Sang Waktu

Manusia dikontrol dan dibatasi oleh sang waktu. Kata sahabat nabi “Waktu bagaikan pedang”, makna filosofis dari kata sahabat itu adalah bahwa waktu tidak pernah berkompromi, waktu akan terus berputar sesuai dengan rotasinya. Masa lalu merupakan bukti konkrit yang bisa kita ambil pelajaran didalamnya. Menurut hemat saya mengapa sahabat nabi mengatakan seperti itu, karena waktu akan memenggal orang-orang yang tidak memanfaatkan waktu dengan baik, ketika banyak waktu yang terbuang untuk aktifitas yang tidak berfaedah, maka yakin saja penyesalan akan terjadi di hari kemudian. Oleh karena itu, jangan sia-siakan waktu, luangkan waktu anda untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat, baik untuk diri anda sendiri maupun untuk orang di sekeliling anda.

Masa lalu adalah sebuah sejarah, masa kini adalah sebuah kenyataan dan masa depan adalah sebuah misteri. Masa lalu adalah kenangan yang paling terindah, yang tidak mungkin akan terulang lagi. Banyak orang menyesal karena masa lalunya sia-sia, waktu yang digunakan tidak dimanfaatkan dengan baik dan tidak mungkin diulang kembali, karena dia sudah jauh dari kehidupan kita, hanya bisa dikenang saja.

Masa kini adalah masa yang sedang kita jalani. Apa yang kita dapat hari ini, itu yang kita perbuat di hari kemarin, apa yang kita dapat di masa depan itu tergantung apa yang kita persiapkan dan perbuat hari ini. Masa kini sebagai waktu yang sementara menjadi pijakan kita. Masa kini akan berlalu, semua akan menjadi masa lalu mengingat waktu akan selalu berputar.

Masa depan adalah misteri. Masa depan kita hanya Tuhan yang tahu persis, mau menjadi apa kita nanti, kita sebagai manusia diberikan kewenangan untuk berusaha, tapi Tuhan yang menentukan. Masa depan akan cerah dan cemerlang tergantung sejauh apa kesiapan anda hari ini untuk melakoninya. Jangan buang-buang waktu untuk hal tak bermanfaat, boros tahu.

Kata orang barat, waktu adalah uang (time is money). Bagi anda yang masih menempuh pendidikan, maka slogan diatas tidak cocok, yang cocok waktu adalah ilmu pengetahan(time is science). Sedangkan bagi mereka yang bekerja atau mencari uang maka slogan diatas tidak cocok, bagi pekerja waktu adalah kerja, olehnya itu kita harus profesional memanfaatkan waktu yang dimiliki. Kalau anda kerja fokus memanfaatkan waktu untuk mencari nafkah sedangan bagi anda yang sekolah/kuliah fokus mencari ilmu.

Hargai waktu anda, maka anda akan dihargai oleh waktu. Keseimbangan dalam manajemen waktu itu penting. Kita harus adil dalam membagi waktu kita. Ada waktu makan, minum, belajar, membaca, menulis, bercerita, bermain, bersenda gurau, berinteraksi, beribadah dan masih banyak waktu untuk aktifitas lain yang bisa anda bagi secara proporsional. Banyak orang gagal seumur hidup, karena tidak menghargai waktu dan tidak mampu membagi waktu dengan baik.

Sebagai pesan penutup, waktu adalah pedang yang harus penuh kehatian-hatian dalam menggunakannya. Waktu anda tidak bisa diajak kompromi. Jangan pernah menyepelekan dan menundah pekerjaan, meskipun kecil, karena dia akan menjadi beban. Buatlah waktu anda untuk kegiatan yang positif demi mempersiapkan masa depan. Semoga tulisan ini bisa memberikan stimulus dan motivasi.

Penulis: Muhammad Yusran, Pengurus HMI MPO Cabang Makassar/Penggiat Komunitas API

Yang Muda Berkarya

Pemuda adalah generasi penerus bangsa, baik dan buruk sebuah Negara di masa yang akan datang, tergantung pemuda hari ini. Pemuda adalah tulang punggung sebuah Negara, saya meminjam statemen founding fathers kita “berikan aku seribu orang tua, maka akan aku guncangkan gunung semeru dan berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia” . Dalam statement itu tersirat pesan bahwa antar orang tua dan pemuda memunyai power yang sangat jauh berbeda.

Negara yang besar adalah negara yang menghargai para pahlawanya. Pada umumnya yang menjadi penggerak dan pembaharu adalah para pemuda. Negara kita saja merasakan kemerdekaan tidak terlepas pengaruh dan pengorbanan para pemuda.

Saya ingin menggarap sedikit judul ini, kata “yang muda” ditujukan kepada para pemuda, jadi bagi anda yang masih dikaruniakan usia muda, maka anda jangan pernah sia-siakan momentum ini, karena pada saat nanti telah menjadi yang tua, berarti anda telah kehilangan momentum.

