Pemuda Dalam Wacana Islam Progresif

“Pemuda, bukan hanya sekedar manusia biasa. Dipundaknya  agama, bangsa dan negara deperaruhkan. Bukan hanya generasi pengganti orang tua, namun tiang agama  dan bangsa tegak dihatinya. Berani merobohkan tembok penguasa demi membela keadilan untuk masyarakatnya”.

(KangMizan)

Oktober merupakan bulanya pemuda indonesia, tepat Tanggal 28 Oktober hari Sumpah Pemuda indonesia. Dibulan ini  menjadi momentum bagi kita “Pemuda” untuk mengekplorasi gagasan dan pemikiran dalam pembangunan manusia modern. Sebagai review gerakan sumpah pemuda indonesia yang ikut memperjuangkan bangsa indonesia dari tangan penjajah selama tiga abad lebih. Arah gerakan pemuda hari ini sudah semestinya harus di mulai dalam bentuk gagasan dan pemikiran. Jangan sampai pemuda malah terjebak pada faham pragmatisme dan hedonisme yang akan merusak pemikiran-pemikiran kita. Dalam Al-Qur’an pemuda di istilahkan dengan “Fatan” dalam surat al-anbiya’ 60. Salah satu karakteristik pemuda adalah pemberani (Baca: Mizan Musthofa “dari sumpah pemuda menuju pribadi muslim yang ideal”, desember 2014). Disamping itu,  tentu sebagai pemuda memiliki peranan yang sangat besar dalam membawa perubahan-perubahan bangsa. Memberikan pemikiran dan gagasan untuk bangsa, baik itu tentang keislaman, pendidikan, sosial pilitik, dan ekonomi akan menjadi suatu keharusan bagi pemuda.

Maka butuh sebuah konsep metodologi untuk memahami hakikat pemuda islam. Sebagai pemuda sudah barang tentu harus memahami ajaran islam. Untuk memahami ajaran islam itu sendiri diperlukan metodologi, jangan sampai pemuda memahami ajaran islam secara persial, hal ini akan menimbulkan sebuah penilaian yang berat sebelah. Ahirnya terjebak pemahaman islam yang tidak kaffah. Padahal kita diminta untuk memasuki islam secara sempurna (kaffah). (Baca: Didin Saefuddin Buchori, dalam metodologi studi islam 2005). Jika agama islam ingin survive ditengah-tengah perjalanan sejarah, maka pemuda harus mengkaji secara terbuka, ilmiah, dialogis, dan konstektual. Pemuda dalam hal ini sangat berperan dalam melakukan gerakan atau wacana-wacana besar tentang islam. Pada abad kedua puluh banyak muncul pemikir-pemikir baru islam, yang dapat direpresentasikan dengan kehadiran tokoh-tokoh seperti Jamaludin al-afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal, Ahmad Khan, Rasyid Ridha, Abul A’la Al-Maududi, dan tokoh-tokoh islam lainnya. Misalnya Muhammed Arkoun membawa Horizon baru pemikiran islam. Salah satu yang ditawarkan olehnya adalah bahwa mengkaji islam menggunakan pendekatan-pendekatan sosial. Beliau melihat bahwa keislaman zaman dahulu harus dirombak disesuaikan dengan kondisi saat ini, salah satu yang terbaik menurut Arkoun adalah melalui pendekatan ilmu sosial (Ibid : Didin Saefuddin Buchori, dalam metodologi studi islam 2005).

Dengan terjadinya Tragedi perang dunia kedua (second word war) menyisakan banyak dampak bagi masyarakat terutama pemuda, baik dampak positif maupun dampak negatif. Media menjadi salah satu penentu pertarungan dunia saat ini. Tidak berlebihan jika hari ini media sangat menjadi penentu siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah dalam pertarungan dunia internasional. Ide, gagasan, politik, ekonomi, sosial, kekuatan militer dan lain sebagainya sudah tergambar dalam media. Semua bisa diakses kapanpun dan dimanapun, baik yang sifatnya pembelajaran maupun bermain black issue, propaganda untuk mengalahkan lawan-lawannya. Miris dan sangat disayangkan Kondisi saat ini, para pemuda terhipnotis dengan sebar foto selfy (Foto kekinian) dipasang tiap-tiap sepanduk dan ditempel di dinding simpang jalan, agar terlihat hebat dan pintar. Namun kosong akan diskursus kajian akan keilmuan dan keislaman. sebagaian asyik meributkan mana yang lebih bergensi antara instragram atau paht sebagai wahana eksis di sesial media, atau berjibaku semalam suntuk untuk menghafal konstitusi sebagai bahan untuk terlihat pintar di forum-forum diskusi. Dan apakah kita termasuk  kedalam salah satunya?. Jika kita termasuk kedalamnya, maka sejatinya kita tak mampu membendung arus globalisasi dalam diri kita. Yang pada ahirnya kita miskin akan wacana-wacana besar sebagai pemuda, sehingga untuk merumuskan atau membangun perubahan bangsa kearah yang lebih baik tidak akan pernah tercapai sampai kapanpun. Dan Cita-cita sebuah perubahan atau peradaban hanya mimpi kosong belaka.

Pertanyaan mendasar bagi kita adalah, mengapa selalu pemuda yang menjadi central gerakan untuk sebuah perubahan? Sederhananya adalah, Karena pemuda adalah orang-orang terpilih sebagai agent perubahan. Sebuah kemajuan bangsa dan negara tentu akan sangat bergantung pada aktor perubahan itu sendiri yakni pemuda yang ada didalamnya. Dalam sejarah peradaban dunia, pemuda adalah aset yang tak ternilai harganya. Kejayaan dan kemajuan atau sebaliknya kehancuran bangsanya tergantung pemuda sebagai tokoh utama dalam peranannya melakukan perubahan. Tidak berlebihan sekiranya para pemuda disebut sebagai agent of change (agen perubahan) agent of control sosial (agen kontrol sosial). Sebagai agent of change pemuda diharapkan tidak hanya bergelut dengan instagram dan gadget barunya, melainkan mengimplementasikan dari hasil bacaan buku setiap harinya kedalam bentuk prilaku sehari-hari.

Kita tidak dapat hindari fenomena-fenomena saat ini, seperti ucapan seorang gubernur yang memicu kemarahan dan membuat geger umat islam seantoro negeri ini. Tidak ikut komentar mungkin kita bisa, namun apakah kita bisa hindari kejadian-kejadian tersebut. Tentu tidak bisa, karena kejadian tersebut terjadi tepat didepan mata kita. Hal ini, kita sebagai pemuda tentu harus mengambil sikap  dalam setiap kejadian. Menghadirkan islam progresif dalam wilayah struktural negara maupun sosial menjadi alternatif baru dalam pembaharuan zaman. Sebagai aktor intelektual, pemuda jangan sampai larut dengan persoalan-persoalan kecil yang menjadikan kita kerdil dalam pemikiran keislaman. Seharusnya dengan kejadian-kejadian seperti ini, kita mampu mengambil ikhtibar dan kemudian merumuskan sebuah konsep ideologi gerakan islam untuk ditawarkan kepada masyarakat, terutama masyarakat indonesia.

