Bekali Diri Sebelum Beraksi

Sebagai agent of change, social control dan iron stock mahasiswa memiliki arti penting bagi bangsa Indonesia. Bahkan kekuatan mahasiswa seluruh Indonesia jika disatukan akan menghasilkan Super Power yang mungkin bisa membalikkan keaadan negeri ini, seperti pada masa Orde Baru ketika para mahasiswa berhasil membuat Soeharto lengser.

Unjuk rasa, demontrasi dan aksi-aksi protes memang kerap dilakukan oleh kalangan mahasiswa dalam menuntut keadilan maupun penegakan hukum di Indonesia. Rasa kritis terhadap problematika yang ada disekitar memang wajib dimiliki para mahasiswa, untuk mengkritik dan menemukan solusi atas semua permasalahan yang ada di Indonesia hingga bisa diselesaikan dengan seadil-adilnya dan tidak memihak siapapun serta demi kesejahteraan bersama. Namun, aksi-aksi tuntutan mahasiswa tak jarang berujung ricuh dan bentrok. Terlepas dari keadaan di lapangan, memang sungguh disayangkan bila mahasiswa sebagai kaum intelektual karena pengetahuannya justru menodai demokrasi dan aksi-aksi lain dengan kekerasan dan tawuran misalnya dengan aparat keamanan.

Menilik dari ajaran Tan Malaka, sebuah aksi setidaknya harus didasari dengan pemikiran yang matang, pemahaman teori dan tujuan yang jelas. Tan Malaka sendiri telah dikenal sebagai seorang pahlawan yang memiliki intelektualitas yang tinggi serta tak canggung untuk turun langsung membela buruh di zaman penjajahan.  Tanpa itu semua, sebuah aksi akan cenderung ngawur, tanpa aturan, bahkan tanpa tujuan. Sehingga kemungkinan aksi yang dilakukan justru menyalahi peraturan dan hukum.

Menjadi insan yang berintelektual tentu tidak cukup hanya dengan membaca buku-buku sejarah, membaca referensi, membaca pemikiran tokoh besar maupun hanya membaca berita-berita terkini saja. Insan berintelektual tentulah yang harus kritis dan paham tentang sebuah permasalahan dan sekiranya dapat menemukan cara penyelesaian masalah tersebut. Diskusi dan bertukar pikiran pun dinilai juga sangat perlu untuk saling mengisi kekurangan dan saling menyempurnakan dan menyatukan pemikiran masing-masing dalam hal ini.

Yang tak kalah penting juga adalah adanya tujuan yang mendasari sebuah aksi. Tujuan ini harus terkonsep jelas dan terarah. Selain itu, aksi juga harus memiliki aturan, tata tertib pelaksanaan serta batasan aksi yang akan dilakukan. Semua ini harus didiskusikan dan dibuat kesepakatan antar sesama pelaku aksi agar di waktu pelaksaan aksi dapat berlangsung kondusif, tertib dan damai.Karena sudah selayaknya kebebasan demokrasi yang kita miliki digunakan sebaik-baiknya demi keadilan dan kesejahteraan bersama. Aspirasi kita tidak harus dibarengi kekerasan. Perkayalah diri dengan pengetahuan, teori dan solusi-solusi untuk berdiplomasi yang bukan tak mungkin akan dibutuhkan dalam sebuah aksi membela keadilan dan kesejahteraan di negeri ini.[]

Penulis: Siti Sriwati Aprilliani

Kader HMI Komisariat Eksata Universitas Negeri Surabaya

Susun Strategi Gerakan Mahasiswa, HMI Komisariat UIN SMH Banten Cabang Serang Gelar Dialog Publik

HMINEWS.COM, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) Komisariat UIN SMH Banten Cabang Serang menggelar dialog publik dalam rangka Rapat Anggota Komisariat (RAK), kegiatan ini dilaksanakan pada tanggl 16-17 September  2017 bertempat di Aula BAZNAS Kota Serang, Kegiatan dialog publik dengan Tema Optimalisasi Nilai-nilai Indiviu dan Organisasi dalam Aktualisasi sebagai Upaya menuju Kampus Madani. Acara ini  dihadiri oleh Usep S Ahyar mewakili Peneliti dan Akademisi, Muhamad Nuh mewakili Praktisi Hukum, Yhannu Setiawan mewaikili Tokoh Kota Serang dan Akhman Sarjito mewakili Pemerintahan Kota Serang.

