Lafran Pane dan Pilihannya di Garis Lurus

Nama Lafran Pane memiliki jangkauan spektrum yang semakin luas, kini dia bukan hanya dikenal di kalangan Himpunan Mahasiswa Islam, lebih dari itu namanya kini dikenal oleh rakyat Indonesia secara umum, hal tersebut setelah pemerintah melalui Presiden Joko Widodo menetapkan Lafran Pane sebagai salah satu pahlawan nasional. Bagi keluarga besar Himpunan Mahasiswa Islam, momen ini tidak mungkin bisa dilupakan, betapa tidak HMI dan Lafran Pane tidak mungkin dipisahkan, pria asal Sumatera Utara ini merupakan tokoh sentral pendiri HMI, sebuah organisasi yang dalam perjalanan sejarahnya bukan hanya mampu eksis di kampus yang sekarang telah bernama Universitas Islam Indonesia tempat HMI didirikan, melainkan mampu tersebar di Seluruh Indonesia, boleh jadi di masa itu Lafran Pane belum membayangkan bahwa organisasi yang didirikannya akan sebesar sekarang, namun yang pasti Lafran Pane mendirikan HMI berangkat dari niat yang tulus, berangkat dari kegelisahan yang tulus, niat yang tulus ini kemudian melahirkan manfaat besar.

Lafran Pane sesungguhnya berasal dari keluarga terpandang dan mapan, Lafran Pane bisa saja memilih untuk sekadar menikmati kemapanan hidup tanpa pusing dengan persoalan umat di masa itu, Lafran Pane juga bisa saja memilih menikmati nikmatnya dunia kampus tanpa memusingkan peran mahasiswa di luar koridor akademik yang perlu dijalankan, akan tetapi faktanya Lafran Pane memilih tidak mengambil pilihan itu, dia memilih menyibukkan dirinya dengan permasalahan umat yang sudah mulai kompleks di masa itu, khususnya bila ditinjau dari segi persatuan umat, dia memilih menaruh perhatian serius terhadap permasalah bangsa saat itu, khususnya bila ditinjau dari segi kedaulatan, dimana saat itu rezim kolonial Belanda berupaya menguasai kembali Indonesia, dirinya juga memilih menyibukkan diri dengan kompleksitas suasana mahasiswa yang menurutnya jauh dari cita ideal, khususnya bila ditinjau dari sisi peran yang seharusnya dijalankan mahasiswa, mahasiswa saat itu sudah mulai terjebak dalam lingkaran hedonisme untuk ukuran masanya. Ketiga aspek tersebut, yakni aspek keumatan, kebangsaan, dan kemahasiswaan merupakan penyebab dasar berdirinya HMI, pilihan yang diambil Lafran Pane merupakan pilihan untuk berada di garis lurus.

Pilhan Lafran Pane untuk melakukan kerja perjuangan di garis lurus seharusnya menjadi inspirasi tanpa henti bagi keluarga besar HMI, baik kader aktif maupun alumni. Dengan semakin berkembangnya organisasi ini, komunitas hijau hitam kerap diperhadapkan dengan suasana yang sering memancing lunturnya idealisme, lunturnya pilihan untuk tetap berada di garis lurus sebagaimana pilihan pendiri HMI, suasana tersebut mesti disikapi dengan matang dan cerdas, kesalahan dalam menyikapi hal ini bisa menimbulkan akibat yang fatal. Bahwa terjadi perbedaan cara pandang terhadap realitas dalam generasi yang berbeda di HMI adalah hal lumrah, hal tersebut bagian dari dinamika pemikiran, kekayaan gagasan, akan tetapi yang perlu diingat, model pandangan apapun yang dianut oleh setiap generasi di HMI namun komitmen perjuangan di garis lurus tidak boleh ditinggalkan.

Penetapan Lafran Pane sebagai pahlawan nasional merupakan berkah sekaligus ajang introspeksi bagi HMI, berkah karena perjuangan keluarga besar HMI untuk mendorong ditetapkannya Lafran Pane sebagai pahlawan nasional akhirnya terwujud, tentu perjuangan ini memakan energi yang banyak, dikatakan ajang introspeksi diri karena melalui momen ini HMI bisa melakukan refleksi bersama terhadap dinamika perjuangan Lafran Pane, sudah sejauh mana alumni dan kader menyerap nilai perjuangannya, sejauh mana komitmen alumni dan kader untuk terus berada di garis lurus, apakah kita bisa menyerapnya, tentu kita bisa dan harus bisa.[]

Penulis: Zaenal Abidin Riam, Ketua Komisi Intelektual dan Peradaban PB HMI MPO

Abraham Samad Akan Jadi Pembicara Dalam Pembukaan Pleno III PB HMI

HMINEWS.COM, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi 2011 – 2015, Abraham Samad, akan menjadi salah satu pembicara kunci dalam sesi orasi ilmiah di forum pembukaan Pleno III PB HMI MPO.

Seremonial pembukaan Pleno III PB HMI akan dilaksanakan pada 19 Agustus 2017, tema yang akan menjadi pembahasan Abraham Samad adalah “Memperkuat Kesadaran dan Gerakan Anti Korupsi di Indonesia”.

Saat dikonfirmasi tim redaksi, Kehadiran Abraham Samad sebagai keynote speaker dibenarkan oleh Ketua Panitia Kegiatan, Abdul Malik, pihaknya juga berharap kehadiran Abraham Samad mampu menumbuhkan sikap anti korupsi di kalangan kaum muda dan masyarakat secara umum.

“Bapak Abraham Samad memiliki pengetahuan dan pengalaman mendalam dalam pemberantasan korupsi, kita berharap kapasitas dan semangat beliau bisa ditransformasikan kepada masyarakat dalam rangka menggencarkan pemberantasan korupsi” ungkap Malik, Kamis (17/8).[]

Wabah Muhibah yang Menjadi Inspirasi

Masuk ke fakultas pertanian cinta-citanya sederhana, setelah lulus harapannya akan pulang kampung untuk meneruskan mengelola sawah orang tuanya di Karawang sana. Untung-untung bisa menjadi penyuluh di daerahnya, tetapi jikapun tidak, setidaknya dengan ilmu bekal sarjana pertanian yang dimilikinya bisa mengelola pertanian keluarganya dengan lebih baik.

Tetapi siapa sangka, anak seorang petani itu kini menjadi petinggi di salah satu bank pemerintah terbesar di negeri ini. Dialah Babay Farid Wajdi, sosok alumni Pertanian UGM yang menjadi tuan rumah acara buka bersama KALAMTANI (Keluarga Alumni HMI Pertanian UGM) di Jakarta, 10 Juni 2017.

“Semua berawal dari rumah bertiang besar di Jakarta yang saya kunjungi beberapa puluh tahun yang lalu itu”, dia bercerita. Tanpa ingat dengan jelas nama pemilik rumah itu, dia menceritakan bahwa keberaniannya untuk memancangkan cita-cita lebih tinggi terinspirasi sejak itu.

“Seandainya tak berkunjung dengan rumah bertiang besar itu, mungkin saya enggak akan jadi seperti sekarang ini’, kelakarnya.

Waktu itu, sebagai anggota HMI diirinya mengikuti program Muhibah ke alumni-alumni HMI di Jakarta. Program ini diselenggarakan setiap tahun oleh HMI Komisariat Fakultas Pertanian UGM. Memanfaatkan waktu liburan, mahasiswa diajak jalan-jalan berkeliling silaturahim ke para alumni HMI yang sudah sukses di kota lain. Kota tujuan utama biasanya Jakarta, Bandung dan Surabaya. Mereka biasanya juga menginap di salah satu rumah alumni.

