Sejumlah Pakar dan Peneliti Hadiri LK2 HMI Yogya

Suasana LK2 HMI MPO Yogyakarta
Suasana LK2 HMI MPO Yogyakarta

HMINEWS.Com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) Cabang Yogyakarta menggelar Latihan Kader 2 (LK2) atau intermediate training. Acara ini diselenggarakan di Pesantren Darul Ulum Potorono, Bantul, mulai Selasa (13/10/2015).

Pelaksana atau panitia LK2 ini adalah HMI Komisariat FE UII, dengan ketua panitianya Abdullah Rosyid Wicaksono. Sedangkan peserta berjumlah 46 kader.

Menurut pemandunya, sejumlah pemateri yang telah mengisi LK2 ini di antaranya ada Suwarsono Muhammad (mantan Penasehat KPK) yang menyampaikan materi Integrasi Ekonomi; ada Al Makin, M.Phil (dosen UIN Yogya) yang menyampaikan materi Struktur Masyarakat Modern; serta Ki Herman Sinung Janutama (Peneliti Balai Kajian Sejarah Kebudayaan Islam di Nusantara), yang memaparkan “Ekonomi Kelautan Sebagai Identitas Kebangsaan.”

Untuk Herman Sinung, berbicara soal Jalur Sutra Laut, yang merupakan jalur pelayaran dan perniagaan dunia yang di dalamnya bangsa Nusantara dahulu mengambil peran.

“Menurut sejarawan China, Chu Ku Fei pada 1178 M yang mencatat tiga negeri terkaya di dunia yaitu Ta Ce (Aceh) dan Sanfotsi di Swarnabhumi (Sumatra) dan Chopo (Jawa),” paparnya.

Selain itu ada fakta kekinian yang menunjukkan mengapa perekonomian kelautan kita tidak berkembang, karena kapal-kapal banyak yang tidak terkena pajak di Indonesia. Dan itu menurutnya terjadi karena beberapa negara yang telah mengatur bagaimana pajak-pajak itu tidak dipungut di kelautan di Indonesia.

“Kita sering menggunakan teori-teori barat untuk mengenali budaya kita, sedangkan kita sebenarnya memiliki peninggalan-peninggalan penting di Indonesia, melalui artefak2 candi, dan lain-lain” ungkapnya.

Nah dari sini ia juga meneliti bahwa Nusantara ini adalah budaya yang unggul dengan meneliti dari beberapa artefak langsung.

Sabil, HMI MPO Farmasi UII

Kekerasan Budaya Pasca 65 dan Manuver Kapitalisme Global

HMINEWS.Com – Peristiwa G30 September atau lebih tepatnya seperti yang disebut oleh Bung Karno sebagai Gerakan Satu Oktober (Gestok) 65, berlanjut dengan tragedi kemanusiaan di Indonesia. Ada hal lain dari segi budaya yang memungkinkan kekerasan tersebut mendapat pembenarannya dan terus berlanjut selama Orde Baru, bahkan hingga kini. Siapa di balik kekerasan budaya itu?

Budayawan Kapitalis Di Balik Kekerasan Budaya Pasca 65

Hal inilah yang diungkap oleh Dr Wijaya Herlambang dalam disertasinya di Universitas Queensland Australia berjudul “Kekerasan Budaya Pasca 1965” yang dibedah dalam diskusi publik Lembaga Seni Budaya NU (Lesbumi NU) di Gedung PB NU, Kramat Raya Jakarta Pusat, Senin (5/10/2015).

Ternyata kelompok di balik kekerasan budaya tersebut justru kelompoknya Goenawan Mohamad dan Mochtar Lubis yang dekat dengan CIA. Meskipun waktu itu keduanya sama-sama terlibat dalam pembentukan Manifesto Kebudayaan bersama tokoh-tokoh Islam seperti Taufiq Ismail, namun semangatnya berbeda. Keduanya mewakili kepentingan kapitalisme Barat, yang pada saat yang bersamaan sedang gencar-gencarnya memerangi komunisme. Maka ketika komunisme telah hancur, kapitalisme global dengan mudah menghancurkan ekonomi kita dan kebudayaan kita.

“Kritik saya buat dia (Gunawan Mohamad), dia adalah tokoh yang paling akhir, paling senior yang mewarisi tradisi barat. Yang awal-awal membangun jaringan dengan kapitalisme barat adalah Mochtar Lubis. Awalnya semangat anti komunisme. Kemudian tergelincir. Ternyata mereka dekat dengan CIA, jaringan intelejen Amerika itu,” kata Wijaya Herlambang.

Begitu masifnya agen-agen menyebarkan faham / gagasan anti komunis dan dengan gampang melabeli orang-orang kritis dengan sebutan komunis atau PKI.