“Berkarya” berasal dari bahasa sansakerta yang artinya usaha atau ikhtiar, jadi berkarya adalah melakukan tindakan atau usaha untuk melahirkan dan menghasilkan sebuah karya. Berkarya adalah ekspresi perasaan, gagasan, dan emosi sehingga meciptakan karya yang memunyai nilai seni.

Berkarya dan bekerja adalah dua hal yang berbeda. Berkarya yaitu melakukan tindakan untuk mendapat kepuasan batin, biasanya berasal dari hobi, sedangkan bekerja adalah melakukan tindakan untuk mencari uang.

Mengapa harus yang muda ? karena pemuda adalah generasi emas, dengan kata lain masih kuat dari segi tenaga, masih kuat ingatannya dan masih punya jiwa progresif untuk melakukan perubahan, yang tidak dimiliki oleh orang tua.

Melalui karya kita bisa lebih hidup, karena hidup tanpa karya hampa, bagaikan taman tanpa bunga. Hal yang membuat saya heran, masih banyak pemuda menggangap perubahan itu tugasnya orang tua, alasanya mereka yang memimpin kita hari ini.

Dengan berkarya kita bisa melakukan inovasi-inovasi baru, untuk menggantikan sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Pemuda yang tidak berkarya sangat rugi, karena tidak memanfaatkan momentum masa muda. Kata Haji Roma Irama masa muda adalah masa yang berapi-api, kalau saya tafsirkan masa berapi-api maksudnya masa-masa samangatnya manusia.

Banyak jalan menuju roma. Mungkin anda bingung bagaimana caranya supaya anda disebut pemuda yang berkarya. Ketika anda membuat makalah karena disuruh dosen, maka sadarlah itu bagian dari berkarya, yang tadi anda tidak bisa membuat karya dalam bentuk makalah, dengan sendirinya anda akan belajar bagaimana cara membuat makalah.

Sekarang pasti anda masih bingung, karena belum ada titik terang tentang cara berkarya. Berikut ini yang anda harus lakukan untuk menjadi yang muda yang berkarya:

1. Merubah Cara Berpikir

Ubahlah cara berpikir anda, yakinkan diri bahwa anda generasi penerus yang akan menjadi estafet kepemimpinan serta yang akan menentukan masa depan bangsa anda, baik dan buruknya bangsa anda di hari depan, itu tergantung anda hari ini. Cara kita berpikir akan menentukan tindakan kita.

2. Mencatat Ide

Semua orang ketika berkarya harus punya ide. Catatlah ide-ide anda dalam sebuah buku saku, baik berasal dari luar diri anda dan dalam diri anda. Pada saat anda di jalan jangan pernah lupa untuk mencari inspirasi. Setelah anda sudah mencatat, kumpulkan dalam sebuah buku kecil, Agar ide-ide anda tidak terlewatkan begitu saja.

3. Bertindak Sesuai Ide ( berkarya)

Ide-ide yang anda tulis, pelan-pelan anda realisasikan dalam bentuk tindakan nyata. Ide tidak akan berguna bila hanya berputar-putar di wilayah ide tau konsep anda. Lakukanlah sesuatu dengan ikhlas dan jangan lupa berdoa sebelum bertindak.

4. Tawakal

Meskipun manusia diberikan kebebasan dalam bertindak, namun tetap Tuhan yang menetukan hasil final dari usaha anda. Setelah berusaha sekuat tenaga untuk merealisasikan ide-ide anda, jangan pernah putus asa dan pantang menyerah, termasuk bila anda gagal pada saat itu. Karena kegagalan adalah proses pendewasaan diri. Demikian, Semoga bermanfaat

Penulis: Muhammad Yusran, Pengurus HMI MPO Cabang Makassar

Muslim Nyanmar Ditekan Dengan Aturan Ketat Selama Ramadhan

HMINEWS.COM, Muslim di Myanmar tengah menghadapi pembatasan ketat untuk beribadah saat Ramadhan dimulai. Hal tersebut sebagaimana dilaporkan Kelompok hak asasi manusia, Human Rights Watch (HRW). Tekanan terhadap umat Islam yang saat ini terlihat secara jelas di beberapa wilayah, termasuk Yangon, yang merupakan bekas Ibu Kota negara itu.

Umat Muslim selama ini menjadi salah satu minoritas penduduk di Myanmar dengan mayoritas Budhha. Namun, di saat komunitas agama ini meningkat dalam kurun waktu beberapa tahun lamanya, banyak orang Islam di sana yang semakin sulit untuk beribadah karena masalah keamanan.

