PB HMI Lantik Pengurus Cabang Pangkep dan Adakan Konsolidasi HMI MPO Sulselbar

HMINEWS.Com – Ketua Umum dan Sekjen PB HMI MPO melakukan safari dan konsolidasi perkaderan di wilayah Sulselbar. Pengurus HMI MPO Cabang Pangkep, Palopo, Barru, Majene dan Makassar hadir dalam acara yang dirangkai dengan pelantikan pengurus HMI Cabang Pangkep tersebut.

Sekjen PB HMI MPO, Endri Somantri, menyatakan bahwa kegiatan ini untuk menguatkan perkaderan cabang-cabang HMI MPO di wilayah tersebut, agar makin mandiri.

“Konsolidasi regional Sulselbar sebagai langkah menguatkan perkaderan cabang-cabang di wilayah ini agar bisa mandiri secara perkaderan. Antar cabang juga akan saing bekerjasama dan bertukar informasi terkait permasalah cabang dan akan dibantu oleh Badko dan PB HMI. Dalam waktu dekat ada LK2 dan SC regional Sulselbar,” kata Endri Somantri, Rabu (27/4/2016) malam.

Ketua Badko Sulambanusa yang juga mencakup wilayah Sulselbar, Fahrul Rizal, menyatakan optimismenya. “Kami optimis konsolidasi regional ini akan menjadi alternatif bagi penguatan perkaderan dan pengembangan cabang-cabang baru di Sulselbar,” ujarnya.

Ketua Badko berkomitmen untuk mendampingi cabang-cabang dan memfaslitasi LK2, SC maupun LK3 di wilayahnya.

Sementara itu, Ketua Umum PB HMI MPO, Muhammad Fauzi, berharap dukungan cabang-cabang terhadap kebijakan PB dan responnya pada masalah kebangsaan dan keumatan.

“Kami berharap Badko dan cabang-cabang di Sulselbar merencanakan secara matang dan serius perkaderan. PB mengharapkan dukungan cabang-cabang terkait kebijakan PB HMI kedepannya, kebijakan atau respon terkait persoalan kebangsaan dan keumatan,” kata Muhamamd Fauzi berharap.

Pengurus baru HMI MPO Cabang Pangkep diketuai oleh Saefuddin. Dalam kesempatan ini ia menyampaikan, Pengurus HMI MPO Pangkep akan intens berkoordinasi dengan cabang-cabang sekitarnya seperti Makassar dan Barru yang didampingi Badko.

“Sehingga rencana dan agenda-agenda cabang bisa terlaksana dengan baik. Kami merasa bangga dengan kehadiran Ketua Umum dan Sekjen PB HMI MPO serta Ketua Badko, ini awal bagi kemajuan Cabang Pangkep,” kata Saefuddin usai dilantik di Aula Serbaguna Politeknik Negeri Pangkep.

Pengurus Baru Dilantik, HMI MPO Sorong Diharap Menjadi Sentrum Gerakan di Papua Barat

HMINEWS.Com – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) Cabang Sorong periode 2016-2017 dilantik. Acara pelantikan dirangkai dengan dialog gerakan pemuda dan mahasiswa se-Kota Sorong, yang juga, sesuai temanya, dihadiri berbagai elemen gerakan pemuda dan mahasiswa gerbang Tanah Papua tersebut.

Perwakilan pergerakan pemuda dan mahasiswa yang hadir, di antaranya ada pengurus KNPI Kota Sorong, Ketua-ketua organisasi Kelompok Cipayung Plus, dan tentu saja, yang paling membahagiakan para pengurus baru HMI MPO Cabang Sorong, adalah kehadiran Ketua Umum PB HMI MPO, Muhammad Fauzi.

“Kami sangat mengapresiasi kehadiran Ketua Umum PB HMI (MPO) karena memberi semangat kader dan pengurus dalam menjalankan amanah,” kata Ketua HMI MPO Cabang Sorong Hambali dalam sambutannya (23/4/2016).

Sementara Ketua Umum PB HMI MPO berharap Cabang Sorong bisa menjadi sentrum bagi pergerakan mahasiswa di Papua Barat, mengingat letak strategisnya sebagai jalur transit dan pintu masuk di ‘benua’ tersebut.

Dialog publik menghadirkan narasumber Ketua KNPI Sorong, Presidium KAHMI Sorong dan Ketua Umum PB HMI, Muhamamad Fauzi. Khusus untuk lintas gerakan ini, Fauzi berharap semua elemen besinergi.