“Karena begitu semangatnya tokoh-tokoh kebudayaan kita waktu itu memerangi komunisme, saya melihatnya wajar, meskipun terdapat pertentangan. Seperti pertentangan Taufik Ismail dengan Gunawan M, dahulu bekerjasama karena musuhya satu; komunisme, lekra,” lanjutnya.

Pada saat seperti itulah konflik fisik terjadi. Di banyak tempat. Tapi yang jelas kolaborasi antara para penulis liberal dengan penulis Islam untuk melawan komunisme didukung penuh CCR, karena dilihat sebaagai potensi menghancurkan komnunisme di Indonesia. Ini sebagai selubung perang dingin. Perang kelompok liberal dengan Manikebu adalah bagian perang kebudayaan.

“Ketika Suharto naik, kemudian investasi asing, khususnya Amerika, dibuka lebar-lebar di sini. Akhirnya semua dikeruk. Tak ada satupun sumberdaya kita yang tidak dipegang oleh asing. Melalui bantuan-bantuan Bank Dunia, IMF, itu . kita berutang kepada mereka turun-temurun.”

“Saya menemukan data valid yang tidak bisa dibantah. Surat-surat Goenawan Mohamad, Mochtar Lubis, .. masih bisa dilihat di TIM. Bagaimana hubungan CIA, Mochtar Lubis dan Yayasan Obor. Ada review dari David Hill, penulis biografi Mochtar Lubis. Yang awalnya begitu dekat dengan Mochtar, akhirnya Mochtar marah karena disinggung hubungannya dengan CIA.

Sementara dalam pandangan saya dan David Hill pun bertentangan, walaupun sama2 meneliti tradisi liberalisme itu, dan David Hill meneliti ML, saya meneliti GM, ada yg sangat bertentangan.

“Gunawan Mohammad bukan orang kiri, dia kanan super. Kanan Kapitalis. Bertentangan dengan bapaknya yang di Digul. Deket sekali dengan Amerika.

Belakangan juga diketahui ada bantuan dana dari George Soros untuk GM dan Kelompok Utan Kayu. Ini konspirasi intelektual. Jaringan-jaringan inilah yang berperan sangat besar dalam mempengaruhi dinamika kebudayaan dan politik di Indonesi. Amerika menginviltrasi kita dalam rangka persaingan dengan soviet. Melalui ekonomi, politik, militer.

Tanggapan Ki Agus Sunyoto. Trik dan inviltrasi Pesindo/ PSI.

Menurut penelitian Agus Sunyoto, dalam berbagai pemberontakannya, PKI justru ditunggangi oleh kalangan ‘PKI Siluman’, sedangkan yang menjadi korban hanya pengikut yang kebanyakan tak tahu apa-apa. Mereka memang dikorbankan oleh segelintir elit, yang apabila upaya itu berhasil maka merekalah yang tampil, sebaliknya jika gagal, cukuplah para korban itu sebagai kambing hitam.

Agus Sunyoto yang sewaktu menjadi wartawan Jawa Pos pernah menulis buku “Lubang-lubang Pembantaian, Petualangan PKI di Madiun” itu mengingatkan bahwa Tan Malaka pernah mengatakan, Alimin dan Muso itu hanyalah avonturis. Maka pemberontakan 1928 dan Madiun 1948 membuat generasi komunis Indonesia pada masing-masing periode itu hilang, musnah.

Begitu pun pada pemberontakan 1965. Namun yang kemudian dibunuh lebih banyak anggota atau simpatisan PKI yang relatif baru bergabung, pada periode 60-an, sedangkan tokoh-tokoh lamanya telah menduduki jabatan strategis, mereka selamat. Anggota ataupun simpatisan awam itu kembali ditunggangi dan dikorbankan.

Di madiun jumlah pelaku ini tanggal 18 september ini ada 1500 orang, 700-nya ada tentara terlatihnya Pesindo yang disusupkan. Tapi tidak ditulis. Bahkan ada tokoh Pesindo seorang mayor jenderal karena dia KNIL, dia dihapus dari sejarah. Baca tulisan Harry A Poeze, “PKI Bergerak.”

Bahwa yg merancang pemberontakan PKI 48 memang ada , dan Muso tahu, data dikasih oleh Muso ke Bung Karno. Akhirnya sama Pesindo, Muso diseret dan dihukum mati. Bagaimana Muso dieksekusi dihukum mati. Ada peran Mayjen Joko Suyono (non-muslim). Muso ini korban. Alimin juga.

Itu sebabnya pada peristiwa 48, BK perintahkan semua tokoh yg tertangkap ditembak tanpa diadili. Tapi begitu Alimin yg tertangkap, dibilang dia tokoh komunis internasional. Akibat ini, generasi komunis 48 habis. (Alimin orang PSI yang menyusup ke komunis. PSI dalang semua pemberontakan PKI).

Pemberontakan Permesta, bekas KNIL semua. Tahun 65 sama, pelaku2 disitu orang-orang 48 semua. Memang ada kesengajaan dari kapitalisme global tertama belanda untuk melindungi kapitalisme siluman ini.

