KAUMY Serukan Solidaritas Kemanusiaan Untuk Aleppo

HMINEWS.COM, Jakarta- Perang yang melanda Suriah terus memakan korban jiwa. Penduduk Aleppo saat ini merasakan dampak kekejaman perang Suriah. Aleppo dikepung dan dibombardir tanpa henti. Kesusahan yang amat memprihatinkan dialami terlebih kepada anak-anak, orang tua dan kaum perempuan Aleppo.

“Aleppo diambang kemusnahan, mereka sama sekali tidak berdaya. Korban jiwa terus bertambah dan anak-anak kehilangan masa depan. Kaum pria dipaksa menjadi tentara, sementara para perempuan terancam direnggut kehormatannya. Peninggalan sejarah dan peradaban Islam di Aleppo luluh lantak”, ungkap Ketua Umum Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (PP KAUMY) Yogie Maharesi dengan sangat prihatin.

Menurut Yogie, situasi terakhir di Aleppo belum cukup mendapat perhatian komunitas global. “Bencana kemanusiaan di Aleppo akibat perang Suriah harus dihentikan. Para pemimpin dunia dan seluruh negara perlu mengambil langkah bersama, segera sebelum korban kian bertambah. Ini krisis kemanusiaan dan pembantaian yang nyata,” tegas Yogie.

PP KAUMY menyerukan pula kepada seluruh organisasi Islam dan umat muslim di Indonesia dan dunia agar bergerak cepat dengan semua cara yang dimungkinkan untuk membantu umat muslim Aleppo. “Kerahkan segala usaha dan ikhtiar kita untuk meringankan penderitaan saudara-saudara muslim di Aleppo. Gunakan semua sumberdaya, akses komunikasi dan jalur politik yang ada untuk saling mendukung percepatan bantuan bagi Aleppo” lanjut Yogie.

Menutup pernyataannya, PP KAUMY mengajak seluruh umat muslim untuk memanjatkan do’a agar penduduk Aleppo bisa diselamatkan. “Semoga Allah SWT melindungi dan memberi kekuatan bagi saudara-saudara kita di Aleppo”, pungkas Yogie.

Makna Toleransi dari Buya Hamka

Isu tentang Toleransi antar umat beragama menjadi sangat santer diperbincangkan belakangan ini. Puncaknya adalah ketika dugaan penistaan Agama oleh aktor politik DKI, Basuki Cahya Purnama atau akrab dipanggil Ahok ketika kunjungan ke Pulau Seribu. Pidato Ahok tersebut diunggah ke salah satu media sosial yang kemudian dikonsumsi oleh jutaan pasang mata di Indonesia. Sebuah statment yang menjadi permasalahan itu adalah “jangan mau ditipu pake surat Al-Maidah ayat 51”. Inilah yang sontak menyebabkan kemurkaan jutaan umat muslim di Indonesia kepada calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut 2 tersebut.

Hingga akhirnya umat muslim bersepakat untuk aksi turun kejalan. Hingga saat ini sudah ada tiga kali aksi umat muslim yang dikomandoi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI), dan yang paling anyar adalah Aksi Super Damai 212. Paska aksi tersebut, terlihat berbagai dialektika antar umat beragama dan negara. Dua hari setelah Aksi Super Damai, turun pula masyarakat yang mengatas namakan Aksi Kita Indonesia (dengan berbagai polemik). Di Bandung, terjadi insiden Sabuga dimana salah satu ormas Islam menghentikan paksa Kebaktian Kebangunan Rohani. Di Yogyakarta, ormas Islam mempermasalahkan baliho salah satu Universitas Kristen karena mempromosikan universitasnya dengan model berjilbab. Dikancah Internasional juga mencuat kasus penindasan muslim Rohingya. Selanjutnya apa…?

Melihat fenomena tersebut, tidak ada salahnya pembaca yang budiman untuk berkaca pada sejarah yang pernah dilalui seorang ulama termahsyur dari Sumatera Barat, Buya Hamka. Dalam bukunya Dari Hati ke Hati, Buya Hamka mencatat bahwa pada 30 November 1967, pernah diadakan sebuah musyawarah antar agama yang dipelopori oleh pemerintah. Musyawarah tersebut dihadiri oleh pemuka seluruh agama resmi yaitu Islam, Kristen (protestan dan katholik), Hindu-Bali dan Budha. Dalam pertemuan itu, Presiden Jendral Soeharto menyampaikan dua poin pokok :

  1. Membuat Badan Kontak antar Agama
  2. Membuat kesepakatan antar umat agama, tentang pemeluk suatu agama jangan dijadikan sasaran propaganda oleh agama yang lain.

