HMI Cabang Yogya: Kami Belum Tentukan Calon untuk Kongres 30!

HMINEWS.Com – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) Cabang Yogyakarta merasa keberatan dengan publikasi nama-nama bakal calon ketua umum PB HMI pada kongres ke-30 yang akan digelar di Tangerang. Ketua dan Sekum HMI Cabang Yogya menyatakan pihaknya hingga saat ini belum bersepakat, figur mana yang akan mereka usung nantinya.

“Beberapa kader Yogya agak keberatan dengan muatan berita soal kandidat. Pembaca menafsirkan berbeda-beda dan tentu akan mempengaruhi sikap cabang-cabang, padahal Yogya sampai sekarang tidak mengusung siapa-siapa, tapi cabang selain Yogya malah menafsirkan kalau Yogya mengusung kandidat dan Yogya dianggap tidak tahu diri,” kata Sekum HMI MPO Cabang Yogya, Muhibbuddin A Muqorrobin kepada hminews, Selasa (10/11/2015) malam.

Muhib menambahkan, pengusulan nama hanya terjadi di Kongres (seperti biasanya).

Kemudian, Rabu (11/11/2015) pagi, Ketua Umum HMI MPO Yogya, Makruf Riyanto, juga melalui pesan yang disampaikan Sekumnya, menegaskan kembali keberatan tersebut.

“Sebab berita itu cukup mengganggu mengingat Cabang belum mengeluarkan pendapat resmi, smentara nama-nama sudah beredar. Pasalnya muatan tersebut dapat menimbulkan penafsiran yang tidak diinginkan,” tulisnya.

Sebagaimana diketahui, hminews telah merilis 16 nama bakal calon yang beredar, yang tiga di antaranya merupakan kader Yogya, yaitu Ahmad Sahide, Bambang Suherly, serta Zuhad Aji Firmantoro.

Penjelasan Redaksi Hminews

Redaksi Hminews mengakui dan membenarkan fakta bahwa pengusulan calon-calon ketua dilakukan sewaktu kongres berlangsung, dan selama ini yang terjadi Cabang-cabang HMI MPO belum pernah ada yang mendeklarasikan calon yang mereka usung menjelang kongres. Redaksi menegaskan, nama-nama telah dipublish itu memang bukan usulan resmi cabang-cabang.

Pada kenyaataannya berdasar pengalaman berkongres sejak tahun 2007 di Depok, Kongres 2009 di Jogja, Kongres 2011 di Pekanbaru dan Kongres 2013 di Bogor, sebenarnya nama-nama calon itu sudah lama beredar di kalangan tertentu; di sejumlah alumni penyokong, dan tim pengusung atau tim sukses yang juga telah bergerak melakukan lobby-lobby ke personel-personel yang dinilai berpengaruh terhadap masing-masing cabang.

Namun begitu, karena tidak setiap Cabang memiliki kandidat yang akan diusung, dan nama-nama baru beredar secara terbuka pada saat kongres berlangsung, maka peserta kongres kurang memiliki waktu yang panjang untuk menimbang dan menilai serta menelusuri track record calon-calon yang bermunculan pada hari-H.

Sebagian peserta kongres kebingungan menentukan pilihan, dan hal ini yang dimanfaatkan tim-tim lobby. Peserta yang belum mempunyai pilihan itu juga tak jarang bertanya kepada senior masing-masing yang sebenarnya kepada mereka telah disampaikan visi kandidat yang diusung itu, oleh tim pendukungnya. Maka dari itu redaksi menganalisis nama-nama yang telah beredar itu dan mempublikasikannya. Itu saja sebenarnya masih ada yang mempertanyakan mengapa tidak ada nama dari cabang atau wilayah mereka, padahal dilihatnya potensial.

Demikian penjelasan redaksi

Peringatan Hari Pahlawan, PB HMI Serukan Kedaulatan Penuh atas Laut

HMINEWS.Com – Peringatan Hari Pahlawan 10 November di atas KRI Banda Aceh di perairan Tanjung Priok Jakarta berlangsung khidmat. Menteri Pendayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandy memimpin upacara dan tabur bunga untuk mengenang dan menghormati para pahlawan yang gugur merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Berbagai instansi dan organisasi turut ambil bagian dalam prosesi tersebut, tak terkecuali Pengurus Besar HMI MPO yang diwakili oleh Sekjen serta beberapa personel lainnya. Menyikapi hal yang tergolong baru itu, Sekjen PB HMI MPO, Abdul Malik Raharusun menyampaikan apresiasinya.