Alkisah pada suatu hari Farid terkesan dengan satu rumah alumni yang bagus dan bertiang besar. Baginya, rumah itu mewah dan megah. Dari situlah timbul pemikiran, “wah,…hebat juga alumni ini. Ternyata alumni pertanian juga bisa berkarir di Jakarta dan menjadi orang kaya dan memiliki rumah sebesar ini”.

Di situ dia mulai tergugah untuk mengubah cita-citanya, dari yang tadinya sebatas menjadi penyuluh pertanian, ingin menjadi seperti alumni yang dikunjunginya itu.

“Sama-sama kuliah di fakultas pertanian, jika bapak alumni ini bisa maka sayapun harus bisa”, gumannya dalam hati.

Selanjutnya, saat perjalanan keliling Jakarta, ia menyaksikan gedung-gedung tinggi yang megah. Ia mulai bermimpi untuk bisa bekerja di salah satu gedung itu. Salah satu gedung tinggi yang ia lewati bertuliskan Bank Indonesia. Waktu itu ia berguman dalam hati: “Inilah tempat dimana uang dicetak. Nanti setelah lulus, saya ingin melamar kerja di tempat ini.”

“Saya memang akhirnya tidak bekerja di BI melainkan di Bank Mandiri. Tetapi istri saya bekerja di sini. Dulu kami berdua sama-sama melamar di BI. Saya tidak diterima, tetapi mantan pacar saya yang diterima he he he”, dia menambahkan.

Saat hadir dalam sebuah acara temu alumni yang diselenggarakan di sebuah hotel di Yogyakarta. Acara tersebut berlangsung meriah, disponsori oleh salah satu alumni yang waktu itu menjabat sebagai Kepala Bulog di era Presiden Soeharto. “Seumur hidup saya ingat momen itu. Itu pertama kali saya makan di hotel”, katanya. Ia sangat terkesan dengan sosok alumni yang bisa mensponsori acara semewah itu. Ternyata kuliah di pertanian juga bisa menjadi seperti dia yang sekolahnya bisa lanjut ke luar negeri lalu pulang menjadi orang penting di negeri ini.

Tiga segmen cerita di atas menjadi pembuka dari cerita pengalaman hidup Babay Farid Wajdi dalam acara. Cerita itu mengawali cerita-cerita lainnya tentang refleksi atas pengalaman saat menjadi anggota HMI dulu. Farid sebagai tuan rumah mendapat kesempatan pertama untuk berbicara. Pembicara kedua adalah Redi Roeslan. Mantan ketua komisariat HMI ini sekarang menjadi direktur salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang energi. Boleh dikata, dia adalah penggagas ide program Muhibah yang dulu diikuti oleh Farid. Dia tidak menyangka bahwa program jalan-jalan itu ternyata punya pengaruh yang sebegitu luar biasa pada pesertanya. Farid hanyalah salah satu contoh dari yang menuai manfaat itu, yang ternyata mengubah jalan hidupnya.

Kata Redi, dirinya bersama pengurus seangkatannya seperti Junianto dan yang lainnya menggalakkan program Muhibah Alumni karena terinspirasi oleh pengalaman dirinya waktu awal masuk HMI. Waktu itu, ia diberi tugas oleh seniornya di HMI untuk mencari dana ke alumni-alumni di Jakarta. Dengan muka tembok ia datang dari satu pintu ke pintu lainnya menawarkan proposal meminta sumbangan. Ia terkesan oleh sambutan para alumni yang luar biasa. Dari situ dirinya tidak saja pulang mendapatkan dana, tetapi yang jauh lebih terkesan adalah pengalaman interaksi dengan alumni yang sudah sukses.

“Pengalaman bertemu dengan alumni yang sukses di berbagai profesinya masing-masing menjadikan saya memiliki proyeksi tentang masa depan saya. Saat kuliah, saya sudah bisa punya gambaran nanti setelah lulus model karir seperti siapa yang ingin saya tempuh”, jelasnya.

Dari situlah kemudian, ketika dirinya mendapat amanat sebagai ketua komisariat, dia membuat program yang diberi nama Muhibah itu. Menanggapi tentang manfaat Muhibah ini, pembicara berikutnya yaitu Mulyanto Darmawan memberikan pemaknaan sebagai berikut: Intinya adalah silaturahim dan komunikasi. Semakin banyak silaturahim maka pengalaman dari orang lain yang bisa diserap semakin banyak. Demikian, silaturahim akan memperluas jaringan kita. Sementara komunikasi merupakan saran untuk menembus dan merawat jaringan sulaturahim itu.

Mas Mul, panggilan akrab Mulyanto, adalah seniornya Redi di HMI. Dialah yang waktu itu ‘menyuruh’ Redi untuk pergi ke Jakarta menggalang dana.  “Jika dulu Mas Mulyanto tidak menyuruh saya mencari dana ke alumni-alumni, saya juga tidak mungkin punya ide membuat program Muhibah itu”, kata Redi. Tiga generasi hadir berbicara, satu inspirasi terjadi oleh adanya suatu program, yang program itu lagi karena terinspirasi adanya kegiatan dalam program sebelumnya. Intinya malam itu kami saling terinspirasi dan menginspirasi. Sesunggunya kita hidup dari inspirasi. Gagasan muncul karena inspirasi, cita-cita tumbuh karena inspirasi, dan inspirasi jugalah yang menjadikan seseorang berani untuk mewujudkan cita-cita itu.

Penulis: Muhammad Chozin Amirullah, Ketua Umum PB HMI Periode 2009 – 2011

In Memoriam Ridwan Baswedan

Masih terpatri dengan kuat dalam ingatanku, kecakapannya saat memimpin pergerakan mahasiswa menjelang tahun 1998 di Yogyakarta. Rangkaian rapat-rapat antar organ kampus mempersiapkan demonstrasi, sosoknyalah yang paling kuingat. Sosok itu mudah kuingat bukan hanya karena jabatannya sebagai ketua Dewan Mahasiswa UII tetapi juga cakap dalam penguasaan forum. Tak berapi-api,tak terlalu banyak kata-kata dan tak perlu sedikit-sedikit menyela, tetapi saat bicara terlihat yang lain hening menyimak. Itu tandanya dia memang punya kharisma.

Sosok itu adalah Ridwan Baswedan, yang baru saja meninggalkan kita untuk selamanya pada malam hari pertama Ramadhan lalu. Mas Iwan, biasa dipanggil, waktu reformasi adalah salah satu figur sentral gerakan mahasiswa menentang rezim Orde Baru. Di HMI, nama itu sepantaran dengan tokoh-tokoh intra kampus kader HMI seperti Ridaya Laode Ngkowe (Ketua Senat UGM), Heni Yulianto (Ketua BEM UGM), Ardi Majo Endah (UII), Idrus Syarifuddin (UIN Suka), Lely Khair Nur (UIN Suka), Yana Aditya (UMY) dan nama-nama besar lainnya yang tak mungkin disebut satu per satu.

Pasca reformasi saya masih melanjutkan kuliah di UGM, Mas Iwan sesuai angkatannya, sudah menyelesaikan kuliah terlebih dahulu. Tak banyak kabar saya dengar mengenai Mas Iwan selain bahwa beliau melanjutkan kuliah ke Belanda dan kemudian pulang ke Indonesia berkecimpung di bisnis. Demikian pula saat saya selesai kuliah dan kemudian tinggal di Jakarta, tak sering berinteraksi lagi dengan beliau.