Peneliti dari HRW Richard Weir mengatakan beberapa wilayah di Yangon diantaranya Thaketa adalah salah satu contoh di mana Muslim mendapat perlakukan diskriminatif. Di sana, penutupan dua sekolah Islam atau dikenal sebagai madrasah juga sempat terjadi pada akhir bulan lalu.

Penutupan madrasah di Thaketa terjadi setelah kelompok ultranasionalis Budha menekan pihak berwenang untuk melakukan tindakan tersebut. Pada saat itu, HRW telah meminta Pemerintah Myanmar untuk kembali membuka sekolah Islam tesebut, namun tidak dihiraukan.

Sekretaris Jenderal Dewan urusan Agama Islam di Myanmar, Wunna Shwe mengatakan penutupan sekolah tersebut bukanlah hal baru di negara itu. Ini juga dapat terjadi kepada kelompok agama minoritas lainnya di sana, seperti umat Kristen.

“Menurut pengalaman kami, madrasah yang disegel atau ditutup tidak pernah akan dapat dibuka kembali,” ujar Shwe dilansir Asian Correspondent, Ahad (28/5).

Kelompok ultranasionalis Buddha mengatakan alasan penutupan sekolah Islam dilakukan karena di sana tidak seharusnya ada kegiatan ibadah shalat. Kepala madrasah tersebut menurut mereka juga telah menandatangani dokumen yang menyatakan setuju terhadap hal itu pada Oktober 2015 lalu.

Banyak warga Muslim di Thaketa yang mengatakan mereka mendapat izin untuk melaksanakan ibadah sholat di madrasah tersebut selama Ramadhan. Dengan adanya penutupan itu, tahun ini mereka harus mencari rumah ibadah Masjid lain yang cukup jauh dari wilayah tersebut.

“Masjid terdekat yang ada dari wilayah Thaketa harus ditempuh  30 menit dengan berjalan kaki. Sangat sulit adanya rumah ibadah yang dekat karena untuk membangun Masjid di Myanmar diperlukan izin khusus yang prosesnya cukup lama,” ujar ketua kelompok Muslim Myanmar, Kyaw Khin.

Pemerintah Myanmar selama ini juga diketahui menetapkan pembatasan untuk pembangunan maupun renovasi rumah ibadah. Termasuk juga memperketat adanya praktek agama dari kelompok-kelompok minoritas di negara tersebut.

Hingga saat ini, warga di Thaketa harus menghabiskan waktu untuk mencapai masjid terdekat. Belum lagi, ketika Ramadhan, dengan jumlah rumah ibadah yang minim, mereka harus berdesak-desakan untuk menunaikan ibadah sholat.[]

Ada Yang Hilang, Begitu Dekat, Tepat di Depan Jari-Jemari Kita

Ada yang hilang di tengah masifnya arus informasi, tepat di depan jari-jemari kita, begitu dekat, dan kita masih saja seolah-olah tidak tahu dan tidak mau tahu. Padahal problematika kebangsaan dan kernegaraan kita berada di ambang batas kebhinekaan, yang dimana kerukunan antar umat, suku, ras maupun etnis semakin memanas dan terpecah.

Orang kepercayaan dari kita yang duduk di pemerintahan masih saja sibuk dengan kepentingan politik. Mungkin untuk partai politiknya, mungkin. Atau mungkin lagi, di balik kekacauan integritas ini, selayaknya sebuah drama yang telah diskenariokan oleh sang sutradara, mereka yang melihat permainan drama kita sedang tertawa terbahak-bahak. Sesuai dengan rencana dan naskah cerita.

Jujur ada yang hilang di tengah masifnya arus informasi ini, begitu dekat, tepat di depan jari-jemari kita. Sedang mahasiswa yang notabene diberkati gelar adiluhung sebagai agen of change, of control dan sebagai macamnya itu, masih saja sibuk mencari hastag populer ketika memposting status di “Instragram“. Untuk menambah followers, katanya.

Mungkin benar juga apa yang pernah ditulis oleh Muhammad Al-Fayadl pada tanggal 09 Maret 2017 lalu, di facebook-nya; “andaikan saja mahasiswa tidak dilenakan oleh seminar-seminar motivasi, tidak dilarang membaca buku-buku kritis, dan tidak sibuk dengan kegalauan-kegalauan kejombloan asmara yang bermentalitet borjuis kecil, mungkin akan berbeda ceritanya.” Iya, mungkin.

Ada yang benar-benar telah hilang di tengah masif arus informasi teknologi ini, rasa kebhinekaan. Iya, kehilangan rasa kebhinekaan di tengah masalah politik indentitas saat ini. Semua berkomentar tanpa mengerti batas. Tanpa lagi menengok dan memperdulikan keberagaman, dan tanpa lagi mengacu pada toleransi dan bhineka tunggal ika. Atas nama kebebasan hak, katanya.