“Kelompok Cipayung Plus terus membangun gerakan bersama mengawal pesoalan Papua Barat, bersinegi mengawal kebijakan-kebijakannya, seperti dalam masalah pertambangan,” kata Fauzi.

Para  perwakilan Cipayung Plus terkesan dengan model gerakan HMI MPO di Sorong yang dinilai unik, dan berharap dapat terus bekerjasama dalam berbagai kesempatan, dalam partisipasinya membangun generasi muda.

Dilantik, Pengurus HMI Jayapura Siap Bersinergi Selamatkan Generasi Muda

HMINEWS.Com – Pengurus baru Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) Cabang Jayapura peiode 2016-2017 dilantik. Acara pelantikan dirangkaikan dengan dialog publik ‘Gerakan Anti Narkoba di Bumi Cendrawasih’ (21/4/2016).

Dalam kesempatan tersebut Muhammad Fauzi menyatakan bahwa HMI siap digandeng untuk program anti narkoba, dan hal ini mendapat tanggapan positif dari BNN untuk ditindaklanjuti secara bersama dalam bentuk program-program untuk pelajar dan mahasiswa.

“HMI Cabang Jayapura berharap bisa bersinegi dengan PB HMI dalam agenda perkaderan maupun kebijakan-kebijakan strategis lainnya,” kata Ketua Umum HMI MPO Cabang Jayapura, Fandi Gai usai dilantik.

Kepengurusan ini HMI Cabang Jayapura mengangkat tema “Penguatan Gerakan Intelektual dan Kebudayaan Kade HMI.” Hadir pada acara tersebut Ketua Umum PB HMI MPO, Muhammad Fauzi, Walikota Jayapura, Ketua KAHMI Jayapura, BNN dan Polda Papua, akademisi serta tamu undangan lainnya.

Tentang Ahmad Wahib dan Jejak Pergolakannya

Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia.
[Ahmad Wahib, Catatan Harian 9 Oktober 1969]

Menulis tentang seorang tokoh tentulah bukan perkara mudah. Butuh pengetahuan yang cukup, kecermatan dan kegigihan untuk menuliskannya. Terutama bila sang tokoh tersebut adalah seorang pejuang, pemimpin panutan yang melintasi banyak zaman ataukah seorang pemikir yang gagasan-gagasannya menjadi kontroversial, digugat, dihujat di sana-sini. Lebih-lebih bila, ketokohannya tersebut sudah mendekati mitos. Bisa dibayangkan bagaimana rumitnya. Beruntunglah karena tokoh yang hendak saya tuliskan ini belum sampai dimitoskan oleh orang-orang. Dan beruntungnya lagi, karena ketokohannnya juga sudah banyak dituliskan, dibicarakan oleh orang-orang; sejarah hidupnya, aktivitas-aktivitasnya sampai pada pikiran-pikirannya semasa hidup. Sehingga saya banyak terbantu karena itu.

Ahmad Wahib, demikianlah namanya. Nama ini barangkali sudah tidak asing lagi terdengar. Terutama bagi mereka yang senang dengan wacana-wacana seperti kebebasan berpikir, islam liberal, pluralisme dan wacana-wacana lainnya yang sering dituduh sesat oleh kelompok-kelompok tertentu. Namanya sering dibicarakan, pemikirannya kerap jadi kutipan, gagasannya menjadi bahan perbincangan dan kegelisahannya yang khas dalam menempuh jalan kebenaran banyak dijadikan model oleh anak-anak muda Islam. Karena itulah saya menjadi tertarik untuk membaca dan menuliskan pikiran-pikirannya.