Perjumpaan intens kemudian terjadi mulai tahun 2013 saat Anies Baswedan, yang tiada lain adalah kakak kandungnya langsung, “berlaga” di arena Konvensi Partai Demokrat. Saya kebetulan ikut mengelola relawan Turuntangan yang waktu itu full support Mas Anies. Kami mengorganisir relawan yang jumlahnya tak kurang dari 50 ribu itu. Mas Iwan sering membantu kami. Beliau biasanya hadir saat debat kandidat yang dilangsungkan di beberapa kota. Konvensi telah memberikan pengalaman politik yang tidak sedikit bagi kami.

Saya masih ingat, Mas Iwan biasanya membantu pengorganisasian relawan bersama saya. Pernah ada suatu kejadian menarik, kira-kira 3 tahun yang lalu, waktu itu final debat kandidat di Hotel Sahid, Jakarta (27 April 2014). Dikarenakan ketatnya pengamanan, saya kesulitan untuk memasukkan relawan yang akan masuk menjadi supporter debat. Semua pintu sudah diblok oleh tim pengamanan yang berseragam. Padahal, biasanya saya punya trik-trik tertentu untuk memasukkan relawan ke dalam ruangan, tetapi kali ini semua trik sudah mentok, saya sudah tak mampu menembus.

Beruntunglah waktu itu ada Mas Iwan. Saya minta bantuan beliau untuk “menggertak” balik petugas keamanan. Makanya saya bilang, memang Mas Iwan itu punya kharisma khusus sejak masih mahasiswa dulu. Akhirnya Mas Iwan yang menghadapi tim keamanan tersebut. Beliau sendiri juga yang akhirnya berdiri menahan daun pintu agar tetap terbuka hingga relawan bisa semuanya masuk ke dalam ruangan.

Pasca Konvensi, kami mendapat amanah bergabung dalam tim kampanye Presiden Jokowi. Mas Iwan masih sekali-sekali membantu kami, meski tidak seintensif sebelumnya. Kesibukan bisnisnya mungkin menyita banyak waktunya. Pun saat Mas Anies menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, saya sebagai staf khusus Menteri, jarang sekali melihat Mas Iwan bertandang ke kantor Kementerian.

Jumlah kunjungannya bisa dihitung dengan jari. Padahal di kementerian lain beberapa kali saya dengan cerita, adik seorang menteri biasanya sering ‘main’ di Kementerian. Tetapi hal ini tidak dilakukannya. Ini yang saya rasakan ciri khas keluarga Baswedan, berusaha selalu menjaga integritas dan tidak saling “ngribeti” ketika ada saudaranya sedang mendapat amanah memimpin di suatu institusi.

Baru ketika Pilkada DKI2017 kemarin, Mas Iwan kembali terlibat intensif. Mas Iwan bergabung dalam tim pemenangan Anies-Sandi dan terjun langsung ke lapangan. Beliau adalah yang mengatur komunikasi dengan relawan, dan termasuk mengatur jadwal kunjungan kampanye Mas Anies. Posisi tersebut memang pas dengan karakter beliau yang memiliki sifat “ngemong” dan mau mendengar. Inilah sifat khas dari Mas Iwan yang kami dan seluruh relawan selalu ingat. Beliau orangnya tidak pernah marah, suka mendengarkan dan menjadi penengah jika ada yang berkonflik. Tahu sendiri, intensitas dan jumlah relawan yang sangat banyak menjadikan percikan-percikan konflik internal tak bisa dihindari. Mas Iwan adalah mediator yang handal, biasanya saya mengandalkan beliau untuk menengahi dan meredakan konflik-konflik tersebut.

Hari itu, menjelang berakhirnya putaran pertama kampanye, saat di lapangan mendampingi Mas Anies kampanye, Mas Iwan merasakan sesak di dada. Hari berikutnya, tepatnya 25 Februari 2017, beliau dirawat di rumah sakit Pondok Indah, kemudian dipindahkan ke RS Harapan dan berakhir di RSCM Salemba. Dokter memvonis beliau terkena serangan jantung yang kemudian berujung pada komplikasi infeksi di paru-parunya.

Saya mendapat pesan dari adindanya, Abdillah Baswedan, agar mengabarkan kepada relawan bahwa Mas Ridwan off dari kampanye karena sedang dirawat. Mohon doa dari seluruh relawan semuanya. Begitulah kira-kira isi pesan yang saya kirim ke grup-grup whatsapp relawan. Para relawan sedih, saat itupun kami sudah mulai merasa kehilangan.

Kami, para relawan, sudah tidak pernah bertemu lagi. Mereka hanya bisa mendoakan melalui majlis Yasinan yang setiap malam Jumat rutin diselenggarakan di Pendopo relawan. Dalam setiap yasinan, kami selalu memastikan agar di penghujung doa, nama Ridwan Rasyid Baswedan bin Abdul Rasyid Baswedan jangan sampai lupa disebut bersama nama-nama yang lain seperti Ayahanda Abdul Rasyid Baswedan, Anies Rasyid Baswedan, Bung Hatta, Jenderal Sudirman, serta para pahlawan lain serta tokoh-tokoh guru utama di Betawi.

Putaran kedua Pilkada, Mas Iwan sudah tidak bisa bergabung lagi. Meskipun demikian, kami telah mewarisi semangat dan ketulusan niatnya. Di putaran pertama, kami sudah banyak belajar dari Mas Iwan. Di putaran kedua, saatnyalah untuk mempraktikkannya. Kami bergerak penuh semangat dan rancak, sehingga akhirnya diberi kemenangan pada 19 April 2017. Berbeda dengan kami yang melihat gegap-gempitanya, nuansa kemenangan itu tak pernah dirasakan oleh Mas Iwan karena beliau mesti terus ditidurkan dalam perawatannya. Dokter mengatakan, Mas Iwan bukan tidak sadar, tetapi sengaja ditidurkan agar obat pelawan infeksi diparu-parunya bisa bekerja dengan lebih baik.

Pagi itu, sebulan setelah Pilkada, pagi-pagi saya mendengar kabar bahwa kondisi Mas Iwan semakin menurun. Keluarga diminta berkumpul di RSCM. Rapat yang sedianya kami gelar pagi itu, dibatalkan. Dan benar, di RSCM saya lihat kondisinya sudah sangat melemah. Dokter menyampaikan harapan tinggal 5%. Isak-tangis pecah.

Saya sudah merasa akan kehilangan orang yang selama ini sudah seperti kakak sendiri. Orang yang kebaikannya tak pernah bisa dipungkiri karena berasal dari hati. Jumat malam Sabtu, 27 Mei 2017, pukul 00.50 WIB Mas Iwan menghembuskan nafas terakhirnya di bawah bimbingan dan keikhlasan Sang Ibunda Aliyah Alganis. Innalillahi wainna ilaihi rajiun, sesunggunya segalanya milik Allah, dan kepada-Nya lah tempat kembali.

Kami telah kehilangan seseorang yang kebaikannya bukan saja dirasakan setelah selesai interaksi, bahkan auranya sudah terasa saat baru pertama kali berkenalan. Kebaikan budi Mas Iwan ini tidak hanya dirasakan oleh kami para relawan saja, mantan sekretaris di perusahaannya yang lebih dari10 tahun bekerjasama dengan beliau juga kagum dengan keluhuran budinya. Dalam sebuah pesan whatsapp yang dikirim ke saya, Mbak Anggi (mantan sekretaris Mas Iwan) menulis begini: “Sepuluh tahun bareng…sudah lebih dari seperti abang sendiri. Tiap hari ketemu. Beneer,… baik banget”.