“PB HMI-MPO merasa bangga di Hari Pahlawan ini 10 November 2015 secara institusi kita dilibatkan oleh Kementerian Sosial RI guna mengikuti Upacara Tabur Bunga di Laut Jawa bersama KRI BANDA ACEH-593. Bagi PB HMI Upacara Tabur Bunga di Laut mestinya tidak sebatas seremonial untuk menghormati dan menghargai jasa para pahlawan yang gugur di laut saat berperang. Tetapi lebih dari itu, peringatan ini juga harus dilihat dalam perspektif yang lebih luas; bahwa kita adalah Bangsa Maritim terbesar di dunia, kita memiliki garis pantai terpanjang di dunia, kita memiliki laut yang lebih luas dari daratan, kita bangsa yang kekayaan lautnya tidak terhingga. Bahwa sudah saatnya laut Indonesia dengan segala keunggulan yang dimiliki harus dapat diberdayakan dalam rangka kesejahteraan rakyat dan bangsa dan hal ini hanya dapat di wujudkan apabila kita berdaulat dalam segala aspek untuk memberdayakan laut kita,” ujar Abdul Malik Raharusun panjang lebar, Selasa (10/11/2015).

Menurutnya, berdaulatnya negara untuk memberdayakan laut paling tidak memiliki beberapa kriteria, di antaranya:
1. Kita memiliki angkatan laut yang kuat baik secara militer maupun ideologinya. Angkatan laut yang kuat secara praktis akan mudah menjaga teritori laut kita dan kuat secara ideologi membuat angkatan laut kita tidak mudah disuap atau berbuat curang.
2. Nelayan nusantara juga harus mendapatkan prioritas penuh dari negara. Nelayan kita harus dilatih agar bisa menangkap hasil laut secara profesional sampai kepada pemasaran hasil lautnya.
3. Produksi perikanan dan kelautan harus dihidupkan sebagai bagian dari kekayaan bangsa 

“Hanya dengan demikianlah kita yang hidup di zaman kemerdekaan dapat dikatakan menghargai jasa para pahlawan khususnya pahlawan yang gugur di laut,” pungkasnya.

HMI MPO Manado Gelar Konferensi ke-12

HMINEWS.Com – Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO) Cabang Manado mengggelar Konferensi Cabang (Konfercab) ke-XII yang bertempat di Asrama Haji Tuminting, Jumat (06/11/2015).

Dalam konfernsi ke-12 HMI MPO Cabang Manado ini, para kader menetapkan tema “Reposisi Gerakan HMI; Ikhtiar Wujudkan Insan Ulil Albab.” Ketua Umum Fandi Umanahu dalam pembukaan acara ini menyampaikan, keseluruhan hidup manusia sebenarnya merupakan perjuangan dan perlawanan tiada akhir.

Sementara dalam konteks berorganisasi di HMI ini, menurutnya, merupakan langkah tepat untuk menempa dan memperbaiki kualitas diri. “HMI lahir untuk membuat perubahan sosial, dengan tujuan HMI menjadikan manusia menjadi insan Ulil Albab yang bertanggung jawab pada struktural dalam membina masyarakat,” ujar Fandi di depan puluhan kader HMI.

Fandi juga menambahkan, HMI juga bertanggung jawab dalam meraih ridhoi dari Allah Swt, dan  lebih lama organisasi ini berdiri maka akan semakin tinggi ujian yang ada, maka itulah dalam konferensi ini mengambil tema ‘Resposisi Gerakan HMI Ikhtiar Wujudkan Insan Ulil Albab.’

“Revolusi tidak hanya satu hari terjadi, tapi bahkan ratusan hari. Semoga HMI tetap konsisten dalam bergerak menuju Ridhoa Ilahi,” tuturnya, pukul 22.00.

Sementara itu, dalam sambutan Alumni HMI Cabang Manado Indra Arsiali yang langsung membuka Konfrensi Cabang menuturkan, HMI punya  karakter khas, yang pertama HMI umat terbaik diantara organisasi yang ada di Indonesia, karena hanya HMI yang berani menampung beraneka ragam kepentingan dan golongan.

“Hal itu membuat HMI sudah terbiasa dengan ‘konflik’ atas gesekan antara faksi-faksi yang ada, namun yang terpenting adalah HMI merupakan umat terbaik,” ungkapnya, sembari memberikan semangat pada kader-kader HMI Cabang Manado.

Sebelum mengetuk palu tanda pembukaan konferensi, Indar berharap agar resposisi pada tema benar diaplikasikan. “Mudah-mudahan resposisi ini bukan hanya berpindah posisi melainkan, berpindah posisi yang lebih baik lagi,” tandasnya.

(Arman Soleman, detikawanua)

Inilah Para Bakal Calon Ketua yang Akan Bersaing di Kongres HMI MPO

Inilah nama-nama kader yang akan meramaikan bursa calon ketua umum HMI MPO pada Kongres ke-30 di Tangerang, 12-16 November 2015, versi redaksi hminews.