Karena belanda tahu, coba baca memoarnya Adam Malik. Belanda sampai kiamat nggak akan mau berunding dengan Sukarno, belanda hanya mau berunding dengan orang-orang didikannya. Dalam perudingan Linggarjati, Roem Royen, Renville yang membuat luas indonesia tinggal Jogja, Surakarta dan Madiun. Itu sebabnya Muso datang dari Moskow.

Tokoh-tokoh KNIL dan PSI yang berontak di Madiun itu dikejar PNI, masuk wilayah belanda di Purwodadi. Bagaimana belanda yang katanya anti komunis menerima mereka itu? Tidak lepas dari skenario belanda lewat orang-orang KNIL itu, orang sosialis.

Agus Sunyoto juga menyangsikan jumlah korban yang menurutnya terlalu dibesar-besarkan, 3 juta nyawa. “Tahun 95 saya menulis buku ‘Banser dan PKI.’ Saya datang ke pabrik gula yang katanya milik PKI. Tanya saja data orang PKI, ternyata tidak banyak. Di sebuah desa juga ada 5 ribu penduduk, berapa orang yang mati? Cuma Pak ini dan pak itu, Oo… 3 juta data dari mana?.

Rekonsiliasi

Agus Sunyoto mengatakan sudah terlambat 50 tahun lebih baru rekonsiliasi. Mengapa? karena begitu tahun 65 selesai, janda dan anak yatim itu banyak. Saya ambil contoh ketua Ansor Kabupaten Blitar, mengambil 30 yatim anak orang PKI, disekolahkan dengan atas nama Abdurokhmin, bukan atas nama orangtuanya. Hingga sampai mereka menjadi pegawai negeri. Inilah bentuk rekonsiliasi dari umat islam. Ini kejadian di Blitar dan bisa dilacak di lapangan.

Di Kediri ada desa Trisula yang 100 persen PKI, banyak orang diambil dan tidak kembali. Bagi penduduk desa, kalau keluarganya itu hilang atau dianggap mati, itu harus ada selamatan, karena mereka yakin, orang mati yang tidak dislameti itu menyakitkan bagi yang mati. Tapi mereka tidak berani slametan karena ketakutan tuduhan sebagai PKI itu. Akhirnya orang sebelah desa (kelompok Islam), mendatangi mereka dan mengadakan slametan untuk orang-orang yang hilang tersebut.

Sampai 97 ketika dibuka ranting NU di sana, ketua PCNU kediri tidak berani datang. Ini saya laporkan ke Gus Dur, akhirnya Gus Isom aja yang datang. Model-model rekonsiliasi itu sudah lama dilakukan NU. Malah yang dilakukan pemerintah kontra produktif.

Semua anak2 PKI tidak bisa menjadi pegawai negeri, tentara, dan lain-lain. Banyak orang tersangkut karena keluarganya PKI. Itu kekerasan lain itu. Memang faktanya begitu. NU tidak pernah melakukannya dari awal. Karena tuntunanya agama.

Ada peristiwa Ansor di Kediri, ini ketuanya adalah Pak Abdul Wahid santrinya pak Wahab Hasbullah. Ketika operasi penumpasan PKI, sebagai orang setempat, Pak Wahid tahu, agar tidak semua orang PKI diambil. Disitulah dia membawa anak-anak Ansor agar turun ke jalan menempeli rumah-rumah orang PKI dengan stiker NU agar selamat. Itu yang sempat masuk loporan jurnal. Itu yg terjadi di lapangan. NU sejak awal sudah rekonsiliasi.

Kita khawatir tuntutan rekonsiliasi yang sekarang ini, pemerintah minta maaf, ujung-ujungnya, akhirnya minta ganti rugi, duitnya hanya bisa diambil orang-orang tertentu. Tanya aja orang-orang Rawa Gede (korban pembataian Belanda yang kemudian mendapat dana) berapa dapatnya? Recehan.

Pandangan Taufiq Ismail

Saya berpikir, istilah kekerasan budaya. Betul, betul terjadi yang seperti ini. 15 tahun lalu saya sampai pada sebuah ide, para pendukung kebudayaan Lekra. Saya menyatakan kita harus berdamai. Kok bisa terjadi kita bisa dikecol oleh Marx, Engel, yang kulit putih itu. Kita harus berdamai.

Bagaimana kalau ketemu tokoh-tokoh Lekra dengan tokoh-tokoh manifesto kebudayaan. Selama ini hanya melalui surat kabar. Mahasiswa UI memprakarsai Bagaimana kalau ketemu, berdebat di hadapan kami. Setuju.