Boleh dibilang saya adalah termasuk salah satu orang yang amat terlambat mengenal dan membaca pikiran-pikirannya. Beberapa kawan sekampus saya, jauh ketika masih sekolah dulu gagasan dan pikiran-pikiran dari Ahmad Wahib sudah dibacanya. Makanya, ketika diskusi di ruang kelas atau di diskusi-diskusi pelataran yang biasa kami ikuti mereka-mereka jauh lebih vokal berdebat. Dan tentu saja itu membuat saya menjadi cemburu, rasa-rasanya saya ingin juga seperti mereka. Seingat saya, pertama kali nama Wahib kudengar disebut-sebut adalah ketika saya duduk di semester awal perkuliahan beberapa waktu lalu. Waktu itu, dengan maksud untuk sekedar iseng-isengan dan mengisi waktu lowong—hitung-hitung dapat makan gratis—saya ikut ajakan seorang kawan untuk mengikuti pelatihan dasar dari salah satu organisasi mahasiswa, katanya pelatihan untuk perekrutan kader baru. Saat mengikuti perkaderan itulah saya untuk pertama kali mendengar nama dan gagasan-gagasannya disebut-sebut. Sebenarnya bukan hanya nama Ahmad Wahib yang seringkali disebut-sebut, nama-nama seperti Ali Syariati, Karl Marx, Nietzsche, Imam Khomenei, Plato, Sokrates, Aristoteles, Rene Descartes, Ayatullah Murtadha Muthahhari, Ibn Khaldun, Al Farabi, Mulla Sadra, Tjokroaminoto, Cak Nur, Gusdur, Dawam Rahardjo, Djohan Efendy termasuk Soe Hok Gie seringkali disebut-sebut di pelatihan itu. Walaupun jujur, sampai sekarang banyak dari nama-nama itu belum kukenali dengan betul, baik aktivitasnya ketika hidup maupun gagasan-gagasannya.

Sejak saat itulah saya mulai tertarik dengan sosok dan pikiran-pikirannya, bukan karena pemikirannya linear dengan disiplin akademik saya di kampus atau karena kebetulan saya salah satu kader di organisasi yang pernah digelutinya juga, tetapi karena ada banyak gagasannya yang terdengar canggih untuk ukuran pengetahuan saya dan itu tentu penting untuk mengangkat level pergaulan saya di lingkungan kampus. Semangat itulah yang menjadi motivasi awal saya untuk membaca dan mengenal pemikirannya. Yah, sekedar untuk keren-kerenan dan dibilang intelek. Tapi itu dulu, kira-kira 2 atau 3 tahun yang lalu, saya sudah lupa tepatnya.

Itu perkenalan awal, dan ternyata perkenalan itu membawa efek yang cukup besar pada kebiasaan sehari-hari saya. Dari yang sebelumnya penikmat hidup hura-hura, foya-foya dan gaya hidup hedon lainnya menjadi sedikit lebih ideologis dengan warna-warna islamis di sana-sini. Walaupun harus kuakui bahwa waktu itu (bahkan sampai sekarang) warna-warna itu hanya tampakan luarnya saja. Seingat saya, setelah pelatihan itu, saya menjadi kegandrungan untuk memborong banyak buku, beasiswa yang kuterima setiap bulannya hampir 80 % habis untuk belanja buku-buku. Terutama buku-buku yang ditulis oleh nama-nama yang sering disebut-sebut tadi. Entah kenapa saya menjadi jatuh cinta pada buku dan tergila-gila pada kerja-kerja intelektual. Sampai-sampai saya harus merelakan diri untuk tidak lagi ngekos dan memilih hidup nomaden, berpindah-pindah dari sekret ke sekret, dari kos teman ke kos teman yang lainnya, demi untuk mengurangi biaya hidup. Tapi, harus kuakui bahwa tidak semua dari buku-buku itu telah tamat kubaca, banyak diantaranya hanya menjadi pajangan atau tumpukan koleksi dan beberapa kupinjamkan keteman. Sampai saat ini buku-buku tersebut banyak berserakan, di sekret-sekret yang sering kutinggali, kos teman, dan sebagiannya lagi di kontrakan saudara perempuan saya.

Kembali ke maksud awal dari tulisan ini. Ahmad Wahib, siapa yang tak mengenalnya. Sosok yang menjadikan kebebasan berpikir sebagai basis keberimanannya dan Tuhan sebagai dasar dan arah berpikirnya. Pemikir bebas itu telah pergi 43 tahun lalu (tepatnya 31 Maret 1973), hampir 31 tahun setelah kedatangannya (9 Nopember 1942). Dalam pencariannya yang penuh haru untuk menemukan Tuhan, akhirnya ia dipanggil oleh-Nya dengan segera, tanpa disengaja saat sebuah sepeda motor berkecepatan tinggi menabraknya di depan kantor majalah Tempo, tempat di mana ia bekerja sebagai calon reporter. Wahib, hidupnya mungkin tidak terlalu berwarna, atau penuh kejutan, petualangan, dan kisah-kisah perjuangan yang heroik dan dramatis. Dia menjadi menarik justru karena dia jauh dari warna-warna itu. Pikirannya, prinsipnya, konsistennya, toleransinya dan teguh pendiriannya menjadi warna yang melekat padanya. Dalam hidupnya yang sangat pendek, dia mewariskan banyak pelajaran, dibalik pribadinya yang santun, pendiam, ada kegigihan seorang yang mempertahankan sikap. Sungguh sebuah keteladan yang jarang kita temukan kini.