  1. Abdul Malik Raharusun
    Aktif di Pengurus Besar selama dua periode (2011-2013 dan 2013-2015). Saat ini masih menjabat Sekjen PB HMI MPO. Telah menamatkan pendidikan Magister Pendidikan di UNJ dan tengah menempuh program doktoral di UNJ juga.
    Tipe organisatoris dan pemikir taktis. Telah menulis beberapa buku. Prediksi diusung dari HMI MPO Cabang Tual Maluku Tenggara, sejumlah cabang di Maluku dan Papua. Telah menikah dengan mantan Ketua Umum HMI Cabang Jakarta, Dona Marliza (2015). Namun tampaknya kurang berminat duduk untuk ketiga kalinya di PB HMI MPO.
  2. Agus Thohir
    Alumni IAIN Walisongo Semarang. Mantan Ketua Umum HMI Cabang Semarang 2009-2010, Sekjen PB HMI 2011-2013 selama satu semester awal.
    Tipe organisatoris, konseptor dan penggerak. Pengalaman menyatukan elemen gerakan mahasiswa se-Semarang.
    Kemungkinan cabang pengusung: Semarang. Mendekati kongres ini Agus Thohir tidak menampakkan minatnya maju untuk PB HMI 1. Tidak pula terdengar melakukan komunikasi politik untuk hal itu.
  3. Ahmad Sahide
    Kader HMI Cabang Yogya, menyelesaikan S1 di UMY dan S2 di UGM. Pernah menjabat wasekum HMI MPO Cabang Yogya, 2007-2008, setelah itu menjadi anggota pengader di KPC Yogya.
    Setelah demisioner dari kepengurusan Cabang Yogya belum pernah menjabat kepengurusan Badko hingga PB sehingga bisa dibilang minim pengalaman memimpin, namun cukup produktif menulis buku yang dinilai sebagai penanda intelektualitasnya. Hal ini yang lantas menyatukan alumni/ senior Makassar untuk memuluskan jalannya ke PB 1. Bahkan menjelang kongres ini senior Makassar turun tangan mempertemukan pengurus Cabang Makassar dengan pengurus Cabang Makassar versi KLB yang sudah hampir dua tahun kepengurusan dan belum konferensi.
    Yang bersangkutan telah menjalin komunikasi dengan personel PB HMI dan alumni, yang bisa diartikan sebagai keinginannya maju pada bursa calon Ketua Umum PB HMI MPO. Didukung sejumlah senior UMY dan cabang binaan mereka di Mataram NTB. Selain itu salah seorang alumni UMY yang pernah duduk PB HMI periode kepengurusan M Chozin (2009-2011), yaitu Hamdani, saat ini aktif nongkrong di PB HMI dan tampaknya hal ini dilakukan untuk mengumpulkan informasi dan menggalang dukungan itu.
  4. Bahtiar Rambangeng
    Mantan Ketua Umum HMI Cabang Makassar. Menamatkan S1 filsafat di Universitas Islam Negeri Sultan Alauddin Makassar. Pernah duduk di Korps Pengader Nasional (KPN) periode 2011-2013 yang dipimpin Muhammad Yusuf sebelum dibekukan pada periode itu oleh Ketua Umum Alto Makmuralto.
    Telah menjalin komunikasi dengan sejumlah senior dan cabang untuk maju di Kongres. Kemungkinan cabang pengusung masih berbagi dengan Fauzi, Ahmad Sahide maupun Ari mantan ketua Badko Sulambanusa. Telah menikah (2015).
  5. Bambang Suherly
    Alumni UMY. Saat ini merupakan Staf Komisi PAO PB HMI. Tipe pribadi kinestetis yang enerjik dan menyukai pekerjaan lapangan, suka berkunjung ke cabang-cabang. Telah menikah dan mempunyai 2 anak. Sebenarnya punya ‘sedikit’ keinginan untuk maju, namun ia punya pertimbangan lain soal keluarga, dukungan cabang, serta pertimbangan terhadap bakal calon lain yang akan bersaing di Kongres nanti.
  6. Endri Somantri
    Mantan Sekum HMI MPO Cabang Bogor saat Herdiana menjadi Ketua Umumnya. Saat ini merupakan Ketua Badko HMI MPO Jawa Bagian Barat (Jabar, Banten dan DKI Jakarta). Pengurus aktif maupun sejumlah mantan pengurus Cabang Bogor terlihat hendak mengusungnya pada kongres ke-30 ini. Pernah juga Endri menyampaikan niatnya itu, namun ia masih berhitung, apalagi mungkin akan bersaing dengan senior se-cabangnya atau sesama bakal calon dari wilayah barat.
  7. Fendi Tulusa
    Mantan Ketua Umum HMI MPO Cabang Gorontalo. Tidak menujukkan minat untuk bersaing di kongres dan tidak terlihat pula menjalin komunikasi atau mencari dukungan untuk menuju kesana. Saat ini telah menikah dengan Novawati van Gobel, yang juga mantan pengurus di cabang yang sama dengannya.
  8. Herdiana Abdussalam
    Mantan Ketua Umum HMI MPO Cabang Bogor, mantan Ketua Badko Jawa Bagian Barat, serta menjabat Ketua Komisi Pemuda PB HMI MPO 2013-2015. Saat ini telah berkarir sebagai Kepala Desa di sebuah desa di Banten. Dengan pilihannya saat ini, tentu Herdi tidak akan maju pada bursa calon Ketua Umum PB HMI MPO meski punya kans dan dukungan di wilayah barat. Herdi juga telah menikah dan mempunyai seorang anak.
  9. Herman Haerudin
    Pendiri dan ketua pertama HMI MPO Cabang Majene. Alumni S1 Ilmu Keguruan Bahasa Inggris di Mejene dan S2 UNINDRA Jakarta. Pernah menjabat Sekjen PB HMI MPO di zaman kepengurusan Alto Makmuralto, semester 2. Telah menikah dan mempunyai seorang anak. Bekerja satu kantor dengan Bahtiar dan Fauzi. Beberapa kali menyatakan keinginan untuk maju di PB satu, namun belakangan sepertinya keinginan tersebut tidak sekuat dulu.
  10. Muhammad Fauzi
    Mantan Ketua Umum HMI Cabang Makassar. Alumni Fakultas Teknik Elektro UNM dan masih menempuh pendidikan S2 Ilmu Politik Universitas Indonesia, Depok, tengah mengambil cuti. Pernah menjabat Staf Komisi Politik PB HMI periode 2011-2013 sebelum direshuffle oleh Alto. Telah menjalin komunikasi dengan sejumlah alumni/ senior dan cabang untuk menghadapi Kongres nanti. Kemungkinan diusung dari Cabang Bima, atau bisa juga dari Cabang Makassar yang merupakan cabangnya dahulu, serta sejumlah cabang lain.
  11. Muhammad Rafi
    Mantan Ketua umum Badko Sumatra Raya 2011-2013 dan Ketua Komisi Kebijakan Strategis PB HMI 2013-2015. Selama menjabat di PB HMI lebih banyak aktif di Sumatra. Alumni Fakultas aktif sebagai dosen di Pekanbaru.
    Prediksi diusung Cabang Pekanbaru, jika memang berniat maju di kongres. Telah menikah dan mempunyai anak.
  12. Muhammad Zaki
    Mantan Ketua Umum HMI MPO Cabang Jakarta Selatan. Alumni S1 UIN Syarif Hidayatullah Ciputat. Menjabat sebagai Wakil Sekjen pada semester pertama kepengurusan PB HMI MPO 2013-2015 dan setelah reshuffle menjabat sebagai Komisi Ekonomi PB HMI MPO. Belakangan aktif menjalin komunikasi untuk maju bursa Ketua Umum pada Kongres 2015 di Tangeran ini. Disayangkan ia tidak begitu aktif di kepengurusan ini yang seharusnya bisa menjadi pertimbangan banyak pihak dan untuk melihat kinerjanya.
  13. Nurul Huda
    Alumni S1 STAI Laa Tansa Mashiro, Lebak Banten. Mantan Ketua Badko Jawa Bagian Barat, dan saat ini menjabat Ketua Komisi PAO PB HMI saat ini. Telah menikah dengan salah satu personel Kornas KOHATI (2015). Tidak menunjukkan minat untuk maju atau mencalonkan diri sebagai Ketua PB HMI MPO pada kongres ini, dan tampaknya sudah mulai fokus pada kehidupan keluarganya.
  14. Subardin Zuhdi
    Mantan pengurus HMI MPO Cabang Palu, dan menjadi Ketua Komisi Lingkungan PB HMI MPO 2013-2015, namun lebih banyak aktif di daerahnya, tidak begitu aktif di Jakarta. Yang bersangkutan sebenarnya pernah mengutarakan niatnya maju di kongres 2015 ini, namun terlihat mengendur dan tidak melakukan komunikas intensif lagi.
  15. Syafrimal Akbar
    Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Pakuan Bogor. Mantan Ketua Umum HMI MPO Cabang Bogor tahun 2010, dan pernah menjabat Ketua Komisi Ekonomi PB HMI MPO 2013-215 pada semester pertama.
  16. Zuhad Aji Firmantoro
    Mantan Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta 2012-2013, setelah itu menjadi sekretaris KPC Cabang Yogya. Saat ini menjabat Ketua Komisi Hukum dan HAM PB HMI MPO. Alumni S1 Fakultas Hukum UII dan hampir menyelesaikan S2 di kampus yang sama. Cukup aktif di kepengurusan dan menyikapi dinamika politik tanah air. Tidak terlihat menjaln komunikas politik untuk maju pada kongres ini. Dan lagi, Ketua Umum PB HMI MPO saat ini sama-sama satu almamater dengannya. Selain itu secara tradisi ada rolling kewilayahan untuk memimpin PB HMI, sehingga tampaknya ia mempertimbangkan faktor ini. Sekarang advokat di Yogya.Selain nama-nama tersebut, mungkin masih bisa muncul nama lain pada pelaksanaan kongres nanti. Semoga semua bisa bersaing secara sehat.

