Pererat Hubungan Kebudayaan, Dubes Serbia Kunjungi Rumah Budaya

HMINEWS.Com – Duta Besar Negara Serbia, Jovan Jovanovic, melakukan lawatan ke Rumah Budaya Fadli Zon, Aie Angek Sumatera Barat, membawa misi kebudayaan dan mengagumi keelokan Ranah Minang. Dubes bersama istri Sanja Jovanovic berada di Rumah Budaya sejak Sabtu (7/9) hingga Minggu (8/9/2013).

Direktur Rumah Budaya Hj. Elvia Desita menyebutkan, kedatangan Dubes Serbia untuk Indonesia bersama istri itu dalam rangka kunjungan balasan Pemerintah Serbia ke Indonesia. Tahun lalu, sebut Elvia, Budayawan Fadli Zon bersama Sastrawan Taufiq Ismail dan rombongan mengunjungi Serbia yang juga membawa misi seni-budaya Indonesia ke negara itu.

“Ini kunjungan pertama Dubes Serbia sebagai balasan kunjungan Budayawan Fadli Zon dan Sastrawan Taufiq Ismail yang datang ke Serbia tahun lalu. Sebelumnya juga pernah berkunjung Dubes Kroasia,” kata Elvia Desita yang juga caleg untuk DPRD Provinsi Sumatera Barat dari Partai Gerindra Dapil 5 (Payakumbuh dan 50 Kota), Minggu (8/9) di Rumah Budaya Fadli Zon, Jl. Raya Padangpanjang-Bukittinggi, Km. 6, Aie Angek, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Dubes Serbia Jovan Jovanovic pada kesempatan itu menyampaikan kekagumannya terhadap keindahan alam Ranah Minang yang baru pertama kali ia kunjungi. “Saya sudah lama terkesan dengan Sumatera Barat, dan saya merasa sangat dekat dengan melihat kesenian-kesenian dari daerah ini di berbagai event pertunjukan yang telah mendunia,” ujarnya didampingi istri, Sanja Jovanovic.

Satu fakta yang dilihatnya ada kesamaan alat musik tradisional Minang dengan alat musik tradisional di Serbia. Jika di Minang ada alat musik semisal saluang, bansi dan rabab, di Serbia juga memiliki alat musik yang sama walau nama berbeda. “Alat musik ini mirip sekali, dan banyak persamaannya,” ungkap Jovan Jovanovic yang baru 1,5 tahun menjabat sebagai Dubes Serbia untuk Indonesia.

Terkait perhatian pemerintah Serbia terhadap perkembangan kesenian tradisional, dikatakan Jovan Jovanovic, negara itu memiliki perhatian tersendiri untuk mempertahankan dan membesarkan seni tradisi. Di Serbia, ada 10 etnis yang masing-masingnya mempunyai aset seni tradisi yang berbeda-beda.

“Masing-masing etnis ini juga mempunyai Dewan Etnis yang tugasnya membangun komunikasi antara kelompok etnis dengan pemerintah,” jelasnya.

Hubungan Indonesia-Serbia, menurut Jovan Jovanovic, selama ini cukup baik. Indonesia adalah salah satu negara anggota Gerakan Non Blok (GNB). Pertemuan pertama GNB terjadi di Beograd ibu kota Serbia pada September 1961 dan dihadiri oleh 25 anggota, masing-masing 11 dari Asia dan Afrika bersama dengan Yugoslavia, Kuba dan Siprus. Kelompok ini mendedikasikan dirinya untuk melawan kolonialisme, imperialisme dan neo-kolonialisme. Tahun 2014, Serbia-Indonesia akan melakukan kegiatan seni-budaya dalam rangka memperingati 60 tahun hubungan diplomatik antara Beograd-Jakarta.

Di bidang olahraga, Serbia saat ini memiliki Novak Djokovic, pemain tenis terbaik dunia. Selain itu, tim sepakbola junior Serbia juga berhasil menjadi Juara Piala Eropa tahun ini.