Dalam buku Antonio Gramci “Negara dan Hegemoni” Gramci dalam pandangannya terhadap  negara dan hegemoni tidak terlepas dari kondisi politik, kebudayaan, pendidika dan ekonomi. Negara dan hegemoni grmaci berakar pada konsep fundamental marxisme tehadap negara, walaupun demikian gramci memiliki interpretasi yang berbeda pada tataran strategi dan teknik revolusioner bagi pencipta revolusi sosialis di negaranya (Baca: Antonio Gramci, Negara dan Hegemoni). Maka dalam membangun sebuah perubahan bagi negara akan selalu dibenturkan dengan kekuatan-kekuatan besar kapitalisme dengan masyarakat sipil. Namun penganut kapitalis akan selalu menggunakan ataratur negara dalam menghadapi  masyarakat sipil dengan kekerasan.

Gerakan pembaharuan Islam progresif, sebagai tendensi pemikiran dan pergerakan, memang bukan hal yang baru dikalangan pemuda islam atau masyarakat islam indonesia. Islam progresif pernah  dirumuskan dan dikembangkan oleh seseorang yang bernama HOS Cokro Aminoto seorang bangsawan yang memilih menjadi rakyat biasa, yang sering disebut sebagai “Raja tanpa Mahkota”. Dalam diskursus keislaman keindonesian sudah semestinya kita mengkaji lebih jauh apa itu islam progresif. Sebuah gagasan yang menawarkan konstektulisasi islam yang terbuka, segar, serta responsif. Walaupun pada ahirnya gerakan Cokro tidak bisa maksimal karena pemerintah kolonial pada masa itu membatasi setiap gerak Cokro. Islam Progresif akan Mersepon segala bentuk problematika yang ada dengan sikap yang kritis dan berorientasi pada kemajuan islam itu sendiri serta Menolak penindasan terhadap keummatan. Berbeda pula konteknya ketika dihadapkan dengan faham liberalisme dengan jaringannya yang biasa disebut dengan JIL (jaringan islam liberal). Pemahamannya dalam konteks ini sangat membahayakan bagi kalangan pemuda islam indonesia. Terutama masyarakat awam dalam memahami hakikat sebuah kebebasan dalam beragama, jika salah pengertian maka akan melahirkan generasi yang liberal (bebas).

Perdebatan yang sangat  panjang sampai hari ini, pemahaman tentang islam liberalisme yang masih menjadi kontradiktif dikalangan para pengkaji islam keindonesiaan. dalam study yang dilakukan oleh Martin Van  Bruenessen dan kawan-kawannya dalam Concervative Turn “islam indonesia dalam ancaman fundamentalisme” 2004. Masih mempertahankan istilah progresifisme untuk mengambarkan dinamika keterbukaan pada kelas menengah muslim terdidik indonesia terhadap ide-ide pembaharuan islam. Martin mencoba meletakkan islam indonesia atas diametral dan tren konservatif pada sebagian muslim yang disebut dengan istilah muslim liberal/radikal. Dengan konsepsi ini martin memasukkan berbagai faksi pemikiran islam neoliberalismenya Cak Nur, tradisionalismenya Gusdur hingga emansipatorisnya mereka yang konsen pada Hak Asasi Manusia (HAM). Jika dilihat sebenarnya, pandangan martin terperosok dalam kesesatan yang banyak dihirup oleh para pengkaji islam yang mengukur progresifitas islam dengan dua barometer yakni demokrasi dan sekularisasi. Sehingga munculah anggapan bahwa islam yang maju itu adalah islam yang moderat berwajah ramah yang termasuk dalam kapitalisme dan penindasan. Padahal dalam konsep Cak Nur melihat islam memberikan konsep kebebasan dalam beragama dengan maksud kebebasan dalam menjalankan agama disertai dengan tanggung jawab atas apa yang ia pilih (Baca: Islam Indonesia dalam Ancaman Fundamentalis, Concervative Turn, Antonia Gramci).

Warisan pemikiran islam yang tersebar dalam bentuk buku, jumlahnya tak terkira. Hal ini membuktikan bahwa pemikiran pemikira islam dalam seluruh demensi kehidupan memerlukan sebuah progresifitas pemuda-pemuda yang berada Untuk membangun sebuah perubahan islam yang dinamis didalamnya (Prof. Dr. H. A. Hidayat dalam perkembangan pemikiran islam filosofis). Banyaknya para filosof-filosof islam yang mengenalkan konsep islam berbagai latar belakang dengan hadirnya dinamika sosial pada masanya. Hasan Hanfi menyebut folosof-filosof diatas seperti Martin dengan sebutan islam kiri. Karena progresivitas tidak diukur dengan kata wacana “demokrasi dan sekularisasi” yang dipahami sebagai terbukanya ruang berbagai pihak untuk menyuarakan kepentingan kelompoknya dan terbukanya ruang toleransi yang memungkinkan oleh pemisah antara agama dan negara.

Perlu disadari oleh kita bersama, dalam membangun gerakan dan pemikirann islam progresif kita harus faham makna dan hakikat islam progresif tersebut. Islam progresif memiliki makna bergerak kearah yang lebih baik dan berkemajuan. Itu artinya pemuda harus membangun kerangka ideologi gerakan islam yang progrsif. Islam yang memiliki nilai yang cukup tinggi dalam dimensi kehidupan sosial. Tidak memahami sesuatu dengan taklid buta, monoton dan kaku. Menghadirkan wajah islam yang ramah, dan tetap kritis atas dasar Al-qur’an dan sunnah Nabi.

Dengan demikian maka suatu keharusan sebagai pemuda islam untuk terlibat dalam membangun peradaban islam yang progresif. Dengan momentum kepemudaan ini sebuah wacana besar untuk melibatkan pemuda menjadi garda terdepan dalam pembanguan yang berpondasi pada ajaran agama islam. Gagasan-gagasan perubahan tentang islam progresif menjadi alternatif gerakan para pemuda dalam mewujudkan tatanan dunia baru islam. Karena sadar atau tidak musuh kita bukan kelompok-klompok islam, namun yang nyata adalah zionis amerika dan sekutunya yang tidak akan pernah rela melihat islam berkembang dan maju. Dan kebenaran mutlak hanya milik Allah SWT, manusia dan tentunya sebagai pemuda hanya mampu mendekatinya menurut kemampuan-kemampuan nalar kita. Ikhtiar dengan sungguh-sungguh menangkap makna dari isyarat yang diturunkan oleh Allah SWT dengan bahasa Islam. Karena setiap ijtihad yang kita lakukan untuk menerjemahkan dalam bahasa sosial adalah kerja mulia, dan secara teologis berpahala sekalipun itu keliru. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW “barang siapa yang berijtihad dan ijtihadnya itu benar maka ia mendapat dua pahala, sedangkan bila ijtihadnya itu keliru atau salah, maka ia mendapat satu pahala”.

Wallahu A’lam Bishsowab,..

Penulis: Mizan Mustofa, Penggiat Komunitas  Menulis Rumah Ijo RRI (Republik Rumah Ijo) Pekanbaru dan juga salah satu kader HMI Cabang Pekanbaru, aktif dalam kajian-kajian diskusi rumput. Sering dipanggil dengan Kang Mizan.

Munas AGUPENA, Dr Naijan Terpilih Sebagai Ketua Umum

HMINEWS.COM, Jakarta- Asosiasi Guru Penulis Indonesia (AGUPENA) menggelar Musyawarah Nasional pada tanggal 28-30 Oktober 2016 di Hotel Istana Nelayan, Kota Tangerang, Munas ini dihadiri oleh utusan 19 Wilayah Provinsi di Indonesia.