Dari Pekanbaru Hingga Kandidat, Antara Solusi dan Ilusi

ANdriOleh : Andriyatno

Angin seolah-olah akan membawa para kader HMI berlabuh menginjakkan kakinya di Kota Pekanbaru, Riau. Dimana dikota tersebut akan diselenggarakannya ‘pesta demokrasi’ organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dalam rangkaian acara Kongres yang pada saat ini sudah menginjak kongres yang ke XXIX. Berbagai macam persiapan dilakukan oleh penyelenggara, dalam hal ini adalah PB HMI. Ironis memang, dengan ditetapkannya Pekanbaru sebagai tuan rumah Kongres, pada saat itu juga Pekanbaru baru saja dilanda musibah kabut asap, yang tentu sungguh memprihatinkan dan membuat hati kita teriris, karena melihat banyak masyarakat Pekanbaru yang terganggu pernafasannya dan juga menyebabkan jatuhnya korban, terutama dari kalangan balita dan anak-anak. Semoga dengan diadakannya Kongres HMI ke XXIX, memberikan sebuah penghibur bagi masyarakat Pekanbaru yang baru saja sedang diuji, bukan justru menambah duka mereka semua dengan sikap dan tindakan kader-kader HMI di area Kongres nanti yang bisa merugikan masyarakat Pekanbaru.

