Nilai Islam dan Kebangsaan Bisa Dipadukan

HMINEWS.COM, Akhir-akhir ini ruang publik sangat gaduh, masyarakat seolah terbelah dalam dua kutub, masing-masing kutub membentuk penafsiran sendiri terhadap nilai kebangsaan, setiap kutub saling menegasikan, setiap pihak merasa paling memperhatikan nilai kebangsaan, dan pada saat yang sama menuduh kelompok lain mengabaikan nilai kebangsaan, bahkan bersifat anti. Isu ini menjadi salah satu bahan perbincangan dalam diskusi peradaban yang digelar Komisi Intelektual dan Peradaban PB HMI MPO.

Islam dan kebangsaan harus dilihat sebagai satu bagian, bukan dua bagian yang terpisah, bila keduanya dilihat terpisah, maka yang muncul adalah penajaman perbedaan antara keduanya, akibatnya hal ini memunculkan relasi konflik.

Ketua Komisi Intelektual dan Peradaban PB HMI, Zaenal Abidin Riam, di sela diskusi mengatakan Islam dan kebangsaan tak mungkin dipisahkan, nilai yang terkandung dalam keduanya bersifat saling mengisi.

“Pada dasarnya saat isu keislaman dibincang maka berarti kita juga sedang membincang isu kebangsaan, demikian pula sebaliknya. Terdapat nilai kebangsaan dalam perbincangan tentang keislaman, juga terdapat nilai keislaman dalam perbincangan tentang kebangsaan” jelasnya.

“Isu kebangsaan seharusnya dipandang sebagai isu peradaban, hal ini penting agar kita tidak terjebak desain kelompok tertentu yang menjadikan isu kebangsaan sebagai jualan untuk mencapai kepentingan jangka pendek” tambah pria yang biasa disapa Enal ini.

Indonesia memang sedang mengalami krisis multidimensi, namun krisis tersebut tak boleh merontokkan pondasi hubungan Islam dan bangsa yang telah susah payah dirajut para pendiri awal bangsa ini.

Kegiatan diskusi peradaban akan rutin digelar setiap bulan, fokusnya membincang isu keumatan dan kebangsaan, khususnya yang dianggap urgen dan layak disikapi.[]