Sebagai negara maju, pertumbuhan penduduk di Serbia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Walau tidak terlalu besar, populasi penduduk Serbia mencapai 7,5 juta, sementara di ibu kota Beograd yang merupakan kota terbesar di negara itu, populasi penduduknya sebanyak 2 juta.

Dubes Serbia Jovan Jovanovic juga menyampaikan terima kasih kepada Rumah Budaya Fadli Zon yang telah mengundangnya secara pribadi bersama istri. Dia mengagumi Rumah Budaya yang berada di antara kaki dua gunung berpanorama indah, yaitu Singgalang dan Merapi. Dia juga berjanji akan datang kembali dengan membawa grup kesenian dari Serbia untuk melakukan pertunjukan di Rumah Budaya. (REL)

 

Temu Sastrawan Dua Negara Serumpun di Jakarta

HMINEWS.Com – Sejumlah sastrawan/ budayawan dari Indonesia-Malaysia bertemu dalam diskusi sastra yang mempertemukan dua budaya dan dua negara serumpun di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Kamis (29/8/2013). Sehari sebelumnya mereka berkunjung ke Fadlizon Library dan Komunitas Salihara.

Tampil dalam diskusi sastra di PDS HB Jassin, SN Dato’ Dr. Ahmad Khamal Abdullah (Materi: Penyair Numera Bertemu dalam Antologia de Poeticas: Antara Sensitiviti dan Wawasan Unik), Haji Abdul Rahim Abdullah (Intertekstualiti Melayu dalam Novel Indonesia), dan Fadli Zon (Politik Sastra Indonesia-Malaysia).

Selain itu, Prof. Madya Dr. Abdul Halim Ali (Konsep Estetika Bersepadu: Satu Kaedah Baharu-Kaedah Kritik Estetik dalam Kesusastraan Melayu), Prof. Madya Arbak Othman (Seribu Pantun Puitis: Sosok Tradisi, Minda Terkini), Drs. Yulizal Yunus (Sastra Melayu dalam Perspektif Islam), Prof. Madya Dr. Adi Yasran Abdul Aziz (Kearifan Tempatan dalam Manuskrip), dan Umar Uzair (Rupawangi dalam Lagu Ziana Zain dan Dato’ Siti Nurhaliza).  Diskusi dimoderatori Sastri Bakry, Syarifuddin Arifin, dan Sastri Sweeney.

Ketua Panitia Temu Sastrawan Indonesia-Malaysia Sastri Bakry menyebutkan, rombongan sastrawan/budayawan Malaysia telah tiba di Jakarta sejak Selasa (27/8). Rombongan Malaysia dipimpin SN ke-11 Dato’ Dr. Ahmad Khamal Abdullah, Presiden NUMERA didampingi Umar Uzair, Adi Yasran, Prof. Arbak Othman, Dora binti Mahdi, Teratai Abadi, Abdul Halim Ali, A Rahim Abdullah dan lainnya.

Acara diawali dengan kunjungan ke Salihara dan rombongan disambut Ayu Utami serta pegiat Salihara lainnya. Di tengah acara tampak penyair Eka Budianta, L.K. Ara (Aceh), Agus Susanto dari Komunitas Sirup Kopi Mesir, Moh. Ghufron Cholid dari Madura. Di Salihara, tamu diperkenalkan gedung teater, gedung tari serta diputarkan video kegiatan Salihara dari tahun ke tahun.

Di Fadli Zon Liberry, rombongan diperkenalkan dengan sejumlah koleksi perpustakaan yang didirikan oleh Fadli Zon yang banyak terdapat benda-benda bersejarah, baik berupa keris, tongkat maupun buku. Di tempat ini diisi dengan ramah tamah yang disambut Fadli Zon selaku pemilik Fadli Zon Liberry. Beberapa sastrawan/budayawan lainnya tampak hadir di sini, di antaranya Taufiq Ismail, Rosmiaty Shaari, Bundo Free, Lily Siti Multatuliana Sutan Iskandar dan lainnya. Pada kesempatan itu, penyair asal Aceh L.K. Ara memberikan cendramata kepada Fadli Zon berupa poster-poster tentang kejadian tsunami di Aceh yang disertai puisi-puisi L.K.