Selamat jalan Mas Ridwan Baswedan…! Kami menjadi saksi kebaikan-kebaikan yang pernah kau taburkan. Kebaikan-kebaikan itu akan menjadi kendaraanmu menuju ke pangkuan-Nya.

Penulis: Muhammad Chozin Amirullah, Ketua Umum PB HMI Periode 2009 – 2011

Mengenang Ridwan Baswedan: Selamat Jalan, Orang Baik

Tahun 2008, di taxi, hp saya berdering. Telepon masuk dari Mas Anies Baswedan. “Yogie, sekarang tinggal tiga hari sebelum hari pernikahan Ridwan, tapi kita belum mendapat konfirmasi kehadiran Wapres Pak Jusuf Kalla. Tolong Yogie atas nama keluarga koordinasi dengan istana”, demikian pesan Mas Anies dari ujung sana. Anies Baswedan, Ridwan Baswedan dan Abdillah Baswedan adalah tiga bersaudara.

Saya menghubungi beberapa kontak, besoknya langsung rapat dengan protokol istana. Saya hadir bersama Abdillah dan sekretaris Mas Ridwan bernama Anggie Affan. Pak JK confirmed hadir, detail keperluan untuk menyambutnya langsung disiapkan dalam dua hari.

Alhamdulillah, kehadiran beliau di pernikahan Mas Ridwan sesuai harapan. Saya mendampingi Mas Anies beserta istrinya, Mbak Ferry Farhati Ganies, menyambut Pak JK dan istri di pintu masuk Graha Niaga.

Saya ingat, sepatu Bu Mufidah Kalla sempat tersangkut kabel yang kurang rapi di koridor penyambutan. Beliau sedikit kaget kala itu. Paspampres sigap menahan Bu Mufidah Kalla agar tidak terpeleset.

Dari pelaminan di samping mempelai wanita yang cantik jelita, Mas Ridwan melirik saya sambil tersenyum lebar sumringah. Alis matanya sampai terangkat. Dia terlihat jelas bahagia sekali.

Saya membalasnya dengan tersenyum lega dan mengacungkan jempol. Dalam hati terucap: tugas sudah saya kerjakan.

Untuk hadir di pernikahan itu, saya beli batik lengan panjang di Ramayana Depok. Batik murah meriah, yang penting terlihat baru. Jas saya sudah tidak layak pakai, berumur sekitar lima tahun.

Saya mengenal Mas Ridwan 19 tahun lalu. Waktu itu para eksponen gerakan mahasiswa 98 masih melangsungkan konsolidasi pasca jatuhnya Suharto dan menggagas kelompok bernama Majelis Reformasi Total (MRT). Saya baru masuk kuliah dan mungkin karena keaktifan saya di forum-forum mahasiswa, saya diajak oleh eksponen 98 ikut beberapa kali pertemuan MRT.

Dua nama yang paling awal menjadi mentor saya di dunia pergerakan adalah mantan Ketua Senat Mahasiswa UMY Bang Cahyadi Jogjakarta dan mantan Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa UMY Mas M Yana Aditya. Melalui mereka, saya masuk ke jaringan eksponen 98, lalu proses itu mendorong kiprah saya lebih lanjut kemudian hari di HMI.

Kali pertama MRT mengadakan pertemuan di Solo. Mas Ridwan selaku mantan Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa UII turut hadir. Saya ikut di mobilnya dari Yogyakarta ke Solo, bersama beberapa yang lain.

Mas Ridwan bukan tipe aktivis yang senang bicara. Dia hanya bicara seperlunya, tapi berisi. Tata kramanya tinggi, sebagaimana tabiat di keluarga Baswedan. Demikian juga saat diskusi di MRT, saya mengingat Mas Ridwan sebagai figur aktivis yang dihormati oleh teman-temannya sesama aktivis. Cara berpikir dan bicaranya tertata rapi dan selalu perlu untuk didengar.

Dari situ saya mengenal Mas Ridwan. Sebagai kader yang lebih muda, saya proaktif memelihara komunikasi dengan para pendahulu di gerakan mahasiswa, termasuk Mas Ridwan.

Sampai dia melanjutkan studi di Leiden University, Belanda. Saya menunggu-nunggu waktu dia pulang untuk berlibur atau keperluan lain. Saya selalu memantau dan mencari peluang untuk bertemu lagi.

Dari dulu, saya sangat senang dan menikmati silaturahmi dengan para senior pergerakan. Tidak jarang, saya temui mereka di kota-kota luar Yogyakarta hanya untuk bertukar pikiran dan menimba pengalaman.

Sampai datang satu kesempatan, Mas Ridwan pulang ke Yogyakarta. Saya langsung telepon dia, kami berbincang lama. Waktu itu saya sudah diamanahi sebagai Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta.

“Bagaimana rasanya kuliah di Belanda? Apa beda pendidikan kita dengan Belanda? Apakah di sana sambil bekerja? Bagaimana orang Belanda melihat perkembangan terkini di Indonesia?”, berbagai pertanyaan dan keingintahuan saya utarakan kepada Mas Ridwan. Dia menjawab semuanya. Pembicaraan di telepon tersebut mengalir lebih dari satu jam. Rasanya diskusi masih kurang.

Hingga saya meminta Mas Ridwan untuk berdiskusi lebih banyak di sekretariat HMI Cabang Yogyakarta, di Karangkajen. Tiba di sekretariat, Mas Ridwan berkata sambil senyum, “Baru kali ini saya diundang menjadi pembicara di HMI Cabang Yogyakarta. Biasanya dulu diundang rapat saja sebagai staf Bidang PTK (Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan)”. Mas Ridwan memang pernah menjadi staf Bidang PTK HMI Cabang Yogyakarta. Diskusi tentang pengalamannya mengenyam pendidikan di Belanda menjadi salah satu pemantik kami untuk lebih mendorong kader-kader HMI membangun orientasi melanjutkan studi ke luar negeri.

Tahun 2004 saya hijrah ke Jakarta dan bekerja di Lembaga Komisaris dan Direktur Indonesia (LKDI). Usai studi di Belanda, Mas Ridwan juga memulai kiprah bisnisnya di Jakarta. Selang beberapa waktu kemudian dia menjadi Direktur PT KDK Technologies. “Saya businessman, Yogie. Saya marketer”, ujarnya suatu saat. Ya, dia memilih menapaki jalur profesional sebagai pebisnis.

Beberapa kali saya ke kantornya untuk sekedar silaturahmi dan berbagi informasi. Saya menangkap kesan Mas Ridwan punya tekad kuat berbisnis, tapi saya juga merasakan tantangan yang dia hadapi tidak mudah meski dia tidak mengungkapnya. Dia tidak menyerah. Sikapnya terkontrol dalam menghadapi tekanan dan masalah.

Dan dia seorang dermawan. Salah satu kisah pernah ketika sekembali kami dari Puncak menuju Jakarta, sebagaimana lazimnya obrolan berdua, saya bercerita tentang suatu keadaan sulit yang sedang saya jalani. Seketika dan tiba-tiba, Mas Ridwan menghentikan mobil di depan mesin ATM yang kami lalui, dia tarik tunai sejumlah uang dan diberikan untuk saya.

“Yogie, ini untuk keperluan yang Yogie ceritakan tadi”, katanya sambil tersenyum. Saya kaget dan merasa tidak enak hati. “Maaf, Mas Ridwan. Saya cerita tadi bukan untuk minta bantuan uang. Kita kan lagi ngobrol biasa”, saya berusaha menolak. Tapi Mas Ridwan tak bergeming, dia dengan santun tetap minta saya menerima uang darinya. Tidak lupa dia belikan saya talas dan pisang tanduk yang berjejer sepanjang jalanan Puncak menuju Jakarta.