Poin pertama dapat menemukan kata mufakat, sedangkan poin kedua tidak. Perwakilan umat Islam menyetujui poin-poin tersebut karena menganggap agama Yahudi dan Nasrani sebagai ahlul kitab yang harus dihormati. Sedangkan perwakilan umat Kristen, Tambunan S. H menegaskan bahwa bagi orang Kristen menyebarkan Perkabaran Injil kepada orang yang belum Kristen adalah “Titah Ilahi” yang wajib dijunjung tinggi (Hal ini sesuai dengan Alqur’an surat Al-Baqoroh ayat 120 bahwa orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang sebelum kamu mengikuti agama mereka). Respon tersebut sontak membuat M. Natsir angkat bicara. Bahwa dalam ajaran Islam pun wajib berdakwah mengajak manusia tanpa terkecuali menauhidkan Allah swt. Lalu akankah Bhinneka Tunggal Ika yang didengung-dengungkan itu dapat terlaksana jika keadaannya seperti ini?

Sebuah fakta sejarah telah dilalui, bahwa dari dulu telah terjadi perang antar agama. Adalah perang salib yang menjadi saksi atas kejadian tersbut. Saksi ketika 70.000 umat Muslim laki-laki dan perempuan dibantai oleh pasukan salib. Saksi ketika Umar bin Khattab “Al-Faruq” menghancurkan otoritas Kristen Byzantium. Saksi ketika Salahuddin Al-Ayubi berduel dengan Richard “the Lion Heart”.

Lantas bagaimana Buya Hamka memandang makna toleransi? Semangat toleransi yang sejati, yang logis, yang masuk akal adalah “ketika orang Islam berdoa, silahkan agama lain keluar ruangan, dan ketika umat agama lain berdoa, silahkan umat Islam keluar ruangan”. Artinya, jangan mencampur adukkan keyakinan. Silahkan masing-masing agama berjalan sesuai dengan apa yang diyakini tanpa memprovokasi agama lain. Jangan memaksakan umat Islam untuk mempercayai Trinitas, sebaliknya jangan juga memaksakan kehendak untuk memaksakan umat lain agar Bertauhid. Belakangan ini Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dijadikan sebagai alat untuk mencampur adukkan agama. Sehingga abu-abu lah yang hak dan yang bathil. Disebutlah para ulama yang menjunjung tinggi agama Islam sebagai anti Pancasila, padahal sejatinya para tokoh agama itulah yang menjunjung tinggi sila pertama “KETUHANAN YANG MAHA ESA”

Wallahu’allam bissowab…

Yogyakarta, 10 Desember 16

PB HMI Mengajak Kader, Almuni serta Masyarakat Turut Membantu Korban Gempa Aceh

HMINEWS.COM, Jakarta- PB HMI (MPO) mengajak kader, almuni serta masyarakat untuk membantu korban gempa berkekuatan 6,5 SR yang mengguncang Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

 

Bantuan berupa uang dapat disalurkan melalui rekening bank Mandiri PB HMI dengan nomor 118-00-0983401-0 atas nama Himpunan Mahasiswa Islam.

PB HMI menunjuk Ferizal Mukhtar sebagai kordinator yang dapat dihubungi di nomor 081382384298. Saat dihubungi, Ferizal menyampaikan bahwa penggalangan dana oleh PB HMI ini adalah bentuk solidaritas kader, alumni dan masyarakat untuk membantu para korban.

“Nantinya kita akan arahkan dana ini untuk kebutuhan-kebutuhan korban yang sifatnya mendesak. Saat ini di lokasi bencana diperlukan ketersediaan tempat ibadah, handuk, tenda medis, gudang makanan, obat-obatan, air bersih dan lain sebagainya,” kata Ferizal saat diminta keterangannya oleh redaksi HMINews.

 

Sebagaimana informasi yang disampaikan oleh BNBP, hingga Kamis (8/12/16) ada 99 korban tewas dan 1 orang hilang. Korban luka berat berjumlah 136 orang, dan 616 orang luka ringan. Selain korban jiwa dan luka, gempa ini juga menyebabkan ratusan bangunan rusak. Data pengungsi yang dilaporkan sampai Rabu (7/12), pukul 05.30 WIB, sebanyak 3.267 orang.