Padahal kita sama-sama tahu bahwa, menerima takdir berbangsa dan bernegara di Indonesia, berarti harus siap pula menerima kenyataan keberagaman dari berbagai segi perbedaan. Menerima NKRI, berarti harus siap pula menerima bentuk negara ini terdiri atas wilayah yang luas dan tersebar dengan bermacam adat, suku, etnis, keyakinan serta budaya yang berbeda. Dan menerima sejarah berbangsa dan bernegara di Indonesia, berarti kita harus siap pula bersikap toleran dan terbuka. Bukan malah saling menghujat, mengintimidasi, dan bahkan sampai mendiskriminasi.

Mari kita bersama-sama merefleksikan diri, siapakah diri kita yang telah berani menghujat, mengintimidasi dan mendiskriminasi ini? Padahal kita benar-benar tidak pernah merasa meminta untuk dilahirkan, tetapi tahu tidak menahu kita langsung ada. Tidak kah dari perihal ini kita menyadari bahwa, kita hanyalah momen pendek dalam sebuah kontemplasi yang mencoba sangat rasional di tengah ruang yang begitu dingin dan sekaligus panas. Makhluk yang tidak mempunyai kekuatan, serta tidak punya daya dan upaya untuk melegitimasi kebenaran sejati dengan mengatasnamakan Tuhan. Kita hanya mendapat cipratan dari-Nya dan menafsirkan saja.

Tidakkah pula kita sama-sama berpikir bahwa, keberagaman yang ada di negeri ini merupakan keniscayaan Tuhan? Sudah menjadi ketetapan-Nya. Karena benar-benar tidak ada makhluk dan ciptaan di muka bumi ini diciptakan Tuhan dengan kesamaan yang benar-benar sama. Bahkan anak kembar pun walaupun dibilang mirip, pastinya memiliki sisi perbedaan. Tidak sama. Jadi menerima eksistensi Tuhan, berarti menerima keberagaman pula.

Untuk kita semua sebagai rakyat Indoneisa, apakah kita sudah kehilangan kesadaran dan pikiran tehadap kecintaan kita pada negeri ini? Sehingga dari kita telah kehilangan rasa bersikap selayaknya hidup berdampingan dalam nuansa keberagaman berbangsa dan bernegara seperti pendahulu kita sebelumnya. Berbangsa dan bernegara lewat cover toleransi dan kebhinekaan.

Marilah segenap rakyat di negeri Indonesia, mencoba merenungkan pesan yang disampaikan Emha Ainun Najib (Cak Nun) pada 23 Mei 2017 di I.L.C: “Kalau kita naik bus, rasa kita itu rasa bus, bukan rasa colt, atau lainnya. Jadi cara berpikirnya dan cara berhitungnya, ya bus. Mau belok di perempatan dan mau nyalib, kita harus tahu besarnya bus. Jadi cara berpikir orang naik bus adalah cara berpikir bus. Kalau kita orang NKRI, sikap kita harus sikap NKRI. Dan cara berpikir kita pun harus cara berpikir NKRI, bukan cara berpikir golongan, PDIP, Golkar, Nasdem, Hizbut Tahrir, dan lainnya”.

Sebagai penutup, dengan meminjam kalimat dari sepenggal puisi Ahmad Wahib, tulisan opini ini hanyalah sekadar opini tanpa isi. Jikapun opini ini disebut prosa, ini hanyalah sekadar cetusan tanpa rasa. Tetapi, benar-benar ada yang hilang di tengah masifnya arus informasi di negeri ini, dimana perpecahan dan kekerasan atas nama SARA sedang merusak tenun kebangsaan dan kenegaraan, begitu dekat, tepat di depan jari-jemari, dan kita masih saja seolah-olah tidak tahu dan tidak mau tahu. Sedangkan mahasiswa masih sibuk mencari hastag populer.

Penulis: Sirojul Lutfi, Kader Aktif HMI Komisariat FTI UII (2012)

Mengenang Ridwan Baswedan: Selamat Jalan, Orang Baik

Tahun 2008, di taxi, hp saya berdering. Telepon masuk dari Mas Anies Baswedan. “Yogie, sekarang tinggal tiga hari sebelum hari pernikahan Ridwan, tapi kita belum mendapat konfirmasi kehadiran Wapres Pak Jusuf Kalla. Tolong Yogie atas nama keluarga koordinasi dengan istana”, demikian pesan Mas Anies dari ujung sana. Anies Baswedan, Ridwan Baswedan dan Abdillah Baswedan adalah tiga bersaudara.

Saya menghubungi beberapa kontak, besoknya langsung rapat dengan protokol istana. Saya hadir bersama Abdillah dan sekretaris Mas Ridwan bernama Anggie Affan. Pak JK confirmed hadir, detail keperluan untuk menyambutnya langsung disiapkan dalam dua hari.