Sebagaimana diketahui bahwa HMI telah memberikan warna-warni tersendiri bagi bangsa ini, terhitung sejak keberadaannya pada tahun 1947, HMI telah memberikan kontribusi yang nyata bagi bangsa Indonesia ini. Jika kembali ke historis, bahwa diawal mulanya HMI berdiri, HMI ikut turut berkontribusi dalam mempertahankan NKRI dan turut melakukan perlawanan terhadap para penjajah dan komunis, dan pada saat Orde Baru mencapai keemasannya pada masa Cak Nur, dengan memformulasikan NDP sebagai spirit ideologi HMI, dan akhirnya melakukan perlawanan terhadap rezim Orde Baru yang semakin diktator dan otoriter, sehingga rezim orde baru pun tumbang, dan terjadilah reformasi besar-besaran yang digalangi oleh mahasiswa, pemuda dan masyarakat. Namun romantisme historis itu seakan-akan lenyap didalam tubuh HMI, dimana pasca reformasi ini HMI bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya, yang berjalan tanpa arah dan tujuan yang pasti.

Dimana kejayaan-kejayaan HMI pada masa lalu, tidak terulang kembali pada saat ini, HMI pada saat ini hampir kehilangan “Khittah”-nya yakni missi ke-Indonesiaan dan ke-Islamannya yang dibumbui spirit dari Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) dan menomorduakan perkaderan. Hal tersebut dikarenakan HMI pada saat ini terlalu asyik dengan masalah internal, dengan kegaduhan politik yang menguras energi, terlebih menjelang kongres seperti pada saat ini. Kemunduran HMI tersebut telah dijawab dan dijelaskan dengan gamblang oleh Sejarawan HMI alm. H. Agus Salim Sitompul, dimana dalam karyanya yang berjudul “44 Indikator Kemunduran HMI” beliau menjabarkan faktor-faktor yang membuat HMI mundur pada saat ini. Seolah-olah tidak mau belajar dari beliau, dari waktu ke waktu HMI semakin mundur dan tidak tanggap atas persoalan keummatan dan kebangsaan.

Kemunduran HMI semakin terasa dan terlihat ketika HMI akan melaksanakan hajatan besar berupa kongres. Dimana pada saat menjelang kongres, libido dan syahwat politik lebih dikedepankan daripada menjaga persatuan dan kesatuan untuk membangun HMI secara bersama. Karena ketika menjelang kongres tersebut bermunculan para kandidat yang akan ‘bertarung’, dengan jargon-jargon dan segudang missi berupaya meyakinkan pengurus-pengurus cabang seluruh Nusantara. Suara rekomendasi cabang tersebut akhirnya jadi ajang rebutan dan persaingan bagi para kandidat, dan bahkan suara rekomendasi cabang tak lebih sebagai komoditas politik yang bakal laris dijual (marketable) untuk lenggang ke arena kongres. Hal ini juga diperparah oleh adanya rumusan dimensi politik yakni“siapa mendapat apa” (who gets what) sebagai sesuatu yang sudah “taken for granted”, serta masih banyak cara-cara kotor lainnya yang dilakukan oleh para kandidat guna memuluskan jalannya agar terpilih menjadi Ketua Umum PB HMI. Akhirnya itu semua akan mengakibatkan persaingan yang tidak sehat, dan akan menimbulkan saling kecurigaan, dan bahkan ada yang merasa terancam.

Sekiranya gejala tersebut sangat tepat, seperti yang dikatakan oleh ilmuan E.F. Schumacher maupun Fritjof Capra dalam tesisnya, menyebutkan bahwa “krisis ekonomi, sosial, politik, dan krisis lingkungan hidup, justru bersumber pada krisis moralitas diri kita” (lihat, Sukidi, Teologi Inklusif Cak Nur:2001). Dalam hal ini kaitannya adalah bagaimana moralitas para kader-kader HMI pada saat ini telah mengalami degradasi moral dan akhlak, terlebih bagaimana keadaan spiritual yang tercakup didalam semboyan “bernafaskan Islam” telah meluntur dari diri sebagian kader HMI, baik dari sisi ritual dan batiniah, dan digantikan oleh kapasitas nafsu dan syahwat nalar dalam berfikir, nafsu dan syahwat berkuasa yang tidak kunjung menepi, yang akhirnya mengorbankan dan menghilangkan sisi spritualitas dalam diri dan keluar konteks dari aturan main organisasi.