 

Merindu Jum’atan 212

Sholat Jumat, Sarana Sosial-Politik Keumatan

Hari Jumat tanggal 2 Desember 2016 lebih dari 7 juta umat Islam menggelar doa, dzikir dan sholat Jumat di kawasan Monumen Nasional (Monas) – sebenarnya penyebutan monas tidak relefan sebab kenyataannya jamaah memlebihi kapasitas halaman monas meluas sampai ke perempatan Sarinah, Cikini, Senen, Pasar Baru dan Harmoni – Jumatan ini dikenal dengan istilah Jumatan 212 untuk menyebutkan waktu pelaksanaannya.

Saya dan keluarga termasuk bagian dari lautan jutaan manusia tersebut. Pada lautan jutaan manusia tersebut saya merasakan diri seperti debu di padang pasir, sangat menggetarkan. Sampai dengan usia yang demikian dewasa bagi saya ini jumatan yang dahsyat. Dahsyat bukan hanya karena dihadiri oleh lebih dari 7 juta umat Islam tetapi jumat ini pun menyampaikan pesan sosial-politik keumatan.

Saya bukan lulusan sekolah agama dan karena itu saya bukan ahli agama tetapi saya yakin bahwa sholat Jumat bukan hanya sekedar intekaraksi insan dengan sang Khaliknya tetapi lebih dari itu adalah sarana sosial-politik keumatan. Bagi saya, syarat-syarat sahnya sholat jumat yang jamaahnya minimal 40 orang, kewajiban mendengarkan khotbah bagi jamaah, bahkan khotbah jumat dihitung dua rakaat sholat dan juga ancaman keras berupa kekafiran bagi laki-laki baliq dan berakal yang sengaja alpa meninggalkan tiga kali sholat jumat berturut-turut menunjukan pesan sosial-politik keumatan. Syarat-syarat sholat jumat tersebut tidak hanya menyiratkan pesan spiritual tetapi juga pesan sosial-politik keumatan.

Bagi saya – yang bukan Ustatd ini – Allah SWT sengaja menjadikan sholat jumat juga sebagai saran sosial-politik umat dalam sepekan. Setiap Jumat para lelaki Islam yang telah balig dan berakal diwajibkan sholat jumat secara berjamaah. Disetiap jumat itu juga para khatib akan berkhotbah untuk merespon kondisi yang sedan dan akan dihadapi umat Islam.

Bagi saya yang awam soal agama ini, idealnya disetiap sepekan saat sholat jumat para khatib harus dapat melakukan konsolidasi bagi spiritual dan sosial-politik keumatan. Lewat khotbah jumat para jamaah tidak hanya meningkatkan ketakwaan pribadinya tetapi juga dapat menjadi lokomotif bagi gerakan sosial-politik umat ke arah yang lebih baik. Jika ini dapat ini dapat direalisasikan dengan baik maka energy positif akan keluar dan memberi dampak sosial dari setiap jumat yang kita lalui.

Saya Merindu Jumatan 212

Ada sebuah anekdod yang diberi judul “Gara-gara Beda Mazhab” diceritakan seorang pemuda musafir pada suatu jumat mampir sholat jumat di sebuah masjid. Setelah wuduh pemuda tersebut masuk dan berdiri disudut kanan masjid kemudian sholat sunah dua rakaat. Setelah melaksanakan sholat sunah dua rakaat pemuda tersebut kemudian melipat kedua lututnya dan menyandar pada dinding masjid. Iqamat sholat jumat pun dikumandangkan, pemuda tersebut berdiri marah dan ribut, kemudian berkata “Asragfirullah, ini masjid bermazhab apa sih, kok tidak ada adzan, tidak ada khotbah jumat tiba-tiba saja Iqamat untuk sholat”. Dengan nada halus seoraang jamaah menghampiri dan berkata, “dari tadi kamu tidur” (hahahah).