Alhamdulillah, kehadiran beliau di pernikahan Mas Ridwan sesuai harapan. Saya mendampingi Mas Anies beserta istrinya, Mbak Ferry Farhati Ganies, menyambut Pak JK dan istri di pintu masuk Graha Niaga.

Saya ingat, sepatu Bu Mufidah Kalla sempat tersangkut kabel yang kurang rapi di koridor penyambutan. Beliau sedikit kaget kala itu. Paspampres sigap menahan Bu Mufidah Kalla agar tidak terpeleset.

Dari pelaminan di samping mempelai wanita yang cantik jelita, Mas Ridwan melirik saya sambil tersenyum lebar sumringah. Alis matanya sampai terangkat. Dia terlihat jelas bahagia sekali.

Saya membalasnya dengan tersenyum lega dan mengacungkan jempol. Dalam hati terucap: tugas sudah saya kerjakan.

Untuk hadir di pernikahan itu, saya beli batik lengan panjang di Ramayana Depok. Batik murah meriah, yang penting terlihat baru. Jas saya sudah tidak layak pakai, berumur sekitar lima tahun.

Saya mengenal Mas Ridwan 19 tahun lalu. Waktu itu para eksponen gerakan mahasiswa 98 masih melangsungkan konsolidasi pasca jatuhnya Suharto dan menggagas kelompok bernama Majelis Reformasi Total (MRT). Saya baru masuk kuliah dan mungkin karena keaktifan saya di forum-forum mahasiswa, saya diajak oleh eksponen 98 ikut beberapa kali pertemuan MRT.

Dua nama yang paling awal menjadi mentor saya di dunia pergerakan adalah mantan Ketua Senat Mahasiswa UMY Bang Cahyadi Jogjakarta dan mantan Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa UMY Mas M Yana Aditya. Melalui mereka, saya masuk ke jaringan eksponen 98, lalu proses itu mendorong kiprah saya lebih lanjut kemudian hari di HMI.

Kali pertama MRT mengadakan pertemuan di Solo. Mas Ridwan selaku mantan Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa UII turut hadir. Saya ikut di mobilnya dari Yogyakarta ke Solo, bersama beberapa yang lain.

Mas Ridwan bukan tipe aktivis yang senang bicara. Dia hanya bicara seperlunya, tapi berisi. Tata kramanya tinggi, sebagaimana tabiat di keluarga Baswedan. Demikian juga saat diskusi di MRT, saya mengingat Mas Ridwan sebagai figur aktivis yang dihormati oleh teman-temannya sesama aktivis. Cara berpikir dan bicaranya tertata rapi dan selalu perlu untuk didengar.

Dari situ saya mengenal Mas Ridwan. Sebagai kader yang lebih muda, saya proaktif memelihara komunikasi dengan para pendahulu di gerakan mahasiswa, termasuk Mas Ridwan.

Sampai dia melanjutkan studi di Leiden University, Belanda. Saya menunggu-nunggu waktu dia pulang untuk berlibur atau keperluan lain. Saya selalu memantau dan mencari peluang untuk bertemu lagi.

Dari dulu, saya sangat senang dan menikmati silaturahmi dengan para senior pergerakan. Tidak jarang, saya temui mereka di kota-kota luar Yogyakarta hanya untuk bertukar pikiran dan menimba pengalaman.

Sampai datang satu kesempatan, Mas Ridwan pulang ke Yogyakarta. Saya langsung telepon dia, kami berbincang lama. Waktu itu saya sudah diamanahi sebagai Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta.

“Bagaimana rasanya kuliah di Belanda? Apa beda pendidikan kita dengan Belanda? Apakah di sana sambil bekerja? Bagaimana orang Belanda melihat perkembangan terkini di Indonesia?”, berbagai pertanyaan dan keingintahuan saya utarakan kepada Mas Ridwan. Dia menjawab semuanya. Pembicaraan di telepon tersebut mengalir lebih dari satu jam. Rasanya diskusi masih kurang.

Hingga saya meminta Mas Ridwan untuk berdiskusi lebih banyak di sekretariat HMI Cabang Yogyakarta, di Karangkajen. Tiba di sekretariat, Mas Ridwan berkata sambil senyum, “Baru kali ini saya diundang menjadi pembicara di HMI Cabang Yogyakarta. Biasanya dulu diundang rapat saja sebagai staf Bidang PTK (Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan)”. Mas Ridwan memang pernah menjadi staf Bidang PTK HMI Cabang Yogyakarta. Diskusi tentang pengalamannya mengenyam pendidikan di Belanda menjadi salah satu pemantik kami untuk lebih mendorong kader-kader HMI membangun orientasi melanjutkan studi ke luar negeri.