Kepada kita, Wahib mewariskan sekumpulan catatan harian yang kemudian dibukukan dengan judul menggugah, Pergolakan Pemikiran Islam (LP3ES, 1981). Apa yang digambarkan dalam buku itu sebenarnya lebih merupakan pergolakan batin seorang anak muda islam yang selalu gelisah; gelisah karena menyaksikan laku penganut agama, dan terutama gelisah sebagai seorang manusia yang rindu akan kebenaran, kedamaian, dan ketercerahan. Sebagai seorang aktivis mahasiswa, pemikir, dan seorang yang setia menekuni catatan harian—sama seperti Soe Hok Gie, Rachel Corrie—yang melalui catatan itu mereka memberikan komentar di hampir setiap peristiwa dari persoalan agama, filsafat, soal-soal kemanusiaan sampai perkara politik. Sayang, dia mengalami nasib, yang bagi orang-orang menyebutnya tragis, yakni mati muda.

Di catatan-catatan hariannya tersebut Wahib menceritrakan pergulatan-pergulatannya akan realitas sosial, pandangan-pandangannya tentang pluralitas agama dan banyak hal lainnya. Lewat catatan hariannya yang kontroversial inilah, Wahib banyak mencetuskan gagasan-gagasan menarik yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan di Indonesia. Mengkaji lebih dalam tentang pemikirannya maka kita akan mengetahui bahwa wahib adalah salah satu pembaharu pemikiran islam. Salah satu intisari pemikiran Wahib dalam pembaruan pemikiran Islam adalah wacana kebebasan beragama dan berkeyakinan. Wahib memiliki jawaban kuat mengapa sebagian umat Islam tidak toleran terhadap agama lain. Itu karena, menurut Wahib, kita tidak memiliki kedewasaan beragama ketika berinteraksi dengan kelompok agama lain. Yang terjadi justru tindakan diskriminatif serta sikap intoleran atau sikap ketidakberterimaan kita terhadap perbedaan-perbedaan.

Dalam hal pluralisme agama, Wahib menyuarakan pentingnya menumbuhkan inklusivitas agama—suatu komitmen yang secara terbuka menerima agama-agama lain—. Secara prinsipil, apa yang dikemukakan oleh Wahib tak jauh berbeda dengan pandangan Cak Nur, Gus Dur yang juga sama-sama menekankan pluralisme dalam bertindak dan berpikir. Inilah menurutnya yang melahirkan toleransi. Baginya, sikap toleran tidak bergantung pada tingginya tingkat pendidikan formal atau pun kepintaran pemikiran secara alamiah, tetapi merupakan persoalan hati dan perilaku.

Kira-kira itulah yang dimaksudkan oleh Wahib ketika menulis “Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan budha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut Muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia.” Sebuah pernyataan bijak dalam menyikapi segala bentuk perbedaan.

Banyak hal yang ditinggalkan Wahib, sebagian besar belum selesai, untuk kita pikirkan dan tanyakan kembali. Sumbangan Wahib paling berharga adalah pada pertanyaan-pertanyaannya, pernyataan-pernyaannya yang diliputi semangat dan spirit yang gigih dalam mencari Kebenaran. Itulah yang perlu kita renungkan. Lepas dari semua itu, kita sebagai generasi muda sudah seharusnya sadar. Apa yang sudah kita hasilkan sampai saat ini. Jangan-jangan benar apa yang dikatakan Soe Hok Gie—tokoh mahasiswa yang segenerasi dengan Wahib—bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua. Poinnya adalah untuk apa hidup menua tapi tidak menghasilkan apa-apa.

Pada intinya, pergulatan Wahib yang tanpa lelah mengingatkan kita akan satu prinsip hidup mahapenting yaitu kejujuran atau keadilan—meminjam Pram dalam bukunya; Bumi Manusia—sejak dalam pikiran. Wahib sendiri telah mengamalkannya secara konsisten lewat praktek berpikir bebasnya. Dia tidak mau menjadi munafik, seolah-olah paling suci, paling benar dan semacamnya. Dia memilih berontak dari pakem semacam itu. Wahib benci pada pikiran-pikiran munafik, yaitu pikiran-pikiran yang tidak berani memikirkan yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran-pikiran yang pura-pura tidak tahu akan pikirannya sendiri. Sebab, hanya dengan kejujuran, dengan berpikir bebas, kita akan menemukan diri kita yang sebenarnya, menjadi manusia yang seutuhnya.