Pada Munas ini juga resmi dilaunching enam buah buku karya para anggota AGUPENA, Munas AGUPENA ini juga telah memilih secara musyawarah mufakat Bapak Dr. (c) Naijan Lengkong, S.Pd. M.Pd sebagai ketua umum AGUPENA periode 2016-2021.

Sebelumnya kandidat lain yang juga maju sebagai calon ketua umum adalah Dr. (c). Yanuardi Syukur, namun berdasarkan musyawarah mufakat akhirnya forum memilih Naijan Lengkong sebagai ketua umum.

Naijan Lengkong adalah guru mata pelajaran sejarah pada SMA Negeri 12 Tangerang Selatan. Sebagai guru Naijan Lengkong dikenal luas sebagai penulis skenario film komedi anak. ia sudah menulis lebih dari 1000 episode film komedi yang ditayangkan oleh televisi, Beberapa skenario film yang ia tulis adalah Gerhana (RCTI), Srikandi (SCTV), Cinta Monyet (TransTV), Si Entong (RCTI), Tendangan Si Madun (MNCTv) dan lain-lain.

Dalam pidato singkatnya, Naijan Lengkong berjanji akan terus bersama AGUPENA mendorong, memotivasi dan mendidik guru sebagai penulis professional. Naijan Lengkong yakin kedepan dengan melihat antusias semangat para pengurus wilayah AGUPENA.

AGUPENA sendiri adalah organisasi yang menghimpun para guru yang berbakat dalam dunia literasi/penulis, Kelahiran AGUPENA diinisiasi dan usulan dari para Pemenang Lomba Penulisan Naskah Buku Bahan Bacaan yang diselenggarakan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional pada tanggal 28 November 2006 yang lalu di Jakarta. Usulan mereka kemudian disetujui oleh Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK), yang saat itu dijabat oleh Prof. DR. Fasli Jalal. Sejak berdirinya tersebut, AGUPENA terus berkarya, memotivasi, melatih, membimbing dan mempublikasikan karya tulis para guru.

6000 Relawan Anies – Sandi Ikuti Pembekalan

HMINEWS.COM, Jakarta– Ribuan Relawan Anies-Sandi (Anies Baswedan- Sandiaga Uno) memadati Maria Convention Hall, Jalan Perintis Kemerdekaan Kav. 7 – 9, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kehadiran para relawan ini untuk mengikuti agenda pembekalan relawan Anies-Sandi. Minggu, 30 Oktober 2016.

Dalam sambutannya Anies Baswedan, mengaku bahagia karena relawan yang hadir lebih dari 6000 relawan. Mereka adalah kelompok yang ikhlas bekerja memenangkan Jakarta.

Komunitas Difabel pimpinan Abdul Fikri Fagih juga ambil bagian menjadi relawan Anies-Sandi, Fikri mengatakan “Kami dari komunitas difabel mendukung pasangan calon gubernur nomor 3 Anies-Sandi kami percaya dengan latar belakang kedua anak muda yang penuh inspiratif ini Jakarta tidak hanya maju dan berkembang tetapi rakyatnya juga bahagia, khususnya kami komunitas difabel”. Kata Fikri

Kelompok lain juga mengambil bagian dari acara ini adalah Relawan Jakarta Pilih Anies-Sandi (Relawan JAKPAS). Sekretaris Relawan JAKPAS Ibu Azma mengungkapkan, Kegiatan yang bermula dari ide yang sangat kreatif dan menimbulkan semangat yang sangat luar biasa.

Hal ini dapat dilihat dari relawan yang sangat antusias untuk hadir, berawal dari rencana 3000 orang, berkembang menjadi 6000 orang. Relawan JAKPAS yang beralamat di Jalan Bekasi IX, Jatinegara, Jakarta Utara akan terus bergerak menggalang massa dukungan Anies-Sandi.

Peringati 10 Muharam, Rumah Yatim LAZ Cilacap Gelar Jalan Sehat dan Santunan 100 Anak Yatim

HMINEWS.COM, Cilacap- Peringati 10 Muharram, Rumah Yatim LAZ Cilacap yang beralamat di Jl. Sulawesi No. 27 Gunungsimping Cilacap Tengah menggelar acara Jalan Sehat, Lomba Anak Muslim, dan Santunan 100 Anak Yatim-Dhu’afa, Minggu (23/10/2016).

Kegiatan tersebut mengambil tema Muharom; Lebarannya Anak Yatim. Hadirkan Bahagia di Wajah Mereka. Kegiatan diadakan dalam rangka menumbuhkan semangat berbagi kepada sesama dengan berbagai serangkaian acara menarik.

Diantaranya, Jalan Sehat, Lomba Anak Muslim, serta penampilan siswa-siswi Anak Yatim-Dhu’afa yang berbakat dalam berbagai hal seperti: Menyanyi, Sholawatan, Hafalan Al-Qur’an, dan lain-lain.

Ketua Panitia sekaligus Pembina Rumah Yatim LAZ Cilacap, Ust. Muhammad Nur, S.Pd. mengatakan kegiatan ini digelar rutin tiap tahun untuk memperingati 10 Muharram.

“Acara ini diselenggarakan rutin tiap tahun berupa Jalan Sehat, Lomba Anak Muslim, dan Santunan Anak Yatim-Dhu’afa. Kita menyantuni Anak Yatim-Dhu’afa Binaan LAZ Cilacap dan juga mengundang anak yatim dari berbagai panti Asuhan di Kabupaten Cilacap,” ungkapnya.

Ia mengatakan, uang santunan ini pun merupakan kumpulan dari donatur yang mengamanahkan donasinya melalui LAZ Cilacap.

“Antusiasme masyarakat terlihat dari partisipasi donasi dan sedekah barang dari para donatur. Terkumpul Jutaan Donasi dan Puluhan Sedekah barang dari Donatur yang akan kita berikan kepada anak yatim-dhuafa dan Peserta Jalan Sehat,” ungkap dia.

Peringati 10 Muharam, Rumah Yatim LAZ Cilacap Gelar Jalan Sehat dan Santunan 100 Anak Yatim

Peringati 10 Muharram, Rumah Yatim LAZ Cilacap yang beralamat di Jl. Sulawesi No. 27 Gunungsimping Cilacap Tengah menggelar acara Jalan Sehat, Lomba Anak Muslim, dan Santunan 100 Anak Yatim-Dhu’afa, Minggu (23/10/2016).
Kegiatan tersebut mengambil tema Muharom; Lebarannya Anak Yatim. Hadirkan Bahagia di Wajah Mereka. Kegiatan diadakan dalam rangka menumbuhkan semangat berbagi kepada sesama dengan berbagai serangkaian acara menarik.
Diantaranya, Jalan Sehat, Lomba Anak Muslim, serta penampilan siswa-siswi Anak Yatim-Dhu’afa yang berbakat dalam berbagai hal seperti: Menyanyi, Sholawatan, Hafalan Al-Qur’an, dan lain-lain.
Ketua Panitia sekaligus Pembina Rumah Yatim LAZ Cilacap, Ust. Muhammad Nur, S.Pd. mengatakan kegiatan ini digelar rutin tiap tahun untuk memperingati 10 Muharram.
“Acara ini diselenggarakan rutin tiap tahun berupa Jalan Sehat, Lomba Anak Muslim, dan Santunan Anak Yatim-Dhu’afa. Kita menyantuni Anak Yatim-Dhu’afa Binaan LAZ Cilacap dan juga mengundang anak yatim dari berbagai panti Asuhan di Kabupaten Cilacap,” ungkapnya.
Ia mengatakan, uang santunan ini pun merupakan kumpulan dari donatur yang mengamanahkan donasinya melalui LAZ Cilacap. “Antusiasme masyarakat terlihat dari partisipasi donasi dan sedekah barang dari para donatur. Terkumpul Jutaan Donasi dan Puluhan Sedekah barang dari Donatur yang akan kita berikan kepada anak yatim-dhuafa dan Peserta Jalan Sehat,” ungkap dia.