Tahun 2004 saya hijrah ke Jakarta dan bekerja di Lembaga Komisaris dan Direktur Indonesia (LKDI). Usai studi di Belanda, Mas Ridwan juga memulai kiprah bisnisnya di Jakarta. Selang beberapa waktu kemudian dia menjadi Direktur PT KDK Technologies. “Saya businessman, Yogie. Saya marketer”, ujarnya suatu saat. Ya, dia memilih menapaki jalur profesional sebagai pebisnis.

Beberapa kali saya ke kantornya untuk sekedar silaturahmi dan berbagi informasi. Saya menangkap kesan Mas Ridwan punya tekad kuat berbisnis, tapi saya juga merasakan tantangan yang dia hadapi tidak mudah meski dia tidak mengungkapnya. Dia tidak menyerah. Sikapnya terkontrol dalam menghadapi tekanan dan masalah.

Dan dia seorang dermawan. Salah satu kisah pernah ketika sekembali kami dari Puncak menuju Jakarta, sebagaimana lazimnya obrolan berdua, saya bercerita tentang suatu keadaan sulit yang sedang saya jalani. Seketika dan tiba-tiba, Mas Ridwan menghentikan mobil di depan mesin ATM yang kami lalui, dia tarik tunai sejumlah uang dan diberikan untuk saya.

“Yogie, ini untuk keperluan yang Yogie ceritakan tadi”, katanya sambil tersenyum. Saya kaget dan merasa tidak enak hati. “Maaf, Mas Ridwan. Saya cerita tadi bukan untuk minta bantuan uang. Kita kan lagi ngobrol biasa”, saya berusaha menolak. Tapi Mas Ridwan tak bergeming, dia dengan santun tetap minta saya menerima uang darinya. Tidak lupa dia belikan saya talas dan pisang tanduk yang berjejer sepanjang jalanan Puncak menuju Jakarta.

Kami pernah ke Labuan Banten, mengunjungi proyek pembangunan PLTU. Menikmati makan siang dengan menu urab dan udang bakar yang nikmatnya masih teringat sampai sekarang. Ikhtiar untuk mengembangkan bisnisnya pernah kami lakukan bersama.

Februari 2017 lalu, saya makan siang berdua Mas Ridwan di TIM Cikini, menjelang pencoblosan putaran pertama pilgub DKI Jakarta. Dia banyak cerita tentang perjuangan dan susah payah tim pemenangan Anies-Sandi di lapangan, termasuk keterlibatannya secara langsung untuk menggalang dukungan bagi sang kakak.

Lelah dapat saya lihat dari rautnya. Tapi tetap lebih nampak dominan semangatnya. Mas Ridwan tidak pernah mengeluh. “Yang kita lawan ini kekuasaan”, ujarnya sambil menerawang. Saya lebih banyak menyimak sambil menyeruput es kacang merah di siang terik itu. Diam-diam saya mengagumi watak pekerja keras dan pejuangnya, seperti watak Baswedan-Baswedan yang lain.

Tak lama setelahnya, tanpa sengaja saya berjumpa Abdillah Baswedan di bandara Soekarno Hatta. Saya sampaikan bahwa pesan wa saya tidak Mas Ridwan balas. Abdillah hanya bilang Mas Ridwan kurang sehat.

Hanya sekitar satu hari kemudian, saya mendapat kabar Mas Ridwan terkena serangan jantung. Saya belum pernah menjenguknya karena menurut informasi, dia butuh perawatan intensif dan istirahat total. Saya hanya mendo’akan untuk kesehatannya.

Hari ini Sabtu 27 Mei 2017 saat bangun sahur di hari pertama Ramadhan 1438 H, berita duka itu datang dari pesan wa. Mas Ridwan telah berpulang ke rahmatullah setelah tiga bulan menjalani perawatan.

Saya termenung cukup lama. Kepergiannya terasa terlalu cepat. Sampai saat membangunkan anak, saya bukan bilang agar bangun sahur, tapi saya bilang: “Teman ayah meninggal, adiknya Mas Anies meninggal”. Izzan bergegas bangun, “Beneran, Yah?”. Lalu istri juga saya kabarkan.

Siang tadi, saya turut mengantar ke peristirahatan terakhir Mas Ridwan di TPU Tanah Kusir. Banyak aktivis, sahabat, senior dan tokoh hadir di sana.

Saya banyak melamun selama prosesi pemakaman. Memandang jenazahnya, mengenang hubungan baik dengan almarhum. Saat saya berpamitan, Mas Anies yang didampingi Abdillah berkata, “Yogie, tolong maafkan kalau Ridwan ada salah”. Saya hanya menjawab, “Mas Ridwan orang baik”.

Selamat menjumpai Allah SWT di hari dan bulan yang indah ini, Mas Ridwan. Insya Allah husnul khatimah.