Ada begitu banyak gagasan Wahib yang terhadapnya barangkali kita hanya bisa menganggukkan kepala. Bukan karena kita setuju sepenuhnya tetapi, sebagai penghormatan atas gagasannya tersebut. Karena dari sekian banyak gagasannya tentu ada beberapa yang mungkin saja kita setujui tetapi ada pula yang tidak. Alasannya sederhana, karena setuju sepenuhnya dengan gagasannya adalah berarti bertentangan dengan prinsip relativitas kebenaran manusia yang didengungkan sendiri oleh Wahib. Terakhir mengapa penting untuk kita kembali membaca gagasan Wahib adalah agar supaya kelak lahir para anak-anak ideologis dari Wahib. Wahib boleh meninggal, tapi pikiran-pikirannya, gagasan serta pergolakannya, mudah-mudahan akan terus hidup dan mengabadi melintasi banyak zaman.[]

YRM. Yunasri Ridhoh
Ketua Umum HMI MPO Kom. FEIS UNM Periode 2014-2015

Deklarasi HMI Cabang Jombang, Cabang “Intelektual Ulama”

HMINEWS.COM – Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mendeklarasikan berdirinya HMI cabang Jombang pada 6/April/2016 di Bulu Rejo, Jombang, Jawa Timur. Acara ini sekaligus melantik pengurus baru HMI Cabang Jombang yang berjumlah 9 orang.

Khairul Anam mahasiswa semester 6 Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al-Urwatul Wutsqo terpilih sebagai ketua umum untuk periode 2016-2017. Anam menyampaikan untuk saat ini ia bersama pengurus lainnya akan fokus pada perkaderan terutama LK 2, mengingat idealnya pengurus cabang merupakan lulusan LK 2.

Ketua Badan Kordinasi HMI untuk Jawa bagian tengah dan timur (Badko Jabagtengtim), M.Firdaus menceritakan awalnya beberapa mahasiswa Jombang menginkan suatu wadah untuk dikusi-diskusi intelektual mereka. Mereka sepakat untuk menjadikan HMI sebagai wadah pengembangan intelektual dan juga sarana mereka untuk berjuang.

Sebelumnya Badko meminta mereka untuk mengikuti LK 1 di Semarang dan Yogyakarta. Resmilah 3 orang kader asal Jombang yang kemudian menjadi inisiator untuk mengadakan LK 1 sendiri di kotanya. Tercatat LK 1 disana terlaksana sebanyak dua kali dan meluluskan 25 kader sebelum deklarasi ini diadakan.

Firdaus menyampaikan bahwa HMI Cabang Jombang memiliki kultur yang unik, berbeda dengan cabang-cabang lainnya. Hal ini dikuatkan oleh M.Fauzi selaku ketua PB HMI, Cabang Jombang memiliki kapasitas ke-Islam-an yang sudah memumpuni. Fauzi menginginkan cabang Jombang menjadi cabang “intelektual ulama” mengingat sekitar 90% kadernya lulusan pondok pesantren. PB HMI sendiri akan mengerahkan Korps Perkaderan Nasional (KPN) dan komisi Pengembangan Cabang untuk membantu menguatkan perkaderan dan organisasi di HMI Cabang Jombang.

Setelah deklarasi ini, PB HMI melalui komisi Pengembangan Aparatur Organisasi (PAO)  akan fokus melakukan konsolidasi  untuk menguatkan kembali cabang Malang dan Surabaya. Dua Cabang tersebut merupakan cabang penting di Jawa Timur.

Latihan Kader 3, Energi baru HMI untuk Indonesia

Julhan Rongga, seorang kader HMI Cabang Gorontalo terlambat 5 menit tiba di bandara Jalaluddin (Gorontalo) sehingga harus bersabar karena tiket pesawat miliknya hangus. Dia berencana untuk terbang ke Jakarta kemudian melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta untuk mengikuti Latihan Kader 3 (LK3) pada tanggal 24 Maret 2016, LK3 adalah pelatihan tingkat akhir yang selama 6 tahun ini tidak terlaksana.