Malam harinya para peserta menikmati Soto Kudus Blok M bersama Sastri Bakry dan Ir. Erwan selaku penggerak acara ini, setelah itu langsung menuju Wapres Bulungan untuk mengikuti acara Silaturrahmi Temu Sastra Indonesia-Malaysia yang diisi dengan pembacaan puisi. (REL)

FAM Indonesia Wilayah Jawa Barat Terbentuk

HMINEWS.Com – Pengurus Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia Wilayah Jawa Barat, Ahad (30/6/2013), resmi terbentuk. Secara aklamasi, Dedi Saeful Anwar (Cianjur) terpilih menjadi ketua harian FAM Wilayah Jawa Barat.

Pemilihan pengurus FAM Wilayah Jawa Barat tersebut, berlangsung di Alun-Alun (Pelataran Masjid Raya Kota Bandung), dihadiri sejumlah FAMili—istilah sapaan untuk anggota FAM Indonesia. Dalam kegiatan itu disusun pula program kerja untuk kegiatan selama satu tahun ke depan.

Selain Ketua Harian, dipilih juga Wakil Ketua, yaitu Joy/Wiro (Bandung), Sekretaris Rr. Nina Kirana (Bandung), Bendahara De Minnie (Cianjur), Humas Ade Ubaidil (Cilegon, Banten), dan Litbang Nuryaman Emil Hamzah (Banten).

“Terhitung Juli 2013 hingga Juni 2014, kami akan melakukan sejumlah kegiatan yang telah disusun dalam program kerja pengurus,” ujar Dedi Saeful Anwar, Ketua Harian Terpilih FAM Wilayah Jawa Barat, Senin (1/7).

Beberapa program kerja pengurus FAM Wilayah Jawa Barat, jelas Dedi, di antaranya penerbitan Antologi Cerpen Parijs van Java (telah berakhir tanggal 30 Juni 2013), penerbitan Antologi Prosa Liris Ramadhan (dimulai  awal Juli 2013-September 2013), Penerbitan Antologi Flash True Story (FTS) tentang Muhasabah Diri dalam hari-hari Ramadhan, penerbitan Antologi Puisi dalam Bahasa Daerah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (dua bahasa), penerbitan Antologi Cerita Anak yang ditujukan sebagai bacaan sehat anak-anak Indonesia (khusus ditulis anak-anak), dan penerbitan Antologi Cerita Anak yang ditulis peserta usia SMA dan Umum.

“Di samping itu, secara rutin kami akan mengadakan pertemuan untuk menggerakkan kegiatan literasi di Bandung dan sekitarnya,” ujar Dedi didampingi Sekretaris Rr. Nina Kirana.

Sementara itu, FAM Wilayah Cabang Surabaya telah resmi mengantongi SK kepengurusan. Dalam SK yang dikeluarkan FAM Pusat tersebut, tertera Koordinator Cabang (Satria Nova), Ketua Harian (Yudha Prima), Sekretaris/Bendahara (Fitria Ayu Lintasari), Divisi Penelitian dan Pengembangan (Ken Hanggara, Reffi Dhinar Seftianti, Hanum Anggraini Azkawati), dan Divisi Divisi Publikasi (Vivid Habib S, Rizka Andarosita).

Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia adalah komunitas kepenulisan nasional, berdiri pada tanggal 2 Maret 2012. FAM Indonesia berkantor pusat di Pare, Kediri, Propinsi Jawa Timur yang tujuannya menyebarkan semangat cinta (aishiteru) menulis di kalangan generasi muda, khususnya siswa sekolah dasar, SLTP, SLTA, mahasiswa, dan kalangan umum lainnya.