Penulis: Yogie Maharesi, Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta Periode 2002 – 2003

Kampung Melayu Diguncang Bom, BEM STIE Jayakarta Tegaskan Polisi Wajib Tindak Tegas Pelaku

HMINEWS.COM, Peledakan bom yang terjadi pada hari Rabu, 24 Mei 2017 pukul 21.30 di Kampung Melayu, Jakarta Selatan menuai tanggapan dari berbagai lapisan masyarakat. Pasalnya ledakan tersebut mendekati hari Paskah bagi Kaum Kristiani dan Bulan Puasa Ramadhan bagi Kaum Muslimin.

Presiden Mahasiswa BEM STIE Jayakarta, M. Rafi Kurniawan, mengatakan bahwa kami turut berduka sedalam-dalamnya bagi para korban masyarakat sipil, maupun pihak kepolisian.  Terlebih, sambungnya, terdapat mahasiswi yang turut menjadi korban di lokasi kejadian.

“Kami kira Polisi harus menindak tegas para pelaku peledakan bom dan orang-orang yang dibalik itu semua karena kredibilitas Polrilah yang menjadi taruhannya. Dan kami berharap agar tidak ada lagi kejadian seperti ini kedepannya  menerpa NKRI kita, karena kinerja intelejen Polri dan BIN dipertanyakan mengapa bisa kecolongan seperti ini,” kata Rafi di Jakarta, (25/5).

Rafi yang juga kader HMI Cabang Jakarta ini menambahkan, kejadian ini dapat menjadi opini liar di tengah masyarakat. Terlebih Indonesia sedang diguncang isu-isu anti NKRI dan lain-lain.

“Semoga kejadian ini tidak terulang kembali serta para pihak keamanan dapat meningkatkan kesigapan untuk mencegah potensi teror belakangan ini,” tandasnya.[]

HMI Cabang Jakarta Laporkan “Kang Hasan” Penebar Fitnah HMI dan JK ke Polda Metro Jaya

HMINEWS.COM, Berita yang beredar di media sosial Facebook dan pemberitaan di beberapa media online, terkait upload status melalui akun Facebook Kang Hasan (Hasanudin Abdurakhman) pada tanggal 13 Mei 2017 Pukul 21.52. Dimana Kang Hasan menuding Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai dalang penyerangan terhadap 13 Gereja yang dipimpin Jusuf Kalla (Sekarang Wakil Presiden RI), adalah tidak benar dan merupakan fitnah yang sangat keji dan tidak berperikemanusiaan.

Akibat dari status Kang Hasan tersebut, menimbulkan persepsi buruk terhadap HMI, karena dalam sejarah perkembangan HMI merupakan salah satu organisasi perkaderan dan perjuangan tertua yang telah banyak membantu dalam mempertahankan NKRI, berkonstribusi dalam pembangunan Negara, serta menjaga toleransi antar umat beragama.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jakarta didampingi Tim Advokasi HMI Cinta NKRI, melaporkan pemilik akun Facebook Kang Hasan di kantor Polda Metro Jaya, Jakarta pada Selasa, 23 Mei 2017. Dari pihak HMI, diwakili Ketua Bidang Eksternal, Rudi beserta jajarannya dan Tim Advokasi, Ari Tuanggoro, SH, MH, beserta tim pengacara lainnya.

“Kami sudah melaporkan pemilik akun Facebook Kang Hasan kepada polisi,” kata Rudi di Polda Metro Jaya.

Berdasarkan hal tersebut di atas, Ketua Tim Advokasi HMI Cinta NKRI, Arie Tuanggoro menambahkan, kami dari Tim Advokasi HMI Cinta NKRI meminta pemilik akun Facebook Kang Hasan atas nama Hasanudin Abdurakhman untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Institusi HMI, kader dan alumni melalui media Nasional selama 3 (Tiga) hari berturut turut.

“Ia (Kang Hasan) telah mencederai Khittah Perjuangan HMI, serta nilai-nilai perjuangan kader HMI yang selama ini berjuang melawan penjajah, memberantas kemiskinan, dan mendukung program-program pemerintah yang berpihak pada rakyat kecil,” pungkasnya. (JAY)

HMI MPO Tangerang Menyayangkan Adanya Insiden Penolakan Pelantikan HMI Dipo Tangerang

HMINEWS.COM, Pelantikan HMI Dipo Tangerang yang digelar di Aula UNIS, Jumat 19 Mei 2017 mendapat penolakan dari Organisasi Intra Kampus (KBM Unis).

KBM Unis menolak acara pelantikan HMI Dipo yang digelar Unis dengan alasan adanya ketentuan PDOK Unis dan SK Dirjen Dikti No. 26 Tahun 2002 tentang pelarangan organisasi ekstra kampus dan partai politik dalam kehidupan di kampus.