Pemuda dan Masa Depannya

Hai.. pemuda bangkitlah, ditanganmu cita-cita bangsa diserahkan,
Dihatimu moralitas bangsa dipertaruhkan,
Dikakimu pembangunan digantungan.
Jangan hanya diam, apalagi berpangku tangan,
Bangkit dan melawan penindasan demi ibu pertiwi dan masa depan.

(KangMizan)

Idealisme adalah Kemewahan terahir yang hanya dimiliki oleh pemuda  (Tan Malaka) sebagaimana yang disebutnya memiliki arti yang begitu mendalam, pemuda sebagai salah satu komponen bangsa yang memiliki kekuatan besar dalam hal idealisme. Dan tentunya idealisme untuk membangun dan memajukan bangsanya. Bayangkan bagaimana idealisme seoarang pemuda mampu merubah roda sejarah bangsa indonesia melalui beberapa peristiwa seperti, Sumpah pemuda, perjuangan kemerdekaan republik indonesia, dan gerakan reformasi 98. Hal tersebut menjadi bukti bahwa pemuda mampu menjadi ujung tombak sebuah perubahan bangsa. (Baca: George Zinsky Pietro, Idealisme Pemuda dalam berpolitik: antara harapan dan kenyataan, Qureta).

Jika kita back to historial sumpah pemuda, sumpah pemuda merupakan suatu pengakuan pemuda indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Pada saat itu pula pemuda indonesia barsatu padu dalam berbicara tentang persatuan dan kesatuan. Menggelorakan kemerdekaan bangsa indonesia dari tangan kolonial penjajah. Menyatukan tekad untuk berjuang demi menjadi bangsa yang merdeka. Hingga tertuang dalam ikrar sumpah pemuda “ kami putra putri indonesia mengaku bertumpah darah satu tanah air indonesia, kami putra putri indonesia berbangsa satu bangsa indonesia, kami putra putri indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa indonesia”. (Baca: Teks Sumpah Pemuda).

Hadirnya teknologi dan informasi di zaman globalisasi ini memang begitu berdampak besar pada pemuda, namun justru hal negatiflah yang banyak dihirup oleh para pemuda saat ini. Hingga dampaknya menyerang pada  moralitas pemuda indonesia, kita bisa lihat di sosial media, tidak sedikit kita jumpai pemuda yang tidak memiliki moral. Dengan rusaknya moralitas pemuda , maka secara perlahan akan mengancam tatanan bangsa. Padahal harapan satu-satunya orang-orang tua adalah kita (pemuda) untuk bisa menjaga dan memajukan bangsa ini. Apa yang terjadi jika pemuda saat ini masih terperosok pada moralitasnya, apakah harapan orang-orang tua kita bisa dipikul dipundak kita (pemuda).

Jika era dahulu musuh pemuda nyata secara fisik, namun sekarang musuh pemuda abstrak tidak kasap mata, itu yang disebut dengan pragmatisme. Pragmatisme sudah menjadi musuh pemuda saat ini. Herannya, tidak bisa kita pungkiri tidak sedikit para pemuda yang terjebak pada lingkaran pragmatisme. Sampai pada ahirnya para pemuda hidup dengan sikap, apatis dan tidak peka atau peduli terhadap lingkungannya sendiri serta mementingkan dirinya sendiri.

Perlu digaris bawahi bahwa tantangan pemuda saat ini bukan lagi penjajah kolonial, namun lebih kepada pragmatisme dan hedonisme yang menjarah mindset pemikiran para pemuda. Sebenarnya hal ini berawal dari para pejabat eksekutif dan legislatif. Mereka (elit politik) terjebak pada kedangkallan berfikir, semua dianggap instan. Tanpa kita sadari prilaku ini berimbas pada kita (pemuda). Tidak sedikit mereka yang berjuang demi kepentingan mereka pribadi, salah satu untuk menjadi ketua daerah, ketua parpol dan bahkan untuk menggalang massa agar duduk dibangku dewan nantinya. Tranformasi diri inilah yang nantinya akan menanamkan sikap yang pragmatis, hedonism dan menjadi elit yang korup. Maka tidak heran era sekarang banyak  hadir aktifis-aktifis muda yang ikut mewarnai aksi demokrasi diberbagai daerah dengan mengatas namakan rakyat. (Baca: Dinamika Politik Pragmatisme Pemuda)

Sebenarnya tidak ada persoalan dengan hadirnya mereka (para pemuda) di ranah demokrasi atau masuknya mereka kedalam lingkaran kekuasaan. Tetapi apakah dengan masuknya mereka tetap komitment dengan suara-suara rakyat yang termarjialkan? Atau malah mereka (pemuda) malah terkontaminasi dengan lingkaran kekuasaan sehingga melupakan misi utamanya yakni membela rakyat. Pertanyaan ini yang seharusnya menjadi catatan kita bersama sebagai pemuda. Sebab pemuda kini sudah sepi dengan suara-suaran aktifis yang lantang membela kaum tertindas. Maka pemuda harus mengedepankan politik bermoral, demi masa depan bangsa indonesia kearah perubahan yang lebih baik. Pemuda harus bangkit, karena kita punya proyek besar yaitu agenda pembangunan dan melawan KKN.

Masa depan kini menanti kiprah pemuda dalam membangun bangsa dan negaranya. Langkah pemuda merupakan gerakan civil society, hal ini akan menempatkan pemuda pada posisi agent of change (agen perubahan). Semangat inilah yang semestinya dijaga oleh pemuda tidak boleh luntur dalam diri karena sikap dan apatisme pemuda. Oleh sebab itu pemuda sangat berpeluang untuk mengisi pembanguan bangsanya. Melawan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme yang hingga kini menjadi budaya di negeri indonesia.

Oleh karena itulah, mari kita sebagai pemuda mengokohkan konsistensi diri, bahwa pemuda adalah generasi bangsa ini. Diharapkan pemuda menjadi garda terdepan dalam pembangunan bangsa, dengan semangat sumpah pemuda kita (pemuda) satukan tekad bersama membangun bangsa ini kearah yang lebih baik. Menyiapkan diri dengan menanamkan idealisme kedalam diri pemuda untuk kemajuan hari esok dan masa yang akan datang.

Penulis: Mizan Musthofa, Pegiat Komunitas menulis rumah ijo RRI (Republik Rumah Ijo) Pekanbaru. Selain itu, Juga aktif dibeberapa kajian diskusi akar rumput. Penulis cerpen Setengah Gelas Kopi dan puisi anak kegelapan.