Tepat yang termaktub didalam pedoman perkaderan, bahwa manusia pada dasarnya cenderung pada kebenaran (hanief), hal tersebut dibuktikan dengan adanya perjanjian primodial dengan Tuhan, ketika Tuhan meniupkan ruh kepada manusia, maka manusia mendapat amanah sebaga ‘Wakil Tuhan’ (khalifah) di bumi, yang salah satunya diorentasikan untuk menjaga keberlangsungan hidup dimuka bumi ini, namun ketika ruh ditiupkan dalam bentuk materialisasi jasad dan diturunkan ke bumi, semua menjadi berubah, sehingga manusia menjadi mengada (being), tanpa berusaha memperbaiki diri untuk menjadi sempurna (becoming) atau meminjam istilah Cak Nur yang diambil dari Tasawuf Syaikhul Akbar Ibn Arabi, yakni manusia yang Insan Kamil, yang mana manusia yang sempurna (becoming, insan kamil) adalah manusia yang selaras antara IQ, EQ, dan SQ nya, dan mampu menyempurnakan ummat manusia (mukamil).

Sudah semestinya melihat realitas-realitas kemunduran HMI pada saat ini, sangatlah tepat untuk menjadikan momentum Kongres HMI ke XXIX di Pekanbaru mendatang sebagai langkah awal untuk membangun desain besar (grand design), untuk mengembalikan kembali spirit khittah HMI yang sudah lama hilang, dengan menjauhkan diri dari sifat dan syahwat berkuasa serta permasalahan internal yang tak menepi. Yang seharusnya menjadikan HMI sebagai Solusi untuk keummatan dan kebangsaaan, bukan hanya sebatas Ilusi dan janji-janji dari arena kongres ke kongres, tapi harus dibuktikan dengan memberikan problem solver yang nyata serta secara publik bisa dipertanggungjawabkan dan secara politis memang harus ditujukan demi kebaikan HMI dan kesejahteraan masyarakat, dimana dengan menegakan keadilan bagi kaum lemah (mustadha`afin) serta melawan kaum penindas (mustakbirin), karena Nabi Muhammad SAW sadar betul bahwa hancurnya bangsa-bangsa dimasa dahulu, karena jika “orang atas” (al-syarif) melakukan kejahatan, dibiarkan saja, tetapi jika “orang bawah” (al-dha’if) melakukan kejahatan, pasti dihukum. Begitulah, sukses Nabi Muhammad SAW dalam membangun masyarakat yang terbuka, adil, egaliter, dan demokratis di seluruh dataran dan semenanjung Arab pada saat itu.

Siapapun kandidat yang terpilih dalam kongres mendatang, yakni harus mencerminkan sifat kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, yakni dijadikannya beliau sebagai panutan dan suri tauladan yang baik dalam diri setiap para kandidat, sehingga dengan begitu akan hilang sifat-sifat diri yang tercela dan buruk disaat berkuasa nanti. Dan terlebih harus mengutamakan sisi perkaderan dibanding permasalahan-permasalahan politik internal HMI, karena sebagaimana diketahui bahwa perkaderan merupakan inti utama serta jantung dari HMI itu sendiri, karena jika perkaderan sudah lagi tidak diperhatikan, maka akan berdampak pada keberlangsungan dan eksistensi HMI itu sendiri. Adanya HMI adalah karena adanya prosesi perkaderan, dan juga adanya kader karena adanya prosesi perkaderan. Untuk itu para kandidat harus mempunyai strategi khusus untuk terus memperbaiki perkaderan yang ada didalam tubuh HMI, demi keberlangsungan HMI itu sendiri di massa depan.

Dan, juga yang harus dilakukan oleh seluruh kandidat adalah, bagaimana bisa mengatasi segala macam permasalahan HMI, keummatan, dan kebangsaan, dengan memberikan solusi perbaikan dari A-Z, sehingga HMI menjadi organisasi yang visioner, berkemajuan, bergerak, berfikir logis, tegar dalam berjuang, berdikari, dan menjadi green cita masyarakat, serta missi-missi lainnya, guna mencapai titik temu (kalimatun sawa, konvergensi), untuk terciptanya “Civil Society” atau sesuai goal dari tujuan HMI itu sendiri, yakni menciptakan masyarakat adil makmur yang diridlai Allah SWT.

Teringat perkataan Alm. Buya Hamka, bahwa beliau mengibaratkan perkembangan hidup kita seperti anak tangga. Ada saat ketika salah satu kaki kita sudah meninggalkam anak tangga yang dibawah, kaki melayang-layang sejenak diudara. Boleh jadi kaki terpeleset dan jatuh, itu risiko. Tetapi, jika takut menghadapi risiko, kita tidak pernah beranjak dari anak tangga terbawah. Begitulah keadaan yang tepat, untuk menggambarkan HMI pada saat ini, yakni dengan perkembangannya HMI pada saat ini yang mengalami kemunduran, bisa saja HMI semakin terjerumus dalam lubang yang sangat dalam, dan bahkan tidak akan nampak lagi dipermukaan. Akan tetapi jika tidak adanya usaha dan perlawanan yang berarti dari setiap kader HMI untuk mengembalikan kejayaan HMI, maka bukan tidak mungkin, seluruh kader HMI tidak akan melihat lagi HMI dipermukaan.