Begitu Pram ngomong. Terkejut saya. Dia bicara dengan istilah kuno: sama rata sama rasa. Ekonomi rakyat. Pramudya bukan komunis. Dia tidak paham ideologinya itu. Saya tidak rela seorang pengarang besar seperti Pramudya diperalat PKI. Di Lekra tidak ada seniman yang dapat disebut namanya dengan bangga, kecuali tiga orang termasuk Pramudya yang dipancing dengan uang dan diberangkatkan ke luar negeri bersama Utuy Tatang Sontani dan Rivai Amin. Di Lekra itu tidak adaseniman yang punya nama.

Akhirnya Asrul Sani ajak bicara Rivai Amin yang menyatakan menyesal karena salah jalan masuk PKI. Utuy penulis drama yang sangat terkenal. Tapi ekonominya payah. Datang orang PKI kemudian memperbaiki rumahnya dan memberinya uang. Disuruhnya bicara di forum tentang Leninisme dan Marxisme tentang perjuangan sastra. Dengan mudah dipatahkan Ayip Rosidi. Ia pergi ke Soviet dan meninggal di sana.

Kemudian terdengar gagasan rekonsiliasi, itu bagus sekali. Tapi modelnya kenapa Afrika Selatan yang konflik antar ras?. Itu ada hitung-hitungannya ganti rugi. Padahal di Malaysia antara PKM sudah terjadi perdamaian total. Chen Peng mendandatangani perjanjian tersebut dengan pemerintahan Malaysia.

Kita bangsa besar, tapi kalau dilihat dari segi ini, kita tidak besar. Ayo sekarang kita membangun bangsa kita. Bangsa kita sudah makmur. Perdamaian total, bukan rekonsiliasi, tapi di atas rekonsiliasi.

Simpulan

Di zaman ini perang dan dimunculkannya kembali ketakutan terhadap PKI hanyalah untuk mengelabuhi agar bangsa ini agar kapitalisme dapat masuk dengan lebih mudah lagi. Bahkan seperti yang dilakukan oleh kalangan pengusaha China yang ditakutkan membawa ideologi komunis, justru mereka menenteng kapitalisme.

Mereka kini sangat leluasa masuk ke Indonesia dan mendapatkan lahan, berapapun mereka inginkan. Mendikbudpar tahun 2013 mengatakan wisatawan dari China 2,6 juta masuk Indonesia. Dia bilang dengan bangga. 10 persen yang datang ke sini tidak balik ke China, tapi bekerja disini. Mereka bekerja di pabrik-pabriknya orang China itu.Negara China sendiri meminjamkan hutang ke Amerka sebesar triliun USD ke China. Makanya China tak mau Amerika kolaps.

Rumah Budaya Fadli Zon Tambah Koleksi Batu Akik

akik suliki 1
Akik Suliki

HMINEWS.Com – Koleksi Rumah Budaya Fadli Zon di Aie Angek, Tanah Datar, Sumatera Barat, bertambah satu lagi. Koleksi itu berupa “batu akik” yang sedang booming setahun terakhir. Tujuannya, memberi apresiasi atas minat masyarakat Sumatera Barat terhadap batu mulia tersebut.

Manajer Rumah Budaya Fadli Zon, Edin Hadzalic, melalui Siaran Pers Senin (20/4/2015), mengatakan, koleksi batu akik yang dikoleksi itu berasal dari Suliki dan Sungaidareh. Di Sumatera Barat, kedua daerah ini dikenal sebagai produsen batu akik yang gaungnya sampai ke mancanegara.

“Bertambahnya koleksi Rumah Budaya ini juga bermaksud memperkenalkan batu akik Suliki dan Sungaidareh, khususnya bagi tamu-tamu yang berkunjung ke Rumah Budaya,” ujar Edin Hadzalic.

Dia mengatakan, koleksi batu akik Suliki dan Sungaidareh itu, didapatkan langsung dari kedua daerah tersebut. Koleksi yang tersedia di Rumah Budaya berupa batu bongkahan maupun batu yang sudah siap pakai.

“Semoga koleksi batu akik ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang datang ke rumah Budaya dan bisa menjadi bahan promosi pariwisata Sumatera Barat,” harap Edin Hadzalic.

Sementara itu, Direktur Rumah Budaya Fadli Zon, Hj. Elvia Desita mengatakan, Rumah Budaya Fadli Zon diresmikan pada 4 Juni 2011. Salah satu koleksi unggulannya yaitu 100 keris Minangkabau yang dikumpulkan dari berbagai daerah di Sumatera Barat. Keris itu di antaranya Keris Luk Sembilan asal Pagaruyung yang dibuat pada abad ke-18.

Selain keris, ada songket corak Minangkabau tempo dulu, juga ada 700 lebih judul buku bersejarah yang bertema Minang, sejumlah lukisan kuno, termasuk fosil kerbau berusia dua juta tahun dan fosil-fosil kayu yang telah menjadi batu.