FAM Indonesia bertekad membina anak-anak bangsa untuk cinta menulis dan gemar membaca buku. Sebab, dua hal ini melatarbelakangi maju dan berkembangnya negara-negara di dunia lantaran rakyatnya suka membaca buku dan menulis karangan. (REL)

Wayang Goes To Campus UI

HMINEWS.Com – Komunitas Wayang Universitas Indonesia bekerja sama dengan ILUNI UI menyelenggarakan ‘Wayang Goes To Campus 2013.’ Hal itu dimaksudkan untuk menjadikan wayang yang merupakan karya seni dan warisan budaya Indonesia menjadi alat untuk mengasah pikiran dan memperhalus rasa serta sumber inspirasi bagi kemajuan bangsa.

Nilai-nilai seni wayang yang sejalan dengan nilai-nilai kepribadian bangsa perlu didukung oleh kegiatan pendidikan yang berfokus pada seni wayang. Percaya dengan hal tersebut, panitia Wayang Goes To Campus 2013 bahkan tidak ragu mengambil tema ‘Bersihkan Hati untuk Kejayaan UI.’

Kegiatan akan dilangsungkan pada 4-5 April 2013 di Balairung Universitas Indonesia, Depok, dengan sarasehan, bazaar, pameran kreasi wayang dan batik, serta pementasan wayang.

Berikut Jadwal Wayang Goes To Campus 2013:

SARASEHAN (Kamis 4 April mulai pukul 09.15)

  • Wayang dan Ketahanan Budaya oleh: Dr. Ir. Purnomo Yusgiantoro, M.A., M.Sc, Ir. H. Joko Widodo,* Prof. Dr. Bambang Wibawarta
  • Wayang Sebagai Falsafah Hidup oleh: Drs. Solichin, Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, M.Sc., Prof. Dr. Slamet Suparno,Karsono H. Saputra, M.Hum
  • Wayang dan Kaitannya dengan Ekonomi Kreatif, oleh: Setyono Djuandi Darmono, Jossy Prananta Moeis, Ph.D.,

BAZAR dan PAMERAN (Kamis): Pameran Batik, Pembuatan Wayang, dll.

GELAR WAYANG NUSANTARA (Kamis mulai pukul 14:00): Wayang Potehi, Wayang Golek Betawi, Wayang Tavip, Wayang Minang, Apresiasi Teater Sesaji Raja Surya (KMSJ)

Ju’mat (5 April, mulai pukul 14:00)

  • Ruwatan, bazaar dan pameran, serta gelar wayang nusantara
  • Pagelaran Wayang Kulit (mulai pukul 21.00) Dalang Ki Purbo Asmoro, lakon: Gatotkaca Lahir.

Hip Hop Hijabis Dalami Kesetaraan Gender

*Mette Reitzel

Hiphop hijabis

London – Sebuah laporan parlemen Inggris belum lama ini mengungkapkan bahwa sebagian Muslimah tidak lagi mengenakan jilbab dan menginggriskan nama mereka demi meningkatkan peluang di bursa kerja. Dua sahabat karib yang ditampilkan dalam film dokumenter, Hip Hop Hijabis, justru melakukan sebaliknya.

Keduanya, yang terlahir di Bristol dari orangtua asal Jamaika, masuk Islam pada tahun 2005. Mereka lalu mengenakan jilbab dan mengubah nama mereka menjadi Sukina Abdul Noor dan Muneera Rashida. Mereka berdua dikenal sebagai duet Hip Hop bernama Poetic Pilgrimage yang telah mengadakan tur internasional yang mendapat sambutan meriah.

Diperkirakan ada 100.000 mualaf di Inggris dan mayoritas mereka adalah perempuan. Semakin banyak pula di antara mereka yang berlatar belakang pemuda kulit hitam perkotaan. Ditambah dengan adanya imigrasi Muslim, ini membuat Islam menjadi agama terbesar kedua di Inggris dengan pengikut sekitar 5 persen dari total penduduk menurut data sensus terbaru.