Andriyatno: (Mantan Ketua Umum BPL HMI Cabang Jakarta Pusat-Utara 2014-2015)
Tulisan untuk menyambut Kongres XXIX HMI ‘Dipo’ di Pekanbaru

Pratikno: Jangan Sampai Indonesia Kehilangan Momentum Lagi

HMINEWS.Com – Menteri Sekretaris Negara Prof. Pratikno menyampaikan bahwa Indonesia pernah berlimpah tiga macam sumberdaya alam sebagai modal besar pembangunan, namun kini ketiganya mendekati masa habisnya.

Menurutnya, ketiga sumberdaya alam itu adalah minyak, kayu dan minerba (mineral dan batu bara). Dahulu pembangunan sangat bergantung pada tiga hal tersebut, akan tetapi orientasinya terlalu konsumtif. Sehingga setelah minyak  habis, kekayaan industri kita tidak terbangun, selesai begitu saja.

Kedua, kayu. Hutan Indonesia sangat berlimpah kayu. “Itu kekayaan luar biasa.  Kayu habis. Apa yang diwariskan setelah kayu habis? SDM kita tidak maksimal, pemerataan pembangunan tidak maksimal, kemiskinan juga tidak turun maksimal, industri kita tidak maju juga, kalah dari Korea yang tidak punya apa-apa waktu itu,” papar Prof. Pratikno dalam sambutannya kepada Pengurus Besar HMI MPO yang beraudiensi dengannya di Kemensetneg, Kamis (5/12/2015).

Ketiga: minerba. Kita pernah menjadi eksportir batubara terbesar dunia, walau stok nomor 7 dunia, tapi kita pengekspor terbesar batu bara.

“Batu bara kan energi murah, diekspor ke China yang punya stok batubara jauh lebih banyak daripada kita. Itulah yang menghidupkan indsutri China. Karena mendapatkan energi murah dari kita. Mereka industrinya berkembang, memproduksi banyak manufaktur, ekonominya tumbuh, produk-produknya kita beli,” lanjutnya lagi.

Melanjutkan pembicaraan, Prof. Pratikno mengatakan bahwa Presiden Jokowi tidak ingin Indonesia kehilangan momentum lagi seperti waktu itu, meski ketiga SDA tersebut hampir  habis.

“Sekarang ini kita tidak punya moemntum semewah yang lama. Momentumyna sekarang adalah komitmen, keberpihakan, kepemimpinan, policy (kebijakan) pemerintah. Kita tidak akan punya rezeki nomplok seperti minyak, kayu dan minerba lagi. Walau begitu kita bukan menunggu. Saatnya sekarang dengan kepempimpinan dan keberpihakan ini kita lakukan sesuatu untuk membangun fundamental ekonomi yang kuat,” kata Mensetneg bersemangat.

Policy yang dimaksud agar Indonesia tidak lagi kehilangan momentum, kata Pratikno, adalah pemanfaatan atau pengalihan subsidi BBM secara tepat guna.

“Rp 300an triliun per tahun (subsidi BBM). Padahal bangun waduk setengah triliun per waduk. Kita bangun 49 waduk itu hanya butuh Rp 30 triliun, cukup sepersepuluh subsidi,” lanjutnya.

Menurut  perhitungannya, satu tahun subsidi BBM itu sudah cukup untuk membangun jalur kereta api seluruh Indonesia.

“Kalau kita ingin membangun pelabuhan, jalur kereta api, itu sudah satu tahun subsidi BBM sudah cukup. Kalau subsidi 70 persen untuk orang kaya itu kita ambil, itu sudah memenuhi 70 persen lebih kebutuhan kereta api seluruh Indonesia termasuk Papua. Dua tahun subsidi berarti bisa membangun waduk, jalur kereta api, tol seluruh Indonesia,” ujar mantan Rektor UGM tersebut.

“Sudah saatnya kita prihatin. Memang repotnya membangun pondasi di saat tidak menikmati keberlimpahan. Itu memang berat, tapi kalau tidak dimulai akan lebih repot lagi,” tandasnya.

Audiensi PB HMI MPO dengan Menteri Sekretaris Negara

Mungkin ini yang pertama kalinya dalam sejarah Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam – Majelis Penyelamat Organisasi (PB HMI-MPO) secara institusi organisasi diterima secara resmi oleh Sekretariat Negara Republik Indonesia. Tepatnya Kamis 5 November 2015 sekitar pukul 08.45 – 09.45 WIB, PB HMI-MPO bersilahturahim di gedung utama Sekretariat Negara.

Dalam kunjungan ini PB HMI-MPO yang terdiri dari Puji Hartoyo Abu Bakar (Ketua Umum PB HMI), Abdul Malik Raharusun (Sekretaris Jenderal), Fathurrahman (Direktur LAPMI), Endri Somantri (Ketua Badko Jabagbar/Ketua SC Kongres ke-XXX), Faridal Arkam (ketua HMI cabang Tangerang Raya) Khotibyani (Ketua Panitia Kongres ke-XXX) dan perwakilan cabang Tangerang Raya. Rombongan PB HMI-MPO langsung disambut oleh Menteri Sekretaris Negara Republik Indonesia (Setneg RI), Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc. di ruang rapat Gedung Utama Sekretariat Negara Republik Indonesia.