Hajatan Nasional Pospenas Ke-7 dan Santri Par Excellence

Pekan Olahraga dan Seni Pesantren Nasional (Pospenas) merupakan hajatan  nasional yang diselenggarakan secara rutin per 3 (tiga) tahun. Tahun 2016 adalah Pospenas ke-7 yang diselenggarakan dari tanggal 22-28 Oktober 2016 di Bumi Surosowan, Banten. Hajatan ini dilaksanakan bertepatan dengan Hari Santri Nasional bertujuan untuk menunjukkan bahwa santri pondok pesantren tidak hanya pandai dalam baca kitab kuning semata, tetapi juga memiliki potensi di bidang olahraga dan seni yang sangat luar biasa.

Menurut Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, pondok pesantren merupakan institusi keagamaan khas Indonesia. Kegiatan pengembangan olahraga dan seni adalah bagian yang menyatu dari aktifitas pesantren. Ini adalah langkah strategis dalam memeberikan ruang bagi kalangan santri pondok pesantren untuk bersinergi, bersilaturahim, dan berkompetisi membangun keunggulan terutama di bidang olahraga dan seni. Adapun motto yang diangkat pada Pospenas ke-7 adalah “santun, sportif, indah dan religius”.

Harapan Menag dalam Pospenas ke-7 kali ini adalah lahirnya bibit-bibit santri yang unggul, yang bisa berkontribusi dalam pengembangan bidang olahraga, seni dan kebudayaan sehingga dapat mewujudkan keseimbangan antara kesehatan jasmani dan rohani. Sejalan dengan harapan Menag, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, berharap dua hal dari perhelatan Pospenas 2016 ini. Pertama, meningkatkan sportifitas para atlet dalam bertanding dan menumbuhkan pemahaman bahwa proses dalam bertanding jauh lebih penting daripada hasilnya. Kedua, menguatkan rasa cinta budaya para atlet terhadap daerahnya.

Adapun spirit Pospenas yang disampaikan dalam sambutan Presiden RI, Jokowi Widodo, pada malam pembukaan 22 Oktober 2016  adalah untuk terus menyalakan kembali api semangat yang 71 tahun lalu pernah ditiupkan oleh Kyai Hasyim Asy’ari saat menyampaikan resolusi jihad. Kala itu, para santri sangat bersemangat dan berapi-api melawan penjajah. Api semangat jihad tersebut harus terus bergelora di dada mereka untuk menghadapi tantangan-tantangan baru di era kemerdekaan kini.

Dalam konteks kekinian, Jokowi menegaskan bahwa semangat api jihad tersebut harus bisa dipakai untuk membakar kemiskinan, kebodohan, dan ketimpangan sosial. Indonesia adalah bangsa yang besar, untuk bisa menjadi bangsa yang diperhitungkan bangsa-bangsa lain kuncinya adalah tergantung pada kualitas sumber daya manusianya. Pospenas adalah salah satu bentuk  kegiatan yang mendukung cita-cita di atas yaitu berusaha meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia seutuhnya.

Filsafat Olahraga dan Seni

Olahraga merupakan salah satu aktivitas fisik positif yang bisa dilakukan oleh semua orang. Disamping memberikan dampak positif bagi tubuh, ada banyak pula manfaat non-fisik lainnya. Misalnya, sebagai media untuk mendapat dan memperbanyak teman, hal ini bisa terjadi pada saat berlatih atau bahkan saat bertanding sekalipun. Selain menjadi hobi, olahragapun kini menjadi sebuah profesi menjanjikan yang bisa mengahasilkan materi.

Ada lima (5) unsur yang terkandung dalam olahraga, diantaranya unsur kesehatan, rekreasi, permainan, pendidikan dan keterampilan. Kelima unsur tersebut berkaitan dengan jiwa, dimana jiwa manusia berhubungan erat dengan karakter dan kepribadian. Setidaknya karakter dan kepribadian dapat dibentuk melalui pemahaman nilai-nilai filosofis dalam olahraga, antara lain sportivitas, kejujuran, fair play, dan mental siap menang dan siap kalah. Nilai-nilai filosofis di atas harus dimiliki setiap individu sebagai warga negara, tak terkecuali santri sebagai penerus bangsa ini.

Sedangkan seni adalah salahsatu media yang biasa digunakan manusia untuk mengekspersikan sesuatu. Di dalam penggunaanya sedikit banyak menggunakan perasaan yang akan berpengaruh terhadap suatu pencapaian atau hasil karya seseorang. Di daalam seni pula, perasaan harus dikuasai lebih terlebih dahulu, diatur dan dikelola sedemikian rupa untuk kemudian direpresentasikan menjadi sesuatu. Representasi seni merupakan upaya pengungkapan  kebenaran atau kenyataan semesta sebagaimana ditemukan oleh pelakunya.

Dalam kehidupan sosial, seni sering dikaitkan dengan urusan  moral. Ada dua (2) pandangan  soal seni dan moral tersebut. Pertama, bahwa seni harus bersendi kepada moral, sementara pandangan kedua berpendapat bahwa seni adalah murni untuk seni yang tak terikat oleh moral.

Kalau kita analisis lebih intensif dan mendalam, sebenarnya seni dan moral adalah dua subjek yang berbeda namun tujuan akhirnya sama, yaitu untuk keluhuran budi manusia itu sendiri. Seni mengabdi kepada keindahan, sedangkan moral pada kebaikan. Seni yang sejati sudah barang tentu bermoral, moralnya adalah keindahan itu sendiri, sebab keindahan adalah kebaikan dan kebenaran.

Santri Par Excellence

Sejak ditetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, kini eksistensi santri menjadi lebih diperhitungkan dalam kancah nasional. Santri merupakan bagian dari konsep kenegaraan, sehingga hubungan antara keduanya menjadi lebih harmonis. Dari sisi sejarah, pemilik aset negeri ini adalah santri. Artinya, ke depan, santri harus lebih maju dan mampu menempatkan diri sebagai pemimpin bangsa.

Hajatan nasional Pospenas 2016 ini adalah momentum emas yang sangat berharga  bagi para santri seluruh Indonesia untuk mengerahkan seluruh kekuatan baik fisik, pikiran serta potensi skilnya dalam bidang olahraga dan seni. Mereka berusaha untuk menjadi yang terbaik dalam berkompetisi. Satu hal paling penting, yang tak boleh dilupakan adalah bagaimana mereka mampu mengimplementasikan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam olahraga tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dari ajang nasional ini akan muncul santri-santri tangguh yang punya karakter dan kepribadian hebat. Dan mereka itu adalah santri par excellence, santri yang santun, sportif, indah dan religius, sesuai dengan motto yang diusung dalam Pospenas ke-7 ini.

Masih ada waktu beberapa hari ke depan bagi para santri untuk terus berjuang mengharumkan daerah yang diwakilinya masing-masing. Selamat berlomba ! Semoga tulisan ini tak hanya sekedar merayakan euforia, namun menjadi penyemangat dan langkah baru bagi para santri untuk siap menghadapi masa depan dengan segala rintangan dan hambatan.

Penulis: IIP RIFAI Alumnus Pascasarjana IAIN ‘SMH’ Banten, Pengajar di Kampus CMBBS Propinsi Banten, Peneliti di Omar Institute. Email : rifaikuadrat@gmail.com

Efek Domino Kaum Intelektual Muda

Kita semua ketahui bersama bahwa mahasiswa memegang peranan yang sangat penting didalam suatu bangsa, karena mahasiswa dapat dengan langsung  menikmati proses belajar yang lebih tinggi diantara banyaknya masyarakat di Indonesia. Jadi, sangat logis jika peran mahasiswa sangat menentukan dan membentuk banga kedepannya.