Ketua Umum HMI MPO Tangerang Abdul Muhyi menuturkan, terlepas dari alasan KBM Unis tersebut, HMI MPO Tangerang sangat menyayangkan adanya insiden penolakan kegiatan HMI Dipo di Unis. Pasalnya, Organisasi Ekstra dan Organisasi Intra Kampus seharusnya bisa saling menghargai dalam tataran intelektualitas. Bisa saling berlomba-lomba dalam kebaikan (Fastabiqul Khoirot).

“Adanya organisasi adalah wadah mahasiswa untuk mengantarkan kemajuan berpikir, bukan sebaliknya terkesan menjadi kemunduran berpikir pada mahasiswa. Persoalan kita bukan pada tataran itu, tetapi organisasi kemahasiswaan punya tanggung jawab mewujudkan tatanan masyarakat yang diridhoi Allah SWT” Ujar Abdul Muhyi, Sabtu (19/5).

Pada hari kebangkitan nasional, Muhyi yang juga mahasiswa UMT mengungkapkan, Mari kita jadikan momentum harkitnas ini untuk bersatu dan bersama-sama bangkit melawan kezaliman dan keterpurukan yang menimpa masyarakat.

“Sebagai mahasiswa yang notabene insan ulil albab, kedepan mari kita tingkatkan ukhuwah persaudaraan, mengedepankan intelektualitas yang demokratis, beretika dan menghargai perbedaan pada tataran kehidupan kampus maupun memperjuangkan kaum mustadhafien.” Tutup Muhyi.[]

Mahasiswa Nilai Jokowi-JK Gagal Sejahterakan Rakyat

HMINEWS.COM, Di bulan mei ini, 19 tahun lalu menjadi hari yang penuh heroisme bagi masyarakat, khususnya mahasiswa. Dimana tumbangnya rezim diktator otoriterianisme menjadi pemerintahan demokrasi. Spirit perjuangan aktivis 98, saat ini menginspirasi bagi mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Seluruh Indonesia untuk memperjuangkan hak-hak rakyat Indonesia.

Presiden Mahasiswa STAI Al Aqidah Al Hasyimiyyah Jakarta, Komarudin, menilai bahwa pemerintahan Jokowi-JK masih banyak menyimpan persoalan sosial, ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Hal tersebut, katanya,masih jauh dari harapan tuntutan reformasi yang digelorakan para aktivis 98.

“Carut-marutnya persoalan negeri ini, tak lepas dari peranan pemerintah sebagai pemangku jabatan yang seharusnya bisa mensejahterakan rakyat dan berpihak kepada rakyat Indonesia,” ujar Komarudin yang juga kader HMI Cabang Jakarta ini, Jakarta (22/5).

Komarudin menambahkan, saat ini pemerintah telah lupa akan kesejahteraan rakyatnya. Maka dari itu, kami menuntut kepada pemerintah agar segera mengembalikan hak-hak rakyat Indonesia yang selama ini telah dirampas oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Adapun tuntutan BEM STAI Al Aqidah Al Hasyimiyyah Jakarta kepada pemerintahan Jokowi-JK, sebaga berikut:

  1. Kembalikan subsidi listrik 900VA dan BBM, serta jamin keterjangkauan harga kebutuhan pokok bagi masyarakat.
  1. Wujudkan jaminan pendidikan nasional dan layanan kesehatan yang berkualitas.
  1. Usut tuntas kasus E-KTP.
  1. Hilangkan dominasi asing dan nasionalisasi aset-aset bangsa, serta wujudkan kedaulatan pangan, energi, dan maritim. (JAY)

Jadi Pembicara Dalam Trapolnas PB HMI, Akbar Tanjung Tekankan Peran Parpol Dalam Politik Kebangsaan

HMINEWS.COM, Politik seharusnya dijadikan jalan demi mewujudkan kemaslahatan, dalam konteks Indonesia, politik sangat mempengaruhi dinamika kebijakan, dinamika politik yang sehat mendorong lahirnya kebijakan yang sehat.

Partai politik memiliki tanggung jawab dalam mewujudkan dinamika politik yang sehat, hal tersebut disampaikan Akbar Tanjung saat menjadi pembicara dalam kegiatan Training Politik Nasional PB HMI MPO di Yogyakarta.

Menurut Akbar Tanjung, terlepas dari berbagai kekurangannya, parpol telah berkontribusi dalam dinamika politik di Indonesia.

“Demokrasi kita tak mungkin berjalan tanpa peran parpol, walaupun memiliki banyak kekurangan, namun sejauh ini parpol masih dibutuhkan dalam demokrasi kita” ungkapnya.

Ketua DPR RI periode 1999-2014 ini juga berharap parpol mampu melakukan pendidikan politik kepada masyarakat.

“Salah satu tugas parpol adalah melakukan pendidikan politik kepada masyarakat, tugas ini harus terus dilaksanakan sebagai komitmen parpol terhadap bangsa” tutupnya.[]