Kunjungan PB HMI-MPO ke Sekretariat Negara membahas dua hal, Pertama, terkait kehadiran unsur negara pada Kongres ke-XXX HMI-MPO pada tanggal 12-16 November 2015 di Kota dan Kabupaten Tangerang. Ketua Umum PB HMI-MPO dalam diskusi tersebut menyampaikan kepada Menteri Setneg RI, bahwa PB HMI-MPO berharap Pak Joko Widodo selaku Presiden RI dapat menghadiri dan membuka Kongres ke-XXX HMI-MPO nanti. Dan Kedua, kunjungan ini juga sebagaimana permintaan Menteri Setneg RI, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc. agar PB HMI-MPO membawa lembar sejarah HMI untuk menjelaskan keberadaan dua HMI. Maka silaturahim PB HMI-MPO juga membawa lembar putih sejarah HMI yang menjelaskan secara historis perpecahan dua HMI. Sebagaimana dalam sejarah, sejak perpecahan HMI 29 tahun silam yakni ketika Pemerintahan Rezim Orde Baru, Presiden Soeharto memaksakan pemberlakukan Asas Tunggal Pancasil bagi seluruh elemen organisasi, termasuk organisasi Islam, di tubuh HMI terjadi polarisasi ideologi yang berujung pada perpecahan HMI, yakni HMI-MPO yang tetap dengan asas Islam dan HMI-Dipo (penyebutan HMI-Dipo karena Sekretariatnya kala itu di Jalan Diponegoro No.16a) memilih berganti asas organisasi menjadi Pancasila. Selama Pemerintahan Orde Baru itu juga, HMI-MPO menjadi gerakan oposisi total terhadap seluruh kebijakan negara. Sikap negara pada masa itu juga sangat repsesif terhadap gerakan oposisi tercatat beberapa hajatan organisasi HMI-MPO seringkali menjadi incaran negara bahkan beberapa kongres dan program perkaderan dibubarkan atau membubarkan diri.

Pasca Orde Baru berganti dengan Orde Reformasi sikap negara terhadap gerakan oposisi kian akomodatif, begitu pun sebaliknya gerakan oposisi. Bahkan beberapa alumni HMI-MPO kini mengambil bagian dari proses bernegara yakni sebagai penyelenggara negara. Kunjungan PB HMI-MPO ke Sekretariat Negara RI yang langsung disambut oleh Menteri Setneg RI, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc. harus dilihat dalam perspektif positif yakni sebagai upaya negara menjamin kebebasan berserikat dan berpendapan bagi seluruh elemen gerakan. Begitu juga sebaliknya bagi elemen gerakan kemahasiswaan yakni sebagai upaya untuk “terlibat” memberikan sumbangsi gagasan pemikiran untuk perbaikan dan kemajuan berbangsa dan bernegara, sebagaimana tema Kongres ke-XXX HMI-MPO, HMI untuk NKRI yang Berdaulat.

Abdul Malik Raharusun
Sekjen PB HMI MPO

HMI Serang Adakan LK1 dan SC Berbarengan

HMINEWS.Com –  Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) Cabang Serang menyelenggarakan dua perkaderan berturut padqa akhir Oktober lalu. Yaitu Latihan Kader 1  (LK1) dan Senior Course (SC) atau kursus kepemanduan bagi calon pemandu atau pengader HMI.

Kegiatan tersebut dilaksanakan sejak Kamis (29/11/2015) di Pesantren Nurul Islam, Lopang Gedhe – Serang, Banten. LK1 diikuti peserta yang berasal dari kampus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), IAIN Sultan Maulana Hasanuddin, serta sejumlah mahasiswa dari Lebak. Sedangkan peserta SC juga berasal dari Lebak, Bogor, Tangerang dan Jakarta.

Ketua Umum HMI MPO Cabang Serang, Bowo, menyatakan kegembiraannya dengan pelaksanaan training tersebut. Menurutnya, di tengah degradasi moral sebagian anak bangsa, serta berbagai permasalahan yang membelit kehidupan, maka sudah menjadi kewajiban bagi mahasiswa untuk ambil peran, yaitu perbaikan moral dan melatih spiritual yang dimulai dari pribadi masing-masing.

“Bersyukur bahwa mahasiswa dapat meningkatan kualitas dirinya dengan mengikuti perkaderan HMI. Selain peningkatan kualitas spiritual dan intelektual namun juga bisa bergerak secara sosial. Mahasiswa sebagai insan intelektual harus menyadari bahwa Islam telah menawarkan konsep peradaban yang dapat menaungi semua golongan dan hal inilah yang diajarkan di HMI MPO,” kata Bowo.

Selain pemateri dan pemandu LK1 yang berasal dari internal HMI Cabang Serang, SC dihadiri pemandu-pemateri dari Badko maupun Kornas KPN. Wakil Walikota Serang, Sulhi Choir, juga sempat hadir dalam kegiatan ini.