“Rumah Budaya telah menjadi salah satu kantong kebudayaan di Ranah Minang yang keberadaannya diharapkan bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya. (rel)

Kecemburuan Sosial, Pembangunan Bekasi yang Tidak Merata

HMINEWS.Com – Sejarawan Bekasi, Ali Anwar, menilai peradaban Bekasi sebelum tahun 1970-an peradaban Bekasi sesungguhnya ada di Utara. Sebelum adanya Kawasan Industri.

“Peradaban Bekasi itu adanya di Utara, lembaga-lembaga pendidikan itu ada di Utara, orang mencari kerja itu di Utara sebagai petani,” kata Sejarawan Bekasi Ali Anwar, Rabu (1/4/15).

Nah, di Selatan itu kan cenderung di perkebunan, karena di Selatan kehidupan sedikit. Lahannya luas, tapi pekerjanya sedikit. Sedangkan di Utara itu banyak penduduk, kalau kita mengacu kepada peta dari tahun 1970-an sampai awal 1990 itu kelihatan betul perkampungan itu adanya di Utara.

Tiba-tiba ada Industri yang justru memberikan limbah ke utara, dampaknya membuat mereka tidak dapat mencari mata pencaharian disitu.  Selain itu, lanjut dia, untuk mencuci mereka sudah tidak bisa lagi, karena sungai sudah tercemar. Kata dia, seiring perkembangan zaman perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi juga beralih kepusat kota.

“Perhatian Pemkab hanya ke pusat kota, yakni di Cikarang, Tambun, dan Lemah Abang, dan akhirnya wilayah utara pun tertinggal,” bebernya.

Dalam kondisi ketertinggalan ini, sambung dia, ditambah perhatian yang lemah, infrastruktur yang sedikit, SDM yang rendah, akhirnya terjadilah kecemburuan sosial.

“Jadi sangat wajar jika ada kecemburuan sosial, karena peradaban itu ada di Utara kemudian beralih ke Selatan, itu wajar jika mereka cemburu. Kalau Pemkab mau mensejahterakan masyarakat, sejahterahkan dulu yang paling bawah,” ujarnya.

Sebelum kita merdeka, terang dia, kita masih dijajah, yang disejahterakan itu kan level atas atau Selatan, sementara yang mayoritasnya justru diabaikan bahkan dieksploitasi. Begitu kita merdeka sudah jelas-jelas dalam Pacasila dan UUD 1945 semua itu rakyat. Jadi seharusnya pola pikirnya yang paling pertama yang diutamakan itu lapisan paling bawah.

“Orang miskin masuk Rumah Sakit, gak punya duit itu yang diutamakan, orang yang sudah kaya gak perlu lah, mereka sudah bisa mandiri. Nah, orang miskin naik ojek saja susah,” tegasnya.

Termasuk infrastruktur seharusnya dibangun daerah yang terjauh dulu, kata dia, jadi pada saat mereka mengirimkan hasil pertaniannya mereka tidak sulit mengirimnya karena akses infrastruktur yang hancur, yang di kota ini kan pendatang baru, sedangkan yang di pelosok mungkin sudah 7 turunan di situ.

“Dahulukan yang di Pelosok yang mayoritas orang pribumi asli, jangan yang di kota yang notabanenya mereka pendatang,” pungkasnya. (Gun)

Para Wartawan Pamerkan Foto dan Gelar Budaya Bekasi

HMINEWS.Com – Kumpulan pewarta di Kota dan Kabupaten Bekasi menggelar pameran foto budaya. Betempat di halaman Kantor Kecamatan Tarumajaya, Bekasi, Sabtu (28/3/2015). Pameran juga dimeriahkan dengan atraksi pencak silat Betawi dalam ritual ‘Palang Pintu.’

Menurut salah seorang panitia, Ahmad Suryadi, perhelatan ‘Pameran Foto dan Gelar Budaya Bekasi’ ini merupakan bentuk kepedulian forum Lintas Wartawan Bekasi (Liwasi) terhadap budaya Bekasi, yang menurutnya kurang mendapat perhatian pemerintah setempat. Pameran ini terbuka dan gratis bagi warga masyarakat.

Foto-foto yang dipamerkan adalah hasil jepretan para pewarta yang tergabung dalam Liwasi. Dalam penampilan atraksi pencak silat, para pesilat menggunakan golok tajam. Ada juga yang menggunakan tongkat pada sesi penampilan tarung ‘Ujungan’.

“Seperti atraksi palang pintu, atraksi seni ujungan dan penampilan golok besar yang merupakan senjata tajam ciri khas Bekasi,” tutur pria yang akrab disapa dengan sebutan Kong Are ini.

 Sementara itu, Bupati Bekasi yang diwakili oleh Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabag Humas), Iyan Priyatna, mengatakan, bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan Jurnalis Bekasi.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat dan positif, seperti melestarikan Budaya Bekasi dan menampilkan hasil foto para jurnalis Bekasi,” ujarnya.