Kami pernah ke Labuan Banten, mengunjungi proyek pembangunan PLTU. Menikmati makan siang dengan menu urab dan udang bakar yang nikmatnya masih teringat sampai sekarang. Ikhtiar untuk mengembangkan bisnisnya pernah kami lakukan bersama.

Februari 2017 lalu, saya makan siang berdua Mas Ridwan di TIM Cikini, menjelang pencoblosan putaran pertama pilgub DKI Jakarta. Dia banyak cerita tentang perjuangan dan susah payah tim pemenangan Anies-Sandi di lapangan, termasuk keterlibatannya secara langsung untuk menggalang dukungan bagi sang kakak.

Lelah dapat saya lihat dari rautnya. Tapi tetap lebih nampak dominan semangatnya. Mas Ridwan tidak pernah mengeluh. “Yang kita lawan ini kekuasaan”, ujarnya sambil menerawang. Saya lebih banyak menyimak sambil menyeruput es kacang merah di siang terik itu. Diam-diam saya mengagumi watak pekerja keras dan pejuangnya, seperti watak Baswedan-Baswedan yang lain.

Tak lama setelahnya, tanpa sengaja saya berjumpa Abdillah Baswedan di bandara Soekarno Hatta. Saya sampaikan bahwa pesan wa saya tidak Mas Ridwan balas. Abdillah hanya bilang Mas Ridwan kurang sehat.

Hanya sekitar satu hari kemudian, saya mendapat kabar Mas Ridwan terkena serangan jantung. Saya belum pernah menjenguknya karena menurut informasi, dia butuh perawatan intensif dan istirahat total. Saya hanya mendo’akan untuk kesehatannya.

Hari ini Sabtu 27 Mei 2017 saat bangun sahur di hari pertama Ramadhan 1438 H, berita duka itu datang dari pesan wa. Mas Ridwan telah berpulang ke rahmatullah setelah tiga bulan menjalani perawatan.

Saya termenung cukup lama. Kepergiannya terasa terlalu cepat. Sampai saat membangunkan anak, saya bukan bilang agar bangun sahur, tapi saya bilang: “Teman ayah meninggal, adiknya Mas Anies meninggal”. Izzan bergegas bangun, “Beneran, Yah?”. Lalu istri juga saya kabarkan.

Siang tadi, saya turut mengantar ke peristirahatan terakhir Mas Ridwan di TPU Tanah Kusir. Banyak aktivis, sahabat, senior dan tokoh hadir di sana.

Saya banyak melamun selama prosesi pemakaman. Memandang jenazahnya, mengenang hubungan baik dengan almarhum. Saat saya berpamitan, Mas Anies yang didampingi Abdillah berkata, “Yogie, tolong maafkan kalau Ridwan ada salah”. Saya hanya menjawab, “Mas Ridwan orang baik”.

Selamat menjumpai Allah SWT di hari dan bulan yang indah ini, Mas Ridwan. Insya Allah husnul khatimah.

Penulis: Yogie Maharesi, Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta Periode 2002 – 2003

Bagus Sarwono; Mengawal Demokrasi Melalui Bawaslu

HMINEWS.COM, Jakarta- Bagus Sarwono, S.Pd.SI., MPA, seorang pemuda  yang lahir dari keluarga sederhana di pinggiran kota Rembang ini tengah menunjukkan komitmennya terhadap proses demokratisasi di Indonesia dengan mendaftarkan diri sebagai Anggota Bawaslu RI. Lelaki kelahiran Rembang tanggal 1 Juni 1976 ini adalah sosok yang tidak asing dikalangan para aktivis pro-demokrasi Yogyakarta.

Yogyakarta menjadi tempat persemaian awal karier seorang Bagus Sarwono setelah dirinya memutuskan untuk melanjutkan jenjang pendidikan ke Perguruan Tinggi. Di Yogyakarta, Bagus terdaftar sebagai alumni S1 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UNY dan alumni S2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM. Sewaktu mahasiswa, Bagus Sarwono sempat diamanahi menjadi Ketua BEM FMIPA UNY dan aktif di HMI.

Bapak 4 orang anak ini mengawali kariernya sebagai staf di Lappera Indonesia. Bagus, sapaan akrabnya, meneruskan karier lewat Lembaga Ombudsman Daerah (LOD) DIY dengan menjadi asisten di tahun 2005. Kariernya cukup cemerlang, karena tidak membutuhkan waktu terlalu lama, terpilih menjadi Wakil Ketua LOD DIY masa bakti 2008-2011. Selain melayani pengaduan masyarakat sebagaimana tupoksi LOD DIY, saat menjabat sebagai wakil ketua LOD DIY, Bagus juga pernah menjadi salah satu pemohon dalam Permohonan Judicial Review terhadap Pasal 46 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman Republik Indonesia di Mahkamah Konstitusi (MK). Berkat keberaniannya bersama teman-teman yang lain untuk melakukan judicial review tersebut dengan ditambah bantuan Prof. Dr. Saldi Isra, S.H., M.P.A., serta Fajrul Falaakh, S.H., LLM., dan lain-lain sebagai saksi ahli, akhirnya eksistensi lembaga ombudsman “lokal” di Indonesia masih terjaga hingga sekarang.

Kini Bagus Sarwono aktif secara langsung mengawal proses Pemilu di wilayah DIY sebagai salah satu Anggota Bawaslu DIY untuk masa jabatan 2012-2016. Bersama 2 orang Anggota Bawaslu DIY yang lain, Bagus berhasil menorehkan kembali buah prestasi dalam proses penyelenggaraan pengawasan pemilu legislatif tahun 2014. Prestasi itu ditunjukan dengan adanya fakta bahwa DIY menjadi satu-satunya wilayah yang tidak memiliki sengketa pemilu sampai ke MK dan satu-satunya wilayah yang seluruh penyelenggara Pemilunya tidak terbukti melakukan pelanggaran Kode Etik. Dibawah kepemimpinannya sebagai ketua pokja Gerakan Sejuta Relawan Pengawas Pemilu tahun 2014, Bawaslu DIY berhasil memiliki jumlah relawan pengawas Pemilu terbanyak dibandingkan dengan jumlah relawan pengawas Pemilu Bawaslu Provinsi lain di Indonesia. Atas prestasi tersebut, Bawaslu DIY mendapatkan Bawaslu Award dari bawaslu RI dalam kategori Pengawasan Partisipatif.

Kini, Bagus Sarwono berhasil lolos seleksi Calon Anggota bawaslu RI tahap pertama sehingga namanya masuk dalam 22 besar Calon Anggota Bawaslu RI. 22 nama tersebut selanjutnya akan diseleksi lagi oleh Tim Seleksi untuk disaring menjadi 10 besar. 10 nama hasil seleksi itu akan diteruskan ke DPR untuk dipilih 5 nama diantaranya menjadi Anggota Bawaslu RI.

Tentang Ahmad Wahib dan Jejak Pergolakannya

Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia.
[Ahmad Wahib, Catatan Harian 9 Oktober 1969]

Menulis tentang seorang tokoh tentulah bukan perkara mudah. Butuh pengetahuan yang cukup, kecermatan dan kegigihan untuk menuliskannya. Terutama bila sang tokoh tersebut adalah seorang pejuang, pemimpin panutan yang melintasi banyak zaman ataukah seorang pemikir yang gagasan-gagasannya menjadi kontroversial, digugat, dihujat di sana-sini. Lebih-lebih bila, ketokohannya tersebut sudah mendekati mitos. Bisa dibayangkan bagaimana rumitnya. Beruntunglah karena tokoh yang hendak saya tuliskan ini belum sampai dimitoskan oleh orang-orang. Dan beruntungnya lagi, karena ketokohannnya juga sudah banyak dituliskan, dibicarakan oleh orang-orang; sejarah hidupnya, aktivitas-aktivitasnya sampai pada pikiran-pikirannya semasa hidup. Sehingga saya banyak terbantu karena itu.

