelayaran dan perniagaan dunia yang di dalamnya bangsa Nusantara dahulu mengambil peran.

“Menurut sejarawan China, Chu Ku Fei pada 1178 M yang mencatat tiga negeri terkaya di dunia yaitu Ta Ce (Aceh) dan Sanfotsi di Swarnabhumi (Sumatra) dan Chopo (Jawa),” paparnya.

Selain itu ada fakta kekinian yang menunjukkan mengapa perekonomian kelautan kita tidak berkembang, karena kapal-kapal banyak yang tidak terkena pajak di Indonesia. Dan itu menurutnya terjadi karena beberapa negara yang telah mengatur bagaimana pajak-pajak itu tidak dipungut di kelautan di Indonesia.

“Kita sering menggunakan teori-teori barat untuk mengenali budaya kita, sedangkan kita sebenarnya memiliki peninggalan-peninggalan penting di Indonesia, melalui artefak2 candi, dan lain-lain” ungkapnya.

Nah dari sini ia juga meneliti bahwa Nusantara ini adalah budaya yang unggul dengan meneliti dari beberapa artefak langsung.

Sabil, HMI MPO Farmasi UII

64 Mahasiswa Baru Ikuti Batra HMI FIAI UII

HMINEWS.Com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) Fakultas Ilmu Agama Islam UII menggelar Latihan Kader 1 (LK1) atau basic training (batra) HMI. Acara dibuka pada Kamis (15/10/2015) malam dan dihadiri lebih dari seratus kader dan peserta latihan.

LK1 ini diadakan di Yayasan Al-Islam Babarsari. Peserta berjumlah 64 orang, dengan rincian 56 dari FIAI UII dan selebihnya merupakan utusan dari komisariat lain di HMI Cabang Yogyakarta.

Ketua Panitia LK1, Remo, dalam sambutannya hanya mengucapkan selamat datang  kepada para pesreta. Ia mengajak mereka semua untuk berjuang bersama-sama di UII melalui wadah Himpunan ini. Demikian juga Ketua Komisariat FIAI UII, Luthfi, menyampaikan hal senada, mengajak para calon kader tersebut untuk berproses bersama di HMI.

Sambutan juga disampaikan oleh Ketua Korkom UII, Wahyudin Afrizal, yang hadir pada pembukaan, “LK 1 merupakan gerbang awal untuk masuk ke HMI, mari memanfaatkan momentuk LK. Karena HMI dan UII ibarat mata uang logam yang tidak bisa dipisahkan,” mengingat di kampus inilah HMI lahir dan hingga kini terus menyumbangkan kadernya.

Mewakili Pengurus HMI MPO Cabang Yogyakarta, Manan, membuka LK1 yang bertema “Membangun Paradigma serta Intelektualitas Kader yang Islami dan Progresif menuju Masyarakat yang Madani” dan diagendakan berlangsung hingga Ahad depan.

Harun Aroni
Kontributor HMINEWS Yogyakarta

Pembakaran Gereja di Singkil: Konflik Islam-Kristen atau Konflik Internal Komunitas Gereja?

Yang perlu kita fahami dalam melihat konflik sosial berlatar keagamaan adalah kenyataan bahwa semuanya tidak terjadi dengan cara tiba-tiba. Tentu akan bermanfaat bila kita dapat melihat konflik Singkil dari kemungkinan adanya konflik-konflik kecil di dalamnya.

Sebagaimana diketahui sebenarnya selalu ada proses ke arah pematangan konflik sampai ia akhirnya meledak. Konflik tidak serta merta hadir begitu saja tanpa adanya proses yang terjadi dalam hitungan tahun atau dekade bahkan abad. Konflik besar juga selalu disertai dengan konflik-konflik kecil berupa letupan-letupan sebelumnya (catatan tahun 1974, 1979, 1988, 1994. 2010, 2011, 2012). Seperti pembakaran gereja Singkil yang mustahil terjadi tanpa ada sebab-sebab panjang di belakangnya.

Pernyataan umum di media massa dan media sosial berupa tudingan bahwa kelompok massa Islam pembakar gereja itu tidak toleran, anti kebersamaan, dan melawan kemanusiaan adalah pernyataan yang berbasiskan kepada pandangan modern yang kurang dikenal oleh aktor-aktor konflik. Pandangan ini murni datang dari pengamat luar yang mungkin setelah membaca beberapa buku pluralisme menjadi sedemikian moderat dan liberal termasuk dalam memandang sikap dan keyakinan keberagamaan orang lain.

Selain bahwa pandangan tadi sekali keluar dari kenyataan bahwa konflik di Singkil adalah persoalan yang pertama-tama dapat diasumsikan sebagai konflik antara pendatang dan warga asli, antara pekerja perkebunan baru dengan penduduk asli dengan model kerja tradisionalnya.