Selah satu pengunjung Pamera Foto, Noni (12) mengatakan, adanya kegiatan ini menjadi inspirasi tersendiri bagi pelajar di wilayah Tarumajaya. Seperti mengenal Budaya Bekasi dan mengetahui langsung foto hasil jepretan wartawan Bekasi, terlebih kegiatan seperti ini jarang sekali ada di Tarumajaya.

“Kegiatan ini sangat menginspirasi bagi kita khususnya pelajar, dalam mengetahui budaya dan foto hasil jerpretan wartawan Bekasi,” ujar Noni di lokasi acara.

Hadir pula dalam pameran ini, Camat Tarumajaya Agus Sopian, Kapolsek Babelan Kompol Ardi Rahananto, Waka Polsek Tarumajaya AKP Kliwon, Danramil Tarumajaya Surya, Ketua Apdesi Agus Sopyan serta Tokoh Seni dan Budaya Bekasi. Ratusan warga pun berdatangan untuk melihat langsung pameran foto dan atraksi Budaya Bekasi yang makin langka ini.

Indra Gunawan

Islam dan Bahasa Melayu, Pemersatu Kawasan Asia Tenggara

SEDHMINEWS.Com – Islam dan Bahasa Melayu (dengan berbagai ragamnya) merupakan dua elemen yang sangat menentukan dalam persatuan kawasan Asia Tenggara. Demikian diungkap oleh pegiat Center for Islamic Studies in Finance, Economics, and Development (CISFED), Syahrul Efendi Dasopang.

Syahrul merinci, dari pengamatannya terhadap muslim Malaysia, maka didapati bahwa tingkah laku, perkataan, selera, cara sholat, cara bertutur, bahasa yang digunakan dan cara mengungkapkan pikiran mereka itu sama dengan orang Indonesia.

“Intinya, jati diri dan karakteristik mereka, benar-benar dekat dengan jati diri dan karakteristik saya sendiri, orang Indonesia. Rasanya mereka bukanlah orang yang datang dari negara lain, dari kebudayaan dan peradaban yang asing, sebagaimana ketika saya bertemu dengan orang Mesir misalnya, orang Eropa atau pun orang Cina,” ungkap Syahrul (17/2/2015).

Selain itu masih ditambah lagi, cara berpakaiannya, cara makan, tidur, ungkapan sikapnya (akhlak)nya pun sama. Ukuran nilai-nilai yang terpuji dan yang buruk sama persis.

“Ini sudah jelas membuktikan, bahwa penduduk yang berada di beberapa negara Asia Tenggara tersebut, dari Thailand Selatan, Filipina Selatan, Malaysia, Brunei, Singapura hingga Indonesia diikat oleh suatu jati diri, nilai-nilai rohani, karakteristik, dan adat istiadat yang sama,” lanjutnya lagi.

Mantan Ketua Umum PB HMI MPO itu juga mengatakan, hanya rekayasa politik bekas penjajah saja lah yang menyebabkan masyarakat Asia Tenggara terpisah dinding negara dan politiknya masing-masing. Namun meski begitu mereka tetap tak terpisahkan, karena begitu kuatnya akar Islam dan adat istiadat serta kebudayaan dan asal-usul ras dan masa lalu mereka yang menghubungkan kesadaran dan perwatakan perasaan dan pikiran mereka hingga melewati waktu yang demikian panjang sampai masa ini.

“Mereka dihubungkan oleh suatu faktor yang sangat kuat: faktor agama dan bahasa Melayu. Kedua faktor inilah yang menjadi benteng lestari dan terpeliharanya hubungan batin di antara masyarakat yang berada di berbagai negara itu. Sekali mereka masyarakat Melayu itu berpindah agama, lenyaplah hubungan batin yang begitu erat mempersatukan mereka. Demikian pula, sekali mereka berbeda bahasa, maka lenyap pulalah perasaan dekat antar sesama mereka. Walhasil, Islam dan bahasa Melayu merupakan faktor kuat dan strategis menghubungkan perasaan, batin dan pikiran penduduk yang bertempat di belahan Asia Tenggara ini,” tandasnya lagi.

Berkembangnya Islam dan bahasa Melayu di kawasan ini adalah jaminan akan tumbuhnya ikatan batin, saling pengertian dan rasa senasib dan sepenanggungan di antara penduduk di wilayah ini, sekalipun elit-elit politiknya memiliki orientasi dan haluan yang berbeda-beda.

“Oleh karena itu, dua hal yang patut dibina di dalam rangka memelihara dan menumbuhkan kesadaran kesatuan pada penduduk Muslim di Asia Tenggara, yaitu pembinaan dan pemasyarakatan bahasa Melayu sebagai bahasa pergaulan dan resmi, dan juga pembinaan kesadaran dan internalisasi Islam di dalam masyarakat dan negara.

Islam adalah sumber rohani sekaligus sumber peradaban masyarakat Muslim Asia Tenggara. Islam telah lama menjadi sumber hukum dan qanun yang mengatur dan membina kerajaan-kerajaan Muslim yang muncul jauh sebelum penjajah Kristen Eropa menjejakkan kakinya di kawasan ini.”