Ahmad Wahib, demikianlah namanya. Nama ini barangkali sudah tidak asing lagi terdengar. Terutama bagi mereka yang senang dengan wacana-wacana seperti kebebasan berpikir, islam liberal, pluralisme dan wacana-wacana lainnya yang sering dituduh sesat oleh kelompok-kelompok tertentu. Namanya sering dibicarakan, pemikirannya kerap jadi kutipan, gagasannya menjadi bahan perbincangan dan kegelisahannya yang khas dalam menempuh jalan kebenaran banyak dijadikan model oleh anak-anak muda Islam. Karena itulah saya menjadi tertarik untuk membaca dan menuliskan pikiran-pikirannya.

Boleh dibilang saya adalah termasuk salah satu orang yang amat terlambat mengenal dan membaca pikiran-pikirannya. Beberapa kawan sekampus saya, jauh ketika masih sekolah dulu gagasan dan pikiran-pikiran dari Ahmad Wahib sudah dibacanya. Makanya, ketika diskusi di ruang kelas atau di diskusi-diskusi pelataran yang biasa kami ikuti mereka-mereka jauh lebih vokal berdebat. Dan tentu saja itu membuat saya menjadi cemburu, rasa-rasanya saya ingin juga seperti mereka. Seingat saya, pertama kali nama Wahib kudengar disebut-sebut adalah ketika saya duduk di semester awal perkuliahan beberapa waktu lalu. Waktu itu, dengan maksud untuk sekedar iseng-isengan dan mengisi waktu lowong—hitung-hitung dapat makan gratis—saya ikut ajakan seorang kawan untuk mengikuti pelatihan dasar dari salah satu organisasi mahasiswa, katanya pelatihan untuk perekrutan kader baru. Saat mengikuti perkaderan itulah saya untuk pertama kali mendengar nama dan gagasan-gagasannya disebut-sebut. Sebenarnya bukan hanya nama Ahmad Wahib yang seringkali disebut-sebut, nama-nama seperti Ali Syariati, Karl Marx, Nietzsche, Imam Khomenei, Plato, Sokrates, Aristoteles, Rene Descartes, Ayatullah Murtadha Muthahhari, Ibn Khaldun, Al Farabi, Mulla Sadra, Tjokroaminoto, Cak Nur, Gusdur, Dawam Rahardjo, Djohan Efendy termasuk Soe Hok Gie seringkali disebut-sebut di pelatihan itu. Walaupun jujur, sampai sekarang banyak dari nama-nama itu belum kukenali dengan betul, baik aktivitasnya ketika hidup maupun gagasan-gagasannya.

Sejak saat itulah saya mulai tertarik dengan sosok dan pikiran-pikirannya, bukan karena pemikirannya linear dengan disiplin akademik saya di kampus atau karena kebetulan saya salah satu kader di organisasi yang pernah digelutinya juga, tetapi karena ada banyak gagasannya yang terdengar canggih untuk ukuran pengetahuan saya dan itu tentu penting untuk mengangkat level pergaulan saya di lingkungan kampus. Semangat itulah yang menjadi motivasi awal saya untuk membaca dan mengenal pemikirannya. Yah, sekedar untuk keren-kerenan dan dibilang intelek. Tapi itu dulu, kira-kira 2 atau 3 tahun yang lalu, saya sudah lupa tepatnya.

Itu perkenalan awal, dan ternyata perkenalan itu membawa efek yang cukup besar pada kebiasaan sehari-hari saya. Dari yang sebelumnya penikmat hidup hura-hura, foya-foya dan gaya hidup hedon lainnya menjadi sedikit lebih ideologis dengan warna-warna islamis di sana-sini. Walaupun harus kuakui bahwa waktu itu (bahkan sampai sekarang) warna-warna itu hanya tampakan luarnya saja. Seingat saya, setelah pelatihan itu, saya menjadi kegandrungan untuk memborong banyak buku, beasiswa yang kuterima setiap bulannya hampir 80 % habis untuk belanja buku-buku. Terutama buku-buku yang ditulis oleh nama-nama yang sering disebut-sebut tadi. Entah kenapa saya menjadi jatuh cinta pada buku dan tergila-gila pada kerja-kerja intelektual. Sampai-sampai saya harus merelakan diri untuk tidak lagi ngekos dan memilih hidup nomaden, berpindah-pindah dari sekret ke sekret, dari kos teman ke kos teman yang lainnya, demi untuk mengurangi biaya hidup. Tapi, harus kuakui bahwa tidak semua dari buku-buku itu telah tamat kubaca, banyak diantaranya hanya menjadi pajangan atau tumpukan koleksi dan beberapa kupinjamkan keteman. Sampai saat ini buku-buku tersebut banyak berserakan, di sekret-sekret yang sering kutinggali, kos teman, dan sebagiannya lagi di kontrakan saudara perempuan saya.

Kembali ke maksud awal dari tulisan ini. Ahmad Wahib, siapa yang tak mengenalnya. Sosok yang menjadikan kebebasan berpikir sebagai basis keberimanannya dan Tuhan sebagai dasar dan arah berpikirnya. Pemikir bebas itu telah pergi 43 tahun lalu (tepatnya 31 Maret 1973), hampir 31 tahun setelah kedatangannya (9 Nopember 1942). Dalam pencariannya yang penuh haru untuk menemukan Tuhan, akhirnya ia dipanggil oleh-Nya dengan segera, tanpa disengaja saat sebuah sepeda motor berkecepatan tinggi menabraknya di depan kantor majalah Tempo, tempat di mana ia bekerja sebagai calon reporter. Wahib, hidupnya mungkin tidak terlalu berwarna, atau penuh kejutan, petualangan, dan kisah-kisah perjuangan yang heroik dan dramatis. Dia menjadi menarik justru karena dia jauh dari warna-warna itu. Pikirannya, prinsipnya, konsistennya, toleransinya dan teguh pendiriannya menjadi warna yang melekat padanya. Dalam hidupnya yang sangat pendek, dia mewariskan banyak pelajaran, dibalik pribadinya yang santun, pendiam, ada kegigihan seorang yang mempertahankan sikap. Sungguh sebuah keteladan yang jarang kita temukan kini.

Kepada kita, Wahib mewariskan sekumpulan catatan harian yang kemudian dibukukan dengan judul menggugah, Pergolakan Pemikiran Islam (LP3ES, 1981). Apa yang digambarkan dalam buku itu sebenarnya lebih merupakan pergolakan batin seorang anak muda islam yang selalu gelisah; gelisah karena menyaksikan laku penganut agama, dan terutama gelisah sebagai seorang manusia yang rindu akan kebenaran, kedamaian, dan ketercerahan. Sebagai seorang aktivis mahasiswa, pemikir, dan seorang yang setia menekuni catatan harian—sama seperti Soe Hok Gie, Rachel Corrie—yang melalui catatan itu mereka memberikan komentar di hampir setiap peristiwa dari persoalan agama, filsafat, soal-soal kemanusiaan sampai perkara politik. Sayang, dia mengalami nasib, yang bagi orang-orang menyebutnya tragis, yakni mati muda.

