Senior Course; Menggali Semesta Diri Dalam Semesta Raya

Korp Pengader (KP) HMI Cabang Semarang pada tanggal 28 September – 02 Oktober 2016 telah menyelenggarakan senior course (SC) yang ke 22. SC merupakan sebuah agenda rutin yang diselenggarakan oleh KP Semarang dalam rangka melahirkan pengader-pengader yang akan membawa tongkat estafet perkaderan. Pendidikan khusus yang harus dijalani oleh para kader guna mengemban amanah secara formal sebagai pengader. Seperti halnya pada senior course pada umumnya SC kali ini pun akan membekali kepada kader-kader mengenai konsep diri dan kode etik pengader , konsep dan teknis pengelolaan pelatihan di HMI, serta pentingnya kerangka pendidikan pada kader. SC ke 22 ini pun diikuti oleh tujuh peserta yang mewakili dari 5 kader HMI Cabang Semarang, satu kader HMI Cabang Yogyakarta dan satu kader dari HMI Cabang Jakarta Selatan.

Berbicara mengenai pelatihan tentu terlintas dalam benak kita adalah sebuah pengkondisian yang resmi, misalnya berada di dalam ruangan, bersepatu, berpakaian rapi dan serba serbi fasilitas yang mendukung berjalannya sebuah pelatihan. Pun di HMI dari berbagai pelatihan yang kita amati mulai dari pendidikan umum yakni basic training, intermediet training , advance training maupun senior course, pola yang diberlakukan dalam membangun nuansa pelaatihan tak jauh dari nuansa formal layaknya pelatihan pada umumnya.

Namun sudut pandang yang berbeda coba untuk dirumuskan oleh tim kepemanduan dan tim penyelenggara SC kali ini. Berbekal dari sebuah tema yang diusung yakni menggali semesta diri dalam membentuk pengader yang utuh guna memcapai perkaderan yang progresif, serta berdasarkan analisa mengenai kondisi perkaderan di lingkup HMI Cabang Semarang yang tengah lesu, tim kepemanduan dan tim penyeenggara SC mencoba untuk mengkonsep sebuah pelatihan yang dapat membangun kesadaran dan membentuk karakter yang mandiri, agar dapat survive (bertahan) dalam kondisi yang ekstreem sekalipun tetapi masih sesuai dengan tema.

Back to nature and survive” itulah konsep pelatihan yang kami bangun, pelatihan yang berada ditengah pepohonan jati yang rimbun, tempat transit istirahat dengan menggunakan tenda dan aktivitas forum yang hanya di joglo. Tempat yang kami pilih adalah di Santrendelik, yang berlokasi di jalan kalialang kecamatan Gunungpati Semarang. Tempat yang cukup jauh dari keramaian kota, dan masih begitu asri serta dekat dengan perkampungan warga.

Sebagai seorang pengader yang utuh (baca: pendidik, pemimpin dan pejuang), haruslah siap menghadapi berbagai kondisi, baik itu kondisi yang baik maupun kondisi yang kritis sekalipun. Dengan pelatihan di outdoor dengan menggunakan tenda seperti ini, membawa peserta pada sebuah kesiapan bahwa kondisi di alam sewaktu-waktu bisa hujan maupun terik atau berangin, maka kesiagaan untuk bisa mengambil tindakan sangat diperlukan. Seorang pengader harus bisa mengurangi kebiasaan untuk mengeluh. Segala kondisi yang ada adalah bentuk nikmat yang harus disyukuri.

Aktivitas formal (dalam forum) maupun informal (berjamaah, tadarus, tausiyah dan muhasabah) berjalan dengan lancar tanpa hambatan yang berarti. Sekalipun dalam beberapa kesempatan hujan deras mengguyur dan membuat tenda-tenda transit kebanjiran, hal ini tak menyurutkan dan membuat kami semua mengeluh. Hal ini yang ternyata membawa sebuah hikmah, dimana semangat gotong royong, kekeluargaan untuk saling mengingatkan akan kesehatan sesama peserta maupun pemandu menjadi terbangun. Baik peserta maupun pemandu bahu-membahu dan bersama-sama dengan satu tujuan agar pelatihan ini dapat terlaksana dan berjalan sebagaimana mestinya. Kesadaran bahwa satu sama lain memiliki tanggung jawab atas yang lainnya menjadi sebuah dasar terwujudnya pelatihan ini.

Menggali semesta diri dalam semesta raya, mencoba untuk menghantarkan  peserta senior course pada tahap kesadaran untuk mau mengenali diri sebagai mikrokosmos yang berada dalam semesta raya sebagai makrokosmosnya. Seperti halnya sebuah hadist yang berbunyi man arofa nafsahu faqod arofa rabbahu, barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya. Kesadaran untuk mau melihat kembali kedalam siapakah sejatinya diri ini, bagaimanakah diri ini harus berperan, yang belakangan sudah mulai diabaikan dan ditinggalkan oleh kebanyakan manusia. Seperti halnya yang ditulisan oleh Muhammad zuhri dalam bukunya lantai-lantai kota yang menyebutkan bahwa ada ruang yang tak akan pernah habis digali dan emnjadikan setiap individu memiliki keunikan dalam merespon realita nya, itulah yang bernama semesta diri. Menjadikan seseorang lebih terasah kepekaannya dalam melihat kondisi sosial di luar dari dirinya.

Dalam menjalankan amanah perkaderan di HMI, tentunya konsep diri ini yang akan menuntun bagaimana seharusnya sikap seorang pengader dalam merespon realita yang ada disekitarnya. Dengan sebuah harapan tema ini dapat menggugah para pengader untuk dapat melihat kondisi perkaderan yang ada hari ini dan mau bergerak serta menghibahkan diri untuk menata dan melanjutkan estafet perkaderan di HMI dengan ghirrah yang selalu terbarukan.

Tak ada sesuatupun yang abadi kecuali perubahan itu sendiri, begitulah kiranya kutipan dari sang guru yang berasal dari sekarjalak, Muhammad Zuhri. Sehingga hal inilah yang mendorong bagi tim kepemanduan dan tim penyelenggara SC kali ini untuk berani berbeda dalam menyajikan konsep pelatihan di HMI. Kreatifitas yang dilandasi kesadaran dan tanggung jawab akan melahirkan ide serta gagasan baru yang dapat dipertanggungjawabkan pula. Sekiranya itu yang bisa kami hadirkan, setiap hal yang baru tentu masih meninggalkan banyak kekurangan yang harus dperbaiki, dan kami akan selalu berbenah menuju yang labih baik guna menyongsong perkaderan yang progresif.

Penulis: Rina Sunia Setya