Munculnya konflik sebenarnya telah terjadi pada saat pertama kali pemerintahan Orde Baru menekankan Singkil sebagai Kabupaten di Aceh yang menjadi ikon dari suksesnya pembangunan pertanian. Ikonisasi yang dengan sendirinya menarik lebih banyak modal untuk mengejar target-target produksi. Selain bahwa di sana kemudian terjadi perubahan fungsi ruang dan pola kebudayaan dalam pertanian, maka kedatangan imigran pekerja perkebunan-perkebunan baru memunculkan persoalan penempatan atau penyusunan kerja setelah di unit-unit perkebunan.

Sejak tahun 1970-an berkembang modal (agglomeration) dan imigran dari wilayah selatan (Tapanuli) ke lokasi-lokasi perkebunan di daerah Singkil secara langsung bersentuhan dengan warga asli (indigenou) yang telah memiliki perekat sosial sekaligus identitas kebudayaannya yaitu kebanyakan petani tradisional, Melayu-Aceh dan Islam (muslim).

Gesekan antara pekerja yang didominasi etnis Batak dan beragama Kristen ini sudah terjadi sejak awal tahun 1974. Pembukaan lahan karet dan kemudian sawit bukan saja telah merusak tatanan sistem pertanian -yang dengan sendirinya kebudayaan- setempat tetapi juga meningkatkan gesekan sosial ke arah identifikasi budaya. Kohesi sosial atau upaya merekatkan penduduk asli dengan warga pendatang bukanlah perkara mudah terutama di daerah pedesaan dimana sekali lagi seperti disebutkan di atas, identitas agama telah diadopsi menjadi identitas budaya dari suatu etnis. Bukan hanya terjadi pada orang Aceh Singkil yang dianggap bukan Aceh bila bukan muslim. Hal yang sama dengan predikat bukan Menado tulen bila tidak ke gereja.

Di sini pun, dengan mengkategorisasi aktor-aktor konflik sebagai pendatang versus penduduk asli, penganut Kristen versus penduduk muslim, sebenarnya kita masih terlalu menyederhanakan peta konflik. Ini karena dalam konflik perlu juga dilihat adanya kemungkinan apa yang disebut kompetisi internal di dalam kelompok aktor yang sama.

Sebelum kita menghadap-hadapkan aktor antagonis-protagonis maka kita dapat mengajukan pertanyaan awal terlebih dahulu;

“Mengapa begitu banyak gereja dalam unit (wilayah pertanian-perkebunan)?
“Apakah jarak penduduk ke gereja satu dengan yang lainnya terlalu jauh membutuhkan waktu berjam-jam?”
“…ataukah sebenarnya sesama pengurus gereja terjadi kompetisi sehingga mereka memunculkan diri atau community cohesion-nya melalui gerejanya masing-masing.

Community cohesion atau ikatan komunitas adalah bentuk lain dari ikatan sosial yang sifatnya lebih pribadi dan terbatas. Mereka yang disebut dengan para pendatang memang pada akhirnya berhimpun karena alasan formasi kerja. Bila mengutip Wolff dan Morales bahwa kelompok masyarakat pendatang yang didominasi etnis Batak ini menemukan kebersamaannya dalam koalisi-koalisi yang disesuaikan dengan jenis-jenis dan tempat-tempat dimana mereka bekerja.

Melalui semangat satu pekerjaan (atau satu unit/ sektor) mereka menciptakan apa yang disebut unionism, satu koalisi baru dari kelompok-kelompok pekerja untuk merekatkan diri mereka kepada sesamanya dalam menghadapi tumbuhnya modal-modal dengan semakin banyaknya pekerja pendatang. Lambat laun, unionism yang secara alamiah mengambil upeti dari jamaah yang umumnya adalah pekerja dimana kemudian upeti tadi dikuatkan dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan peribadatan.

Semakin besar rumah peribadatan maka semakin tinggi nilai competitivness gereja tadi dibanding gereja-gereja dari union-union lainnya. Di sinilah muncul persaingan yang semakin kuat ketika semakin banyak jemaat berkumpul maka semakin tinggi tingkat kemakmuran dan gengsi kelompok. Akibatnya mereka-mereka yang tidak mendapatkan kesempatan berperan lebih dalam komunitas yang lebih besar dengan sendirinya mendirikan rumah-rumah peribadatannya masing-masing dengan sentimennya yang juga masing-masing.

Tingginya angka pertumbuhan gereja di Singkil sebenarnya tidak berkorelasi dengan semakin banyaknya penganut kristen baik itu dari segi kedatangan buruh baru maupun dari warga Singkil yang berhasil di-kristenkan, tetapi murni dari konsekunsi munculnya unionisme yang berhimpun dalam komunitas-komunitas gerejanya masing-masing.

Sehingga kemarahan warga Singkil adalah sama sekali bukan karena banyaknya penganut Islam yang berhasil dikristenkan tetapi karena pertumbuhan gereja yang luar biasa karena dipicu oleh persaingan di antara sesama penganut kristen yang masing-masing ingin eksis telah mengganggu kohesi sosial antar pendatang dan penduduk asli yang pernah dibangun sebelumnya.

Andi Hakim