Di catatan-catatan hariannya tersebut Wahib menceritrakan pergulatan-pergulatannya akan realitas sosial, pandangan-pandangannya tentang pluralitas agama dan banyak hal lainnya. Lewat catatan hariannya yang kontroversial inilah, Wahib banyak mencetuskan gagasan-gagasan menarik yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan di Indonesia. Mengkaji lebih dalam tentang pemikirannya maka kita akan mengetahui bahwa wahib adalah salah satu pembaharu pemikiran islam. Salah satu intisari pemikiran Wahib dalam pembaruan pemikiran Islam adalah wacana kebebasan beragama dan berkeyakinan. Wahib memiliki jawaban kuat mengapa sebagian umat Islam tidak toleran terhadap agama lain. Itu karena, menurut Wahib, kita tidak memiliki kedewasaan beragama ketika berinteraksi dengan kelompok agama lain. Yang terjadi justru tindakan diskriminatif serta sikap intoleran atau sikap ketidakberterimaan kita terhadap perbedaan-perbedaan.

Dalam hal pluralisme agama, Wahib menyuarakan pentingnya menumbuhkan inklusivitas agama—suatu komitmen yang secara terbuka menerima agama-agama lain—. Secara prinsipil, apa yang dikemukakan oleh Wahib tak jauh berbeda dengan pandangan Cak Nur, Gus Dur yang juga sama-sama menekankan pluralisme dalam bertindak dan berpikir. Inilah menurutnya yang melahirkan toleransi. Baginya, sikap toleran tidak bergantung pada tingginya tingkat pendidikan formal atau pun kepintaran pemikiran secara alamiah, tetapi merupakan persoalan hati dan perilaku.

Kira-kira itulah yang dimaksudkan oleh Wahib ketika menulis “Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan budha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut Muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia.” Sebuah pernyataan bijak dalam menyikapi segala bentuk perbedaan.

Banyak hal yang ditinggalkan Wahib, sebagian besar belum selesai, untuk kita pikirkan dan tanyakan kembali. Sumbangan Wahib paling berharga adalah pada pertanyaan-pertanyaannya, pernyataan-pernyaannya yang diliputi semangat dan spirit yang gigih dalam mencari Kebenaran. Itulah yang perlu kita renungkan. Lepas dari semua itu, kita sebagai generasi muda sudah seharusnya sadar. Apa yang sudah kita hasilkan sampai saat ini. Jangan-jangan benar apa yang dikatakan Soe Hok Gie—tokoh mahasiswa yang segenerasi dengan Wahib—bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua. Poinnya adalah untuk apa hidup menua tapi tidak menghasilkan apa-apa.

Pada intinya, pergulatan Wahib yang tanpa lelah mengingatkan kita akan satu prinsip hidup mahapenting yaitu kejujuran atau keadilan—meminjam Pram dalam bukunya; Bumi Manusia—sejak dalam pikiran. Wahib sendiri telah mengamalkannya secara konsisten lewat praktek berpikir bebasnya. Dia tidak mau menjadi munafik, seolah-olah paling suci, paling benar dan semacamnya. Dia memilih berontak dari pakem semacam itu. Wahib benci pada pikiran-pikiran munafik, yaitu pikiran-pikiran yang tidak berani memikirkan yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran-pikiran yang pura-pura tidak tahu akan pikirannya sendiri. Sebab, hanya dengan kejujuran, dengan berpikir bebas, kita akan menemukan diri kita yang sebenarnya, menjadi manusia yang seutuhnya.

Ada begitu banyak gagasan Wahib yang terhadapnya barangkali kita hanya bisa menganggukkan kepala. Bukan karena kita setuju sepenuhnya tetapi, sebagai penghormatan atas gagasannya tersebut. Karena dari sekian banyak gagasannya tentu ada beberapa yang mungkin saja kita setujui tetapi ada pula yang tidak. Alasannya sederhana, karena setuju sepenuhnya dengan gagasannya adalah berarti bertentangan dengan prinsip relativitas kebenaran manusia yang didengungkan sendiri oleh Wahib. Terakhir mengapa penting untuk kita kembali membaca gagasan Wahib adalah agar supaya kelak lahir para anak-anak ideologis dari Wahib. Wahib boleh meninggal, tapi pikiran-pikirannya, gagasan serta pergolakannya, mudah-mudahan akan terus hidup dan mengabadi melintasi banyak zaman.[]

YRM. Yunasri Ridhoh
Ketua Umum HMI MPO Kom. FEIS UNM Periode 2014-2015

Menarik Etos “Lafran Pane”

Pada awal-awal tahun 1947, Bang Lafran Pane (sapaan akrabnya saat itu) mahasiswa tingkat I pada Sekolah tinggi Islam (STI) mulai menulari gagasan-gagasan visionernya pada rekan-rekan sekuliahnya, gagasan yang terbilang langka, sebab di umur kemahasiswaan yang masih belia, ia telah berfikir tua. Siapa sangka dibalik tubuhnya yang ringkih, kerdil sekaligus dekil ini, tergagas selaksa konsep besar dalam nalarnya. sebuah “poros baru” untuk dunia kemahasiswaan.

Lahir pada tanggal 5 Februari 1922 di padang sidempuan, kecamatan sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.[2] Lafran kecil adalah sosok yang rendah diri sekaligus penyendiri. Pikirannya tertutup dan menjadi sangat sulit dipahami bahkan oleh ayahnya sekalipun. Sifatnya itu meng-ada dimulai saat ibu kandungnya meninggal di usianya yang masih dalam buaian. Lafran dipaksa berfikir sendiri-mandiri disaat serbuan perilaku anak-anak dipenuhi hangatan orang tua. Ia tumbuh dari hasil rawatan akal mandirinya. Lafran membesar, bekas kerasnya suasana penjajahan yang menikam dan sarat eksploitasi. Meski demikian, Lafran kecil tetap bersyukur, ia tetap rutin menghamba ilmu dari wejangan-wejangan agama tradisional asal gurunya kala itu, mengajarinya “sifat dua puluh” ditambah, yang dalam bahasa tapanuli disebut “Alif-Alif” sebelum benar-benar masuk kedalam dunia pendidikan formal[3] yang membuatnya cukup “gila” dalam mencari Tuhan setelahnya. Sosoknya sebagai anak kampung membuatnya berang dengan ketertindasan, dipenuhi agresifitas, sedikit jenaka, bengal dan tentunya sangat analitik. Lafran tumbuh menjadi sangat bersemangat.

Lafran Besar adalah si keras kepala, kepalanya memang lunak tapi isinya bait-bait revolusi. Apa yang dikehendaki, sebisanya ia penuhi. selagi masih waktu bernyanyi ia langsung tancap, lahap, dan menghabisi tugas yang telah ia rancangi sendiri. Lafran cukup buas dalam pemikiran dan tindakan, bahkan pada keyakinan dan impian-impian ia telah menjadi sangat bebal, sangat keras kepala dan sekaligus juga sangat bersemangat, ia jelas melampaui Zaman dan rekannya. Pada usianya yang relatif muda, pada saat-saat mahasiswa sebayanya berpesta pora, bermain wanita dan gandrung dengan kesenangan relatif-imitatif. Ia sangat berbeda, berfikir tentang ke-universal-an, religiustik dan antusias dalam kemerdekaan. Pesonanya pada nasionalisme, membuatnya aktif dalam medan bela Negara, mengangkat bedil-bedil senapan demi mengusir ulang penjajah dari bumi nusantara. Lafran juga dikenal sebagai figur yang “berontak”, dahulu pada kejadian yang mengusik kaum proletariat nalarnya teriak. Ia meladeni perkara kemanusiaan dengan akalnya bukan dengan nafsunya. Ia singkatnya salah seorang tokoh gerakan yang paling berisik di zamannya.