Status mahasiswa yang mendarah daging dikalangan kaum intelektual muda tentu harus diimbangi dengan sikap idealisme yang perlu dipertahankan karena hal itu wajar jika mahasiswa harus mampu dibidang program studi yang ditekuni dan konsentrasikannya.

Sebetulnya jika kita membuka dan mengambil hikmah dari sejarah berdirinya hingga merdekannya bangsa indonesia, peran pemuda sangat besar dalam mendirikan bangsa indonesia, dimulai dari sumpah pemuda tahun 1982 yang berlanjut dengan semangat revolusi yang wakilkan oleh bung karno dan bung hatta sehingga dapat dengan tegas memproklamirkan kemerdekaan seutuh-utuhnya serta meniadakan segala bentuk penindasan dan penjajahan di bumi putera (nusantara).

Disamping itu, peran pemuda masih teguh dan kokoh hingga pada ujung (titik jenuh) pemerintahan soherato yang dikenal otoriter pada tahun dapat ditumbangkan oleh mahasiswa karena dengan jelas orde baru memakai sistem  yang diterapkan anti demokrasi.

Kesadaran pemuda masih menjadi power (kekuatan) dan ujung tombak bangsa untuk tetap memperjuangkan keutuhan dan kesejahteraan untuk seluruh lapisan masyarakat indonesia.

Dari sejarahlah kita akan sadar bahwa pemuda sebagai generasi penerus bangsa harus tetap menjaga keidealannya serta berperan dalam membangun bangsa dan jiwa yang berimplikasi positif untuk kesejahteraan rakyat indonesia.

Proses belajar diperguruan tinggi sangat diharapkan out put yang baik demi bangsa kedepannya, jika proses ini di jalankan dengan terdapat hal-hal yang diluar semestinya yang condong tidak mencerminkan wajah keilmiahan maka akan didapati pula hasil lulusan perguruan tinggi akan menampilkan lulusan-lulusan yang tidak diharapkan. Maka dari itu yang perlu diperhatikan dengan seksama adalah proses. Pencarian intelektual muda diharap sesuai dengan methode yang baik, merujuk dari pemikir Ibn Qayyim Al-Jawziyyah dalam bukunya yang berjudul Epistemologi Dalam Perspektif Ibn Qayyim Al-jawziyyah menurutnya yang dimaksud dengan ilmu manusia adalah kemampuan untuk menyingkap haikat sesuatu dan menjelaskan tingkatannya. Ilmu dalam perspektifnya memiliki korelasi dengan amal perbuatan atau aktivitas seseorang.

Apa bila yang ditetapkan didalam jiwa itu sesuai dengan hakikat realias, maka itulah ilmu yang benar dan valid. Dari perspektif Ibn Qayyim Al-jawziyyah ilmu pengentahuan adalah integrasi antara yang diketahui (objek) dan yang mengetahui (subjek) dalam implementasinnya ilmu itu dalam realitas kehidupan.

Melihat penjelasan semacam itu maka artinya bahwa mahasiswa yang berlaku di perguruan tinggi harus ada tindakan riil di kehidupan nyata demi memenuhi tugas sebagai kaum intelektual yang berperan dalam memejukan bangsa dan negara.

Bukan hanya sekedar menitik beratkan prioritasnya dalam ambisi mengejar angka Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) semata karena tolak ukur kaum intelektual sejatinya mampu berimplikasi sekitarnya.

Paradigma mahasiswa yang dengan sederhana mengartikan bahwa tugasnya hanya datang kekampus, absensi, tanpa membawa semangat menggali potensi keilmuan, harus segera diluruskan dan dibereskan kembali, guna menjaga marwah sebagai tonggak bangsa serta proses yang dilalui dengan semngat keilmuan dalam rangka menuntaskan kebodohan serta serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur.

Penulis: Baqi Maulana Rizqi, Kader HMI

Pilkada, Al-Maidah 51 dan Epistemologi Al-Jabiri

Pilkada serentak tahun 2017 beberapa bulan ke depan akan segera dimulai. Calon kepala daerah di setiap kabupaten, kota dan propinsi di Indonesia telah bermunculan. Mereka didukung oleh partai-partai politik yang siap memenangkan di belakangnya. ‘Genderang perang’ sudah ditabuh, semuanya bersiap dengan segala kemampuan, strategi dan siasat yang dimiliki. Demi satu kata, yaitu “menang”.

Demikian sekelumit gambaran bagaimana hiruk pikuk kehidupan demokrasi di negeri ini. Pesta demokrasi sejatinya melahirkan suasana demokratis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Setiap pasangan calon dan tim sukses semestinya tidak menganggap rivalnya sebagai musuh yang akan mengancam dirinya, mereka adalah patner yang akan membawa kehidupan rakyat yang dipimpinnya menuju kesejahteraan. Sehingga saat “pertarungan” usai, yang menang menjadi pemimpin yang amanah, tak memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi dan golongannya, dan yang kalah bersikap legowo, hendaknya ikut serta mendukung kebijakan-kebijakan yang prorakyat sang pemenang. Karena tujuan utama dari kepemimpinan adalah kesejahteraan rakyat, dimana mereka bisa mencicipi manisnya kue demokrasi tersebut.

Lihatlah kondisi realitas di lapangan kini, kampanye hitam telah menjadi amunisi panas yang siap menembak mati rival politiknya. Pilkada tidak saja memicu emosi kelompok partai meluap sampai 180 derajat, tetapi juga hubungan emosinal kesukuan dan keagamaan muncul seketika menebar erosi pemikiran yang komsumtif dengan kepentingan golongan. Salahsatu kasus adalah panasnya pilkada DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, yang populer dipanggil Ahok, sebagai calon gubernur petahana yang lahir sebagai cina dan non muslim telah melahirkan emosi ras dan agama yang sangat kuat. Dia menjadi sasaran empuk rasisme.

Berebut Tafsir Ayat Suci

Pernyataan kontroversial calon gubernur petahana DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang mengutip QS. Al-Maidah: 51, terus menimbulkan reaksi. Ahok dituduh telah melakukan penistaan agama. PP Pemuda Muhammadiyah sebagai salahsatu ormas Islam telah melaporkan  Ahok ke pihak berwenang karena kasus tersebut. Namun, di pihak lain, muncul pula pembelaan terhadap Ahok. Akhmad Sahal salahsatunya, sebagai kader muda NU, ia menampik tuduhan bahwa Ahok telah melakukan penistaan agama. Sahal menyebutkan bahwa Ahok tidak bermaksud menghina Al-Quran. Dia hanya mengomentari fenomena adanya manipulasi kesadaran orang dengan memakai ayat 51 QS. Al-Maidah dan ayat-ayat lainnya untuk melarang menjadikan pemimpin mereka adalah non-Muslim.

Anjuran dari ulama Islam untuk tidak memilih pemimpin yang kafir, menurut Sahal adalah kategori SARA. Ahok saat itu bicara di depan masyarakat Pulau Seribu, seperti ini “Bapak ibu ndak bisa memilih saya dibohongi pake surah Al-Maidah: 51 dan macem-macem itu. Itu hak bapak ibu. Ya, jika bapak ibu perasaan tidak bisa pilih nih karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, ya enggak apa-apa.  Karena ini kan panggilan pribadi bapak-ibu. Program ini jalan saja. Jadi, bapak ibu tak usah merasa enggak enak dalam nuraninya enggak bisa memilih Ahok.” Yang dipersoalkan Ahok bukan ayat-ayat Al-Quran yang suci dan mulia, tetapi ulah sekelompok orang  yang mempolitisasinya untuk mengobarkan sentimen SARA.