Rohim selaku ketua pelaksana menjelaskan bahwa gelaran dialog publik ini sebagai penyadaran tentang kondisi mahasiswa dewasa ini, lebih lanjut Rohim menjelaskan bahwasannya perlu adanya strategi khusus bagi mahasiswa Islam menghadapi kondisi sosial politik dan budaya dewasa ini.

“Kegiatan ini kami maksudkan mencari solusi dan strategi bagaimana mahasiswa islam hadir dalam mewujudkan kampus madani”ujarnya.

Ketua Komisariat UIN SMH, Ubaidilah, dalam sambutannya menyampaikan bahwa mahasiswa hari ini dikepung oleh berbagai hal baik oleh mangsa pasar, ideologi dan budaya, kondisi ini diperparah dengan runyamnya sistem pendidikan tinggi yang secara tidak langsung sepakat menjadikan mahasiswa sebagai mangsa pasar.

“Mahasiswa hari ini  yang sejatinya sebagai agen Of cange dikepung oleh berbagai kondisi yang mengkhawatirkan sehingga mengarah pada budaya apatis dan individualitis, kondisi inipun diperparah dengan sistem pendidikan tinggi yang ternyata tidak memberikan solusi terhadap kondisi hari ini”ujarnya.

Senada dengan itu salah satu pembicara yaitu Usep S Ahyar menjelaskan bahwa kondisi mahasiswa hari ini berbeda dengan kondisi pada zamannya sehingga ia menjelaskan bahwa perlunya mahasiswa islam menyusun strategi intelektual dan kebudayaan sebagai solusi terhadap kondisi yang dihadapi mahasiswa hari ini. Lebih lanjut Usep S Ahyar memaparkan bahwasannya kreatifitas mahasiswa islam perlu ditingkatkan guna memberikan daya tarik bagi mahasiswa untuk mengikuti kaderisasi HMI. Hal ini guna menjadikan HMI Komisariat UIN SMH Banten tidak terlihat kaku.

“Mahasiswa Islam perlu menjadikan strategi Intelektual, dan kebudayaan sebagai solusi menyelesaikan permasalahan gerakan mahasiswa hari ini, kemudian menjadikan HMI sebagai organisasi yang secara jelas memperlihatkan kreatifitasnya. Pungksanya.[]

Galang Dana Buat Rohingya, HMI MPO Cabang Manado Lakukan Longmarch dan Teatrikal

HMINEWS.COM, Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyalamat Organisasi (HMI-MPO) Cabang Manado gelar aksi penggalangan dana buat duka muslim Rohingnya.

Penggalangan dana yang digelar selasa siang (12/09) ini, juga melakukan longmars dari Patung Wolter Monginsidi Jl Boulevard sampai titik finis di Zero Point.

 

Ketua Umum HMI-MPO Cabang Manado, Sahlan Abarang mengatakan aksi ini merupakan bentuk respon HMI terhadap konflik yang terjadi di negara Myanmar.

 

“Konflik itu harus segera teratasi, kalau tidak gerakan genosida bakal menghilangkan suku Rohingnya,” ujarnya, saat aksi, kepada media ini.

 

Sahlan juga menjelaskan konflik yang terjadi disana bukanlah karena agama tapi adanya kepentingan asing.

 

“Sehingga itu kami juga berharap Pemerintahan Indonesia mendesak PBB selesaikan konflik tersebut,” tambahnya lagi.

 

Karena menurut mahasiswa Fakultas Hukum Unsrat ini, suara HAM selalu terdengar di semua negara tetapi kenapa di Myanmar sontak HAM tak kunjung dinikmati suku Rohingya.

