Membumikan Semangat Kebangsaan Sam Ratulangi, HMI Manado Gelar Dialog Publik

HMINEWS.COM, Manado- Langkah pertama menaklukkan suatu bangsa adalah dengan merusak ingatannya, lalu perintahkan seseorang untuk menulis buku-buku baru, membangun kebudayaan baru dan menyusun sejarah baru. Tinggal menggantang waktu, bangsa itu akan lupa pada masa kini dan masa lalunya.

Diakaui bahwa banyak Pahlawan di negeri ini yang sengaja dilupakan, bahkan ada juga yang namanya tidak tercantum dalam “takdir” sejarah di negeri ini. Lebih parah lagi, masih banyak pahlawan yang hanya diabadikan namanya semata, tetapi tidak demikian dengan ide-ide brilian mereka dan semangat perjuangan mereka. Salah satunya DR.Gerungan Saul Samuel Jakob Ratulangi, pahlawan nasional asal Sulawesi Utara (Sulut). Meskipun, oleh sejumlah kalangan masih menjadi perdebatan apakah Sam Ratulangi termasuk satu dari sekian pahlawan nasional atau tidak.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) Cabang Manado turut prihatin dengan kondisi demikian, terutama pada konteks lokal masyarakat di Sulut yang dinilai telah kehilangan memori tentang pemikiran Sam Ratulangi. Oleh karenanya, melalui Komisariat Sosial Unsrat, Sabtu (19/11), menggelar Dialog Publik dengan tema “Membumikan Semangat Kebangsaan Sam Ratulangi: Jejak dan Pemikirannya Dalam Konteks Sulut”.

Substansi dari tema yang diusung dalam dialog itu, menurut Ketua Umum Komisariat Sosial Resky Daeng, adalah bentuk keperihatinan dia dan jajaran Komisariat di Unsrat. Pasalnya, kampus yang menyandang nama Sam Ratulangi itu tidak sama sekali menanamkan falsafah yang dicetus oleh manusia yang hampir komplit itu, Diantaranya adalah: Pertama, Si Tou Timou Tumou Tou’, Kedua, Wawasan Sumikola, ketiga, Otonomi Sempurna untuk Bangsa dan Tanah Minahasa, keempat, Republik Indonesia yang berbentuk Federal, dan kelima, Peran Minahasa dan Indonesia di Asia Pasifik.

“Tema yang kami tampilkan saat ini merupakan bentuk prihatin kami selaku mahasiswa/i Unsrat dan juga bagian dari generasi muda Sulut. Karena sosok Sam Ratulangi dan beberapa falsafah yang lahir dari pemikirannya tidak dijadikan pijakan dan batu loncatan dan terkesan hanya “slogan” terutama di kalangan civitas akademik Unsrat. Kampus yang mengabadikan nama Ratulangi,” terang Resky Daeng yang kini terdaftar di jurusan sosiolpgi Fisipol Unsrat.

Dialog yang berlangsung di Lnt.2 Aula Fisipol Unsrat ini panitia menghadirkan empat narasumber yakni, Syarifudin Saafah, ST (Anggota DPRD Manado), DR.Drs.Michael Mamentu, S.sos.Msi (Dosen dan Pembina Badan Tadzkir Fisipol Unsrat), dan Drs.Alex John Ulaen, DEA (Sejarawan Sulut) serta Ketua Umum HMI Cabang Manado Rifaldi Rahalus. Dalam kesempatan ini, HMI mendapat apresiasi dari salah satu narasumber yakni, Alex John Ulaen.

Menurut mantan dosen antropologi Fisip itu, topik mengenai Ratulangi seharusnya bukan diangkat oleh HMI melainkan organisasi intra kampus Unsrat yakni Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan jajaran civitas akademik.

“Saya capek sekali, tetapi karena topik dialog ini sangat menarik maka saya harus hadir. Terus terang saya salut kepada HMI atas tema yanh dingkat saat ini. Seharusnya bukan HMI tetapi civitas akademik membicarakan topik ini, sekali lagi saya bangga terhadap HMI. Bravo HMI,” beber Ulaen mengawali pemaparan materinya.