Menurut Ahok, ia tidak sedang melecehkan Islam tapi justru  mengingatkan bahwa ayat’ayat kitab suci agama apapun bisa disalahgunakan sekelompok orang untuk menghancurkan  toleransi, kebhinekaan dan perdamaian dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Namun, mayoritas ulama Islam telah sepakat bahwa non muslim tak bisa menjadi pemimpin untuk mayoritas muslim, dan kaum muslim dilarang keras menjadikan pemimpin mereka adalah non muslim. Hal ini didasarkan pada ayat 51 QS. Al-Maidah tersebut.

Pertarungan opini di lini masa terkait pernyataan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama di atas, sesungguhnya adalah perebutan tafsir terhadap teks ayat suci Al-Quran yang “mati”. Bagaimanakah konteks ayat tersebut kala turunnya (asbabun nuzul)? Siapakah yang berhak menafsirkannya? Tafsir siapakah yang paling benar?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu mendapatkan penjelasan yang utuh, komprehensif, dan paripurna agar umat yang berada di bawah lebih terbuka wawasannya, cerdas dalam memahami “ayat-ayat sensitif” tersebut, sekaligus arif dan bijak dalam menyikapi perbedaan-perbedaan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat yang majemuk ini.

Jika rujukan yang dipakai terjemahan Departemen Agama mengenai QS. Al-Maidah: 51, sejak lama sudah menuai kontroversi dan kritik dari para cendekiawan muslim, salahsatunya dari  Quraish Shihab. Menurutnya, dalam Tafsir Al-Misbah yang ia susun, kata auliya dalam ayat tersebut tidak harus diidentikkan dengan pemimpin. Kata auliya merupakan bentuk plural dari kata wali yang terjemahannya bisa berarti teman, wakil atau pemimpin. Misalnya, seorang anak wanita yang hendak menikah, bapaknya menjadi wali baginya. Dalam dunia tasawuf, terdapat seorang guru yang dipercayai menjadi wali Allah, wali tersebut diterjemahkan sebagai wakil Allah di bumi yang diberi keistimewaan berupa karamah.

Jadi sangat rigid jika terjemahan kata auliya hanya diterjemahkan tunggal sebagai pemimpin. Jika yang dimaksud adalah pemimpin politik dan pemerintahan, Al-Quran telah menyebut spesifik pada QS. An-Nisa: 59. Dalam ayat tersebut ada kata ulil amri, yang lebih cocok dan pas jika diterjemahkan sebagai pemimpin politik. Meskipun banyak pendapat mengenai sebab turunnya ayat tersebut (asbabun nuzul) tetapi dalam nuansa politik.

Maka sangat paradoks jika kata auliya yang memiliki makna ganda hanya diterjemahkan sebagai pemimpin, sedangkan kata ulil amri yang mempunyai arti  spesifik sebagai pemimpin dalam bidang politik dan pemerintahan tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Inilah yang saya maksud, QS. Al-Maidah: 51 menjadi ayat yang paling diperebutkan untuk dijadikan alat pembenar tafsirannya masing-masing. Jangan sampai ayat Al-Quran dipolitisasi oleh para politikus yang haus akan kekuasaan. Ayat Al-Quran diambil sepotong-sepotong demi syahwat kekuasaan tanpa melihat Al-Quran secara paripurna. Jangan sampai juga Al-Quran hanya dibaca saat pilkada saja, sisanya ‘tergolek mesra’ di lemari tanpa sentuhan pembacanya.

Epistemologi Abid Al-Jabiri

Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah dua kunci utama yang paling mendasar dari kemajuan peradaban manusia. Keduanya tidak dapat diraih begitu saja tanpa ada sebuah dinamika atau diskursus ilmiah. Proses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan inilah yang kemudian dikenal sebagai epistemologi.

Muhammad ‘abid Al-Jabiri, seorang pemikir asal Maroko, membagi model epistemologinya ke dalam tiga (3) bagian, yaitu model bayani, irfani, dan burhani. Bayani secara etimologi mempunyai pengertian:  al-fashl wa al-infishal (memisahkan dan terpisah), al-dhuhur wa idhhar (jelas dan penjelaan). Pengertian pertama berkaitan dengan metodelogi, sedangkan pengertian kedua berkaitan dengan ru’y (visi). Adapun secara terminologi, bayani memiliki pengertian sebagai aturan-aturan penafsiran wacana (qawanin tafsir al-kitab) dan syarat-syarat memproduksi wacana (syuruth intaj al-kitab).

Ringkasnya, bayani adalah model metodologi berpikir yang didasarkan atas teks. Dalam hal ini teks sucilah yang memiliki otoritas penuh menentukan arah kebenaran. Dalam tradisi nalar epistemologi bayani, fungsi akal hanya digunakan sebatas untuk mengukuhkan dan membenarkan otoritas teks. Di samping itu, nalar epistemologi bayani ini selalu mencurigai akal pikiran, karena dianggap akan menjauhi kebenaran tekstual. Akal dianggap tidak mampu memberikan pengetahuan kecuali disandarkan pada teks. Wilayah kerja akal pikiran perlu dibatasi sedemikian rupa dan perannya dialihkan menjadi pengatur dan pengekang hawa nafsu, bukan untuk mencari sebab-akibat  lewat analisa keilmuan yang akurat.

Dalam konteks penafsiran QS. Al-Maidah: 51, yang menjadi isu konflik saat ini, corak pemikiran model bayani ini sangat mendominasi dan bersifat hegemonik sehingga menjadi sulit berdialog  dengan tradisi epistemologi irfani dan burhani.

Epistemologi irfani secara sederhana bisa diterjemahkan sebagai pengetahuan yang diperoleh qalb (hati)  melalui kasyf, ilham, ‘iyan (persepsi langsung) dan isyraq. Oleh karena itu, irfani bisa diartikan sebagai pengungkapan atas pengetahuan yang diperoleh lewat penyinaran hakekat oleh Tuhan kepada hambanya (kasyf) setelah adanya olah rohani (riyadhah) yang didasarkan atas dasar cinta (mahabbah). Sebuah pengetahuan akan diperoleh melalui hati yang dapat mengantarkan seseorang untuk menimbang mana yang terbaik untuk diterapkan. Ringkasnya, epistemologi irfani adalah model metodologi berpikir yang didasarkan atas intuisi.

Epistemologi irfani ini kurang begitu disukai oleh model bayani, karena bercampur-aduknya dan dikabur-buramkannya tradisi berpikir irfani oleh kelompok-kelompok tarekat. Disamping itu juga lantaran pola pikir irfani, struktur fundamental epistemologinya dan nilai manfaat yang terkandung di dalamnya cenderung sulit dipahami. Tak heran jika pada prakteknya, masing-masing epistemologi tidak pernah akur. Para penganutnya saling mengklaim kebenaran hingga berujung saling kafir-mengkafirkan atau murtad-memurtadkan. Pola pikir tekstual bayani secara politis sangat mendominasi yang kemudian membentuk pola pikir hegemonik dan kaku. Otoritas teks dan kaidah-kaidah metodologi yang dibakukan lebih diunggulkan dibandingkan dengan sumber keilmuan lain seperti alam, pikiran dan intuisi.