Anekdot di atas mungkin hampir pernah kita (termasuk saya) alami, yakni tertidur saat khotbah jumat dan baru terbangun ketika iqamat jumat. Tertidur saat khotbah sholat jumat faktor penyebabnya dapat dari diri kita pribadi dan dapat juga dari khatib atau khotbah jumat yang disampaikan. Faktor dari diri pribadi kita bisa karena kecapean dan ngantuk atau karena kondisi kesehatan. Sementara faktor dari peng khotbah bisa jadi karena gaya komunikasi khatib atau isi khotbah yang menurut kita biasa saja dan karena itu menimbulkan rasa ngantuk.

Saya merindu sholat Jumat sebagaimana yang dilaksanakan pada 2 Desember 2016. Saya terharu dan merinding lebih dari 7 juta orang berkumpul melakukan sholat jumat dengan rapi. Dari masyarakat biasa sampai orang kaya, dari pejabat sampai rakyat biasa, dari yang secara fisik sempurna sampai penyandang cacat, dari yang muda sampai tua renta, dari pelosok desa tumpaah ruah dalam suasan sholat jumat yang sangat syahdu.

Khotbah jumat yang disampaikan pun tidak hanya bertujuan meningkatkan spiritual jamaah tetapi juga mengupas secara konteks kondisi yang dihadapi umat. Saya mendengar gaya komunikasi khotbah jumat oleh Habib Rizik Shihab sangat mantap, intonasi suaranya konsisten dari awal khotbah, khotbah kedua dan khotbah ketiga. Saya dan lebih dari 7 juta jamaah lainnya bergetar dalam gaya dan isi khotbah, saya perhatikan seluruh panca indra jamaah sholat jumat mantap tertuju pada khotbah yang disampaikan. Saya dan lebih dari 7 juta jamaah sholat jumat mata tetap konsisten melotot tanpa sedikitpun terbesit rasa ngantuk. Bagi saya ini jumat yang perfect.

Pengalaman ini benar-benar dahsyat. Saya merindu jumatan 212. Ini hanya tulisan ringan pengalaman psikologi pribadi saya yang awam agama tidak ada hubungan sama fatwa jumatan sana-sini. Bagi saya kalau kerasa konsentarasi dan khususnya sholat sampai ke hati sudah cukup. Hehehe….. !

Penulis: Abdul Malik Raharusun, Sekretaris Jenderal PB HMI 2013-2015.

PB HMI MPO Bantah Ikut Serta Aksi 412, Berikut Pernyataan Resminya

HMINEWS.COM, Jakarta– Parade Kebudayaan yang digelar  di Car Free Day, Jakarta Pusat, Minggu 4 Desember 2016. Selain bendera dan atribut partai politik, dalam aksi tersebut terlihat juga bendera Himpunan Mahasiswa Islam yang dibawa peserta aksi 412, atau 4 Desember.

Munculnya atribut dan bendera HMI tersebut itu menimbulkan berbagai macam presepsi dan perhatian dari berbagai pihak.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Pengurus Besar HMI-MPO, Muhammad Fauzi, membantah dan mengatakan bahwa HMI Tidak ikut serta dalam aksi parade kebudayaan tersebut.

Berikut Pernyataan Sikap Pengurus Besar HMI-MPO :

Parade kebudayaan hari ini mingggu, 04 Desember 2016 bertepatan dengan Car Free Day yang dipusatkan di Bundaran Hotel Indonesia (HI) menyisakkan banyak problem, ditengah parade kebudayaan 412 tersebut terdapat atribut Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang dipergunakan secara serampangan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

menanggapi persoalan ini PB HMI MPO menyatakan sikap :

  1. HMI MPO tidak ikut serta dalam aksi parade kebudayaan 412 hari ini di bundaran Hotel Indonesia Jakarta 
  2. Mengutuk keras tindakan yang dilakukan oleh oknum yang membawa atribut HMI pada parade kebudayaan 412 tersebut
  3. Akan mengusut panitia parade kebudayaan 412 dan melaporkan oknum-oknum yang mencemarkan nama baik HMI ke pihak yang berwajib
  4. Meminta maaf kepada umat Islam dan masyarakat Indonesia atas penggunaan atribut HMI oleh oknum yang tidak bertanggung jawab pada parade kebudayaan 412 tersebut
  5. HMI tetap konsisten mengawal proses hukum kasus penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama sehingga memenuhi rasa keadilan masyarakat.Jakarta, 04 Desember 2016.

    Ketua Umum (Muhammad Fauzi)                          Sekretaris Jenderal (Endri Somantri)