Berbagai jajak pendapat menunjukkan bahwa kira-kira setengah dari warga Inggris menganggap jumlah itu terlalu banyak dan beranggapan bahwa “Muslim hanya membuat masalah di Inggris,” ungkap sebuah artikel Evening Standard pada 11 Desember 2012. Namun, bukti-bukti yang dihimpun oleh pengarang Islamophobia, Chris Allen, menunjukkan bahwa dua pertiga orang Inggris mengaku “tidak tahu apa-apa atau hampir tidak tahu apa-apa tentang Islam” dan mendapatkan sebagian besar pengetahuan mereka dari media. Sementara Leveson Report tentang budaya pers Inggris belum lama ini menggambarkan adanya bias dalam pemberitaan media Inggris tentang Muslim.

Dengan menelusuri pola pikir dan keseharian dua Muslimah mualaf yang suka blak-blakan ini, Hip Hop Hijabis bertujuan menghilangkan sebagian kesalahan pengertian yang menyebabkan pandangan terpolarisasi semacam itu, khususnya seputar masalah kesetaraan gender, yang menjadi kepedulian besar Sukina dan Muneera di awal ketertarikan mereka terhadap Islam.

Dengan mendalami masalah ini lebih lanjut, mereka mendapati bahwa dalam sejarahnya, Islam bersifat sangat egaliter, dengan mengutuk pembunuhan bayi perempuan yang sudah jadi kebiasaan umum dan memperkenalkan hak-hak menerima warisan, perceraian dan pendidikan bagi para perempuan pada sebuah masa di mana mereka umumnya dianggap sebagai harta milik suami mereka. Keduanya juga mengetahui bahwa kebiasaan-kebiasaan seperti khitan perempuan dan pembunuhan demi kehormatan sudah dipraktikkan sebelum adanya Islam dan tidak dibenarkan oleh Qur’an.

Angkat bicara menentang tradisi-tradisi budaya ini dalam kerangka konsep Islami, Poetic Pilgrimage menjadi bagian dari tren meningkatnya jumlah para seniman, aktivis dan intelektual Muslim yang merebut kembali tafsir agama mereka. Melakukannya lewat bahasa hip hop sendiri sudah menjadi sebuah pernyataan sikap, karena sebagian tafsir Islam mengharamkan musik dan perempuan yang tampil di pentas.

Keuntungannya adalah bahwa melalui syair yang mahir, nada yang menawan dan energi positif, Poetic Pilgrimage bisa menjangkau audiens yang luas – baik anak muda Muslim Eropa yang bisa jadi merasa terperangkap di antara berbagai budaya, maupun non-Muslim yang stereotipnya dilawan oleh kedua musisi rap berjilbab ini.

Meskipun hip hop dan agama terkesan sebagai dua hal yang mustahil bergandengan, keduanya berasal dari hasrat yang kuat akan keadilan sosial, dan selalu ada banyak seniman Muslim yang berkiprah di jenis musik ini. Sebuah jejaring luas prakarsa pendidikan telah dikembangkan lewat hip hop, sehingga mendorong ekspresi kreatif melalui hip hop sebagai pilihan yang lebih baik daripada kekerasan, narkoba dan perilaku merusak lainnya.

Ekstremisme sudah terlalu lama mendominasi diskusi publik seputar Islam. Ada banyak Muslim yang sangat terpelajar dan bersuara lantang yang berpendapat bahwa membenarkan misogini dan kekerasan atas nama Islam merupakan sebuah penafsiran keliru atas agama mereka, namun suara-suara mereka jarang didengar.

Konflik dan tragedi memang bisa menjadi berita utama yang bagus, namun juga mengembangbiakkan ketakutan dan kebencian pada pihak-pihak yang berseberangan, yang bisa menimbulkan akibat-akibat yang cukup fatal. Proyek Hip Hop Hijabis merupakan sebuah upaya untuk mengembalikan keseimbangan dan berkontribusi pada diskusi yang lebih bernuansa. Proyek ini akan juga mencakup lokakarya kreatif, ceramah dan diskusi publik untuk mendorong dialog yang konstruktif dan melawan ekstremisme keagamaan serta Islamofobia.