 

“Ini juga bukan permasalahan suku asli atau tidak serta harus tinggal atau pergi tapi ini soal HAM, jika pembantaian terjadi lalu dimana HAM. Untuk itu, HMI MPO Cabang Manado mengutuk keras aksi genosida terhadap etnis Rohingya,” tegasnya.[] (ARM)

Ormas dan Komunitas Kabupaten Barru Menggelar Aksi Mendukung Rohingnya

HMINEWS.COM – Ratusan anggota dari 36 ormas, OKP dan Komunitas se-Barru menggelar aksi damai bertajuk #Barruuntukrohingnya di bundaran Tugu Payung, Barru, Sulawesi Selatan pada  Jumat 8/9.

Peserta memulai aksi dengan melakukan long march dari Islamic centre menuju Tugu Payung. Semua peserta tampak memakai atribut oraganisasinya masing-masing. Mereka juga membawa puluhan kotak sumbangan dan poster.

Korlap Syamsuryadi yang juga merupakan ketua umum HMI-MPO cabang Barru manyampaikan, aksi damai oleh ormas dan komunitas ini untuk menggalang dana bantuan untuk etnis Rohingnya yang mengalami penindasan di Myanmar. Selain itu aksi ini juga diisi oleh kegiatan teatrikal dan pembacaan puisi.

Aksi ini mendapatkan sorotan positif dari masyarakat dan pengguna jalan, tercatat hingga saat ini sudah terkumpul bantuan sebesar Rp.18.165.000,-. Syamsuryadi menyampaikan penggalangan dana bersama komunitas pemuda dan ormas sekabupaten Barru akan terus dilakukan dengan konsep berbeda. Dana tersebut akan disalurkan  ke yayasan Darul Qur’an dan Dompet Dhuafa.

PB HMI: Hentikan Genosida Terhadap Muslim Rohingya di Myanmar

HMINEWS.COM – Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) serukan hentikan Genosida terhadap muslim Rohingya di Arakan, Myanmar.

PB HMI mengingatkan krisis kemanusiaan dan upaya Genosida yang terjadi terhadap muslim Rohingya di Myanmar adalah Tragedi kemanusiaan yg luar biasa yg membutuhkan perhatian internasional dan khususnya bangsa-bangsa serantau Asia Tenggara.

“Sikap PB HMI sangat jelas terkait hal ini, hentikan Genosida terhadap muslim Rohingya. Pemerintah Myanmar harus membebaskan muslim Rohingya dari ancaman Genosida etnis baik melalui tindakan kekerasan yang mengakibatkan penderitaan fisik atau mental; mengkondisikan kemusnahan secara fisik sebagian atau seluruhnya; melakukan tindakan mencegah kelahiran; maupun memindahkan secara paksa anak-anak; ataupun melalui penghilangan jejak budaya Rohingya dengan melarang penggunaan bahasa, mengubah atau menghancurkan sejarah serta menghancurkan simbol-simbol kebudayaan dan identitasnya,”ujar Ketua Umum PB HMI, Muhammad Fauzi, Sabtu (02/09).

Selain itu, pada kesempatan yang sama, Ketua Komisi Hubungan Internasional PB HMI, Ruslan Arief BM juga mendorong kebijakan luar negeri pemerintah NKRI yang positif terhadap kehidupan muslim Rohingya.

“Tindakan anti-kemanusiaan terhadap komunitas muslim Rohingya oleh pemerintah Myanmar mengakibatkan hak kewargaan 1,3 juta muslim Rohingnya tidak diakui meskipun mereka telah menetap berabad-abad di Myanmar. PB HMI mendorong kebijakan Pemerintah RI, yang bebas aktif dalam menyelesaikan genosida etnis ini. Selain itu Indonesia sebagai anggota OKI bisa turut serta memainkan perananya bersama negara – negara OKI lainya seperti Turki,Iran dan Arab Saudi,” tukasnya.

Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) juga berharap publik mengkaji dan menyebarkan pemahaman serta opini yang benar seputar genosida etnis muslim Rohingnya.

“HMI harap dilakukan penggalangan dan kampanye masif untuk meningkatkan kesadaran publik akan krisis Rohingnya. Dengan mengkaji dan memperluas pengertian dan opini yang benar seputar genosida etnis muslim Rohingnya, kita bisa mengajak peran serta masyarakat luas dalam mendorongnya menyediakan solusi dan kebijakan yang jelas, jangan sampai tahun depan dan seterusnya kita bisai lagi berita rutin genosida seperti sekarang. ” kata Ruslan. []