Karena motivasi dari beberapa teman-temannya dan bantuan dana dari seorang alumni, Zulhan tidak mengurungkan niatnya untuk berangkat ke Jakarta. Dia berangkat keesokan harinya pada 23/Maret/2016 dari bandara yang sama, setibanya di Jakarta dia melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta bersama kawan-kawan peserta lainnya.

“Sebagai kader HMI saya dibekali pengetahuan tentang permasalahan bangsa, LK 3 ini untuk menguatkan apa yang telah difahami sebelumnya, tema LK 3 kali ini adalah solusi HMI untuk Bangsa, sehingga saya tertarik dengan forum ilmiah ini untuk melahirkan gagasan tersebut”. Kata Zulhan Rongga menjelaskan tentang motivasinya mengikuti LK 3 ini.

Semangat Zulhan tidak berbeda dengan peserta lainnya, banyak kader menentikan terselenggaranya kegiatan ini, sehingga begitu ada kesempatan, mereka tidak menyia-nyiakannya dengan langsung mendaftar sebagai peserta. Tercatat ada 27 peserta mendaftar pada pelatihan LK 3 kali ini. Tim pemandu meluluskan 24 peserta, 2 orang ditunda kelulusannya karena beberapa alasan, dan 1 orang mengundurkan diri.

Beberapa peserta LK 3 berfoto bersama tim pemandu.
Beberapa peserta LK 3 berfoto bersama tim pemandu.

LK 3 terakhir diadakan pada tahun 2010 di Yogyakarta, wajar bila kemudian Dr. Safinudin Almandari menyampaikan bahwa banyaknya konflik-konflik kecil dilingkungan HMI ini disebabkan kurangnya gagasan besar yang biasanya lahir dari lulusan LK 3. Beliau menyampaikan hal tersebut pada sesinya sebagai pembicara untuk membahas studi kritis pemikiran dan gerakan Islam internasional.

Kegiatan dilaksanakan oleh Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam dengan dibantu oleh  alumni-alumni yang masih peduli pada perkaderan HMI. Mereka turun gunung ikut terlibat kembali dalam membenahi organisasi. PB HMI memprioritaskan kegiatan ini dalam agenda utama, sehingga LK 3 dapat terlaksana dengan  persiapan 1 bulan.  Muhammad Fauzi selaku ketua umum PB HMI menyampaikan bahwa paling tidak LK 3 terselenggara 3 kali dalam periode kepengurusan kali ini.

Kajian LK 3 melibatkan banyak disiplin ilmu seperti ke-Islaman, ekonomi, politik, hukum, sosial & budaya, pertanian, lingkungan, hingga pendidikan. Seluruh pembicara berasal dari kalangan pakar dan ahli, sebut saja Prof. Dr Munir Mulkhan (guru besar UIN Sunan Kalijaga), Dr. Aji Dedi Mulawarman (penulis buku Jang Oetama, jejak dan perjuangan H.O.S Tjokroaminoto), Dr. Suparman Marzuki (Mantan Ketua Komisi Yudisial Republik Indonesia), Saat Suharto Amjad (Dirut PT. Permodalan BMT Ventura), dan banyak lainnya.

Kanda Suharsono dengan penuh semangat menyampaikan materi tentang "Metode berfikir Islami"
Kanda Suharsono dengan penuh semangat menyampaikan materi tentang “Metode berfikir Islami”

“Indonesia memang negara yang banyak masalah tapi bukan negara hancur atau negara gagal. HMI MPO juga mirip dengan kondisi Indonesia saat ini, jika kita bisa melewati masa ini, kita akan melangkah jauh kedepan. Kita yang akan menjadi pemikir-pemikir, kita yang akan menjadi politisi-politisi, kita yang akan menjadi guru-guru, dan kita juga yang akan menjadi orang-orang biasa yang ikhlas membangun bangsa.” Jelas Awalil dalam sambutan penutupan LK 3 kali ini.

Kegiatan ini sukses diselenggarakan selama 9 hari sejak 24 Maret – 1 April 2016. Ini adalah langkah strategis HMI untuk menyelamatkan perkaderan. Lulusan LK 3 seperti para doktor HMI yang mencoba melihat problematikan kehidupan sekaligus memberikan solusi-solusinya. Hal ini sesuai dengan tema kegiatan ini “Solusi HMI bagi Indonesia”. Kita tunggu kontribusi nyata dari lulusan doktoral HMI ini untuk bangsa Indonesia.