Syamsul Falah Kembali Pimpin Ikatan Keluarga Abituren Attaqwa

attaqwaHMINEWS.Com – Alumni Pesantren Attaqwa Bekasi, yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Abituren Attaqwa (IKAA) menggelar musyawarah nasional (Munas) di Griya Wulansari 3, Bekasi Selatan. Dalam Munas tersebut, Syamsul Falah kembali terpilih menjadi ketua umum, untuk satu periode selama 3 tahun ke depan (2014-2017).

Pemilihan formatur dalam musyawarah tersebut berlangsung Ahad (16/11/2014) sore, yang dipimpin oleh Dr. Umam dan Ustadz Kholil. Selain H. Syamsul Falah, M.Ec, ada beberapa nama lain dari angkatan atau periode yang berbeda mengemuka yaitu Dr. H. Saiful Bahri, M.Pd yang memperoleh 38 suara, dan H. Labib Rusydi, SE yang mendapatkan 10 suara. Syamsul mengungguli keduanya dengan perolehan 42 suara.

Sebelumnya, Munas yang berlangsung sehari tersebut dibuka oleh KH. Mista Suhanda. Sementara KH. Amin Noer sedang ada acara di tempat lain, sedangkan KH. Nurul Anwar tengah sakit. Hadir pula KH. Madrais Hajar yang pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Da’wah Bekasi dan kini mengelola Pesantren Darul Amal di Kampung Buni, Babelan Bekasi. Juga datang Ustazah Abidah serta para ustazah lain sesama alumni Pesantren Attaqwa yang didirikan oleh Pahlawan Nasional Alm KH Noer Alie tersebut.

Ketua terpilih, Syamsul Falah mengajak semua alumni Attaqwa untuk bersama-sama memajukan IKAA menjadi organisasi yang lebih baik lagi, serta lebih besar lagi kontribusinya bagi Bekasi dan Indonesia.

Wahyudin

KAHMI, Forhati dan HMI Nunukan Kompak Syawalan Bersama

Kahmi NunukanHMINEWS.Com – Korps Alumni HMI (KAHMI) Nunukan, Forum Alumni Kohati (FORHATI) Nunukan dan Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Nunukan menggelar acara halal bihalal, bertema ‘Meningkatkan Silaturahmi untuk Menjaga Keberamaan dalam Keberagaman.’ Acara dilaksanakan di Hotel Marvell, Nunukan, Selasa (26/8/2014).

Hadir puluhan alumni HMI yang saat ini berada di Nunukan, dengan presidium KAHMI Nunukan, Ir. Dian Kusumanto, termasuk anggota KAHMI yang saat ini menjabta sebagai Pj Gubernur Kalimantan Utara, Dr H Irianto Lambire yang menyampaikan orasi ilmiahnya. Tak ketinggalan, Bupati Nunukan Drs H. Basri juga ada dalam acara tersebut.

“Budaya silaturahmi dalam kehidupan sehari-hari bukan hanya diadakan tiap tahun, hal ini akan memebrikan dampak positif dan sumbangsih dalam membangun bangsa, terutama di Kalimantan Utara yang merupakan provinsi ke-34,” ujar Dr. H. Irianto Lambire dalam orasinya.

Syawalan NunukanDiharapkan dengan adanya  kebersamaan tersebut akan makin menguatkan perkaderan HMI, terjalinnya silaturahmi antar alumni yang telah aktif di berbagai bidang profesi, dan kerjasama antar alumni dengan kader yang masih aktif . Usai acara, semua hadirin, alumni maupun kader aktif HMI Cabang Nunukan bersalam-salaman.

Syamsuddin

Pengajian Bulanan Rekatkan Silaturahmi Alumni HMI Pascapilpres

pengajianHMINEWS.Com – Pengajian Ulil Albab bulanan yang digelar alumni HMI MPO kali ini bertempat di Masjid Nurul Izzah Sekolah Insan Cendekia Madani, Serpong – Tangerang Selatan. Dihadiri sejumlah alumni dan jajaran Pengurus Besar HMI MPO usai shalat Jumat (22/8/2014).

Sebagai tuan rumah adalah Tamsil Linrung yang juga pemilik sekolah tersebut. Sedangkan alumni yang hadir ada Abdullah Hehamahua, Eggy Sudjana, Suharsono, Yusuf Hidayat, Awalil Rizky, dan lainnya, serta Ustadz Zaenal Abidin Ura yang menyampaikan wejangan. Ketua PB HMI MPO, Puji Hartoyo datang bersama sejumlah pengurus lainnya.