###
*Mette Reitzel adalah seorang pembuat film dokumenter kelahiran Denmark yang tinggal di London. Dana pascaproduksi film Hip Hop Hijabis sebagian akan diambil dari hasil pra-penjualannya. Dapatkan filmnya dan saksikan cuplikannya di sini

Artikel ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews), 11 Januari 2013 dan mendapat izin publikasi di HMINEWS.Com.

Kongres Kebudayaan Pemuda Indonesia Dimulai

HMINEWS.Com – Kongres Kebudayaan Pemuda Indonesia (KKPI) digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, 6-9 November 2012. Mengusung tema “Indonesia Aku Bangga, Membangun Karakter, Kreativitas dan Solidaritas.”

KKPI ini merupakan yang pertama kalinya. Bertujuan membangun visi dan langkah bersama serta terpadu dalam memperkuat posisi kebudayaan sebagai panglima pembangunan Indonesia baru. Demikian ditegaskan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Agung Laksono dalam pembukaan kongres, Selasa (6/11/2012).

Agung mengatakan, sejatinya KPPI menjadikan pemuda sebagai pilar dan agen pembangunan bidang kebudayaan yang kreatif, handal dan memiliki integritas dalam memajukan peradaban bangsa Indonesia.

Sementara Menteri Pendidikan yang juga hadir dan mendampingi Agung, menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh pemuda yang terpilih hadir pada kongres tersebut atas segala karya, sumbangsih pemikiran, kepedulian serta perhatian terhadap kebudayaan Indonesia.

“Kongres diharapkan menjadi tonggak kebangkitan pemuda dalam pembangunan kebudayaan dan pembangunan bangsa pada umumnya,” kata Mohammad Nuh.

Nuh menambahkan, KKPI merupakan perhelatan pertemuan pemuda seluruh Indonesia yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama tokoh-tokoh pemuda, sebagai momentum kebangkitan pemuda untuk mengambil peran dalam gerakan kebudayaan.

Selain di Hotel Borobudur, kongres juga dihelat di sejumlah lokasi lain. Menghadirkan banyak narasumber inspirator kompeten dalam bidang masing-masing seperti budayawan, komponis, musisi, penyanyi dan praktisi lainnya.

Kata ketua panitia, Marcella Zalianty, acara juga dimeriahkan pameran atau glar karya prestasi pemuda. Menampilkan karya kratif dan pementasan Konser Tembang Negeriku persembahan Dwiki Dharmawan dan pentas seni budaya yang melibatkan 63 musisi orkestra, 19 musisi etnik nusantara, 33 paduan suara, 45 penari serta menampilkan soloist Putri Ayu, Michael So`e, Angel Pieters, Wildan Angklung, Jemek Supardi, dan Taufik Ismail.

“Working group akan dilakukan secara pararel di Indonesia di beberapa museum besar di Jakarta, yaitu: Museum Nasional, Museum Kebangkitan Nasional dan Galeri Nasional guna membahas rencana aksi untuk masing-masing sub tema sekaligus juga mengenalkan kekayaan Indonesia melalui museum sebagai tempat penyelenggaraan kongres,” kata Marcella.

Dalam agenda ini juga dilaksanakan program lawatan budaya atau cultural visit untuk mengenalkan pemuda Indonesia potensi budaya yang begitu besar yang tersaji di kawasan Kota Tua Jakarta. Kunjungan akan diakhiri dengan agenda aksi dan kreativitas pemuda Indonesia di Museum Bank Mandiri.

Untuk menginspirasi pemuda Indonesia, KKPI mengagendakan program Nonton Bareng Film Inspiratif. Beberapa film yang ditayangkan adalah Lewat Djam Malam, premier Atambua 39 derajat celsius dan Batas, yang didahului dengan diskusi dengan film maker.

Dalam penutupan diagendakan dapat tergali visi dan jareingan kerja (networking) yang dikukuhkan melalui ikrar budaya pemuda sebagai wujud komitmen pemuda dalam pembangunan kebudayaan Indonesia.

Sumber: Antara