Epistemologi terakhir adalah burhani. Dalam bahasa Arab, al-burhan diterjemahkan sebagai  argumen yang clear dan distinct. Secara umum didefinisikan sebagai aktivitas pikir untuk menetapkan kebenaran sesuatu. Sedangkan menurut pengertian logika, al-burhan diartikan sebagai aktivitas pikir yang menetapkan kebenaran sesuatu melalui penalaran dengan mengkaitkan pada pengetahuan yang bukti-buktinya mendahului kebenaran

Al-Jabiri menggunakan burhani sebagai sebutan terhadap sistem pengetahuan yang berbeda dengan metode pemikiran tertentu dan memiliki wold view tersendiri, yang tidak bergantung pada hegemoni sistem pengetahuan lain. Burhani mengandalkan kekuatan indera, pengalaman, dan akal dalam mencapai kebenaran.

Perpaduan teks dan akal memunculkan kekakuan dan ketegangan-ketegangan tertentu bahkan tak jarang menimbulkan konflik dan kekerasan yang bersumber dari pola pikir ini. Dalam kasus penerjemahan kata auliya yang terdapat dalam QS. Al-Maidah : 51, kaum bayani menerjemahkannya secara tekstual, sedangkan kaum burhani mencari terjemahan lain yang sesuai dengan konteksnya.

Setelah mengetahui ketiga epistemologi yang dikemukakan Al-Jabiri, langkah selanjutnya adalah menentukan hubungan diantara ketiganya. Bagaimana hubungan yang ideal? Jika hubungan antara ketiga corak epistemologi dipilih secara paralel maka masing-masing akan berjalan sendiri-sendiri tanpa ada hubungan dan persentuhan antara satu dengan yang lainnya dan ini akan berimplikasi pada perolehan nilai manfaat teoritis maupun praktis sangat minimalis sekali. Sedangkan jika hubungannya secara linear pada ujung-ujungnya akan menghadapi jalan buntu, karena dari ketiga epistemologi itu salahsatunya akan menjadi primadona.

Dalam lingkungan yang majemuk ini, pola hubungan yang baik antara ketiganya adalah sirkulasi, yaitu masing-masing corak epistemologi dapat memahami kelemahan, keterbatasan, dan kekurangan yang melekat pada diri masing-masing. Di dalam alam pola relasi sirkulasi ini tidak ada istilah  finalitas, eksklusivitas dan hegemonitas. Dari rahim relasi sirkulasi ini akan lahirlah tradisi dialog, dengan dialoglah maka konflik, kekerasan dan sejumlah potensi perpecahan bisa dihindari.

Epilog

Hiruk pikuk pilkada serentak 2017 telah menguras energi bangsa ini. Kampanye hitam yang rasis dan cara-cara lain yang mendiskreditkan rival politiknya telah menjadi tontonan rakyat sehari-hari. Setiap calon kepala daerah di wilayahnya masing-masing hendaknya terus berhati-hati dan waspada ketika berucap atau bersikap di depan publik. Kasus calon gubernur DKI Jakarta, Ahok, yang membawa-bawa teks suci Al-Quran surat Al-Maidah: 51 telah menjadi bukti nyata sebagai tamparan keras betapa publik, khususnya kaum muslim, sangat reaktif dan emosional menyikapinya. Mereka menganggap Ahok sudah kebablasan menafsirkan ayat suci Al-Quran dengan tafsirannya sendiri. Ia adalah seorang kristen yang seharusnya tahu diri di tengah mayoritas muslim yang gampang marah tidak sembarangan bertutur kata, apalagi hal yang menyangkut tafsir kitab suci kaum muslim.

Perebutan tafsir terhadap teks suci Al-Maidah: 51, yang Ahok tafsirkan sendiri, menjadi sentral isu konflik. Reaksi kaum muslim dari berbagai ormas menyuguhkan tafsiran yang justru menambah kegaduhan sehingga pilkada yang sejatinya menumbuhkan benih-benih demokrasi berubah menjadi ajang saling hantam berbuntut SARA. Sekalipun, akhirnya Ahok meminta maaf kepada seluruh umat Islam.

Menurut Al-Jabiri, kelemahan kaum muslim terjebak pada epistemologi bayani, yaitu suatu usaha menfsirkan teks secara skriptual (tekstualis), akibatnya teks menjadi rigid, kering dan kerdil makna sekaligus sensitif jika ditafsirkan tunggal. Ketika ada teks dalam ayat suci salahsatu agama apapun yang membutuhkan tafsiran kontekstual mereka justru mengabaikannya. Sejatinya teks tersebut dibaca, dikaji, dianalisis kemudian didialogkan, sehingga teks tersebut menjadi kaya makna dan tentu tidak akan menjadi penyebab konflik seperti saat ini. Al-Jabiri menawarkan epistemologi burhani untuk menafsir teks agar kita tak salah dalam memaknai teks, karena epistemologi burhani selalu melibatkan nalar, akal dalam memahami teks tersebut, selain meyuguhkan bukti-bukti yang mendukung kebenarannya. Sekali lagi, sudah saatnya kita cerdas dan bersikap dewasa menghadapi isu-isu sensitif berbau SARA dalam menghadapi pilkada serentak 2017. Dialog adalah cara solutif menyelesaikan perselisihan dan konflik bagi siapapun.

Penulis: IIP RIFAI, Alumnus Pascasarjana IAIN ‘SMH’ Banten, kini sebagai peneliti di Omar Institute

Jelang Penetapan, Warga Sekitar Rumah Anies Lakukan Doa Bersama

HMINEWS.COM, Jakarta- Menjelang penetapan pasangan calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) DKI Jakarta, warga di sekitar rumah bersama para relawan mendoakan Anies Baswedan. Acara pengajian dan doa untuk Anies juga digelar warga di sekitar rumah kediaman ibunda Anies di Yogyakarta.

Ketua RW 04 Cilandak Barat Ahmad Sabillah mengatakan tetangga dan warga di sekitar rumah berharap Anies bisa menjadi orang nomor satu di DKI Jakarta.

“Sengaja kita berkumpul di sini, kita berdoa, agar besok berjalan lancar, tidak ada halangan apa pun. Dan terakhir kita berharap beliau jadi orang nomor satu di DKI,” ujar Ahmad.

Warga juga berharap agar Anies nantinya mendapatkan amanah dari warga Jakarta untuk memimpin ibu kota lima tahun ke depan.

“Ini inisiatif ingin mendukung, mendoakan biar penetapan (pasangan calon) itu bisa berjalan lancar,” kata M Chozin Amirullah selaku koordinator relawan Anies-Sandi yang juga hadir di kediaman Anies di Jalan Lebak Bulus Dalam II, Cilandak Barat, Jakarta Selatan (Jaksel), Minggu (23/10/2016) malam.

Hal senada dikatakan isteri Anies, Fery Farhati. Selain di rumah kediaman di Jakarta, tuturnya, doa oleh warga untuk Anies juga digelar di rumah keluarga di Yogyakarta.

“Di Jogja juga sama Mas. Ratusan tetangganya datang ke rumah pada doa bersama malam ini juga,” kata Fery.*