Perjalanan hidup sang Lafran bagai ombak besar di lautan, menggulung lalu terhempas dan kadang surut tak menentu. Narasinya menuai beragam dinamika dan fluktuasi. Malang melintang sampai akhirnya tersungkur di Batavia akibat ajakan abangnya, Armijn pane dan Sanusi Pane.[4] Sempat bekerja di instansi pemerintahan, sebelum akhirnya memilih bersekolah. Dalam ruang kampus, Dijejalinya ruh kemahasiswaan dengan “sadarnya”. dari sanalah horizon budinya menuai tempat dan ia-setelahnya, mulai berfikir berkemajuan. Sebuah medium baru bagi pemikiran kritis Lafran Pane yang kelak menggiringnya pada perenungan esensial perihal Himpunan Mahasiswa Islam.

HMI dan Etos Lafran Pane.

HMI didirkan pada 5 Februari 1947, tanggal yang seumur dengan kelahiran beliau, ayahanda Lafran Pane. Pada mulanya, sang Lafran berkelindan asa yang menggurat di atas nadinya, Ia sedang gusar. ditengoknya kondisi kekampusan yang politis-polarisatis akibat implementasi system pendidikan berciri komunis yang buatnya geram dan sedikit pitam. Apalagi etik kebatinan (spiritual) pada mahasiswa muslim kalanya yang sedikit meredup, memuai dan menjadi anomali akibat serangan budaya hegemonik yang menggeliat, semakin mengubah gumamnya menjadi teriak. Akhirnya, nalarnya memerah, berkecamuk, dan lalu terbakar. Dimanfaatkannya jam perkuliahan tafsir hadits kala itu, lalu mengumumkan pendirian orgnasasi Islam pertama bersama belasan rekan-rekannya. Maka setelah itu, HMI lahir meliihat dunia.

Dalam usahanya membesarkan HMI Lafran pane adalah sosok yang paling dihormati, bukan saja sebab ia sang pendiri tapi juga karena ia tungku kebaikan. Lafran memperlihatkan kegemukan berfikirnya. Dalam masa-masa dimana HMI mendapatkan lawan, ia tetap rasionalis, mempertahankan independensi oraganisasi yang dibuat dengan akalnya. Musuh tidak lantas dijauhi, ia tetap membangun garis kemanusiaan yang disebutnya universal dalam diri setiap ciptaan. Baginnya, doktrin ideologi sajalah yang beda, lebihnya kemanusiaan tetaplah satu-seragaman-universal.

Akibat optimismenya, Lafran terlihat cekatan dalam membangun pilar-pilar keHMIan. Ia yang mandiri, menonjol pada pendirian, teguh dalam berkeinginan dan cita-cita, adalah kekayaan shopia Lafran dalam membangun peradaban KeHMIan di awal-awal karirnya. Terbukti dalam sejarah, militansi lafran sangatlah mengental, berbagai usaha mengembang-besarkan HMI dia lakoninya dengan penuh mental. Bahkan dalam kumpulan-kumpulan tulisannya, ia kerap menyebut HMI sebagai alat perjuangan ummat Islam, yang menurutnya harus dibina dan dikembangkan dengan penuh kesungguhan, teratur dan terencana.[5] Sosoknya yang keras kepala sedari remaja, menghantarnya berkemauan kuat dan tidak gampang menyerah. Lafran kemudian menghayal, dan pada suatu masa Lafran memuncaki angannya, angan akan kemaha-besaran organisasi penyambung “lidah rakyat” dengan “perut penguasa” tersebut. Lafran dalam harapnya, mengingini HMI bukan saja sekedar perhimpunan mahasiswa Islam namun juga katalisator bagi harapan masyarakat Indonesia seluruhnya.

Etos lafran tak lantas bermuara dini, pada fase-fase perkembangan HMI selanjutnya, ia tetap memainkan senar. Meski beliau tak lagi dalam lingkaran struktural, Lafran tetap andil hampir dalam semua bentuk kegiatan, sebut saja dalam pembentukan cabang baru di sekitarnya. Lafran bersama para kawan dan puluhan kader juniornya bergerak ke berbagai wilayah membangun jejaring-jejaring baru yang lebih luas dari sebelumnya. Di suasana heroik kala itu, lafran tetap merajut asa, dihabisinya soal-soal pelik pelilit jalannya merintis cabang dengan penuh cinta. Semangatnya yang tak pernah pudar, menggiringnya pada keberhasilan HMI di zaman-zaman berikutnya. Terbukti, akibat etosnya yang menggurita, Lafran kini menuai hasil mengesankan, kadernya hampir mengisi semua pos-pos kerja yang ada, dan yang lebih hebat, sebahagian besar fase-fase perkembangan bangsa Indonesia didesain oleh kader-kader aktif Himpunan Mahasiswa Islam. Sang Lafran dalam sejarahnya, menghikmahi, ulet, totalitas dan tentunya lumbung cinta.

Cinta Lafran tak berakhir sampai disitu, Lafran Tua, dalam usaianya yang menua, tetap menengok HMI. Meski pensiunan HMI ini lebih sering berdiam diri di rumah namun Lafran Pane tetap mengikuti geliat HMI, mengintip dari sela-sela ubin jendela. Dan bila Kongres, atau semisal acara HMI lainnya, diundang atau bahkan tidak, jika beliau sehat serta berkesempatan Lafran Pane biasa hadir dan agak awal dari lainnya.[6]

Militansi lafran sekaligus lafran itu sendiri. Telah meniscaya dan menjadi penanda keber-ada-annya. Dia tetap ada sampai waktu menutup usianya. sang Lafran tegasnya, adalah sesempurna pribadi etik namun penuh etos juangan. Tak heran jika tokoh semisal yudi latif menaruh hormat dan mulai “angkat topi” padanya. Lafran menurutnya, layak diklaim sebagai generasi ketiga intelegensia muslim Indonesia yang disejajarkan dengan Tjokroaminoto, Agus Salim, M. Natsir, M. Roem, Kasman Singodimedjo, Nurcholis Madjid, dan Djohan Effendi. Sebagai generasi pertama, kedua dan keempat.[7]

Tulisan ini tepatnya mengandung unsur provokatif, memakasa dan tentunya menyadarkan. Darinya penulis melambungkan harap, kelak aksi-aksi keHMIan berikutnya menjadi penuh semangat dan progresif, lantang sekaligus massiv, militan dan tentunya penuh cinta. Semoga pembaca terprovokasi oleh sirah etosnya Lafran Pane, lalu menyekar sari-sari perjuangan beliau di tengah gelombang krisis juang yang membanjiri pemikiran ribuan kader di nusantara. Semoga bermanfaat.! Salam Hijau Hitam.! Yakin Usaha Sampai.!

Akbar A

Penulis adalah Ketua Umum HMI Cabang Palopo Periode 2014-2015

 

Rujukan:

[1]http://m.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/15/12/17/nzhq4716-dimensidimensi-lafran-pane/

[1]http://axlnejad.wordpress.com/2014/08/20/riwayat-hidup-tokoh-hmi-prof-drs-lafran-pane/

[3]Hariko wibawa satria, Lafran pane; jejak hikayat dan pemikirannya ; lingkar,Cet.II. februari 2011.

[4] http://axlnejad.wordpress.com/2014/08/20/riwayat-hidup-tokoh-hmi-prof-drs-lafran-pane/

[5] Ibid.

[6] Yudi latif, Intelegensia Muslim Dan Kuasa: geneologi intelegnsia muslim Indonesia abad ke-20, hal. 502.