Ustadz Zaenal menyampaikan bahwa sesama muslim harus banyak saling mendoakan, sebab doa seseorang untuk saudaranya termasuk doa yang maqbul. Jika melihat ada saudara seiman yang dinilai telah melenceng atau berada di jalan yang salah, maka yang dilakukan adalah menolongnya, termasuk berdoa agar orang tersebut terselamatkan. Selain itu, banyak amal atau usaha yang harus disempurnakan dengan doa. Ia berbicara khususnya untuk internal HMI dan alumninya.

pngajianEggy Sudjana menambahkan, hikmah silaturrahim adalah memperluas rezeki dan memanjangkan umur. Panjang umur ada dua pengertia, secara kuantitas maupun kualitas. Secara kualitas dengan acara seperti pengajian Ulil Albab maka yang muda-muda bisa belajar dari pengalaman para senior.

“Misalnya pengalaman Bang Abdullah Hehamahua di Indonesia, Malaysia, Singapura, China dan lainnya, yang bertahun-tahun itu dapat kita serap dalam dua jam, dengan bertemu orangnya atau membaca bukunya,” ujar Eggy.

Dalam suasana bulan Syawal ini dimana bangsa Indonesia juga baru saja selesai menggelar hajatan Pilpres, maka momen seperti ini sangat bermanfaat untuk merekatkan kembali silaturrahim yang sempat terganggu. Seperti diketahui, di antara alumni yang datang saja berbeda-beda pemihakan dan pilihan capres-cawapresnya. Bulan September 2014 pengajian bulanan ini akan diadakan di tempat Eggy Sudjana.

Tujuh Mahasiswa ISI Padangpanjang Pamerkan Karya Seni Kriya

Motif Emun Berkune dalam Kriya Kayu karya Ansar SalihinHMINEWS.Com – Tujuh mahasiswa Jurusan Seni Kriya Fakultas Seni Rupa dan Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, Sumatra Barat, akan memamerkan karya seni kriya, Selasa-Rabu (19-20/8) mendatang, di gedung M Syafe’i Padangpanjang. Pameran yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia itu, dilaksanakan dalam rangka ujian tugas akhir penciptaan seni.

Ketujuh mahasiswa yang memprakarsai pameran itu adalah Ansar Salihin (karya: Motif Emun Berkune dalam Kriya Kayu), Alamsyah Putra (Kreasi Kerawang Gayo dalam Perhiasan), Bagus Wiguna (Tokoh Punakawan Wayang Golek Purwo Sunda sebagai Ide Penciptaan pada Kriya Kayu), Rahmat (Kreasi Bentuk Bambu dalam Lampu Hias Keramik), Sahrian R (Kreasi Eceng Gondok dalam Interior Ruang Tamu), Sabda (Deformasi Bentuk Serune Kalee dalam Penciptaan Lampu Hias), dan Saniman Andikafri (Bentuk Motif Pucuk Rebung Kerawang Gayo dalam Interior Keluarga).

Deformasi Bentuk Serune Kalee dalam Penciptaan Lampu Hias karya Sabda Kreasi Bentuk Bambu Dalam Lampu Hias Keramik Karya Rahmat Kreasi Eceng Gondok dalam Interior Ruang Tamu Karya Sahrian Tokoh Punakawan Wayang Golek Purwo Sunda sebagai Ide Penciptaan pada Kriya Kayu Karya Bagus Wiguna Kreasi Kerawang Gayo dalam Perhiasan karya alamsyah PutraKetua Panitia Pameran, Sahrian, Jumat (15/8) di Padangpanjang mengatakan, meski pameran tersebut pada dasarnya dilaksanakan untuk memenuhi ujian tugas akhir jurusan kriya minat penciptaan seni, namun sebagai mahasiswa yang bergerak di bidang seni mereka ingin keluar dari kebiasaan.

“Kami ingin tampil beda, dan karya yang diciptakan ini bukan sekadar kebutuhan untuk memenuhi ujian, akan tetapi jauh dari itu, masyarakat dapat menikmati secara langsung karya yang kami buat,” ujarnya.

Diungkapkan, selain terbuka untuk umum dan dapat dinikmati oleh masyarakat tanpa pungutan biaya apa pun, sasaran lainnya ditujukan untuk kalangan sekolah dan perguruan tinggi di Sumatera Barat.

“Kami juga mengundang para guru, dosen, pemerintah, seniman, kritikus, pemerhati seni dan penikmat seni untuk menyaksikan pameran ini,” tambahnya.

Bentuk Motif Pucuk Rebung Kerawang Gayo dalam Interior Keluarga Karya SahrianSementara itu, pegiat FAM Indonesia Muhammad Subhan menyambut baik dan memberikan apresiasi atas inisiatif ketujuh mahasiswa ISI Padangpanjang tersebut yang berani tampil beda dengan menggelar pameran karya ujian akhir mereka di luar lingkungan kampus. “Sangat positif sekali, perlu didukung berbagai pihak, dan ini akan semakin mendekatkan seniman dengan masyarakat pecinta seni,” katanya. (rel)